Anda di halaman 1dari 27

PANDUAN

TRANFER PASIEN

RS PKU MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA UNIT II
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II
1

Jl. Wates KM 5,5 Gamping, Sleman, Yogyakarta55294


Telp. 0274 6499706, Fax. 0274 6499727

RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II


Jl.Wates Km 5,5 Gamping, Sleman, Yogyakarta 55294
Telp. (0274) 6499706, IGD (0274) 6499118
Fax. (0274) 6499727,e-mail:pkujogja2@yahoo.co.id

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Nomor : 0446/PS.1.2/IV/2015
Tentang
PANDUAN TRANSFER PASIEN
DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Menimbang

: a. Bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas dan


keamanan pelayanan pasien, maka diperlukan adanya
Panduan transfer pasien
di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
b. Bahwa sesuai butir a diatas perlu menetapkan Keputusan
Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Unit II tentang Panduan transfer pasien

Mengingat

: 1.

Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan

2.

Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang


Rumah Sakit

3.

Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang


Praktek Kedokteran

4.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1778


Tahun 2010 tentang Pedoman
Penyelenggaraan
Pelayanan ICU di Rumah Sakit

5.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 856


Tahun 2009 tentang Standar Instalasi Gawat darurat

M E M U T U S K AN
Menetapkan
PERTAMA

:
KEPUTUSAN DIREKTUR

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II


1

RUMAH SAKIT PKU

KEDUA

KETIGA

MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
UNIT
II
TENTANG PANDUAN PANDUAN TRANSFER PASIEN
RUMAH
SAKIT
PKU
MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA UNIT II.
Panduan transfer pasien
dimaksudkan sebagaimana
tercantum dalam Panduan di Keputusan ini.
Panduan transfer pasien dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas dan keamanan pelayanan pasien dalam tranfer
pasien mencakup didalanya adalah :
1. Transfer pasien antar rumah sakit
2. Transfer pasien didalam rumah sakit

KEEMPAT

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di : Sleman
Pada Tanggal : 3 April 2015
Direktur,

dr. H. Ahmad Faesol, Sp. Rad. M. Kes.


NBM: 797.692

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II


2

KATA PENGANTAR
Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahuwataala, Tuhan semesta alam
yang telah memberikan Ridlo dan Petunjuk Nya, sehingga Panduan transfer pasien
ini dapat selesaikan dan dapat diterbitkan.
Panduan ini dibuat untuk menjadi panduan kerja bagi semua staf dalam
memberikan pelayanan yang terkait transfer pasien antar Rumah Sakit dan di dalam
rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II.
Untuk peningkatan mutu pelayanan diperlukan pengembangan kebijakan,
panduan dan prosedur. Untuk tujuan tersebut panduan ini akan kami evaluasi
setidaknya setiap 2 tahun sekali. Masukan, kritik dan saran yang konstruktif untuk
pengembangan panduan ini sangat kami harapkan dari para pembaca.

Sleman, 3 Desember 2015


Direktur

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II


1

DAFTAR
DAFTARISI
ISI
Hal:
Halaman:
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR
SURAT
KEPUTUSAN DIREKTUR
KATA PENGANTAR
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI
A. DEFINISI
A. Difinisi
B.
TUJUAN
B. Ruang
lingkup
C.
RUANG
LINGKUP
C.
Tata
laksana
D. TATA LAKSANA
D. Dokumentasi.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II


2

ii
iiii
1ii
11
11
1
1
2
2
3
3
4
5
6
6
7
8
9

LAMPIRAN
Keputusan Direktur RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II
Nomor: 0446 /PS.1.2/IV/2015
Tentang
PANDUAN TRANSFER PASIEN
I. Latar Belakang
Transfer pasien dapat dilakukan apabila kondisi pasien layak untuk di transfer. Prinsip dalam
melakukan transfer pasien adalah memastikan keselamatan dan keamanan pasien saat
menjalani transfer. Pelaksanaan transfer pasien dapat dilakukan intra rumah sakit atau antar
rumah sakit.
Transfer pasien dimulai dengan melakukan koordinasi dan komunikasi pra transportasi
pasien, menentukan SDM yang akan mendampingi pasien, menyiapkan peralatan yang
disertakan saat transfer dan monitoring pasien selama transfer. Transfer pasien hanya boleh
dilakukan oleh staf medis dan staf keperawatan yang kompeten serta petugas profesional
lainnya yang sudah terlatih.
II. Pengertian Transfer
Transfer pasien adalah memindahkan pasien dari satu ruangan keruang perawatan/ ruang
tindakan lain didalam rumah sakit (intra rumah sakit) atau memindahkan pasien dari satu
rumah sakit ke rumah sakit lain (antar rumah sakit).
III.

Tujuan
Tujuan dari manajemen transfer pasien adalah:
-

Agar pelayanan transfer pasien dilaksanakan secara profesional dan berdedikasi tinggi.
Agar proses transfer/ pemindahan pasien berlangsung dengan aman dan lancar serta
pelaksanaannya sangat memperhatikan keselamatan pasien serta sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan

IV. Ruang Lingkup


Transfer pasien didalam rumah sakit terdiri dari:
- Transfer pasien dari IGD ke RANAP, ICU, Kamar Operasi
- Transfer pasien dari IRJ ke RANAP, ICU, Kamar Operasi
- Transfer pasien dari RANAP ke ICU, Kamar Operasi
- Transfer pasien dari ICU ke RANAP, Kamar Operasi
- Transfer pasien dari Kamar Operasi ke RANAP, ICU
- Transfer pasien dari IGD, RANAP, ICU ke Ruang Radiologi,
Transfer pasien antar rumah sakit terdiri dari:

Transfer pasien dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II ke RS lain atau


sebaliknya
Transfer pasien dari RS PKU Muhammadaiyah Yogyakrta Unit II ke rumah pasien

V. Pengaturan Transfer
1. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II memiliki petugas transfer yang terdiri dari
dokter, dr IGD/ dr ruangan, PPJP, perawat yang kompeten dalam merawat pasien kritis
(perawat ICU), petugas medis, dan petugas ambulans. Petugas ini yang berwenang untuk
memutuskan metode transfer mana yang akan dipilih.
2. Berikut adalah metode transfer yang ada di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
a. Layanan Antar Pasien: merupakan layanan / jasa umum khusus untuk pasien RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II dengan petugas transfer dari petugas IGD,
di mana petugas tersebut akan mengambil / menjemput pasien dari rumah/ rumah sakit
jejaring untuk dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
b. Petugas transfer local: RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II menggunakan
petugas transfer dari unit yang merawat pasien tersebut untuk mengirimkan pasiennya
ke rumah sakit lain, tetapi bila dari hasil assesmen petugas transfer teryata
memerlukan faslitas transfer yang lebih lengkap , maka transfer dilakukan dengan
menggunakan ambulan gawat darurat 118
3. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II mempunyai sistem resusitasi, stabilisasi,
VI.
1.
2.

dan transfer untuk pasien-pasien dengan sakit berat / kritis; tanpa terkecuali.
Keputusan Melakukan Transfer
Lakukan pendekatan yang sistematis dalam proses transfer pasien.
Awali dengan pengambilan keputusan untuk melakukan transfer, kemudian lakukan

3.

stabilisasi pre-transfer dan manajemen transfer.


Hal ini mencakup tahapan: evaluasi, komunikasi, dokumentasi / pencatatan, pemantauan,
penatalaksanaan, penyerahan pasien antar ruangan dalam rumah sakit maupun ke rumah

4.

sakit rujukan / penerima, dan kembali ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II


Tahapan yang penting dalam menerapkan proses transfer yang aman: edukasi dan

5.

persiapan.
Pengambilan keputusan untuk melakukan transfer harus dipertimbangkan dengan matang
karena transfer berpotensi mengekspos pasien dan personel rumah sakit akan risiko

6.

bahaya tambahan, serta menambah kecemasan keluarga dan kerabat pasien.


Pertimbangkan risiko dan keuntungan dilakukannya transfer. Jika risikonya lebih besar,
sebaiknya jangan melakukan transfer.

7.

Dalam transfer pasien, diperlukan personel yang terlatih dan kompeten, peralatan dan

8.

kendaraan khusus.
Pengambil keputusan harus melibatkan DPJP/ dokter senior (biasanya seorang konsultan)

9.

dan dokter ruangan.


Dokumentasi pengambilan keputusan harus mencantumkan nama dokter yang mengambil
keputusan (berikut gelar dan biodata detailnya), tanggal dan waktu diambilnya keputusan,

10.

serta alasan yang mendasari.


Terdapat 3 alasan untuk melakukan transfer pasien keluar RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II, yaitu:
a. Transfer untuk penanganan dan perawatan spesialistik lebih lanjut
a.Ini merupakan situasi emergensi di mana sangat diperlukan transfer yang
efisien untuk tatalaksana pasien lebih lanjut, yang tidak dapat disediakan RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
b.
Pasien harus stabil dan teresusitasi dengan baik sebelum ditransfer.
c.Saat menghubungi jasa ambulan, pasien dapat dikategorikan sebagai tipe
transfer gawat darurat, (misalnya ruptur aneurisma aorta. juga dapat
dikategorikan sebagai tipe transfer gawat, misalnya pasien dengan kebutuhan
hemodialisa.
b. Transfer antar rumah sakit untuk alasan non-medis (misalnya karena ruangan penuh,
fasilitas kurang mendukung, jumlah petugas rumah sakit tidak adekuat)
a.Idealnya, pasien sebaiknya tidak ditransfer jika bukan untuk kepentingan
mereka.
b.
Terdapat beberapa kondisi di mana permintaan / kebutuhan akan tempat
tidur/ ruang rawat inap melebihi suplai sehingga diputuskanlah tindakan untuk
mentransfer pasien ke unit / rumah sakit lain.
c.Pengambilan keputusan haruslah mempertimbangkan aspek etika, apakah akan
mentransfer pasien stabil yang telah berada / dirawat di unit intensif rumah
sakit atau mentransfer pasien baru yang membutuhkan perawatan intensif tetapi
kondisinya tidak stabil.
d.
Saat menghubungi jasa ambulan, pasien ini dapat dikategorikan sebagai
tipe transfer gawat.

c. Repatriasi / Pemulangan Kembali

a.Transfer hanya boleh dilakukan jika pasien telah stabil dan kondisinya dinilai
cukup baik untuk menjalani transfer oleh DPJP/ dokter senior / konsultan yang
merawatnya.
Pertimbangan akan risiko dan keuntungan dilakukannya transfer harus

b.

dipikirkan dengan matang dan dicatat.


c.Jika telah diputuskan untuk melakukan repatriasi, transfer pasien ini haruslah
menjadi prioritas di rumah sakit penerima dan biasanya lebih diutamakan
dibandingkan penerimaan pasien elektif ke unit ruang rawat. Hal ini juga
membantu menjaga hubungan baik antar-rumah sakit.
d.

Saat menghubungi jasa ambulan, pasien ini biasanya dikategorikan


sebagai tipe transfer elektif.

