Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah “bahasa menunjukkan bangsa” adalah merupakan pepatah
lama yang menempatkan eksistensi bahasa dan masyarakat sebagai sesuatu
yang tidak terpisahkan. Antara bahasa dan masyarakat diibaratkan ikan dan
air, keduanya saling membutuhkan. Masyarakat membutuhkan bahasa
sebagai sarana hubungan sosial. Selain itu bahasa juga digunakan sebagai
alat pengikat dan pengatur kehidupan bermasyarakat. Dengan bahasa yang
digunakannya, anggota masyarakat merasa dirinya terikat sebagai suatu
keluarga baik dalam skup kecil (suku) maupun dalam skup yang lebih
besar sebagai bangsa. Melalui bahasa masyarakat menetapkan berbagai
aturan yang mengikat para anggotanya dan biasa disebut tradisi.
Tradisi yang berkembang pada suatu masyarakat ada yang bersifat
tertulis dan ada pula bersifat kebiasaan (lisan). Tradisi tertulis biasanya
digunakan untuk berbagai aturan yang berkaitan dengan aspek hukum,
seperti surat perjanjian, tata tertib, dan berbagai hal yang berkaitan dengan
aspek hukum. Bukti kepemilikan sesuatu di masyarakat Indonesia yang
berkaitan dengan hak seseorang sering harus dibuktikan dengan
kepemilikan surat tertentu, misalnya akte jual beli, surat kendaraan
(BPKB), akte kelahiran, surat nikah, ijasah dan lain sebagainya. Namun
tidak jarang pula aturan tertulis itu dijumpai di pos penjagaan, seperti
Tamu harap lapor, jadwal dan ronda nama petugas; di gang jalan seperti
Pelan-pelan, banyak anak kecil. Ada pula tulisan yang sama dikemas
dengan bahasa yang lebih keras Nubruk remuk! (barang siapa yang
menabrak akan dihajar), dan lain sebagainya.
Selain itu banyak bahasa tradisi yang dituliskan tetapi tetap
mengikat perilaku masyarakat pemakainya. Ungkapan salam atau ketukan
pintu saat seseorang datang bertemu merupakan kelaziman yang tidak
dapat dilanggar. Demikian pula anggukan sebagai tanda setuju, gelengan
tanda menolak, senyuman tanda bersahabat, membungkuk dihadapan
orangtua, bersalaman saat bertemu seseorang, menolong orang yang
terkena musibah, merupakan bentuk bahasa tradisi yang terkait dengan
pemahaman budaya. Penyimpangan terhadap perilaku yang lazim itu
terkait dengan nilai moralitas yang melekat pada setiap individu anggota
masyarakat. Tinggi rendahnya derajat moral seseorang akan selalu diukur
dengan ketaatannya terhadap nilai-nilai tradisi yang berlaku.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah sosiolinguistik?
2. Bagaimana perkembangan bahasa dalam masyarakat?
1

Parole sendiri lebih bersifat heterogen dan tidak 2 . Dalam salah satu pemikirannya yang dipengaruhi pandangan sosiolog Emile Durkheim. Sejarah Sosiolinguistik Kesadaran akan adanya berbagai perkembangan dimensi kebahasaan yang dipengaruhi oleh keadaan strata sosial kemasyarakatan telah muncul sejak lama. Langue dimaksudkan sebagai sistem dan aturan berbahasa. Saussure menyatakan bahwa bahasa adalah satu kenyataan sosial. Bagaimana perkembangan sosiolinguistik di Indonesia? C. sedangkan langue hanya merupakan satu bagian dari bahasa yang bersifat homogin (sama) dan berlaku umum untuk semua pemakai bahasa. Berkaitan dengan bahasa. Untuk mengetahui sejarah sosiolinguistik. Paling tidak pemikiran itu sudah muncul sejak Ferdinand de Saussure (1916) menerbitkan bukunya yang berjudul Cours de Linguistique Generale. BAB II PEMBAHASAN A. Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui perkembangan bahasa dalam masyarakat. ia membedakannya antara Langue (language atau bahasa) dengan Parole (speech atau berbahasa atau berbahasa/bertutur). 2.3. 3. sedangkan Parole berupa kenyataan pemakaian bahasa. Untuk mengetahui perkembangan sosiolinguistik di Indonesia.

