Anda di halaman 1dari 18

PAPER ETIKA PROFESI

DISUSUN OLEH:
Ridho Fadly

(115130 )

Ichrom Abdillah

(12513001)

Surya Hadi Saputra

(12513024)

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA 2016/2017

1.1

Pengertian Etika Menurut Berbagai Pendapat


Pengertian Etika (Etimologi), datang dari bhs Yunani yaitu Ethos, yang berarti

watak kesusilaan atau kebiasaan rutinitas (custom). Etika umumnya terkait erat
dengan pengucapan moral yang disebut arti dari bhs Latin, yakni Mos serta
berbentuk jamaknya Mores, yang bermakna juga kebiasaan rutinitas atau langkah
hidup seorang dengan lakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), serta hindari
beberapa hal aksi yang jelek. Ada beberapa para ahli yang mengungkapkan
pengertian-pengertian etika. Diantaranya:

DR. James J. Spillane SJ


Etika ialah mempertimbangkan atau memperhatikan tingkah laku manusia
dalam mengambi suatu keputusan yang berkaitan dengan moral. Etika lebih
mengarah pada penggunaan akal budi manusia dengan objektivitas untuk
menentukan benar atau salahnya serta tingkah laku seseorang kepada orang lain.

Prof.DR.Franz Magnis Suseno


Etika merupakan suatu ilmu yang memberikan arahan, acuan dan pijakan
kepada tindakan manusia.

SoergardaPoerbakawatja
Etika merupakan sebuah filsafat berkaitan dengan nilai-nilai, tentang baik dan
buruknya tindakan dan kesusilaan.

Drs. H. Burhanudin Salam


Mengungkapkan bahwa etika ialah suatu cabang ilmu filsafat yang berbicara
tentang nilai -nilai dan norma yang dapat menentukan perilaku manusia dalam
kehidupannya.

Drs.O.P.Simorangkir
Menjelaskan bahwa etika ialah pandangan manusia terhadap baik dan buruknya
perilaku manusia.

H.A.Mustafa
Mengungkapkan etika sebagai ilmu yang menyelidiki terhadap perilaku mana

yang baik dan yang buruk dan juga dengan memperhatikan perbuatan manusia
sejauh apa yang telah diketahui oleh akal pikiran.

W.J.S.Poerwadarminto
Menjelaskan etika sebagai ilmu pengetahuan mengenai asas-asas atau dasardasar moral dan akhlak.

Aristoteles
Mengemukakan etika kedalam dua pengertian yakni: Terminius Technicus &
Manner and Custom. Terminius Technicus ialah etika dipelajari sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari suatu problema tindakan atau perbuatan
manusia. Sedangkan yang kedua yaitu, manner and custom ialah suatu
pembahasan etika yang terkait dengan tata cara & adat kebiasaan yang melekat
dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang sangat terikat dengan

arti baik & buruk suatu perilaku, tingkah laku atau perbuatan manusia.
KBBI
Etika ialah ilmu tentang baik dan buruknya perilaku, hak dan kewajiban moral;
sekumpulan asa atau nila-nilai yang berkaitan dengan akhlak; nilai mengenai
benar atau salahnya perbuatan atau perilaku yang dianut masyarakat.

1.2.1 Klasifikasi Etika


1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif yaitu etika di mana objek yang dinilai adalah sikap dan perilaku
manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana adanya. Nilai dan pola
perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercemin pada situasi dan kondisi yang
telah membudaya di masyarakat secara turun-temurun.
2. Etika Normatif
Etika normatif yaitu sikap dan perilaku manusia atau massyarakat sesuai dengan
norma dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan
perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi
avuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.

3. Etika Deontologi

Etika deontologi yaitu etika yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban
untuk berbuat baik terhadap orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan
hanya dilihat dari akibat dan tujuan yang ditimbulakan oleh sesuatu kegiatan atau
aktivitas, tetapi dari sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat
kebaikan terhadap masyarakat atau pihak lain.
4. Etika Teleologi
Etika Teleologi adalah etika yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para
pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya sesuatu yang
dicapai adalah sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik. Baik ditinjau dari
kepentingan pihak yang terkait, maupun dilihat dari kepentingan semua pihak. Dalam
etika ini dikelompollan menjadi dua macam yaitu :

Egoisme

Egoisme yaitu etika yang baik menurut pelaku saja, sedangkan bagi yang lain
mungkin tidak baik.

