Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi yang diikuti oleh
pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. Adanya upaya
mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi.
Secara patofisiologi, konstipasi umumnya terjadi karena kelainan pada
transit dalam kolon atau pada fungsi anorektal sebagai akibat dari
gangguan motilitas primer, penggunaan obat-obatan tertentu atau berkaitan
dengan sejumlah besar penyakit sistemik yang mempengaruhi traktus
gastrointestinal. Konstipasi dengan penyebab apapun dapat mengalami
eksaserbasi akibat sakit kronik yang menimbulkan gangguan fisis atau
mental dan mengakibatkan inaktivitas atau imobilitas fisis. Faktor-faktor
konstribusi lainnya dapat mencakup kurangnya serat dalam makanan,
kelemahan otot yang menyeluruh dan mungkin pula stress serta ansietas.
Konstipasi merupakan keluhan saluran cerna terbanyak pada usia
lanjut. Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4%
sampai 30% pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Ternyata wanita lebih
sering mengeluh konstipasi dibanding pria dengan perbandingan 3:1
hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring bertambahnya umur,
terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian pada orang berusia
usia 65 tahun ke atas, terdapat penderita konstipasi sekitar 34% wanita dan
pria 26%. Di Inggris ditemukan 30% penduduk di atas usia 60 tahun
merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar . Di
Australia sekitar 20% populasi di atas 65 tahun mengeluh menderita
konstipasi dan lebih banyak pada wanita dibanding pria. Menurut National
Health Interview Survey pada tahun 1991, sekitar 4,5 juta penduduk
Amerika mengeluh menderita konstipasi terutama anak-anak, wanita dan
orang usia 65 tahun ke atas.
Ada berbagai cara untuk mengatasi konstipasi yang terbagi
menjadi 2 kelompok yaitu non-farmakologis dan farmakologis. Nonfarmakologis bisa dilakukan dengan latihan usus besar, diet secara sehat,
dan olahraga. Sedangkan untuk farmakologis bisa dipakai obat golongan
pencahar, 4 tipe golongan obat pencahar yaitu pencahar rangsang,
pencahar pembentuk rasa, pencahar garam, dan pencahar emolien,
Inkontinensia fekal (fecal incontinence) atau inkontinensia tinja
adalah ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar. Hal ini
menyebabkan tinja (feses) bocor dari rektum pada waktu yang tak terduga.
Penyebab inkontinensia fekal dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu
inkontinensia feses akibat konstipasi obstipasi yang berlangsung lama,
inkontinensia simtomatik, inkontinensia feses neurogenik, dan

1

inkontinensia feses akibat hilangnya refleks anal. Keluhan inkontinensia
tampaknya dialami penduduk kulit berwarna 1,3 kali lebih sering
dibandingkan dengan kulit putih. Perbandingan laki-laki perempuan 1:3.
Inkontinensia dapat terjadi pada usia lanjut. Semakin tua semakin
meningkatkan frekuensinya. Di atas usia 65 tahun 30 – 40% penderita
mengalami masalah dengan keluhan inkontinensia ini.
Ada berbagai cara untuk mengatasi inkontinensia, yaitu
penatalaksanaan holistik (rencanakan waktu yang tepat dan konsisten
untuk eliminasi, ajarkan teknik defekasi yang efektif, latihan fisik, dan
pemberian diet tinggi serat) dan penatalaksanaan medis (terapi medis,
pemberian cairan, diatetik / pemberian makanan, biofeedback, stimulasi
saraf sacral, stimulasi listrik anal, bulking agent suntik, bedah, dan
kolostomi).
Oleh karena itu kami menyusun makalah ini agar bermanfaat untuk
memberikan edukasi bagi masyarakat khususnya bagi para pembaca. Inti
sari dari makalah ini adalah pemberian asuhan keperawatan yang tepat
bagi klien yang menderita gastritis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi usus halus, usus besar, rectum, dan
anus ?
2. Apakah definisi konstipasi ?
3. Apakah etiologi konstipasi ?
4. Bagaimana karakteristik feses normal dan abnormal ?
5. Bagaimana manifestasi klinis konstipasi ?
6. Bagaimana patofisiologi konstipasi ?
7. Bagaimana penatalaksanaan pada penderita konstipasi ?
8. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang harus dijalani pada penderita
konstipasi ?
9. Apa komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit konstipasi ?
10. Apakah definisi inkontinensia fekal ?
11. Apakah etiologi inkontinensia fekal ?
12. Apa saja klasifikasi inkontinensia fekal ?
13. Bagaimana manifestasi klinis inkontinensia fekal ?
14. Bagaimana patofisiologi inkontinensia fekal ?
15. Bagaimana penatalaksanaan pada penderita inkontinensia fekal ?
16. Apa saja pemeriksaan diagnostik yang harus dijalani penderita
inkontinensia fekal ?
17. Apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari inkontinensia fekal ?
18. Bagaimana asuhan keperawatan yang harus dilakukan pada penderita
konstipasi dan inkontinensia fekal ?
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum

2

Mahasiswa dapat memahami dan melakukan peran sebagai perawat
dalam pencegahan dan penanganan masalah konstipasi dan
inkontinensia fekal.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi usus halus, usus
besar, rectum, dan anus
b. Mengetahui dan memahami definisi konstipasi
c. Mengetahui dan memahami etiologi konstipasi
d. Mengetahui dan memahami karakteristik feses normal dan
abnormal
e. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis konstipasi
f. Mengetahui dan memahami patofisiologi konstipasi
g. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada penderita
konstipasi
h. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik yang harus
dijalani penderita konstipasi ?
i. Mengetahui dan memahami komplikasi yang dapat ditimbulkan
dari penyakit konstipasi
j. Mengetahui dan memahami definisi inkontinensia fekal
k. Mengetahui dan memahami etiologi inkontinensia fekal
l. Mengetahui dan memahami klasifikasi inkontinensia fekal
m. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis inkontinensia fekal
n. Mengetahui dan memahami patofisiologi inkontinensia fekal
o. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan untuk penderita
inkontinensia fekal
p. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik yang harus
dijalani penderita inkontinensia fekal
q. Mengetahui dan memahami komplikasi yang dapat ditimbulkan
dari inkontinensia fekal
r. Memahami dan mampu mempraktikkan asuhan keperawatan yang
tepat untuk penderita konstipasi dan inkontinensia fekal ?
1.4 Manfaat
Menambah pengetahuan serta keterampilan mahasiswa dalam
pengerjaan makalah dan presentasi di depan kelas. Menambah kecakapan
dan rasa percaya diri mahasiswa serta lebih memahami masalah
gastrointestinal terutama masalah konstipasi dan inkontinensia fekal serta
memahami asuhan keperawatan pada klien dengan masalah konstipasi dan
inkontinensia fekal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1 Anatomi dan Fisiologi
2.1.1 Usus Halus
Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang
membentang dari pylorus sampai katub ileosekal. Panjang usus halus
sekitar 12 kaki. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah abdomen.
Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm tetapi semakin ke
bawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2,5
cm. Bentuk dan susunannya berlipat-lipat melingkar. Makanan dapat
masuk karena adanya gerakan yang memberikan permukaan yang lebih
luas. Banyaknya jonjot-jonjot pada tempat absorpsi memperluas
permukaannya.
Usus halus adalah tempat utama untuk pencernaan dan tempat utama
untuk penyerapan nutrien. Diantaranya adalah karbohidrat, protein, lipid,
cairan dan elektrolit. Fungsi utamanya adalah mengabsorpsi produkproduk pencernaan. Walaupun ukurannya relatif pendek, area
permukaannya sangat diperluas karena mukosanya berlipat-lipat dengan
vili yang hanya terlihat secara mikroskopik.
Usus halus terletak dalam rongga abdomen dan dikelilingi oleh usus
besar.

Gambar 2.1.1 Usus Halus

Struktur usus halus terdiri dari bagian-bagian berikut ini:
a. Duodenum: bentuknya melengkung seperti kuku kuda. Pada lengkungan
ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum merupakan tempat
bermuaranya saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pankreas
(duktus pankreatikus), tempat ini dinamakan papilla vateri. Dinding
duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar
brunner untuk memproduksi getah intestinum. Panjang duodenum sekitar
25 cm dimulai dari pilorus sampai jejunum.
Di dalam usus dua belas jari,dihasilkan enzim:
4

1. Enterokinase yaitu untuk mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan
pankreas;
2. Erepsin atau dipeptidase untuk mengubah dipeptida atau pepton
menjadi asam amino;
3. Laktase yang mengubah laktosa menjadi glukosa;
4. Maltase berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa;
5. Disakarase mengubah disakarida menjadi monosakarida;
6. Peptidase mengubah polipeptida menjadi asam amino;
7. Lipase mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak;
8. Sukrase mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa.
b. Jejunum: Panjangnya 2 – 3 meter dan berkelok-kelok, terletak di sebelah
kiri atas intestinum minor. Dengan perantaraan lipatan peritoneum yang
berbentuk kipas (mesentrium) memungkinkan keluar masuknya arteri dan
vena mesentrika superior, pembuluh limfe, dan saraf ke ruang antara
lapisan peritoneum. Penampang jejunum lebih lebar, dindingnya lebih
tebal, dan banyak mengandung pembuluh darah.
c. Ileum: ujung batas antara ileum dan jejunum tidak jelas, panjangnya ±4 –
5m. Ileum merupakan usus halus yang terletak di sebelah kanan bawah
berhubungan dengan sekum dengan perantaraan lubang orifisium
ileosekalis yang diperkuat sfingter dan katub valvula ceicalis (valvula
bauchini) yang berfungsi mencegah cairan dalam kolon agar tidak masuk
lagi ke dalam ileum.
2.1.2

Usus Besar (Kolon)

Kolon orang dewasa memiliki panjang 1,5 – 1,8m. Berbagai
segmennya (sekum; colon asendens, transversum, descendens, dan
sigmoideum) berperan dalam penyerapan air dan elektrolit, sekresi mukus,
dan pembentukan, pengeluaran, dan penyimpanan zat yang tidak di serap
(tinja). Kolon juga merupakan rumah bagi flora mikroba usus. Permukaan
kolon terdiri atas epitel kolumnar tanpa vilus dan hanya sedikit lipatan
kecuali di rektum distal. Epitel memiliki mikrovilus yang pendek dan
iregular. Terdapat banyak kelenjar yang mengandung sel goblet, sel
endokrin, dan sel absorptif.

Lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke luar yaitu :
a. Tunica serosa, lapisan paling luar yang mempunyai mesocolon pada
colon transversum dan sigmoideum
b. Tunica muscularis, terdiri dari startum circulare di dalam. Stratum
longitudinale diperkuat pada tiga tempat membentuk taenia coli

5

d. Glandula intestinales dari colon lebih panjang dari pada yang terdapat pada usus kecil .2 Usus Besar Bagian-bagian usus besar adalah : a. Berbeda dengan usus kecil.c.1. Gambar 2. appendix epiploica. plica semilunaris juga ikut dibentuk oleh stratum circulare tunica muscularis. Kolon Ascendens Panjangnya kurang lebih 15 cm dan terbentang dari cecum sampai ke permukaan visceral dari lobus kanan hepar untuk membelok ke kiri pada flexura coli dextra untuk beralih menjadi colon transversum. sesuai dengan letak penyempitan atara haustra di mucosa terdapat lipatan plica semilunaris. pada colon tidak ada folliculi lympatici aggregatii. Seluruhnya ditutupi peritonium mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen pada orang yang masih hidup. Tunica mukosa berbeda dengan mukosa dari usus kecil. terdapat banyak sel goblet pada mukosa colon. Berbeda dengan plica circularis pada usus kecil yang dibentuk oleh lapisan mukosa dan submukosa saja. Kolon Tranversum 6 . dan yang sangat menyolok adalah banyaknya folliculi lymphatici pada mukosanya. Colon ascendens terletak pada regio lateralis kanan. karena tidak mempunyai vili intestinales. Struktur appendix vermivoris hampir sama dengan struktur colon kecuali tidak adanya taenia coli. Tunica submukosa mengandung pembuluh darah plexus submucosus meissner dan folliculi lymphatici solitari. b. c. Seikum Di bawah seikum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing sehinggadisebut juga umbai cacing yang panjangnya 6 cm.

lateralis kiri dan inguinalis kiri. e.Merupakan bagian usus besar yang paling besar dan paling dapat bergerak bebas karena bergantung pada mesocolon. Kolon Sigmoideum Disebut juga colon pelvinum. vesica felle. Mesocolon transversum di belakang melekat pada dinding belakang abdomen di depan pancreas. Aldosteron merupakan suatu hormon yang terlibat dalam proses homeostasis cairan dan elektrolit.sakrum dan os. Produk sekretorik utama kolon adalah musin. serta kebawah juga dengan kelokan usus kecil. Terbentang mulai dari apertura pelvis superior “pelvic brim” sampai peralihan menjadi rectum di depan vertebrata S-3. Mesocolon ini melekat pada pinggir atas colon tranversum. kelokan usus kecil dan ren kiri. Penyerapan cairan dan elektrolit telah banyak diteliti dan merupakan fungsi utama kolon. panjangnya kurang lebih 40 cm dan berbentuk lengkungan huruf S. d. Tempat peralihan ini ditandai dengan berakhirnya ketiga taenia coli. berjalan ventrikel ke bawah dari flexura coli sinistra pada regio hypochondriaca kiri sampai pada fossa iliaca kiri untuk beralih menjadi colon sigmoidenum sehingga terletak pada regio hypochondriaca kiri. meningkatkan hantaran natrium kolon sebagai respons terhadap deplesi volume sehingga berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.3 Rektum Rektum ini merupakan kelanjutan dari kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus. Epitel kolon mampu menyerap hingga 5L air per hari. Kolon Descendens Panjangnya kurang lebih 25 cm. caput pankreas. Colon sigmoideum tergantung oleh mesocolon sigmoideum pada dinding belakang pelvis sehingga dapat sedikit bergerak bebas (mobile). epitel kolon juga dapat menyerap natrium dengan melawan gradien konsentrasi yang cukup besar. Rektum terletak dalam rongga pelvis di depan os. Ke belakang dengan pars descendens duodeni. Ke depan terdapat hubungan dengan omentum majus dan dinding depan abdomen. gaster dan lien. suatu konjugat glikoprotein kompleks yang berfungsi melumasi dan mungkin melindungi kolon.panjangnya 12cm.koksigis. sedang lapisan posterior dari omentummajus melekat pada pinggir bawah kolon transversum. yang ikut membentuk omentum majus. dimulai dari pertengahan sacrum sampai kanalis anus.1. Keatas colon transversum berhubungan dengan hepar. Panjang antara 40 – 50 cm. dan terletak 15 cm di atas anus. Selain itu. 2. 7 .

2. dan jaringan otot yang membentuk lipatan disebut kolumna rektalis. Rektum analis rekti: sebelah bawah ditutupi oleh serat-serat otot polos (muskulus sfingter ani internus dan muskulus sfingter ani eksternus).4 Anus Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Bagian bawah terdapat vena rektalis (hemoroidalis superior dan inferior) yang sering mengalami pelebaran atau varises yang disebut wasir (ambeyen). Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sfingter. jaringan mukosa. Tunika mukosa rectum banyak mengandung pembuluh darah. Kedua otot ini berfungsi pada waktu defekasi. yaitu: 1. jika terisi sisa makanan akan timbul hasrat defekasi.3 Rektum Rektum terdiri atas dua bagian. 8 . Rektum propia: bagian yang melebar disebut ampula rekti. dimana bahan limbah keluar dari tubuh.1. 2.1.Gambar 2.

definisi umum konstipasi adalah defekasi yang tidak lebih sering dari tiga hari sekali. 2. Sfingter levator ani: bagian tengah bekerja tidak menurut kehendak. tergantung pada konsistensi tinja. Sfingter ani internus: terletak di sebelah dalam bekerja tidak menurut kehendak. yang merupakan fungsi utama anus. Sejumlah kecil air ditinggalkan untuk melunakkan dan melumasi feses.1 Definisi Menurut Potter & Perry (2005). 3. frekuensi buang air besar dan kesulitan keluarnya tinja. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi.2 Konstipasi 2.1. beberapa orang percaya bahwa defekasi setiap hari adalah normal dan penting untuk mempertahankan kesehatan bagi mereka. Pengeluaran feses yang kering dan keras dapat menimbulkan nyeri pada rektum. Pada anak-anak normalnya hanya berak setiap 2–3 hari dengan tinja yang lunak tanpa kesulitan sehingga bukan disebut konstipasi. Menurut Chris Brooker (2008).4 Anus Fesesdibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar atau BAB). 2. sebaiknya dianggap sebagai konstipasi. Dinding anus diperkuat oleh sfingter ani yang terdiri atas: 1.2. Definisi konstipasi bersifat relatif. Sfingter ani eksternus: sebelah luar bekerja menurut kehendak. Apabila motilitas usus halus melambat. Akan tetapi. konstipasi merupakan gejala dan bukan penyakit. Diagnosa konstipasi harus berdasarkan pada kriteria yang di kenal sebagai kriteria ”Rome”: 9 . masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses diabsorpsi.Gambar 2. Namun berak setiap 3 hari dengan tinja yang keras dan sulit keluar. dan pola defekasi yang lain adalah menunjukkan konstipasi. Konstipasi adalah penurunan frekunsi defekasi yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering.

Penundaan pada Muara a. Mengejan minimal seperempat waktu defekasi. Perilaku menahan defekasi. Feses yang keras 25% dari BAB c. g. e. No Tipe 1. c. Rasa tidak tuntas 25% dari BAB d. Defekasi sebanyak dua kali atau kurang per minggu. Massa tinja yang keras yang dapat mengetuk kloset. Inkontinensia. d. Sensasi evakuasi yang tidak koplet minimal seperempat defekasi. 4. f. konstipasi umumnya terjadi karena kelainan pada transit dalam kolon atau pada fungsi anorektal sebagai akibat dari gangguan motilitas primer. Defekasi kurang dari 3 kali per minggu b. Paris Consensus on Childhood Constipation Terminology menjelaskan definisi konstipasi sebagai defekasi yang terganggu selama 8 minggu dengan mengikuti minimal dua gejala sebagai berikut: a. 3. Frekuensi tinja lebih besar dari satu kali per minggu. Massa tinja teraba di abdomen. penggunaan obat-obatan tertentu atau berkaitan dengan sejumlah besar penyakit sistemik yang mempengaruhi traktus 10 .1. Mengedan keras 25% dari BAB b. Konstipasi Fungsional Kriteria Dua atau lebih dari keluhan ini ada paling sedikit dalam 12 bulan : a. BAB kurang dari 2x per minggu 2. Hambatan pada anus lebih Rektum dari 25% BAB b.2. Feses berbentuk bongkahan dan/ atau keras minimal seperempat defekasi. Waktu untuk BAB lebih lama c. Nyeri saat defekasi Berdasarkan International Workshop on Constipation konstipasi dikategorikan dalam dua golongan : 1) Konstipasi fungsional 2) Konstipasi karena penundaan keluarnya feses pada muara rektisigmoid.2 Etiologi Secara patofisiologi. 2. Perlu bantuan jari-jari untuk mengeluarkan feses 2.

kelemahan otot yang menyeluruh dan mungkin pula stress serta ansietas. Pada pasien yang ditemukan dengan gejala konstipasi yang terjadi baru-baru saja. dilatasi kolon. Selain kemungkinan neoplasma kolon. kurang lembek.2. Faktor-faktor konstribusi lainnya dapat mencakup kurangnya serat dalam makanan. penyebab obstruksi kolon lainnya adalah striktur akibat iskemia kolon. diet dengan tinggi susu dan produk lemak susu dan rendah daging. benda asing atau striktur ani. berkurangnya tonus rectum serta sensibilitasnya. kemungkinan adanya lesi obstruktif kolon harus dicari. Orange Infeksi usus atau hijau Lendir Darah pada feses dan darah infeksi Konsistensi Berbentuk. 2. dan gangguan defekasi. Pada keadaan tanpa adanya lesi obstruktif kolon. Konstipasi dengan penyebab apapun dapat mengalami eksaserbasi akibat sakit kronik yang menimbulkan gangguan fisis atau mental dan mengakibatkan inaktivitas atau imobilitas fisis.2008). kecoklatan putih pemeriksaan diagnostik Bayi : menggunakan barium kekuningan Hitam Perdarahan bagian atas GI Merah Terjadi Hemoroid. Rektum). Gangguan inervasi parasimpatik pada kolon sebagai akibat dari lesi atau cidera pada vertebra lumbosakral atau nervus sakralis dapat menimbulkan konstipasi dengan hipomotibilitas. Pucat Malabsorbsi lemak. Dehidrasi. perdarahan bagian bawah GI(spt. agak kering motilitas usus akibat cair / kurangnya serat.3 Karateristik Feses Normal dan Abnormal KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL Karakteristik Normal Abnormal Kemungkinan penyebab Warna Dewasa : Pekat / Adanya pigmen empedu. penyakit divertikulum atau penyakit usus inflamatorik.Makan bit. dan laksantif abuse>>konstipasi 11 . latihan. Keras. penurunan lunak. gangguan motilitas kolon dapat menyerupai obstruksi kolon. gangguan emosi basah.gastrointestinal. Spasme sfingter ani akibat hemorhoid atau fisura yang nyeri juga dapat menghambat keinginan untuk defekasi (Harrison.

