Anda di halaman 1dari 37

5.3.

3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kuat Geser


Tanah Pasir

Tanah pasir terdiri dari butiran kasar, jika tahanan geser tanah pasir
bertambah, maka sudut gesek dalamnya ( ).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah pasir, antara lain :
Ukuran butiran,
Air yang terdapat di dalam butiran,
Kekasaran permukaan butiran,
Angka pori ( e ) atau kerapatan relatif (relative density) (Dr),
Distribusi ukuran butiran,
Bentuk butiran,
Tegangan utama tengah,
Sejarah tegangan yang pernah dialami (overconsolidation).
Pada uji geser langsung maupun traksial, bila angka pori rendah atau
kerapatan relatif tinggi, kuat geser (sudut gesek dalam) akan tinggi
pula.
Jika 2 macam pasir yang mempunyai kerapatan relatif (Dr) sama, tetapi
gradasinya berbeda, pasir yang bergradasi lebih baik akan mempunyai
sudut gesek dalam ( ) yang lebih besar.
Semakin kasar permukaan butiran, semakin besar sudut geseknya.
Pasir basah mempunyai sudut gesek dalam 1o sampai 2o lebih rendah
dari pasir kering.
Tabel hubungan angka pori, bentuk butiran, dan distribusi ukuran
butiran terhadap sudut gesek dalam tanah pasir (Casagrande, 1936)
Tidak
D10
Padat
Deskripsi
Bentuk Butiran
Cu
Padat
mm

1. Pasir standar Ottawa

Bulat benar

0,5
6
0,1
6
0,1
8
0,0
3
0,0
4
0,1
3
0,2
2
0,0
7

1,
2
1,
7
1,
5
2,
1
4,
1
1,
8
1,
4
2,
7

0,7
0
0,6
9
0,8
9
0,8
5
0,6
5
0,8
4
0,8
5
0,8
1

2
8
3
1
2
9
3
3
3
6
3
4
3
3
3
5

2. Pasir dari batu pasir St.


Bulat
Peter
3. Pasir pantai dari
Bulat
Playmouth
4. Pasir berlanau dari Dam
Agak bulat
Franklin Fall
5. Pasir berlanau dari Dam
Agak bergerigi
John Martin
sampai agak bulat
6. Pasir agak berlanau dari
Agak bergerigi
Dam Ft. Peck
sampai agak bulat
7. Pasir glacial disaring,
Agak bergerigi
Manchester
8. Pasir dari pantai Dam
Agak bergerigi
Urugan, Proyek Quabbin
9. Batuan pecah dipadatkan
Bergerigi
gradasi baik
Catatan : Semua sudut gesek dalam ( ) diambil dari uji traksial, hanya
8 dari uji geser
langsung.

0,5
3
0,4
7

3
5
3
7

0,6 3
5
7
0,4 4
5
0
0,5 4
4
2
0,6 4
0
3
0,5 4
4
6
0,1 6
8
0
nomor

Tabel hubungan kerapatan relatif dan sudut gesek dalam tanah pasir
dari penyeledikan di lapangan (Meyerhof, 1956)
Nilai tahanan
Sudut gesek
Kerapatan relative Nilai SPT
kerucut statis
Kondisi
(Dr)
(N)
(sondir) (qc)
dalam ( )
(kg/cm2)
Sangat tidak
< 0,2
<4
< 20
< 30o
padat
Tidak padat
0,2 0,4
4 10
20 40
30o 35o
Agak padat
0,4 0,6
10 30
40 120
35o 40o
Padat
0,6 0,8
30 50
120 200
40o 45o
Sangat padat
> 0,8
> 50
> 200
> 45o

5.4 Kuat Geser Tanah Lempung

Pada pengujian pasir jenuh, perubahan volume (pengurangan atau


penambahan) dapat terjadi pada pengujian dengan drainase terbuka
(drained) karena pelonggaran tergantung dari kerapatan relatif maupun
tekanan kekang atau tekanan sel (confining pressure).
Dalam kondisi pengujian dengan drainase terbuka, perubahan volume
tegantung pada kerapatan, tegangan, dan sejarah tegangan.
Dalam pembebanan kondisi tak terdrainase (undrained), nilai tekanan
air pori sangat tergantung dari jenis lempung, normally consolidated
atau overconsolidated.
Bekerjanya beban bangunan di lapangan lebih cepat daripada
kecepatan air untuk lolos dari pori-pori tanah lempung akibat
pembebanan yang menimbulkan kelebihan air pori (excess pore
pressure) dalam tanah sehingga air pori menghambur ke luar dan
terjadi perubahan volume.

5.4.1 Kuat Geser Tanah Lempung pada Kondisi Drained

Pada uji traksial consolidated drained (terkonsolidasi-terdrainase),


faktor yang mempengaruhi karakteristik tanah lempung adalah sejarah
tegangannya.
Uji traksial CD (consolidated-drained) :
Benda uji lempung jenuh dibebani dengan tekanan sel 3 melalui
cairannya,
Akibatnya, tekanan air pori benda uji akan bertambah dengan
u c, karena hubungan dengan saluran drainase terbuka, maka
u c pelan-pelan menjadi nol.
Tegangan deviator ( = 1 3) ditambah pelan-pelan
dengan katup drainase terbuka untuk terbuangnya air secara
penuh.
Hasil dari tegangan deviator adalah tekanan air pori u d,
karena drainase terbuka, maka u d akhirnya menjadi nol.
Tegangan deviator ditambah terus sampai terjadi keruntuhan pada
benda uji.
Persamaan kuat geser untuk tanah lempung normally consolidated :

'

sin

'

( )
= 1' '3
( 1 + 3)

(pada saat kegagalan), atau

'1= '3 tg2 (45 + )


2

Bidang kegagalan (bidang runtuh) membuat sudut 45 o + /2 dengan


bidang utama mayor.
Uji traksial CD (consolidated drained) pada tanah lempung :
(a) pada penerapan tekanan sel, (b) pada penerapan tegangan
deviator.

