Anda di halaman 1dari 5

DIAGNOSIS DAN TERAPI II

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI


OBAT SISTEM SARAF OTONOM DAN HISTAMIN
13 SEPTEMBER 2016

KELAS A
KELOMPOK 7

MUHAMMAD
RIMASZALDI

MUTHI TRISA NINDITA

030.15.123

NABILA TARAFUI

030.15.124

NABILA LADYAN FINASISCA

030.15.125

NADA SALSABILA ZULTI

FARHAN
030.15.122

030.15.126

NADHIRA FARAH PUSPITASARI

030.15.127

NAJWA SHUFA HILWA

030.15.128

NALENDRA DIWALA NARAYANA

030.15.129

NANDA LISISINA

030.15.130

NISA SHAFIRA

030.15.141

NITA IRAWAN ANUGERAH PRATAMA

030.15.142

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI

2016
PRAKTIKUM FARMAKOLOGI
SUSUNAN SISTEM OTONOM
( OBAT-OBAT S.S.O )

I.

Bahan dan Obat


-

II.

Cara kerja
-

III.

Kelinci 1 ekor
Penggaris 1 buah
Flashlight 1 buah
Stopwatch 1 buah
Pilocarpin eye drops 1 %
Atropin sulfat eye drop 1 %

Ambil kelinci dan letakkan pada meja praktikum


Ukur diameter pupil kanan dengan penggaris dan flashlight (arahkan dari
samping dan penerangan yang cukup dan tetap) sebelum ditetesi obat
kemudian catat hasil pengukuran
Bawa kelinci pada meja pembimbing untuk diteteskan pilokarpin eye drops
1% pada mata kanan dan catat waktu penetesan obat
Pada 3 menit awal, ukur kembali pupil yang sudah diteteskan obat. Jika tidak
ada perubahan, lakukan penetesan ulang
Kemudian ukur perubahan pupil setiap 3 menit sampai 15 menit dan catat
hasil pengukuran
Setelah pemerikaan terakhir (menit ke 15) bawa kelinci kembali ke meja
pembimbing untuk penetesan Atropin Sulfat 1% pada mata yang sama dan
catat waktu penetesan
Jika pada 3 menit awal belum terjadi perubahan, maka lakukan penetesan
ulang.
Pengukuran kembali pada pupil tiap 3 menit sampai 15 menit dan catat hasil
penguukuran
Setelah percobaan selesai, teteskan kembali 3 tetes Atropin Sulfat pada mata
kanan

Hasil Observasi
-

Pilocarpin eye drops 1%


Atropin Sulfat eye drops 1%

Diteteskan pada pukul 13.38 WIB


Diteteskan pada pukul 13.55 WIB

Pilokarpin 1 %

Atropin Sulfat 1%

Waktu

Diameter pupil

Waktu

Diameter pupil

Sebelum penetesan

8 mm

Sebelum penetesan

6 mm

3 menit

7 mm

3 menit

7 mm

Penetesan ulang : tidak

IV.

Penetesan ulang : tidak

6 menit

7 mm

6 menit

7 mm

9 menit

7 mm

9 menit

7 mm

12 menit

6 mm

12 menit

7 mm

15 menit

6 mm

15 menit

8 mm

Analisis
Dalam pengamatan didapatkan bahwa diameter pupil kelinci sebelum
penetesan Pilokarpin 1% berukuran 8 mm, setelah 3 menit diameter pupil
mengecil menjadi 7 mm. Pada menit ke 6 diameter pupil 7 mm, pada menit ke 9
diameter pupil 7 mm, pada menit ke 12 diameter pupil 6 mm, pada menit ke 15
diameter pupil 6 mm. Dari pengamatan ini membuktikan bahwa dengan
pemberian Pilokarpin 1% menyebabkan miosis pupil. Sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa Pilokarpin merupakan obat golongan kolinergik yang
menyebabkan kontraksi otot sfingter iris(miosis pupil).
Dalam pengamatan didapatkan bahwa diameter pupil kelinci sebelum
penetesan Atropin sulfat 1% berukuran 6 mm, setelah 3 menit diameter pupil
mengecil menjadi 7 mm. Pada menit ke 6 diameter pupil 7 mm, pada menit ke 9
diameter pupil 7 mm, pada menit ke 12 diameter pupil 7 mm, pada menit ke 15
diameter pupil 8 mm. Dari pengamatan ini membuktikan bahwa dengan
pemberian Atropin sulfat 1% menyebabkan midriasis pupil. Sesuai dengan teori
yang menyebutkan bahwa Atropin sulfat merupakan obat golongan anti kolinergik
anti muskarinik yang menyebabkan midriasis pupil.

V.

Kesimpulan
Pilokarpin merupakan obat golongan kolinergik yang menyebabkan kontraksi otot
sfingter iris(miosis pupil). Atropin sulfat merupakan obat golongan anti kolinergik
yang menyebabkan midriasis pupil.

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

HISTAMIN
250
1
4=1 mg= =0,1cc
1000
16

MARMOT )

I.

Bahan dan Obat


-

II.

( DEMONSTRASI

Marmot 2 ekor
Stopwatch 1 buah
Timbangan marmot
Sungkup kaca
Kapas dan alkohol

- Larutan histamin 1:80


- Difenhidramin injeksi
- Adrenalin 1%
- Pompa sepeda
- Nebulizer

Cara Kerja
-

Timbang berat badan masing-masing marmot dan beri tanda pembeda


keduanya
Hitung berapa cc antihistamin (AH1) yang akan diberikan pada marmot

Larutan Difenhidramin yang tersedia 0,1 mg/cc


Dosis proteksi Difenhidramin 0,109 mg/kg BB
-

III.

Suntik salah satu marmot dengan antihistamin intraperitoneal. Beri tanda, lalu
biarkan selama 15 menit dan catat jam penyuntikan
Masukan kedua marmot (yang diberi proteksi antihistamin dan yang tanpa
proteksi) ke dalam sungkup kaca
Perhatikan dan catat sikap kedua marmot seblum disemprot histamin (dalam
keadaan normal)
Semprotkan histamin dengan pompa sepeda melalui nebulizer ke dalam
sungkup kaca. Cata jam penyemprotan histamin dan catat apa yang terjadi
pada kedua marmot.
Marmot tanpa antihistamin akan mengalami bronkokonstriksi (sesak nafas),
sedangkan yang diberi proteksi tidak sesak nafas
Keluarkan marmota yang sesak nafas dari sungkup kaca dan suntik adrenalin
1% untuk menolong pernafasannya. Catat waktu penyuntikan adrenalin dan
catat bagaimana hasilnya

Hssil Observasi
Berat badan marmot 1 (yang diproteksi)
Berat badan marmot 2 (yang tidak diproteksi)

250 gram
250 gram

Perhitungan dosis AH1 yang harus disuntikkan pada marmot

Penyuntikan Antihistamin pada marmot pukul 14.12 WIB secara Intraperitoneal


Penyemprotan Histamin mulai pukul 14.20 WIB
-

Marmot yng di proteksi Antihistamin terjadi Brokokonstriksi / Tidak


Marmot yang tidak diproteksi Antihistamin terjadi Bronkokonstriksi pada
pukul 14.25 ( interval 5 menit setelah penyemprotan Histamin)
Pemberian adrenalin pada pukul 14.27 secara Intraperitoneal
Marmot tertolong atau mati

IV.

Analisis

V.

Kesimpulan