Anda di halaman 1dari 13

PENGERTIAN SANITASI DAN HYGIENE

A. Latar Belakang
Ada pepatah yang mengatakan Men Sana In Corpore Sano, yang artinya dalam tubuh
yang sehat, akan terdapat jiwa yang sehat. Akan tetapi masih banyak juga orang yang
sakit dan biasanya karena pola hidup mereka sendiri yang kurang baik dan kebiasaan
yang kurang baik sehingga dapat melemahkan dan merusak tubuh.
Perihal kesehatan cukup mudah untuk dipahami, akan tetapi masih banyak orang yang
sakit karena kurangnya pengetahuan tentang arti kesehatan ataupun karena lalai.
Dalam pelayanan segala kebutuhan yang diperlukan telah siap sedia, seperti pelayanan
akomodasi, restoran, bar, fitness center, transportasi, dsb. Semua fasilitas ini tidak hanya
menampilkan mutu, citarasa masakan, kenyamanan saja, akan tetapi factor yang sangat
penting adalah menyangkut kenyamanan dan kepastian atau jaminan kebersihan untuk
kesehatan sesuai tujuan orang menikmati fasilitas tersebut demi kelangsungan hidupnya
yaitu hygiene dan Sanitasi (kesehatan dan kebersihan). Untuk itu dalam mengelola
seluruh fasilitas yang ditawarkan secara professional haruslah sesuai dengan aturan
kesehatan yang berlaku, sehingga pengguna jasa mendapatkan kenikmatannya sendiri
dengan jaminan kesehatan.
Pada akhirnya terjadilah dalam usaha bisnis hotel, restoran dan catering persaingan
dalam kualitas atau mutu pelayanan yang mencakup kebersihan sebagai jaminan
kesehatan.

B. Hygiene
Kata hygiene berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu untuk membentuk dan
menjaga kesehatan (Streeth, J.A. and Southgate,H.A, 1986). Dalam sejarah Yunani,
Hygiene berasal dari nama seorang Dewi yaitu Hygea (Dewi pencegah penyakit). Arti lain
dari Hygiene ada beberapa yang intinya sama yaitu:
1. Ilmu yang mengajarkan cara-cara untuk mempertahankan kesehatan jasmani, rohani
dan social untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

2. Suatu pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan


atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada.
3. Keadaan dimana seseorang, makanan, tempat kerja atau peralatan aman (sehat) dan
bebas pencemaran yang diakibatkan oleh bakteri, serangga, atau binatang lainnya.
4. Menurut Brownell, hygine adalah bagaimana caranya orang memelihara dan
melindungi kesehatan.
5. Menurut Gosh, hygiene adalah suatu ilmu kesehatan yang mencakup seluruh factor
yang membantu/mendorong adanya kehidupan yang sehat baik perorangan maupun
melalui masyarakat.
6. Menurut Prescott, hygiene menyangkut dua aspek yaitu:
Yang menyangkut individu (personal hygiene)
Yang menyangkut lingkungan (environment)
Hygiene is a concept related to medicine as well as to personal and professional care
practices related to most aspects of living although it is most often associated with
cleanliness and preventative measures.
Dalam industry makanan/catering, penerapan standar hgiene yang tinggi perlu dilakukan
dalam mengolah makanan agar mampu memproduksi makanan yang aman untuk
dikonsumsi. Aman artinya bebas dari hal-hal yang membahayakan, merugikan dan bebas
dari kerusakan.

C. Sanitasi
Pengertian sanitasi ada beberapa yaitu:
1. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatan pada
usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
2. Upaya menjaga pemeliharaan agar seseorang, makanan, tempat kerja atau peralatan
agar hygienis (sehat) dan bebas pencemaran yang diakibatkan oleh bakteri, serangga, atau
binatang lainnya.

