Anda di halaman 1dari 6

Kontribusi UKM Terhadap Kesempatan Kerja dan PDB

UKM (Usaha Kecil Dan Menengah) belakangan memiliki kontribusi yang sangat
penting di dalam perekonomian Indonesia, hal ini dikarenakan sifat usaha UKM yang lebih
fleksibel dalam menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Karena mampu
menyerap tenaga kerja lebih banyak dan investasi kecil maka usaha-usaha UKM akan lebih
diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi suatu lingkungan dimana pasar berfungsi secara
efektif dalam menyediakan berbagai jasa yang memungkinkan pertumbuhan bisnis.
UKM merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun
daerah, begitu juga dengan Negara Indonesia, UKM ini sangat memiliki peranan penting
dalam lajunya perekonomian masyarakat. UKM ini juga sangat membantu negara/pemerintah
dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat UKM juga banyak tercipta unit-unit
kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah
tangga. Selain dari itu UKM juga memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan
usaha yang berkapasitas lebih besar. UKM ini perlu perhatian yang khusus dan di dukung
oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan
menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar.
Bila melihat data dari BPS tahun 2007, terdapat 49,8 juta atau 99,99% unit usaha yang
ada di Indonesia. Dengan jumlah yang begitu besar, UKM merupakan penyerap tenaga kerja
terbanyak. Dimana UKM mampu menyerap 91,8 juta pekerja atau 97,3%. Kontribusi
terhadap PDB sebesar Rp. 2.121.3 triliun atau 53,6%.
Di Amerika Serikat 99% dari bentuk bisnis adalah Usaha Kecil dan Menengah, dan
Usaha Kecil dan Menengah inilah yang menciptakan 75% dari lapangan kerja baru yang ada.
Besarnya Peranan UKM dalam pertumbuhan ekonomi menyebabkan pentingnya dilakukan
perhatian khusus dalam sektor ini terutama dalam pembiayaan modal UKM.
Pada tahun 2005, peran UKM terhadap penciptaan PDB nasional menurut harga
berlaku tercatat sebesar Rp. 1.491,06 triliun atau 53,54 % selebihnya adalah usaha besar (UB)
yaitu Rp. 1.293,90 triliun atau 46,46 %. Sedangkan Pada tahun 2010, peran UKM terhadap
penciptaan PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 3.466,39 triliun atau
57,12 %, selebihnya adalah usaha besar (UB) yaitu Rp. 2.602,37 triliun atau 42,88 %. Pada
tahun 2011, peran UKM terhadap penciptaan PDB nasional menurut harga berlaku tercatat

sebesar Rp. 4.303,57 triliun atau 57,94 %, selebihnya adalah usaha besar (UB) yaitu Rp.
3.123,51 triliun atau 42,06 %. Disisi lain, pada tahun 2005 nilai PDB nasional atas harga
konstan tahun 2000 sebesar Rp. 1.750,66 triliun, peran UKM tercatat sebesar Rp. 979,71
triliun atau 55,96 % dari total PDB nasional, UB berkontribusi sebesar Rp. 770,94 triliun atau
44,04 %.
Pada tahun 2006, PDB nasional atas harga konstan tahun 2000 sebesar Rp. 1.846,65
triliun, kontribusi UKM sebesar Rp. 1.032,57 triliun atau 55,92 % sedangkan kontribusi UB
sebesar Rp. 814,08 triliun atau 44,08 %. Kontribusi UKM tersebut meningkat sebesar Rp.
52,86 triliun atau 5,40 % dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pada data kontribusi
UKM pada tahun 2010-1011 terjadi peningkatan sebesar 6,76 % dari Rp 1.282,57 triliun
menjadi Rp. 1369,33 triliun.
Pada tahun 2006, UKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 85.416.493 orang atau
96,18 % dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, jumlah ini meningkat sebesar 2,62 %
atau 2.182.700 orang dibandingkan tahun 2005. Kontribusi UK tercatat sebanyak 80.933.384
orang atau 91,14 % dan UM sebanyak 4.483.109 orang atau 5,05 %. Untuk UK sektor
Pertanian, Peternakan, Perhutanan dan Perikanan tercatat memiliki peran terbesar dalam
penyerapan tenaga kerja yaitu sebanyak 37.965.878 orang atau 46,91 % dari total tenaga
kerja yang di serap. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 73.403 orang atau 0,19 %
dari tahun sebelumnya. Sedangkan sektor ekonomi yang memiliki penyerapan tenaga kerja
terbesar pada UM adalah sektor Industri Pengolahan yaitu sebanyak 1.827.073 orang atau
40,75 %.
Pada tahun 2011, UKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 101.722.458 orang atau
97,24 % dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, jumlah ini meningkat sebesar 0,02 %
atau 2.182.700 orang dibandingkan tahun 2010. Kontribusi UK tercatat sebanyak 99.401.775
orang atau 97,22 %.
Sekitar 99 % dari jumlah unit usaha di Indonesia berskala UKM dan tercatat mampu
menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak sekitar 99,4 juta tenaga kerja. Sementara, usaha
besar menyerap sekitar 2,8 juta pekerja (data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah Tahun 2010). UKM juga dianggap sangat berpotensi dalam meningkatkan
pendapatan negara melalui pajak. Data penerimaan pajak tahun 2005 sampai tahun 2012
menunjukkan, sebagian besar penerimaan pajak masih didominasi oleh usaha besar. Pada