Utilitarianisme

Utilitarianisme adalah etika yang baik bagi semua pihak, artinya semua pihak baik
yang terkait langsung maupun tidak langsung akan menerima pengaruh yang baik.
5. Etika Relatifisme
Etika relatifisme adalah etika yang dipergunakan di mana mengandung perbedaan
kepentingan antara kelompok pasrial dan kelompok universal atau global. Etika ini
hanya berlaku bagi kelompok passrial, misalnya etika yang sesuai dengan adat istiadat
lokal, regional dan konvensi, sifat dan lain-lain. Dengan demikian tidak berlaku bagi
semua pihak atau masyarakat yang bersifat global.
1.2.3 Pengertian Norma
Norma adalah bentuk nyata dari nilai-nilai sosial di dalam masyarakat yang
berbudaya, memiliki aturan-aturan, dan kaidah-kaidah, baik yang tertulis maupun
tidak. Norma-norma ini mengatur kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Di
dalam norma terkandung aturan-aturan dan pentunjuk kehidupan mengenai benar dan
salah, baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, yang harus ditaati oleh warga
masyarakat. Jika norma itu dilanggar, si pelanggar akan terkena sanksi. Norma
memiliki kekuatan yang mengingat dan memaksa pihak lain untuk mematuhi aturan

yang berlaku. Jadi, secara sederhana pengertian norma adalah aturan yang
mengandung sanksi. Terbentuknya norma didasari oleh kebutuhan demi terciptanya
hubungan yang harmonis, selaras, dan serasi di antara warga masyarakat.
2.1 Pengertian Etika dan Etiket
Etika (Etimologi), datang dari bhs Yunani yaitu Ethos, yang berarti watak
kesusilaan atau kebiasaan rutinitas (custom). Etika umumnya terkait erat dengan
pengucapan moral yang disebut arti dari bhs Latin, yakni Mos serta berbentuk
jamaknya Mores, yang bermakna juga kebiasaan rutinitas atau langkah hidup
seorang dengan lakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), serta hindari beberapa hal
aksi yang jelek. Etika sebagai ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana
patutnya manusia hidup dalam masyarakat, yang dapat memahami apa yang baik dan
yang buruk. Arti susila dalam etika dimaksudkan kelakuan atau perbuatan seseorang
bernilai baik, sopan menurut norma- norma yang dianggap baik
Etiket adalah suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang
mengatur hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan. Etiket
adalah perilaku yang dianggap pas, cocok, sopan, dan terhormat dari seseorang yang
bersifat pribadi seperti gaya makan, gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya berjalan,
gaya duduk, dan gaya tidur. Namun, karena etiket seseorang menghubungkannya
dengan pihak lain, maka etiket menjadi peraturan sopan santun dalam pergaulan dan
hidup bermasyarakat. Etiket menyangkut cara suatu perbuatan, kebisaaan, adatistiadat, atau cara-cara tertentu yang dianut oleh sekelompok masyarakat dalam
melakukan sesuatu. Contohnya sebuah etiket adalah memberi dengan tangan kanan.
Sedangkan etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dikatakan ya
atau tidak hal yang prinsip dan universal adalah memberi yang merupakan norma
tentang perbuatan itu sendiri. Berbeda dengan etiket dalam memberi, dalam etika
mencuri merupakan sesuatu yang tidak etis, tidak perduli pakai tangan kanan atau
tangan kiri.
2.1.1

Etika Umum
Berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara

etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsipprinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak

ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di
analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum
dan teori-teori.
2.1.2 Etika Khusus
Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan
yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan
dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang
didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat
juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang
kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang
memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu
keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya
sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia
sebagai anggota umat manusia.
2.1.3
3.1

Etika Tujuan
Pemahaman Tentang Etika Profesi
Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam

menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi. Etika profesi adalah cabang


filsafat yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip moral dasar atau norma-norma
etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) kehidupan manusia. Etika Profesi
adalah konsep etika yang ditetapkan atau disepakati pada tatanan profesi atau lingkup
kerja tertentu, contoh : pers dan jurnalistik, engineering (rekayasa), science,
medis/dokter, dan sebagainya. Etika profesi Berkaitan dengan bidang pekerjaan yang
telah dilakukan seseorang sehingga sangatlah perlu untuk menjaga profesi dikalangan
masyarakat atau terhadap konsumen (klien atau objek).