Sosiolinguistik. Aliran kebahasaan yang berhubungan dengan kelahiran sosiolinguistik adalah strukturalisme Amerika dan Praha. (Bandung: Penerbit Angkasa. 1984). misalnya) 1 Ahmad Chaedar Alwasilah. 24 3 . Sosiologi Pendidikan. Di Belgia ada sebagian warga Negara yang mempertahankan penggunaan bahasa Flam selain bahasa Perancis dan Belanda sebagai bahasa Negara. 15 3 Mansoer Pateda. Sosiologi Bahasa. Di Filipina ada pengaruh kuat dari bahasa Tagalog (setempat) selain penggunaan bahasa Inggris dan Spanyol yang telah memasyarakat.3 Munculnya sosiolinguistik sebenarnya sebagai reaksi dari aliranaliran kebahasaan yang ada. Kompetensi dimaksudkan sebagai pengetahuan tentang sistem bahasa. 1991). Reichling (Belanda). h. h. Dalam bukunya Chomsky mengemukakan bahwa dalam berbahasa dikenal istilah Competence (kompetensi) dan Performance (penampilan). Di Indonesia juga berkembang banyak bahasa daerah (Jawa. (Bandung: Penerbit Angkasa. 20 2 Abu Ahmadi. (Jakarta: PT Gramedia. 1987). h.sistematis.2 Aliran struktural ini kemudian direfisi oleh aliran transformasi yang dipelopori oleh Noam Chomsky dalam bukunya berjudul Syntactic Structure (1957). Hal itu menimbulkan adanya persentuhan antar bahasa dan antar budaya yang menyebabkan pola pemakain bahasa-bahasa beraneka ragam. Dalam tataran keilmuan. 35 4 Nababan. (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. dan kompetensi adalah hal yang terkait dengan pemakaian bahasa. Sosiolinguistik. yaitu performensi (penampilan/praktek berbahasa). Aliran struktural ini kemudian terbagi menjadi tiga versi. Bloomfield (1933) menekankan pada struktur. Madura. Sekalipun Soussure (1916) sudah memperhatikan parole. Dan berkaitan dengan pandangan Chomsky itu maka bidang sosiolinguistik berhubungan dengan aspek kedua. namun orientasinya masih terbatas pada usaha memecahkan satuan bahasa dalam tataran fonem. Suatu Pengantar. dan Hjmslev (Kopenhagen-Denmark). Strukturalisme Eropa dipelopori oleh Firth (Inggris). h. sedangkan parole pengkajiannya harus melibatkan konteks sosial karena berhubungan dengan pemakaian bahasa di masyarakat. dan Strukturalisme gaya Praha. gaya Amerika. Sunda. Hal itu dipandang belum mewakili aspek penggunaan bahasa yang hakiki. Sedangkan strukturalisme Amerika dipelopori oleh Leonard Bloomfield dan Edward Sapir. Bali. Kedua aliran ini memandang bahasa bukan saja dari bentuk strukturnya. Batak) selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.4 Hal yang lebih mendorong munculnya kajian bidang sosiolinguistik adalah timbulnya gejolak sosial yang disebabkan oleh faktor penggunaan bahasa. Trubetszkoj (praha-Cekoslowakia). yaitu strukturalisme gaya eropa. 1989). morfem dan kalimat.1 Selanjutnya pandangan Saussure tersebut dikembangkan oleh aliran strukturalis yang dipelopori oleh Leonard Bloomfield (1933). tetapi juga melibatkan aspek fungsi bahasa. langue dapat diselidiki melalui individu-individu. dan Chomsky (1957) memberikan perhatian pada performansi. Belum lagi pemakaian bahasa daerah (Jawa.