11. Saat keputusan transfer telah diambil, dokter yang bertanggung jawab/ dokter ruangan
akan menghubungi unit / rumah sakit yang dituju.
13. Dalam mentransfer pasien antar rumah sakit, petugas transfer RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II (DPJP/ PPJP/ dr ruangan) akan menghubungi
rumah sakit yang dituju dan melakukan negosiasi dengan unit yang dituju. Jika unit
tersebut setuju untuk menerima pasien rujukan, petugas transfer RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II harus memastikan tersedianya peralatan medis
yang memadai di rumah sakit yang dituju.
14. Keputusan final untuk melakukan transfer ke luar RS Muhammadiyah Yogyakarta
Unit II dipegang oleh dokter senior / DPJP/ konsultan rumah sakit yang dituju.
15. Beritahukan kepada pasien (jika kondisinya memungkinkan) dan keluarga mengenai
perlunya dilakukan transfer antar rumah sakit, dan mintalah persetujuan tindakan
transfer.
16. Proses pengaturan transfer ini harus dicatat dalam status rekam medis pasien yang
meliputi: nama, jabatan, dan detail kontak personel yang membuat kesepakatan baik
di rumah sakit yang merujuk dan rumah sakit penerima; tanggal dan waktu
dilakukannya komunikasi antar-rumah sakit; serta saran-saran / hasil negosiasi kedua
belah pihak.
17. Personel petugas transfer telah mengikuti pelatihan minimal BLS dan PPGD dan
memiliki kompetensi yang sesuai; berpengalaman; mempunyai peralatan yang
memadai; dapat bekerjasama dengan jasa pelayanan ambulan, protokol dan panduan

rumah sakit, serta pihak-pihak lainnya yang terkait; dan juga memastikan proses
transfer berlangsung dengan aman dan lancar
18. Pusat layanan ambulan harus diberitahu sesegera mungkin jika keputusan untuk
melakukan transfer telah dibuat, bahkan bila waktu pastinya belum diputuskan. Hal
ini memungkinkan layanan ambulan untuk merencanakan pengerahan petugas
dengan lebih efisien.
VII. Stabilisasi sebelum transfer
1. Meskipun berpotensi memberikan risiko tambahan terhadap pasien, transfer yang aman
dapat dilakukan bahkan pada pasien yang sakit berat / kritis (extremely ill).
2. Transfer sebaiknya tidak dilakukan bila kondisi pasien belum stabil (pasien kalau
kondisi sudah stabil)
3. Hipovolemia adalah kondisi yang sulit ditoleransi oleh pasien akibat adanya akselerasi
dan deselerasi selama transfer berlangsung, sehingga hipovolemia harus sepenuhnya
dikoreksi sebelum transfer.
4. Unit/ rumah sakit yang dituju untuk transfer harus memastikan bahwa ada prosedur /
pengaturan transfer pasien yang memadai.
5. Perlu waktu hingga beberapa jam mulai dari setelah pengambilan keputusan dibuat
hingga pasien ditransfer ke unit/ rumah sakit lain.
6. Hal yang penting untuk dilakukan sebelum transfer:
a. Amankan patensi jalan napas
Beberapa pasien mungkin membutuhkan intubasi atau trakeostomi dengan
pemantauan SpO2 yang adekuat.
b. Analisis gas darah harus dilakukan pada pasien yang menggunakan ventilator
portabel selama minimal 15 menit.
c. Terdapat jalur / akses vena yang adekuat (minimal 2 kanula perifer atau sentral)
d. Pengukuran tekanan darah invasif yang kontinu / terus-menerus merupakan teknik
terbaik untuk memantau tekanan darah pasien selama proses transfer berlangsung.
e. Jika terdapat pneumotoraks, selang drainase dada (Water-Sealed Drainage-WSD)
harus terpasang dan tidak boleh diklem.
f. Pasang kateter urin dan nasogastric tube (NGT), jika diperlukan
g. Pemberian terapi /tatalaksana tidak boleh ditunda saat menunggu pelaksanaan
transfer
7. Unit/ rumah sakit yang dituju dapat memberikan saran mengenai penanganan
segera / resusitasi yang perlu dilakukan terhadap pasien pada situasi-situasi khusus,
namun tanggung jawab tetap pada petugas transfer.
8. Petugas transfer harus familiar dengan peralatan yang ada dan secara independen
menilai kondisi pasien.

9. Seluruh peralatan dan obat-obatan harus dicek ulang oleh petugas transfer.
10. Gunakanlah daftar persiapan transfer pasien (lampiran 1) untuk memastikan bahwa
semua persiapan yang diperlukan telah lengkap dan tidak ada yang terlewat.
VIII. Pendampingan Pasien Selama Transfer
1.
Pasien dengan sakit berat / kritis harus didampingi oleh minimal 2 orang tenaga medis.
2.
Kebutuhan akan jumlah tenaga medis / petugas yang mendampingi pasien bergantung
pada kondisi / situasi klinis dari tiap kasus (tingkat / level beratnya penyakit / kondisi
3.

pasien).
Dokter DPJP bertugas untuk membuat keputusan dalam menentukan siapa saja yang

4.

harus mendampingi pasien selama transfer berlangsung.