3.1.1 Pengertian Profesi

Profesi sendiri berasal dari bahasa latin Proffesio yang mempunyai dua
pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang
lebih luas menjadi kegiatan apa saja dan siapa saja untuk memperoleh nafkah
yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi
berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut
dari padanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
3.1.2 Ciri Ciri Profesi
Menurut Artikel dalam International Encyclopedia of education, ada 10 ciri
profesi, yakni :

Satu bagian pekerjaan yang terorganisir dari type intelektual yang selalu
berkembang serta diperluas

Satu tehnik intelektual

Aplikasi praktis dari tehnik intelektual pada masalah praktis

Satu periode panjang untuk kursus serta sertifikasi

Sebagian standard serta pernyataan mengenai etika yang bisa diselenggarakan

Kekuatan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri

Asosiasi dari anggota profesi sebagai satu grup yang erat dengan kwalitas
komunikasi yang tinggi antar anggotanya

Pernyataan sebagai profesi

Perhatian yang profesional pada pemakaian yang bertanggungjawab dari


pekerjaan profesi jalinan yang erat dengan profesi lain

3.1.3 Prinsip Prinsip Etika Profesi


Pertama, prinsip tanggung jawab. Tanggung jawab adalah satu prinsip pokok
bagi kaum profesional, orang yang profesional sudah dengan sendirinya berarti orang
yang bertanggung jawab. Prinsip kedua adalah prinsip keadilan . Prinsip ini terutama
menuntut orang yang profesional agar dalam menjalankan profesinya ia tidak
merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu, khususnya orang-orang yang
dilayaninya dalam rangka profesinya demikian pula. Prinsip ketiga adalah prinsip
otonomi. Ini lebih merupakan prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional
terhadap dunia luar agar mereka diberi kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan
profesinya. Prinsip integritas moral. Berdasarkan hakikat dan ciri-ciri profesi di atas

terlihat jelas bahwa orang yang profesional adalah juga orang yang punya integritas
pribadi atau moral yang tinggi.
4.1

Pemahaman Tentang Hak Hak Serta Kewajiban dan Tanggung jawab


Seorang Profesional
Hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan,

kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undangundang, aturan, dsb), kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu,
derajat atau martabat.
Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal
yang harus dilaksanakan). Ketika lahir, manusia secara hakiki telah mempunyai hak
dan kewajiban. Tiap manusia mempunyai hak dan kewajiban

yang berbeda,

tergantung pada hal-hal tertentu misalnya, jabatan atau kedudukan dalam masyarakat.
4.1.1 Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya
yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Tanggung jawab itu bersifat
kodrati,artinya sudah menjadi bagian hidup dari manusia bahwa setiap manusia
dibebani dengan tangung jawab. Apabila di kaji tanggung jawab itu adalah kewajiban
yang harus di pikul sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat.
5.1

Ayat Ayat Al Quran Hadis Rasul Tentang Hak Kewajiban Dan Tanggung
Jawab

Kamu semua adalah pemimpin, dan kamu semua adalah bertanggung jawab dengan
pimpinannya. Maka seorang imam (pemimpin) adalah sebagai penggembala yang
akan ditannya tentang pimpinannya. Dan seorang laki-laki (suami) adalah sebagai
pemimpin dalam keluarganya dan ia akan ditanyakan tentang pimpinannya. Dan
seorang wanita (istri) adalah pemimpin dirumah suaminya yang ia akan ditanyakan
tentang hasil pimpinannya. Seorang pembantu (pelayanan asisten) adalah menjadi
pemimpin dalam mengawasi harta benda tuannya, dan ia bertanggung jawab (akan
ditanyakan) dari hal pimpinannya. Dan seorang anak adalah pengawas harta benda
ayahnya yang ia akan ditanyakan tentang hal pengawasannya. Maka kamu semua

adalah pemimpin dan kamu semua akan ditanyakan tentang perhatiannya. (HR.
Bukhari-Muslim).
Hadits diatas menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi tanggung
jawab seseorang. Tanggung jawab ada hubungannya dengan hak dan kewajiban.
Orang-orang yang kaya bertanggung jawab atas harta yang dimilikinya, dan
berkewajiban untuk menunaikan zakat/infaq dari harta tersebut. Dia juga berhak
untuk mempergunakannya sebagaimana yang dikehendakinnya asal sesuai dengan
aturan Allah SWT.
6.1

