Anda di halaman 1dari 6
104 7 STOIKIOMETRI LARUTAN A. Reaksi Dalam Larutan Ciri-ciri terjadinya reaksi kimia: a) Terjadinya perubahan suhu b) Terjadinya perubahan warna c) Terbentuknya gas d) Terbentuknya endapan Ada beberapa jenis reaksi yang akan kita pelajari, seperti : 1. Reaksi Penetralan a. Reaksi Asam dengan Basa Reaksi antara asam dengan basa akan membentuk garam dan air. Reaksi ini disebut juga reaksi penetralan. Molekul air terbentuk dari ion H+ asam dengan ion OH- basa, sedangkan garam terbentuk dari ion positif basa dengan ion negatif asam. Contoh : ● HCl (aq) + NaOH (aq) NaCl (aq) + H2O (aq) (asam) (basa) H+ Cl- (garam) (air) Na+ OH- b. Reaksi Oksida Asam dengan Basa Reaksi antara okisda asam dengan basa akan membentuk garam dan air. Oksida asam antara lain SO2, SO3, N2O3, CO2, dan P2O3. Contoh : ● CO2 (g) + 2NaOH (aq) Na2CO3 (aq) + H2O (l) (oksida asam) (basa) (garam) (air) Na+ OH- c. Reaksi Oksida Basa dengan Asam Reaksi antara oksida basa dengan asam akan membentuk garam dan air. Oksida basa antara lain Na2O, MgO, CaO, dan Al2O3. Contoh : ● Na2O (aq) + H2SO4 (aq) Na2SO4 (aq) + H2O (aq) (oksida asam) 2Na+ O2- (asam) (garam) (air) 2H+ SO42- d. Reaksi Asam dengan Amonia Reaksi antara asam dengan amonia akan membentuk garam. Contoh : ● HCl (aq) + NH3 (g) NH4Cl (aq) (asam) (amonia) (garam) 2. Reaksi Pembentukan Endapan a. Reaksi : Garam 1 + Garam 2 Contoh : ● 2KI (aq) + Pb(NO3)2 (aq) (garam 1) K+ I- (garam 2) Ag+ NO3- Fe2+ 2Cl- (garam 4) (endapan berwarna kuning) Pb2+ 2NO3- (asam 1) H+ (basa 1) Na+ Garam 2 + Asam 2 AgCl (s) + HNO3 (aq) (garam 2) (asam 2) (endapan berwarna putih) Cl- c. Reaksi : Garam 1 + Basa 1 Contoh : ● FeCl2 (aq) + 2NaOH (aq) (garam 1) 2KNO3 (aq) + PbI2 (s) (garam 3) b. Reaksi : Garam 1 + Asam 1 Contoh : ● AgNO3 (aq) + HCl (aq) (garam 1) Garam 3 + Garam 4 OH- Garam 2 + Basa 2 2NaCl (s) + Fe(OH)2 (aq) (garam 2) (basa 2) (endapan berwarna putih) 105 3. Reaksi Pembentukan Gas Reaksi unsur-unsur logam dengan asam akan menghasilkan gas hidrogen, kecuali untuk logam Cu, Hg, Pt, dan Au. Contoh : ● Mg (s) + 2HCl (aq) MgCl2 (aq) + H2 (g) (logam) (asam) (garam ) (gas hidrogen) B. Stoikiometri 1. Konsep Mol dan Tetapan Avogadro Mol adalah banyaknya zat tersebut yang mengandung 6,02 x 1023 partikel Rumus : Keterangan : Mol = jumlah partikel L L = tetapan Avogadro = 6,02 x 1023 partikel Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel (JP) : 1 mol karbon mengandung 6,02 x 1023 atom C 1 mol air mengandung 6,02 x 1023 molekul H2O 1 mol ion Ca2+ mengandung 6,02 x 1023 ion Ca2+ 2 mol O2 mengandung 2 x 6,02 x 1023 molekul O2 Sehingga : Jumlah partikel = mol x L a. Massa Molar Massa molar zat adalah menunjukkan massa 1 (satu) mol zat yang dinyatakan dalam gram Rumus : Gram = mol x Ar Maka : Mol = gram Ar atau Gram = mol x Mr atau Mol = gram Mr Volume Molar Gas a. Volume Molar Gas dalam Keadaan Standar (STP) Pada tahun 1860, Stanislao Cannizzaro (Italia) mengemukakan hasil eksperimen : Volume molar gas adalah setiap 1 mol gas yang diukur pada suhu 0oC dan tekanan 1 atm (dalam keadaan standar = STP) memiliki volume 22,4 liter. Rumus : Volume (STP) = mol x 22,4 liter Jadi, volume 1 mol gas = 22,4 liter Sehingga, Mol = (Catatan : 22,4 liter = 22,4 dm3) volume STP 22,4 liter a. Volume Molar Gas dalam Keadaan Bukan Standar (tidak STP) Perhitungan volume pada keadaan bukan standar tidak diukur pada keadaan Suhu 0oC dan tekanan 1 atm, maka digunakan hukum Boyle – Gay – Lussac, yaitu : Rumus : P.V = n.R.T maka : V = n. R . T P Keterangan : P = tekanan (1atm = 760 torr = 60 mmHg) V = volume molar gas (1liter = 1 dm3) n = mol gas (mol) 106 sehingga : Mol (n) = P.V R.T R = tetapan gas (0,082 atm.L.mol-1.K-1) T = suhu dalam Kelvin (K = oC + 273) 4. Hubungan Mol Zat dengan Koefisien Reaksi Misal, Persamaan reaksi : aA + bB cC + dD maka, dapat ditulis rumus hubungan mol dengan koefisien reaksi, yaitu : mol zat A mol zat B = koefisien zat A koefisien zat B atau mol zat A mol zat B = a b sehingga, koefisien zat yang ditanya koefisien zat yang diketahui Mol zat yang ditanya = x mol zat yang diketahui 5. Kemolaran (Molaritas = M) Kemolaran atau Molaritas adalah konsentrasi suatu larutan yang menyatakan jumlah mol zat dalam satu liter larutan. Misal, larutan KOH 1M, berarti larutan yang mengandung 1 mol KOH dalam 1 liter larutan Secara matematis, kemolaran dirumuskan sebagai : M= mol liter atau M = mmol ml atau M= gr 1000 x Mr V Keterangan : M = molaritas larutan (mol/liter atau mmol/ml atau M) mol = mol zat terlarut (mol) liter = volume larutan (liter) gram = massa zat terlarut (gram) Mr = massa molekul relatif zat terlarut (gram/mol) V = volume larutan (ml atau cm3) 6. Pereaksi Pembatas Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang membatasi suatu reaksi karena habis terlebih dulu dibanding pereaksi yang lain. Ciri-ciri zat pereaksi pembatas (pereaksi yang habis terlebih dulu) yaitu : Harga mol zat koefisien zat adalah harganya paling kecil dibandingkan zat lain Contoh soal 9 : Sebanyak 4,8 gram logam magnesium, Mg (Mr Mg = 24) direaksikan dengan 300 ml larutan HCl 1 M menghasilkan garam magnesium klorida (MgCl2) dan gas hidrogen (H2). a. Tentukan pereaksi yang habis bereaksi b. Tentukan pereaksi pembatas! c. Tentukan massa pereaksi yang bersisa! d. Tentukan massa garam MgCl2 (Mr = 95) yang terbentuk! e. Tentukan massa H2 (Mr = 2) yang terbentuk! Pengenceran Rumus pengenceran : V1 x M1 = V2 x M2 7. Pencampuran Pencampuran adalah penggabungan 2 atau lebih zat (larutan) yang jenisnya sama. 107 sehingga : - volume larutan semakin besar (bertambah). Pencampuran dua larutan yang jenisnya sama tetapi konsentrasinya berbeda berlaku : rumus : mol1 + mol2 = mol3 atau (V1 x M1) + (V2 x M2) = (V3 x M3) sehingga : Mcampuran = mol1 +mol2 V 1 +V 2 atau Mcampuran = V (¿ ¿ 1 x M 1)+(V 2 x M 2 ) V 1 +V 2 ¿ 8. Stoikiometri Campuran Heterogen Contoh soal 14 : Sebanyak 5,1 gram campuran CaO-Ca(OH)2 memerlukan 150 ml HCl 1 M. Tentukan a. Massa CaO dalam campuran (Mr CaO = 56)! b.Massa Ca(OH)2 dalam campuran(Mr Ca(OH)2 = 74)! 9. Kenormalan (Normalitas = N) Kenormalan adalah menyatakan jumlah gram ekuivalen (grek) zat terlarut dalam setiap liter larutan jumlah grek Rumus : N = volume Keterangan : N = normalitas (N) Grek = gram ekuivalen (grek) ● Untuk larutan asam berlaku : Jumlah grek = a x mol , a = valensi asam ● Untuk larutan basa berlaku : Jumlah grek = b x mol , b = valensi basa Volume = volume larutan (liter) Hubungan normalitas (N) dengan molaritas (M) yaitu : ● Untuk larutan asam berlaku : N = a x M , a = valensi asam ● Untuk larutan basa berlaku : N = b x M , b = valensi basa b. Titrasi Asam-Basa 1. Penentuan Konsentrasi Asam atau Basa dengan Titrasi Asam-Basa Titrasi adalah cara pengukuran untuk mengetahui kadar zat dalam suatu larutan dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui jumlah dan konsentrasinya. Titrasi asam-basa berdasarkan reaksi penetralan asam-basa, sehingga untuk mengetahui kadar larutan asam menggunakan larutan basa yang sudah diketahui volume dan konsentrasinya. Larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dengan tepat disebut larutan baku atau larutan standar. Larutan standar yang terdapat di dalam buret merupakan larutan yang diketahui konsentrasinya. Larutan ini disebut titran (pentiter), sedangkan larutan yang sedang dititrasi disebut titrat. Rumus untuk menghitung konsentrasi suatu asam ataupun basa (baik kuat atau lemah) yang dititrasi