skatol. sel epitel. Kondisi obstruksi rectum bentuk pensil atau seperti benang Pus Mukus Parasit Darah Lemak dalam jumlah besar Benda asing Sumber bau tak enak yang keras. protein.Air Bentuk Silinder (bentuk rektum) Jumlah Tergantung diet (100 – 400 gr/hari) Aromatik : Tajam. dipengapedas ruhi oleh makanan yang dimakan dan flora bakteri. Infeksi bakteri Kondisi peradangan Perdarahan gastrointestinal Malabsorbsi Salah makan Lebih dari Hipomotility 6x dalam Hipermotility sehari Kurang dari sekali 12 . kekurangan absorpsi Mengecil. unsur-unsur kering cairan pencernaan (pigmen empedu dll) Peningkatan motilitas usus (mis. Bau menusuk hidung tanda terjadinya peningkatan kegiatan bacteria yang tidak kita kehendaki. Bau Unsur pokok Frekuensi Sejumlah kecil bagian kasar makanan yg tdk dicerna. hydrogen sulfide dan amine. akibat iritasi kolon oleh bakteri)>>diare. diproduksi oleh pembusukan proteinoleh bakteri perusak atau pembusuk. berasal dari senyawa indole. lemak. potongan bak-teri yang mati.

semniggu 2. Olahraga mendorong defekasi dengan menstimulasi saluran GI secara fisik sehingga individu yang sehari-harinya jarang bergerak akan lebih berisiko mengalami konstipasi.2. Pada individu dengan usia lanjut terjadi penurunan sfingter dan kekuatan otot polos. dan kegiatan individu. 2. Pada saat buang air besar feses sulit dikeluarkan atau dibuang. dan pengkonsumsian obat tertentu seperti diuretik. Selain itu. kebiasaan mengabaikan dorongan defekasi. kurangnya olahraga.4 Manifestasi Klinis Tanda dan gejala akan berbeda antara seseorang dengan seseorang yang lain. perut penderita dapat terlihat seperti sedang hamil). Frekuensi flatus meningkat disertai bau yang lebih busuk daripada biasanya. Perut terasa penuh dan bahkan terasa kaku karena tumpukan feses (jika feses sudah tertumpuk sekitar 1 minggu atau lebih. 2.2. terjadinya pengerasan pada massa feses juga dapat menghambat pengeluaran feses. Kebiasaan mengabaikan dorongan defekasi membuat feses yang seharusnya dikeluarkan menjadi tertahan di dalam kolon. Hal ini 13 . Terkadang mengalami mual bahkan muntah jika sudah parah. panas. diantaranya adalah usia. kadang-kadang harus mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan feses. 3. Bagian anus terasa penuh dan seperti terganjal sesuatu disertai sakit akibat bergesekan dengan feses yang panas dan keras. tetapi biasanya tanda dan gejala yang umum ditemukan pada sebagian besar atau kadang-kadang beberapa penderitanya adalah sebagai berikut: 1. 5. Hal ini berkaitan dengan banyaknya serat yang dikonsumsi. dan berwarna lebih gelap daripada biasanya serta jumlahnya lebih sedikit daripada biasanya (bahkan dapat berbentuk bulat-bulat kecil bila sudah parah). seperti olahraga.5 Patofisiologi Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan konstipasi. Menurunnya frekuensi defekasi dan meningkatnya waktu transit defekasi. Feses menjadi lebih keras. Individu dengan konstipasi mempunyai kesulitan untuk mengeluarkan feses apabila sfingter pada anus tidak dapat berelaksasi. akibatnya kolon terus menerus menyerap air yang terkandung dalam massa feses. dan dorongan defekasi yang diabaikan. konsumsi serat yang tidak adekuat. obat tertentu. 6. Adanya gangguan pada saluran GI dapat memicu terjadinya konstipasi yang berkaitan dengan usia. 4. antasida dan opiat.

Dibutuhkan lebih besar regangan rektum untuk menginduksi refleks relaksasi dari sfingter eksterna dan interna. pada mereka yang mengalami konstipasi dapat mengalami 3 perubahan patologis pada rektum : 1. kemudian akan menstimulasi otot dan pencernaan sehingga tekanan yang digunakan untuk pengeluaran feses menjadi berkurang (Wardlaw. Dis-sinergis Pelvis Terdapat kegagalan untuk relaksasi otot pubo-rektalis dan sfingter anus eksterna saat BAB.6 Penatalaksanaan 2.1 Penatalaksanaan Non-Farmakologis 1.2. Pemeriksaan secara manometrik menunjukkan peningkatan tekanan pada saluran anus saat mengejan. Apabila serat yang dikonsumsi seseorang cukup. Diskesia rektum juga dapat diakibatkan karena tanggapnya atau penekanan pada dorongan untuk BAB seperti yang dijumpai pada penderita demensia. sehingga dapat memanfaatkan refleks gastrokolon untuk BAB. gangguan sensasi rektum. 2004). Latihan usus besar Melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan perilaku yang disarankan pada penderita konstipasi yang tidak jelas penyebabnya. Diskesia Rektum Ditandai dengan penurunan tonus rektum. Sebaliknya.membuat feses menjadi lebih keras. Sering ditemukan pada kolon yang spastik seperti pada penyakit Irritable Bowel Syndrome. dilatasi rektum. Penderita dianjurkan mengadakan waktu secara teratur setiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya. Sensasi dan tonus dari rektum tidak banyak berubah pada usia lanjut. imobilitas. kotoran/feses akan menjadi besar dan lunak karena seratserat tumbuhan dapat menarik air. 2. DiSilvestro. dimana konstipasi merupakan hal yang dominan. atau sakit daerah anus dan rektum. Dianjurkan waktu ini adalah 5– 10menit setelah makan. Pada colok dubur pasien dengan diskesia rektum sering didapatkan impaksi feses yang tidak disadari karena dorongan untuk BAB sering sudah tumpul. Hampl. Diet secara sehat Peran diet penting untuk mengatasi konstipasi terutama pada golongan usia lanjut. 2. Serat meningkatkan massa dan berat feses serta 14 . dan peningkatan ambang kapasitas.6. Peningkatan Tonus Rektum Terjadi kesulitan mengeluarkan feses yang bentuknya kecil.2. 2. Data epidemiologis menunjukkan bahwa diet yang mengandung banyak serat mengurangi angka kejadian konstipasi dan macam-macam penyakit gastrointestinal lainnya. 3. misalnya divertikel dan kanker kolorektal.

antasida (aluminium). Sebaiknya hindari dari minum susu sapi dalam jumlah yang banyak. 15 . Contoh : Mg hidroksida. diharapakan cukup asupan cairan sekitar 6–8gelas per hari.mempersingkat waktu transit di usus. Hindari makanan yang terlalu berlemak e. 3. Cereal 3. Untuk mendukung manfaat serat ini. Biasanya dipakai obatobatan golongan pencahar. karena bisa mempengaruhi sistem hormone f. Jauhi stress. bila tidak ada kontraindikasi untuk asupan cairan. g. Pencahar Rangsang (stimulant) Mekanisme kerja : meningkatkan gerak peristaltik usus sehingga merangsang keluarnya feses. Metil selulosa. Olahraga Cukup aktivitas atau mobilitas dan olahraga membantu mengatasi konstipasi. Latihan otot rektum untuk BAB setiap hari. obat antidiare dari golongan narkotik dsb. Pencahar garam Mekanisme kerja : memberikan efek menahan cairan dalam usus. h. Bisacodyl.2. Berhati-hati penggunaan obat yang dapat mengakibatkan konstipasi seperti. sodium fosfat. i. terutama pada penderita dengan atoni pada otot perut. Latihan jasmani yang teratur dan regular bisa membantu menstimulasi peristalsis 2. Ada 4 tipe golongan obat pencahar : 1. Aloe vera. jalan kaki atau lari-lari kecil yang dilakukan sesuai dengan umur dan kemampuan pasien akan menggiatkan sirkulasi dan perut untuk memeperkuat otot-otot dinding perut.2 Penatalaksanaan Farmakologis Pengobatan pada klien dengan konstipasi harus ditujukan pada penyebab yang mendasari terjadinya konstipasi. Makan makanan yang berserat tinggi c. Pencahar pembentuk massa (bulking agent) Mekanisme kerja : meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan feses lebih mudah keluar. Fenolptalein 2. menarik air ke dalam usus besar sehingga lebih mudah dilalui feses. Contoh : Sennae. Berikut adalah terapi secara umum yang dapat dilakukan oleh penderita konstipasi : a.6. Contoh : Psyllium. zat besi. Konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran d. Minum air yang lebih b.

5. Pencahar emolien Mekanisme kerja : membuat massa feses menjadi lebih lembut sehingga lebih mudah keluar saat melalui usus dan rectum. Manometri rektal Uji manometri dikerjakan untuk mengukur tekanan pada rektum dan saluran anus saat istirahat dan pada berbagai rangsang untuk menilai fungsi anorektal.4. pembesaran organ. fisur. elektrolit. Barium enema pada dugaan adanya lesi obstruksi distal. Auskultasi antara lain untuk mendengarkan suara gerakan usus besar. anemia yang berhubungan dengan keluarnya darah dari rektum. adanya tumor atau aneurisma aorta. aktivitas kolinesterase meningkat. 6. Contoh : mineral oil. Pemeriksaan daerah anus memberikan petunjuk penting. adanya lesi selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan. Pemeriksaan intensif ini dikerjakan secara selektif setelah 3 – 6bulan jika pengobatan konstipasi kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat pengelolaan konstipasi tertentu. Pada perkusi dicari adanya pengumpulan gas berlebihan. misalnya glukosa darah. Foto polos perut Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adakah impaksi feses dan adanya massa feses yang keras yang dapat menyebabkan sumbatan dan perforasi kolon 3. atau adanya massa feses. 4. dan massa tumor di daerah anus yang dapat mengganggu proses BAB. kadar hormon tiroid. Palpasi lebih dalam dapat meraba massa feses di kolon. pada Hirschsprung dapat ditemukan tidak adanya sel-sel ganglion. fistula. Pemeriksaan Fisik Diawali dengan pemerikssaan rongga mulut meliputi gigi gerigi. minyak jarak. prolaps. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ini dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor-faktor resiko penyebab konstipasi. peregangan atau tonjolan. Selanjutnya palpasi pada permukaan perut untuk menilai kekuatan otototot perut. 2. Pemeriksaan Penunjang 1.2. Pemeriksaan radiologi 16 . 2. misalnya adakah wasir. Pemeriksaan daerah perut dimulai dengan inspeksi adakah pembesaran abdomen. 2. Biopsi.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. dan sebagainya. asites. normal atau berlebihan misalnya pada jembatan usus.