Garis selubung kegagalan pada uji traksial CD


(a) lempung normally consolidated, (b) lempung consolidated

(b) Nilai c > 0


Persamaan kuat geser :
'

=c+ tg
Nilai-nilai c dan dapat ditentukan dengan pengukuran perpotongan garis
selubung kegagalan dengan dengan sumbu tegangan geser ( ), dan dengan
mengukur kemiringan garis selubung kegagalan terhadap horizontal.

Hubungan umum antara

'

'

1 , 3 , c

dan

, dapat ditentukan dengan

melihat gambar di bawah :

( 1 ' 3 ')/2
AC
=
BO+ OA c ctg +( 1 '+ 3 ')/2
1 (1-sin ) = 2c cos + 3(1+sin )
1+ sin 2 c cos
+
1 = 3
1sin 1sin
1 = 3 tg2 (45o+ /2 +2c tg (45o+ /2
sin =

Jika kondisi awal dikerjakan dengan tekanan sel c = c, setelah itu dikurangi menjadi 3
= 3, maka benda uji menjadi overconsolidated, selubung kegagalan yang diperoleh dari uji CD ini
terdiri dari dua garis ( Gambar II.9 ).

Gambar II.9 Selubung kegagalan dengan tekanan prakonsolidasi c.


Bagian AB selubung kegagalan lempung overconsolidated, dan BC selubung kegagalan
normally consolidated dengan persamaan = 'tgBC .
Dari beberapa percobaan diperoleh bahwa pada regangan yang besar, tegangan deviator
mencapai konstan, dan kuat geser lempung pada kondisi ini disebut kuar geser residu (rsd ) atau
kuat geser batas ultimit.
rsd = 'tgult
ult tercapai jika c = 0, sehingga diperoleh ;

1
ult =arc sin

'3 '

dengan 1 = 3 + ult

'+ '

1 3 residu
Sudut gesek dalam residu tanah lempung penting untuk analisis stabilitas lereng.

Gambar II.10 Kuat residu tanah lempung

5.4.3 Koefisien Tekanan Pori (Pore Preassure Coefficient)

Bila tananh berbutir halus yang jenuh dibebani, tekanan air pori akan
bertambah. Dengan bertambahnya waktu,tekanan air pori berangsur-angsur
turun seiring dengan mengalirnya air pori mengalir ke lapisan dengan tekanan
air lebih rendah. Hal ini dikenal dengan istilah penghamburan tekanan air pori
(pore preassure coefficient). Pada kasus konsolidasi satu dimensi, pembebanan
akam mengakibatkan tekana air pori yang besarnyan sama dengan kenaikan
tegangan tiga dimensi, tekanan air pori juga berkembang, tapibesarnya akan
bergantung pada macam dan sejarah tegangan tanah. Karena itu, kecepatan
pembebanan dan macam tanah akan menentukan apakah pembebanan berupa
pembebanan pada kondisi terdrainase (drained) ataukah tak terdrainase
(undrained).
Dalam praktek, sering dibutuhkan untuk mengetahui berapa nilai
kelebihan tekanan air pori (excess pore pressure) yang berkembangdalam
pembebanan tanpa drainase. Perubahan tegangan-tegangan ini, adalah dalam
tinjauantegangan total, dan perubahan tegangan ini mungkin berupa hidrostatis
(sama ke segala arah) atau non hidrostatis (geser). Karena yang diperhatikan
adalah reaksi tekanan air pori u

terhadap perubahan tegangan total, yaitu

1 , 2 dan 3 maka lebih menguntungkan bila perubahan-perubahan ini


dinyatakan dalam tinjauan parameter tekanan pori atau koefisien tekanan
pori (pore pressure coefficient), seperti cara yang pertama kali diperkenalkan
oleh skempton (1994).
Koefisien tekanan pori digunakan untuk menyatakan reaksi tekanan pori
pada perubahan tegangan total dalam kondisi tak terdrainase (undrained). Nilainilai koefisien dapat ditentukan di laboratorium dan dapat digunakan untuk
memprediksi tekanan pori di lapangan dalam kondisi tegangan yang sama.
(i)

Tekanan air pori akibat tegangan isotropis


Ditinjau suat elemen tanah dengan volume V o dan porositas n yang telah
dalam kondisi setimbang dengan tekanan pori awal uo . Pada tinjauan ini,
elemen tanah menderita tegangan-tegangan sebesar 1 , 2 dan 3

,,

seperti yang terlihat pada Gambar 5.27. Elemen tanah, kemudian


dibebani dengan menambah tegangan total yang sama kesegala arah
(isotropis) sebesar

3 dalam setiap sisinya. Akibat tegangan total dari

segala arah ini, tekanan air pori bertambah sebesar

u3

. pada kondisi

demikian, tedapat tambahan tegangan efektif pada tiap sisinya sebesar

3 =

3 u3.

Bila dianggap tanah merupakan bahan yang elastis dan isotropis,


maka pengurangan vokume tanah akibat perubahan tegangan yang
terjadi dalam elemen tanah, adalah :

3 u3
v=Vo Csk
dengan

C sk adalah angka kemudahmampatan tanah dan

Vo

adalah

volume dari tanah. Tanda minus dalam persamaan tersebut


mengindikasikan adanya adanya reduksi volume tanah, akibat

3 .

Karena butiran dianggap tidak mudah mampat, pengurangan volume dari


gumpalan tanah akan merupakan pengurangan ruang porinya, atau

Vv=Vv Cv

u3 =nCv Vo u3

dengan Cv adalah angka kemudahmampatan air pori akibat pengaruh


pembebanan, dan Vv adalah volume pori. Jika derajat kejenuhan tanah S
= 100% maka Cv = Cw, dengan Cw adalah angka kemudahmampatan air.
Butiran tanah dianggap tidak mudah mampat dan jika tidak ada aliran air
keluar dari rongga pori, kedua perubahan volume diatas harus sama besar
( V = Vv ), atau

Vo C sk ( 3 u3 ) =nCv Vo u3
atau kenaikan tekanan air pori ( u3 ) akibat kenaikan tegangan

3 ,

dari segala arah sama besar adalah

u3 = 3

jika, dengan B
pori,
maka :

1
Cv
1+
Csk

( )
[

1/ 1=n (

Cv
)
Csk

dengan B adalah koefisien tekanan air

u3 =B 3

(5.26)

Di dalam tanah yang jenuh, angka kemudahmampatan air pori


sangat kecil bila dibandingkan dengan kemudahmampatan dari kerangka
gumpalan tanahnya, sehingga dapat diabaikan. Karena itu,

Cv /Csk

mendekati nol, fan B mendekati 1. Dalam Persamaan (5.26), bila B = 1,

u3 = 3

=.

