Anda di halaman 1dari 27

Reformasi Sistem Pelayanan Kesehatan di Amerika serikat

Pendahuluan
Tahun ini Amerika Serikat telah melakukan reformasi terhadap sistem pelayanan kesehatan
yang dirasakan cukup mahal bagi sebagian warganya. Reformasi ini diambil setelah
Departemen Kesehatan AS memberikan data bahwa sektor kesehatan menguasai sekitar 17%
dari GDP AS. Data ini selanjutnya dianalisa dengan perhitungan yang dibuat oleh
Congressional Budget Office dan diperoleh kesimpulan bahwa proporsi sektor kesehatan
dalam GDP AS bisa meningkat menjadi 33% dalam 30 tahun mendatang, jika tidak dilakukan
reformasi. Bahkan salah satu survey menyatakan bahwa jika tidak dilakukan reformasi, maka
biaya out-of-pocket (biaya yang dikeluarkan oleh pengguna asuransi kesehatan diluar
premium yang telah dibayarnya) akan meningkat sebesar 35% dalam waktu 10 (sepuluh) tahun
mendatang. Hal tersebut menimbulkan desakan dari berbagai kalangan untuk segera
dilakukan reformasi kesehatan terutama yang menyangkut asuransi kesehatan.
Dengan ditandatanganinya Affordable Health Care for America Act oleh Presiden Barack
Obama pada tanggal 23 Maret 20I0, menandai dimulainya reformasi sistem layanan kesehatan,
khususnya dalam masalah asuransi kesehatan, di AS yang diharapkan dapat menekan biaya
asuransi kesehatan yang ditanggung oleh warga AS di masa mendatang.

Reformasi Layanan Kesehatan


Dalam UU Kesehatan tersebut, Amerika Serikat telah mengakui prinsip dasar bahwa setiap
orang harus memiliki perlindungan mendasar dalam layanan kesehatan. Berdasarkan UU
tersebut maka dalam tahun ini sektor layanan kesehatan di AS akan mengalami berbagai
perubahan, antara lain:

warga Amerika yang belum memiliki asuransi dan telah memiliki penyakit sebeiumnya
(pre-existing conditions ) akan memperoleh asuransi kesehatan melalui bantuan
subsidi sementara yang disediakan pemerintah;

perusahaan asuransi dilarang memutuskan pertanggungan ketika Sipengguna


asuransi kesehatan terkena penyakit;

perusahaan asuransi dilarang memberlakukan batasan maksimal nilai pertanggungan


seumur hidup bagi pengguna asuransi kesehatan tertentu;

seorang anak dibenarkan untuk ikut dalam asuransi kesehatan orang tuanya sampai
dia mencapai umur 26 tahun;

setiap pertanggungan baru wajib meng-cover layanan pencegahan (preventive cares


dan perawatan kebugaran ( wellness care ); dan

seorang pengguna asuransi dapat mengajukan banding kepada satu badan yang
independen berkenaan dengan sengketa yang dihadapinya dengan perusahaan
asuransi;

Selain itu, dalam UU tersebut juga ditetapkan bahwa terhitung sejak tanggal 1 Januari 2011
diatur hal-hal sebagai berikut.

Pemerintah mulai memberikan subsidi bagi perusahaan -perusahaan keciJ untuk


membiayai asuransi kesehatan karyawannya;

Perusahaan-perusahaan asuransi wajib menggunakan 80-85 % dari premium


kesehatan yang diterimanya untuk layanan kesehatan. Perusahaan asuransi yang tidak
memenuhi thresholds ini akan diwajibkan untuk rnemberikan pengembalian biaya
(rebates ) kepada para pemegang polis; dan

Perusahaan-perusahaan asuransi wajib menjelaskan kenaikan premium asuransi


kesehatan. Perusahaan asuransi yang menaikkan premium yang berlebihan dapat
dikenakan sanksi dikeluarkan dari bursa asuransi kesehatan yang dikelola pemerintah

Demikian juga pada tahun 2014 direncanakan target sebagai berikut.

Pemerintah Negara Bagian membentuk bursa asuransi kesehatan, di mana para calon
pembeli polis asuransi kesehatan yang tidak dibiayai oleh kantor/perusahaan
tempatnya bekerja, serta perusahaan-perusahaan kecil, dapat membeli asuransi
kesehatan ;

Perusahaan asuransi dilarang menolak meng-cover seseorang yang sudah mempunyai


penyakit sebelumnya (pre-existing conditions);

setiap orang diwajibkan memiliki asuransi;

subsidi diberikan kepada warga yang mempunyai penghasilan kecil dan menengah
agar mampu membeli asuransi kesehatan;

warga dengan tingkat pendapatan di bawah 150% dari garis kemiskinan hanya akan
menggunakan maksimum 2% - 4,6% dari pendapatannya untuk membiayai asuransi
kesehatan (catatan: dalam paket amendemen yang sedang dibahas di Senate, angka ini
akan dirubah menjadi hanya 2% - 4%);

penduduk dengan tingkat pendapatan maksirnum 350% - 400% dan garis kemiskinan
hanya akan menggunakan 9,8% dari pendapatannya untuk membiayai asuransi
kesehatan (catatan: dalam paket amendemen, angka ini akan dirubah menjadi hanya
9.5%); dan

perusahaan keciI memperoleh peningkatan subsidi untuk rnembiayai asuransi


kesehatan karyawannya

Kesimpulan
Reformasi Pelayanan Kesehatan dapat membantu memperbaiki dan meringankan beban biaya
kesehatan yang ditanggung warga maupun perekonomian AS. Selain itu, dengan adanya biaya
asuransi kesehatan yang terjangkau serta adanya aturan tegas yang mewajibkan setiap warga
negara untuk memiliki asuransi kesehatan, secara otomatis akan mengakibatkan naiknya
jumlah warga yang mengikuti program asuransi kesehatan secara tajam.

GENOGRAM ADALAH POTRET KELUARGA


Genogram atau Potret keluarga merupakan gambaran menyeluruh dari keluarga asal
dan keluarga sekarang (bagi yang sudah menikah), baik dari pihak ibu dan ayah atau dari
pihak suami maupun istri.
Genogram berfungsi untuk menyatakan karakter dari pribadi-pribadi yang terkait atau
berarti bagi diri kita sendiri. Ingat bahwa diri kita dibentuk dalam lingkungan sosial primer
yakni keluarga. Ayah dan ibu kita berpengaruh atas pribadi kita; begitu pula masing-masing
orangtua telah dipengaruhi oleh ayah dan ibu mereka, begitu seterusnya.