Kewajiban Manusia Kepada Tuhan dan Terhadap Sesama


Memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslim juga bisa diartikan sebagai

bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas segala hak hak kita yang telah dipenuhinya.
Sehingga, seperti yang telah dibahas di atas, antara kewajiban dan hak selalu berjalan
beriringan. Jika kita memenuhi kewajiban kita dengan baik, maka Allah senantiasa
selalu menambah nikmat kepada kita. Selalumemenuhi hak hak yang semestinya kita
peroleh. Tentunya dalam memenuhi kewajiban di sini harus lillahi taCala. 4aitu
dikerjakankarena mengharap ridha Allah semata.
6.1.2 Kewajiban Individu, Masyarakat dan Bernegara
Wajib adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau
diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada
prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan.
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung
jawab. Dari kewajiban inilah kita bisa mendapatkan hak kita karena hak dan
kewajiban memiliki hubungan timbal balik. Kewajiban Warga Negara Indonesia :
1. Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara (pasal 27
ayat 3).
2. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (pasal 28J ayat 1).
3. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud sematamata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan

pertimbangan moral, nila-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam


suatu masyarakat demokratis. (pasal 28J ayat 2).
4. Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan
dan keamanan negara (pasal 30 ayat 1).
5. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya (pasal 31 ayat 2).
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan (Pembukaan UUD
1945, alinea I).
7. Menghargai nilai-nilai persatuan, kemerdekaan dan kedaulatan bangsa
(Pembukaan UUD 1945, alinea II).
8. Menjunjung tinggi dan setia kepada konstitusi Negara dan dasar Negara
(Pembukaan UUD 1945, alinea IV).
9. Setia membayar pajak untuk negara (Pasal 23 ayat 2).
6.1.3 Kewajiban Sebagai Petugas
7.1

Tanggung Jawab Terhadap Individu, Masyarakat dan Terhadap Tuhan


Tanggung jawab terhadap diri sendiri menentukan kesadaran setiap orang untuk

memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia


pribadi. Dengan demikian bisa memevahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai
dirinya sendiri menurur sifat dasarnya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi
manusia juga pribadi. Karena merupakan seorang pribasi maka manusia mempunyai
pendapat sendiri, perasaan sendiri, berangan-angan sendiri. Sebagai perwujudan dari
pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini
manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang sengaja maupun yang tidak.
Tanggung Jawab terhadap Masyarakat dan Negara, dalam hubungan social
dengan masyarakat biasanya seseorang berkewajiban untuk saling membantu dan
berkomunikasi dengan sesame terutama dilingkungan tempat tinggalnya. Dalam
konteks Negara, seseorang selalu terikat dengan norma-norma serta aturan yang
berlaku. Setiap orang terkait satu sama lain dengna norma, aturan, serta undangundang yang dibuat oleh penyelenggara Negara. Jika melakukan pelanggaran atas
aturan tersebut maka sudah selayaknya bertanggung jawab sebagai warga negera yang
baik.