3. Menurut Dr.Azrul Azwar, MPH, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang
menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin
mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
4. Menurut Ehler & Steel, sanitation is the prevention od diseases by eliminating or
controlling the environmental factor which from links in the chain of tansmission.
5. Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap factor-faktor lingkungan
yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan
kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup manusia. Sedangkan
hygiene adalah bagaimana cara orang memelihara dan juga melindungi diri agar tetap
sehat.

Jadi dalam hal ini sanitasi ditujukan kepada lingkungannya, sedangkan hygiene ditujukan
kepada orangnya.
Sanitasi : Usaha kesehatan prevenif yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha
kesehatan lingkungan hidup manusia.
Hygiene : Usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha
kesehatan individu, maupun usaha kesehatan pribadi hidup manusia.
Beberapa manfaat dapat kita rasakan apabila kita menjaga sanitasi di lingkungan kita,
misalnya:
Mencegah penyakit menular
Mencegah kecelakaan
Mencegah timbulnya bau tidak sedap
Menghindari pencemaran
Mengurangi jumlah (presentase sakit)
Lingkungan menjadi bersih, sehat dan nyaman

D. Ruang Lingkup Hygiene dan Sanitasi


Ruang Lingkup Hygiene
Masalah hygiene tidak dapat dipisahkan dari masalah sanitasi, dan pada kegiatan
pengolahan makanan masalah sanitasi dan hygiene dilaksanakan bersama-sama.
Kebiasaan hidup bersih, bekerja bersih sangat membantu dalam mengolah makanan yang
bersih pula.
Ruang lingkup hygiene meliputi:
1. Hygiene perorangan
2. Hygiene makanan dan minuman

Ruang Lingkup Sanitasi


Berdasarkan pengertiannya yang dimaksud dengan sanitasi adalah suatu upaya
pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan
lingkungan hidup manusia. Di dalam Undang-Undang Kesehatan No.23 tahun 1992 pasal
22 disebutkan bahwa kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan yang sehat, yang dapat dilakukan dengan melalui peningkatan sanitasi
lingkungan, baik yang menyangkut tempat maupun terhadap bentuk atau wujud
substantifnya yang berupa fisik, kimia, atau biologis termasuk perubahan perilaku.
Kualitas lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang
membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia, melalui pemukiman antara
lain rumah tinggal dan asrama atau yang sejenisnya, melalui lingkungan kerja antra
perkantoran dan kawasan industry atau sejenis. Sedangkan upaya yang harus dilakukan
dalam menjaga dan memelihara kesehatan lingkungan adalah obyek sanitasi meliputi
seluruh tempat kita tinggal/bekerja seperti: dapur, restoran, taman, public area, ruang
kantor, rumah dsb.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup kegiatan sanitasi di hotel
meliputi aspek sebagai berikut:

1. Penyediaan air bersih/ air minum (water supply)


Meliputi hal-hal sebagai berikut:
Pengawasan terhadap kualitas dan kuantitas
Pemanfaatan air
Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air
Cara pengolahan
Cara pemeliharaan
2. Pengolahan sampah (refuse disposal)
Meliputi hal-hal berikut :
Cara/system pembuangan
Peralatan pembuangan dan cara penggunaannya serta cara pemeliharaannya
3. Pengolahan makanan dan minuman (food sanitation)
Meliputi hal-hal sebagai berikut:
pengadaan bahan makanan/bahan baku
Penyimpanan bahan makanan/bahan baku
Pengolahan makanan
Pengangkutan makanan
Penyimpanan makanan
Penyajian makanan
4. Pengawasan/pengendalian serangga dan binatang pengerat (insect and rodent control)
Meliputi cara pengendalian vector
5. Kesehatan dan keselamatan kerja
Meliputi hal-hal sebagai berikut:
Tempat/ruang kerja
Pekerjaan