Cara kerja pembuatan genogram antara lain sbb: (a) mulai dengan genogram keluarga
sendiri; (b) bentuk genogram keluarga istri dan/atau suami serta; (c) lanjutkan dengan
genogram pihak ayah dan ibu serta keluarga pihak mertua. Ungkapkan informasi tentang
orang-orang tertntu di dalamnya wataknya, sifat atau kebiasaan, kebaikan dan keburukan
bahkan kondisi kesehatannya atau usia kematiannya. Lihat contoh.
Begitu kuatnya pengaruh keluarga terhadap pembentukan karakter seseorang. Bila
karakter yang terbentuk itu positif maka hal demikian amat baik. Akan tetapi yang sering
terjadi adalah terbentuknya pengaruh negatif pada diri kita, karena mengalami salah didik
(salah asuh) dan perlakukan tidak menyenangkan lainnya di masa lalu. Masa lalu memang
telah selesai. Namun dampak negatif masa itu harus diatasi, dipandang secara positif agar
kepribadian kita bisa bertumbuh dalam masa sekarang dan di masa yang akan datang.
David Fileds mengusulkan pentingnya kita mengetahui/mengevaluasi kehidupan
masa lalu dengan mengerti tiga hal penting:
(a) Bagaimana proses traingulasi terjadi dalam keluarga; mencari dimana komunikasi
mengalami masalah.

(b) Memahami label/julukan apa saja yang pernah diungkapkan orangtua dan cukup
membentuk karakter diri kita sendiri.
(c) Memahami ikatan ganda yang pernah dilakukan orangtua yang mungkin membuat diri
sendiri tidak bisa mandiri melainkan takut berdiri sendiri tanpa bantaun (dukungan) orangtua.
David Fields juga mengusulkan agar kita mendaftarkan seditkinya sepuluh karakter
ayah atau ibu yang amat mencolok dalam kehidupan kita, baik positif maupun negatif (h.
145-146). Kita berdialog dengan karakter diri kita sendiri, melihat diri kita dalam terang
pengaruh kepribadian orangtua.
Sebagai pribadi yang telah dewasa kita tidak patut lagi hidup dalam penyesalan
apalagi dendam. Kita mesti mengampuni orangtua dengan perbuatan mereka yang kurang
menyenangkan. Mengampuni tidak berarti melupakan saja atau menyangkali realitas masa
lalu. Kita sebaiknya menjelaskan bagaimana dan mengapa itu semua terjadi.
Sebagai orang dewasa kita harus menjadi sahabat bagi orangtua dan mengembangkan
sikap hormat terhadap mereka (Ef 6:1-3). Bukan taat, tetapi hormat. Dalam relasi hormat,
anak dan orangtua berdiri sejajar sebagai pribadi dewasa. Sikap hormat terhadap orangtua
diungkapkan dengan kesediaan mendengar, bahkan bertanya mengenai masa lalu mereka
tanpa mengajukan penghakiman.
Belajar dari contoh-contoh Alkitab bagaimana mereka dibentuk dalam keluarganya
dan bagaimana kemudian mereka menjalani pembentukan serta pimpinan Tuhan amat perlu.
Kita harus berupaya memperbaiki kepribadian kita dengan jalan mengembangkan hal-hal
positif pada diri sendiri dan belajar dari orang lain (Amsal 27:17). Bagi yang sudah
berkeluarga, mereka harus mengutamakan tamakan keluarga mereka sekarang (family of
procreation).

Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang


menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif,
kontinyu,
menutamakan
pencegahan,
koordinatif,
mempertimbangkan keluarga, komunitas dan lingkungannya
dilandasi keterampilan dan keilmuan yang mapan. Pelayanan
Dokter Keluarga melibatkan Dokter Keluarga (DK) sebagai
penyaring di tingkat primer, dokter Spesialis (DSp) di tingkat
pelayanan sekunder, rumah sakit rujukan, dan pihak pendana
yang kesemuanya bekerja sama dibawah naungan peraturan
dan perundangan. Pelayanan diberikan kepada semua pasien

tanpa memandang
penyakitnya.

jenis

kelamin,

usia

ataupun

jenis

Tugas
Dokter
Keluarga:
1) Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna
menyuruh, dan bermutu guna penapisan untuk pelayanan
spesialistik yang diperlukan, 2) Mendiagnosis secara cepat dan
memberikan terapi secara cepat dan tepat, 3) Memberikan
pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat
sehat dan sakit, 4)Memberikan pelayanan kedokteran kepada
individu dan keluarganya, 5) Membina keluarga pasien untuk
berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf kesehatan,
pencegahan
penyakit,
pengobatan
dan
rehabilitasi, 6) Menangani
penyakit
akut
dan
kronik, 7) Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap
dikirim ke RS, 8)Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang
dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS, 9) Memantau
pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan, 10)Bertindak
sebagai
mitra,
penasihat
dan
konsultan
bagi
pasiennya, 11)Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan
untuk kepentingan pasien, 12)Menyelenggarakan rekam Medis
yang memenuhi standar, 13) Melakukan penelitian untuk
mengembang ilmu kedokteran secara umum dan ilmu
kedokteran
keluarga
secara
khusus.
Wewenang
Dokter
Keluarga:
1) Menyelenggarakan
Rekam
Medis
yang
memenuhi
standar, 2) Melaksanakan
pendidikan
kesehatan
bagi
masyarakat, 3) Melaksanakan
tindak
pencegahan
penyakit, 4) Mengobati penyakit akut dan kronik di tingkat
primer, 5) Mengatasi keadaan gawat darurat pada tingkat
awal, 6) Melakukan tindak prabedah, beda minor, rawat
pascabedah di unit pelayanan primer, 7) Melakukan perawatan
sementara, 8) Menerbitkan
surat
keterangan
medis, 9) Memberikan masukan untuk keperluan pasien rawat
inap, 10) Memberikan perawatan dirumah untuk keadaan
khusus.
Kompetensi Dokter Keluarga:
Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang
lebih dari pada seorang lulusan fakultas kedokteran pada
umumnya. Kompetensi khusus inilah yang perlu dilatihkan

melalui program perlatihan ini. Yang dicantumkan disini


hanyalah kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap Dokter
Keluarga secara garis besar. Rincian memgenai kompetensi ini,
yang dijabarkan dalam bentuk tujuan pelatihan, akan
tercantum dibawah judul setiap modul pelatihan yang terpisah
dalam berkas tersendiri karena akan lebih sering disesuaikan
dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.
a) Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional
kedokteran keluarga, b)Menguasai pengetahuan dan mampu
menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanan kedokteran
keluarga, c) Menguasai ketrampilan berkomunikasi,
menyelenggarakan hubungan profesional dokter- pasien untuk :
(a) Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua
anggota keluarga dengan perhatian khusus terhadap peran dan
risiko kesehatan keluarga, (b) Secara efektif memanfaatkan
kemampuan keluarga untuk berkerjasana menyelesaikan
masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan
risiko kesehatan keluarga, (c) Dapat bekerjasama secara
profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.
A. Memiliki keterampilan manajemen pelayanan kliniks.
a) Dapat memanfaatkan sumber pelayanan primer dengan
memperhitungkan potensi yang dimiliki pengguna jasa
pelayanan untuk menyelesaikan.
masalahnya, b)Menyelenggarakan pelayan kedokteran keluarga
yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan.
B. Memberikan pelayanan kedokteran berdasarkan etika moral
dan spritual.
C. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang
pengelolaan pelayanan kesehatan termasuk sistem
pembiayaan (Asuransi Kesehatan/JPKM).
Klinik dokter Keluarga ( KDK )
a) Merupakan klinik yang menyelenggarakan Sistem Pelayanan
Dokter Keluarga (SPDK), b) Sebaiknya mudah dicapai dengan
kendaraan umum. (terletak di tempat strategis), c) Mempunyai
bangunan yang memadai, d) Dilengkapi dengan saraba
komunikasi, e) Mempunyai sejumlah tenaga dokter yang telah
lulus pelatihan DK, f)Mempunyai sejumlah tenaga pembantu
klinik dan paramedis telah lulus perlatihan khusus pembantu
KDK, g) Dapat berbentuk praktek mandiri (solo) atau
berkelompok. h) Mempunyai izin yang berorientasi

