Anda di halaman 1dari 5

A.

Manifestasi klinis Pericarditis


Pasien perikarditis akut biyasanya mengeluh sakit dada substernal atau
parasternal , kadang-kadang menjalar kebahu, menjadi lebih ringan apabila
pasien duduk .Pada pemeriksaan jasmani ditemukan pericardial friction rub dan
pembesaran jantung. Tanda-tanda temponade, tekanan vena meningkat ,
hepatomegali dan edma kaki juga dapat ditemukan. Bunyi jantung lemah, tapi
dapat juga normal bila efusi perikard berada dibelakang. Ewarts sign, yaitu
perkusi sejak pekak dibawah angulus skapula kiri bila efusi perikard banyak .
Foto rontgen dada bisa normal bila efusi perikard hanya sedikit , tetapi
dapat tampak bayangan jantung membesar separti waterbottle dengan
vaskularisasi paru normal bila efusi perikard banyak.
Elektrokardiografi memperlihatkan elefasi segmen ST tanpa perubahan
resi prokal , voltase QRS yang rendah ( low voltage) tapi EKG bisa juga normal
atau hanya terdapat gangguan irama berupa febrilasi atrium.
Pemeriksaan ekokardiografi M-Mode atau dua dimensi sangat baik
untuk memastikan adanya efusi perikard dan memperkirakan banyaknya cairan
perikard.
B. Gejala
Biasanya perikarditis akut menyebabkan demam dan nyeri dada, yang
menjalar ke bahu kiri dan kadang ke lengan kiri.Nyerinya menyerupai serangan
jantung, tetapi pada perikarditis akut nyeri ini cenderung bertambah buruk jika
berbaring, batuk atau bernafas dalam. Perikarditis dapat menyebabkan
tamponade jantung, suatu keadaan yang bisa berakibat fatal.
Nyeri dada
Nyeri dada merupakan gejala yang selalu ada dalam setiap benuk
perikarditis akut. Nyeri pada perikarditits kerapkali berat, pada retrosternal dan
precordial kiri, dan menjalar ke punggung dan daerah kiri trapezius. Sering
sakitnya merupakan konsekuensi pleuritis yang mengiringi inflamasi pleural.
Nyeri dada yang timbul dirasakan menusuk dan diperburuk oleh inspirasi, batuk,
dan perubahan dari posisi tubuh, tetapi kadang-kadang menetap, sakit yang

menjalar ke lengan atau kedua lengan yang mirip dengan myocardiac iskemia;
oleh karena itu, kebingungan dengan acute myocardial infarction (AMI) sering
mincul. Secara khusus, bagaimanapun juga nyeri perikardial akan berkurang
dengan duduk dengan posisi tubuh ke depan dan semakin buruk dengan berbaring
dalam posisi supine.
Pericardial Friction Rub
Merupakan tanda fisik yang paling penting pada perikarditis akut,
mencapai 3 komponen setiap siklus jantung. Kadang-kadang diperoleh ketika
penekan tetap dengan diafragma stetoskop pada dinding thoraks pada kiri bawah
batas sternum. Paling sering didengar selama ekspirasi dalam posisi tegak lurus
dengan posisi ke arah depan. Gesekannya sering tidak tetap, dan suaranya akan
hilang dalam beberapa jam, dan mungkin kembali pada hari berikutnya.
Gejala lain:
Urutannya sbb:
Dispnea, edema perifer, pembesaran perut, gangguan abdominal, lelah
ortopnoe,palpitasi, batuk, nausea dan paroxysmal nocturnal dispnea.
Foto rontgen dada biasanya menunjukkan besar jantung normal,kadangkadang membesar pada 10%. Vena kava melebar di mediastinum kanan atas,
atrium kiri membesar, penebalan perikard . EKG memperlihatkan low voltage,
segmen ST dan inversi gelombang T yang menyeluruh. QRS irama sinus bisa
juga timbul fibrilasi atrium. Ekokardiografi M Mode bisa menunjukkan penebalan
dinding perikardium.
F. Penatalaksanaan
Tirah baring sampai keadaan membaik
Analgetik dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
Kortikosteroid untuk mengontrol gejala dan mencegah efusi perikard
Perikarditis akibat tuberculosis di obati dengan,isomiasid,etambutol
hidroklorid,rifampin,dan streptomisin,

Bila kondisi pasien sudah membaik aktivitas harus ditingkatkan secara


bertahap. Tetapi bila nyeri ,demam atau friction rub kembali muncul, pasien
harus segera tirah baring.