Dalam tanah yang tak jenuh, angka kemudahpatahan air pori


sangat tinggi oleh akibat adanya pori udara. Karena itu

Cv
>0
Csk

sehingga B < 1. Sifat khusus dari variasi perubahan derajat kejenuhan S


terhadap B untuk tanah tertentu dapat dilihat pada Gambar 5.28.

(ii)

Tekanan air pori akibat kenaikan tegangan utama


Ditinjau elemen tanah yang hanya dibebani dengan tambahan
tegangan 1

(Gambar 5.29). Tambahan tegangan

mengakibatkan tambahan tekanan pori sebesar .


Tambahan tegangan efektif :

'1= 1 u1

'

'

'

3= 2= u2 karena 3=0

Jika tanah berkelakuan seperti bahan elastis, pengurangan volume


dalam gumpalan tanah akan sebesar

1
V =Csk Vo( )( '1 + '2+ '3 )
3
1
'
'
Csk Vo( )( 1 +2 3)
3
Karena,

'1=
1 + u1
'

'

3= 3 u1
Maka,

1 u1 +2 3 2 u1
1
V =Csk Vo( )
3
1 3 +3 ( 3 u1 )
1
Csk Vo( )
3
Dalam hal ini, karena kenaikan tegangan hanya dari
dengan demikian

1 yang

3 = 0, maka

13 u 1
)
1
V=
Csk Vo
3
Pengurangan volume ruang pori akibat 1

, adalah

Vv=Cv n Vo u1
Untuk kondisi tanpa drainase, maka

V=

Vv. Dari penyelesaian

Persamaan (5.27) dan (5.28), akan diperoleh :

u1=
3

1
1
1+n

Cv
Csk

= 1

( 13 ) B

Karena sesungguhnya tanah bukan merupakan bahan yang elastis


sempurna, Persamaan (5.29a) dapat dituliskan dalam bentuk umum,
Dengan A adalah koefisien tekanan air pori yang ditentukan secara
ekspermental. AB sering juga ditulis dengan A. pada tanah jenuh,
dimana nilai B = 1, maka persamaan (5.29) menjadi :

u1= AB 1
Dengan A adalah koefisien tekanan air pori yang ditentukan secara
eksperimental. AB sering juga ditulis dengan

A . Pada tanah jenuh,

dimana nilai B = 1, Maka Persamaan 5.29 menjadi :

u1= A 1
Persamaan (5.30) merupakan kenaikan tekanan pori akibat

1 .

Untuk tanah yang sangat mudah mampat seperti lempung normally


consolidated, nilai A akan berkisar di antara 0,5 sampai 1. Pada
lempung sensitivitas tinggi, tambahan tegangan

1 dapat

menyebabkan rusaknya susunan tanah. Akibat dari hal ini, tekanan air
pori berkembang sangat tinggi dan nilai A lebih besar 1. Untuk tanah
dengan kemudahmampatan rendah, seperti lempung seikit
terkonsilidasi berlebihan (slightly overconsolidated) nilai A akan akan
berkisar di antara 0 sampai 0,5. Jika lempung termasuk jenis lempung
terkonsilidasi sangat berlebihan (heavily overconsolidated), terdapat
kecendrungan volume bertambah (mengembang) ketika tegangan
utama mayor ( 1 ) bertambah. Namun dalam kondisi tak terdrainase
(undrained), tidak ada air yang dapat diserapnya, akibatnya tekanan
air pori negative berkembang. Nilsi A untuk lempung heavily
overconsolidate dapat berkisar diantara -0,5 sampai 0. Hubungan nilai
A saat keruntuhan terjadi (Af)ndengan rasio overconsolidation, OCR,
untuk lempung Weald (Simon, 1960) dapat dilihat pada Gambar 5.22,
sedang untuk lempung London (Bishop dan Henkel, 1964) dapat dilihat
pada Gambar 5.30

Jika Cso adalah kompresibilitas hanya dalam arah aksial elemen


tanahnya, pada kondisi undrained dengan tanpa regangan lateral,
maka :

Cso Vo ( 1 u1 )=Cv n Vo u1
u1= 1

1
1+n

Cv
Csk

A 1

Dengan A = 1/ 1+n(

Cv
)
Cso

. Pada tinjauan tanpa regangan lateral,

untuk tanah yang jenuh, nilai Cv/Cso mendekasti nol. Karena itu, nilai A
akan mendekati 1. Hal ini terjadi pada konsolidasi satu dimensi pada
alat pengujian konsolidasi.
(iii)

Tekanan Air Pori Akibat Tegangan Isotropis Dan Kenaikan


Tegangan Utama.
Kasus (i) dan (ii) dapat digabunhkan unruk menentukan persamaan

reaksi tekanan pori ( u ) pada tambahan regangan yang sama dari


segala arah, yang diikuti dengan perambahan tegangan aksial ( 1 -

3 , seperti yang dialami paa tanah yang diuji dalam alat triaksial.
Dari Persamaan (5.26) :

u3 = B 3
Dalam uji triaksial, tegangan deviator

= 1 3

Persaman 5.29 menjadi :


Pada uji triaksial, reaksi tekanan pori total adalah :

u= u3 + u 1
Atau

u=B [ A ( 1 3 ) ]

sehingga

Karena tanah bukanmerupakan bahan yang elastis, maka tekanan air pori
tidak konstan, nilainya tergantung dari tingkat tegangan dimana tekanan
air pori ditentukan

5.4.4 Penggunaan Parameter Kuat Geser Tanah Lempung


(a) Kuat Geser Unconsolidated Undrained (UU)
Kuat geser tanah lempug di uji UU digunakan pada kasus dimana
pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau
drainase air pori pada lapisan tanah.
Pelaksanaan bangunan gedung maupun struktur timbunan tanah,
biasanya memerlukan waktu relative pendek dibandingkan dengan waktu yang
dibutuhkan oleh air pori terperas ke luar dari lapisan tertekan. Konsolidasi atau
kehilangan tekanan air pori pada lapisan ini akan memakan waktu yang sangat
lama. Oleh karena itu, nilai kuat geser tanah lempung dalam jangka pendek
adalah kondisi kuat geser tak terdrainase. Dengan kata lain, nilainya (C) akan
sama dengan Cu dan sudut gesek dalam

= 0. Nilai kohesi Cu ini, kemudian

dipakai pada persamaan kapasitas dukung.