Fishman (1972). Maka semakin kompleks peta bahasa yang berkembang di masyarakat saat ini pemahaman terhadap kenyataan bahasa yang demikian majmuk di masyarakat modern saat ini tidak dapat diserahkan dan dipecahkan melalui linguistik murni.6 5 Ahmad Chaedar Alwasilah.5 B. disiplin ilmu tersebut mengalami proses pengajian terus secara luas dan sistematik. Model komunikasi tidak langsung semacam itu terkesan halus (sopan) sekalipun tidak jarang pemaknaannya menjadi lebih sulit dan rumit. Oleh karena itu perkembangan bahasa yang paling nampak dan menonjol biasanya di bidang ungkapan atau kosa kata. dunia perdagangan dan kedokteran. kemudian disusul penulis lain.yang berkaitan dengan tingkat sosial (unggah-ungguh) yang cukup mempengaruhi penggunaan bahasa lainnya. Hal itu pula yang mendorong lahirnya sosiolinguistik yang menyikapi bahasa dengan model pendekatan lain dan manusiawi (konteks sosial budaya). Berdasarkan aspek historical. Sosiologi Bahasa. (Bandung: Penerbit Angkasa. Perkembangannya bersifat dinamis dan sejalan dengan tuntunan masyarakat pemakainya. bangsa dan bahkan Negara hampir tidak berbatas menyebabkan pengaruh antar bahasa tidak terbendung lagi. maka tingkat perkembangan bahasanya pun semakin pesat dan rumit. 1989). (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. 1991). Apalagi kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang demikian pesat menjadikan “wajah” bahasa di dunia ini sulit dijaga kemurniannya. Selanjutnya. ungkapan. ekonomi. termasuk bahasa Indonesia. Semakin maju suatu masyarakat. atau peribahasa. 29 6 Abu Ahmadi. suku. Apalagi jika wajah bahasa itu dihubungkan dengan masalah politik. Di era globalisasi ini yang menjadikan jarak dan hubungan antar daerah. Hal itu karena fungsi bahasa sebagai sarana untuk mengaktualisasikan dan menjabarkan alam pikir manusia modern dituntut elastis dan akomodatif. Banyak hal yang terkait dengan aspek sosial dan budaya gagal dijelaskan dengan takaran normatif (bahasa resmi). Sosiologi Pendidikan. 46 4 . Secara tidak langsung buku tersebut merupakan jawaban dan penjelasan tentang adanya kendala terhadap fakta dibalik makna verbal (denotasi) suatu bahasa tidak jarang suatu komunikasi menempatkan esensi maknanya pada maksud yang lain (konotatif). h. yaitu William Labov (1972) dengan judul Sociolinguistic Patterns. Hal itu berkaitan dengan sifat manusia yang sering menjunjung etika dan perasaan sehingga tidak jarang pernyataan yang simbolistik (tidak langsung) menjadi pilihan bahasa dalam komunikasi. Dell Hymes (1974). h. perjalanan tumbuh kembangnya disiplin ilmu kebahasaan. Bidang sosiolinguistik mulai mendapat perhatian dan pengakuan setelah muncul buku karangan Uriel Weinreich (1953) dengan judul Language in Contact. Bahasa dan Perkembangan Masyarakat Salah satu ciri khas bahasa yang masih hidup (digunakan) adalah berkembang. Misalnya model bahasa sindiran. Pada tahun-tahun berikutnya. keagamaan.

33 8 Soepomo Poedjosoedarmo. seperti: ortu (orang tua). nggastreli (umpatan. sebel (senang betul). cantik). marah. tenang). benci (betulbetul cinta). cakep. cakep). Suzuki (sungguh laki-laki). cowok (sebutan pria). bête (kesal. dari jiancuk. cool (dingin. 22 5 . empikmu (umpatan. artinya kelamin perempuan). gaul (persahabatan). himbau (memerintah). seperti: asoy (asik sekali). PDKT (pendekatan). tuntas). ngerumpi (membicarakan orang lain). makcomblang). namun bukan tanpa aturan. yaitu (1) menciptakan kata baru. diancuk. Demikian pada dekade selanjutnya (tahun 80 s/d 2000-an). ngeper (takut. rese (sebel. gacoan (pacar). Pengambilan kosa kata “asing” dengan sistem adaptasi (penyerapan penuh) umumnya ada penyesuaian dengan ejaan (EYD) baik menyangkut aspek fonologi atau morfologinya. benci (betul-betul cinta). khususnya di lingkungan para remaja. penghubung. Istilah tersebut biasanya muncul secara temporer sebagai “slang” yang lebih bersifat sebagai bahasa khusus (rahasia). malfinas (malu tapi ganas). asyik). metode (method). untumu (umpatan. ebes (bapak). berkembang pula variasi peristilahan. pelacur). Perkembangan Sosiolinguistik di Indonesia Berdasarkan peta bahasa yang diterbitkan oleh Lembaga Bahasa Nasional (1972). marah). Selain itu muncul pulah istilah lain. seperti: cewek (sebutan gadis). (2) akronimisasi. artinya disetubuhi). Perubahan dan pengembangan bahasa karena pengaruh hubungan budaya antar suku atau bangsa yang terjadi secara sengaja (pendidikan) atau tidak disengaja (pergaulan) biasanya akan terjadi 2 proses. kalah). Setiap bahasa mempunyai cara tersendiri dalam hal model tumbuh kembangnya. bokap (bapak). maka 10 tahun kemudian (70-an) berganti dengan istilah sip atau asyik atau asoy (cantik). yaitu model adaptasi (asmilasi) atau adopsi. perek (perempuan eksperimen. sistem (system). keren (bagus. fangky (tampan. 