Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH PAI

PLURALISME DALAM ISLAM “UPAYA MEMBANGUN
TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI
INDONESIA”

Oleh:
GINANJAR HIDAYATULLAH
151610101078
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
KELOMPOK 6
PAI – 96

DAFTAR ISI
1

BAB I……………………………………………………………………………… 3
1.1 LATAR BELAKANG…………………………………………………..……... 3
1.2 RUMUSAN MASALAH…………………………………………………….… 6
BAB II……………………………………………………………………………... 7
2.1 PENGERTIAN PLURALISME ………………………………………………. 7
2.2 PLURALISME AGAMA …….……………………………………………….. 9
2.3 MUNCULNYA PLUSRALISME AGAMA …………………………………. 11
2.4 PENGERTIAN TOLERANSI ……………………………………...………… 15
2.5 HAK DAN KEWAJIBAN ANTAR UMAT BERAGAMA ….……………… 16
2.6 FAKTOR TIDAK DAPAT TOLERANSI DALAM BERAGAMA ………… 18
BAB III…………………………………………………………………………… 19
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….... 20

BAB I

2

yang komposisinya adalah kebebasan. khususnya Islam. dengan pemahaman yang dikenal sekarang. 3 . persamaan dan keragaman atau pluralisme. sejatinya sama sekali bukan barang baru. pengaruh gagasan ini belum mampu menerobos batas-batas geografis regional. masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkung an agama. tepatnya pada abad ke-18 Masehi. Di tengah hiruk-pikuk pergolakan pemikiran di Eropa yang timbul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata di luar gereja. sehingga hanya populer di anak benua India. mulailah gagasan pluralisme agama berkembang secara pelan tapi pasti.PENDAHULUAN 1. Jika ditelusuri lebih jauh dalam peta sejarah peradaban agama-agama dunia. Cikal bakal pluralisme agama ini muncul di India pada akhir abad ke-15 dalam gagasan-gagasan Kabir (1440-1518) dan muridnya. yang disertai dengan berkembangnya pendekatan-pendekat an baru kajian agama (scientific study of religion). kecenderungan sikap beragama yang pluralistik.1 Latar Belakang Pemikiran pluralisme agama muncul pada masa yang disebut dengan Pencerahan (Enlightment) Eropa. munculah suatu paham yang dikenal dengan “liberalisme”. Ketika arus globalisasi telah semakin menipiskan pagar-pagar kultural Barat-Timur dan mulai maraknya interaksi kultural antar kebudayaan dan agama dunia. toleransi. dan mendapat tempat di hati para intelektual hampir secara universal. yaitu Guru Nanak (1469-1538) pendiri “Sikhisme”. Hanya saja. kemudian di lain pihak timbulnya kegairahan baru dalam meneliti dan mengkaji agama-agama Timur.

kemudian ke Kristen dan akhirnya kembali ke Hindu lagi. Rammohan Ray (1772-1833) pencetus gerakan Brahma Samaj yang semula pemeluk agama Hindu. Sri Ramakrishna (1834-1886). Sen ketika mengunjungi Eropa sempat berjumpa dan berdiskusi dengan F. maka mengubah seseorang dari satu agama ke agama yang lain (prosilitisasi) merupakan tindakan yang tidak menjustifikasi. sebagaimana yang muncul pada gerakan-gerakan pembaruan sosio-religius di wilayah ini. Dengan demikian. setelah mengarungi pengembaraan spiritual antar agama (passing over) dari agama Hindu ke Islam. Bapak ilmu Perbandingan Agama modern di Barat. namun juga mempunyai akar yang cukup kuat dalam pemikiran agama Timur. semua agama mengantarkan manusia ke satu tujuan yang sama. karena perbedaan tersebut sebenarnya hanya masalah ekspresi. khususnya dari India. persahabatan dan toleransi penuh antar agama. di samping merupakan tindakan yang sia-sia.Gagasan pluralisme agama sebenarnya bukan hasil dominasi pemikir Barat. Vevikananda justru mempunyai justru mempunyai pengaruh lebih besar. tahun 1893. dia 4 . namun hakikat air adalah air. seperti Parrinder dan Sharpe. Max Muller (1823. justru menganggap bahwa pencetus gagasan pluralisme agama adalah tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir yang berbangsa India.1900). sehingga ia mencetuskan pemikiran Tuhan Satu dan persamaan antar agama. Amerika Serikat. dengan mendapatkan kesempatan menyampaikan pesanpesan gurunya di depan Parlemen Agama Dunia (World’s Parliament of Religion) di Chicago. Maka menurutnya. Urdu dan Inggris pasti akan mempunyai ungkapan yang berbeda-beda dalam mendeskripsikan “air”. Keshab Chandra Sen (1838-1884) dan Swami Vivekananda (1882-1902). Beberapa peneliti dan sarjana Barat. Bahasa Bangal. seorang mistis Bengali. Gagasan Ramakrishna. kemudian berkembang dan diterima hingga di luar anak benua India berkat kedua muridnya. Upaya Swani Vevikananda tersebut telah mendapat pujian yang luar biasa dari masyarakat Hindu dan mengangkat namanya sebagai pahlawan nasional. telah mempelajari konsep keimanan terhadap Tuhan dari sumber-sumber Islam. dan menyampaikan gagasan-gagasan gurunya. juga menceritakan bahwa perbedaan-perbedaan dalam agama-agama sebenarnya tidaklah berarti.