Satu hal yang sangat berguna untuk menyatakan kuat geser UU adalah
nilai banding Cu/p untuk lempung normally unconsolidated. Dalam endapan asli
dari sedimen lempung NU, kuat geser undrained telah diketahui bertambah

dengan kedalamannya. Jadi, dalam hal ini, kenaikan kuat geser lempung
sebanding dengan kenaikan tekanan efektif overburden (p), yaitu tegnagn
efektif akibat beban tanah di atasnya. Pengamatan yang dilakukan oleh
skempton dan Henkel yang dikuatkan oleh bjerrum menunjukkan, bahwa nilai
baninding Cu/p ini

sangat berguna untuk

pendekatan awal dan

dikontrol data

laboratorium.

Untuk lempung

normally consolidated

Skempton

mengusulkan korelasi

antara kuat geser

undrained dan indeks

plastisitas (PI) sebagai

berikut :

Dengan,
Cu

= kuat

geser undrained

tekanan overburden

PI

= indeks plastisitas

efektif

Karlsson dan Vinberg juga mengusulkan hubunganantara Cu/p dan batas cair
(LL). Ladd and Foott memperlihatkan variasi Cu/p dengan nilai banding OCR
untuk 6 lempung (Gambar 5.32). Dan dalam Gambar 5.33, nilai

Cu / p ' (overconsolidated)
Cu/ p ' (normallyconsolidated)

Gambar 5.33 terlihat batas dan bawah kompulan kurvanya tidak berbeda jauh.
Karena itu, nilai rata-rata dapat digunakan untuk mengestimasi kuat geser
undrained tanah lempung OCR.
Bjerrum fanSimon juga menyarankan hubungan antara Cu/p da indeks
cair untuk lempung laut norwegia, seperti yang terlihat dalam Gambar 5.34.
keadaan mengapung untuk tanah lempung terjadi pada indesk cair yang sangat
tinggi. Karena itu, lempung Norwegia ini mempunyainilai banding Cu/p kira-kira
0,1 sampai 0,15. Kemungkinan akan diperi=oleh perbedaan nilai Cu/p,
tergantung dari macam pengujian yang dilakukan, seperti dari uji triaksial, geser
kpas atau geser langsung.

(b) Kuat Geser Consolidated Undrained (CU)


Parameter kuat geser untuk tegangan total dan tegangan efektif dapat
diperoleh dari uji triaksial CU. Kuat geser CU dapat digunakan dalam
perencanaan stabilitas tanah, dimana tanah mulamula telah bekonsolidasi penuh
dan dalamkeseimbangan dengan kondisi tegangan di sekitarnya. Kemudian,
karena beberapa alasan, tambahan tegangan diterapkan dengan cepat tanpa
adanya drainase air pori dari tanahnya.

Ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam pengujian tanah lempung
Pertama, untuk memenuhi persyaratan tekanan air pori selama
pengujiannya, cara khusus harus diberikan untuk meyakinkan bahwa benda uji

benar-benar jenuh, tidak ada kebocoran selama pengujian dan kecepatan


pembebanan (regangan) harus cukup rendah, sehingga pengukuran tekanan air
pori pada ujung benda uji akan sama dengan tekanan pori sekitar bidang runtuh.
Penggunaan tekanan balik diperlukan untuk meyakinkan bend uji menjadi jenuh
sempurna.

Yang kedua

kecepatan geser total

diperoleh dari

beberapa pengujian

yang sama. Kecepatan

pembebanan atau

kecepatan regangan

yang diberikan untuk

penentuan kuat geser

tegangan efektif yang

benar, mungkin tidak

sesuai dengan situasi

pembebanan di

lapangan. Kuat geser

tanah lempung tergantung dari kecepatan pembebanan.


(c) Kuat Geser Consolidated Drained (CD)
Kuat geser CD dapat digunakan untuk perencanaan stabilitas bendungan
urugan di manabendungan ini telah dipengaruhi rembesan secara tetap dalam
jangka panjang. Kuat geser CD juga dapat digunakan dalam perencanaan
stabilitas jangka panjang dari tanah galian atau lereng untuk tanah lempung
lunak dan lempung kaku.
Untuk mengusahakan agar tekanan air pori dalam benda uji lempung
(permeabilitas sangat rendah) tetap nol, kecepatan pembebanan harus sangat
rendah. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keruntuhan dalam benda uji
berkisar antara satu sampai beberapa minggu. Waktu yang panjang tersebut
akan menyebabkan beberapa masalah seperti kebocoran kran, karet penutup,
dan membrane yang membungkus benda uji.
5.5 SENSITIVITAS TANAH LEMPUNG
Tanah lempung terbentuk dari banyak jenis mineral. Jika meineral
pembentuk berbeda, berbeda pula sifatnya. Perbedaan ini meliputi kelakuannya
terhadap penambahan atau pengurangan kadar air dan pula terhadap pengaruh
gangguan susunan tanah. Beberapa lempung sangat sensitive terhadap
gangguan, sehingga akan mengalami pengurangan kuat geser akibat susunan
aslinya terganggu. Sensitivitas didefinisikan sebagai nilai banding kuat geser

undrained tanah yang sudah berubah dari bentuk aslinya, pada kadar air yang
sama. Karena beberapa jenis lempung mempunyai sifat sensitive terhadap
gangguan yang berbeda-beda, maka perlu diadakan pengelompokkan yang
berhubungan dengan sifat sesitivitasnya.
Table 5.5 Sensitivitas lempung
Sensitivitas