Tanggung Jawab Terhadap Tuhan, tentu semua kita mengetahui bahwa yang
menciptakan Bumi dan segala isinya termasuk manusia adalah Tuhan. Manusia
diciptakan dengan tujuan untuk mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang baik.
Selain itu, kita juga bertanggung jawab untuk memelihara bumi berserta seluruh
isinya, termasuk bertanggung jawab mengelola sumber daya sesuai keperluan kita.
Namun pada prakteknya, banyak sekali yang menyimpang bahkan ada yang merusak
ekosistem dan lingkungan dengan sengaja demi keuntungan semata.
7.1.1 Ciri - Ciri Tanggung Jawab
Leadership Coach dan Motivator, Ainy Fauziyah menyebutkan delapan ciri
pribadi yang bertanggung jawab, di antaranya:
1. Melakukan apa yang ia ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah ia ucapkan.
2. Komunikatif, baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan maupun klien.
3. Memiliki jiwa "melayani" dengan sepenuh hati sekaligus menghilangkan pemikiran
"Siapa yang butuh, dia yang harus menghubungi saya".
4. Menjadi pendengar yang baik termasuk hal-hal yang bersifat masukan, ide, teguran
maupun sanggahan yang menunjukkan perbedaan pendapat. Bagaimanapun
perbedaan pendapat itu penting, selama untuk kebaikan dalam mencapai sebuah
tujuan. Bersikap atau berpikir berbeda bukan untuk saling menjatuhkan apalagi
memojokkan.
5. Berani meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang ia lakukan
dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
6. Peduli pada kondisi, baik kondisi teman sekerja, anggota tim, atasan, bawahan
maupun kondisi kantor.
7. Bersikap tegas. Jika posisi Anda sebagai atasan dan menemukan anak buah tidak
bertanggung jawab, sudah seharusnya lah Anda menegurnya. Jika posisi Anda sebagai
bawahan dan mendapatkan teman di tim kerja tidak bertanggung jawab, sudah
seharusnya lah Anda berbicara langsung dengan yang bersangkutan. Tetapi jika yang
bersangkutan tidak juga berubah, maka Anda harus membicarakannya kepada atasan
untuk memberikan teguran.
8. Rajin memberi apresiasi. Apresiasi tidak selalu berarti bonus atau kenaikan jabatan,
melainkan ucapan terima kasih secara langsung kepada yang bersangkutan di depan
tim.

7.1.2 Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaan


Tanggung Jawab terhadap Pekerjaan, dalam ruang lingkup pekerjaan tentu
memiliki aturan yang berbeda antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya.
Selain itu, tanggung jawab antara yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda sesuai
bidang kerja yang dibebankan kepadanya. Ada yang memilili tanggung jawab sebagai
pimpinan dan ada pula sebagai bawahan, semuanya itu merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari ruang lingkup pekerjaan.
7.1.3 Tanggung Jawab Profesional
Profesionalisme (profsionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran,
cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada
atau dilakukan oleh seorang profesional. Tanggung jawab profesionalisme adalah
dedikasi dan keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Biasanya
profesional memiliki pendidikan teknik di bidang pengetahuan tertentu dan
menerapkan pengetahuan ini dalam jasanya kepada masyarakat.
8.1 Bagaimana Seharusnya Berkarir Di Bidang Jasa Konstruksi
Bisnis Konstruksi adalah suatu perusahaan atau organisasi yang bergerak di
bidang jasa konstruksi. Kegiatan yang di tawarkan adalah suatu jasa konstruksi
bangunan, baik dari perencanaan, pelaksanaan, maupun pada pengawasan. Bisnis
Konstruksi akan belajalan dengan lancar jika dikelola dengan suatu manajemen yang
baik

dan disiplin dari perusaahaan itu sendiri. Manajemen yang baik akan

mendukung perusahaan menuju taraf yang disebut dengan Profesional.


8.1.1 Pandangan Tentang Bisnis Konstruksi
Bisnis

konstruksi

perlu

mempertanggung

jawabkan

keputusan

dan

tindakannya kepada pihak ketiga, yaitu masyarakat seluruhnya yang secara tidak
langsung terkena akibat dari keputusan dan tindakanya. Wujud sikap adalah
menawarkan pekerjaan atau jasa yang bermutu, menjaga lingkungan hidup yang
bersih dan sehat, dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup masyarakat hidup
seluruhnya. Suatu Konstruksi bangunan akan dapat diselesaikan dengan mutu, waktu
dan biaya yang optimal jika suatu organisasi perusahaan yang bergerak di bidang
konstruksi menerapkan suatu sistem menejemen yang professional. Profesional dalam
hal ini adalah suatu perusahaan telah menerapkan tata cara legalitas seorang pebisnis