wilayah, i) Menyelenggarakan pelayanan yang sifatnya


paripurna, holistik, terpadu, dan berkesinambungan, j)Melayani
semua jenis penyakit dan golongan umur, k) Mempunyai
sarana medis yang memadai sesuai dengan peringkat klinik
ybs.
Sistem Pelayanan Dokter Keluarga ( SPDK )
Untuk menunjang tugas dan wewenang nya diperlukan Sistem
Pelayanan Dokter Keluarga yang terdiri atas komponen :
a) Dokter keluarga yang menyelenggarakan pelayanan primer
di klinik Dokter Keluarga (KDK), b) Dokter Spesialis yang
menyelenggarakan pelayanan sekunder di klinik Dokter
Spesialis (KDSp), c) Rumah sakit rujukan, d) Asuransi
kesehatan/ Sistem Pembiayaan, e) Seperangkat peraturan
penunjang.
Dalam sistem ini kontak pertama pasien dengan dokter akan
terjadi di KDK yang selanjutnya akan menentukan dan
mengkoordinasikan keperluan pelayanan sekunder jika
dipandang perlu sesuai dengan SOP standar yang disepakati.
Pasca pelayanan sekunder, pasien segera dirujuk balik ke KDK
untuk pemantauan lebih lanjut. Tata selenggarapelayanan
seperti ini akan diperkuat oleh ketentuan yang diberlakukan
dalam skema JPKM/asuransi.
JPKM
Untuk efisiensi pembiayaan dan menjaga mutu pelayanan
dokter keluarga, ditetapkan JPKM. JPKM merupakan sistem
pemeliharaan kesehatan menyeluruh yang terjamin mutunya
dengan pembiayaan praupaya . uraian tentang JPKM mencakup
sbb :
a) Latar belakang (masalah pelayanan dan pembiayaan
kesehatan) JPKM dirumuskan sebagai upaya dirumuskan
sebagai upaya Indonesia untuk mengatasi ancaman terhadap
akses pelayanan kesehatan akibat kenaikan biaya kesehatan
yang juga mengacam penurunan mutunya. Setelah bertahuntahun terhadap pelbagai bentuk pemeliharaan kesehatan
mancanegara, disadari bahwa pembayaran tunai langsung dari
kocek konsumen atau pembayaran melalui pihak ketiga
terhadap tagihan pemberi pelayanan kesehatan telah
mendorong kenaikan biaya kesehatan . karena itu, dalam sitem
JPKM dirumuskan keterlibatan masyarakat untuk membiayai
kesehatan dengan iuran dimuka, keterlibatan pihak ketiga
sebagai badan penyelenggara yang bertanggungjawab
mengelola iuran secara efisien, keterlibatan sarana pelayanan

kesehatan untuk melaksanakan layanan bermutu namun


ekonomis (cost- effrctive) dengan pembayaran Pra-upaya, dan
keterlibatan pemerintah sebagai badan pembina yang
mengarahkan hubungan saling menguntungkan antar para
pelaku JPKM tersebut. Dengan demikian, JPKM yang dalam UU
No .23/1992 dinyatakan sebagai suatu cara penyelenggaraan
pemeliharaan kesehatan yang paripurna, berdasarkan asas
usaha bersama dan kekeluargaan, yang berkesinambungan dan
dengan mutu yang terjamin, serta dengan pembiayaan yang
dilaksanakan secara pra- upaya, pada hakekatnya adalah
sistem pemeliharaan kesehatan yang memadu kan penataan
subsistem pelayanan dengan subsistem pembiayaan
kesehatan. Tujuannya adalah meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat dengan menjaga mutu pelayanan dan
mengendalikan biaya pelayanan sehingga tidak menghambat
akses masyarakat.b) Beberapa bentuk pembiayaan
pemeliharaan kesehatan (tunai-langsung atau fee for service,
asuransi ganti-rugi, asuransi dengan taguhan provider,
pelayanan kesehatan terkendali (managed care). Dalam JPKM
pelayanan kesehatan diselenggarakan oleh pelbagai sarana
dan/atau penyelenggara Pemeluharaan Kesehatan atau
pemberi Pelayanaan Kesehatan (PPK) yang dikontrak oleh Bapel
serta dibayar secara pra-upaya. Dengan pembayaran secara
pra-upaya, ppk didorong untuk merencanakan pelayanan
kesehatan berdasarkan profil peserta dan efesiensi (costeffectiveness), Hal ini akan mendorong penerapan standar
pelayanan dan upaya jaga mutu yang akan memelihara dan
meningkatkan taraf kesehatan peserta. c) JPKM sebagai bentuk
pelayanan kesehatan terkendali di Indonesia (pengertian, para
pelaku, tujuh jurus, program pengembangan : visi-misi-strategiswot-tujuan-kegiatan-hasil-arah pengembangan
selanjutnya). d) Peran dokter keluarga dalam JPKM (pelayanan
tingkat pertama yang bermutu segai ujung tombak JPKM,
health-resource-alocator terpecaya bagi keluarga).
Perbedaan antara Dokter dan Dokter Keluarga
Submitted by hadinata on Saturday, 12 June 2010No Comment

Oleh :
Dr. Sugito Wonodirekso, MS, PHK. PKK, Perhimpunan Dokter
Keluarga Indonesia, Kabid. Pendidikan dan Penelitian
Perubahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki sistem
apapun yang sudah berjalan hampir selalu pada awalnya
mendatangkan kerancuan. Demikian pula perubahan dalam
pendidikan kedokteran dasar dan sistem pelayanan kesehatan.
Penulis mencoba mengemukaan wacana ini dalam upaya
membantu menjernihkan kerancuan yang ada yang
menyangkut pengertian tentang definisi, kompetensi, dan
kewenangan dokter layanan primer.
A. Dokter
Dokter dalam wacana ini diberi tanda kutip karena
merupakan istilah bukan sebutan umum. Gelar Dokter
diberikan kepada:
1. Lulusan institusi pendidikan kedokteran dasar yang
menggunakan KIPDI I dan II dan sebelumnya.
2. Lulusan institusi pendidikan kedokteran dasar yang
menggunakan KIPDI IIIsebelum menjalani program
internsip. Mereka memperoleh gelar Dokter karena sudah
mampu melaksanakan tugas sebagai dokter layanan primer
akan tetapibelum mahir melaksanakannya sehingga masih
memerlukan proses pemahiran dalam program internsip.
Dokter seperti itu telah mendapat Sertifikat Kompetensi
dari KDI. Sertifikat kompetensi ini bersifat sementara dan hanya
digunakan untuk mendaftarkan diri ke KKI agar memperoleh
Surat Tanda Registrasi (STR) sementara yang diperlukan
untuk dapat praktik atas nama sendiri di bawah seliaan
(supervisi) dokter senior yang bersertifikat sebagai penyelia
di klinik tempatnya menjalani internsip. Dengan kata lain STR
itu hanya berlaku sementara sepanjang masa internsip dan
hanya di klinik tertentu (terakreditasi) tempatnya menjalani
program internsip. Jika tempat internsip itu terdiri atas
sejumlah klinik layanan primer, maka STR itu hanya berlaku di
klinik-klinik tersebut. Dokter seperti ini belum boleh
menyelengarakan praktik mandiri sebagai penyelenggara
layanan kesehatan primer.
3. Lulusan institusi pendidikan kedokteran dasar yang
menggunakan KIPDI IIIsetelah menjalani program
internsip. Mereka tetap menggunakan gelar Dokter karena
tingkat kemampuannya sama dengan mereka yang belum
menjalani internsip. Bedanya mereka diangap telah