Lempung
Tidak Sensitif
Sensitivitas Rendah
Sensitivitas Sedamg
Sensitif
Sensitivitas Ekstra
Quick

1
12
24
48
8 16
>16

Sensitivitas lempung biasanya berkisar antara 1 sampai 8. Tetapi,


sensitivitas lempung setinggi 150 telah diperoleh pada lempung.
5.6 KARAKTERISTIK THIXOTROPY LEMPUNG
Thixotropic didefinikan sebagai suatu proses isothermal, dapat berbalik
(reversible), bergantung pada waktu, yang terjadi pada komposisi dan volume
tetap, dimana material menjadi lunak akibat gangguan dan kemudian secara
berangsur-angsur kembali kekuatan semulanya ketika didiamkan. Pada gambar
5.38, ditunjukkan hasil penelitian dari Moretto yang menujukkan peristiwa
pembentukan kekuatan kembali dari lempung Larurentin yang mempunyai
indeks cair LI = 0,99 [yaitu bila kadar air alam (Wn) mendekati sama dengan
batas cair (LL)]. Dinyatakan dalam persamaan :

Sentivitas diperoleh=

Su(t)
Su(terganggu)

Dengan Su(t) = kuat geser undrained setelah waktu t dari waktu terjadinya
gangguan susunan tanah.

Sensitivitas

diperoleh,

umumnya

berkurang dengan

kenaikan indeks

cair. Hal ini

didemontrasikan

dalam Gambar

5.39. dalam

gambar ini juga

diperlihatkan vahwa sensitivitas diperoleh dari lempung, pada LI mendekati noln

(yaitu Wn = PL ), adalah mendekati satu. Jadi, thixotropic dalam tanah lempung


overconsolidated adalah sangat kecil.

Terdapat beberapa jenis lempung yang sensitivitasnya secara keseluruhan


tidak dapat diperhitungkan dari thixotropy. Artinya, hanya sebagian dari
kehilangan kekuatan akibat gangguan dapat diperolehnya kembali oleh
pengerasan sejalan dengan waktu. Hilangnya sebagian kekuatan ini, diakibatkan
oleh pecahnya susunan asli dari lempung. Sifat umum kenaikan kembali
kekuatan material thixotropy secara parsial diperlihatkan dalam Gambar 5.40.
rasio kekuatan thixotropic didefinisikan sebagai :

Rasio kekuatan thixotropic=

Su(t )
Su (dipadatkan pada t=0)

Dengan su(t) adalah kuat geser undrained pada waktu t setelah pemadatan.

Table 5.6 Sifat-sifat tanah dalam Gambar 5.78


Tanah
Lempung
Berlanau
Vicksburg
Lempung
Berpasir
Pitssburtgh
Lempung
Friant-Kern

Batas Cair
LL(%)

Batas Plastis
PL(%)

Kadar Air
W (%)

Derjat
Kejenuhan
S(%)

37

23

19,5

95

35

20

17,4

96

59

35

22

95

Hasil ini medemontrasikan bahwa kenaikan kembali kekuatan thixotropic


dimungkinkan terjadi pada tanah-tanah dengan kadar air (w) pada atau di dekat
batas plastisnya.
5.7 HUBUNGNAN KADAR AIR LEMPUNG DAN KEKUATAN
Kekuatan lempung saat rutuh (yaitu

f atau ' f ) bergantung pada

kadar air saat terjadinya keruntuhan. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 5.42
dan Gambar 5.43, yang berturut-turut adalah kurva dari hasil uji trialsial
perpanjangan dan triaksial kompresi.

Untuk

lempung normally

consolidated, variasi

kadar air (w)

1 3
) (atau log

terhadap log(

) mendekati

linier. Tapi, untuk

lempung OCR agak

melengkung dan

berada dibawah

kurva lempung

normally

consolidated.

Kedua kurva tersebut berimpit, ketika mendekati tekanan prakonsilidasi (Pc)

5.8 RAYAPAN
Rayapan (creep) yaitu mengalamai deformasi oleh akibat beban tetap. Hal
ini diterangkan dalam Gambar 5.44, yaitu beberapa benda uji lempung yang
dibebani secara undrained.
1. Benda uji 1, jika dibebani dengan

1 < (saat runtuh)

(dengan

1 3 , saat runtuh), maka hasilnya kurva 1


2. Benda uji 2, jika dibebani dengan 2 < 1 < (saat runtuh) , maka
hasilnya kurva 2
Sesudah terjadinya regangan yang besar, keruntuhan akibat rayapan akan
terjadi. Umumnya, kurvahubungan regangan terhadap waktu dapat dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu bagian primer, sekunder dan tersier (Gambar 5.44).
bagian primer merupakan tahap sementara; diikuti dengan tahap tetap (steady
stage) yang merupakan rayapan sekunder. Bagian tersier adalah di mana
menjadi regangan secara cepat yang berujung dengan kerunthan tanah.
Walaupun, tahap sekunder merupakan tahapan pada kedudukan tetap, namun
dalam kenyatannya, rayapan pada kedudukan tetap ini mungkin tidak terjadi.

5.9 KUAT GESER TANAH TAK JENUH


Zona tekanan pori negative terdapat di atas muka air tanah.dalam zona
tersebut tekanan pori kontinyu Tu semikontinyu, dan nilai tekanan air porinya di
bawah tekanan atmosfer. Tekanan pori negitif yang sering disebut isapan tanah
(soil suction), dikontrol oleh tarikan permukaan pada batas atara udara dan air di
dalam rongga pori dan dipengaruhi oleh ukuran butir tanah.

5.9.1 Metoda Bishop


Penentuan kuat geser tanah tak jenuh sangat sulit karena adanya suatu
factor yang ada hubungannya dengan derajat kejenuhan tanah. Seperti telah
dipelajari pada Bab 4, bahwa Bishop telah memberikan persamaan tegangan
efektif untuk tanah tak jenuh sebagai (lihat Persamaan 4.15)
Gambar lingkaran Mohr dan garis selubung kegagalan tanah tidak jenuh pada
kondisi undrained, ditunjukkan dalam Gambar 5.46.