Cara kerja
Tenaga kerja/pekerja
K3 Bandara
Bandar udara (bandara) merupakan tempat bertemunya banyak orang dari segala
penjuru dunia yang datang dan pergi dengan pesawat udara, dan juga tempat
berkumpulnya banyak orang yang melakukan kegiatannya masing-masing untuk
menunjang operasi penerbangan yang lancar, aman dan nyaman.
Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization) , Airpot is a
defined area on land or water (including any buildings, installations, and equipment)
intended to be used either wholly or in part for arrival, departure, and movements of
aircrafts. Menurut PT (persero) Angkasa Pura, bandar udara, ialah lapangan udara,
termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan kelengkapan minimal untuk
menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat.
Dengan perkembangan dunia penerbangan dan mobilitas manusia serta barang yang
makin tinggi, maka fungsi bandara (bandar udara) makin bertambah penting. Di daerahdaerah penerbangan perintis, bandara masih sederhana, tetapi di kota-kota besar sudah
berkembang menjadi besar dan canggih karena merupakan tempat bertemunya banyak
orang dari segala penjuru dunia, dan tempat berkumpulnya banyak orang melakukan
kegiatannya masing-masing untuk menunjang operasi penerbangan yang aman dan
nyaman. Untuk itu dalam pengoperasiannya suatu bandara harus menyediakan fasilitas
medik untuk dapat menanggulangi gawat darurat penerbangan, gawat darurat medik atau
gangguan kesehatan lainnya. Lagi pula untuk memberi kemudahan pada calon
penumpang dan pengunjung, di bandara disediakan kafetaria, restoran, coffee shop, duty
free shop, kantor pos, bank, money changer dsb. Dan di bandara internasional selalu ada
kantor/petugas C.I.Q. (Custom Immigration Quarantine).
Akibat hal-hal di atas timbul masalah hygiene dan sanitasi di bandara yang harus
ditangani sungguh-sungguh, sebab suatu bandara internasional adalah pintu gerbang
suatu negara. Masalah hygiene dan sanitasi di bandara berhubungan erat dengan
penyebaran penyakit menular dan juga dengan keselamatan penerbangan. Di samping
masalah-masalah tersebut di atas, sering melalui bandara seorang pasien ingin berobat ke

rumah sakit yang,besar di kota lain, bahkan ke luar negeri. Ini menimbulkan masalah,
karena tidak semua orang sakit boleh diangkut dengan pesawat udara (pesawat dari
airline).
Untuk membangun suatu bandar udara harus dipilih lokasi yang cocok. Lokasi ini harus
memenuhi beberapa kriteria, yaitu :
1. Dekat dengan sumber lalu lintas.
2. Bebas dari rintangan.
3. Masih tersedia lahan untuk perluasan/perpanjangan landasan.
4. Kecocokan medan di sekitarnya untuk pendaratan.
5. Kondisi metereologis.
6. Biaya konstruksi dan pemeliharaan.
7. Hubungannya dengan airways yang ada.
Kriteria-kriteria tersebut tidak selalu sama pentingnya, misalnya jarak dengan sumber
traffic tidak begitu penting bila bandar udara yang akan dibangun nanti hanya untuk
refueling atau untuk overnight stop (tidak menurunkan penumpang). Di samping kriteria
tersebut juga perlu diperhatikan major sanitary conditions, yaitu :
1. Jaraknya ke pemukiman penduduk.
2. Jaraknya ke daerah nyamuk berkembang biak, terutama rawa atau genangan air yang
tidak mengalir.
3. Keberadaan serangga, binatang-binatang kecil dan tikus.
4. Arah angin sepanjang tahun yang dapat membawa nyamuk dari tempat jauh.
5. Sifat persediaan air, terutama sumbernya, status kontaminasi dan debitnya yang cukup.
6. Dalamnya dan sifat permukaan air tanah.
7. Drainase daerah itu berlangsung secara alami atau melalui saluran buatan.
Semua masalah-masalah diatas harus dianalisis lebih dahulu sebelum pembangunan
bandar udara dimulai, hal ini untuk mengindari kesulitan-kesulitan baru atau tambahan
selama proses konstruksi bandar udara sedang berjalan. Juga perlu diperhatikan bahwa
tidak semua penumpang itu sehat, tetapi ada orang cacat, orang tua, wanita hamil dan
anak-anak. Maka dalam membangun suatu bandar udara harus dibuat fasilitas untuk