Hemoroid Hemoroid terjadi sebagai akibat kongesti vaskuler perianal yang disebabkan oleh peregangan. Dalam beberapa kasus. dimasukkan ke dalam rektum. 2. Penderita diminta mengejan untuk mengeluarkan pasta tersebut. Impaksi fekal Impaksi fekal terjadi apabila suatu akumulasi massa feses kering tidak dapat dikeluarkan. rektum mungkin tongkat keluar dari tubuh (tonjolan). Pada pasien dengan hipertensi arterial. dan terjadi penurunan sementara di dalam tekanan arteri. Hampir segera setelah periode hipotensi ini terjadi peningkatan pada tekanan arteri. Fisura anal Fisura anal terjadi akibat pasase feses yang keras melalui anus merobek lapisan kanal anal. Massa ini dapat diraba saat pemeriksaaan manual. Prolaps rectal Prolaps rektum adalah suatu kondisi di mana bagian dari dinding atau seluruh dinding rektum jatuh dari tempatnya. Mengejan saat defekasi yang mengakibatkan menuver Valsalva (mengeluarkan napas dengan kuat sambil glotis tertutup) mempunyai efek pengerutan pada tekanan darah arteri. cukup untuk menibulkan ruptur arteri utama di otak atau ditempat lain. Hal itu menyebabkan curah jantung menurun. 5. 4. 3. Dinilai kelainan anorektal saat proses berlangsung. 6. Kondisi ini dapat menyebabkan sekresi lendir dari anus. Uji ini memakai semacam pasta yang konsistensinya mirip feses. Kemudian penderita duduk pada toilet yang diletakkan dalam pesawat sinar-X. Selama mengejan aktif. Megakolon 17 . 2. aliran darah vena di dada untuk sementara dihambat akibat peningkatan tekanan intratorakal.8 Komplikasi 1. reaksi kompensasi ini dapat diperbesar dan puncak tekanan yang dicapai dapat berbahaya. mengidentifikasi kelainan anorektal dan mengevaluasi kontraksi serta relaksasi otot rektum.Pemeriksaan radiologis dapat dilakukan dengan sinedefecografi pada daerah anaorektal untuk menilai evakuasi feses secara tuntas.2. Hipertensi arterial Peningkatan tekanan arteri dapat terjadi saat defekasi. Tekanan ini cenderung menyebabkan kolaps pada vena besar di dada. tekanan ditingkatkan sementara melewati tingkat asalnya. Atrium dan ventrikel menerima sedikit darah dan akibatnya sedikit yang dikirimkan melalui kontraksi sistolik dari ventrikel kiri.

9 WOC Feses dalam colon sigmoid & rectum Penumpulan stimulasi saraf parasimpatis pada segmen sacrum korda ↓ motilitas. Gejalanya meliputi konstipasi. Tonus otot . Anestesi. Gaya hidup. dan distensi abdomen. inkontinensia fekal cair. psikologi. ↓ tonus otot spinal (sacral 3–4) Umur. Gangguan syaraf sensorik dan motorik Peristaltik terganggu 18 . Iritan. 2. Obatobatan.Megakolon adalah dilatasi dan atoni kolon yang disebabkan oleh massa kolon yang menghambat pasase isi kolon.2. Diet. Megakolon dapat menimbulkan perforasi usus. Cairan. Nyeri.

Jenis-jenis inkontinensia fekal yaitu : 1. 3. 19 .2009). Inkontinensia traumatik atau iatrogenik sfingter yaitu anus mengalami kerusakan. diet kurang serat. Inkontinensia neurologik. dan dilakukan tindakan lavemen (pengosongan isi perut). Inkontinensia neurogenik parsial adalah inkontinensia ringan yang dapat diatasi dengan latihan sfingter.Tidak sempurnanya pengosongan usus Spinchter gagal menanggapi sinyal defekasi MK: Konstipasi Sulit BAB Perut terasa begah / penuh Nafsu makan ↓ Konsistensi feses yang keras Dipaksa keluar dari anus Perlukaan pada anal ↓ intake makanan MK : nyeri MK : kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 2.Hal ini menyebabkan tinja (feses) bocor dari rektum pada waktu yang tak terduga. terdapat hipotoni atau atoni sfingteranus dan otot panggul serta hilangnya refleks anus. Inkontinensia fekal atau inkontinensia alvi adalah keadaan ketika individu mengalami perubahan kebiasaan defekasi yang normal yang dikarakteristikkan dengan pasase feses yang tidak disadari.3.1 Definisi Inkontinensia fekal (fecal incontinence) atau inkontinensia tinja adalah ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar. (Carpenito.3 Inkontinensia Fekal 2. 2.

Inkontinensia feses simtomatik Inkontinensia feses simtomatik dapat merupakan penampilan klinis dari macam-macam kelainan patologis yang dapat menyebabkan diare. tidak terjadi kontraksi intrinsik dari rektum pada orang dewasa normal. Kemampuan sensor menumpul dan tidak dapat membedakan antara flatus. Distensi rektum akan diikuti relaksasi sfingter interna.1989). menunjukkan berkurangnya unit-unit yang berfungsi motorik pada otot-otot daerah sfingter dan purbo rektal. Inkontinensia feses akibat hilangnya refleks anal Inkontinensia feses terjadi akibat hilangnya refleks anal. b. disertai kelemahan otot-otot seran lintang.3. karena adanya inhibisi atau hambatan dari pusat di korteks serebri. dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair. c. Keadaan ini mungkin dipermudah dengan adanya perubahan berkaitan dengan bertambahnya usia dari proses kontrol yang rumit pada fungsi sfingter terhadap feses yang cair. yaitu : a. Proses normal dari defekasi melalui refleks gastro-kolon. Beberapa menit setelah makanan sampai di lambung akan menyebabkan pergerakan feses dari kolon desenden ke arah rektum. dan seperti halnya kandung kemih. Inkontinensia feses akibat konstipasi obstipasi Inkontinensia feses akibat konstipasi obstipasi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan sumbatan atau impaksi dari masa feses yang keras (skibala).1987. d. cairan. Parks. Akibatnya feses yang cair akan merebes keluar.1987). Hal ini dapat berakibat inkontinensia feses pada peningkatan tekanan 20 . Keadaan ini menyebabkan hilangnya refleksi anal dan berkurangnya sensasi pada anus disertai menurunnya tonus anus. Inkontinensia feses neurogenik Inkontinensia neurogenik terjadi akibat gangguan fungsi menghambat dari korteks serebri saat terjadi regangan/distensi rektum. kane dkk. Skibala yang terjadi dapat juga menyebabkan iritasi pada mukosa rektum dan terjadi produksi cairan dan mukus yang selanjutnya melalui sela-sela dari feses yang impaksi akan keluar dan terjadi inkontinensia feses.2. atau feses.2 Etiologi Penyebab inkontinensia fekal dapat dibagi dalam 4 kelompok (Brocklehurst dkk. Henry dan Swash dalam penelitiannya (seperti dikutip oleh Brocklehurst dkk. Penyebab yang paling umum dari diare pada usia lanjut adalah obat-obatan antara lain yang mengandung unsur besi atau memang akibat obat pencahar. Masa feses yang tidak dapat keluar ini akan menyumbat lumen bawah dari anus dan menyebabkan perubahan dari besarnya sudut ano rektal.

intraabdomen dan prolaps dari rektum. Inkontinensia mendesak ( urgensi ) Inkontinensia ini dihubungkan dengan keinginan yang kuat dan mendesak untuk berkemih dengan kemampuan yang kecil untuk menunda berkemih. 21 .3 Klasifikasi Inkontinensia Fekal 1. Hal tersebut lebih sering terjadi pada wanita karena kehilangan tonus otot dasar panggul yang dihubungkan dengan melahirkan anak. latihan / olahraga. kandung kemih hampir penuh sebelum kebutuhan utnuk berkemih dirasakan dan sebagai akibatnya sejumlah kecil sampai sedang urine keluar sebelum dapat mencapai toilet. prolaps pelvis seperti sistokel. Residu urine setelah berkemih lebih dari 150 sampai 200 ml. batuk. Berkemih dapat dilakukan tetapi orang biasanya berkemih sebelum sampai ke toilet. Kapasitas berlebihan menyebabkan tekanan kandung kemih lebih besar daripada tekanan resistensi sfingter uretra. prostatektomi adalah salah satu penyebabnya 2. Inkontinensia karena aliran yang berlebihan disebabkan oleh gangguan transmisi saraf dan oleh adanya obstruksi pada saluran keluarnya urine seperti yang terjadi pada pembesaran prostat atau impaksi fekal. atau perubahan posisi dengan bangun dari kursi atau berbalik dapat menyebabkan kehilangan sejumlah kecil urine tanpa disadari atau kebocoran urine dari kandung kemih. Penyebabnya dihubungkan dengan ketidakstabilan otot trusor (aktivitas yang berlebihan) oleh otot itu sendiri atau yang dihubungkan dengan kondisi seperti sistitis. cedera spinal pada bagian suprasakral. Pengelolaan inkontinensia sebaiknya diserahkan pada ahli proktologi untuk pengobatannya. Hal ini juga disebut hipnotik atau atonik kandung kemih. Sensasi urgensi tersebut disertai dengan frekuensi. dan stroke. Pada inkontinensia urgensi. 3. obstruksi aliran keluar. Mereka tidak merasakan adanya tanda untuk berkemih. Inkontinensia Overflow Inkontinensia karena aliran yang berlebihan (overflow) adalah hilangnya urine yang terjadi dengan distensi kandung kemih secara berlebihan yang terjadi pada 7 sampai 11% pasien inkontinensia. karena otot detrusor tidak berkontraksi sehingga terjadi urine yang menetes dan penurunan pancaran urine saat berkemih. Sedangkan pada pria. tertawa. Antara 40 – 70% inkontinensia pada lansia adalah jenis inkontinensia urgensi. Inkontinensia stress Terjadi akibat adanya tekanan di dalam obdomen yaitu peningkatan intra badomen secara tiba-tiba yang menambah tekanan yang memang telah ada pada kandung kemih. dan kelemahan sfingter.3. 2. uretra yang lebih pendek secara atomis. bersin. Oleh Karena itu.