Bishop,

Alphan, Bligh dan

Donald

menyarankan

bahwa nilai X dapat

didekati dari uji

geser, jika pada pengujian dianggap bahwa untuk angka pori awal yang
diberikan, nilai c dan tak tergantung dariderajat kejenuhan. Jika nenerapa
benda uji tanah tak jenuh dipadatkan pada kadar air yang sama, kemudian
digeser pada tegangan -, nilai tegangan rata-rata pada saat keruntuhannya
dapat digambarkan pada diagram dengan absis :

1+ 3
+
u3 ; 1 3 uw
2
2
Dan ordinat

1 3
2

Untuk memperoleh dua garis tegangannya. Dua garis ini akan berimpit jika tanah
mendekati jenuh (Gambar 5.47).
Jika uji triaksial CU diadakan pada beberapa contoh tanah jenuh dengan
penerapan tekanan balik (back pressure), maka pada diagram diatas dapat
digambar sebuah garis lurus dengan menguikuti koordinat-koordinat :

p=

1 + 3

dan q= 1 3
2
2

Pada system koordinat ini, garis Kf (yaitu garis selubung kegagalan pada
system koordinat p dan q) membuat sudut

sebesar dengan sumbu

horizontalnya.

Dari Gambar 5.38, dapat dilihat :

sin ' =tg


Dan

c ' =k

'

tg
tg

Dari persamaan tegangan efektif Bishop dapat diperoleh hubungan :

1 ' ' 1
( + )= ( + ) ua + X (u Au w)
2 1 3 2 1 3
Atau

1 ' ' 1
( + ) ( + ) + ua
2 1 3 2 1 3
X=
(u A uw )
Atau

X=

bc e
=
ac f

Uji trialsial dapat dilakukan dari salah satu cara, yaitu dengan ( 3 ua )
konstan yang diperoleh dengan pengontrolan Ua selama pengujian dan dengan
pengontrolan Uw atau dari pergeseran benda uji pada kondisi undrained dengan
pengukuran Ua dan Uw.

Untuk tanah pasir dan kerikil di atas muka air tanah, pengaruh isapan
dapat diabaikan dan nilai (Ua - Uw.) hanya berpengaruh kecil. Untuk kebanyakan
tanah, jika derajat kejenuhan relative tinggi kira-kira 90%, udara dapat dianggap
mempunyai pengaruh kecil pada tekanan airnya. Dalam praktek, persamaan
tegangan efektif menjadi '

- Uw. Pengecualian pada tanah berbutir

halus, walaupun derajat kejenuhan mendekati 90% dengan kadar air dekat
kering optimumnya, bentuk persamaan tegangan efektif tanah tak jenuh harus
digunakan.
5.9.2 Metoda Ho dan Fredlund
Tekanan air pori negative menambah tegangan efektif dalam massa tanah
dan menambah kuat geser tanah. Untuk tanah tidak jenuh, Ho dan Fredlund
merubah nilai kohesi dalam persamaan kuat geser tanah jenuh, menjadi
(Gambar 5.48) :

c=c' +(u Au w ) tg b
Dengan,
C

= kohesi total tanah

= kohesi efektif

u
( Auw ) = isapan matric

b
= kemiringan matrix suction, ketika ( ua konstan

Sehingga untuk

tanah tidak jenuh,

persamaan kuat

geser tanahnya adalah :

u
( Auw )tg b +(u a) tg '
=c ' +
Dengan Ua = tekanan udara dalam porti, dan Uw = tekanan air pori.
Dalam Persamaan 5.38 terlihat bahwa terdapat kenaikan kuat geser dari
komponen kohesi Nampak oleh akibat tekanan air pori negative (isapan tanah).

Dengan kata lain, matrix suction

sebesar

u
menambah kuat geser tanah

Au
(
w)

u
( Auw ) tg b . Kenikan kuat geser tanah dapat dinyatakan dengan

bidang runtuh tiga dimensi, yaitu dengan menggunakan variable tegangan

( ua ) dan

u
( Auw ) . Tekanan air pori negative berkurang, jika derajat

kejenuhan bertambah, dan menjadi nol jika tanah menjadi jenuh sempurna.

5.10 KOEFISIEN TEKANAN TANAH LATERAL DIAM


Pada cairan, tekanan hidrostatis akan bekerja ke segala arah sama
besar. Pada tanah, tekanan horizontal umumnya tidak sama dengan
tekanan vertikal. Nilai banding antara tekanan horizontal dengan tekanan
vertikal disebut koefisien tekanan tanah lateral ( lateral earth pressure
coefficient ), K. Bila dinyatakan dalam persamaan:
K=

h
v

(5.39)

Dengan K = koefisien tekanan tanah lateral.


Pada struktur yang menahan tanah urugan kembali, jika struktur
tersebut bergerak, atau hanya bergerak sedikit sehingga tidak
memberikan jarak yang cukup untuk menghasilkan bekerjanya tahanan
geser tanah secara penuh, maka tanah tersebut akan mendekati kondisi
diam. Sebagai contohnya, adalah gorong-gorong persegi (box culvert) dan
struktur ruang bawah tanah (basement), dimana jika struktur ini tidak
bergerak, tanah yang bersinggungan dengan struktur ini tidak mengalami
regangan lateral. Konsekuensinya, besarnya tekanan tanah yang berada
di dekat dindingnya adalah di antara kedudukan pasif dan aktif. Tekanan

tanah arah lateral yang bekerja pada kondisi diam disebut tekanan
tanah diam (earth pressure at rest),sedangkan koefisien tekanan
tanah lateral diam (coefficient of lateral earth pressure at rest) ( K o )

didefisinikan sebagai nilai banding antara tekanan horizontal efektif

dengan tekanan arah vertikal

h
)

'

v ) atau

'

K o= h '
v
Dengan

(5.40)

h' adalah tekanan arah horizontal efektif dan

tekanan arah vertikal efektif di lapangan. Nilai

v'

adalah

K o selalu ditinjau dalam

kondisi tegangan efektif dan tidak tergantung dari lokasi muka air tanah.
Bahkan, jika kedalaman tanah berbeda,

