Anda di halaman 1dari 21

PENGENALAN ALAT DIAGNOSA KLINIK

Kelompok 1 : Bahtiar1, Juliyanti Hara, Mildawati marzuki, Nur


Ilmi Rahmiati, Hilman Nihaya

Bagian Bedah & Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi &


Patologi
Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas
Hasanuddin (UNHAS)

Bahtiarveterinerunhas@gmail.com

ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui alat yang
digunakan dalam melakukan suatu diagnosa klinik. Selain
itu untuk mengetahui nama, fungsi dan cara menggunakan alat
tersebut. Praktikum ini dilakukan di Klinik Pendidikan Kedoktran
Hewan Universitas Hasanuddin. Dalam praktikum ini asisten
memberikan demonstrasi mengenai alat alat yang sering
digunakan dalam mendukung diagnosa klinik yaitu refleks
hummer (untuk melihat gerak reflex tendon bagian,
tubuh tertentu),
tong- spatel
(memudahkan untuk melihat bagian dalam tenggorokan dengan
cara menekan lidah), vaginaskopi/spekulum vagian (untuk
membuka lebar vagina, memudahkan dalam melihat bagian dalam
uterus/dinding rahim), penlight (sebagai alat bantu penerangan dan
juga untuk melihat reflex dari pupil), stetoskop (untuk mendeteksi
dan mendengarkan bunyi rongga tubuh/organ dalam, misalnya
jantung dan paru-paru), otoscope (untuk memeriksa dan melihat
bagian dalam dari telinga), oftamoskop (sebagai alat untuk melihat
kelainan yang terjadi pada mata), laryngoscope (berfungsi untuk

memeriksa daerah laring), thermometer (untuk mengukur suhu)dan


tali restrain/sumbu (digunakan untuk merestrain hewan yang akan
diperiksa). ECG (berfungsi untuk merekam aktivitass elektro atau
kelistrikan yang terjadi di dalam jantung). Kesimpulan dari
praktikum ini yaitu alat-alat yang biasanya digunakan dalam
diagnosa klinik
Kata kunci : Alat diagnose klinik, Fungsi alat
PENDAHULUAN
Diagnosa
adalah
penentuan jenis penyakit
yang
dihasilkan
dari
pengumpulan data informasi
kesehatan hewan dengan
proses
dan
teknik
pemeriksaan
/dan
atau
dengan alat tertentu. Untuk
mendiagnosa
diperlukan
penguasaan terhadap ilmu
anatomi, fisiologi, patologi
dan tingkah laku hewan.
Proses
(urutan)
dalam
mendiagnosa harus dengan
metode yang benar (metodik)
dan
dalam
melakukan
pemeriksaan
hendaknya
dilakukan dengan pendekatan
yang benar dan hati-hati
terhadap hewan sehingga
tidak
mengubah
data
kesehatan individu hewan
yang sebenarnya (lakukan
pemeriksaan
secara
sistematis) (Yusuf, 2015).

Istilah diagnosis sering


kita dengar dalam istilah
medis. Menurut Thorndike
dan Hagen dalam Suherman
(2011),
diagnosis
dapat
diartikan sebagai :
1.

Upaya atau proses


menemukan kelemahan
atau penyakit ( weakness,
disease) apa yang dialami
seseorang dengan melalui
pengujian dan studi yang
seksama mengenai gejalagejalanya (symptons);
2.
Studi yang seksama
terhadap fakta tentang
suatu
hal
untuk
menemukan karakteristik
atau kesalahan-kesalahan
dan sebagainya yang
esensial;
3.
Keputusan
yang
dicapai setelah dilakukan
suatu studi yang seksama