Sebelum melakukan transfer, petugas yang mendampingi harus paham dan mengerti

5.

akan kondisi pasien dan aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan proses transfer.
Berikut ini adalah pasien-pasien yang tidak memerlukan dampingan dokter selama
proses transfer antar-rumah sakit berlangsung.
a. Pasien yang dapat mempertahankan patensi jalan napasnya dengan baik dan tidak

6.

membutuhkan bantuan ventilator / oksigenasi


b. Pasien dengan perintah Do Not Resuscitate (DNR)
Berikut adalah panduan perlu atau tidaknya dilakukan transfer berdasarkan tingkat
/ level kebutuhan perawatan pasien kritis. (keputusan harus dibuat oleh dokter ICU/
DPJP)
a. Level 0:
Pasien yang dapat terpenuhi kebutuhannya dengan ruang rawat biasa di unit/
rumah sakit yang dituju; biasanya tidak perlu didampingi oleh dokter, perawat,
atau paramedis (selama transfer).
b. Level 1:
Pasien dengan risiko perburukan kondisi, atau pasien yang sebelumnya menjalani
perawatan di intensive Care Unit (ICU); di mana membutuhkan perawatan di
ruang rawat biasa dengan saran dan dukungan tambahan dari petugas perawatan
kritis; dapat didampingi oleh perawat, petugas ambulan, dan atau dokter (selama
transfer).
c. Level 2:
Pasien yang membutuhkan observasi / intervensi lebih ketat, termasuk
penanganan kegagalan satu sistem organ atau perawatan pasca-operasi, dan pasien
yang sebelumnya dirawat di ICU; harus didampingi oleh petugas yang kompeten,
terlatih, dan berpengalaman (biasanya dokter dan perawat / paramedis lainnya).
d. Level 3:

Pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan lanjut (advanced respiratory


support) atau bantuan pernapasan dasar (basic respiratory support) dengan
dukungan / bantuan pada minimal 2 sistem organ, termasuk pasien-pasien yang
membutuhkan penanganan kegagalan multi-organ; harus didampingi oleh petugas
yang kompeten, terlatih, dan berpengalaman (biasanya dokter dan perawat ruang
intensif / IGD atau paramedis lainnya).
Saat dokter di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II tidak dapat menjamin

7.

terlaksananya bantuan / dukungan yang aman selama proses transfer; pengambilan


8.

keputusan haruslah memperpetugasbangkan prioritas dan risiko terkait transfer.


Semua petugas yang tergabung dalam petugas transfer untuk pasien dengan sakit berat /

9.

kritis harus kompeten, terlatih, dan berpengalaman.


Petugas yang mendampingi harus membawa telepon genggam selama transfer
berlangsung yang berisi nomor telphon RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
dan rumah sakit tujuan.
Keselamatan adalah parameter yang penting selama proses transfer.

10.

IX.

Kompetensi Pendamping Pasien dan Peralatan yang harus Dibawa Selama Transfer
1. Kompetensi SDM untuk transfer intra RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
Pasien

Level 0
Level 0,5 (orang
tua/delirium)
Level 1

Petugas
pendamping
(minimal)
Care giver/
Petugas Keamanan
Care giver/
Petugas Keamanan
Perawat/Petugas
yang
berpengalaman
(sesuai dengan
kebutuhan pasien)

Level 2

Perawat dan
Petugas
keamanan/care
Giver

Level 3

Dokter, perawat,

keterampilan yang dibutuhkan

Peralatan Utama

Bantuan hidup dasar


Bantuan hidup dasar

Oksigen
Suction
Tiang infus portabel
Pompa infus dengan
baterai
Oksimetri denyut
Semua ketrampilan di atas,
Semua peralatan di
ditambah;
atas, ditambah;
Dua tahun pengalaman dalam
Monitor EKG dan
perawatan intensif (oksigenasi,
tekanan darah
sungkup pernapasan, defibrillator, Defibrillator
monitor)
Standar kompetensi dokter harus di Monitor ICU portabel
Bantuan hidup dasar
Pemberian obat-obatan
Kenal akan tanda deteriorasi
Keterampilan trakeostomi dan
suction

dan Care Giver

atas standar minimal

Dokter:
Minimal pelatihan ACLS dan
BCLS

yang lengkap
Ventilator dan
peralatan transfer
yang memenuhi
standar minimal.

Keterampilan bantuan hidup


dasar dan lanjut
Keterampilan menangani
permasalahan jalan napas dan
pernapasan,.
Harus mengikuti pelatihan untuk
transfer pasien dengan sakit
berat / kritis
Perawat:
Minimal 2 tahun bekerja di ICU
Keterampilan bantuan hidup
dasar dan lanjut
Harus mengikuti pelatihan untuk
transfer pasien dengan sakit
berat / kritis
(lengkapnya lihat Lampiran 1)

TRANSFER INTRA-RUMAH SAKIT


1. Standar: pemantauan minimal, pelatihan, dan petugas yang berpengalaman; diaplikasikan
pada transfer intra- dan antar-rumah sakit
2. Sebelum transfer, lakukan analisis mengenai risiko dan keuntungannya.
3. Sediakan kapasitas cadangan oksigen dan daya baterai yang cukup untuk mengantisipasi
kejadian emergensi.
4. Peralatan listrik harus tepasang ke sumber daya (stop kontak) dan oksigen sentral
digunakan selama perawatan di unit tujuan.
5. Petugas yang mentransfer pasien ke ruang pemeriksaaan radiologi harus paham akan
bahaya potensial yang ada.
6. Semua peralatan yang digunakan pada pasien tidak boleh melebihi level pasien

2. Kompetensi SDM untuk transfer antar rumah sakit


Pasien

Level 0

Level 0,5 (orang


tua/delirium)
Level 1

Level 2

Petugas
pendamping
(minimal)
petugas
ambulan
petugas
ambulan
paramedis
Petugas
ambulan
perawat

Dokter,
perawat,dan
petugas
ambulans

keterampilan yang dibutuhkan

Bantuan hidup dasar (BHD)