Ko

akan tetap konstan sejauh

masih berada dalam lapisan tanah yang sama dengan berat volume yang
sama. Dari pengamatan, nilai

Ko

sangat tergantung dari sudut gesek

dalam efektif tanah dan sejarah tegangan (Kane dkk.,1965). Nilai

Ko

sangat penting dalam analisis kuat geser dan problem-problem


perencanaan dinding penahan tanah, bendungan urugan dan banyak
problem fondasi bangunan.
5.10.1 Nilai

Ko

pada Tanah Pasir

Jaky (1944) menyarankan persamaan yang sangat berguna untuk


mengestimasi besarnya

Ko

dari nilai sudut gesek dalam pasir

()

yang telah diketahui. Persamaan tersebut adalah:


K o=1sin '
Pada pasir overconsolidated, nilai

(5.41)
K o dapat sangat besar dari pasir

normally consolidated. Hal ini dapat dilihat dalam Gambar 5.49. Gambar
ini menunjukkan hubungan antara tekanan horizontal efektif dan tekanan
vertikal efektif selama pembebanan dan pelepasan beban dari suatu
benda uji pasir seragam yang berbentuk silinder, dengan regangan lateral
nol ( kompresi satu dimensi). Perhatikan bahwa pada awal pembebanan

(yaitu kondisi normally consolidated),

Ko

dalam kedudukan konstan.

Setelah pelepasan bebannya (pasir menjadi overconsolidated),

Ko

bertambah dan menjadi lebih besar jika nilai banding overconsolidated


(OCR) bertambah (yaitu ketika beban yang lebih besar dilepaskan).
Korelasi antara

Ko

dan nilai banding overconsolidated (OCR) diberikan

oleh Hendron (1963) untuk pasir kepadatan sedang dan dilaporkan oleh
Brooker dan Ireland (1965), ditunjukkan dalam Gambar 5.50.

Gambar 5.49 Hubungan antara tekanan horizontal dan vertikal


untuk pembebanan tahap pertama dari pasir Minnesota dalam
kompresi satu dimensi (Kane dkk.,1965).
Schmidt (1967)dan Alphan (1967) memberikan persamaan untuk
Ko

pada tanah pasir kondisi overconsolidated dengan:


K o' =K o (OCR)h

Dengan

Ko

'

adalah

(5.42)
K o untuk pasir pada kondisi overconsolidated,

OCR adalah nilai banding overconsolidataed dan h adalah nilai eksponen


empiris. Nilai h berkisar di antara 0,4 dan 0,5 (Alphan,1975 dan
Schmertmann,1975) dan bahkan dapat mencapai 0,6 untuk pasir sangat
padat (Al-Hussaini dan Townsend,1975).

Gambar 5.50 Hubungan

Ko

dan OCR untuk pasir kepadatan

sedang (Brooker dan Ireland,1965).


5.10.2 Nilai

Ko

pada Tanah Lempung

Seperti pada tanah pasir, nilai

Ko

pada tanah lempung sangat

berguna untuk perencanaan-perencanaan fondasi, dinding penahan


tanah, galian tanah, dan lain-lainnya. Korelasi antara

Ko

dan

'

yang

diusulkan oleh Brooker dan Ireland (1965) dapat dilihat dalam Gambar
5.51.

Gambar 5.51 Hubungan

Ko

dan

, lempung normally

consolidated (Ladd dkk.,1977).


Dari pengamatan, ada kecenderungan bahwa untuk lempung
normally consolidated nilai

KO

bertambah dengan bertambahnya

indeks plastisitas (PI).


Massarsch (1979) mengumpulkan hasil dari 12 penyelidikan, dan
menggabungkan data yang diperoleh Ladd dkk.,1977. Untuk lempung
dengan indeks plastisitas kira-kira 20, nilai h = 0,4 dianggap memadai.
Kemudian h berkurang sedikit bila indeks plastisitas bertambah, dengan
nilai h terendah 0,32 untuk indeks plastisitas = 80.

Gambar 5.52 Hubungan

Ko

dan indeks plastisitas yang diperoleh dari

uji laboratorium (Massarsch,1979).


Kekakuan tanah di lapangan sangat kompleks. Lapisan beberapa
meter berada di atas lapisan lempung lunak sering dalam kondisi
overconsolidated dan
Ko

Ko

dapat mempunyai nilai yang tinggi. Kemudian

ini akan berkurang dengan kedalamannnya bila OCR berkurang,

sampai nilainya sama dengan pada lempung normally consolidated, yaitu


ketika OCR = 1.
5.11 LINTASAN TEGANGAN (STRESS PATH)

Seperti setelah dipelajari, kedudukan tegangan pada suatu titik


dalam kondisi seimbang dapat dinyatakan oleh sebuah lingkaran Mohr
dalam sistem koordinat . Untuk kasus-kasus tertentu, kadang-kadang
diperlukan untuk menyajikan kedudukan tegangan dalam sederetan titiktitik tegangan pada sistem koordinat p q dengan
p = (1 + 3)

(5.43)

q = (1 3)

(5.44)

Susunan yang lebih baik untuk menghindari penggambaran


lingkaran Mohr yang terlalu banyak demikian, adalah dengan
menggambarkan sederetan titik tegangan, dan dengan
menghubungkannya dengan sebuah garis (Gambar 5.53b). Garis ini
disebut lintasan tegangan (stress-path) yang digambarkan dalam sistem
koordinat p q, di mana p dan q adalah persamaan yang ditunjukkan
dalam Persamaan (5.43) dan (5.44). Diagram p q ini, jika digunakan
dalam tinjauan tegangan efektif:
p = p u = (1 + 3) u
= (1 + 3)

(5.45)

q = q u = (1 - 3) u
= {(1 u) (3 - u)}
= (1 - 3)

(5.46)

Perhatikan pada Persamaan (5.46), bahwa pada tinjauan tegangan


efektif q = q = (1 - 3). Sebuah lintasan tegangan memberikan
gambaran urutan dari kedudukan tegangan yang berturutan. Gambar
5.54a menyajikan lintasan tegangan yang berawal dari kondisi 1 = 3,
yang merupakan kondisi awal yang umumnya digunakan dalam banyak
tipe pengujian laboratorium. Dari kondisi awal ini, kemudian biasanya
tegangan 1 dan 3 diubah dengan kenaikan tegangan yang sama (1 =
3), atau cara yang lain dapat dengan mengubah salah satu tegangan
utamanya dengan mengusahakan tegangan utama yang lain tetap
(misalnya 1 positif sedangkan 3 = 0). Tentu saja cara yang lain dapat
juga digunakan, seperti menambah baik 1 maupun 3 dengan cara
tertentu, sehingga 3 = 1.