G. Pengobatan
Penderita biasanya dirawat di rumah sakit, diberikan obat untuk
mengurangi peradangan (misalnyaAspirin atau ibuprofen), kontrol terhadap
terjadinya efusi pericardial (jika ada efusi pericardial maka tekanan arteri dan
vena , heart rate harus dikontrol dan diperhatikan. Selain itu harus diawasi
kemungkinan terjadinya komplikasi (terutama tamponade jantung).

Bila nyerinya hebat mungkin perlu diberikan opium (misalnya morfin) atau
corticosteroid.

Obat yang paling sering digunakan untuk nyeri yang hebat adalah prednisone.

Pengobatan lanjutan dari perikarditis akut bervariasi, tergantung kepada


penyebabnya.

Penderita kanker mungkin memberikan respon terhadap kemoterapi (obat anti


kanker) atau terapi penyinaran; tetapi biasanya penderita menjalani
pembedahan untuk mengangkat perikardium.

Penderita gagal ginjal mungkin akan memberikan respon terhadap perubahan


programdialisa yang dijalaninya.

Infeksi bakteri diobati dengan antibiotik dan nanah dari perikardium dibuang
melalui pembedahan.

Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka pemakaian obat tersebut segera


dihentikan.

Aspirin, ibuprofen atau corticosteroid diberikan kepada penderita yang


mengalami perikarditis berulang yang disebabkan oleh virus.

Pada beberapa kasus diberikancol chic ine.

Jika penanganan dengan obat-obatan gagal, biasanya dilakukan pembedahan


untuk mengangkat perikardium.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perikarditis adalah peradangan perikard parietal, perikard viseral atau
kedua-duanya.

Perikarditis

dibagi

atas

perikarditis

akut,

perikarditis

subakut,,perikarditis kronik mempunyai etiologi , manifestasi klinis, pendekatan


diagnostik dan pengobatan yang sama.
Penyebap perikarditis akut sangat banyak, yaitu penyakit idiopatik
(benigna), infeksi non-spesifik virus, tubercolusis , jamur, bakterial, penyakit
kolagen seperti artritis reumatoid, systemic lupus erithematosus (SLE) ,
neoplasma seperti mesotelioma primer, tumor metastasis, trauma, radiasi, uremia,
infark miokard akut, dresslers syndrome (pasca infark miokard), sindrom
pascaperikardiatomi, dan diseksi aorta.
B. Saran
Bagi para pembaca (mahasiswa) diharapkan dapat memetik pemahaman
dari uraian yang dipaparkan diatas yaitu Retinopati diabetik, dan dapat
mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarakat khususnya dalam pemberian
penyuluhan untuk pencegahan, atau pengurangan faktor predisposisi pada
penyakit Retinopati diabetik tersebut. diharapkan agar terus menambah wawasan
khususnya dalam bidang keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Griffith, H. Winter. (1994). Buku Pintar Kesehatan : 796 Gejala 520
Penyakit 160 Pengobatan, Jakarta : Arcon.
Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (edisi ketiga jilid
1), Jakarta : Media Aesculapius.
Robin, dkk. (1995). Buku Ajar Patologi II. (edisi keempat), Jakarta : EGC.
Sarjadi. (1999). Patologi : Umum dan Sistemik. (edisi kedua), Jakarta :
EGC.
Syaifuddin. (1992). Anatomi Fisiologi : Untuk Siswa Perawat. (edisi revisi),
Jakarta

EGC.