orang-orang. Selain itu dalam pembangunan bandara harus disesuaikan dengan peraturan
perundang-undangan agar dapat memenuhi persyaratan K3
untuk menunjang operasi penerbangan yang lancar, aman dan nyaman. Sehubungan
dengan hal tersebut perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya suatu gawat darurat
penerbangan, gawat darurat medik, gawat darurat karena bencana alam atau suatu
kecelakaan kerja. Masalah hygiene dan sanitasi di bandara harus diperhatikan dan
ditangani sungguh-sungguh karena bandara adalah pintu gerbang suatu negara. Masalah
yang juga penting di bandara adalah yang berhubungan dengan gangguan kesehatan
karena lingkungan kerja yaitu karena bising, gelombang mikro, debu radioaktif dan sinar
x, dan bahan-bahan kimia yang terdapat di bandara. Akhirnya masalah penanggulangan
dan penyelidikan kecelakaan pesawat udara yang terjadi di bandara dan sekitarnya, dan
selanjutnya sering melalui bandara diangkut penumpang yang sakit untuk berobat ke kota
atau negara.lain semua ini perlu ditangani.
Masalah keselamatan kerja di bandara adalah menyangkut masalah tentang tenaga kerja
dan orang lain yang berada di tempat kerja. Adapun potensi bahaya yang menyangkut
tenaga kerja dan orang lain di bandara meliputi :
1. Gawat darurat yang melibatkan pesawat, yaitu :
a. Kecelakaan pesawat udara di bandar udara.
b. Kecelakaan pesawat udara di sekitar bandar udara.
c. Insiden pesawat udara dalam penerbangan.
d. Insiden pesawat udara di darat.
e. Sabotase, termasuk ancaman bom.
f. Pembajakan.
2. Gawat darurat yang tidak melibatkan pesawat yaitu :
a. Kebakaran bangunan.
b. Sabotase, termasuk ancaman bom.
c. Bencana alam.
d. Bahaya petir.
e. Bahaya listrik
3. Gawat darurat medik.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya undang-undang yang menyangkut


tentang keselamatan kerja yaitu Undang-undang No. 1 tahun 1970 yang bertujuan untuk
melindungi tenaga kerja dan setiap orang lain yang berada di dalam tempat kerja selalu
dalam keadaan selamat dan sehat. Selain itu, bandara harus mempunyai sertifikasi sesuai
dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomer : KM 47 Tahun 2002 tentang Sertifikasi
Operasi Bandar Udara.
Pengendalian terhadap bahaya kebakaran juga harus di perhatikan. Menurut Permenaker
RI No. Per. 04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat
Pemadam Api Ringan. Dimana di dalamnya diatur tentang syarat pemasangan yang
meliputi penggunaan apar yang sesuai dengan jenis kebakaran dan juga termasuk
pemasangan alarm kebakaran yang mungkin timbul di bandara serta jalur penyelamatan
seperti tangga darurat, koridor, pintu kebakaran, lift kebakaran, penerangan darurat dan
penunjuk arah keluar, komunikasi darurat, sistem pengendalian asap.
Pengaturan seperti instalasi listrik dan instalasi petir harus disesuaikan dengan peraturan
perundangan yang ada seperti Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor : Kep. 75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) Nomor : SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik
2000 (Puil 2000) di Tempat Kerja dengan tujuan :
1. Instalasi listrik dapat dioperasikan dengan baik.
2. Terjamin keselamatan manusia.
3. Terjamin keselamatan instalasi listrik beserta perlengkapannya.
4. Terjamin keamanan gedung dan isinya terhadap kebakaran akibat listrik.
5. Terjamin perlindungan lingkungan.
Selain itu aspek kesehatan di bandara juga perlu mendapat perhatian. Karena banyak
sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja maupun orang lain
yang berada atau di sekitar bandara. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Bising.
2. Bahan kimia.
3. Debu atau bahan radioaktif.
4. Gelombang mikro dan sinar X.
5. Polusi udara.