Barangkali Seyyed Hossein Nasr.berhak disebut sebagai peletak dasar gerakan. masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). Gagasan pluralisme agama yang muncul lebih merupakan perspektif Khairaummah. Hindu Ortodok Baru yang mengajarkan bahwa semua agama adalah baik dan kebenaran yang paling tinggi adalah pengakuan terhadap keyakinan ini. Karya-karya mereka ini sangat sarat dengan pemikiran dan gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuhkembangnya wacana pluralisme agama di kalangan Islam. Dalam diskursus pemikiran Islam. 2011.com) Menggunakan Joomla! Generated: 5 June. yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas. Menyusul kemudian tokoh-tokoh India lain seperti Mahatma Gandhi (1869-1948) dan Sarvepalli Radhakrishna (1888-1975) yang juga menyuarakan pemikiran pluralisme agama yang sama.com (http://khairaummah.universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat. Kemudian di lain pihak gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam melalui karyakarya pemikir mistik Barat Muslim. baru muncul pada masa-masa pasca Perang Dunia Kedua. yang oleh Parrinder disebut. pluralisme agama. Pendapat ini disepakati oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam. seorang tokoh Muslim Syi’ah moderat. merupakan tokoh yang bisa dianggap paling bertanggungjawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan Islam tradisional –suatu prestasi yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah kaliber dunia yang sangat bergengsi bersamasama dalam deretan nama-nama besar seperti Ninian 5 . 04:06 baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam.

Penyebab orang tidak bias bertoleransi dalam umat beragama BAB II PEMBAHASAN 6 .2 Rumusan Masalah 1. 1. Dalam Kristen memang John Hick-lah yang paling bertanggungjawab dalam menyebarkan paham pluralisme agama ini. dan Annemarie Schimmel. Hak dan kewajiban antar umat beragama? 3. Apakah pengertian dari toleransi? 2.Smart. John Hick.

Lebih dari itu. jamak.1 Pengertian Pluralisme Pada saat ini sebagaimana dikatakan oleh Alwi Shihab dalam Islam Inklusif.2.4 Dalam hal ini beberapa tokoh juga mendenifinisikan pluralisme dalam berbagai pendapatnya antara lain: Menurut Alwi Shihab. atau banyak. atau banyak. Atau meminjam definisi Martin H.Manser dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary: “Plural (form of a word) used of referring to more than one”. harus benarbenar dapat dimaknai sesuai dengan akar kata serta makna sebenarnya. Pluralisme agama. memelihara.2 Sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer. pluralisme bukan sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural. pluralisme berarti: “Teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak substansi”. pluralism secara substansional termanifestasi dalam sikap untuk saling mengakui sekaligus menghargai. pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Hal itu merupakan upaya penyatuan persepsi untuk menyamakan pokok bahasan sehingga tidak akan terjadi “misinterpretation” maupun “misunderstanding”. Sedangkan secara istilah. Bertolak dari akar kata yang pertama yaitu pluralisme. yang dimaksud pluralisme adalah 7 . bahwa umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. jamak. Pluralisme agama dalam hal ini. pengertian pluralisme dapat disimpulkan menjadi 3 yaitu: pertama. dan bahkan mengembangkan atau memperkaya keadaan yang bersifat plural. pluralisme berasal dari dari kata pluralism berarti jama’ atau lebih dari satu. kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris yang berakar dari kata “plural” yang berarti banyak atau majemuk. Secara bahasa. menghormati. konflik intern atau antar agama adalah fenomena nyata. Namun.

