Anda di halaman 1dari 3

Kondisi dan Tantangan Sumber Daya Air di Indonesia

Air memiliki peranan yang sangat luar biasa bagi kehidupan di muka bumi ini. Di lapisan
terluar bumi, air menutupi hampir 71% permukaannya dan sisanya merupakan daratan yang kita
diami ini. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang
dimanfaatkan di darat. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air,
yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata
air, sungai, muara).
Sumber air adalah tempat/wadah air baik yang terdapat pada, di atas, maupun di bawah
permukaan tanah. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan atau sumber air yang
dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Sumber daya air adalah
sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kondisi ketersediaan sumber
daya air Indonesia, yaitu sebesar 127.775 m3/s setara dengan 10% total debit air di dunia.
Tantangan permasalahan sumber daya air di Indonesia dirasakan semakin meningkat.
Tidak hanya sebagai akibat pencemaran dan degradasi sumber daya, tetapi juga dengan
penurunan kapasitas sumber daya alam yang memerlukan solusi cerdas melalui pendidikan dan
riset. Ekohidrologi adalah suatu pendekatan baru yang mengintegrasikan konsep-konsep ekologi
dan hidrologi sebagai upaya pemecahan masalah secara holistik di suatu lingkungan sumber daya
air atau DAS, seperti pada suatu lingkungan perairan darat, estuari, dan sebagainya.

Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat
dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran
Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan
lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas
(debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga
penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan
kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.
Kerusakan DAS juga mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami
pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri,
limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia
juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius..
Menurut Budi Kurniawan, sumber utama pencemar air sungai di Indonesia sebagian
besar berasal dari limbah domestik atau rumah tangga. "Selama ini kebanyakan masyarakat salah
mengira bahwa sumber utama pencemar sungai adalah limbah industri, padahal bukan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di sungai-sungai yang dijadikan titik pantau, limbah
domestik yang paling berperan sebagai pencemar air sungai".
Limbah domestik atau rumah tangga yang umumnya berupa tinja, deterjen bekas cucian
dapur maupun pakaian hingga sampah, baik organik maupun anorganik, menjadi penyumbang
terbesar pencemaran pada air sungai. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mengungkapkan, ada
26 persen rumah tangga di Indonesia yang tidak memiliki fasilitas sanitasi yang baik dan
langsung membuang limbah tinja ke lingkungan (sungai, kebun, dan lain-lain). Setiap hari
diperkirakan sebanyak 14.000 ton tinja dibuang ke sumber air yang menyebabkan 75 persen
sungai tercemar berat dan 70 persen air tanah di perkotaan tercemar bakteri tinja.
Limbah domestik, limbah peternakan maupun industri yang dibuang ke sungai
berpengaruh terhadap penurunan kualitas air. Parameter penurunan kualitas air tersebut
umumnya berdasarkan kandungan fecal coli, total coliform, BOD (Biological Oxygen Demand),
COD (Chemical Oxygen Demand) dan H2S yang terdapat di dalam air sungai. Limbah tinja
berperan dalam meningkatkan kadar fecal coli atau bakteri E coli dalam air. Di kota-kota besar
seperti Jakarta, Yogyakarta di beberapa wilayahnya kandungan E coli melebihi ambang batas tak

hanya di sungai melainkan hingga ke air sumur di permukiman penduduk. Hal ini sangat
membahayakan kesehatan penduduk dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Air sungai yang tercemar oleh sampah organik biasanya akan berbau tidak sedap. Ini
disebabkan karena naiknya kadar BOD. Kebutuhan oksigen oleh mikroorganisme untuk
mengurai sampah organik akan meningkat jika volume sampah meningkat. Hal ini akan
meningkatkan kadar BOD dalam air. Jika kadar BOD tinggi atau melebihi ambang batas,
dampaknya adalah tumbuhan atau hewan-hewan yang tumbuh di air akan sulit hidup bahkan
akan mati karena kekurangan oksigen.
Untuk mengatasi pencemaran air sungai yang berasal dari limbah domestik, agar kualitas
air bisa memenuhi standar baku mutu air, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian
pencemaran. Langkah-langkah itu antara lain mengubah kebiasaan membuang sampah di sungai.
Tidak mudah untuk mengubah kebiasaan penduduk untuk tidak membuang sampah atau limbah
rumah tangga ke sungai-sungai. Namun, hal itu mutlak dilakukan jika tidak ingin sumber utama
air penduduk menjadi semakin tercemar dan tidak layak dikonsumsi. Jika hal itu terjadi, maka
kualitas hidup masyarakat akan semakin rendah.
Langkah selanjutnya yaitu memantau kualitas air sungai maupun membangun instalasi
pengolahan air limbah rumah tangga (IPAL). Dalam hal IPAL rumah tangga, Indonesia masih
sangat ketinggalan dibandingkan negara-negara lain. "Jangankan dibandingkan dengan Thailand
atau Malaysia, dibandingkan dengan negara kecil seperti Kamboja saja kita masih kalah dalam
hal jumlah dan volume fasilitas instalasi pengolahan air limbah. Padahal jumlah penduduk kita
jauh lebih besar". Keberhasilan konservasi sumber daya air akan berhasil apabila berhasil
melakukan re-vegetasi lahan dengan program penghijauan, sebagai syarat perlu dengan
fitoteknologi dan ekoteknologi.