Bising yang terdapat di bandara terutama berasal dari mesin pesawat yang mempunyai
frekuensi tinggi dan intensitas besar, yaitu 90-110 dBA atau lebih. Menurut Kepmenaker
No. Kep 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja bahwa
untuk NAB kebisingan adalah 85 dBA untuk pemajanan 8 jam sehari. Artinya tenaga
kerja dapat bekerja dengan intensitas kebisingan sebesar 85 dBA maksimal hanya 8 jam.
Sedangkan kebisingan di bandara yang mencapai 90-100 dBA hanya boleh di alami tenaga
kerja maksimal selama 2 jam. Untuk itu tenaga kerja harus memakai alat pelindung diri,
karena intensitas pekerjaan hampir selama 24 jam.
Akibat bising yang paling penting adalah menurunnya pendengaran dan dapat terjadi tuli
permanen (sensoric deafness). Hampir 15% dari awak darat airline mengalami gangguan
ini secara tak langsung. Dalam hubungannya dengan pesawat tersebut karyawan dibagi
dalam golongan, yaitu :
1. Golongan I : Mereka yang bekerja dekat sekali dengan pesawat (kurang dari 8 meter)
selama runs up.
2. Golongan II : Mereka yang relatif dekat (8 50 m) pesawat, misalnya maintenance
personnel, starting crew, dan trouble line personnel.
3. Golongan lII : Mereka yang kadang-kadang harus bekerja tidak jauh dari pesawat (50
120 m), misalnya pramugari darat, personel kargo, dsb.
Menurut tingkatan bising (noise level) daerah sekitar pesawat dibagi menjadi 4 zone
yaitu :
1. Zone A : Daerah dengan tingkatan bising antara 150 dB. Zone ini jangan dimasuki sama
sekali.
2. Zone B : Daerah dengan tingkatan bising antara 135 150 dB. Di daerah ini orang harus
berusaha sesingkat mungkin dan harus memakai ear muff.
3. Zone C : Daerah dengan tingkatan bising antara 115 135 dB. Semua orang yang
bekerja di sini harus memakai ear muff. Bila hanya sebentar boleh memakai ear plug.
4. Zone D : Daerah dengan tingkatan bising antara 100 115 dB. Mereka yang bekerja di
sini harus mekakai ear plug terus menerus.
Untuk mencegah/mengurangi akibat gangguan bising perlu dilakukan Hearing
Conservation Program, dengan cara :

