Anda di halaman 1dari 22

BABI I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan

penduduk

yang

sangat

pesat

seringkali

menimbulkan

permasalahan dalam hal ketahanan pangan. Hal ini terjadi bila pertambahan
penduduk tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan yang cukup. Pola konsumsi
yang hanya bertumpu pada satu jenis bahan pangan pokok menjadi salah satu
penyebab timbulnya masalah tersebut. Dan masalah ini terjadi hampir di seluruh
daerah di Indonesia, termasuk daerah Maluku.Kenyataan ini disebabkan karena
masyarakat tetap menjadikan beras sebagai satu-satunyapangan pokok, padahal di
Maluku sendirimempunyai pangan pokok lokal yang sudah mulaiditinggalkan yaitu
sagu.
Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini
belum ada data yang mengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Di
wilayah Indonesia bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan
pokok oleh sebagian penduduknya terutama di Maluku dan Irian Jaya. Teknologi
eksploitasi, budidaya dan pengolahan tanaman sagu belum dipandang serius oleh
pemerintah negara ini padahal sagu merupakan pontensi yang sangat besar bagi
pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sebagai sumber energi. Sedangkan negara
yang tidak mempunyai potensi untuk tumbuhnya sagu seperti Malaysia justru
mengeksploitasi teknologi pengolahan sagu yang berasal dari Indonesia.
Sagu (Metroxylon sp) merupakan pangan pokok lokal yang sudah dikenal
sejak dahulu, di beberapa daerah antara lain : Maluku, Papua dan Sulawesi. Sebagai
tanaman tradisional khas masyarakat Maluku, sagu merupakan tanaman yang cukup
berpotensi, dimana sejak dahulu, pati sagu telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan
pokok (Staple food), seperti : papeda, sagu lempeng, sinoli, bubur sagu serta
penganan, seperti : serut, bagea dan sagu tumbu. Sejalan dengan perkembangan,
pengolahan pati sagu dikembangkan lagi menjadi bahan industri pangan seperti :
bahan pembuat roti, biskuit, mi, dan beras sagu, lalu diolah juga menjadi bahan
industri plastik yang dikenal dengan istilah biodegradable plastic (plastik yang
mudah terurai). Belakangan ini, sagu dikembangkan juga sebagai bahan energi
alternatif yaitu bioetanol. Sebagai hasil buangan/ limbah padat sagupun dapat
dimanfaatkan sebagai bahan ramuan rumah, atap rumah, bahan anyaman dan bahan

kerajinan. Limbah sagu lainnya, seperti : ulat sagu, ternyata dapat dimanfaatkan juga
sebagai bahan makanan untuk dikonsumsi dan dapat dijadikan sebagai pakan ternak.
Dengan keanekaragaman potensi dan manfaat sagu seperti yang telah
diuraikan, maka keberadaan sagu perlu dikembangkan karena selain sebagai tanaman
potensial yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, sagu juga merupakan salah satu
kearifan lokal masyarakat Maluku, termasuk masyarakat di Dusun Waipaliti Desa
Hitu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Umumnya masyarakat Dusun
Waipaliti telah memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan dari sejak dahulu, yang
dilakukan secara turun temurun. Dimana batang sagu tersebut diolah, kemudian
diambil patinya untuk dijadikan bahan pangan. Dari sisi potensinya, sagu di Maluku
memiliki potensi yang sangat besar, akan tetapi pada kenyataannya potensi sagu yang
dimanfaatkan hanya sebagian saja, sedangkan sisanya terbuang percuma di hutan.
Kenyataan ini pula yang terlihat di Dusun Waipaliti Desa Hitu Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah, bahwa dengan begitu banyak potensi dan manfaat sagu
yang ada ternyata bahwa sagu yang dimanfaatkan itu hanya untuk dikonsumsi dan
sebagian lagi diperjual belikan.
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
A. Dapat mengetahui dan memahami pengertian tanaman sagu
B. Dapat mengetahui dan memahami daerah penghasil sagu
C. Dapat mengetahui dan memahami penanaman, pemanenan, pengelolaan dll dari
sagu
D. Dapat mengetahui dan memahami jenis-jenis tanaman sagu
1.3. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah dapat menambah ilmu bagaimana
pengelolaan tanaman sagu menjadi bahan pangan di daerah maluku dan dapat
meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga dapat meningkatkan nilai
ekonominya dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah terhadap
lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Sagu

Sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu jenis tanam pangan non biji yang telah
cukup banyak dikenal oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan yang memiliki
sedikit sawah. Beberapa daerah di Maluku telah mengkonsumsi sagu sebagai makanan
pokok.
Sagu yang merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang potensial di Indonesia
dapat digunakan untuk penganekaragaman pangan sesuai dengan INPRES No. 20 tahun
1979. Sagu merupakan sumber karbohidrat penting di Indonesia dan menempati urutan
ke-4 setelah ubikayu, jagung dan ubi jalar.
Tanaman sagu memiliki kandungan jumlah pati yang cukup banyak. Jika dihitung
jumlah pati yang dapat sagu hasilkan, maka akan terlihat perbandingan yang cukup besar
antara jumlah pati yang dihasilkan oleh tanaman sagu satu hektar dengan tanaman jagung
atau padi satu hektar.
Pati yang terdapat dalam satu batang sagu berkisar 200-400 kg. Beberapa peneliti
jepang menemukan pohon sagu yang mengandung pati 800-900 kg/batang sagu. pati
sagu mengandung 84.7% karbohidrat yang terdiri atas 73% amilopektin dan 27%
amilosa. Pengolahan sagu hanya menghasilkan pati sekitar 16-18% dari bobot total
batang sagu yang termanfaatkan.
Penggolongan genus Metroxylon dan daerah agihan/sebaran mulai dari Thailand
(Bagian Barat) sampai Santa Cruz (Bagian Timur) dan Mindanau (Bagian Utara) sampai
Timor (Bagian Selatan). Sampai saat ini telah dikenal 11 genus dan 28 spesies palma
serta 1 genus dan 2 spesies pakis penghasil pati dari pokok batang. Secara taksonomi
tumbuhan, sistimatika tumbuhan sagu (Metroxylon sp) adalah sebagai berikut :
Devisi : Spermatophyta
3

Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledonae
Ordo : Arecales
Family : Palmae
Subfamili : Lepidocaroideae (Calamoideae)
Genus : Metroxylon
Spesies : Eumetroxylon spp.
2.2. Pertumbuhan Tanaman Sagu
Sagu memiliki potensi yang paling besar untuk digunakan sebagai pengganti beras.
Keuntungan sagu dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya adalah tanaman sagu
atau hutan sagu sudah siap dipanen bila diinginkan. Pohon sagu dapat tumbuh dengan
baik di rawa-rawa dan pasang surut, dimana tanaman penghasil karbohidrat lainnya sukar
tumbuh. Syarat-syarat agronominya juga lebih sederhana dibandingkan tanaman lainnya
dan pemanenannya tidak tergantung musim.
Kandungan kalori pati sagu setiap 100 gram ternyata tidak kalah dibandingkan
dengan kandungan kalori bahan pangan lainnya. Perbandingan kandungan kalori
berbagai sumber pati adalah (dalam 100 g): jagung 361 Kalori, beras giling 360 Kalori,
ubi kayu 195 Kalori, ubi jalar 143 Kalori dan sagu 353 Kalori.
Pohon sagu banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia, terutama di Indonesia
bagian timur dan masih tumbuh secara liar. Diperkirakan luas areal tanaman sagu di
dunia kurang lebih 2.200.000 ha, 1.128.000 ha diantaranya terdapat di Indonesia. Jumlah
tersebut setara dengan 7.896.000 12.972.000 ton pati sagu kering per tahun.
Umumnya teknologi pengolahan pohon sagu menjadi pati sagu, di Indonesia masih
dilakukan secara tradisional dan hanya beberapa daerah seperti Riau, Jambi dan Sumatra
Selatan yang menggunakan cara semi mekanis dalam mengekstraksi pati sagu.
Pengolahan empulur pohon sagu secara tradisional menghasilkan pati sagu bermutu lebih
rendah dibandingkan dengan pengolahan secara semi mekanis dan mekanis, padahal
komoditi pati sagu juga dapat dijadikan komoditi ekspor. Negara pengimpor
membutuhkan puluhan ribu ton pati sagu tiap-tiap tahunnya untuk dibuat sirup glukosa,
sirup fruktosa, sorbitol dan lain-lain.
Luas areal tanaman sagu di dunia lebih kurang 2.187.000 hektar, tersebar mulai dari
Pasifik Selatan, Papua Nugini, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sebanyak 1.111.264
hektar diantaranya terdapat di Indonesia. Daerah yang terluas adalah Irian Jaya,
menyusul Maluku, Sulawesi, Riau, Kalimantan, Kepulauan Mentawai, dan daerah
lainnya. Perkiraan luas areal tanaman sagu di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Luas
areal sagu adalah 850.000 hektar dengan potensi produksi lestari 5 juta ton pati sagu

kering per tahun. Luas areal sagu tidak kurang dari 740 ribu hektar dengan perkiraan
produksi 5.2 8.5 juta ton pati sagu kering per tahun.
Tabel 1. Perkiraan Kasar Areal Tanaman Sagu di Indonesia

2.3. Manfaat Tanaman Sagu


Manfaat Tanaman Sagu Beberapa manfaat tanaman sagu sebagai salah satu komoditi
budidaya: Pelepahnya dipakai sebagai dinding atau pagar rumah daunnya untuk atap,
kulit atau batangnya merupakan kayu bakar yang bagus, aci sagu (bubuk yang dihasilkan
dengan cara mengekstraksi pati dari umbi atau empulur batang) dapat diolah menjadi
berbagai makanan, sebagai makanan ternak, serat sagu dapat dibuat hardboard atau
bricket bangunan bila dicampur semen, dapat dijadikan perekat (lem) untuk kayu lapis.
Wilayah Indonesia bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan
pokok oleh sebagian penduduknya terutama di Maluku dan Irian Jaya. Teknologi
eksploitasi, budidaya dan pengolahan tanaman sagu yang paling maju saat ini adalah di
Malaysia. Tanaman Sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula,
bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di
Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru. Tanaman
sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae, Famili Palmae. Kawasan Indo Pasifik terdapat 5
marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon,
Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah
Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.
2.4. Varietas Tanaman Sagu

Berdasarkan temuan di lapangan, maka di Maluku ditemukan 5 (lima) jenis sagu,yaitu


yang tangkai daunnya berduri : M. rumphii Mart (sagu tuni), M. sylvestre Mart (sagu
ihur), M. longispinum Mart (sagu makanaru), M micracanthu Mart (sagu duri rotan).
Daunnya tidak berduri : M.sagus Rooth (sagu molat). Selain lima jenis ini, telah
ditemukan pula di lapangan varietas-varietas baru seperti Molat putih, Molat merah dan
Molat berduri. Munculnya berbagai spesies yang baru dimungkinkan karena sifat
penyerbukan silang (cross over pollination). Sagu molat (M. sagus) sangat mudah
dibedakan dengan empat jenis sagu lainnya, karena pelepah daunnya tidak berduri.
Diteliti beberapa karakter fisik fase pohon yang mungkin membedakan masing-masing
jenis sagu, hal ini menjadi penting karena banyak daerah menggunakan nama daerah.
A. Sagu Molat :
- Molat putih : pelepahnya licin, bersih, tidak terdapat garis-garis berwarna coklat
kemerahan.
- Molat merah : pada pelepahnya terdapat garis lebar berwarna coklat kemerahan
kekelabuan.
- Molat berduri : pada tingkat semaian terdapat duri-duri halus dan pada akhir
tingkat semaian duri-durinya hilang.
B. Sagu Tuni : durinya teratur, warna duri coklat kekuningan, duri agak pendek dari ihur,
kurang keras dan tidak lentur, warna empulur sebelum diparut putih/coklat pucat,
sesudah diparut kuning pucat, warna pati basah putih kuning pucat.
C. Sagu Ihur : durinya agak teratur berwarna coklat terang, lebih panjang dari tuni, lebih
keras dan lentur, warna empulur sebelum diparut putih merah muda, sesudah diparut
merah terang, warna pati basah merah terang.
D. Sagu Makanaru : durinya sangat tidak teratur.
E. Sagu Duri Rotan : bekas duri pada pohon dewasa terlihat sangat halus dan rapat.
Menurut Rumalatu (1981), hasil penelitian produksi pati kering per pohon untuk
beberapa jenis sagu menunjukan bahwa produksi tertinggi adalah sagu tuni, kemudian
sagu molat dan makanaru. Berdasarkan hal, maka BBP2TP Ambon bekerjasama dengan
Universitas Pattimura melaksanakan Kegiatan Eksplorasi dan Uji Observasi di Kabupaten
Seram Bagian Timur (SBT) sebagai bahan untuk pendaftaran dan pelepasan varietas sagu
molat (Anonima, 2011).
Tepung sagu adalah tepung yang berasal dari teras batang pohon sagu. Tepung sagu
biasa digunakan sebagai salah satu bahan baku kue atau penganan lainnya. Pembuatan
kue, sagu biasanya digunakan sebagai bahan pengental karena tepung ini bersifat lengket.
Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi
akibat kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses pemanenannya.
6

2.5. Persyaratan Tumbuh Tanama Sagu


Tanaman sagu dapat tumbub baik pada ketinggian tempat 400 m dpl, apabila lebih
dari 400 mdpl pertumbuhan tanaman akan lambat dan kadar patinya rendah. Sagu dapat
tumbuh pada berbagai kondisi hodrologi dari yang terendam sepanjang masa sampai ke
lahan yang tidak kerendam air. Tanaman sagu termasuk tanaman yang memerlukan sinar
matahari dalam jumlah yang banyak. jika tanaman ternaungi akan tanaman sagu akan
menyebabkan kadar pati menjadi rendah selain itu juga dapat memgahmbat pertumbuhan
kelapa.
Suhu udara terendah dalam pertumbuhan sagu adalah 15oC, pertumbuhan terbaik
terjadi pada kisaran suhu 24-30oC. Curah hujan yang cocok untuk tanaman sagu adalah
2500-3500 mm dan jumlah hari ujan tahunan antara 142-209 hari. Sagu juga dapat
tumbuh pada kawasan yang memiliki bulan basah lebih dari 3-9 bulan.
2.6. Proses Pengeringan Tanaman Sagu
Proses pengeringan sagu, ada dua jenis system pengeringan sagu:
A. Pengeringan Alami.
Pengeringan sagu dengan menggunakan sinarmatahari , prosesnya sederhana sekali,
sagu di jemur ditempat terbuka dibawahpanas sinar matahari, biasanya lama
penjemuran sampai sagu kering 48 jamatau 2 hari. Kelemahan dari pengeringan
alami ini adalah jika hari hujan,proses penjemuran tidak bisa dilakukan
B. Pengeringan dengan menggunakan steam (Uap). Sistim ini semi moderen,karena
sudah menggunakan sedikit sentuhan teknologi, Steam (Uap) diperolehdari proses
pembakaaran kulit sagu (Uyung) uap panasnya digunakan untukproses penjemuran
sagu. Proses pengeringan ini akan berlangsung terusmenerus tanpa kendala hari
hujan ataupun udara lembab. Tempat penjemuranini dibuat dari cor batu-bata yang
berukuran 20 x 8 meter.
2.7. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Produksi Sagu serta Pemeliharaan
Pada Tanaman Sagu
A. Jarak Tanam
Tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal harus memiliki
jarak antar tanaman yang jelas. Jarak tanaman menentukan populasi tanaman dalam
suatu luasan tertentu, sehingga pengaturan yang baik dapat mengurasi kompetisi
terhadap faktor tumbuh tanaman sagu. Pengaturan jarak tanam dapat menekan
kompetisi antara tanaman budidaya itu sendiri maupun tumbuhan gulma.
Penanaman sagu di perkebunan dikenal dengan sistem blok. Jarak tanam pada
sistem blok bervariasi antara 8-10 meter, sehingga satu hektare hanya menampung
150 tanaman. Jarak Tanman 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m di gunakan pada kebun yang
7

menanam dengan cara monokultur. Jika jarak tanaman 10 m x 10 m dalam bentuk


segi empat, maka populasi awalnya 100 tanaman/ha, tetapi jika jarak tanamnya
bentuk segi tiga sama sisi maka populasinya 136 tanaman/ha. Dan apabila tanaman
sagu di tumpangsarikan dengan tanaman lain maka dapat digunakan jarak tanam 10
m x 15 m. selain itu pada jarak tanam10 m x 15 m juga dimaksudkan
mengoptimalkan ruang dalam pengaturan anakan sagu dan pemanfaatan cahaya
B. Pengendalian Gulma
Definisi gulma merupakan tumbuhan liar yang tidak diharapkan kehadirannya
dan dapat mengganggu tanaman pokok. Pengendalian gulma di perkebunan sagu
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sagu. Gulma akan
menyebabkan tanaman utama terhambat pertumbuhan dan perkembangannya
terutama jika gulma telah ada pada fase kritis tanaman sagu (Amarillis, 2009).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual atau kimia, yaitu
dengan menggunakan herbisida. Pengendalian dilakukan di sekitar piringan tanaman
sagu dan pada lorong. Pengendalian gulma juga bertujuan memudahkan dalam
operasional kebun. Pengendalian gulma pada piringan akan mengefisienkan pupuk
yang diberikan dan menghindari hama penyakit.
C. Hama dan Penyakit Tanaman Sagu
Hama yang dominan menyerang tanaman sagu adalah kumbang Oryctes
rhinoceros L, kumbang Rynchoporus sp., dan Artona spp. Pengendaliannya dapat
secara mekanis, kimiawi dan biologis. Secara mekanis dilakukan dengan menebang
pohon sagu yang terserang lalu dibakar. Secara kimiawi menggunakan insektisida
seperti Heptachlor 10 gr, Diazine 10 gr, BHC dan lain-lain. Sedangkan secara
biologis dilakukan dengan menyebarkan serangga musuh alami dari serangga
perusak tanaman sagu. Penyakit yang menyerang adalah bercak daun yang
disebabkan oleh cendawan Cercospora. Pemberantasan terhadap penyakit ini dapat
dilakukan dengan fungisida atau dengan sanitasi lingkungan.
D. Pemupukan
Dalam meningkatkan potensi tanaman terutama dalam meningkatkan
produktivitas maka perlu masukan nutrisi untuk tanaman agar dapat tumbuh dan
berkembang lebih baik. Pemupukan merupakan tindakan budidaya yang penting
sebagai upaya menyediakan unsure hara tanaman untuk menigkatkan produktivitas
tanaman sagu.
Pupuk adalah bahan organic maupun bahan anorganik yang diberikan pada
tanah untuk mengganti unsure hara yang hilang dari dalam tanah dan berfungsi untuk
meningkatkan produktivitas tanaman. Tidak lengkapnya unsure hara makro dan
8

mikro di dalam tanah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman


sagu. Pada tanaman sagu rakyat tidak pernah dilakukan pemupukan. Tanaman sagu
akan tumbuh dengan baik apabila hara di dalam tanah tersedia cukup. Menurut Flach
dalam Bintoro (2008), apabila dalam 1 ha dipanen 136 batang sagu maka hara yang
terangkut panen sebanyak 100 kg N, 70 kg P2O5, 240 kg K2O dan 80 kg MgO serta
berbagai unsur mikro. Oleh karena itu pemupukan sangat perlu dilakukan agar unsur
hara yang dibutuhkan tanaman sagu tersedia sehingga produksi yang tinggi akan
tercapai. Menurut Bintoro (2008), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemupukan
adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan sebelum mengadakan pemupukan, perencanaan menyangkut
kondisi dan waktu yang tepat dalam pemupukan seperti tersedianya pupuk,
tenaga kerja, cuaca dan alat pengangkut pupuk.
2) Menghindari tercecernya pupuk di sepanjang jalan atau areal penanaman.
3) Penempatan pupuk yang tepat dan sesuai dengan dosis anjuran.
4) Tidak mengenai pelepah daun dan lingkaran piringan tanaman sagu harus
bersih dari gulma dan sampah.
5) Dalam pelaksanaan pemupukan di lapangan unsur makro ditanam
disekeliling tanaman dengan sistem empat penjuru (membuat tugal atau
lobang tanam).
6) Unsur mikro ditabur di seputar lingkaran tanaman yang sudah bersih dengan
kriteria tidak terlalu dekat dengan batang tanaman (kurang lebih 50 cm dari
rumpun tanaman).
E. Penjarangan Anakan
Setelah sagu tumbuh subur, biasanya di sekeliling bokoran akan muncul tunastunas yang lama-kelamaan berkembang menjadi anakan sagu. Pertumbuhan anakan
sagu tersebut selain akan menyebabkan tegakan tanaman semakin rapat yang dapat
menyulitkan pemeliharaan dan pemanenan, juga akan menjadi saingan bagi pohon
induk untuk mendapatkan unsur hara dari tanah maupun cahaya matahari. Persaingan
tersebut dapat menyebabkan kandungan aci dalam batang sagu berkurang dan
menghambat pertumbuhan batang utama. Dengan demikian produktivitas akan
menurun. Oleh karena itu harus dilakukan penjarangan anakan atau pemangkasan
anakan. Menurut Bintoro (2008) agar tanaman sagu dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik, maka dalam satu rumpun maksimal terdapat 10 tanaman dengan
berbagai tingkat umur. Dalam 1-2 tahun hanya diperbolehkan satu anakan sagu yang
boleh tumbuh. Dengan demikian dalam 1-2 tahun akan panen 1 pohon sagu. Menurut
Tong dalam Haryanto (1992) penjarangan tegakan pohon dalam kebun-kebun sagu
9

idealnya sekali dalam setahun. Jumlah pohon yang disisakan atau dibiarkan tumbuh
dalam satu rumpun tergantung dari jenis dan spesies sagu dan tingkat
pertumbuhannya.

2.8 EkstraksiPati Sagu

Ekstraksi pati sagu merupakan proses pengolahan terhadap empulur batang pohon
sagu (Metroxylon sp.) untuk mendapatkan pati yang terkandung di dalamnya. Prinsip
ekstraksi pati sagu terdiri dari pembersihan gelondongan atau batang sagu yang sudah
ditebang dari kulit serat yang kasar setebal 2 4 cm, pembelahan gelondongan menjadi
beberapa bagian dengan panjang 40 70 cm. Setelah itu dilakukan pemarutan dan
pemisahan pati sagu dari sabut serta pengeringan pati sagu.
Secara garis besar ekstraksi pati sagu dibagi menjadi dua, yaitu cara tradisional dan
cara mekanis (pabrikasi) seperti yang dilakukan di Malaysia. Proses secara tradisional
umumnya dilakukan di Indonesia,
Metode 1 yang berada di Indonesia

Metode 2

10

11

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Karakteristik Petani Tanaman Sagu di Maluku
- Umur dan Tingkat Pendidikan
Masyarakat petani pengelola sagu, maka diketahui bahwa mereka ini bukan
merupakan penduduk asli Desa Hitu, tetapi dominan mereka ini merupakan
masyarakat pendatang dari pulau Sulawesi (Buton) hanya telah menetap
berpuluh-puluh tahun di Dusun Waipaliti. Pekerjaan sebagai pengelola sagu ini
telah dilakukan selama puluhan tahun secara turun temurun sebagai warisan
orangtua mereka. Petani pengelola sagu yang ada di Dusun Waipaliti ini
berjumlah 11 KK, dengan tingkat umur dan pendidikan yang berbeda-beda.
Tabel 1. Karakteristik Petani Pengelola Sagu Berdasarkan Tingkat Umur dan
Pendidikan

Berdasarkan hasil persentase karakteristik petani pengelola sagu berdasarkan


tingkat umur dan pendidikan maka diperoleh bahwa yang mempunyai tingkat
pendidikan paling rendah SD, menempati persentase terbesar yaitu 63.64%
dengan jumlah KK sebanyak 7 KK, sedangkan untuk tingkat pendidikan SMP
hanya 4 KK dengan persentasenya hanya 36.36%. Hal ini menunjukkan bahwa
umumnya petani pengelola sagu mempunyai tingkat pendidikannya rendah, itu
berarti pengetahuan mereka juga sangat minim, sehingga hal ini berdampak pada
12

tingkat kehidupan mereka yang semuanya masih di bawah rata-rata. Dan umur
petani sagu yang berkisar antara 32- 63 tahun, menunjukkan bahwa ternyata ada
diantara petani ini yang bukan lagi merupakan usia produktif karena sudah
berusia >48 tahun dan ini akan berpengaruh untuk aktivitas dan kinerja kerja,
akan tetapi kenyataan yang terlihat di lapangan bahwa justru petani yang usianya
> 48 tahun, seperti : 50, 51 dan 63 tahun, justru mereka ini yang mempunyai
semangat kerja yang tinggi, dibandingkan dengan yang masih muda.
3.2. Teknik Pengelolaan Sagu di Maluku
Umumnya tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh pada cara dan pola
hidupnya, hal ini juga yang terjadi pada masyarakat petani pengelola sagu Dusun
Waipaliti, dimana dengan tingkat pendidikan yang di bawah rata-rata memberi
dampak pada cara mereka melakukan pekerjaan pengelolaan sagu. Kenyataan inilah
yang terlihat di lapangan yaitu pada cara dan teknik petani mengelola sagunya,
dimana ratarata teknik pengelolaan sagu yang dilakukan masih bersifat tradisional
sampai semi mekanis. Petani pengelola sagu di dusun Waipaliti ini, dalammelakukan
pengolahan sagu masih menggunakanalat-alat tradisional, walaupun beberapa di
antaramereka juga sudah menggunakan yang semimekanis, seperti :

a. Penebangan, masih menggunakan parang dan kapak tetapi ada juga yang sudah
memakai chain saw.

13

b. Penghancuran empulur, dikenal dengan nani sagu yaitu proses melepaskan


empulur dari kulit batang, sudah menggunakan mesin parut dan ayakan. Ekstraksi
pati, dilakukan dalam keadaan basah dikenal dengan nama ramas sagu, dimana
hancuran empulur diletakan pada pangkal pelepah yang disebut sahani,
biasanya dipakai pangkal pelepah sagu dan telah dipasang runut, biasanya
dipakai seludang kelapa atau juga kain sifon. Untuk pengambilan airnya juga ada
yang masih menggunakan timba tetapi ada juga yang sudah menggunakan pompa
air
c. Penampungan dan Pengendapan Pati, biasanya pada tempat yang disebut
tawear atau goti, biasanya dibuat pada belahan batang sagu tetapi petani
dusun Waipaliti sudah menggunakan tempat penampungan yang dibuat dari
papan dengan menggunakan plastik terpal untuk mempermudah penampungan
patinya.
d. Pengemasan Pati Basah, dilakukan dalam keranjang yang dibuat dari daun sagu
disebut tumang. Dari gambaran teknik pengelolaan sagu yang dilakukan petani
dusun Waipaliti di atas, menunjukkan bahwa umumnya petani masih melakukan
proses

pengolahan

secara

tradisional

sampai

semi

mekanis,

sehingga

perbedaannya hanya pada alat-alat yang digunakan adalah alat-alat bermesin.


3.3. Status Kepemilikan Lahan Tanaman Sagu di Maluku
Lahan sagu yang berada pada daerah mempunyai status kepemilikan lahan
bukan milik negeri/desa tetapi merupakan milik perorangan atau personal, atau
keluarga, atau dikenal sebagai milik dati. Sehingga untuk luas lahan sagu itu sendiri,
rata-rata petani pengelola sagu dusun Waipaliti tidak mengetahuinya secara pasti,
sebab status kepemilikan lahannya tersebut adalah milik personal atau milik
14

keluarga. Dan rata-rata dari semua petani pengelola sagu dusun Waipatili ini tidak
memiliki lahan sagu. Lahan sagu yang ada adalah milik masyarakat Hitu yang
merupakan pemilik tanah pada dusun Waipatili.
Walaupun demikian, dalam hal pengelolaan sagu ini harus sesuai dengan
ketentuan atau aturan-aturan yang telah disepakati bersama, baik itu untuk
penebangan sagu, pengambilan bahan (atap, gaba-gaba) maupun dalam hal
pemanfaatan lahan sagu. Sehingga biasanya untuk memanfaatkan sagu maka pohon
sagu tersebut harus dibeli oleh petani pengelola sagu, atau bisanya juga terjadi sistem
bagi hasil, dimana pohon sagunya bisa diolah oleh petani tetapi dengan ketentuan
bagi hasil dengan pemilik pohon sagu, sehingga kedua belah pihak saling
menguntungkan.
3.4. Keragaman Tanaman Sagu di Maluku
A. Jenis Tanaman Sagu di Maluku
1. Sagu Molat (Metroxylon Sagus)
Molat putih : pelepahnya licin, bersih, tidak terdapat garis-garis berwarna
coklat kemerahan. Molat merah

: pada pelepahnya terdapat garis lebar

berwarna coklat kemerahan kekelabuan. Molat berduri : pada tingkat semaian


terdapat duri-duri halus dan pada akhir tingkat semaian duri-durinya hilang.
2. Sagu Tuni (Metroxylon Rumphi)
Tinggi batangnya 10-15 m
Kulit pada bagian pangkal batang lebih keras
Daunnya berwarna hijau tua, dan panjang pelepah daun sekitar 5-7

cm.
Empelurnya lunak dan sedikit mengandung serat sehingga mudah di

tokok.
Kadar empelurnys menapai sekitar 82% dari berat batang
Patinya/ tepung sagu berwarna putih.Setiap pohon

dapat

menghasilkan 300-500 kg tepung sagu basah.

3. Sagu Ihur (Metroxylon Sylvester)


Pohon relative lebuh tinggi dari jenis lain, yaitu sekitr 12-16 m Tangkai daun
sekitar 4-6 m. Daunnya berwarna hijau tua,mempunyai tulang daun yang
lunak dan ujungnya membengkok ke bawah. Di sekitar pelapah daun terdapat
duri-duri panjangnya 1-5 cm. Empelurnya agak keras, mengandung banyak
serat dan berwarna kemerah-merahan Setiap pohon dapat menghasilkan
sekitar 300-600 kg pati/tepung sagu basah.
15

4. Sagu Makaranu (Metroxylon Gispinum)


Sagu ini dikenal sebagai lapia makanaru atau Sagu merah, karena tepung
sagunya kemerah-merahan. Tinggi batangnya sekitar 12-15 m. Tangkai
daunnya pendek, yaitu sekitar 4-6 cm dan banyak duri. Anakan daun kecilkecil, panjang sekitr 80-120 cm dan pada pinggiran daunnya penuh duri.
Setiap pohon dapat menghasilkan 200-250 kg tepung sagu basah.
5. Sagu Duri Rotan (Metroxylon Micracanthun)
Sagu duri rotan karena daunnya penuh dengan duri yang agak pendek. Tinggi
batangnya sekitar 8 m. Empelurnya tidak cepat mengalami proses
pengasaman sehingga tidak cepat busuk setelah dipanen.Setiap pohon dapat
menghasilkan 100 kg tepung sagu basah.

B. Fase Pertumbuhan Sagu di Maluku


Fase pertumbuhan sagu dinilai berdasarkan Kriteria Fase Pertumbuhan Sagu
yaitu semai, sapihan, tiang, pohon, masak tebang (MT) dan lewat masak tebang
(LMT). Pengamatan fase pertumbuhan sagu ini dilakukan secara keseluruhan
dengan melihat beberapa sampel pohon yang diambil secara acak pada lokasi
penelitian. Adapun uraian fase pertumbuhan sagu sebagai berikut:
1) Fase Semaian (seedling);
Merupakan suatu fase dimana terjadi perkecambahan sampai pembentukan
daun dewasa pertama dan pembentukan bongkol sebagai pangkal
pembentukan akar dan batang, dan masih menempel di pohon induk.
2) Fase Sapihan (sapling);
Mulai pembentukan batang dan perkembangan perakaran sampai tinggi
batang bebas daun 1,5 m.
3) Tiang (pole);
Merupakan fase pertumbuhan dengan tinggi batang bebas daun 1,5 5 m.
4) Pohon (tree);
Fase pertumbuhan dengan tinggi batang bebas daun > 5 m
5) Kematangan Produktif/Masak Tebang (MT)
6) Maputi masa; pembengkakan pada pucuk tumbuh (sagu bunting)
sampai jantung mulai keluar
7) Sirih buah; kuncup bunga mulai mekar, bercabang seperti tanduk rusa
dan bunga kelihatan seperti buah siri.
8) Kematangan Tidak Produktif/Lewat masak tebang;
9) Fase pertumbuhan dimana pohon sagu sudah berbuah sampai pohon mati.
C. Asosiasi Vegetasi Tanaman Sagu
16

Asosiasi vegetasi merupakan vegetasi lain yang ada di sekitar tanaman sagu.
Pada dimaluku diperoleh adanya beberapavegetasi, antara lain : kakao
(Theobromacacao), pisang (Musa paradisiaca), langsat(Lansium domesticum),
durian

(Durio

zibetinus),

manggustan

hutan

(Garcinia

sp),

pandan

tikar(Pandannus militaris), cengkeh (Eugenia aromatica), bambu (Bambusa


glaucescens), siripopar (Piper miricatum), keladi hutan (Colocasia sp), pakupakuan (Pteridophyta), daun sapu, sungga-sungga, pandan air (Thorahoskachium
bancanum) dan pandan duri (Pandanusoffine), biroro, dan putri malu (Mimosa
pudica).

3.5. Manfaat Tanaman Sagu di Maluku

Selain manfaat ekonomi sagu yang cukup memberikan pendapatan lebih bagi
petani, manfaat sagu lainnya yang didapat oleh masyarakat cukup banyak, terutama
bagi masyarakat petani pengelola sagu. Sagu selain dari hasil olahan produksi
patinya yang dijual, tetapi sagu juga dimanfaatkan oleh keluarga petani sebagai
bahan pangan keluarga, selain itu juga sagu dibuat berbagai bentuk penganan
(makanan) baik untuk dikonsumsi dan juga untuk dijual.
Manfaat sagu juga bukan hanya sebatas sebagai bahan pangan saja, tetapi
dengan tanaman sagu masyarakat juga, dilindungi dari bahaya banjir terutama
masyarakat yang ada di sekitar daerah sungai, sebab lahan sagu merupakan daerah
17

penyangga bagi banjir. Di lain sisi juga, masyarakat memanfaatkan bagian lain dari
tanaman sagu untuk dijadikan bahan bangunan seperti : daun sagu dijadikan atap,
pelepah sagu (gaba-gaba) dijadikan untuk pembuatan dinding rumah, untuk tempat
duduk (degu-degu), sebagai rakit untuk mainan anak dan sebagainya.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu jenis tanam pangan non biji yang
telah cukup banyak dikenal oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan yang memiliki
sedikit sawah. Beberapa daerah di Maluku telah mengkonsumsi sagu sebagai makanan
pokok. Tanaman sagu banyak terdapat di Indonesia terutama Maluku, Papua dan
Kalimantan. Kalimantan Barat sagu belum dimanfaatkan dengan baik dan optimal oleh
masyaraka
Umumnya petani pengelola sagu di Dusun Waipaliti Desa Hitu, adalah petani dengan
usia produktif dengan persentase terbesar yaitu 97,5 % dan memiliki tingkat pendidikan
di bawah rata-rata, hanya sampai sekolah tingkat menengah pertama.
Proses pengelolaan sagu yang dilakukan masih secara tradisional sampai semi
mekanis, terbukti dari alat-alat yang digunakan dalam pengolahan sagunya.
Keragaman sagu yang ada di Dusun Waipaliti Desa Hitu Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah, penyebarannya cukup beragam dimana ada 3 (tiga) jenis
sagu yang ditemukan yaitu : Sagu Molat (M. sagus Rotb), Sagu Tuni (M. rumphii Mart)

18

dan Sagu Ihur (M. sylvester Mart). Jenis sagu yang dominan dan yang banyak digunakan
oleh petani adalah jenis sagu Tuni dan Sagu Ihur.
Selain manfaat sagu sebagai bahan pangan keluarga, sagu juga dapat memberikan
manfaat lebih bagi masyarakat Dusun Waipaliti Desa Hitu, terutama bagi masyarakat
petani pengolah sagu.

DAFTAR PUSTAKA
-

Sagu.wikipedia.com
hhtp://racmatullah.blogspot.co.id/2011/12/tinjauan-pustaka-tanaman-sagu.html?m=1
hhtp://rizalm09.student.ipb.ac.id/2012/03/29/paper-sagu
http://inspirasiuncak.blogspot.co.id/

19

LAMPIRAN
Sagu Molat

Sagu Lhur

Sagu Duri Rotan

20

Sagu Makaranu

Sagu Tuni

21

22