akibatnya terjadi keterlambatan pengosongan isi lambung. 4. Namun demikian. Selain itu. Inkontinensia fungsional Inkontinensia fungsional disebabkan oleh faktor-faktor selain dari disfungsi sistem urinaria. Dalam hal ini. Kemampuan rasa ingin berkemih dan berhenti berkemih tidak ada. beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang menurun. bisa berupa spinal. Struktur sistem urinaria utuh dan fungsinya normal. Berkurangnya sekresi asam dan pepsin akan menurunkan absorbsi besi. kelemahan fisik atau imobilitas. dan gangguan pencernaan. tekanan dari urine di dalam kandung kemih mengatasi obstruksi dan terjadi episode inkontinensia. psikiatrik. seperti demensia.3.3. Inkontinensia reflex Akibat dari kondisi sistem saraf pusat yang terganggu. atau muskuloskeletal. nyeri ulu hati. pengosongan kandung kemih dipengaruhi oleh reflex yang dirangsang oleh pengisian. Demensia. Normalnya fungsi traktus gastrointestinal biasanya masih tetap adekuat sepanjang hidup. dan hambatan lingkungan seperti jarak kamar mandi yang jauh adalah salah satu faktorfaktor ini. Absorbsi nutrien di usus halus nampaknya juga berkurang seiring dengan bertambahnya usia. sfingter gastroesofagus gagal berelaksasi mengakibatkan pengosongan esophagus terlambat. sampai keluarnya feses yang sudah berbentuk.5 Patofisiologi Pada inkontinensia. 22 . Keluhan utama biasanya berpusat pada perasaan penuh. c Kram abdomen dan distensi d Kemungkinan impaksi fekal 2. Milksi normal tidak mungkin terjadi. tetapi faktor eksternal mengganggu kontinensia. gejala yang timbul berupa merembesnya feses cair yang disertai dengan buang gas dari dubur atau penderita sama sekali tidak dapat mengendalikan keluarnya feses. Hal ini terjadi saat terdapat faktor yang membatasi individu untuk kontinensia.4 Manifestasi Klinis a Rembesan feses yang terus menerus dari rectum b Ketidakmampuan mengenali kebutuhan defekasi. Akhirnya. gangguan psikologis lain. Peristaltik di esophagus kurang efisien pada lansia. Fungsi hepar. sekali atau dua kali perhari dipakaian atau tempat tidur. namun masih tetap adekuat.Kondisi ini juga terjadi saat aktivitas kandung kemih tidak ada dan muncul karena adanya beberapa obstruksi yang menahan urine untuk keluar. dan pankreas tetap dapat dipertahankan. Hal ini biasanya terjadi pada prostatism dan konstipasi fekal. kandung empedu. kalsium dan vitamin B12. Motalitas gaster juga menurun. 2. 5.

d. berupa penambahan jumlah serat. Latihan fisik Latihan fisik dapat meningkatkan motilitas gastrointestinal dan mempercepat fungsi usus. klien akan terbiasa defekasi dengan teratur. 2001). juga berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan kebocoran fesesdiantaranya adalah obat anti sekresi. Pemberian cairan Pemberian cairan pada klien dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum: A. Terapi medis Terapi medis termasuk obat-obatan dan tindakan tertentu yang dapat mengurangi frekuensi inkontinensia dan kandungan feses. Dan berilah ketenangan pada saat melakukan program defekasi. obatanti spasmolitik. Ajarkan teknik defekasi yang efektif Berikan privasi dan lingkungan yang tidak menyebabkan stress untuk melindungi rasa malu klien saat melakukan defekasi. 2.6 Penatalaksanaan Pasien yang menderita inkontinensia fekal harus dikaji penyebab masalah yang mendasari penyakitnya dengan cermat.meski terdapat inefisiensi dalam absorbsi dan toleransi terhadap lemak. c. b. Posisikan klien yang mampu secara fungsional dengan tegak lurus atau duduk. dan obat antibiotik. Jika masalahnya adalah tonus sfingter anal yang buruk. (Brunner & Suddart. Pelatihan kembali defekasi merupakan terapi pilihan. Latihan pelvis di atas lantai dapat meningkatkan kekuatan otot sfingter anus eksternal. Dengan adanya pola defekasi.3. 1. Cairan peroral 23 . kemudian ganti ke program alternatif harian (pagi hari dan sore hari). latihan otot-otot panggul dapat membantu mengoreksinya. Lansia dapat diajarkan untuk mengontraksikan dan merilekskan sfingter anal dalam program latihan yang teratur untuk menguatkan otot-otot tersebut. 2. bila klien tidak mampu secara fungsional(missal: kuadriplegia) posisi yang miring adalah miring kiri. b. Penatalaksanaan Holistik a. Pemberian diet tinggi serat Melakukan perubahan pola makan. Hal ini akan membuat klien merasa lebih aman untuk melakukan defekasi. Rencanakan waktu yang tepat dan konsisten untuk eliminasi Buat jadwal defekasi harian selama 5 hari atau sampai terbentuk pola defekasi. Penatalaksanaan Medis a.

7 jam kemudian 127 ml/Kg BB oralit per oral. kemudian 125 ml/Kg BB/oral. ii. Untuk anak lebih dari 5 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg. 16 jam berikutnya 125 ml/Kg BB oralit per oral bila anak mau minum. Adapun hal yang perlu diperhatikan adalah memberikan ASI. B. b.bila anak tidak mau minum dapatditeruskan dengan 2A intra vena 2 tetes/Kg BB/menit atau 3 tetes/Kg BB/menit. b. Dehidrasi berat.teruskandengan 2A intra vena 2 tetes/Kg BB/menit atau 3 tetes/ Kg BB/menit. c. 1 jam pertama 30 ml/Kg BB/jam atau 8 tetes/Kg BB/menit (infus set 1 ml =15 tetes) atau 10 tetes/Kg BB/menit (1 ml = 20 tetes). iii. K dan Glukosa. Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 sampai 10 kg: a. 1 jam pertama 20 ml/Kg BB/jam atau 5 tetes/Kg BB/menit (infus set 1 ml=20 tetes). Cairan parenatal Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau berat ringannya dehidrasi yang diperhitungkan dari seberapa banyak kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badan: i. cairan diberikan peroral berupa cairanyang berisikan NaCl dan Na. memberikan bahan 24 . b.Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang. Untuk diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan atau sedang kadar natrium 50–60Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. 7 jam berikutnya 12 ml/Kg BB/jam = 3 tetes/kg BB/menit (infus set 1 ml =20 tetes). Diatetik (pemberian makanan) Pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan. Dehidrasi ringan: satu jam pertama 25 – 50 ml/KgBB/hari. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumahsakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut. HCO. Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 sampai 15 kg. Dehidrasi sedang: satu jam pertama 50 – 100 ml/Kg BB/oral. 16 jam berikutnya 105 ml/KgBB oralit per oral C. 1 jam pertama 40 ml/Kg BB/jam = 10 tetes/kg BB/menit (infus set 1 ml =15 tetes atau 13 tetes/kg BB/menit). kemudian 125 ml/Kg BB/hari. a. a.

mineral dan makanan yang bersih. Namun. Biofeedback dapat berhasil meskipun tidak semua studi telah mengkonfirmasi manfaatnya. Stimulasi saraf sakral Stimulasi listrik dapat menghilangkan kebocoran dalam 40 – 75% dari orang-orang dengan anal otot sfingter utuh. Hal ini tidak sepenuhnya jelas bagaimana stimulasi saraf sakral bekerja. pengobatan ini murah. Orang-orang yang paling mungkin mendapatkan keuntungan dari jenis terapi ini adalah orang yang dapat mengontraksi otot sfingter anal dan memiliki sensasi saat terjadipergerakan usus. Selama pelatihan biofeedback. vitamin. Beberapa orang mengalami komplikasi dari operasi ini. Hal ini biasanya dilakukan dalam penyedia layanan kesehatan atau kantor terapis fisik. E. dan memiliki sedikit atau tidak ada efek samping. Perangkat 25 . Stimulasi listrik Anal Stimulasi listrik melibatkan penggunaan arus listrik ringan untuk merangsang kontraksi otot sphincter anus yang dapat memperkuat otot-otot dari waktu ke waktu. Pengaruh biofeedback mulai menurun enam bulan setelah pelatihan awal. Bulking agent suntik Gel disuntikkan ke dalam sfingter anal tepat di bawah lapisan yang dapat membantu membangun jaringan di anus. Dengan pembedahan elektroda dimasukkan dekat saraf di sakrum (low back). sehingga mempersempit pembukaan anus dan memungkinkan pasien untuk lebih mampu mengontrol sfingter anal mereka. Pengalaman dengan pendekatan ini terbatas.D. F. makanan yang mengandung kalori. hanya meningkatkan sensasi di daerah anal. G. seperti nyeri dan infeksi. sensor yang digunakan untuk membantu orang mengidentifikasi dan mengontraksikan otot sphincter anus untuk membantu mempertahankan kontinensia.Pengobatan ini umumnya diperuntukkan bagi orang dengan sfingter anal utuh atau yang belum dapat diperbaiki dengan perawatan lainnya. Sebuah uji coba terkontrol mengatakan bahwa stimulasi listrik hanya memiliki manfaat sederhana. Biofeedback Biofeedback adalah cara yang aman dan noninvasif pelatihan kembali otot. noninvasif. dan pelatihan ulang dapat membantu. protein. Arus listrik diterapkan menggunakan probe kecil yang dimasukkan ke dalam rektum pasien selama beberapa menit setiap hari selama 8 sampai 12 minggu.

otot dapat ditransfer dari daerah lain dari tubuh. 2. setelah pengobatan lain gagal. biasanya kaki atau pantat. Pemeriksaan rectum digital Dapat menyingkirkan kemungkinan impaksi fekal b. Sebuah alternatif untuk transfer otot adalah manset anal sintetis yang dapat digelembungkan untuk menahan kotoran dan mengempis untuk memungkinkan gerakan usus. Variasi pada prosedur memungkinkan orang untuk mengontrol pengosongan usus.8 Komplikasi 1. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kebocoran tinja dari rektum. Operasi bedah transfer otot dapat mengembalikan kontinensia pada 73% orang. dan pada pembedahan ditempatkan di sekitar lubang anus. Kolostomi biasanya pilihan terakhir. Pada orang yang mengalami kerusakan sfingter dapat diperbaiki.7 Pemeriksaan Diagnostik a. Komplikasi dapat terjadi bahkan pada saat operasi ini dilakukan oleh para ahli. Perbaikan dengan bedah dapat mengurangi atau mengatasi inkontinensia. 2. H. Bedah menyembuhkan inkontinensia tinja dalam 80 persen wanita dengan persalinan yang berhubungan dengan cairan sfingter. I.ini telah disetujui US Food and Drug Administration untuk penggunaan klinis pada tahun 2011 di usia pasien 18 tahun dan ke atas. Otot-otot ini meniru tindakan sphincters yang rusak. Bedah Beberapa prosedur bedah yang berbeda dapat membantu meringankan inkontinensia fekal. terutama bagi wanita yang mempunyai cairanberlebih dalam sfingter anal eksternal saat melahirkan dan pada orang dengan cedera sfingter akibat pembedahan atau penyebab lain. Gangguan Psikologis 26 .3. jenis prosedur ini hanya dilakukan di pusat-pusat khusus. Namun. Kolostomi Kolostomi adalah prosedur pembedahan dengan usus besar dilekatan pada dinding perut.3. Hal ini juga dapat dipertimbangkan untuk orang dengan gejala tertahankan yang tidakdapat diberikan terapi lain. Kolonoskopi Diperlukan untuk mendeteksi gangguan usus lainnya. Kotoran dikumpulkan dalam kantong yang cocok pada kulit.