etnis. pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. umat beragama diharapkan masih memiliki komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing. dan menghormati adanya perbedaan-perbedaan demi tercapainya kerukunan antarumat beragama. dan kerja yang nyata. Kedua. Keempat. budaya. pluralisme agama bukanlah sinkretisme. Di sini pluralisme tidak hanya sekedar hidup berdampingan tanpa mempedulikan orang lain. dan berbagai keragaman sosial lainnya. Paham relativisme menganggap “semua agama adalah sama”. Maksudnya walaupun suatu ras dan bangsa tersebut hidup berdampingan tetapi tidak ada interksi sosial. Dalam hal ini Kosmopolitanisme menunjuk suatu realitas di mana aneka ragam ras dan bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi. Ikatan komitmen yang paling dalam. Dari beberapa definisi di atas dikatakan bahwa pluralisme merupakan suatu faham tentang kemajemukan yang mana terdapat beraneka ragam ras dan agama yang hidup berdampingan dalam suatu lokasi. memahami. Ketiga. Shofan pluralisme adalah upaya untuk membangun tidak saja kesadaran normatif teologis tetapi juga kesadaran sosial. 8 . melainkan juga konsep sosiologis. kerjasama. Sementara itu Syamsul Ma’arifmendefinisikan pluralisme adalah suatu sikap saling mengerti. di mana kita hidup di tengah masyarakat yang plural dari segi agama. Hal itu membutuhkan ikatan. perbedaan yang paling mendasar dalam menciptakan masyarakat secara bersama-sama menjadi unsur utama dari pluralisme.keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. yakni menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama tersebut. Selanjutnya menurut Moh. Dan dalam berinteraksi dengan aneka ragam agama tersebut. konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Karenanya. pluralisme bukanlah konsep teologis semata.

maka akan didapat pengertian pluralisme agama adalah suatu sikap membangun tidak saja kesadaran normatif teologis tetapi juga kesadaran sosial. atau “setiap agama mengekspresikan bagian penting bagi sebuah kebenaran”. di mana kita hidup di tengah masyarakat yang plural dari segi agama. Selain itu. yang menyesatkan umat. Sikap eksklusif dalam melihat agama lain Sikap ini memandang agama-agama lain adalah jalan yang salah. “agama-agama lain berbicara secara berbeda. budaya. Sikap pluralis Sikap ini bisa terekspresikan dalam macammacam rumusan. b. c. Sebagai sebuah pandangan keagamaan. tetapi merupakan kebenaran yang sama sah”.2. pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. misalnya “agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”. dan berbagai keragaman sosial lainnya. pluralisme agama juga harus dipahami sebagai pertalian sejati dalam kebhinekaan. Sikap inklusif Sikap ini memandang agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita. etnis. Menurut Nurcholis Madjid. buktinya dalam surat Ali ‘Imran: 85 9 . pluralism agama dapat diambil melalui tiga sikap agama: a.2 Pluralisme Agama Setelah mengetahui berbagai definisi pluralisme.

Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya.” Yang diterjemahkan oleh Abdurahman Wahid bahwa ayat tersebut jelas menunjuk kepada masalah keyakinan Islam yang berbeda dengan keyakinan lainnya. dan 10 . Karenanya. dengan tidak menolakkerjasama antara Islam dengan berbagai agama Lainnya. Pluralisme agama harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatanikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bond of civility). berdiri dari berbagai suku dan agama yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi bukan pluralisme. pluralisme sebagai desain Tuhan (Sunnatullah) harus diamalkan berupa sikap dan tindakan yang menjunjung tinggi multikulturalisme. Sementara itu menurut Alwi Shihab pluralisme yaitu tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain. mengatakan bahwa pluralism agama tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk. pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah. Selanjutnya menurut Nurcholis Madjid yang dikutip Rachman. Karenanya pluralisme harus diamalkan berupa sikap saling mengerti. Dari beberapa definisi menurut para ahli di atas bahwa pluralisme agama merupakan sunnatullah yang tidak akan bisa dirubah atau diingkari. tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan. Jadi. dan Dia di akhirat Termasuk orang-orangyang rugi. memahami.“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. beraneka ragam. dalam klebhinekaan. sehingga tidak mungkin dilawan atau diingkari.