mahir menggunakan kemampuannya itu karena telah


menjalani internsip. Untuk itu mereka memperoleh Sertifikat
Kompetensi dari KDI yang berlaku sampai dengan saat
registrasi ulang berikutnya sebagai penyelengara layanan
kesehatan primer karena diangggap sudah mahir
melaksanakannya. Serifikat Kompetensi itulah yang
memungkinkan mereka mendaftar ke Konsil Kedokteran
Indonesia untuk legalitas praktik mandirinya sebagai dokter
layanan primer. Proses pemahiran melalui program internship
ini sangat penting untuk menjamin mutu layanannya.
Jadi, Dokter adalah predikat akademik-profesional yang
diberikan kepada mereka yang telah menyelesaikan pendidikan
di institusi pendidikan kedokteran dasar. Bagi mereka yang
dididik menggunakan KIPDI I dan II dan sebelumnya,belum
diwajibkan untuk menjalani internsip, karena kepaniteraan
yang cukup panjang selama pendidikan dianggap cukup
memadai. Oleh karena itu setelah lulus sebagai dokter,
langsung diberi wewenang untuk menjalankan praktik
kedokteran mandiri yang menangani masalah kesehatan
tingkat primer tanpa memandang jenis penyakit, golongan
usia, organologi, ataupun jenis kelamin pasien yang
dihadapinya.
Dari cakupan layannya yang luas itu lahirlah sebutan Dokter
Umum yang menjalankan Praktik Umum yang selama ini
dikenal masyarakat. Perlu ditekankan di sini, sebenarnya kedua
sebutan itu diciptakan atau diberikan oleh masyarakat dan
bukan oleh institusi pendidikan kedokteran dasar. Kedua istilah
tadi diperlukan untuk membedakannya dengan dokter spesialis
yang praktiknya dibatasi oleh jenis penyakit, golongan usia,
jenis kelamin, dan jenis organ. Hal itu diperjelas oleh kenyataan
bahwa dalam ijazah yang diperoleh dari intitusi pendidikan
kedokteran dasar gelarnya adalah Dokter. Semua institusai
pendidikan kedokteran dasar sepakat bahwa Dokter tersebut
(yang lulus dari institusi pendidikan kedokteran dasar
menggunakan KIPDI I dan II dan sebelumnya) dianggap belum
mampu menerapkan pendekatan kedokteran keluarga karena
pendidikannya yang community oriented, menerapkan
paradigma sakit (disease oriented), dan menganggap pasien
sebagai kumpulan organ. Selain itu harus diakui bahwa
selama ini kompetensi dokter belum terformulasikan dengan
jelas dan sebagai konsekuensinya batasan layanan primer
yang menjadi wewenangnya juga belum jelas. Walaupun

demikian, secara tersirat sudah tampak pada Tanggung Jawab


Dokter di Indonesia dan TIU dan TPK yang tercantum dalam
KIPDI I dan II.
Dokter juga merupakan gelar akademik-professional yang
diberikan kepada para lulusan institusi pendidikan yang
menggunakan KIPDI III sebelum dan setelah menjalani internsip
selama paling kurang 1 tahun. Dokter lulusan KIPDI III (baru
lulus sekitar tahun 2010) mempunyai wewenang yang sama
dengan dokter pendahulunya yaitu sebagai penyelenggara
layanan kesehatan tingkat pertama (primer), tanpa
memandang jenis penyakit, golongan usia, 2
organologi, ataupun jenis kelamin pasien yang dihadapinya.
Pembedanya adalah bahwa Dokter cetakan KIPDI III ini
sekaligus telah mampu menerapkan prinsip-prinsip kedokteran
keluarga dalam praktiknya. Kemampuan itu diperoleh selama
pendidikan dokter di institusi pendidikan kedokteran dasar. Hal
itu dimungkinkan karena proses pendidikannya yang
competency based dan family medicine based yang
memandang individu seutuhnya sebagai bagian integral dari
keluarga, komunitas, dan lingkungannya.
Berbeda dengan KIPDI I dan II, dalam KIPDI III jelas tercantum
kompetensi yang harus dicapai selama pendidikan yang
meliputi tujuh area kompetensi atau kompetensi utama yaitu:
1. Keterampilan komunikasi efektif.
2. Keterampilan klinik dasar.
3. Keterampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedik, ilmu
klinik, ilmu perilaku dan epidemiologi dalam praktik kedokteran
keluarga.
4. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada indivivu,
keluarga ataupun masyarakat denga cara yang komprehensif,
holistik, bersinambung, terkoordinasi dan bekerja sama dalam
konteks Pelayanan Kesehatan Primer.
5.Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi.
6. Mawas diri dan mengembangkan diri/belajar sepanjang
hayat.
7. Menjunjung tinggi etika, moral dan profesionalisme dalam
praktik.
Ketujuh area kompetensi itu sebenarnya adalah kemampuan
dasar seorang dokter yang menurut WFME (World
Federation for Medical Education) disebut basic medical
doctor. Untuk menjamin pencapaian ketujuh area kompetesi
itu diperlukan kepaniteraan (untuk mencapai kompetensi

sebagai dokter layanan primer yang menerapkan pendekatan


kedokteran keluarga) dan internsip (untuk pemahiran
kompetensi yang telah diperolehnya). Agar lebih menjamin
kemampuan dan kemahiran tadi, maka kepaniteraan dan
internsip sebaiknya atau seharusnya diselenggarakan di tempat
layanan primer yang menerapkan prinsip-prinsip kedokteran
keluarga yang terdiri atas:
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
2. Pelayanan yang kontinu
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian
integral dari keluarganya
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan
kerja, dan lingkungan tempat tinggalnya
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika, moral. dan hukum
8. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat
dipertangungjawabkan
Jika diperhatikan, penguasaan ketujuh arena kompetensi tadi
akan menjamin kemampuan dokter menerapkan prinsip-prinsip
kedokteran keluarga karena pada dasanya prinsip-prinsip
kedokteran keluarga dapat diterapkan secara sempurna jika
ketujuh area kompetensi tadi tercapai.
Perlu ditekankan di sini bahwa penerapan prinsip-prinsip
kedokteran keluarga bukan hanya menjadi tanggung jawab
dokter dan atau Dokter Keluarga saja melainkan juga
menjadi tanggung jawab setiap dokter di semua tingkat
layanan, primer, sekunder, dan tersier. Hanya saja dokter
dan atau Dokter Keluarga bertanggung jawab
menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga di
layanan primer sedangkan dokter spesialis di layanan
sekunder dan tersierdalam Sistem Kesehatan Nasional. Jika
hal itu disadari maka Sistem Pelayanan Dokter Keluarga
akan dijelaskan kemudian akan dapat terlaksana secara baik.
Jadi, secara akademik-profesional, yang dimaksud dengan
Dokter (lulusan KIPDI-3) adalah lulusan institusi pendidikan
kedokteran dasar yang belummenjalani program internsip
sehingga belum berwenang menyelenggarakan layanan
kesehatan tingkat primer dengan pendekatan kedokteran
keluarga secara mandiri dan yang telah menyelesaikan
program internsip dan memperoleh surat tanda registrasi dari