atas gejala-gejala atau


fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian di
atas,
dapat
disimpulkan
bahwa di dalam konsep
diagnosis, secara implisit
telah tercakup pula konsep
prognosisnya.
Dengan
demikian
dalam
proses
diagnosis
bukan
hanya
sekadar
mengidentifikasi
jenis dan karakteristiknya,
serta latar belakang dari suatu
kelemahan atau penyakit
tertentu, melainkan juga
mengimplikasikan
suatu
upaya untuk meramalkan
kemungkinan
dan
menyarankan
tindakan
pemecahannya (Suherman,
2011).
Proses
diagnosis
merupakan perpaduan dari
aktifitas
intelektual
dan
manipulatif.
Diagnosis
sendiri didefinisikan sebagai
suatu
proses
penting
pemberian
nama
dan
pengklasifikasian penyakitpenyakit
pasien,
yang
menunjukkan kemungkinan
nasib pasien dan yang
mengarahkan
pada
pengobatan
tertentu.
Diagnosis
sebagaimana

halnya dengan penelitianpenelitian ilmiah, didasarkan


atas
metode
hipotesis.
Dengan metode hipotesis ini
menjadikan
penyakitpenyakit
begitu
mudah
dikenali hanya dengan suatu
kesimpulan
diagnostik.
Diagnosis dimulai sejak
permulaan wawancara medis
dan berlangsung selama
melakukan pemeriksaan fisik.
Dari diagnosis tersebut akan
diperoleh
pertanyaanpertanyaan yang terarah,
perincian pemeriksaan fisik
yang
dilakukan
untuk
menentukan pilihan tes-tes
serta pemeriksaan khusus
yang akan dikerjakan. Data
yang berhasil dihimpun akan
dipertimbangkan
dan
diklasifikasikan berdasarkan
keluhan-keluhan dari pasien
serta hubungannya terhadap
penyakit
tertentu.
Berdasarkan
gejala-gejala
serta
tanda-tanda
yang
dialami oleh penderita, maka
penegakkan diagnosis akan
lebih terpusat pada bagianbagian
tubuh
tertentu.
Dengan demikian penyebab
dari gejala-gejala dan tandatanda tersebut dapat diketahui
dengan mudah dan akhirnya

diperoleh kesimpulan awal


mengenai penyakit tertentu
(Handayani dan Sutikno,
2008).
Agar interaksi pasien
berlangsung efisien
dan
lancar,
penting
bagi
pemeriksa untuk bersiap-siap
sebelum perjumpaan dengan
pasien.
Langkah-langkan
penting pada persiapan ini
meliputi hal-hal berikut:
mengumpulkan
peralatan,
menyiapkan tempat, dan
menjamin keselamatan pasien
(M Rhonda 2009).
Alat-alat
yang
diperlukan
untuk
pemeriksaan
fisik
komprehensif yang dilakukan
oleh seorang dokter umum,
walaupun demikian akan
bermanfaat untuk mengetahui
dan mengenal alat-alat umum
yang
digunakan
pada
pemeriksaan fisik (M Rhonda
2009).
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam merumuskan
hipotesis untuk sebagian
besar
gangguan
klinik,
pemeriksaan
fisik
mempunyai arti penting, jika
kita bandingkan dengan

riwayat yang kita susun


dengan jelas dan teratur
menurut
rangkaian
kejadiannya.
Pemeriksaan
fink mempunyai nilai yang
paling penting di dalam
memperkuat
penemuanpenemuan yang berhasil kita
dapatkan dan riwayat yang
telah
kita
ambil
dan
menambah atau mengurangi
pilihan diagnosis yang dapat
kita lakukan (Delf, 1996).
Sejak
zaman
Auenbrugger dan Laennec,
beberapa alat tertentu telah
menambah kemajuan dan
ketelitian
kemampuan
pengamatan klinik. Anda
harus melengkapi diri anda
dengan
stetoskop,
sfigmomanometer,
oftalmoskop, otoskop, senter,
palu
pemeriksaan
ketok
(perkusi)garpu tala (128
siklus per detik), pita
pengukur, lensa kantong,
spatel
lidah
dan
termometer.Pada garis besar
pemerikaan fisik yang berikut
ini, peralatan yang sesuai
dicantumkan didaerah mana
alat-alat tersebut paling tepat
digunakan. Indikasi yang
sama juga diberikan untuk
tindakan-tindakan
dasar