Bantuan hidup dasar


dan

dan

Level 3

Dokter, perawat,
dan
petugas
ambulan

Peralatan Utama dan


Jenis Kendaraan
Kendaraan
High
Dependency
Service
(HDS)/ Ambulan
Kendaraan
HDS/
Ambulan

Kendaraan
HDS/
Ambulan
Oksigen
Suction
Tiang infus portabel
Infus
pump
dengan
baterai
Oksimetri
Semua ketrampilan di atas,
Ambulans EMS Mercedes
ditambah;
515
Penggunaan alat pernapasan
Semua peralatan di atas,
Bantuan hidup lanjut
ditambah;
Penggunaan kantong pernapasan Monitor
EKG
dan
(bag-valve mask)
tekanan darah
Penggunaan defibrillator
Defibrillator
bila
Penggunaan monitor intensif
diperlukan
Ambulans lengkap/ AGD
Dokter:
118
Minimal pelatihan ACLS dan

Monitor
ICU portabel
BCLS
yang lengkap
Keterampilan bantuan hidup
Ventilator dan peralatan
dasar dan lanjut
transfer
yang
Keterampilan menangani
memenuhi
standar
permasalahan jalan napas dan
minimal.
Bantuan hidup dasar
Pemberian oksigen
Pemberian obat-obatan
Kenal akan tanda deteriorasi
Keterampilan perawatan
trakeostomi dan suction

pernapasan, minimal level


ST 3 atau selevel.
Harus mengikuti pelatihan
untuk transfer pasien dengan
sakit berat / kritis
Perawat:
Minimal 2 tahun bekerja di

ICU
Keterampilan bantuan hidup
dasar dan lanjut
Harus mengikuti pelatihan
untuk transfer pasien dengan
sakit berat / kritis
(lengkapnya lihat Lampiran 1)

X.

PEMANTAUAN, OBAT-OBATAN, DAN PERALATAN SELAMA TRANSFER


PASIEN KRITIS
1. Pasien dengan kebutuhan perawatan kritis memerlukan pemantauan selama proses
transfer.
2. Standar pelayanan dan pemantauan pasien selama transfer setidaknya harus sebaik
pelayanan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II/ RS tujuan.
3. Peralatan pemantauan harus tersedia dan berfungsi dengan baik sebelum transfer
dilakukan. Standar minimal untuk transfer pasien antara lain:
a. Kehadiran petugas yang kompeten secara kontinu selama transfer
b. EKG kontinu
c. Pemantauan tekanan darah (non-invasif)
d. Saturasi oksigen (oksimetri denyut)
e. Terpasangnya jalur intravena
f. Terkadang memerlukan akses ke vena sentral
g. Peralatan untuk memantau cardiac output
h. Mempertahankan dan mengamankan jalan napas
i. Pemantauan temperatur pasien secara terus-menerus (untuk mencegah terjadinya
hipotermia atau hipertermia)1
4. Pengukuran tekanan darah non-invasif intermiten, sensitif terhadap gerakan dan tidak
dapat diandalkan pada mobil yang bergerak. Selain itu juga cukup menghabiskan baterai
monitor.
5. Idealnya, semua pasien level 3 harus dipantau pengukuran tekanan darah (wajib pada
pasien dengan cedera otak akut; pasien dengan tekanan darah tidak stabil atau
berpotensi menjadi tidak stabil; atau pada pasien dengan inotropik).
6. Kateterisasi vena sentral tidak wajib tetapi membantu memantau filling status (status
volume pembuluh darah) pasien sebelum transfer.
7. Pemantauan tekanan intracranial mungkin diperlukan pada pasien-pasien tertentu.
8. Pada pasien dengan pemasangan ventilator, lakukan pemantauan suplai oksigen,
tekanan pernapasan (airway pressure), dan pengaturan ventilator.2

9. Petugas transfer yang terlibat harus memastikan ketersediaan obat-obatan yang


diperlukan, antara lain: (sebaiknya obat-obatan ini sudah disiapkan di dalam jarum

11.
12.
13.
14.
15.
16.

suntik)
a.
b.
c.
d.
e.
Hindari

Obat resusitasi dasar: epinefrin, anti-aritmia3


Obat sedasi
Analgesik
Relaksans otot
Obat inotropik
penggunaan tiang dengan selang infus yang terlalu banyak agar akses terhadap

pasien tidak terhalang dan stabilitas brankar terjaga dengan baik.1


Semua infus harus diberikan melalui syringe pumps.
Penggunaan tabung oksigen tambahan harus aman dan terpasang dengan baik.
Petugas transfer harus familiar dengan seluruh peralatan yang ada di ambulans.2
Pertahankan temperature pasien, lindungi telinga dan mata pasien selama transfer.
Seluruh peralatan harus kokoh, tahan lama, dan ringan.
17.
Peralatan listrik harus dapat berfungsi dengan menggunakan baterai (saat tidak
18.
19.

disambungkan dengan stop kontak/listrik).


Baterai tambahan harus dibawa (untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik)
Monitor yang portabel harus mempunyai layar yang jernih dan terang dan dapat
memperlihatkan elektrokardiogram (EKG), saturasi oksigen arteri, pengukuran

20.

tekanan darah (non-invasif), dan temperatur.


