Anda di halaman 1dari 4

Legenda Batu Belah Batu Betangkup

Suatu hari ketika musim kemarau, ladang kecil yang dimiliki petani tersebut sangat
kering dan tidak membuahkan hasil.
Ayah :Bu, kita sudah tak ada uang. Ladang kering kerontang. Apa yang harus kita lakukan
untuk menyambung hidup?
Ibu :Bagaimana kalau kambing yang kita ternak dijual saja Yah?
Ayah :Tapi kan kambing-kambing itu sangat kurus, tidak akan laku mahal di pasar, Bu.
Ibu :Nanti coba minta tolong Sulung untuk menggembala kambing ke padang rumput supaya
cepat gemuk ya Yah.
Ayah :Iya Bu.
Ayah segera memanggil Sulung.
Ayah :Sulung, tolong kamu beri makan kambing-kambing kita di padang rumput ya.
Persediaan uang sudah menipis, sedangkan ladang kita sedang sangat kering.
Sulung :Tidak mau!
Ibu :Kenapa, Sulung? Tolonglah bantu Ayah dan Ibu.
Ayah :Iya, nak. Rencananya kambing akan Ayah jual di pasar untuk pemasukan kebutuhan
kita.
Tak lama kemudian Sulung mau menggembala dua ekor kambing yang dimikili Ayahnya.
Namun tak sampai di padang rumput yang dituju, Sulung memutuskan untuk tidur di bawah
sebuah pohon hingga sore. Dan ketika bangun, kambing yang dititipkan Ayahnya sudah raib
entah ke mana. Tanpa rasa bersalah, Sulung tak menjelaskan kejadian sebenarnya.
Ayah :Kambing-kambing kita di mana, Sulung? Kok tidak ada?
Sulung :Tadi hanyut di sungai!
Ayah :Apa? Hanyut? Yaampun bagaimana ini? Kenapa bisa hanyut?
Ayah sangat kecewa pada Sulung yang tidak bisa diandalkan, padahal semua hal yang
dimintanya adalah demi kepentingan hidup bersama-sama, yaitu demi kebutuhan pangan.
Kesedihanpun dirasakan Ibu yang selalu bersedia untuk mencari tambahan penghasilan untuk
keluarga. Tanpa pikir panjang, Ayah segera berangkat ke hutan untuk melihat perangkap yang
sengaja dipasang untuk menjerat hewan yang ada di sekitar hutan.
Ayah :Wow ternyata aku dapat! Seekor anak babi hutan, pasti akan laku dijual di pasar.
Lumayan untuk membeli kebutuhan makanan selama seminggu!