1984). jomblo (perantara. suntuk (terus-menerus. PD (percaya diri).8 C. tampan). (3) kata lama makna baru. di Indonesia terdapat 418 bahasa yang masih hidup dan 7 Koentjaraningrat. Para remaja di Surabaya. misalnya: maut (hebat. h. (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. dari kata nggatheli. Sosiolinguistik.7 Sekalipun pemunculan model bahasa di atas terkesan spontan. cowok (laki-laki). seperti: salome (satu lobang rame-rame. cangkemu yang berarti mulutmu). seperti kata: taksi (taxi). nyokap (ibu). 1981). malas). gathel. ortu (orang tua). dari kata tempik. pendekar (pendek dan kekar). h. balon (pelacur). sebutan wanita nakal). diencuk. komunukasi (communication). artinya penis). berjoget) dan masih banyak lagi. (Jakarta: Balai Pustaka. Namun secara umum mengacu pada 3 cara. maco (mantan copet. gossip (berita bohong). ngebor (bergoyang. berkecenderungan menghaluskan kata-kata yang berkonotasi kasar dengan cara mengubah bunyi.Jika pada tahun 60-an berkembang ungkapan kata maut untuk menyatakan kehebatan terhadap seseorang atau mengagumi kecantikan seorang wanita. Kebudayaan Jawa. seperti: jiancik (umpatan.

Hasil sensus tahun 1979 memperlihatkan pemakai bahasa jawa semakin berkembang. UUD 1945 yang isinya itu bahwa bagi daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri dan dipelihara oleh rakyatnya akan dihormati dan dilindungi Negara. Dapat diperkirakan bahwa sebagai akibat persentuhan antar bahasa tersebut akan menyebabkan saling mempengaruhi antar bahasa yang berdampingan. Mereka umumya merupakan dwibahasawan yang dinamis dan senantiasa beradaptasi dengan lingkungan dan tuntutan komunikasi yang terjadi. kesopan santunan dan alasan sosial lainnya. Demikian pula mereka yang dari suku Sunda. Mereka yang berasal dari suku jawa bahasa yang pertama kali dikuasai adalah bahasa jawa. maka biasanya bahasa Indonesia dijadikan bahasa komunikasi keluarga dan mendidik anak-anaknya dengan alasan kepraktisan serta demi mobilitas hubungan antar warga. Sedang kedudukan bahasa-bahasa lain itu menjadi bahasa daerah yang kedudukannya berdasarkan pada penjelasan pasal 36. Batak.berkembang. Bahasa-bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. karena pertimbangan keakraban. Hal itu terkait dengan konvensi nasional yang dikenal dengan peristiwa sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 dan diperkuat dengan penetapan secara politis tentang status bahasa Indonesia itu sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. Mereka menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa daerah dan sebaliknya. Madura. maka jumlah itu akan lebih banyak lagi (Poedjasoedarmo dalam Basir 1996: 1-2). pasal 36. tradisi. Bali. Penetapan itu tercantum dalam UUD 1945. Pada umumnya orang di Indonesia mengenal dan belajar bahasa melalui bahasa kesukaannya. Sehingga hampir bisa dipastikan setiap suku di Indonesia mempunyai bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa pertama dan bahasa ibu (B1) bagi anak keturunannya. Namun demikian tidak jarang penggunaan bahasa kesukuan dilakukan apabila bercakap-cakap antar warga seasal. Dani dan Bugis. menyebabkan carutmarutnya penggunaan bahasa demikian tinggi. Hal demikian menjadikan para pemakai bahasa di Indonesia tidak ada jaminan untuk berkomunikasi secara konsisten dengan bahasa yang sama. Heteroginitas warga di perkotaan sebagai kaum imigran yang datang dari berbagai wilayah daerah. Kecuali bagi penduduk perkotaan yang bergaul dan bahkan kawin dengan suku lain. Apalagi jika diperluas dengan pemakaian bahasa jawa diberbagai wilayah transmigran dan di Negara-negara lain seperti Suriname dan Kaledonia baru. bab XV. Adapun pendukung bahasa-bahasa tersebut bervariasi antara 100 orang penutur (di Irian Jaya kini Papua) sampai dengan sekitar 50 juta orang penutur (bahasa jawa). Diantara bahasa-bahasa yang ada di Indonesia tersebut. Kondisi itu jelas memperlihatkan betapa kompleksnya keadaan sosiolinguistik di Indonesia. Demikian pula 6 . Sedangkan bahasa Indonesia dalam poses pembelajarannya berfungsi sebagai bahasa kedua (B2). bahasa Indonesia menempati posisi yang istimewa sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. mencapai 60 juta jiwa.