1. Pemeriksaan audiometris secara berkala pada karyawan tersebut di atas.


2. Dilakukan usaha-usaha pencegahannya, di antaranya ialah memakai :
a. Helmet : Dipakai bila bekerja dekat sekali dengan pesawat yang run-up. Diperkirakan
sebagian bising diserap oleh tulang-tulang kepala, jadi perlu helmet.
b. Ear muff : Dibuat dari plastik atau karet dengan ukuran small, medium dan large.
c. Golongan I memakai helmet dan ear plug.
d. Golongan II memakai ear muff.
e. Golongan III cukup memakai ear plug.
Dalam pemeriksaan audiometri, dibuat Base Line Audiogram untuk frekuensi 250, 500,
1000, 2000, 4000, dan 8000 c/s, yang terpenting adalah frekuensi 500, 1000, dan 2000 c/s.
Bila ada seorang dengan hearing loss 15 dB atau lebih, perlu dibuat audiogram ulangan
setelah 48 jam bebas dari bising. Pemeriksaan audiometris secara berkala pada karyawan
yang terpapar bising, dilakukan tiap 2 4 tahun sekali.
Para tenaga kerja atau karyawan di darat juga dihadapkan pada bahan kimia, seperti
bahan bakar (bensin, bensol, avtur) minyak hidrolik, larutan desinfektans, insektisida dsb.
Bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan dermatitis kontak, dan bila tertelan atau
terhirup dapat terjadi intoksikasi yang membahayakan. Oleh karena itu perlu dicegah
dengan cara :
1. Memakai sarung tangan dan pakaian kerja, bila perlu masker.
2. Disediakan tempat cuci tangan, kamar mandi dan kamar ganti pakaian.
3. Ventilasi kerja harus baik.
4. Penyuluhan tentang kesehatan kerja.
5. Pemeriksaan kesehatan berkala (1 2 tahun sekali).
Selain itu perlu juga diketahui nilai ambang batas bahan kimia yang diperbolehkan
sebagai upaya pengendalian. Peraturan yang mengatur tentang bahan kimia adalah SE
Menaker No. SE 01/MEN/1997 tentang NAB faktor kimia di udara lingkungan kerja dan
juga Kepmenaker No. KEP 187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kima berbahaya di
tempat kerja. Di dalamnya diatur tentang Nilai Ambang Batas bahan kimia dan juga
mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja, akibat penggunaan bahan kimia
berbahaya di tempat kerja maka perlu diatur pengendaliannya.
Dalam pengoperasian radar digunakan gelombang mikro dan sinar X. Gangguan yang

ditimbulkan gelombang ini akan dirasakan terutama oleh teknisi radar, jarang pada
operator radar. Gelombang mikro dapat merusak lensa mata dan terjadilah katarak, atau
dapat juga merusak kelenjar testis, akibatnya adalah kemandulan. Oleh karena hal-hal
tersebut perlu dilakukan usaha pencegahannya. Dalam Kepmenaker No. Kep
51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja menyatakan
bahwa NAB untuk gelombang mikro .
Sinar X juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, yaitu dapat menyebabkan mutasi
gen, munculnya kanker dan lain sebagainya. Dalam penanganannya, ada beberapa cara
yaitu :
1. Mengatur waktu pemajanan dengan memberikan jam istirahat.
2. Isolasi sumber sinar X.
3. Bekerja dengan menggunakan remote control.
4. Tenaga kerja harus menggunakan APD.
Petugas ground handling kadang-kadang harus menangani muatan yang berisi bahan
radioaktif. Bila terjadi kebocoran dalam pengepakan dapat membahayakan sekitarnya.
Dan pesawat udara secara berkala diperiksa untuk mengetahui keretakan pada bagianbagiannya. Kedua radiasi ini dapat membahayakan kesehatan dan perlu dilakukan usaha
pencegahannya. Polusi udara terjadi karena asap yang keluar dari mesin pesawat,
kendaraan ground handling, dan mobil yang lalu lalang. Juga hembusan yang kuat (jet
blast) yang keluar dari exhaust pesawat menyebabkan debu beterbangan; ini akan
menambah tingkat polusi yang sudah ada. Untuk itu perlu usaha pencegahan yaitu :
1. Pemakaian masker.
2. Sarung tangan.
3. Baju pelindung.
4. Penyuluhan kesehatan bagi tenaga kerja.
Masalah hygiene dan sanitasi di bandara juga perlu di perhatikan sesuai dengan Undangundang Nomor 23 tahun 1997 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Pemeliharaan dan peningkatan hygiene dan sanitasi di bandar udara
akan menyangkut empat masalah,yaitu :
1. Penyediaan air (water supply).
2. Kebersihan makanan (food hygiene).

3. Pembuangan sampah dan kotoran (waste disposal).


4. Pemberantasan serangga/binatang yang dapat menularkan penyakit (vector control).
Hygiene dan sanitasi di bandar udara harus ditangani dengan sungguh-sungguh, karena
bila tidak, dapat membahayakan keselamatan penerbangan dan orang lain di lingkungan
bandara..