gatal.9 WOC Feses dalam kolon sigmoid & rektum Stimulasi saraf parasimpatis pada segmen sacrum korda spinal (sacral 2 – 4) Stimulasi otot polos longitudinal & sirkulasi mesentrikus ↑ kontraksi preistaltik rektum Relaksasi spinchter anus interna Kelemahan Relaksasi spinchter anus eksterna Inkontinensia Fekal Melakukan fekal tanpa rasa sadar Perasaan tidak nyaman Bising usus lebih dari 15x / menit 27 . Hilangnya harga diri yang terkait dengan kehilangan kontrol atas fungsi tubuh seseorang dapat menyebabkan frustrasi. kemarahan bahkan depresi. ulang kontak dengan kotoran dapat mengakibatkan rasa sakit. 2.Inkontinensia fekal bisa menjadi sumber rasa malu.3. dan berpotensi terdapat luka yang membutuhkan perawatan medis. Iritasi kulit Kulit di sekitar dubur lembut dan sensitif. 2.

pendidikan. bangsa. Seperti pada masyarakat Padang yang makanan khasnya daging dan santan dengan kandungan serat rendah. alamat. Salah satunya adalah penurunan fungsi saraf yang mengatur motilitas usus. . jenis kelamin. lansia wanita lebih sering mengalami konstipasi akibat dari kandungan lemak yang lebih banyak pada wanita.Pendidikan: Tingkat pendidikan juga mempunyai pengaruh pada kejadian konstipasi. Biodata : nama. Seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang makanan yang sehat maka mereka akan berusaha mengkonsumsi makanan yang tinggi serat untuk mencegah terjadinya konstipasi.1 Pengkajian Pengkajian meliputi: a.Suku bangsa : Kebiasaan di suatu daerah.Jenis kelamin :Pada umumnya. terutama pada pola makan juga mempengaruhi terhadap timbulnya konstipasi. mereka lebih beresiko mengalami konstipasi.1.Psikologi : Rasa malu ↑ Defekasi lebih dari 10x dalam sehari Laju pernafasan denyut nadi ↑ Mengeluarkan banyak produksi keringat MK : ansietas MK : Resiko kerusakan integritas kulit MK : ketidakseimbang an nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS MK : Kekurangan volume cairan & elektrolit 3. suku. pekerjaan.usia. . Fungsi motilitas usus dan kolon mulai berkurang pada lansia sehingga lansia sering kali mengalami konstipasi. 28 . .Usia : Seseorang dengan usia di atas 40 tahun (dapat dikategorikan lansia) mulai mengalami penurunan fungsi organ tubuh (degenerasi). . 1 Asuhan Keperawatan Konstipasi 3.

jantung. f. Pola eliminasi Sulit BAB dan keras. Riwayat penyakit keluarga : pada umumnya konstipasi bukan penyakit herediter. Perut terasa begah 5. Riwayat Penyakit dahulu: CA kolon. pasien lemah. B1 (Breath) : sesak napas.Palpasi dilakukan pada permukaan perut untuk menilai kekuatan otot-otot perut. Keluhan utama : kesulitan BAB. 3. Pola Nutrisi Klien makan makanan yang kurang serat. karena seseorang dengan tingkat stress yang tinggi cenderung melampiaskan dengan makan makanan yang memicu timbulnya kostipasi. e. b. IBS.Inspeksi untuk melihat adakah pembesaran abdomen. RR meningkat. Pekerjaan: Pekerjaan dengan tingkat stress yang tinggi juga dapat memicu timbulnya konstipasi. .- b. Riwayat Penyakit Sekarang : sulit BAB. Dilanjutkan dengan memeriksa bagian perut dimulai dengan : . 4. B3 (Brain) : nyeri pada area rektal d. 29 . B5 (Bowel) : nafsu makan turun. c. Pola Tidur/ Istirahat Klien mengeluh tidak bisa tidur dan sering terjaga di malam hari karena perasaan tidak nyaman. g. peregangan atau tonjolan. tachycardi. BB turun. TD meningkat. 2. Konsep diri : Pemeriksaan Fisik a. B2 (Blood) : denyut jantung meningkat. Pola koping Pola koping klien kurang adekuat 6. Pemeriksaan diawali dengan memeriksa rongga mulut yang meliputi gigi-geligi. Pola aktivitas Klien merasa aktivitasnya terbatas akibat dari ketidaknyamanan pada area abdomen yang penuh dengan kotoran yang sulit dikeluarkan. Palpasi lebih dalam dapat meraba massa feses di kolon. Pola Kebiasaan: 1. adanya lesi selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa mengecap dan proses menelan. d. hipoksia (dapat terjadi pada klien dengan riwayat jantung) c. adanya penggunaan otot bantu pernapasan inspirasi. perut terasa begah. B4 (Bladder) : e. adanya tumor atau aneurisma dari aorta.

Tonus rektum b. fistula atau massa tumor di daerah anus yang dapat mengganggu proses BAB. Adakah timbunan massa feses e. Adakah darah.Auskultasi dilakukan untuk mendengarkan suara gerakan usus besar yang normal atau berlebihan.1. fisura. atau adanya massa feses. misalnya adakah wasir. . B6 (Bone): malaise 3.- Perkusi untuk memeriksa adakah pengumpulan gas yang berlebihan. Tonus dan kekuatan sfingter c. prolaps. Kekuatan otot pubo-rektalis dan otot-otot dasar pelvis d. Colok dubur dapat memberikan informasi tentang : a. Pemeriksaan colok dubur harus dikerjakan dengan tujuan antara lain untuk mengetahui ukuran dan kondisi rektum serta besar dan konsistensi feses. pembesaran organ. Pemeriksaan daerah anus memberikan petunjuk penting.2 Analisa Data 30 . f.

Nyeri b.3 Diagnosa Keperawatan 1.d menurunnya intake makanan Tujuan: setelah dilakukan perawatan 2x24 jam klien dapat menunjukkan status gizi baik Kriteria Hasil: a) Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan 31 .Data DS: Klien tidak nafsu makan DO: 1. Resiko infeksi b. Tonus otot menurun DS: Klien mengungkapkan secara verbal atau dengan isyarat DO: 1. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. Perubahan autonomik dari tonus otot 2.d perlukaan pada anal 3.1. Konjungtiva dan membran mukosa pucat 3.d perlukaan pada anal 4.1.d menurunnya intake makanan 2. Ketidakefektifan pola napas b.d peningkatan tekanan area toraks 3. Bising usus tidak terdengar 2. Perubahan nafsu makan dan perilaku menjaga dan melindungi DS: Klien mengeluh nyeri pada bagian-bagian tubuh tertentu DO: Suhu meningkat Etiologi Sulit BAB Perut terasa begah / Penuh Masalah Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nafsu makan menurun Menurunnya intake makanan konsistensi feses yang keras Nyeri dipaksa keluar dari anus Luka pada daerah anal Konsistensi BAB yang keras keluar dengan pengejanan yang kuat Resiko infeksi Luka pada daerah anal 3. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.4 Intervensi dan Rasional 1.

Klien dan keluarga dapat memahami diet seperti apa yang harus dilakukan setelah keluar dari rumah sakit 10. 3. 3. 2. Pasien merasa nyaman dengan makanan yang dibawa dari rumah dan dapat meningkatkan nafsu makan pasien. yang disukai atau tidak disukai. Dengan pemberian porsi yang besar dapat menjaga keadekuatan nutrisi yang masuk. Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien 6. dan glukosa dalam darah 9. Pastikan pola diet biasa pasien. 6. Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan. Menjaga keadekuatan asupan nutrisi yang dibutuhkan. seperti Hb. Resiko infeksi b. 5. Kaji turgor kulit pasien 8.d perlukaan pada anal Tujuan: Faktor resiko infeksi akan hilang Kriteria Hasil: a) Terbebas dari tanda atau gejala infeksi b) Menunjukkan hygiene pribadi yang adekuat c) Mengindikasikan status gastrointestinal pernapasan genitorinaria dan imun dalam batas normal 32 . Untuk dapat mengetahui tingkat kekurangan kandungan Hb. dan kalori diperlukan selama perawatan. Menjaga pola makan pasien sehingga pasien makan secara teratur 2. 11. 4. Observasi 5. Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah. protein. Pantau nilai laboratorium. Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan 8. Pastikan diet memenuhi kebutuhan pernapasan sesuai indikasi. albumin. Pantau masukan dan pengeluaran serta berat badan pasien secara periodik. Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi Rasional 1. Klien terbiasa makan dengan terencana dan teratur. 2. albumin.b) Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal c) Nilai laboratorium dalam batas normal d) Melaporkan keadekuatan tingkat energi Intervensi Mandiri 1. Tinggi karbohidrat. 7. Tawarkan makanan porsi besar di siang hari ketika nafsu makan tinggi Kolaborasi 4. Ajarkan metode untuk perencanaan makan 11. Health Edukasi 10. Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asupan makanan 7. dan kadar glukosa darah 9.

Dapat melakukan pencegahan sebelum terjadi infeksi lebih lanjut 2. Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang Kolaborasi 3. Dapat melakukan pencegahan dini terhadap terjadinya infeksi 5. Instruksikan untuk menjaga higine pribadi Rasional 1. Health edukasi 8. Nyeri b. Dapat menghindari faktor-faktor yang mungkin dapat memperparah infeksi 6. Pantau hasil laboratorium 7. Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi 6.Intervensi Mandiri 1. Pantau tanda atau gejala infeksi 5. Hasil laboratorium dapat menentukan sejauh mana infeksi yang telah terjadi 7. Pemberian antibiotik dapat mengurangi infeksi 4. Agar tidak memperparah terjadinya infeksi 3. Klien dapat menghindari resiko infeksi secara pribadi 8. Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi faktor di lingkungan 2. Perlindungan terhadap infeksi 3. Berikan terapi antibiotik Observasi 4.d perlukaan pada anal Tujuan: menunjukkan nyeri telah berkurang Kriteria Hasil: a) Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan b) Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil c) Melaporkan kesehatan fisik dan psikologis d) Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri e) Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan non-analgesik secara tepat 33 .

Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensif 8. Penyakit usus. Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas dari nyeri dengan melakukan pengalihan melalui televisi. lambung. Health education 9. Perhatikan kemungkinan interaksi obat-obat dan obat penyakit pada lansia Kolaborasi 4. Gunakan lembar alur nyeri 7. Hati-hati dalam pemberian anlgesik opiat 3. atau sesuatu yang dirasa nyaman untuk pasien 2. Klien dapat memahami apa yang harus dilakukan saat merasakan nyeri 9. adanya riwayat tumor pada organ lain.2. peritonitis sering terjadi dalam rentang waktu yang relative lama dan berulang. Analgesik dapat digunakan untuk mengatasi nyeri 5. Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika pengurang nyeri kurang tercapai 10. baik pada diri sendiri maupun dari keluarga. d. Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyaman pada skala 0 – 10 6. Identitas Umur : inkontinensia fekal sering terjadi pada manusia lanjut usia dan sebagian pada balita dan anak-anak. Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek analgesik opiat 3. esophagus. Berikan informasi tentang nyeri Rasional 1. Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien 6. radio. 2 Asuhan Keperawatan Inkontinensia Fekal 3. hepar.Intervensi Mandiri 1. Pada beberapa kasus sering dilaporkan keluhan infeksi pada anus. Mengetahui karakteristik nyeri 7. Pemeriksaan Fisik B1 (Sistem Pernafasan) 34 . Agar pasien tidak merasa cemas 3. Riwayat penyakit dahulu Predileksi penyakit saluran pencernaan lain seperti diare. Hati-hati dalam pemberian obatobatan pada lansia 4. Jenis Kelamin : Laki-laki memiliki resiko sama wanita b. Kolaborasi pemberian analgesik Observasi 5. Perawat dapat melakukan tindakan yang tepat dalam mengatasi nyeri klien 10. c. Riwayat masuk Keluhan utama yang sering muncul saat masuk adalah adanya ketidakmampuan mengontrol eliminasi fekal. Klien dapat mengalihkan perhatian dari nyeri 2. Agar mengetahui nyeri secara spesifik 8. serta kelainan organ pencernaan bawaan dapat memperberat klinis penderita.1 Pengkajian a. konstipasi.

cepat lelah (Muskuloskeletal) Data Subyektif : . B2 (Sistem Kardiovaskular) Data Subyektif : Sakit kepala Data Obyektif : Denyut nadi meningkat. sianosis. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan. pernapasan diafragma dan perut meningkat. penggunaan otot bantu pernapasan. Tanda vital tindakan kekurangan volume cairan dalam batas keperawatan cairan dan menyebabkan normal (N: 60 selama 3x24 elektrolit. terdengar stridor. terapi 4. Penurunan dilakukan dan gejala sirkulasi 1. penurunan kesadaran Data Obyektif : Letargi B4 (Sistem Perkemihan) Data Subyektif :Data Obyektif : Produksi urine menurun / normal B5 (Sistem Pencernaan) Data Subyektif : Mual. B3 (Sistem Persyarafan) Data Subyektif : Gelisah. laju pernapasan meningkat. flail chest. batuk ( Produktif / Non-produktif ). banyak keringat. (Muskuloskeletal) Data Obyektif : Kulit pucat. Memantau mukosa dan Suhu: 36 keseimbangan intake dan pemekatan 37. Timbang berat dipertahankan dini secara badan setiap memungkinkan ). urin. kadang muntah Data Obyektif : Konsistensi feses lunak s/d encer. suhu kulit meningkat / normal. Memantau tanda 1. maksimal hari. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare. frekuensi defekasi lebih dari 10x per hari. Deteksi 16 – 24 x/mnt 3. kualitas darah menurun. bising usus lebih dari 15x per menit. nyeri otot / normal.2.2 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan No Diagnosa 1. Turgor 35 . kekeringan – 120x/mnt. RR: dan elektrolit output. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). B6 (Sistem Muskuloskeletal dan Integumen) Data Subyektif : Lemah. Menganjurkan pergantian 2. (Integumen) 3. Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Setelah 1.50C. dada tertekan. nyeri dada berulang : Hiperventilasi.(Integumen) Data Obyektif : Tonus otot menurun. asidosis ringan / berat. pembuluh darah vasokonstriksi. jam 2.Data Subyektif Data Obyektif : Sesak nafas.

c Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit elastik. keluaran tidak dengan adekuat untuk frekwensi 1 b Cairan parenteral (IV membersihkan kali perhari. kehilangan antispasmoliti cairan. mata 5. Kolaborasi: a Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit.keluarga untuk cairan segera memberi minum untuk banyak pada memperbaiki klien. b Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat. 5. antibiotik) penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan sebanyak 1 lt 4. k. Ca). BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi). 2 .3 lt/hr. c Obat-obatan : 3. line) sesuai sisa dengan umur metabolism. a 36 . Konsistensi serum glomerulus BAB lembek. sebanyak defisit cairan. elektrolit (Na. membran mukosa bibir lembab. 2. Dehidrasi Kolaborasi: dapat Pemeriksaan meningkatkan laboratorium laju filtrasi 3. Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral. tidak cowong. membuat K. Mendeteksi (antisekresin.

Nafsu makan 1. Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan Mengandung zat yang diperlukan untuk proses pertumbuhan 37 . antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin. Memonitor intake dan output dalam 24 jam. dingin). 2. 3. keadaan hangat. yang tak sedap atau sampah. dan sajikan makanan dalam 4. kebutuhan berlemak dan nutrisi dapat air terlalu terpenuhi. Setelah 1. kegiatan yang berlebihan. Situasi yang nyaman dan rileks dapat merangsang nafsu makan. jauh dari bau 3. BB menjelaskan perawatan meningkat tentang selama atau normal pembatasan 1x24jam di sesuai umur diet (makanan rumah sakit berserat tinggi. panas atau 2. Memberikan jam istirahat (tidur) serta kurangi 5. Menciptakan lingkungan yang bersih. 4. lemak. Ketidakseimba ngan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan output. dilakukan meningkat dan tindakan 2. Berkolaborasi dengan tim kesehtaan lain : a Terapi gizi : Diet TKTP agar seimbang. antispasmolitik untuk proses absorbsi normal.air terlalu panas atau dingin dapat merangsang iritasi lambung dan saluran usus. 5. Mendiskusikan 1. Serat tinggi.2. Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan.

Melancarkan mendemonstr mengganti vaskularisasi asikan pakaian bawah dan mengurangi perawatan serta alasnya). Melibatkan 1. Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. 4. fungtio leasa) 3. pusat pengatur tanda infeksi panas untuk (rubur. Mendiskusikan 1. Tidak terdapat antipirektik. tubuh (adanya 37. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasif. mampu basah dan 3. Deteksi dini tubuh setiap 2 terjadinya 1. dan 2. 38 . pemberian 2. kemerahan. 1. iritasi. Mengatur posisi lama sehingga dengan baik tidur atau duduk tak terjadi dan benar dengan selang iskemi dan waktu 2 – 3jam. Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam. Mau menerima 1. Memonitor suhu 1. 2. penekanan yang perianal 3. dolor. Tidak terjadi pentingnya perkembangbiak iritasi: menjaga tempat an kuman. Keluarga perawatan kelebaban dan perianal (bila keasaman feses. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare. Suhu tubuh jam. perawatan. tindakan perawatan. Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekuensi BAB. 2. susu b Obat-obatan atau vitamin 1. melibatkan diharapkan oleh keluarga dalam karena 2. Kebersihan dan menjelaskan mencegah 1.3. klien mampu beradaptasi. tumor. Mendemonstrasi terjadinya iritasi kebersihan kan serta kulit yang tak terjaga. Merangsang pusat pengatur panas di otak. klien tampak tenang dan tidak rewel. Memberikan abnormal fungsi normal (36 kompres hangat. Kolaborasi infeksi). Mengurangi rasa Menghindari takut anak persepsi yang terhadap perawat salah pada dan lingkungan perawat dan RS RS. Merangsang 2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu 5. rendah serat. tidur. perubahan dalam batas 2. 2.5°C ) 3. Mencegah lecet. Pendekatan awal keluarga dalam pada anak melakukan melalui ibu atau tindakan keluarga. tubuh. menurunkan produksi panas kalor.

X berusia 33 tahun dirawat di RS dengan keluhan nyeri perut. Berdasarkan pengkajian awal Ny. Riwayat Penyakit Sekarang Ny. Kasih sayang serta 4. X mengatakan tidak suka buah-buahan dan sayuran dan biasanya buang air besar seminggu dua kali. dan perut kembung. 4. 3 Asuhan Keperawatan Klien dengan Kasus Konstipasi Kasus : Ny. tidak bisa BAB selama 3 minggu. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Keluarga : e. 1. dan perut kembung. belaian dll).3. pengobatan. Berdasarkan pengkajian awal Ny. tidak bisa BAB selama 3 minggu. DS: Konstipasi Pola BAB tidak 3 minggu tidak BAB. Analisa Data N Masalah Data Etiologi o Keperawatan 1. Menambah rasa pujian jika klien percaya diri anak mau diberikan akan keberanian tindakan dan perawatan dan kemampuannya. Keluhan Utama Tidak bisa BAB selama 3 minggu dan biasanya BAB 1 minggu hanya 2x c. d. 3. Melakukan pengenalan diri kontak sesering perawat akan mungkin dan menumbuhkan lakukan rasa aman pada komunikasi baik klien. X berusia 33 tahun dirawat di RS dengan keluhan nyeri perut. Memberikan 3. X mengatakan tidak suka buah-buahan dan sayuran dan biasanya buang air besar seminggu dua kali. verbal maupun non verbal (sentuhan. X Usia : 33 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Surabaya b. kebiasaan teratur BAB seminggu dua kali DO: 39 . Identitas Nama : Ny.

Diagnosa 1. ada impaksi feses 2. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen g.1. Pembesaran Auskultasi : bising usus tidak terdengar Konstipasi DS : Keluhan nyeri dari pasien Nyeri akut Konsistensi tinja yang keras DO : Perubahan nafsu makan Sulit keluar Akumulasi di kolon Nyeri abdomen f. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur 2. 4. Inspeksi: abdomen 2. Intervensi Keperawatan Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur Tujuan: Pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari) Kriteria Hasil: 40 . Palpasi : perut terasa keras. Eliminasi feses tidak lancar Perkusi : redup 3.

Berikan cairan jika tidak ada kontraindikasi 2-3 liter per hari Kolaborasi : 1. Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari b. Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan b. Atur waktu yang tepat untuk melancarkan eliminasi fekal defekasi klien seperti sesudah 4. Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi 4. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen Tujuan Menunjukkan nyeri telah berkurang Kriteria Hasil a. Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan nonanalgesik secara tepat 41 .a. Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri e. Untuk memfasilitasi refleks menjalankannya defekasi 3. Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi d. Tentukan pola defekasi bagi keteraturan pola defekasi klien klien dan latih klien untuk 2. Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi. Nutrisi serat tinggi untuk 2. Konsistensi feses lembut c. Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan. Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil c. Intervensi Rasional Mandiri : 1. Untuk melunakkan eliminasi makan feses 3. Untuk mengembalikan 1.

Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika pengurang nyeri kurang tercapai 1. Tubuhnya terasa lemas dan keluar keringat yang berlebihan 42 . 4 Asuhan Keperawatan Klien dengan Kasus Inkontinensia Fekal Kasus: Ny. Rasional Klien dapat mengalihkan perhatian dari rasa nyeri Hati-hati dalam pemberian anlgesik opiate Hati-hati dalam pemberian obatobatan pada lansia Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien Mengetahui karakteristik nyeri Agar mengetahui nyeri secara spesifik Perawat dapat melakukan tindakan yang tepat dalam mengatasi nyeri klien Berikan informasi tentang nyeri 3. Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek analgesik opiate 3. Perhatikan kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada lansia Observasi 4. 5. Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensif Health education 7. 4. 7. 6. Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas daripada nyeri dengan melakukan pengalihan melalui TV. Gunakan lembar alur nyeri 6. 2.K berusia 50 tahun mengeluh sakit perut pada bagian bawah kirinya setelah mengalami konstipasi yang membuatnya sering mengejan saat BAB selama 7 hari. radio. 3.Intervensi Mandiri 1. atau kegiatan yang disukai pasien 2. Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyaman pada skala 0 – 10 5.