dialek Surabaya (4). Dua wacana tutur itu menggambarkan adanya saling pengaruh antar bahasa Indonesia. Hanya saja diambil dari latar wilayah bahasa jawa (dialek) yang berbeda. Tidak jarang di daerah imigran seperti jakarta terdengar penggal percakapan: (1) Kalau gue mah emoh dicandung. Maaf saja ya). Nur!).karena pertemuan antar suku yang berbeda menyebabkan masing-masing saling mengenal antar bahasa daerahnya dan berimbas pada penggunaan bahasa daerah yang saling teritervensi. Blambangan (Jawa-Bali). Oleh karena itu semua perangkat bahasa yang digunakan berbentuk kata ngoko (rendah. bahasa jawa misalnya. bahasa sunda dan bahasa jawa. Gresik. sebaya. Surabaya. Demikian pula dengan bahasa daerah lainnya. tidak baik). Ragam Madya. Anak saya sakit akan berobat ke puskesmas). yaitu: Ragam Ngoko. dan konteks pembelajaran awal. 7 . sehingga faktor kesopan-santunan bukanlah faktor utama. (5) Enyong ngene tulin garep nyelang pit. dan dari dialek Banyumas (5). Hal semacam itu umum terjadi di lingkungan masyarakat perkotaan yang mobilitas penduduknya tinggi seperti Jakarta. Pasuruan dan Situbondo (Jawa-Madura). Anakku mriyang. arep nyang endi? (kok berangkat pagi-pagi sekali mas. Jika diamati. Hal yang hampir sama juga terjadi di wilayah perbatasan antar daerah dan suku tertentu seperti Cirebon dan Indramayu (Jawa-Sunda). umum bahwa ragam ngoko digunakan untuk komunikasi yang akrab. (2) Jangan gitu dong. sorry banget. Bahasa jawa bercampur bahasa sunda dan sebaliknya. tambah ngguantheng ae kon Nur! (wah lama sekali kita tidak bertemu. yaitu dari dialek Yogyakarta (3). sebenarnya mau kemana?). mengenal berbagai dialektika sub ragam bahasa jawa yang cukup pelik. garep suntik nang puskesmas! (saya datang kemari ingin meminjam sepeda. Banyuwangi. (kalau saya jadi kamu tidak mau dimadu. Sebagai contoh misalnya: (3) Kok mruput men mas. (4) Jangkrik suwe gak temu. Yogyakarta. Dalam penerapannya. dan Ragam Krama. Ketiga contoh itu merupakan penggal kutipan ragam ngoko akrab dan biasa terjadi di lingkungan masyarakat jawa (tradisional) pada umumnya. Dalam tataran komunikasi di masyarakat harus mempertimbangkan 3 konteks sosial yang berlaku. bahasa betawi. pamali atuh! (jangan begitu. di dalam bahasa daerah itu sendiri. kamu semakin tampan saja. Bandung. Nampak bahwa semua model pilihan kata yang digunakan tampak lugas dan akrab. kasar). Semarang. Ketiga konteks sosial yang menentukan pilihan ragam tersebut dikenal dengan istilah UnggahUngguh Basa.