Pengukuran tekanan darah non-invasif pada monitor portabel dapat dengan cepat
menguras baterai dan tidak dapat diandalkan saat terdapat pergerakan ekternal /

21.
22.

vibrasi (getaran).
Alarm dari alat harus terlihat jelas dan terdengar dengan cukup keras.
Ventilator mekanik yang portabel harus mempunyai (minimal):
a. alarm yang berbunyi jika terjadi tekanan tinggi atau terlepasnya alat dari tubuh
pasien
b. mampu menyediakan tekanan akhir ekspirasi positif (positive end expiratory
pressure) dan berbagai macam konsentrasi oksigen inspirasi
c. pengukuran rasio inspirasi : ekspirasi, frekuensi pernapasan per-menit, dan
volume tidal.
d. Mampu menyediakan ventilasi tekanan terkendali (pressure-controlled
ventilation) dan pemberian tekanan positif berkelanjutan (continuous positive

23.

airway pressure)
Semua peralatan harus terstandarisasi sehingga terwujudnya suatu proses transfer
yang lancar dan tidak adanya penundaan dalam pemberian terapi / obat-obatan.1

24.

Catatlah status pasien, tanda vital, pengukuran pada monitor, tatalaksana yang
diberikan, dan informasi klinis lainnya yang terkait. Pencatatan ini harus dilengkapi

25.

selama transfer.
Pasien harus dipantau secara terus-menerus selama transfer dan dicatat di lembar

26.

pemantauan.
Monitor, ventilator, dan pompa harus terlihat sepanjang waktu oleh petugas dan
harus dalam posisi aman di bawah level pasien.

XI.

Pemilihan Metode Transfer antar RS untuk Pasien Kritis


1. Pemilihan metode transfer harus memtimbangkan sejumlah komponen penting seperti di
bawah ini.
a. Level urgensi untuk melakukan transfer
b. Kondisi pasien
c. Faktor geografik
d. Arus lalu lintas
e. Ketersediaan / availabilitas
f. Jarak tempuh
2. Pilihan kendaraan untuk transfer pasien antara lain:
Jasa Ambulan Gawat Darurat
a.Siap sedia dalam 24 jam
b. Perjalanan darat
c. Durabilitas: dengan pertimbangan petugas dan peralatan yang dibutuhkan dan
lamanya waktu yang diperlukan.
d. Kontak: pusat ambulan: AGD 118
Alat transportasi untuk transfer pasien antar rumah sakit
1.
Gunakan mobil ambulan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II/ AGD 118.
2.
3.

Mobil dilengkapi soket listrik 12 V, suplai oksigen, monitor, dan peralatan lainnya
Sebelum melakukan transfer, pastikan kebutuhan-kebutuhan untuk mentransfer
pasien terpenuhi (seperti suplai oksigen, baterai cadangan, dll).
Standar Peralatan di Ambulan
a. Suplai oksigen
b. Ventilator
c. Jarum suntik
d. Suction
e. Baterai cadangan
f. Syringe / infusion pumps (tinggi pompa sebaiknya tidak melebihi posisi
pasien
g. Alat penghangat ruangan portabel (untuk mempertahankan temperatur pasien)
h. Alat kejut jantung (defibrillator)

4.Petugas transfer/ SDM pendamping dapat memberi saran mengenai kecepatan ambulan yang
diperlukan, dengan mempertimbangkan kondisi klinis pasien.
5.Keputusan untuk menggunakan sirene diserahkan kepada supir ambulans. Tujuannya adalah
untuk memfasilitasi transfer yang lancar dan segera dengan akselerasi dan deselerasi yang
minimal.
6.Pendampingan oleh polisi dapat dipertimbangkan pada area yang sangat padat penduduknya
7.Petugas harus tetap duduk selama transfer dan menggunakan sabuk pengaman.
8.Jika terdapat kegawatdaruratan medis dan pasien membutuhkan intervensi segera, berhentikan
ambulan di tempat yang aman dan lakukan tindakan yang diperlukan.
9.Jika petugas diperlukan untuk turun dari kendaraan / ambulan, gunakanlah pakaian yang jelas
terlihat oleh pengguna jalan lainnya.
XII.

Dokumentasi dan Penyerahan pasien transfer antar rumah sakit


1.

Lakukan pencatatan yang jelas dan lengkap dalam semua tahapan transfer, dan harus
mencakup:
a. detail kondisi pasien
b. alasan melakukan transfer
c. nama konsultan yang merujuk dan menerima rujukan
d. status klinis pre-transfer
e. detail tanda vital, pemeriksaan fisik, dan terapi yang diberikan selama transfer

2.
3.

berlangsung
Pencatatan harus terstandarisasi antar-rumah sakit jejaring dan diterapkan untuk
transfer intra- dan antar-rumah sakit.
Rekam medis harus mengandung:
a. resume singkat mengenai kondisi klinis pasien sebelum, selama, dan setelah
transfer; termasuk kondisi medis yang terkait, faktor lingkungan, dan terapi yang

4.

diberikan.
b. Data untuk proses audit. Petugas transfer harus mempunyai salinan datanya.
Harus ada prosedur untuk menyelidiki masalah-masalah yang terjadi selama proses

5.

transfer, termasuk penundaan transportasi.


Petugas transfer harus memperoleh informasi yang jelas mengenai lokasi rumah sakit

6.

yang dituju sebelum mentransfer pasien.


Saat tiba di rumah sakit tujuan, harus ada proses serah-terima pasien antara petugas
transfer dengan pihak rumah sakit yang menerima (paramedis dan perawat) yang akan

7.

bertanggungjawab terhadap perawatan pasien selanjutnya.


Proses serah-terima pasien harus mencakup pemberian informasi (baik secara verbal
maupun tertulis) mengenai riwayat penyakit pasien, tanda vital, hasil pemeriksaan

penunjang (laboratorium, radiologi), terapi, dan kondisi klinis selama transfer


8.

berlangsung.
Hasil pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan yang lainnya harus dideskripsikan dan

9.

diserahkan kepada petugas rumah sakit tujuan.