Gambar 5.54 Lintasan tegangan


(a) mula-mula 1 = 3;
(b) mula-mula 1 > 3 > 0;
(c) mula-mula 1 = 3 = 0.

Kondisi awal yang juga umum dipakai, adalah dengan


mengusahakan 1 dan 3 lebih besar nol, tapi 1 tidak sama dengan 3.
Kondisi ini ditunjukkan dalam Gambar 5.54b. Gambar 5.54c
menunjukkan pembebanan yang dimulai dari 1 = 3 = 0. Selama
pembebanan 1 dan 3 ditambah dengan perbandingan yang konstan.
Lintasan tegangan tidak mesti berupa garis lurus. Sebagai contoh,
bila tegangan-tegangan yang diterapkan sedemikian sehingga 1 =
(3)2, hasilnya adalah lintasan tegangan yang tidak lurus.

Gambar 5.55 Lintasan tegangan pada kondisi kegagalan.


Bila tegangan lateral ditinjau pada kondisi tegangan saat kegagalan.
Kf = 3f
(5.47)
1f
Garis Kf ini membuat sudut dengan sumbu tegangan normal. Dari
Gambar 5.55, dapat dibentuk persamaan sebagai berikut:
'
,
BC ( 1 f 3 f ) /2
tg =
=
OC ( 1 f , + 3 f , )/2
(5.48)
dengan 1 f ' dan 3 f , adalah tegangan utama pada saat kegagalan.
Selanjutnya,
( 1 f ' 3 f , ) /2
DC
sin =
=
OC
( , + , )/2
(5.49)

1f

3f

Dari kedua Persamaan (5.48) dan (5.49), diperoleh


tg = sin
(5.50)
Dari Gambar 5.56, persamaan garis Kf adalah:
qf = a + pf tg
(5.51)
dengan,
a = perpotongan dengan sumbu q dalam satuan tegangan
= sudut dari garis Kf dengan arah horizontal, dalam derajat
Persamaan selubung kegagalan Mohr-Coulomb adalah
f = c + tg
(5.52)
Dari Persamaaan (5.50),
sin = tg
Maka,
a'
c =
cos '
(5.53)

Untuk sistem koordinat p q, persamaan yang menunjukkan


hubungan dari p dan q dengan koefisien tekanan tanah lateral K, dapat
diperole sebagai berikut:
q
p
=

( 1 3 )
( 1+ 3)

1 3 / 1
1+ 3 / 1

1K
1+ K

(5.54)
dengan K =

3 / 1 . Bila

3 = 1 maka K = 1. Lintasan tegangan K = 1,

adalah kondisi tegangan isotropis tanpa tegangan geser.


Ditinjau suatu kasus di mana benda uji di dalam pembebanan pada
alat oedometer (konsolidasi one-dimensional), seperti yang terlihat pada
Gambar 5.57. Untuk kasus ini, nilai koefisien tekanan lateral Ko dalam
tinjauan tegangan efektif adalah:
K0 =

'3 / 1 '

(5.55)
Untuk lingkaran Mohr dalam tinjauan tegangan efektif (Gambar
5.57), koordinat titik E dapat diberikan oleh persamaan,

Jadi,
=arc tg

1K o
q'
=arc tg
'
1+ K o
p

(5.58)
atau
Ko =

1tg
1+ tg

(5.59)
dengan adalah sudut garis OE (garis K0) terhadap sumbu tegangan
normal. Untuk perbandingan, kedudukan garis K0 terhadap garis Kf dapat
dilihat pada Gambar 5.55.
Dalam kasus tertentu, jika diberikan lintasan tegangan dalam sistem
koordinat p q, dapat dipeoleh nilai-nilai tegangan utama mayor (1) dan
minor (3) pada sembarang titik di lintasan tegangan. Hal ini diperlihatkan
dalam Gambar 5.58, di mana ABC adalah lintasan tegangan efektif.

Gambar 5.58 Penentuan 1 dan 3 pada titik di lintasan tegangan

Besarnya nilai perkiraan Ko untuk tanah granuler adalah sekitar 0,4


sampai 0,6 sedangkan untuk lempung normally consolidated sedikit lebih
kecil dari 0,5 sampai 0,9. Nilai rata-rata yang baik adalah Ko = 0,5. Ketika
tanah benda uji diambil untuk dibawa ke laboratorium, terjadi
pengurangan tegangan, lintasan tegangan akan mendekati garis BC
(Gambar 5.59). Setelah sampai di C, maka K = 1.

Gambar 5.59

Lintasan tekanan selama sedimentasi dan akibat pengambilan

contoh benda uji, pada lempung normally consolidated, dengan Ko


< 1.

Dalam banyak masalah, dijumpai air di dalam tanah pada kondisi statis.
Jadi, tekanan air pori awal uo yang bekerja pada benda uji perlu
diperhitungkan. Maka, terdapat tiga macam lintasan tegangan yang harus
digunakan, yaitu ESP,TSP, dan (T uo) SP (lintasan tegangan dari tegangan
total dikurangi tekanan air pori statis). Ketiga lintasan tegangan
diperlihatkan dalam Gambar 5.63, untuk lempung normally consolidated
dengan tekanan air pori awal uo dan dengan sistem pembebanan
kompresi aksial.

Gambar 5.63 Kedudukan ESP, TSP, dan (T uo) SP untuk lempung normally
consolidated (Lambe, 1967).