dalam
melakukan
pemeriksaan
pandang
(inspeksi), pemeriksaan raba
(palpasi), pemeriksaan ketok
(perkusi) dan pemeriksaan
dengar (auskultasi) (Delf,
1996).
Alat-alat
yang
diperlukan
untuk
pemeriksaan
fisik
komprehensif yang dilakukan
olehseorang dokter umum
dapat dilihat pada Gambar 46. Farmasis tidak perlu
menggunakan seluruh alat
tersebut, walaupun demikian
akan
bermanfaat
untuk
mengetahui dan mengenal
alat-alat
umum
yang
digunakan pada pemeriksaan
lisik.
Peralatan
yang
diperlukan
untuk
pemeriksaan
fisik
menyeluruh adalah:
Pena cahaya atau
senter
digunakan
untuk cek kulit dan
respon pupil terhadap
cahaya dan untuk
sumber
cahaya
tangensial menerangi
dada
danabdomen
dariri sisi samping.
Penggaris
atau
meteran,Iebih disukai
jika
menggunakan

satuan
centimeter.
Untuk
mengukur
ukuran mola atau
abnormalitas
kulit
lainnya,
abdomen,
tinggi fundus dan
keliling tangan.
Sarung tangan dan
masker atau kaca
mata
pelindung
/goggles sesuai aturan
Centers for Disease
Control (CDC) untuk
situasi tertentu.
Otoskop
dan
oflalmoskop
untuk
memeriksa
telinga
dan
mata
(jika
otoskop
tidak
dilengkapi
dengan
spekulum
pendek,
maka
diperlukan
spekulum nasal).
Depresor Iidah untuk
menggerakkan atau
menahan lidah pada
saat
memeriksa
orofaring.
Stetoskop (dengan bel
dan diafragma) untuk
auskultasi paru-paru,
jantung
dan
salurancerna.
Palu reflex untuk
menguji reflex tendon

Beberapa benda untuk


menguji saraf cranial
(misalnya
uang
logam, peniti, kancing
dll)Peralatan
tambahan
yang
diperlukan
untuk
menilai tanda-tanda
vital (vital signs)
antara lain:
Thermometer untuk
mengetahul
temperature
Sfigmomanometer
untuk
mengetahui
tekanan darah
Jam dengan jarum
penunjuk detik atau
jam digital untuk
menghitung
kecepatan
detakjantung (nadi)
dan pemafasan
Skala
untuk
mengukur
berat
badan.
Hampir semua alat
sudah tercantum pada daftar
di atas. Karena anda harus
slap melakukan pemeriksaan
terfokus tanpa interupsi. anda
hams menviapkan peralatan
dasar
(misalnya
sfigmomanometer
dan
stetoskop)
tersedia
dan

mudah dijangkau di ruang


praktek Pengaturan yang
hati-hati
dan
konsisten
sebelum memulai pemeriksaa
akan
meningkatkan
efektivitas
dan
efisiensi
pemeriksaan dan menjamin
pemeriksaan selalu dilakukan
dengan urutan yang sesuai
(M Rhonda 2009).
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini asisten
menjelaskan tentang Nama
Alat-alat dan juga Fungsi
dari masing-masing ala yang
biasanya di gunakan dalam
diagnosa klinik. Adapun
beberapa
alat-alat
yang
dijelaskan oleh asisten yaitu,
(a) Reflex hammer dimana
biasanya alat ini berfungsi
untuk melihat reflex tendon
pada bagian tertentu, (b)
Tongues-Spatel
berfungsi
untuk menekan lidah untuk
dapat melihat bagian dalam
dari
mulut
seperti
tenggorokan,
(c)
Laryngoskop
digunakan untuk melihat ada
tidaknya
kelainan
pada
laryng, (d) Spiculum Vagina

(Vaginoskop)
digunakan
untuk melebarkan vagina
Cara menggunakannya yaitu
pegang spekulum vagina
pada bagian gagangnya, buka
kunci
baut
spekulum,
masukkan ke dalam vagina,
dimana Spikulum masih
dalam keadaan tertutup dan
dalam
keadaan
miring,
Setelah
masuk
putar
spekulum, kemudiaan buka
spekulum (bagian cocor
bebek), lalu kunci baut
spekulum (kunci dengan
paten,
jangan
sampai
longgar)
selanjutnya
pemeriksaan siap dilakukan,
(e) Otoskop digunakan untuk
melihat bagian tengah dan
dalam
telinga,
untuk
mengetahui ada tidaknya
kelainan
ataupun
penumpukan serumen di
dalamnya,
(f)
Penlight sebagai alat bantu
penerangan untuk memeriksa
pasien, agar pemeriksaan
lebih
jelas.
Umumnya
digunakan pada mata untuk
melihat
kontraksi/dilatasi
pupil, juga bias digunakan
pada beberapa daerah yang
berongga,
(g)
Thermometer digunakan
untuk mengukur suhu tubuh.

Terbagi atas 3 jenis namun


untuk kedokteran hewan
hanya 2 yang di guakan yaitu,
thermometer air raksa dan
thermometer digital. Adapun
thermometer air raksa dan
thermometer digital memiliki
perbedaan pada pengukurnya.
Untuk thermometer digital,
jika suhu tubuh sudah didapat
maka alat tersebut akan
mengeluarkan bunyi dengan
sendirinya.
Sedangkan
thermometer raksa sendiri
deteksinya memakan waktu
yang lama, sehingga kurang
efisien untuk digunakan.(h)
Stetoskop digunakan untuk
mendengar
bunyi
pada
bagian
tubuh
tertentu,
umumnya pada bagian tubuh
yang berongga. Misalnya
pada bagian thorax dan
abdomen. Pada bagian thorax
dapat didengarkan suara
jantung dan suara paru-paru
(resonan atau pekak). Dan
pada
bagian
abdomen
digunakan untuk mendengar
suara gerakan rumen pada
hewan besar, detak jantung
janin jika dalam keadaan
bunting trimester akhir. (i)
Oftalmoskop adalah
alat
untuk melihat bagian mata
dalam dinamakan fundus dan

melewati
retina,
diskus
optikus, makul dan pembuluh
darah
retina.
(j)
Elektrokardiografi
(ECG) adalah alat medis
yang
fungsinya
untuk
merekam aktivitass elektro
atau kelistrikan yang terjadi

di dalam jantung. Hasilnya


dapat
terlihat
pada
elektrodiagram.
Biasanya
digunakan pada penyakitpenyakit yang berkaitan
dengan fungsi jantung.

KESIMPULAN

suatu
diagnosis
dengan
mengetahui fungsi dan cara
menggunakannya
dari
masing-masing alat diagnose
klinik.

Diagnosa
klinis
merupakan Keputusan yang
dicapai setelah dilakukan
suatu studi yang seksama atas
gejala-gejala
atau
fakta
tentang suatu hal dan juga
untuk
mencapai
itu
diperlukan alat-alat yang
dapat
menunjang
demi
keakuratan diagnos yang
dilakukan.
Pengenalan
alat-alat
diagnosa terbukti sangat
membantu dalam menunjang

DAFTAR PUSTAKA
DEL.F,Mohian.H.Major
diagnosis fisik= (Majors
physical diagnosis) I Mohian

H. Deif, Robert T. Manning;


alih bahasa, Moelia Radja
Siregar; editor, Adji Dharma.

Ed.
9.

Jakarta EGC, 1996.

Handayani, L dan Sutikno, T.


2008. Sistem Pakar untuk
Diagnosis Penyakit THT
Berbasis
Web
dengan
e2gLite Expert System
Shell. Jurnal
Teknologi
Industri, Volume 12, Nomor
1.
M,Rhonda
Jones
.
2009.Prinsip
dan
Pemeriksaan
Dasar.Jurnal
Prinsip dan Pemeriksaan
Dasar pdf.
Nak,Yusuf.2015.Diagnosa
Klinis. (online)

(http://pertanian.slemankab.g
o.id/diagnosa-klinis/, diaskes
27 september 2015)
Suherman. 2011. Diagnostik.
(online),
(http://suhermanmama
n.wordpress.com/2011/
07/22/diagnostikkesulitan-belajar/,
diakses 27 september 2015)