Konsil Kedokteran Indonesia sehingga berwenang


menyelenggarakan layanan kesehatan tingkat primer dengan
pendekatan kedokteran keluarga secara mandiri.
Secara operasional dokter dapat didefinisikan sebagai
berikut:
Dokter adalah tenaga kesehatan (dokter) tempat kontak
pertama pasien dengan dokternya untuk menyelesaikan semua
masalah kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis
penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin sedini
dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna,
bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan
profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip
pelayanan yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi
tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan
yang diselenggarakannya sebatas kompetensi dasar
kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran
dasar. 3
B. Dokter Keluarga
Dalam wacana berkut yang dimaksud dengan dokter adalah
lulusan pendidikan kedokteran dasar yang menggunakan KIPDI
I, II, dan III dan sebelumnya.
Harus disadari layanan kesehatan tingkat primer bukan layanan
kesehatan yang sederhana seperti anggapan banyak orang
selama ini. Kenyataannya masalah kesehatan yang dihadapi di
layanan primer sangat kompleks dan luas serta membutuhkan
pemahaman dasar ilmu kedokteran dan ilmu sosial yang luas
dan dalam, seperti yang disyaratkan dalam tujuh area
kompetensi yang harus dicapai. Penyakit atau masalah yang
dihadapi masih belum spesifik sehingga penguasaan ketujuh
area kompetensi sangat diperlukan. Sebagai konsekuensi
kekhususan masalah yang dihadapi itu, maka telah diterbitkan
buku ICPC (International Classification of Primary Care) yang
lebih berorientasi pada keluhan yang membawa pasien ke
dokter. Buku ini berbeda dengan ICD (International
Classification of Diseases) yang lebih cocok untuk keperluan
layanan sekunder yang lebih mendasarkan klasifikasinya pada
penyakit atau diagnosis.
Karena kekhususan dan kekompleksan masalah yang dihadapi
oleh dokter layanan primer, diperlukan perluasan dan
pendalaman ilmu dan keterampilan dokter (layanan
primer). Harus disadari bahwa pendidikan kedokteran
dasar tidak memungkinkan karena keterbatasan waktu

studi pencetakan dokter yang menguasai ilmu dan


keterampilan dokter layanan primer yang lebih luas dan
dalam. Oleh karena itu dokter harus mengikuti pendidikan
tambahan atau lanjutan khusus agar mempunyai kemampuan
sebagai dokter layanan primer yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan layanan primer yang bermutu
tinggi. Untuk membedakan dokter layanan primer yang disebut
dokter yang baru selesai menjalani internsip dengan dokter
yang telah menjalani pendidikan khusus, diperlukan predikat
yang berbeda yaitu Dokter Keluarga.
Dengan demikian Dokter Keluarga - disingkat DK secara
akademik-profesional didefinisikan sebagai dokter yang
memperoleh pendidikan lanjutan khusus untuk menerapkan
prinsip-prinsip Kedokteran Keluarga dengan cakupan ilmu dan
keterampilan yang lebih luas dan dalam sebagai
DokterLayanan Kesehatan Tingkat Primer.
Untuk keperluan operasional DK dapat didefinisikan sebagai
tenaga kesehatan (dokter) tempat kontak pertama pasien
dokternya untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan
yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi,
golongan usia, dan jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin,
secara menyeluruh, paripurna, bersinambung, dan dalam
koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan
lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif
dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab
profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang
diselenggarakannya sebatas kompetensi dasar kedokteran
ditambah dengan kompetensi dokter layanan primer yang
diperoleh dalam pendidikan lanjutan khusus.
Definisi di atas persis sama dengan definisi Dokter namun
demikian batas kewenangan DK lebih luas karena DK telah
menjalani pendidikan lanjutan khusus. Pascapendidikan
lanjutan khusus itu, Dokter ybs memperoleh sertifikat
kompetensi sebagai Dokter Keluarga yang diterbitkan oleh
Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga untuk mendaftar ke Konsil
Kedokteran Indonesia untuk legalitas praktiknya.
Pendidikan lanjutan khusus maksudnya: Pendidikan lanjutan
yang dirancang khusus untuk mencapai tingkat kompetensi
tertentu yang lebih tinggi sebagai dokter layanan primer, yang
dapat diperoleh melalui Pendidikan Kedokteran Bersinambung/
Pengembangan Profesional Bersinambung (PKB/PPB atau
CME/CPD) yang terstruktur. Setelah mencapai angka kredit

tertentu mereka berhak menyandang gelar Dokter Keluarga


dan berwenang sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan
tingkat primer dengan wewenang yang lebih luas.
Yang dimaksud dengan Pelayanan Kesehatan Tingkat Primer
adalah penyelengaraan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
tempat kontak pertama pasien dengan dokter untuk
menyelesaikan masalah kesehatan secara dini, optimal,
paripurna, dan menyeluruh. Pelayanan kesehatan tingkat
primer diselenggarakan oleh 3 kelompok dokter layanan primer
yang diuraikan berikut ini.
Dalam kurun waktu 5 tahun mendatang, kita akan mempunyai
atau akan menghadapi 3 kelompok dokter yang semuanya
adalah dokter layanan primer yaitu:
1. Dokter lulusan KIPDI 1 dan 2 dan sebelumnya
2. Dokter lulusan KIPDI 3 pasca-internsip
3. Dokter Keluarga
Untuk memudahkan maka semua dokter kelompok-1 akan
diberi gelar Diploma Dokter Keluarga yang disingkat DDK
setelah menjalani program konversi yang diselenggarakan oleh
Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia bersama
Kolegium Dokter Indonesia. Kelompok-2 disebut Dokter dan
kelompok-3 disebut Dokter Keluarga.
Sinergi Pelayanan Kedokteran Keluarga