Pemeriksaan Fisik 1. Analisa Data NO Data Etiologi Masalah Keperawatan 43 . dilakukan pengkajian riwayat keperawatan. Identitas Klien Nama Jenis kelamin Usia Suku bangsa Agama Pengkajian Lain-lain :Ny. reflek kulit anus. Pengkajian a. Lokal : meliputi pemeriksaan inspeksi dan pemeriksaan rectum.K :Perempuan :50 Tahun :Indonesia :Islam :Untuk mengkaji pola eliminasi dan menentukan adanya kelainan. pada inspeksi dilihat bagaimana kontraksi anus saat dikerutkan. Saat dilakukan anamnesa oleh perawat yang bertugas. terkadang itu terjadi diluar dugaan. Umum : tidak ada gangguan neuromuscular dan trauma medulla 2. menginspeksi karateristik feses dan meninjau kembali hasil pemeriksaan yang berhubungan b. dan sensasi dermatomlumbosaktral.dengan RR 24 x/menit. c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan anoskopi dan protosigmoidoskopi mungkin diperlukan pada kondisi tertentu B. didapatkan hasil bahwa feses yang dikeluarkan sangat berair dan terkadang tidak ada ampas. pengkajian fisik abdomen. Dari pemeriksaan rectum diketahui adanya kelemahan pada sfingter dan tonus anus. A. Beliau mengaku jika 2 hari ini sering mengalami diare yang berlebihan dan tidak bisa dikendalikan.

Inkontinensia Fekal ↓ Melakukan fekal tanpa rasa sadar ↓ Psikologi : rasa malu ↑ ↓ Ansietas Laju pernafasan denyut nadi ↑ ↓ Mengeluarkan banyak produksi keringat ↓ Ansietas Konstipasi lanjutan ↓ Meningkatnya Kontraksi peristaltik rektum ↓ Inkontinensia Fekal Kelemahan relaksasi spinchter volunter ↓ Inkontinensia Fekal 44 .1. DS : Feses cair bahkan terkadang tidak ada ampas.K mengaku mengalami konstipasi dan sering mengejan saat BAB. merasa keluar feses tanpa disadari. 2. DS : Ny.K terlihat gelisah dan mengeluarkan kringat yang berlebihan. DO : RR 24X/menit DS : Beberapa hari yang lalu Ny.

Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri akibat dari koping tidak efektif inkontinensia fekal 2. Intervensi Keperawatan Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri akibat dari koping tidak efektif inkontinensia fekal Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam pasien dapat menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas Kriteria hasil : 1.DS : Pasien terlihat lemas. Mengurangi kecemasan 45 . Resiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan D.lemah DO : Keluar feses cair tidak disadari dan berulang Inkontinensia fekal ↓ Bising usus lebih dari 15x/menit ↓ Defekasi cair dan berulang ↓ Koping : Produksi kelenjar kringat sangat banyak ↓ Resiko kekurangan cairan dan elektrolit Resiko Kekurangan cairan dan elektrolit C. TTV normal Intervensi Rasional 1. Penurunan ansietas 1. Diagnosa Keperawatan 1. Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun mengalami kecemasan 3. Koping mengatasi stressor akibat inkontinensia fekal 2. Inkontinensia Fekal (eliminasi) berhungan dengan penurunan kontrol sfingter volunter akibat dari kontipasi 3.

2. ketakutan.meminimalkan kekhawatiran. Teknik menenangkan diri meredakan kecemasan pada pasien yang mengalami distress akut 3. dan perasaan tidak tenang yang berhubungan dengan sumber bahaya yang diantisipasi. Pantau diet dan kebutuhan 4. Membantu pasien untuk 3. Membentuk kebiasaan defekasi rutin yang teratur Intervensi Rasional 1. Kebutuhan cairan yang cairan adekuat dapat memengaruhi defekasi normal 46 . Membentuk dan 2. Mencapai toilet antara desakan dan mengeluarkan feses 4. Peningkatan kontinensia defekasi dan dapat meningkatkan mempertahankan integritas perbaikan kontrol sfingter kulit perianal volunter 2. Ketenangan diri dapat mengurangi ansietas yang berkelanjutan 3. Dapat menurunkan melatih pengeluaran feses kemungkinan gangguan atau defekasi pada interval intregritas pada kulit yang spesifik perianal 4. Meningkatkan kontinensia 1. Mempertahankan pengendalian pengeluaran feses 2. Inkontinensia Fekal (eliminasi) berhungan dengan penurunan kontrol sfingter volunter akibat dari kontipasi Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam kontrol sfingter volunter membaik Kriteria hasil : 1. Ancaman konsep diri yang tertangani dengan koping yang efektif dapat meningkatkan citra diri yang lebih baik didepan umum. Defekasi normal dapat mempertahankan pola dilihat dari frekuensi dan defekasi yang rutin kerutinan defekasi pasien 3. Peningkatan koping membantu pasien untuk beradaptasi dengan persepsi stressor (ancaman konsep diri) pada pasien sehingga pasien dapat melakukan koping efektif terhadap penanganan inkontinensia fekal 2. Merespon desakan dalam waktu yang tepat 3.

Lakukan perujukan untuk terapi keluarga. Kolaborasi: a.5. Health Education sangat penting dilakukan pada lingkungan luar rumah sakit (terutama pada keluarga pasien). membran mukosa bibir lembab 3. Dapatkan program dokter untuk melaksanakan program latihan defekasi (program dapat mencakup penggunaan laksatif sebagai pembentuk massa feses): supositoria rektum setiap hari. Tentukan program menejemen defekasi bersama pasien dan keluarga 6. 6. stimulasi jari. Memantau tanda dan gejala Penurunan sirkulasi volume cairan kekurangan cairan dan menyebabkan kekeringan mukosa elektrolit dan pemekatan urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit cairan 2. Turgor elastik. Frekuensi BAB 1X/hari. misalnya untuk inkontinensia dengan etiologi kontipasi 5. dan menjadwalan penggunaan pispot atau kamar mandi) b. TTV dalam batas normal 2. Memantau intake dan Dehidrasi dapat meningkatkan laju output filtrasi glomerolus membuat 47 . Normal Intervensi Rasional 1. Tindakan kolaboratif mendukung recovery pada pasien (spesifik pada kasus inkontinensia fekal) Resiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal Kriteria hasil : 1.

antispasmolitik untuk proses absorpsi normal antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin. K. sebanyak 2–3liter/hari 5. Kolaborasi a. 48 . Koreksi keseimbangan a. Menganjurkan keluarga Mengganti cairan dan elektrolit untuk memberi minum yang hilang secara oral. Ca) ginjal (kompensasi) b. Mengganti cairan dan line) sesuai dengan usia elektrolit secara adekuat dan c. Timbang berat badan setiap Mendeteksi kehilangan cairan. Anti sekresi untuk antispasmolitik. menurunkan sekresi cairan antibiotik) dan elektrolit agar seimbang. Obat – obatan cepat (antisekrin. Pemeriksaan cairan dan elektrolit. Cairanparenteral (IV b. hari penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan sebanyak 1 liter 4. BUN laboratorium serum untuk mengetahui faal elektrolit (Na. c. banyak pada klien.keluaran tidak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme 3.

Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari konstipasi antara lain adalah hipertensi arterial. penggunaan obat-obatan tertentu atau berkaitan dengan sejumlah besar penyakit sistemik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. inkontinensia reflex. dan megakolon. Namun berak setiap 3 hari dengan tinja yang keras dan sulit keluar. Inkontinensia fekal atau inkontinensia alvi adalah keadaan ketika individu mengalami perubahan kebiasaan defekasi yang normal yang dikarakteristikkan dengan pasase feses yang tidak disadari. impaksi rektal. dan inkontinensia fungsional.2009). (Carpenito. kurangnya olahraga.Pada mereka yang telah lanjut usia akan mengalami perubahan patologis pada rectum. Penyebab inkontinensia fekal dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu inkontinensia feses akibat konstipasi obstipasi.Pada anak-anak normalnya hanya berak setiap 2–3 hari dengan tinja yang lunak tanpa kesulitan sehingga bukan disebut konstipasi. dis-sinergis pelvis. konsumsi serat yang tidak adekuat. inkontinensia mendesak. yaitu diskesia rectum.BAB IV KESIMPULAN Konstipasi adalah penurunan frekunsi defekasi yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. dan peningkatan tonus rectum. Jenis inkontinensia fekal yaitu inkontinensia neurologik. masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses diabsorpsi. inkontinensia traumatik. Sejumlah kecil air ditinggalkan untuk melunakkan dan melumasi feses. diantaranya adalah usia. hemoroid. dan inkontinensia feses akibat hilangnya refleks anal. kelemahan otot yang menyeluruh dan mungkin pula stress serta ansietas. obat tertentu. 49 . Pengeluaran feses yang kering dan keras dapat menimbulkan nyeri pada rektum. prolapse rektal. Inkontinensia diklasifikasikan menjadi inkontinensia stress. dan dorongan defekasi yang diabaikan. inkontinensia feses simtomatik. inkontinensia overflow. Konstipasi dengan penyebab apapun dapat mengalami eksaserbasi akibat sakit kronik yang menimbulkan gangguan fisis atau mental dan mengakibatkan inaktivitas atau imobilitas fisis. sebaiknya dianggap sebagai konstipasi. dan inkontinensia neurogenik. fisura anal. konstipasi umumnya terjadi karena kelainan pada transit dalam kolon atau pada fungsi anorektal sebagai akibat dari gangguan motilitas primer. inkontinensia neurogenik. ada banyak faktor yang dapat menimbulkan konstipasi. Secara patofisiologi.Selain itu. Faktor-faktor konstribusi lainnya dapat mencakup kurangnya serat dalam makanan. Apabila motilitas usus halus melambat.

Keluhan utama biasanya berpusat pada perasaan penuh.Pada inkontinensia. beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang menurun. dan gangguan pencernaan. Namun demikian. 50 . gejala yang timbul berupa merembesnya feses cair yang disertai dengan buang gas dari dubur atau penderita sama sekali tidak dapat mengendalikan keluarnya feses. Normalnya fungsi traktus gastrointestinal biasanya masih tetap adekuat sepanjang hidup. nyeri ulu hati. Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita inkontinensia fekal adalah gangguan psikologis dan iritasi kulit.

Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis Edisi 9.1. Kozier. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta:EGC. 2008. 2009. Jakarta: EGC.G. 2005. Fundamental Keperawatan. 2009. Bare.4. Barbara dan Erb’s. Jakarta: EGC. Edisi 4. Carpenito.B. 2002. Potter. Ensiklopedia Keperawatan. Buku Ajar Geriatri Ed. Volume 2. S. Perry. 51 .2009.DAFTAR PUSTAKA Brooker. E/8. L. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. dan B. Buku ajar praktik Keperawatan Klinis edisi 5. Chris.J. Darmojo R. Smeltzer.C.