dalam bekerja di bidang konstrukisi, baik di bidang perencanaan, pelaksanaan,


maupun di pengawasan. Selain itu seorang yang profesional juga harus mempunyai
keahlian khusus di bidang tertentu dalam lingkup konstruksi bangunan.
8.1.2 Bisnis Konstruksi Tanpa Etika
Bisnis konstruksi tanpa etika, ialah bahwa profesi bisnis konstruksi secara etis
berstatus rendah dari pelaku bisnis konstruksi dan jika berpegang pada etika bisnis
dapat menyebabkan merugi dan tidak berhasil dalam bisnisnya. Hal ini disebabkan:
a. Bisnis konstruksi adalah Persaingan
b. Bisnis konstruksi adalah Asosial
c. Bisnis konstruksi Campur Moral Akan Tersingkir
d. Bisnis konstruksi Mencari keuntungan Belaka
e. Bisnis Konstruksi Hanya Berkonsentrasi Pada Pekerjaan
f. Bisnis Konstruksi Itu Memakan Biaya
g. Bisnis Konstruksi Harus Disertai Kekuatan
h. Bisnis Konstruksi Memerlukan Keterampilan Khusus
i. Bisnis Konstruksi Tidak Memiliki Nurani
8.1.3 Bisnis Konstruksi Dengan Etika
1. Bisnis Konstruksi Akan Mempertaruhkan Segalanya. Bisnis konstruksi juga
mempertaruhkan nama baik, harga diri dan seluruh kehidupan. Perusahaan konstruksi
yang rusak namanya karena tidak menggunakan etika dalam melakukan pekerjaannya,
akan dimusuhi rekanan lainnya. Karena itu, diperlukan hubungan yang langgeng,
bukan untuk memenangkan tender sesaat saja.
2. Bisnis Konstruksi Menyangkut Hubungan Antarmanusia Bisnis konstruksi adalah
kegiatan yang tejadi dalam masyarakat, sehingga membutuhkan ketentuan yang
dihormati oleh semua orang, yaitu etika yang mengandung nilai moral.
3. Bisnis Konstruksi Adalah Persaingan Yang Bermoral Bisnis konstruksi yang
berhasil adalah bisnis konstruksi yang memperhatikan norma moral. Sebaliknya,
bisnis konstruksi yang tidak menghiraukan etika akan hancur.
4. Bisnis Konstruksi harus
Mengikuti Kemauan Masyarakat (klien) Kebutuhan dan selera selalu maju melebihi
alat pemenuhan kebutuhan. Oleh karena itu, bisnis konstruksi harus pula bisa
menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat yang terus meningkat.

5. Bisnis Konstruksi Harus Disertai Kewajiban Moral Para pengelola perusahaan


konstruksi adalah masyarakat dan anggota masyarakat, dengan hak dan kewajiban
serta tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Sehingga perusahaan konstruksi
juga akan dituntut mempunyai tanggung jawab dan kewajiban terhadap masyarakat.
6. Bisnis Konstruksi Harus Mengingat Keterbatasan Sumber Daya Perusahaan
konstruksi harus bertanggung jawab untuk tidak sekedar mengeksploitasi sumber
daya untuk kepentingan jangka pendek, tetapi harus memeliharanya untuk jangka
panjang demi kelangsungan perusahaan konstruksi itu sendiri.
7. Bisnis Konstruksi Harus Menjaga Lingkungan Sosial Perusahaan konstruksi harus
memikirkan kehidupan social masyarakat, demi kelangsungan hidup perusahaan
konstruksi itu sendiri. Bisnis konstruksi harus ikut mencari pemecahan atas masalah
lapangan kerja, kelestarian alam dan lingkungan social sekitarnya.
8. Bisnis Konstruksi Harus Menjaga Keseimbangan tanggung jawab Sosial
Kekuasaan yang terlalu besar dari bisnis konstruksi jika tidak diimbangi dengan
tanggung jawab social yang sebanding, akan menyebabkan bisnis konstruksi tersebut
menjadi kekuatan yang merusak masyarakat.
9. Bisnis Konstruksi Harus Menggali Sumber Daya Berguna Perusahaan konstruksi
yang memiliki tenaga yang terampil, mereka dapat memberikan sumbangan yang
berharga bagi masyarakat melalui berbagai proyek dan kegiatannya.
10.Bisnis Konstruksi Harus memberi Keuntungan Jangka Panjang Tanggung jawab
social merupakan suatu nilai lebih yang sangat positif bagi perkembangan dan
kelangsungan hidup perusahaan konstruksi. Sehingga akan tercipta suatu citra yang
sangat positif dimata masyarakat mengenai perusahaan tersebut. Hal ini
akanmendatangkan keuntungan jangkapanjang yang mungkin untuk sekarang tidak
dapat terbayangkan.
9.1 Prinsip Pokok Bisnis Konstruksi
9.1.1 Sasaran Bisnis Konstruksi
Perusahaan bisnis konstruksi mempunyai sasaran-sasaran antara lain :
1. Keuntungan (profitability), yaitu suatu tingkat keuntungan yang dapat menjamin
terciptanya putaran dana (cash-flow) yang harus dapat menghidupi kegiatan
institusinya, tercapainya tingkat keuntungan yang wajar untuk dikembalikan
kepada para pemodal yang telah mengambil resiko di dalam proses bisnis
konstruksi itu sendiri, serta tercapainya suatu kemampuan untuk memenuhi