saling mengakui eksistensi. sebenarnya hubungan antar tokoh- 11 . Pada tingkat pribadi. serta saling memperkaya iman. Hal ini dengan tujuan untuk membangun interaksi umat beragama dan antar umat beragaama yang tidak hanya berkoeksistensi secara harmonis dan damai.menghormati antarumat beragama guna tercapainya kerukunan umat beragama dan terjalin pertalian sejati kebhinekaan. Sebagai konsep plural yang dapat di artikan sebagai keanekaragaman wacana pluralisme juga tidak terlepas dari konsep teologi agama karena didalamnya masih banyak membahas sisi agama dari sara’ semata tanpa memandang wilayah sosial dan iptek yang telah berkembang di masa sekarang. Pada tataran Teologis. Yang melatar belakangi kemunculan pluralism memang tidak terlalu jauh membahas tentang keanekaragaman dan konflik internal agama. 2.3 Munculnya Pluralisme Agama Setelah dunia Islam menjadi negara-negaara merdeka pasca perang dunia I dan perang dunia II. ada beberapa masalah yang perlu tanggapan segera dari pemimpin dan tokoh umat Islam. Selain yang menyangkut hubungan antara Agama dan negara (din wan daulah). memang semakin hari semakin merasakan intensnya pertemuan agama-agama itu. Dalam pergaulan antar agama dewasa ini. tetapi juga bersedia aktif dan pro aktif bagi kemanusiaan. tekstual dan eksklusif. Faktor tersebutlah salah satu yang melatarbelakangi munculnya pluralisme agama karena banyaknya konflik-konflik yang muncul setelah banyak perpecahan baik dalam Agama. berfikir dan bersikap positif. budaya dan tatanan masyarakat itu sendiri. dalam pendidikan agama perlu mengubah paadigma teologis yang pasif. Menuju teologi yang saling menghormati. ada pula masalah yang berhubungan dengan tatanan kelembagaan masyarakat termasuk partai politik dan organisasi masyarakat.

yaitu factor sosio-politis dan faktor ilmiah. umat manusia terbagi menjadi dua bagian. merupakan khususnya dasar dari menyangkut agama bagaimana itu kita muncul harus mendefinisikan diri di tengah agama-agama lain yang juga eksis dan punya keabsahan. sekalipun kompleks. Namun secara umum dapat di klasifikasikan dalam dua faktor utama yaitu faktor internal (ideologis) dan faktor eksternal. Keyakinan seseorang yang serba mutlak dan absolut dalam apa yang di yakini dan di imaninnya merupakan hal yang wajar. sejarah maupun dalam masalah keyakinan atau doktrin. yang pertama mereka yang beriman dengan teguh terhadap 12 . penuh toleransi. a. Dalam persoalan ini di diskusikanlah apakah ada kebenaran dalam agama lain yang implikasinya adalah berakar dalam pertanyaan teologis yang sangat mendasar. Dalam konteks ideologi ini. Sebab-sebab lain lahirnya teori pluralisme banyak dan beragam. Faktor ideologis (internal). Tetapi pada tingkat teologis yang kebingungankebingungan. dengan keterlibatan yang sungguhsungguh dalam usaha memecahkan persoalanpersoalan hubungan antar agama yang ada di dalam masyarakat. Faktor ini sering juga di namakan dengan faktor ideologis. Faktor tersebutlah yang paling utama melatarbelakangi munculnya pluralisme. kita melihat suasana yang semakin akrab. yang mana antara satu faktor dan faktor lainnya saling mempengaruhi dan saling berhubungan erat. Faktor internal merupakan faktor yang timbul akibat tuntunan akan kebenaran yang mutlak (absolute truthclaims) dari agama-agama itu sendiri. Adapun faktor yang timbul dari luar dapat diklasifikasikan ke dalam dua hal. Faktor internal di sini yaitu mengenai masalah teologi.tokoh agama di Indonesia pada khususnya. Pemikiran relativisme ini merupakan sebuah sikap pluralisme terhadap agama. baik dalam masalah akidah. Sikap absolutisme agama tak ada yang mempertentangkannya hingga muncul teori tentang relativisme agama.