Contoh berikut menggambarkannya: (6) Njenengan niku pripun ta Bu? Pun kulo murah-murahne kok tasih dinyang! (ibu itu bagaimana sih. sudah saya obral kok masih ditawar!).9 9 Udjang. pimpinan. tokoh masyarakat. sehingga pemakaiannya dalam situasi khusus yang tidak akrab dan terkesan kaku. Dengan begitu dapatlah dibayangkan betapa keadaan sosiolinguistik di Indonesia demikian luas dan kompleksnya. kula badhe nyunataken Si Thole. (Pak Lurah dimohon datang ke rumah setelah magrib. Pihak yang berhak menerima “penghargaan” dengan posisi dihormati. Sosiolinguistik. teman baru. (7) Sampean butuh karcis pinten? Kula antrekne! (anda membutuhkan karcis berapa? Biar saya yang antri). misalnya: ayah dan ibu. 2010). Sedangkan penggunaan ragam “krama” menempatkan posisi pembicara (O1) yang berusaha merendahkan diri dan menghormati pihak yang diajak bicara (O2). Hal itu dapat dipahami sebab bangsa Indonesia umumnya termasuk dwibahasawan bahkan multibahasawan. Mohon restu karena saya akan menghitankan Si Thole). karma (hormat) pada jenis pilihan kata tertentu yang ditujukan bagi pihak pendengarnya sekalipun pengucapannya tidak sempurna (bentuk akronim). Besok pagi saya antarkan pulang). akrab namun tetap memegang azas kesopan-santunan. Secara verbal tergambar pada penggunaan kata-kata madya (sampean. (sebab hujan mohon Pak Guru tidur ditempat kami. menawi kersa Pak Guru nyare wonten ngriki mawon. Nyuwun pangestu.Penggunaan ragam madya dalam sistem komunikasi masyarakat jawa menempatkan kedudukan antar partisipan (komunikator) sederajat. Sebagai contoh misalnya: (8) Pak lurah. panjenengan kula aturi rawuh wonten gubuk kula benjang dalu bakda magrib. 18 8 . dika. (Surabaya: Penerbit Bintang. Untuk keperluan itu pilihan kata untuk O2 sedapat mungkin jenis kata yang bernilai rasa tinggi (krama hormat) dan sebaliknya untuk diri sendiri kata biasa. Mereka menguasai lebih dari satu bahasa yang berakses pada munculnya beragam pemakaian gaya kebahasaan dengan berbagai dimensi sosial yang menyertainya karena latar sosial dan budaya yang berbeda-beda. Uraian di atas baru menggambarkan satu keadaan bahasa daerah (Jawa) saja dan pada bahasa yang lain kurang lebih berlaku hal yang sama. Benjang-enjang kula dherekaken kunduripun. orang yang usianya lebih tua. niki). h. niku. Ragam ini bertujuan untuk menghormati pihak lain (O2). (9) Amargi jawah.

2. Bali. Hal yang lebih mendorong munculnya kajian bidang sosiolinguistik adalah timbulnya gejolak sosial yang disebabkan oleh faktor penggunaan bahasa. 3. metode (method). Madura. yaitu model adaptasi (asmilasi) atau adopsi. Perubahan dan pengembangan bahasa karena pengaruh hubungan budaya antar suku atau bangsa yang terjadi secara sengaja (pendidikan) atau tidak disengaja (pergaulan) biasanya akan terjadi 2 proses. Batak.BAB III PENUTUP A. Demikian pula mereka yang dari suku Sunda. Kesimpulan 1. seperti kata: taksi (taxi). Saran 9 . Pengambilan kosa kata “asing” dengan sistem adaptasi (penyerapan penuh) umumnya ada penyesuaian dengan ejaan (EYD) baik menyangkut aspek fonologi atau morfologinya. komunukasi (communication). sistem (system). Pada umumnya orang di Indonesia mengenal dan belajar bahasa melalui bahasa kesukaannya. B. Mereka yang berasal dari suku jawa bahasa yang pertama kali dikuasai adalah bahasa jawa. Dani dan Bugis.

Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Sosiolinguistik. Gramedia. Surabaya: Penerbit Bintang. Chaedar. Kebudayaan Jawa. 1984 Pateda. Suatu Pengantar. Mansoer. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. Sosiolinguistik. Bandung: Penerbit Angkasa. Abu. Oleh karena itu kepada para pembaca. 1987 Poedjosoedarmo. kami ucapkan trimakasih. 1991 Alwasilah. 2010 10 . A. 1984 Nababan. Sosiologi Bahasa. 1989 Koentjaraningrat. Bandung: Penerbit Angkasa. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.Penulis menyadari bahwa makalah ini terdapat kekurangan. Sosiolinguistik. Jakarta: Balai Pustaka. Soepomo. khususnya kepada dosen pembimbing untuk mengkritik makalah ini yang bersifat konstruktif. Sosiologi Pendidikan. Sosiolinguistik. 1981 Udjang. Jakarta: PT.