Anda di halaman 1dari 6

Perbedaan dan Ciri Endapan Batubara Paleogen dan Neogen di

Indonesia

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi


lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruhpengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh
tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang
bervariasi.
Batubara adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari
endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui
proses pembatubaraan. Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan untuk
lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada
pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan batubara.
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan
Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera
dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat
dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kirakira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta
tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Paleogen adalah periode dalam skala waktu geologi yang merupakan
bagian pertama dari era Kenozoikum dan berlangsung selama 42 juta tahun antara
65,5 0,3 hingga 23,03 0,05 juta tahun yang lalu. Periode ini terdiri dari kala
Paleosen, Eosen, dan Oligosen, dan dilanjutkan oleh kala Miosen pada periode
Neogen. Neogen adalah suatu periode bagian dari era Kenozoikum pada skala
waktu geologi yang dimulai sejak 23.03 0.05 juta tahun yang lalu, melanjutkan
periode Paleogen. Periode ini yang memuncak pada glasiasi kontinental.
Adapun ciri-ciri endapan Paleogen adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Penyebaran terbatas (oleh graben)


Pengendapan bersamaan dengan aktivitas tektonik
Ketebalan bervariasi dan banyak lapisan
Selalu berkaitan dengan busur vulkanik
Hampir semua Autochton

6. Endapan

tersusun

oleh

matriks

lempung

dan

bongkah-bongkah

batugamping numulit, batupasir kasar - sangat kasar, serta konglomerat.


7. Diendapkan sedimen-sedimen regresif cekungan sedang mengalami
pengangkatan dan inversi.
8. Pengendapan sebelum transgresi
Sedangkan ciri-ciri endapan Neogen adalah sebagai berikut:
1. Berkembangnya terumbu-terumbu karbonat yang masif pada Miosen Atas
yang hampir ekivalen secara umur dengan karbonat Parigi akibat
pembukaan dan penenggelaman cekungan-cekungan
2. Terendapkan sesudah Regresi
3. Transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen
marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping
4. Kadar abu dan belerang yang rendah

A. Lingkungan Pengendapan
Tipe cekungan pembawa batubara utama di
Indonesia
adalah intermontana
basin
Paleogen,foreland basin, dan delta basin Neogen.
Cekungan pembawa batubara berumur Paleogen terbentuk pada awal Tersier
sedangkan pengendapan batubaranya diduga berawal pada Eosen Tengah.
Cekungan batubara Paleogen terbentuk dalam sistem cekungan intramontane
dan continental margin. Batubara diendapkan dalam lingkungan yang sedikit
sekali berhubungan dengan kondisi geografi atau pengendapan peat modern
saat ini. Pada cekungan muka daratan (foreland basin)

terjadi pengendapan yang cepat pada zaman Tersier


dalam lingkungan laut yang setengah tertutup dan
diikuti oleh perlipatan lemah sampai sedang pada akhir
Tersier. Umur cekungan batubara Indonesia merupakan
batubara
Tersier
yang
dibedakan
oleh
kondisi transgresi dan regresi.
Umur
batubara
Indonesia tertua adalah batubara Paleogen, yaitu 68 jt
tahun hingga 23 jt tahun. Batubara Neogen yang
terbentuk setelah regresi berumur 23 jt tahun hingga 1
jt tahun lalu. Di Indonesia, cekungan pembawa
batubara terdiri dari beberapa cekungan yang tersebar

di seluruh Indonesia. Pengendapan pada masa Neogen


terjadi secara luas dan di bagian back deep. Regresi
dihipotesiskan terjadi karena adanya proses orogenesa
dan
adanya
sedimentasi
yang
lebih
cepat
dibandingkan penurunan basin sehingga garis pantai
bergerak. Berdasarkan hipotesis kedua ini, terbentuk
adanya delta. Proses sedimentasi terhenti memasuki
masa Kuarter pada Pleistosen, dengan dicirikan adanya
endapan tuff.

Gambar 1. Hubungan Lingkungan Pengendapan dengan Ciri Endapan Batubara

B.