Setelah menyerahkan pasien, petugas transfer dibebastugaskan dari kewajiban

10.

merawat pasien.
Perlu penyediaan pakaian, sejumlah peralatan yang dapat dibawa, dan sejumlah uang
untuk memfasilitasi mekanisme perjalanan kembali petugas transfer.

XIII. Komunikasi dalam Transfer Pasien Antar Rumah Sakit


1.

Pasien (jika memungkinkan) dan keluarganya harus diberitahu mengenai alasan


transfer dan lokasi rumah sakit tujuan. Berikanlah nomor telepon rumah sakit tujuan

2.

dan jelaskan cara untuk menuju ke RS tersebut.


Pastikan bahwa rumah sakit tujuan dapat dan setuju untuk menerima pasien sebelum

3.

dilakukan transfer.
Kontak pertama harus dilakukan oleh konsultan/ dokter penanggung jawab di kedua

4.

rumah sakit, untuk mendiskusikan mengenai kebutuhan medis pasien.


Untuk kontak selanjutnya, tunjuklah satu orang lainnya (biasanya perawat senior).
Bertugas sebagai komunikator utama sampai transfer selesai dilakukan.
a. Jika selama transfer terjadi pergantian jaga perawat yang ditunjuk, berikan
penjelasan mengenai kondisi pasien yang ditransfer dan lakukan penyerahan
tanggung jawab kepada perawat yang menggantikan.
b. Komunikator utama harus menghubungi
pelayanan ambulan, jika ingin
menggunakan jasanya dan harus menjadi kontak satu-satunya untuk diskusi
selanjutnya antara rumah sakit dengan layanan ambulans.
c. Harus memberikan informasi terbaru mengenai kebutuhan perawatan pasien

5.

kepada rumah sakit tujuan.


Petugas transfer harus berkomunikasi dengan rumah sakit asal dan tujuan mengenai
penanganan medis yang diperlukan dan memberikan update perkembangannya.

XIV. Audit dan Jaminan Mutu


1.
2.
3.

Buatlah catatan yang jelas dan lengkap selama transfer.


Dokumentasi ini akan digunakan sebagai acuan data dasar dan sarana audit
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II bertanggung jawab untuk menjaga
berlangsungnya proses pelaporan insidens yang terjadi dalam transfer dengan
menggunakan protokol standar RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II

4.

Data audit akan ditinjau ulang secara teratur oleh RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II

LAMPIRAN 1
KOMPETENSI UNTUK TRANSFER PASIEN DENGAN SAKIT BERAT / KRITIS
LEVEL 3 INTRA- DAN ANTAR-RUMAH SAKIT2
Semua pasien sakit berat / kritis level 3 didampingi oleh 2 orang selama transfer. Satu orang
adalah dokter, biasanya spesialis anestesi yang sudah terlatih dalam penanganan jalan napas. Satu
orang lagi adalah perawat atau dokter umum. Terdapat standar keterampilan minimal untuk
melakukan transfer pasien. Berikut adalah kompetensi yang diperlukan.
Dokter
Harus memiliki:

1. Berpengalaman mengenai kegawatan


2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
3. Keterampilan menangani permasalahan jalan napas dan pernapasan, minimal level ST 3
atau selevel.
4. Harus mengikuti pelatihan untuk transfer pasien dengan sakit berat / kritis
Perawat
Harus memiliki:
1. Berpengalaman dalam menangani pasien dengan kegawatan
2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
3. Sudah berpengalaman untuk transfer pasien dengan sakit berat / kritis
Peralatan
1. Ventilator
Dokter harus:
a. Memiliki pengetahuan yang cukup terhadap fungsi dan jenis ventilator yang
digunakan
b. Mampu mengganti baterai
c. Mampu mengganti tabung oksigen dan menghitung kebutuhan oksigen pasien
Perawat harus:
a. mampu mengganti tabung oksigen
b. mampu mengganti baterai
2. Pompa
Dokter dan perawat harus:
a. Mampu mengganti baterai
b. Mampu mengoperasikan jarum suntik / syringe pumps
c. Mampu mengatur kecepatan infus dan memberikan bolus cairan / obat
3. Monitor
Dokter dan perawat harus dapat:
a. Mendeteksi adanya gelombang yang patologis
b. Melakukan pemantauan invasive
c. Mengoperasikan EKG
d. Mengoperasikan oksimetri denyut
4. Kantong peralatan medis untuk transfer (transfer bag)
Dokter dan perawat harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai isi kantong
peralatan medis.
5. Troli transfer
Dokter dan perawat harus mengetahui cara mengoperasikan troli dan mengamankan
pasien serta peralatan di dalamnya.
Pengangkutan Pasien
Dokter dan perawat harus dapat mendemonstrasikancara mengangkut pasien dengan aman.

Komunikasi dan Panduan


Dokter dan perawat harus dapat:
1. Mendemonstrasikan cara berkomunikasi dengan rumah sakit tujuan dan pusat layanan
ambulans.
2. Membaca dan memahami kebijakan transfer setempat dan nasional
3. Memiliki pengetahuan mengenai struktur kendali dan pemberian perintah untuk transfer

Transfer
Dokter dan perawat harus mempunyai pengetahuan yang cukup akan risiko yang dapat terjadi
selama melakukan transfer pada pasien dengan sakit berat / kritis via menggunakan kendaraan
yang bergerak (baik pada transportasi darat maupun udara), dan waspada akan bahaya yang
mungkin terjadi kepada petugas dan atau pasien.
Penyerahan Pasien
Dokter dan perawat harus mengetahui prosedur serah-terima pasien di rumah sakit tujuan.
Orientasi
Dokter dan perawat telah mengetahui kondisi di dalam kendaraan transportasi yang akan
digunakan (ambulans atau pesawat) sebelum melakukan transfer.
Panduan Pemantauan Minimal
Dokter harus memiliki pengetahuan mengenai panduan pemantauan minimal.