adalah menggunakan rumus pengenceran. mol asam = mol basa V1 x M1 = V2 x M2 atau menggunakan rumus : grek asam = grek basa V1 x N1 = V2 x N2 2. Menentukan Kadar (%) Zat Melalui Titrasi Asam-Basa massa zat A Rumus : % zat A = massa zat cuplikan x 100% 108 Catatan : massa cuplikan = massa keseluruhan dari suatu zat 3. Menentukan Indikator Yang Tepat Untuk Titrasi Asam-Basa Pemilihan indikator asam-basa yang tepat untuk titrasi berdasarkan pH pada saat titik ekuivalen yang terjadi dengan warna yang cukup tajam (tidak sulit membedakan perubahan warna yang terjadi) dan trayek pH indikator tersebut bekerja pada pH titik ekuivalen larutan asam-basa. Tabel : Beberapa Indikator dan Trayek pH N Warna Dalam Warna Dalam Indikator Trayek pH o Larutan Asam Larutan Basa 1 Metil merah 4,2 – 6,3 Merah Kuning 2 Fenolftalein 8,3 – 10,0 Tak berwarna Merah 3 Brom timol biru 6,0 – 7,6 Kuning Biru a. Asam kuat dengan basa kuat (pH pada titik ekuivalen = 7) (Asam kuat ditetesi basa kuat atau sebaliknya) Titrasi asam kuat dengan basa kuat, titik ekuivalen terjadi pada pH = 7 sehingga indikator yang dapat digunakan adalah indikator yang memiliki trayek pH = 7 atau mendekati pH = 7, seperti metil merah, brom timol biru, atau fenolftalein. b. Asam kuat dan basa lemah 1. Asam kuat ditetesi basa lemah Titrasi asam kuat oleh basa lemah, titik ekuivalen terjadi pada pH < 7 sehingga indikator yang dapat digunakan adalah indikator yang memiliki trayek pH < 7 atau mendekati pH < 7, seperti metil merah atau brom timol biru. 2. Basa lemah ditetesi asam kuat Titrasi basa lemah oleh kuat, titik ekuivalen terjadi pada pH < 7 sehingga indikator yang dapat digunakan adalah indikator yang memiliki trayek pH < 7 atau mendekati pH < 7, seperti metil merah. c. Asam lemah dan basa kuat 1. Asam lemah ditetesi basa kuat Titrasi asam lemah oleh basa kuat, titik ekivalen terjadi pada pH > 7 sehingga indikator yang dapat digunakan adalah indikator yang memiliki trayek pH > 7 atau mendekati pH > 7, seperti fenolftalein. Indikator metil merah tidak dapat digunakan karena indicator ini mengalami perubahan warna sebelum mencapai titik ekuivalen. 2. Basa kuat ditetesi asam lemah Titrasi asam lemah oleh basa kuat, titik ekivalen terjadi pada pH > 7 sehingga indikator yang dapat digunakan adalah indikator yang memiliki trayek pH > 7 atau mendekati pH > 7, seperti fenolftalein. d. Asam lemah dengan basa lemah (pH pada titik ekuivalen = 7) Titrasi asam kuat oleh basa kuat, titik ekuivalen terjadi pada pH = 7 tetap sulit untuk diamati karena tidak terdapat kenaikkan pH yang tajam, sehingga tidak ada indikator yang cocok digunakan. 4. Menghitung pH larutan Pada Titrasi Asam-Basa dan Membuat Grafik Titrasi Asam-Basa a. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat 1. ● Jika mol asam kuat > 0 dan mol basa kuat = 0, maka : [H+] = a x M 2. ● Jika mol asam kuat = 0 dan mol basa kuat > 0, maka : [OH-] = b x M 3. ● Jika sisa mol asam kuat > 0 dan sisa mol basa kuat = 0, maka : mol asam sisa + [H ] = liter volume total 4. ● Jika sisa mol asam kuat = sisa mol basa kuat = 0, maka : [H+] = [OH-] = 10-7 5. ● Jika sisa mol asam kuat = 0 dan sisa mol basa kuat > 0, maka : 109 - [OH ] = mol basa sisa liter volume total Tabel : Volume NaOH dan pH larutan Volume HCl 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml Volume NaOH 0 ml 10 ml 20 ml 30 ml 40 ml 50 ml 60 ml 70 ml 80 ml 90 ml 100 ml pH larutan 1,00 1,17 1,37 1,60 1,95 7,00 11,96 12,22 12,36 12,46 12,52 Sifat Larutan Asam Asam Asam Asam Asam Netral Basa Basa Basa Basa Basa Keterangan pH larutan ditentukan oleh HCl pH larutan ditentukan oleh sisa HCl [H+] = [OH-] pH larutan ditentukan oleh NaOH berlebih Gambar : Kurva Titrasi Asam Kuat oleh Basa Kuat