Kedua faktor tersebut adalah faktor sosio-politis dan faktor ilmiah: 1) Faktor Sosio-Politis Dimana faktor yang mendorong munculnya teori pluralisme agama adalah berkembangnya wacana-wacana sosio politis. kesamaan dan pluralism sebagaimana telah di singgung di atas. toleransi. Meski dasar-dasar liberalisme semula tumbuh dan berkembang sebagai proses sosio-politis dan sekular. suatu 13 . Faktor Eksternal Di samping faktor-faktor internal tersebut di atas tadi. telah juga menyeretnya untuk mempolitisasi masalahmasalah agama dan mengintervensinya secara sistematis. tapi kemudian paham ini tidak lagi terbatas pada masalah politis belaka. Proses ini bermula semenjak pemikiran manusia mengenal liberalisme yang menerompetkan irama-irama kebebasan. sedangkan kelompok yang kedua mereka yang tidak beriman kecuali hanya kepada kemampuan akal saja (rasionalis). b. yang merupakan hasil praktis dari sebuah proses sosial dan politis yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad. demokratis dan nasionalisme yang telah melahirkan sistem negara-bangsa dan kemudian mengarah pada apa yang dewasa ini di kenal dengan globalisasi. Dalam hal ini agama kemudian tidak berdaya lagi dan harus tunduk pada kekuatan sistem di luar agama dan harus rela di subordinasikan di bawah komandonya. Watak universal dan komprehensif yang meliputi HAM (termasuk di dalamnya: hak beragama dan berkeyakinan). terdapat juga dua faktor eksternal yang kuat dan mempuyai peran kunci dalam menciptakan iklim yang kondusif dan lahan yang subur bagi tumbuh berkembangnya teori pluralisme.wahyu langit atau samawi.

kondisi yang 180 derajat berlawanan dengan kondisi sebelumnya dan seakan-akan manusia mulai lupa terhadap realitas agama. Sekulerisme yang kini mendominasi peradaban Barat telah berhasil mengubah kristen 14 . atau yang sering juga di kenal dengan studi perbandingan agama. Evolusi politik dan ekonomi teleh memberikan pengaruh yang sebanding erhadap evolusi sosial budaya begitu juga sebaliknya.teori pluralisme agama. 2) Faktor Keilmuan atau Ilmiah Pada hakikatnya terdapat banyak factor keilmuan yang berkaitan dengan pembahasan ini. Terlepas dari motifasi dan tujuan yang ada di baliknya kajian ini telah berkembang begitu cepat baik dalam metodologi maupun materinya. teori. tesis. bahwa munculnya gagasan pluralisme agama modern dengan berbagai tren dan bentuknya. Akhirnya. kesimpulan-kesimpulan dan pengayaan yang baru. sampai batas tertentu dapat disimpulkan. memberi gambaran fakta yang telanjang betapa besarnya usaha Barat yang liberal dan sekuler untuk menjadi dominandan hegemonik bahkan dalam pemikiran dan teologi keagamaan. Dari presentasi dan analisis ini dapat kita lihat pengaruh yang jelas dari kajian – kajian “ilmiah” perbandingan agama dalam perkembangan teori. Di antara keduanya terdapat hubungan implikatif dan timbal balik. sehingga memungkinkannya untuk membuat penemuan-penemuan. yakni memahami hakikat agama. Namun yang memiliki kaitan langsung dengan timbulnya teori-teori pluralisme agama adalah maraknya studi-studi ilmiah modern terhadap agama-agama dunia. Dengan kata lain peran penting studi agama modern adalah sebagai supplier para filosof agama dan teolog dengan pengetahuan – pengetahuan dan data – data lengkap yang dapat membantu peran dan tugas utama mereka.