APBN 2012 misalnya, Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas ditargetkan sebesar Rp445,7 triliun
dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditargetkan sebesar Rp336,1 triliun yang sebagian besar
diperoleh dari usaha besar.
Dengan berbagai spesifikasinya, terutama modalnya yang kecil sampai tidak terlalu
besar, dapat merubah produk dalam waktu yang tidak terlalau lama dan manajemennya yang
relatif sederhana serta jumlahnya yang banyak dan tersebar di wilayah nusantara,
menyebabkan UKM memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap berbagai gejolak
ekonomi. Dan UKM juga terbukti dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak di banding
Usaha besar yang artinya dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak UKM dapat
membantu kesejahteraan perekonomian Indonesia.
Dalam menghadapi persaingan di Zaman Era Globalisasi sekarang ini, UKM Republik
Indonesia dituntut untuk melakukan restrukturisasi dan reorganisasi dengan tujuan untuk
memenuhi permintaan konsumen yang makin spesifik, berubah dengan cepat, produk
berkualitas tinggi, dan harga yang murah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan UKM
adalah melalui hubungan kerjasama dengan Usaha Besar. Kesadaran akan kerjasama ini telah
melahirkan konsep Supply Chain Management (SCM) pada tahun 1990-an. Supply Chain
pada dasarnya merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja
untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Pentingnya
persahabatan, kesetiaan, dan rasa saling percaya antara industri yang satu dengan lainnya
untuk menciptakan ruang pasar tanpa pesaing, yang kemudian memunculkan konsep Blue
Ocean Strategy.

Peranan UKM Dalam Pertumbuhan Ekonomi dan Kesempatan Kerja


Peranan UKM terlihat cukup jelas pasca krisis ekonomi, yang dapat dilihat dari besaran
pertambahan nilai PDB, pada periode 1998-2002 yang relatif netral dari intervensi
pemerintah

dalam

pengembangan

sektor-sektor

perekonomian

karena

kemampuan

pemerintah yang relatif terbatas, sektor yang menunjukkan pertambahan PDB terbesar
berasal dari industri kecil, kemudian diikuti industri menengah dan besar. Hal ini
mengindikasikan bahwa UKM mampu dan berpotensi untuk mewujudkan pertumbuhan
ekonomi pada masa akan datang.

Dari aspek penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian secara absolute memiliki
kontribusi lebih besar dari pada sektor pertambangan, sektor industri pengolahan dan sektor
industri jasa. Arah perkembangan ekonomi seperti ini akan menimbulkan kesenjangan
pendapatan, pendapatan yang semakin mendalam antara sektor yang menghasilkan
pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan menyerap tenaga kerja lebih sedikit.
Namun demikian UKM bukannya tanpa kendala, UKM juga memiliki berbagai kendala
umum sebagaimana yang di identifikasikan oleh Badan Pusat Statistik (2003) antara lain:
1. Kurang permodalan
2. Kesulitan Pemasaran
3. Persaingan Usaha Ketat
4. Kesulitan Bahan baku
5. Kurang Teknis Produksi dan Keahlian
6. Keterampilan Manajerial kurang
7. Kurang pengetahuan manajemen keuangan
8. Iklim usaha yang kurang kondusif(perijinan, aturan/perundangan)
Dengan adanya masalah-masalah umum tersebut perlu adanya kerjasama antara pengusaha
UKM, lembaga swasta dan lembaga pemerintah. Pemerintah sebagai regulator memiliki
kewajiban untuk menetapkan kebijakan-kebijakan yang dapat membantu pengembangan
UKM.
Strategi yang diterapkan dalam upaya mengembangkan UKM di masa depan terlebih
dalam menghadapi pasar bebas di tingkat regional dan global, sebaiknya memperhatikan
kekuatan dan tantangan yang ada, serta mengacu pada beberapa hal antara lain:
1. Menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menyediakan lingkungan yang mampu
mendorong pengembangan UKM secara sistemik, mandiri dan berkelanjutan.
2. Mempermudah perijinan, pajak dan retribusi lainnya.

3. Mempermudah akses pada bahan baku, teknologi dan informasi.


4. Menyediakan bantuan teknis (pelatihan,penelitian) dan pendampingan dan manajemen
(SDM, keuangan dan pemasaran) melalui BDSP.
5. Secara rutin BDSP melakukan pertemuan, lokakarya model pelayanan bisnis yang baik
dan tepat.
6. Mendorong BDSP untuk memiliki keahlian khusus (spesialis)
7. Menciptakan sistem penjaminan kredit (financial guarantee system) yang terutama
disponsori oleh pemerintah pusat dan daerah.
8. Secara bertahap dan berkelanjutan mentransformasi sentra bisnis (parsial) menjadi
klaster bisnis (sistemik).
Dengan strategi-strategi demikian diharapkan dapat meningkatkan kontribusi UKM pada
perekonomian Indonesia.

SUMBER:
ririruhiana.blogspot.com/2012/12/pengaruh-UKM-terhadap-penyerapan.html (diakses
tanggal 22 November 2014)
http://h3r1y4d1.wordpress.com/2012/03/12/peranan-UKM-terhadap-pertumbuhan-ekonomidi-indonesia/ (diakses tanggal 22 November 2014)
http://beranda-miti.com/kontribusi-UKM-dalam-perekonomian-indonesia/ (diakses tanggal
22 November 2014)
http://satria-sig.blogspot.com/2011/05/latar-belakang-UKM-usaha-kecil-menengah.html
(diakses tanggal 22 November 2014)
http://widzatiannisa.wordpress.com/2014/04/21/24/ (diakses tanggal 22 November 2014)

http://yasintahening.wordpress.com/2013/03/27/kontribusi-UKM-dalam-perekonomianindonesia/ (diakses tanggal 22 November 2014)