Sebaran Batubara Paleogen dan Neogen di Indonesia


Endapan batubara Paleogen ditemukan di Cekungan Ombilin di

Sumatera Barat, Cekungan Sumatera Tengah di Riau, Pasir dan Asam-asam di


Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Barito di Kalimantan Selatan dan
Tengah serta Cekungan Ketungau di Kalimantan Barat. Endapan batubara
Paleogen yang tidak luas juga ditemukan di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat.
Endapan batubara Paleogen terbentuk dalam extensional structural setting di
lingkungan pengendapan transgresi. Batubaranya memiliki karakteristik kadar
abu dan sulfur yang tinggi. Batubara Paleogen juga cenderung tidak tebal.
Endapan yang mempunyai nilai ekonomis pada umumnya memiliki ketebalan
4 hingga 6 meter. Rank dari batubara Paleogen secara umum lebih tinggi dari

batubara Neogen dengan nilai kalori yang lebih tinggi dan kadar kelembaban
yang rendah. Beberapa endapan batubara Paleogen di Indonesia memiliki
kriteria yang tepat untuk tambang permukaan seperti ketebalan, struktur
geologi yang sederhana dan kualitas yang diinginkan pasar, sehingga sangat
mendukung sebagai komoditi ekspor untuk thermal coal.
Endapan batubara Neogen ditemukan di Cekungan Sumatera Selatan,
Cekungan Bengkulu, Cekungan Meulaboh di Aceh, Kutai dan Tarakan di
Kalimantan Timur dan Cekungan Barito di Kalimantan Selatan. Batubara
Neogen pada umumnya jauh lebih tebal dari batubara Paleogen, bahkan
ditemukan endapan dengan ketebalan lebih dari 30 meter. Batubara Neogen
juga memiliki karakteristik kadar abu dan sulfur yang rendah, bahkan
sebagian batubara ini memiliki kadar abu dan sulfur yang sangat rendah
(<1%). Walaupun sebagian batubara Miosen Pliosen memiliki endapan dengan
ketebalan yang memungkinkan untuk ditambang secara komersil, ditambah
kadar abu dan sulfur yang rendah serta struktur geologi yang sederhana, rank
dari batubara ini bervariasi. Sebagian besar memiliki rank rendah (lignite)
dengan kadar moisture yang tinggi dan nilai kalori yang rendah.
C.

Kualitas Batubara Paleogen dan Neogen di Indonesia


Batubara Paleogen memiliki karakteristik kadar abu dan sulfur yang

tinggi. Batubara Paleogen juga cenderung tidak tebal. Endapan yang


mempunyai nilai ekonomis pada umumnya memiliki ketebalan 4 hingga 6
meter. Rank dari batubara Paleogen secara umum lebih tinggi dari batubara
Neogen dengan nilai kalori yang lebih tinggi dan kadar kelembaban yang
rendah. Beberapa endapan batubara Paleogen di Indonesia memiliki kriteria
yang tepat untuk tambang permukaan seperti ketebalan, struktur geologi yang
sederhana dan kualitas yang diinginkan pasar, sehingga sangat mendukung
sebagai komoditi ekspor untuk thermal coal.

Tabel 1. Kulaitas Batuabara Paleogen

Batubara Neogen juga memiliki karakteristik kadar abu dan sulfur


yang rendah, bahkan sebagian batubara ini memiliki kadar abu dan sulfur
yang sangat rendah (<1%). Walaupun sebagian batubara Miosen Pliosen
memiliki endapan dengan ketebalan yang memungkinkan untuk
ditambang secara komersil, ditambah kadar abu dan sulfur yang rendah
serta struktur geologi yang sederhana, rank dari batubara ini bervariasi.
Sebagian besar memiliki rank rendah (lignite) dengan kadar moisture yang
tinggi dan nilai kalori yang rendah.
Tabel 1. Kulaitas Batuabara Neogen

Secara singkat perbedaan Endapan Batubara Paleogen dan Neogen dapat


dilihat dalam tabel dibawah ini.

REFERENSI

Fatimah dan Herudiyanto.2007.Kandungan Sulfur Dalam Batubara. Pusat


Sumber Daya Geologi. Bandung
http://www.jendelaexplorasi.net/2014/01/genesa-batubara-indonesia.html
(Diakses pada 31 Agustus 2016 Pukul 20.00)