Batam - Kementerian Kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka


Menengah 2010-2014 untuk meningkatkan derajat kesehatan penduduk
Indonesia, telah menggariskan arah kebijakannya salah satu programnya
adalah Program Upaya Kesehatan Perorangan yang ditujukan untuk
meningkatkan akses, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan
melalui suatu sistim pelayanan kesehatan yang terpadu dan berjenjang. Salah
satu kegiatan pokok dari program Upaya Kesehatan Perorangan ini adalah
pengembangan dokter keluarga sebagai pelaku utama pelayanan kesehatan
dan penata rujukan di strata pertama.
Sarana pelayanan kesehatan dasar milik pemerintah maupun pelayanan
kesehatan swasta berbasis masyarakat telah terdapat dihampir semua daerah
perkotaan sampai wilayah kecamatan, namun sampai saat ini upaya kesehatan

termasuk upaya kesehatan strata pertama belum terselenggara secara


menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Sementara itu Organisasai Kesehatan Internasional seperti WHO dan WONCA
(World Of National College and Academic Association of General Practitioners /
Family Physicians ) telah menekankan pentingnya peranan Dokter Keluarga
dalam upaya mencapai pemerataan pelayanan Kesehatan. Sebagai salah satu
anggota WHO, Kementerian Kesehatan dan Institusi Pendidikan serta
Masyarakat Profesional perlu menata pelayanan kedokteran keluarga dalam
suatu struktur yang tersistem. WHO akan menyelenggarakan pertemuan
Regional Consultation on Strengthening the Role of Family/Community
Physicians in Primary Health Care pada tanggal 19-21 Oktober 2011.
Pertemuan ini bertujuan untuk mengkaji, meningkatkan serta lebih
mempromosikan pelayanan kedokteran keluarga. Melalui pertemuan kita pagi
ini diharapkan dapat diformulasikan materi-materi strategis untuk dibahas pada
pertemuan tingkat regional tersebut. Pelayanan kedokteran keluarga telah
banyak dilaksanakan di daerah-daerah dengan sumber daya manusia yang
mempunyai kompetensi kedokteran keluarga, namun demikian bentuk
pelayanan atau pendekatan pelayanannya berbeda-beda serta kompetensi
pelayanan kedokteran keluarga yang diperoleh melalui pelatihan yang berbeda
pula. Selain itu perlu di sinergikan pelayanan kedokteran keluarga dengan
pelayanan kesehatan dasar lainnya agar menjadi satu bentuk pelayanan yang
dapat di terapkan secara nasional.
Pelayanan Kedokteran Keluarga sebagai upaya Kesehatan Perorangan Strata
pertama yang mengacu pada kepentingan status kesehatan setinggi-tingginya
dari pengguna jasa kesehatan dengan konteks keluarga perlu terus
dikembangkan dengan mengupayakannya masuk ke dalam kurikulum fakultas
kedokteran.Demikian sambutan Kepala Sub Direktorat Bina Pelayanan
Kedokteran Keluarga Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar, Drg. Bulan
Rachmadi, M.kes., pada acara Pertemuan Sinergi Pelayanan Kedokteran
Keluarga, di Batam tanggal 3 s/d 6 Agustus 2011
Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar, dr. Bambang Sardjono, MPH
menyatakan bahwa Roadmap Pelayanan Kedokteran Keluarga adalah garisgaris kebijakan program dan kegiatan pelayanan kedokteran keluarga yang
akan menjadi landasan bersama antar pemangku kepentingan kesehatan
dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata,
terjangkau dan berkesinambungan

Kementerian Kesehatan telah menuangkan kebijakan Rencana Strategis


Kementerian Kesehatan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor HK.03.01/160/I/2010, menetapkan pelayanan kedokteran keluarga
sebagai salah satu indikator peningkatan upaya kesehatan dasar yang
ditargetkan sampai tahun 2014 fasilitas kesehatan dasar yang melaksanakan

pelayanan kedokteran keluarga sebesar 70%;


Pelayanan Kedokteran Keluarga adalah suatu bentuk upaya kesehatan
perorangan tingkat primer yang paripurna, menyeluruh, terpadu dan
bersinambung yang memusatkan pelayanannya pada individu dalam konteks
keluarga dan komunitas.
Dokter Keluarga merupakan dokter yang telah memperoleh kompetensi khusus
kedokteran keluarga melalui pendidikan dan atau pelatihan yang terstruktur dan
dilakukan oleh organisasi profesi atau lembaga yang di akreditasi oleh
organisasi profesi. Sedangkan prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan dalam
penyelenggaraan kedokteran keluarga adalah : Kontak Pertama (first contact),
Pelayanan Bersifat Pribadi (personal care), Pelayanan Paripurna
(comprehensive care), Pelayanan Menyeluruh (holistic care), Pelayanan
terpadu (integrated care), Pelayanan Berkesinambungan (countinuous care),
Prioritas pada Pencegahan (prevention first), Koordinatif dan Kolaborasi,
Berorientasi pada Keluarga dan Komunitas (family and community oriented).

Upaya pelayanan kedokteran keluarga berpusat pada pasien, berfokus pada


keluarga, dan berorientasi pada komunitas dan dapat dilaksanakan secara
mandiri oleh dokter keluarga/dokter gigi keluarga, atau dilaksanakan secara tim
pelayanan kedokteran keluarga tetapi secara bertahap akan menjadi pelayanan
dalam bentuk tim. Dalam penyelenggaraan pelayanan dokter keluarga untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan keluarga yang dapat menerapkan
azas kewilayahan yaitu setiap dokter keluarga membina 500 KK atau 2.500
penduduk, azas pemberdayaan masyarakat, azas rujukan, azas pembiayaan
yaitu pembiayaan pelayanan kedokteran keluarga bersumber dari sistem
jaminan kesehatan/asuransi dengan dasar prabayar. Pelayanan kedokteran
keluarga akan memperoleh dana melalui sistem kapitasi. Dalam pelayanan
kedokteran keluarga dan sesuai dengan semangat desentralisasi maka fungsi
Kementerian Kesehatan adalah menetapkan regulasi sedang fungsi daerah
adalah melaksanakan pelayanan kedokteran keluarga sesuai regulasi yaitu
kebijakan, standar, pedoman dan indikator nasional yang telah disepakati
bersama.
Untuk menjamin agar pelayanan kedokteran keluarga dapat berkembang
optimal dengan pemahaman yang sama akan pelayanan kedokteran keluarga
maka Kebijakan pelayanan kedokteran keluarga perlu segera disusun dengan
melibatkan berbagai unsur yang terdiri dari kelompok profesi, akademisi,
asuransi dan unsur Kementerian Kesehatan. Perlu terus bekerjasama dengan
seluruh stakeholders terkait agar program pelayanan kedokteran keluarga ini
bisa terpadu dan komprehensif dalam pelaksanaanya, sehingga dapat
dihasilkan produk pelayanan yang optimal. Humas