Ibu :Sulung! Kamu ini apa-apaan? Selalu bikin susah orang tua! Seenaknya saja kamu buang beras untuk makan ke dalam sumur?! Lelah memarahi Sulung. justru ia dikejar kawanan babi hutan hingga ke sungai. Ibu :Yasudah Sulung. Sulung justru membentak Ibunya dengan nada tinggi yang tak terkira. saya ingin menyampaikan informasi bahwa suami Ibu ditemukan sudah tak bernyawa di tepi sungai. Ibu sedang memarahi Sulung yang tega membuang beras terakhir yang tersedia di rumah dengan rasa sedih yang tidak terbendung. Sementara itu. Ia tak sadar bahwa suatu saat nanti penyesalan dan penderitaan pasti akan ia alami jika sang Ibu sudah tiada. Saya beserta warga yang lain turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian Almarhum. Bungsu yang baru satu tahun hanya bisa menyaksikan kesedihan mendalam pada Ibunya. Tak lama kemudian. Ibu mau menyusul Ayahmu… .Dengan rasa gembira.. Serangan babi hutan tersebut tak kuasa tertahan sehingga Ayah sulung terkapar tak berdaya namun tetap mencoba melakukan serangan balik pada hewan liar tersebut. Apa kamu tidak tahu. sikap Sulung itu sangat keterlaluan pada Ibunya. Sungguh keterlaluan dan membuat hati Ibu hancur berkeping-keping layaknya periuk yang sudah pecah itu. ia berarti bebas karena tidak ada yang menyuruh-nyuruhnya lagi. Tolong jaga Bungsu. Ibu :Innalillahi wainailaihi rajiun… (semakin tersedu mendengar kabar buruk tersebut) Namun tak nampak raut wajah kesedihan dari wajah Sulung. Ia diserang dua ekor induk babi yang penuh amarah melihat anak mereka ditangkap. kita butuh makan. Tetangga:Bu. Ibupun meminta tolong agar Sulung mengambil periuk tanah liat di belakang untuk dijual ke pasar. Tetapi usahanya tak membuahkan hasil. Ayah melepas jeratan yang ada pada kaki hewan tersebut dan membawanya pulang. mungkin adiknya itu akan berinisiatif untuk menolong Ibunya. Sementara itu. Akan Ibu jual ke pasar. tolong Ibu ambil periuk tanah di belakang. Sulung :Untuk apa aku ambil periuk dan menjaga si Bungsu?!!! Aku jadi tidak bisa main! Mending aku pecahkan saja periuk ini!!!! Tak disangka periuk hasil buatan Ibu dipecahkan begitu saja oleh anak nakal yang satu ini. (sambil meneteskan air mata) Sungguh terlalu. tolong jaga adik karena Ayah belum pulang ke rumah. Ibu :Suluuuung…. Ia justru berpikir bahwa tanpa Ayahnya. Ibu sangat sedih melihat perilaku kamu. salah satu tetangga datang di tengah kekacauan dalam rumah itu. Sungguh naas nasibnya. Namun hal tak terduga terjadi sebelum ia keluar dari hutan. Ibu :Sulung… Ibu tak sanggup lagi hidup di dunia ini. Kenapa kamu pecahkan periuk itu? Padahal itu adalah satu-satunya sisa harta yang kita punya. ia tewas ketika melompati bebatuan karena terjatuh dan kepalanya membentur sebuah batu. Jika sudah sebesar Sulung.

rumah. Menyadari Ibunya telah tiada. Buuu!!!! Aku menyesaaal!!! Ibuuuu!!!! Sambil merintih dan terus menerus memohon Ibunya kembali. • • • • • Tokoh Sulung Ayah Ibu Bungsu Tetangga : : Nakal dan tidak patuh kepada orang tua (antagonis) : Pekerja keras. bertanggung jawab (protagonis) : Pasrah. Hatiku alangkah merana. Setting : • Waktu : ketika musim kemarau. pekerja keras. Batu Belah kini tertutup dan ia tak akan bisa bertemu Ibunya. peduli (utility) 4. Cerita legenda) yang menceritakan tentang akibat perbuatan anak yang durhaka pada kedua orang tuanya. hutan. Struktur Drama 1. Sulungpun sangat menyesal. usaha Sulung tetap sia-sia. Sungguh sebuah legenda yang mengajarkan tentang pentingnya sikap santun pada orang tua yang wajib dilakukan semua anak di dunia. Bawalah aku serta. Alur : maju 2.Ibu Sulung pergi menuju sebuah batu yang disebut Batu Belah tempat suaminya terjatuh dan meninggal. Itulah salah satu contoh naskah drama cerita rakyat (eg. Penyesalan di akhir hanyalah sesuatu yang sia-sia dan tak bisa mengembalikan semua situasi terdahulu yang pernah ia perbuat. sabar. Kemudian iapun bersenandung sambil berjalan menuju batu tersebut… “Batu belah batu bertangkup. Batu belah batu bertangkup. rela berkorban. batu belah 3. Sulung :Ibuuuuu!!!! Maafkan aku!!! Ibu kembalilah. baik hati (protagonis) : (voil) : baik hati. • Tempat : ladang kecil. Tipe cerita : tragedi Nama kelompok (XII MIPA 6)  Alifatul iffiyana (02) .” Angin sesaat bertiup kencang dan membuat Ibu Sulung terperangkap di Batu Belah yang tidak bisa terbuka kembali untuk selamanya. di tepi sungai.

   Imro’atul mufidah Nabilatuz zulfa Nur laili (12) (16) (21) .