untk menyebarluaskan gagasan pluralisme agama (apakah mereka sungguh – sungguh menerimanya atau tidak. begitu desakanuntuk menerila gagasan pluralisme agama semakin terasa kuat. 2. Obsesi itu nampak pada berbagai upaya yang dilakukan demi mensosialisasikan gagasan ini. bila perlu dengan tekanan politik. Secara terminologi. Bagi dunia Muslim sendiri. ekonomi maupun militer terhadap negara – negara lainyang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Lebih dari itu. menurut Umar Hasyim. 15 . membiarkan. tetapi oleh sebagian pemikir Muslim gagasan itu dimakan dan disebarluaskan serta diaku – aku sebagai gagasan yang memiliki legiminasi di dalm Islam. perkara lain lagi). sesungguhpun semua hal yang menjadi basis gagasan itu tidak pernah ada dalam khazanah dan tradisi Islam. Terutama dalam kerangaka “New Wold Order” yang diusung khusunya Amerika Serikat pada awal 90’an dari abad yang lalu. dominasi dan hegemoni itu nampaknya sudah menjadi obsesi obsesi Barat. membolehkan). Toleransi yang berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai. kebiasaan. propaganda. Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat. dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. maaf dan lapang dada. pandangan. toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing. pendirian (pendapat.4 Pengertian Toleransi Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia. Secara bahasa atau etimologi toleransi berasal dari bahasa Arab tasamuh yang artinya ampun. kepercayaan.

Kewajiban merupakan hal yang harus dikerjakan atau dilaksanankan. Masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga hak dan kewajiban diantara mereka antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghormati dan saling menghargai. Hak merupakan kekuasaan untuk melakukan sesuatu. baik yang berkaitan dengan ras maupun agama. saling memuliakan dan saling tolong-menolong. baik untuk beribadah maupun tidak beribadah dari satu pihak ke pihak lain. Dalam menjalani kehidupan sosialnya tidak bisa dipungkiri akan ada gesekangesekan yang akan terjadi antar kelompok masyarakat. karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. jika tidak dilaksanakan dapat mendatangkan sanksi bagi yang melanggarnya.2. artinya kita tidak boleh terus menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban. Hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri. 16 . tanpa adanya paksaan dan tekanan. Kewajiban adalah sesuatu yang dilakukan dengan tanggung jawab. Pembatasan ini harus dilakukan agar pelaksanaan hak seseorang tidak sampai melanggar hak orang lain. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati.5 Hak dan Kewajiban Antar Umat Beragama Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing. Pelaksanaan hak dan kewajiban haruslah seimbang. Kekuasaan tersebut dibatasi oleh undang-undang. Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. Sebagai implementasinya dalam praktek kehidupan sosial dapat dimulai dari sikap bertetangga. sehingga gesekangesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dapat dihindari.

Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Penganut agama yang baik tidak mesti bertentangan dengan sikap toleran. Di Indonesia ada berbagai macam agama yaitu Islam. seseorang hanya dituntut kesediaannya untuk menghargai dan menghormati pilihan orang lain terhadap sesuatu yang dianggapnya benar. Mengikuti dan mengamalkan ajaran agama lain demi toleransi. Untuk bersikap toleran. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan. Toleransi antarumat beragama adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi dengan baik. Sikap militan dan fanatik dalam membela agama yang dianut sama sekali tidak mengharuskan hilangnya sikap toleran. namun sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya. dan tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya. Di sisi lain. Kristen. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama. Pengalaman publik memperlihatkan perbedaan agama bukanlah kendala untuk menjalin hubungan sosial yang produktif. Hidup berdampingan antarumat beragama bukanlah hal yang sulit diwujudkan. kebijakan pemerintah dalam beberapa hal dinilai tidak mendorong tumbuhnya kepercayaan sosial di antara kelompok yang berbeda identitas. Budha dan Konghucu. Dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing17 . Untuk dapat mempersandingkan keduanya. Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia.Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama. tanpa mereduksi keyakinan dan pilihannya terhadap agamanya sendiri. Hindu. Katholik. misalnya penekanan kebebasan yang mengabaikan toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu kebebasan. pemahaman yang benar mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.