kewajiban, kewajiban institusi ini, seperti pembayaran pajak kepada pemerintah,


jaminan atas kesejahteraan karyawannya, serta kewajiban-kewajiban lain
terhadap kreditor dan rekan rekannya.
2. Pertumbuhan (growth), yaitu sasaran untuk terus tumbuh dan berkembang
mengikuti dinamika serta perkembangan dunia bisnis konstruksi itu sendiri.
Suatu institusi bisnis konstruksi yang tidak berkembang dalam berbagai
manifestasinya (penjualan jasa, kekayaan, manajemen, tingkat keuntungan,
perputaran dana, dan lain-lain) akan tergusur oleh dinamika dunia bisnis
konstruksi itu sendiri.
3. Citra (image), yaitu pengembangan citra sebagai salah satu sasaran jangka
panjang setiap institusi bisnis konstruksi. Citra yang positif, baik dikalangan
dunia bisnis konstruksi sendiri maupun pada masyarakat umumnya, merupakan
kekayaan (asset) yang tidak ternilai yang justru menjadi pusat perhatian utama
dari pimpinan institusiinstitusi dunia bisnis konstruksi.
9.1.2 Prinsip Sikap Baik
Prinsip ini mendahului dan mendasari semua prinsip moral lain. Prinsip sikap
baik mendasari semua norma moral karena hanya atas dasar prinsip itu kita harus
selalu bersikap positif, adil, jujur dan setia kepada orang lain.
9.1.3 Prinsip Otonomi
Yaitu prinsip yang dituntut oleh kalangan professional terhadap dunia luar agar
mereka diberikan kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan profesinya. Sebenarnya
hal ini merupakan konsekuensi dari hakekat profesi itu sendiri. Karena hanya mereka
yang professional ahli dan terampil dalam bidang profesinya, tidak boleh ada pihak
luar yang ikut campur tangan dalam pelaksanaan profesi tersebut.
9.1.4 Prinsip Kejujuran
Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis
tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran.
Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua,
kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding.
Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.

9.1.5 Prinsip Keadilan


Yaitu prinsip yang menuntut orang yang professional agar dalam melaksanakan
profesinya tidak akan merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu, khususnya
orang-orang yang dilayani dalam kaitannya dengan profesi yang dimilikinya.
9.1.6 Prinsip Hormat
Prinsip hormat pada diri sendiri dalam etika bisnis merupakan prinsip tindakan yang
dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu sendiri. Dalam aktivitas bisnis
tertentu ke masyarakat merupakan cermin diri bisnis yang bersangkutan. Namun jika
bisnis memberikan kontribusi yang menyenangkan bagi masyarakat, tentu masyarakat
memberikan respon sama. Sebaliknya jika bisnis memberikan image yang tidak
menyenangkan maka masyarakat tentu tidak menyenangi terhadap bisnis yang
bersangkutan. Namun jika para pengelola perusahaan ingin memberikan respek
kehormatan terhadap perusahaan, maka lakukanlah respect tersebut para pihak yang
berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung.
10.1 Keuntungan
Keuntungan (profitability), yaitu suatu tingkat keuntungan yang dapat menjamin
terciptanya putaran dana (cash-flow) yang harus dapat menghidupi kegiatan
institusinya, tercapainya tingkat keuntungan yang wajar untuk dikembalikan kepada
para pemodal yang telah mengambil resiko di dalam proses bisnis konstruksi itu
sendiri, serta tercapainya suatu kemampuan untuk memenuhi kewajiban, kewajiban
institusi ini, seperti pembayaran pajak kepada pemerintah, jaminan atas kesejahteraan
karyawannya, serta kewajiban-kewajiban lain terhadap kreditor dan rekan rekannya.
10.1.1 Citra
Citra (image), yaitu pengembangan citra sebagai salah satu sasaran jangka
panjang setiap institusi bisnis konstruksi. Citra yang positif, baik dikalangan dunia
bisnis konstruksi sendiri maupun pada masyarakat umumnya, merupakan kekayaan
(asset) yang tidak ternilai yang justru menjadi pusat perhatian utama dari pimpinan
institusiinstitusi dunia bisnis konstruksi.
10.1.2 Pendekatan Stake Holder

Pendekatan stake-holder adalah cara mengamati dan menjelaskan secara


analitis bagaimana berbagai unsur dipengaruhi dan mempengaruhi keputusan dan
tindakan bisnis. Pendekatan ini mempunyai tujuan imperatif: bisnis dijalankan
sedemikian

rupa

agar

hak

dan

kepentingan

semua

pihak

terkait

yang

berkepentingan(stakeholder) dengan suatu kegiatan bisnis dijamin, diperhatikan, dan


dihargai. Dasar pemikirannya adalah bahwa semua pihak yang punya kepentingan
dalam suatu kegiatan bisnis terlibat di dalamnya karena ingin memperoleh
keuntungan, maka hak dan kepentingan mereka harus diperhatikan dan dijamin.
11.1 Dasar Dasar Bisnis Kosntruksi Di Indonesia
11.1.1 Landasan Landasan Bisnis Jasa Konstruksi Di Indonesia
Jasa

konstruksi

adalah

jasa

yang

berhubungan

dengan

pelaksanaan

pembangunan prasarana dan/atau sarana fisik yang dalam pelaksanaan, penggunaan


dan pemanfaatannya menyangkut kepentingan dan keselamatan masyarakat pemakai
prasarana dan sarana tersebut serta ketertiban pembangunan dan lingkungan,
12.1 Mengetahui Beberapa Hambatan Dalam Bisnis Konstruksi Di Indonesia
Lingkungan Budaya
* Pengaruh anggapan tradisional
* Perilaku menyimpang
* Adanya prinsip kekerabatan
* Adanya tekanan dan kebijakan
Pemerintah
12.1.1 Kekeluargaan
Hambatan kekeluargaan seperti nepotisme sehingga dalam bisnis konstruksi kurang
berkompeten dalam melakukan pekerjaanya. Nepotisme adalah jenis khusus konflik
kepentingan. Nepotisme umumnya dilakukan dengan tujuan untuk menjaga
kerahasiaan jabatan dan kelanjutan kekuasaan, serta terjadi kesetiaan dan rasa takluk
dari bawahan yang mendapat kedudukan dan jabatan sebagai balas budi.
12.1.2 Tekanan

Tekanan pasar yang dihasilkan oleh ekonomi global dan persaingan yang kuat ,
perubahan sifat tenaga kerja , dan pelanggan yang kuat .dapat dilihat masing-masing
fakto pada gilirannya nanti.
Kategori kedua dari tekanan usaha yang terdiri dari tekanan-tekanan yang
berkaitan dengan teknologi .yang terkait tekanan teknologi adalah inovasi teknologi
dan informasi yang berlebihan.
Kategori ketiga tekanan bisnis meliputi tanggung jawab sosial, peraturan
pemerintah / deregulasi, pengeluaran untuk program-program sosial, pengeluaran
untuk melindungi terhadap terorisme, dan etika. Dalam bagian ini dipertimbangkan
bagaimana semua elemen ini mempengaruhi bisnis saat ini.
12.1.3 Lingkungan Sosial Politik