DOKTER KELUARGA
Dokter Keluarga
Batasan dan Ruang Lingkup
Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan
primer yang komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan
mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta
pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis
kelamin, usia ataupun jenis penyakitnya.
Pengertian dan Ruang Lingkup Pelayanan Dokter Keluarga
Pelayanan Dokter Keluarga melibatkan Dokter Keluarga (DK) sebagai penyaring di
tingkat primer, dokter Spesialis (DSp) di tingkat pelayanan sekunder, rumah sakit
rujukan, dan pihak pendana yang kesemuanya bekerja sama dibawah naungan
peraturan dan perundangan. Pelayanan diselenggarakan secara komprehensif,
kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan mengutamakan pencegahan,
menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan
kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin, usia ataupun jenis
penyakitnya.
Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seorang
lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. kompetensi yang harus dimiliki oleh
setiap Dokter Keluarga secara garis besarnya ialah :
a. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga
b. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam
pelayanan kedokteran keluarga
c. Menguasai ketrampilan berkomunikasi
Dan diharapkan dapat menyelenggarakan hubungan profesional dokterpasien untuk :
a. Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan
perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga
b. Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk berkerjasana
menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan
keluarga
c. Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.
Karakteristik Dokter Keluarga
1. Lynn P. Carmichael (1973)
a. Mencegah penyakit dan memelihara kesehatan

b. Pasien sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat


c. Pelayanan menyeluruh, mempertimbangkan pasien dan keluarganya
d. Andal mendiagnosis, tanggap epidemiologi dan terampil menangani penyakit
e. Tanggap saling-aruh faktor biologik-emosi-sosial, dan mewaspadai kemiripan
penyakit.
2. Debra P. Hymovic & Martha Underwood Barnards (1973)
a. Pelayanan responsif dan bertanggung jawab
b. Pelayanan primer dan lanjut
c. Diagnosis dini, capai taraf kesehatan tinggi
d. Memandang pasien dan keluarga
e. Melayani secara maksimal
3. IDI (1982)
a. Memandang pasien sebagai individu, bagian dari keluarga dan masyarakat
b. Pelayanan menyeluruh dan maksimal
c. Mengutamakan pencegahan, tingkatan taraf kesehatan
d. Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya
e. Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas kelanjutannya
Tugas Dokter Keluarga, meliputi :
1. Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh, dan bermutu
guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan,
2. Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat,
3. Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan
sakit,
4. Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya,
5. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi,
6. Menangani penyakit akut dan kronik,
7. Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit,
8. Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau
dirawat di RS,
9. Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan,
10.Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya,
11.Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien,
12.Menyelenggarakan rekam Medis yang memenuhi standar,
13.Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan
ilmu kedokteran keluarga secara khusus.
Wewenang Dokter Keluarga
1. Menyelenggarakan Rekam Medis yang memenuhi standar,

2. Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi masyarakat,


3. Melaksanakan tindak pencegahan penyakit,
4. Mengobati penyakit akut dan kronik di tingkat primer,
5. Mengatasi keadaan gawat darurat pada tingkat awal,
6. Melakukan tindak prabedah, beda minor, rawat pascabedah di unit pelayanan
primer,
7. Melakukan perawatan sementara,
8. Menerbitkan surat keterangan medis,
9. Memberikan masukan untuk keperluan pasien rawat inap,
10. Memberikan perawatan dirumah untuk keadaan khusus.
Kompetensi Dokter Keluarga
Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seorang
lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. Kompetensi khusus inilah yang perlu
dilatihkan melalui program perlatihan ini. Yang dicantumkan disini hanyalah
kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besar.
Rincian memgenai kompetensi ini, yang dijabarkan dalam bentuk tujuan pelatihan,
1. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga,
2. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam
pelayanan kedokteran keluarga,
3. Menguasai ketrampilan berkomunikasi, menyelenggarakan hubungan profesional
dokter- pasien untuk :
a) Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan
perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga,
b) Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk berkerjasana
menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan
keluarga,
c) Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.

Perhimpunan dokter Keluarga Indonesia


Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)
PDKI adalah Kepanjanganya adalah Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
Saat ini seluruh anggotanya adalah Dokter Praktik Umum (DPU) yang tersebar di
seluruh pelosok Indonesia. Jumlah anggota yang telah mendaftar sekitar 3000
orang. Semua anggota PDKI adalah anggota IDI.

PDKI merupakan organisasi profesi dokter penyelenggara pelayanan kesehatan


tingkat primer.
Ciri dokter layanan primer adalah: (Goroll, 2006)
1.
Menjadi kontak pertama dengan pasien
2.
Membuat diagnosis medis dan penangannnya,
3.
Membuat diagnosis psikologis dan penangannya,
4.
Memberi dukungan personal bagi setiap pasien dengan berbagai latar
belakang dan berbagai stadium penyakit
5.
Mengkomunikasikan informasi tentang pencegahan, diagnosis, pengobatan,
dan prognosis, dan
6.
Melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kronik dan kecacatan
melalui penilaian risiko, pendidikan kesehatan, deteksi dini penyakit, terapi
preventif, dan perubahan perilaku.
Setiap dokter yang menyelenggarakan pelayanan seperti di atas dapat menjadi
anggota PDKI.
Anggota PDKI adalah semua dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat
primer baik yang baru lulus maupun yang telah lama berpraktik sebagai Dokter
Praktik Umum.
Untuk mudahnya coba perhatikan Tabel-1 di bawah ini:
Tabel-1: Indikator seorang Dokter Layanan Primer

No

Tugas/wewenang

Pelaksanaan

Kontak pertama dengan pasien?

Y/T

Kontak langsung dengan pasien?

Y/T

Menangani semua macam penyakit?

Y/T

Menangani semua gejala penyakit?

Y/T

Menangani semua usia dan jenis kelamin?

Y/T

Menyelengarakan pencegahan secara umum?

Y/T

Melayani prosedur klinis layanan primer saja?

Y/T

Jika jawabnya semua Y maka anda sebenarnya adalah Dokter Pelayanan Primer
yang dibenarkan dan dianjurkan menerapkan prinsip kedokteran keluarga.
Khusus untuk dokter perusahaan/UGD/dsb mungkin perlu tambahan ilmu dan
keterampilan menangani penyakit okupational/keadaan khusus yang sesuai.
Dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer termasuk
Dokter (Praktik Umum) yang praktik pribadi
Dokter Keluarga yang praktik pribadi
Dokter layanan primer lainnya termasuk:
Dokter Praktik Umum yang praktik solo
Dokter (praktik umum) praktik bersama
Dokter perusahaan
Dokter bandara
Dokter pelabuhan
Dokter kampus

Dokter pesantren
Dokter haji
Dokter Puskesmas
Dokter yang bekerja di unit gawat darurat
Dokter yang bekerja di Poliklinik Umum RS
Dokter Praktik Umum yang bekerja di bagian pelayanan khusus misalnya Unit
Hemodialisis, PMI, dsb.
Sejarah PDKI
PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok
Studi Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah
IDI. Anggotanya beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis.
Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA).
Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan
Kongres Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese
Dokter Keluarga Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter seminat.
Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai
perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan
nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum
mempunyai kolegium yang berfungsi.
Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran
Keluarga (KIKK) dan telah dilaporkan ke IDI dan MKKI.
1. KIKK
Kepanjangannya adalah: Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga, dipilih dalam Kogres
Nasional VII di Makassar 30 Agustus 2 September 2006, dan telah dilaporkan ke
PB IDI Pusat dan MKKI.