Kemajemukan agama adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Tidak hanya itu saja konflik yang terjadi kalau ada organisasi massa (ormas) yang mencoba memasukkan elemen yang dianggap dapat memecah belah kerukunan yang ada. 2. Norma juga dapat bermanfaat untuk menjaga keutuhan masyarakat dari perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat plural. namun disisi lain tantangan bagi dunia keagamaan. 18 . Kemajemukan bangsa Indonesia sangat rentan dengan adanya konflik yang dapat memecah belah rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik terjadi juga apabila terdapat pendatang baru yang mencoba mempengaruhi masyarakat untuk berpindah agama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syamsudin (2002:195) yang mengatakan bahwa dunia keagamaan manusia menampilkan fenomena kemajemukan.6 Faktor Penyebab Tidak Dapat Bertoleransi Dalam Umat Beragama Berlakunya norma dimasyarakat dapat dijadikan pedoman untuk mengatur tingkah laku dalam bermasyarakat. Masalah-masalah yang ada didalam membangun kerukunan antar umat beragama hanya terjadi pada kesalah pahaman akan peralihan agama yang dilakukan oleh seorang pada saat akan menikah. Realiras kemajemukan disamping disatu sisi merupakan mosaik yang indah. apalagi dalam bidang agama sudah dapat dipastikan rentan terhadap konflik. Hal demikian disebabkan karena kemajemukan itu mengandung potensi konflik.masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Warga Negara sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara.

BAB III KESIMPULAN Pada saat ini sebagaimana dikatakan oleh Alwi Shihab dalam Islam Inklusif. Pluralisme agama. Hal itu merupakan upaya penyatuan persepsi untuk menyamakan pokok bahasan sehingga tidak akan terjadi “misinterpretation” maupun “misunderstanding”. 19 . bahwa umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama dalam hal ini.” Warga Negara sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara. konflik intern atau antar agama adalah fenomena nyata. harus benarbenar dapat dimaknai sesuai dengan akar kata serta makna sebenarnya. Untuk itu dibutuhkan toleransi. toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing. Menurut Umar Hasyim. selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat. Karena Dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

(Jakarta: Paramadina. Islamku Islam Anda Islam Kita. Kamus Arab Indonesia al-Munawir (Yogyakarta: BalaiPustaka Progresif. 2002). 2002). Menegakkan Pluralisme: Fundamentalisme . Martin H. (Jakarta: LSAF.Konservatif di Tubuh Muhammadiyah. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta: The Wahid Institute. Oxford Leaner’s Pokcet Dictionary. 3942 Anis Malik Thoha. 24-43 Budi Munawar Rachman. (Jakarta: Perspektif. 1999). Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka. hlm.php? id=7213&start1=635&start2=1145&sourcet ab=1.2001). Alwi Shihab. 76 Marsen. hlm. hlm. (Oxford University. hlm.org/article. Islam Pluralis. 1999) hlm. 2008). 39 Departemen Agama RI. (Bandung: Mizan. t. 329 Moh. hlm. 2006). 1098.th. Shofan. Third Edition. hlm. 87 20 . Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis. Pendidikan Minim Kearifan. 133 Ahmad Warson Munawir. di akses tanggal 17 September 2016 Abdurrahman Wahid.). Dalam http://fnsindonesia.DAFTAR PUSTAKA Abdul Gaffar. (Jakarta: Mekar Surabaya.

Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar menuju Dialoq dan Kerukunan Antar Umat Beragama. (Bandung: Mizan. 2005). 1979).Ngainun Naim dan Achmad Sauqi. 604 Samsul Rizal Panggabesn. (Jogjakarta:Logung Pustaka.Woodward. 17 Umar Hasyim. mencari Akar-Akar Islam bagi Pluralisme Modrn: Pengalaman Indonesia. 1998). editor Mark R. th Syamsul Ma’arif. hlm. 75 Nurcholis Madjid. hlm. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. hlm. (Surabaya: Bina Ilmu. 106 Pius A. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 56. Partanto dan M. 21 . hlm. 2001). 2008). Dahlan Al Barry. 22. Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Kamus Ilmiah Populer. Dalam Jalan Baru. “Sumber Daya Keagamaan dan Kemungkinan Pluralisme” Dalam Pluralisme Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia.