Anda di halaman 1dari 10

1. Latar Belakang Kasus Marsinah.

Marsinah dibunuh karena menolak PHK yg dilakukan perusahaan PT.CPS sebanyak


13 Orang.
Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No.
50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan
karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan
tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh karyawan, namun di sisi
pengusaha berarti tambahannya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan
April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat
Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk
rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp
2250.
2. Kasus PDidalam Posisi kasus yang sudah ada di atas, adapun kasus tersebut masuk
dalam katagori pelanggaran ham Berat karena di dalam perincian mengenai posisi
kasus diatas terdapat salah satu unsure yang memuat mengenai unsure-unsur
pelanggaran HAM Berat yakni Pasal 9 UU No 26 Tahun 2000 ( Unsure Kejahatan
Kemanusiaan ), dan juga mengandung unsure pelanggaran hak asasi manusia
mengenai hak hidup sebagaimana yang tercantumkan dalam ICCPR. Pasal 9 UU No
26 Tahun 2000, dalam pasal ini menyebutkan bahwa:
Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan
sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa
serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa:
a. Pembunuhan;
b. Pemusnahan;
c. Perbudakan;
d. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
e. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum
internasional;
f. Penyiksaan;
g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan
kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk
kekerasan seksual lain yang setara,
h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang
didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis
kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang
dilarang menurut hukum internasional;

i. Penghilangan orang secara paksa;


j. Kejahatan apartheid.
Adapun Mekanisme yang harus di ambil dalam penyelesaian kasus ini yakni
mekanisme yang mengarah kepada departemen apa yang berhak untuk melakukan
proses penyelesaian kasus ini. Departemennya yakni Komnas HAM dan jaksa agung
sebagai departemen tertinggi dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM Berat.
Adapun peruses yang akan dilakukan oleh Komnas HAM dan juga jaksa agung
sendiri yakni sebagai berikut :
a. Tahap Penyelidikan ( Komnas HAM )
b. Tahap Penyidikan ( Jaksa Agung )
c. Tahap Penuntutan ( Jaksa Agung )
d. Pemeriksaan Di Pengadilan HAMelanggaran HAM apa yang terjadi pada
Marsinah.?
3. Upaya pemerintah menyelesaikan kasus marsinah.
1. Dengan menetapkan undang-undang HAM (UU No.39 tahun 1999)
2. Dengan menghukum berat pelaku pelanggaran HAM
3. Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat bahwa HAM tidak boleh di langgar

PERISTIWA TANJUNG PRIOK


Peristiwa Tanjung Priok adalah peristiwa kerusuhan yang terjadi pada 12 September
1984 di Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia yang mengakibatkan sejumlah korban tewas
dan luka-luka serta sejumlah gedung rusak terbakar. Sekelompok massa melakukan
defile sambil merusak sejumlah gedung dan akhirnya bentrok dengan aparat yang
kemudian menembaki mereka. [1][2] Setidaknya 9 orang tewas terbakar dalam
kerusuhan tersebut dan 24 orang tewas oleh tindakan aparat.[3] Pada tahun 1985,
sejumlah orang yang terlibat dalam defile tersebut diadili dengan tuduhan melakukan
tindakan subversif, lalu pada tahun 2004 sejumlah aparat militer diadili dengan tuduhan
pelanggaran hak asasi manusia pada peristiwa tersebut.[4]

Peristiwa ini berlangsung dengan latar belakang dorongan pemerintah Orde Baru waktu
itu agar semua organisasi masyarakat menggunakan asas tunggal Pancasila . Penyebab
dari peristiwa ini adalah tindakan perampasan brosur yang mengkritik pemerintah di
salah satu mesjid di kawasan Tanjung Priok dan penyerangan oleh massa kepada aparat.
Dalam menangani kasus Tanjung Priok 1984 tidak semudah seperti menangani kasus
pelanggaran biasanya, karena kasus Tanjung Priok ini termasuk ke dalam kasus
pelanggaran HAM berat. Seperti yang tertera dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun
1999 Bab IX tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia pasal 104[18], yakni:
(1) Untuk mengadili pelanggaran hak asasi manusia yang berat dibentuk Pengadilan
Hak Asasi Manusia di lingkungan Peradilan Umum
(2) Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk dengan undangundang dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun
(3) Sebelum terbentuk Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2), maka kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diadili oleh pengadilan yang berwenang
Adapun penanganan terhadap kasus Tanjung Priok ini, secara rinci dapat kami
sampaikan melalui tabel di bawah ini[21]:
Tanggal
Kegiatan
27 Agustus 1999

Press release KPKP (Koalisi Pembela Kasus Priok: Kontras, YLBHI,


API, LBH Jakarta dan ALPERUDI) mendesak pemerintah untuk:
Mendesak PUSPOM untuk memanggil Soeharto dan LB Moerdani, Try
Sutrisno dan pentinggi-petinggi mliter yang terlibat secara langsung
kasus Tanjung Priok 12 September 1984 sebagai langkah awal
pertanggungjawabannya

3 Mei 2000
Juni 2000
11 Juli 2000

14 Oktober 2000
24 Januari-19
Februari 2001
Juli 2002

Memperlihatkan secara serius dan mengadili seluruh pihak


yang terlibat dalam rangkaian pelanggaran hukum dan
HAM atas kasus Priok mulai dari penembakan masal,
pembantaian, penangkapan sewenang-wenang, pneyiksaan,
intimidasi dan penghilangan orang baik sipil dan militer
KPP HAM memeriksa Try Soetrisno dan LB Moerdani
Komnas HAM menyerahkan hasil KPP HAM Priok kepada
Kejaksaan Agung
Berkas Komisi Penyelidik dan Pemeriksa Pelanggaran
HAM Tanjung Priok (KP3T) dipulangkan Kejaksaan Agung
ke Komnas HAM untuk dilengkapi kekurangannya
Hasil penyelidikan diserahkan ke kejaksaan Agung untuk
kedua kalinya
Pemeriksaan beberapa saksi korban dan keluarga di Kejaksaan Agung

MA Rahman dalam sebuah pertemuan dengan DPR RI


menjelaskan bahwa Kejaksaan Agung telah menetapkan 12

14 September
2003

tersangka
Pembacaan dakwaan terhadap Sutrisno Mascung CS di
Pengadilan HAM Jakarta Pusat. Komandan regu III daroi
Yon Arhanudse beserta 11 anak buahnya tersebut didakwa
melakukan pelanggaran HAM yang berat meliputi
pembunuhan, percobaan pembunuhan dan penganiayaan

23 September
2003

Di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pranowo didakwa oleh jaksa telah


melakukan pelanggaran HAM berat berupa perampasan kemerdekaan
dan penyiksaan

30 September
2003

Dakwaan RA butar Butar dibacakan oleh Jaksa di


pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Komandan Kodim tersebut
didakwa melakukan pelanggaran HAM berat berupa
pembunuhan, penganiayaan dan perampasan kemerdekaan
secara sewenang-wenang terhadap penduduk sipil
Sriyanto (Pasiop Kodim 0502) diajukan ke persidangan
dengan dakwaan telah melakukan pelanggaran HAM berat
meliputi: pembunuhan, percobaan pembunuhan dan
penganiayaan

23 Oktober 2003

31 Maret 2004
30 April 2004

RA Butar Butar di tuntutan 10 tahun penjara

3 Juli 2004
8 Juli 2004
9 Juli 2004
10 Agustus 2004
12 Agustus 2004
29 September
2005
13 Januari 2006
28 Februari 2006
6 Maret 2006

Pranowo dituntut 5 tahun penjara

RA Butar Butar divonis 10 tahun penjara dan wajib


memberikan kompensasi, restitusi dan rehabilitasi terhadap
korban
Sriyanto dituntut 10 tahun penjara
Sutrisno Mascung CS dituntut 10 tahun penjara
Pranowo diputus bebas oleh Pengadilan Negeri
Sriyanto diputus bebas oleh Pengadilan Negeri
Sriyanto dibebaskan oleh hakim Agung ditingkat Kasasi [22]
Mahkamah Agung membebaskan Pranowo ditingkat kasasi.
Sutrisno Mascung CS dibebaskan pada tingkat kasasi

Kontras mengadu ke Komisi Yudisial[23]

Kasus Tanjung Priok 1984 ini termasuk ke dalam kasus pelanggaran HAM yang
bersifat berat. Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 pasal 7 disebutkan
bahwa[27], pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi:
1.
Kejahatan Genosida
2.
Kejahatan terhadap kemanusiaan
Namun kelemahan dari pasal ini adalah tidak adanya ketentuan tentang penyiksaan
(torture) yang diatur secara mandiri. Sesuai dengan ketentuan hukum internasional,
penyiksaan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat HAM sekalipun hal itu tidak
merupakan bagian dari serangan yang meluas dan sistematik terhadap penduduk
sipil[28].

Adapun dalam laporannya Tim Tindak Lanjut Hasil KP3T menyatakan bahwa
pelanggaran hak asasi manusia yang berat dalam peristiwa Tanjung Priok antara
lain[29], berupa:
1.
Pembunuhan kilat (summary killing).
Tindakan pembunuhan kilat (summary killing) ini terjadi depan Mapolres Jakarta Utara
akibat penggunaan kekerasan yang berlebihan yang dilakukan oleh satu regu dibawah
pimpinan Sutrisno Mascung dkk. Para anggota pasukan ini masing-masing membawa
peluru tajam 5-10. Akibat tindakan ini telah mengakibatkan 24 orang tewas, 54 luka
berat dan ringan.
2.
Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang (unlawful arrest and detention).
Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang dilakukan aparat TNI setelah terjadinya
peristiwa Tanjung Priok yang dilakukan terhadap orang-orang yang dicurigai
mempunyai hubungan dengan peristiwa Tanjung Priok. Semua korban berjumlah 160
orang yang ditangkap tidak sesuai prosedur dan tanpa surat perintah. Para korban
ditahan di Laksusda Jaya Kramat V, Mapomdam Guntur dan Rumah Tahanan Militer
Cimanggis.
3.
Penyiksaan (torture)
Semua korban yang ditahan di Laksusda Jaya, Mapomdam Guntur dan Rumah Tahanan
Militer Cimanggis mengalami penyiksaan, intimidasi dan teror dari aparat.
4. Penghilangan orang secara paksa (enforced or involuntary disappearance)

Kasus dimas
1. Kasus pembunuhan para senior atas mahasiswa yunior kembali

terulang. Seorang mahasiswa semester satu Sekolah Tinggi Ilmu


Pelayaran (STIP) Jakarta, Dimas Dikita Handoko, tewas karena
dianiaya para seniornya. Motif penganiayaan diduga karena Dimas
dianggap tidak respek terhadap para seniornya.
motif penganiayaan terhadap Dimas yakni pembinaan yang
dilakukan taruna senior kepada taruna yunior,
2. Dampak peristiwa ini bisa dianggap pendidikan kedinasan STIP ini tidak mampu
mengelola pendidikan. Karena pendidikan itu bukan ajang balas dendam, namun ada
etikanya yang harus dijunjung tinggi. Kalau tidak beretika dunia kampus bisa hancur.
Seperti ketika ada Ospek, tetap kami pantau agar tidak ada balas dendam. Tapi untuk
meningkatkan disiplin mahasiswa, dosennya harus terjun ke lapangan,
3. Dimas lahir dan besar di kota pelabuhan Belawan. Laut melekat erat dalam hidup dan
hatinya. Laut telah memesona dan memengaruhinya. Hidupnya bersama laut. Laut adalah
tantangan masa depannya. Inilah orientasi anak laut seperti Dimas.

Ia tinggalkan keluarga tercinta. Pergi ke tempat yang jauh. Kota pelabuhan Tanjung Priuk
untuk menggapai cita-citanya menjadi anak laut. Anak yang dengan gagah berani mau arungi
laut, harapan dan masa depannya. Ia menjadi taruna di STIP.
Semuanya kandas. Dimas tewas. Dihabisi dengan keji oleh para bajingan berkedok
senioritas. Bajingan pengecut yang hanya berani pada junior, main keroyokan lag. Sungguh
menjijikkan.
Atas nama pendisiplinan dan pembinaan, para senior bajingan itu membantai dengan keji
anak baik dari seberang lautan itu. Pecahnya pembuluh darah otak dan cedera di banyak
bagian tubuh adalah tanda tak terbantahkan bahwa Dimas dibantai dengan keji dan biadab.
Mestinya polisi tidak sekadar memberi pasal dengan hukuman ringan, hanya 9 tahun penjara.
Ada unsur kesengajaan dan perencanaan di situ. Para senior bajingan itu memang sengaja
mau membantai. Bahwa Dimas dan kawan-kawan dibawa ke suatu tempat, bahwa ditemukan
sejumlah obat yang disediakan untuk menyadarkan orang yang pingsan adalah indikator kuat
tindakan biadab ini direncanakan. Ini penganiayaan yang sangat disengaja.
Peristiwa tragis ini menjadi semakin memuakkan dan menjijikkan karena pihak STIP sama
sekali merasa tidak bertanggungjawab karena kejadian berada jauh dari STIP. Ini sungguh
pernyataan yang ngawur dan tak berempati.
Pertanyaannya adalah mengapa senior bisa berbuat seenaknya pada junior? Mengapa di
lembaga pendidikan tinggi lain tidak terjadi hal seperti itu? Itu artinya memang ada yang keliru
di sekolah tinggi itu.
Keberanian para senior mengambil tindakan sampai menewaskan juniornya pastilah berakar
pada tradisi yang memang sudah terbentuk. Minimal ada pembiaran di situ. Karena itu harus
ada penyidikan mendalam terhadap STIP. Sama dengan kasus kekerasan seksual di JIS.
Penyidikan jangan berhenti pada pelaku langsung. Mengapa para oknum itu berani
melakukan kekerasan, dan itu dilakukan berulang-ulang, baru ketahuan setelah ada korban,
mengindikasikan ada kesalahn fatal dalam tatakelola. Artinya para pimpinan lembaga
bersangkutan harus bertanggung jawab dan dihukum.
Masyarakat juga harus diberitahu bahwa hanya orang gila yang percaya bahwa pendidikan
akan menghasilkan lulusan yang baik menggunakan kekerasan. Hanya orang-orang sakit
jiwa yang mendidik dengan kekerasan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang
lebih akut.
Dunia kerja tidak membutuhkan para lulusan yang dididik dengan kekerasan, apapun bidang

pekerjaannya. Kebugaran tubuh, disiplin tinggi, dan keuletan yang dibutuhkan manusia untuk
hidup layak dan sukses tidak bisa dibiasakan dengan kekerasan. Semuanya bisa
ditumbuhkembangkan dengan sikap tegas, keteladanan dan konsistensi. Sikap tegas sangat
berbeda dengan kekerasan. Sikap tegas adalah kesetiaan pada aturan dan secara konsisten
melaksanakannya. Sedangkan kekerasan adalah cara-cara para bajingan yang bermoral
rendah dan pengecut untuk bertahan hidup. Mosok sekolah tinggi membiarkan cara-cara
orang bermoral rendah digunakan, apanya yang tinggi?
Percayalah, tewasnya Dimas adalah puncak gunung es kekerasan yang dipraktikkan para
senior bajingan. Diduga keras pasti ada banyak luka tubuh dan luka jiwa akibat kekerasan
yang selama ini berjalan. Oleh karena itu penyidikan mendalam harus dilakukan terhadap
STIP.
Bukan hanya para orang tua taruna yang berhak meminta diadakannya penyidikan
mendalam. Kita semua, anggota masyarakat berhak memintanya karena STIP adalah
institusi negara. Dibiayai dari uang pajak kita semua.
Kita tak akan lupa bagaimana siklus kekerasan berulang balik di STPDN. Berkali-kali
mahasiswa tewas karena ulah para bajingan berkedok senior, karena sikap tidak tegas
Pemerintah. Kita tidak mau kejadian seperti itu terjadi di semua lembaga pendidikan,
khususnya di STIP.
Kita tak akan pernah biarkan lembaga pendidikan melahirkan anak bangsa yang trauma dan
luka jiwanya karena pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun. Karena
kekerasan hanya akan melahirkan Hitler-hitler kecil. Orang-orang yang akan menularkan
kekerasan pada orang lain. Sebab kekerasan beranak pinak kekerasan. Pendidikan di
jalanan saja anti kekerasan, mosok di sekolah tinggi pake kekerasan.
Para orang tua dan pendidik perlu diingatkan kembali, bahwa dampak kekerasan sangat
buruk bagi anak manusia. Ia bisa tewas secara mengenaskan seperti Dimas. Pun bila si anak
selamat, ada luka dalam sistem otaknya, bisa disebut luka jiwa yang secara sadar atau tidak
akan memengaruhinya secara negatif dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan
sesama.
Penelitian di USA membuktikan semua pelaku kekerasan yang mendapat hukuman berat
adalah orang-orang yang pernah mengalami kekerasan dalam masa tumbuh kembangnya.
Itulah sebabnya dalam pendidikan militer pun ada aturan main yang ketat agar ketegasan
dan kedisiplinan tidak diplesetkan menjadi kekerasan. Karena makin disadari kekerasan
hanya melahirkan manusia dengan luka pada jiwa, yang bisa jadi terbawa sepanjang usia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh meminta


Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran menghentikan penerimaan
mahasiswa baru. Langkah itu perlu diambil guna memotong
mata rantai kekerasan yang kerap terjadi di sekolah tersebut.
"Terapi yang paling bagus, ya potong generasi. Itu jauh lebih
bagus, ketimbang hobi melakukan kekerasan. Yang di
STIP kayak gitu juga," ujar dia, Kamis, 1 Mei 2014. (Baca:Begini
Kronologi Penganiayaan STIP Marunda)

Dimas Dikita Handoko, mahasiswa semester I, STIP, Marunda,


Jakarta Utara, tewas setelah dianiaya delapan seniornya. Di
sekujur tubuhnya, ditemukan luka lebam akibat benturan benda
tumpul. Ini bukanlah kasus yang pertama kali. Kasus serupa
juga pernah dialami Agung B. Gultom, mahasiswa STIP, yang
tewas dianiaya seniornya pada tahun 2008.

Menurut Nuh, praktek kekerasan di STIP merupakan perilaku


yang sudah membudaya sejak lama. "Karena itu sudah
membudaya, maka harus dihentikan. STIP tidak boleh
menerima mahasiswa baru," katanya. "Cara itu juga pernah
dilakukan pemerintah terhadap program studi teknik di

Universitas Negeri Makassar beberapa tahun lalu." (Baca: 8


Terduga Penganiaya Siswa STIP Diperiksa)

Anda mungkin juga menyukai