Kolegium memang harus ada dalam sebuah organisasi profesi. Jadi PDKI harus
mempunyai kolegium yang akan memberikan pengakuan kompetensi keprofesian
kepada setiap anggotanya
Dalam PDKI lembaga ini yang diangkat oleh kongres dan bertugas:

Melaksanakan isi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua

keputusan yang ditetapkan kongres


Mempunyai kewenangan menetapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi

kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pendidikan profesi bidang


kedokteran keluarga
Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran.
Mewakili PDKI dalam pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga
Menetapkan program studi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

beserta kurikulumnya
Menetapkan kebijakan dan pengendalian uji kompetensi nasional pendidikan

profesi kedokteran keluarga


Menetapkan pengakuan keahlian (sertfikasi dan resertifikasi)
Menetapkan kebijakan akreditasi pusat pendidikan dan rumah sakit

pendidikan untuk pendidikan dokter keluarga


Mengembangkan sistem informasi pendidikan profesi bidang kedokteran

keluarga
Angota KIKK terdiri atas anggota PDKI yang dinilai mempunyai tingkat integritas
dan kepakaran yang tinggi untuk menilai kompetensi keprofesian anggotanya
Atas anjuran dan himbauan IDI sebaiknya KIKK digabung dengan KDI karena
keduanya menerbitan sertifikat kompetensi untuk Dokter Pelayanan Primer (DPP).
Setelah melalui diskusi yang berkepanjangan akhirnya deuanya digabung dengan
nama Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga (KDDKI) yang untuk sementara
melanjutkan tugas masing-masing, unsur KDI memberikan sertifikat kepada dokter
yang baru lulus sedangkan unsur KIKK memberikan sertifikat kompetensi
(resertifikasi) kepada DPP yang akan mendaftar kembali ke KKI.
2. Dokter (Dokter Praktik Umum, DPU, General Practitioner)
Dokter sering disebut Dokter Praktik Umum (General Practitioner) yang disalahkaprahkan menjadi Dokter Umum
Sebutan Dokter Umum sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan Dokter

Praktik Umum (DPU) sesuai dengan keputusan Muktamar IDI di Malang tahun
2000
Dokter adalah gelar profesi bagi lulusan Fakultas Kedokteran dan atau Program
Studi Pendidikan Dokter (PSPD), yang menggunakan KIPDI I, II, dan sebelumnya
Pendidikan dokter sejak tahun 2005 telah berubah metodenya dari Content Based
Curriculum yang bersifat teacher centered menjadi Competency based
Curriculum (KBK) yang bersifat student centered. Isi kurikulum (bahan bahasan)
tetap sama yaitu Ilmu Kedokteran Pelayanan Primer beserta kemajuan yang dicapai.
Seluruh isi KIPDI III selanjutnya menjadi bagian utama dan disahkan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia sebagai Standar Nasional Kurikulum Pendidikan Dokter.
Standar ini harus menjadi acuan utama kurikulum FK/PSPD dan menjadi 80% is
kurikulum setiap FK/PSPD. Yang 20% lainnya berupa muatan local.
Kurun waktu pendidikan dokter juga berubah menjadi 5 tahun ditambah internsip 1
tahun.
Gelar dokter ini juga diberikan kepada lulusan Fakultas Kedokteran dan atau
Program Studi Pendidikan Dokter yang menggunakan KBK sebelum dan sesudah
internsip.
Dengan demikian, definisi Dokter adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama
pasien di fasilitas/sistem pelayanan kesehatan primer untuk menyelesaikan semua
masalah kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi,
golongan usia, dan jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna,
dengan pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi
dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang
efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan, serta menjunjung tinggi
tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang
diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang
diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar.
Secara singkat definisi Dokter adalah praktisi medis yang berpraktik sebagai
DPU, dengan kewenangan sebatas pelayanan primer.

Khusus untuk lulusan KBK yang dalam praktinya menerapkan pendekatan


kedokteran keluarga, boleh disebut dokter keluarga sekalipun belum bergelar
profesi sebagai Dokter Keluarga.
Dengan kata lain, dalam praktiknya dokter menyelengarakan pelayanan kesehatan
tingkat primer sebagai generalis atau Dokter Praktik Umum. Kewenangannya
sebatas Basic Medical Doctor versi World Federation of Medical Education 2003
yang di Indonesia diberi gelar Dokter yang memperoleh sertifikat kompetensi dari
Kolegium Dokter Indonesia dan dalam praktik bergelar DPU (Dokter Praktik
Umum).
3. Dokter Keluarga (DK), Magister Kedokteran Keluarga atau Magister
Famili Medisin (MKK/MFM), dan Spesialis Kedokteran Keluarga atau
Spesialis Famili Medisin (SpFM)
Dokter Keluarga adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien (di
fasilitas/sistem pelayanan kesehatan) untuk menyelesaikan semua masalah
kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan
usia, dan jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan
pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan
profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif
dan efisien yang mengutamakan pencegahan serta menjunjung tinggi tanggung
jawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang diselenggarakannya
(wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama
pendidikan kedokteran dasar ditambah dengan kompetensi dokter layanan primer
yang diperoleh melalui CME/CPD atau program spesialisasi.
Seperti juga Dokter, Dokter Keluarga menyelengarakan pelayanan kesehatan
tingkat primer sebagai generalis atau Dokter Praktik Umum. Cakupan layanan lebih
luas dan dalam daripada Dokter tetapi tetap dalam lingkup pelayanan primer. Ilmu
dan keterampilannya sebagai penyelenggara layanan primer lebih lengkap
dibandingkan Dokter.
Seperti telah dikatakan di atas, sekalipun mampu menerapkan pendekatan
kedokteran keluarga, seorang Dokter mempunyai keterbatasan karena
keterbatasan waktu pendidikan di fakultas kedokteran atau program studi
pendidikan dokter. Oleh karena itu seorang Dokter harus menambah ilmu dan
keterampilannya dalam lingkup pelayanan primer melalaui program CME/CPD
terstruktur atau pendidikan spesialisasi untuk mencapai predikat DK atau SpFM.

Dengan demikian dokter yang bergelar profesi DK dapat didefinisikan secara


singkat sebagai Dokter (Praktik Umum) yang memperoleh pendidikan tambahan
khusus melalui program CME/CPD dan menerapkan pendekatan kedokteran
keluarga dalam praktiknya di tempat pelayanan kesehatan primer.
4. Anggota PDKI
Sesuai dengan AD/ART PDKI angota nya terdiri atas DPU, DK, SpFM
PDKI sedang bergiat menganjurkan DPU untuk menjadi anggota PDKI.
5. Tugas PDKI
Menyusun Program CPD dan jalur lainnya untuk memperoleh SKP IDI dlam rangka
resertifikasi
Menyelenggarakan CPD bagi anggota dan calon anggotanya untuk memperoleh
sejumlah SKP IDI yang disyaratkan untuk resertifikasi.
Mendirikan cabang PDKI di setiap propinsi
Membantu setiap DPP untuk memperoleh setifikat kompetensi
6.Syarat menjadi anggota PDKI
Sehat jasmani dan rohani
Mempunyai sertifikat kompetensi sebagai DPP
Bagi yang berpraktik harus mempunyai SIP yang masih berlaku
Mengisi borang pendaftaran
Membayar uang pangkal sebanyak Rp50.000,-