LAMPIRAN 2
PERALATAN TRANSFER MINIMAL UNTUK ANTAR RUMAH SAKIT
1. Manajemen jalan napas / oksigenasi (dewasa dan anak)
a. Sistem bag-valve dewasa dan anak dengan reservoir oksigen
b. Sungkup dewasa dan anak
c. Penghubung sistem bag-valve dengan endotracheal (ETT)/ tracheostomy tube
d. Monitor end-tidal carbon dioxide (dewasa dan anak)
e. Laringoskop Miller
f. Stilet / mandrin ETT (dewasa dan anak)
g. Forceps Magil (dewasa dan anak)
h. Selang ETT (5.0, 5.5, 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, 8.0)
i. Pegangan laringoskop (dewasa dan anak)
j. Baterai cadangan dan bola lampu laringoskop
k. Nasopharyngeal airways (NPA) / Oropharyngeal airways (OPA)
l. Pisau bedah (scalpel)
m. Alat krikotiroidotomi
n. Pelumas / gel
o. Nasal kanul (dewasa dan anak)
2. Lem perekat
3. Nebulizer
4. Kapas alkohol
5. Brankar (dewasa dan anak)
6. Jarum untuk bone marrow (sum-sum tulang belakang) untuk infus pada anak
7. Pengukur tekanan darah
8. Winged needle
9. Telepon genggam
10. Gel / bantalan elektroda defibrillator
11. Stik gula darah sewaktu (GDS)
12. Monitor EKG / defibrillator
13. Elektroda EKG
14. Senter dengan baterai cadangan
15. Pompa infus (infusion pumps)
16. Selang infus
17. Three-way
18. Kateter intravena
19. Cairan infus (normal saline-NS, ringer laktat-RL, dekstrosa 5%)
20. Spuit
21. Klem Kelley
22. Oksimetri denyut
23. Nasogastric tube (NGT)
24. Tali penahan untuk ekstremitas
25. Stetoskop
26. Suction
27. Kassa

28. Tourniquet
29. Gunting
30. Tambahan:
a. Alat imobilisasi spinal
b. Ventilator portabel

LAMPIRAN 3
OBAT-OBATAN TRANSFER MINIMAL ANTAR RUMAH SAKIT
(Bila diperlukan)

1. Adenosine, 6mg/2ml
2. Albuterol, 2,5mg/2ml
3. Amiodaron, 150mg/3ml
4. Atropine, 1mg/10ml
5. Kalsium klorida, 1g/10ml
6. Catacaine/hurricaine spray
7. Dekstrosa 25%, 10ml
8. Dekstrosa 50%, 50ml
9. Digoksin, 0,5mg/2ml
10. Diltiazem, 25mg/5ml
11. Difenhidramin, 50mg/1ml
12. Dopamine, 200mg/5ml
13. Epinefrin, 1mg/10ml (1:10.000)
14. Epinefrin, 1mg/1ml (1:1.000)
15. Fosfenitoin, 750mg/10ml
16. Furosemide, 100mg/10ml

17. Glucagon, 1mg (vial)


18. Heparin, 1.000 U/1ml
19. Isoproterenol, 1mg/5ml
20. Labetalol, 40mg/8ml
21. Lidokain, 100mg/10ml
22. Lidokain, 2g/10ml
23. Manitol, 50g/50ml
24. MgSO4, 1g/2ml
25. Metilprednisolon, 125mg/2ml
26. Metoprolol, 5mg/5ml
27. Nalokson, 2mg/2ml
28. Nitrogliserin IV, 50mg/10ml
29. Nitrogliserin tablet, 0,4mg
30. Nitroprusid, 50mg/2ml
31. Normal Saline NS, 30 ml untuk
injeksi

32. Fenobarbital, 65mg/ml atau 130mg/ml


33. KCl, 20 mEq/10ml
34. Prokainamid, 1.000mg/10ml
35. Natrium bikarbonat, 5mEq/10ml

36. Natrium bikarbonat, 50mEq/50ml


37. Akua bidestilata, 30ml untuk injeksi
38. Terbutalin, 1mg/1ml
39. Verapamil, 5mg/2ml

40. Obat-obatan berikut ini ditambahkan ke tas emergency segera sebelum transfer
sesuai dengan indikasi pasien:
1. Analgesik narkose (morfin, fentanil)
2. Sedasi / hypnosis (lorazepam, midazolam, propofol, etomidat, ketamin)
3. Agen neuromuscular blocker (suksinilkolin, pankuronium, atrakurium,
rokuronium)
4. Prostaglandin E1
5. Surfaktan paru

41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.

60. DAFTAR PUSTAKA


61.

Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland (2009). AAGBI


safety guideline: interhospital transfer. London

62.

Welsh Assembly Government (2009). Designed for life: Welsh guidelines for
the transfer of critically ill adult; 2009.

63.

Warren J, Fromm RE, Orr RA, Rotello LC, Horst M. (2004). Guidelines for
the inter- and intrahospital transport of critically ill patients. American
College of Critical Care Medicine. Crit Care Med. 2004;1:256-62.

64.

North West London Cardiac & Stroke Network (2010). Web-based


interhospital transfers: user guide. London: NHS
65.