Anda di halaman 1dari 12

Pengolahan Feses Sapi dan Jerami Padi Secara Terpadu Menjadi

Pupuk Organik Cair, Biogas dan Pupuk Organik Padat


Laporan Praktikum Mata Kuliah Pengolahan Limbah Peternakan

Disusun oleh:
FAUZY EKA FERIANTO
200110100018
Kelas A

Laboraturium Manajemen Pengolahan Limbah


Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran
Sumedang
2013

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, dengan meningkatnya populasi manusia, meningkatnya tingkat ekonomi serta
kesadaran akan manfaat komoditi peternakan terhadap kesehatan maka skala usaha peternakan
juga meningkat.

Usaha dalam bidang peternakan mempunyai prospek yang sangat

menguntungkan, namun demikian sebagai bagian dari suatu usaha produksi, tentu saja dalam
usaha ini akan menghasilkan limbah.
Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha
pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan lain-lain. Limbah
yang dihasilkan dari usaha sapi perah terdiri dari limbah sisa pakan, urine sapi dan feses sapi
atau secara umum terbagi menjadi dua yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dari
usaha peternakan sapi perah terutama feses sapi merupakan limbah terbesar yang dihasilkan dari
usaha tersebut.
Limbah ternak sebagian besar merupakan bahan organik yang dapat terurai oleh
mikroorganisme menjadi senyawa sederhana melalui satu proses yang disebut biokonversi.
Karbohidrat, protein, dan lemak dalam persenyawaan kompleks akan terurai menjadi senyawa
sederhana sehingga layak digunakan sebagai pakan ternak ataupun kompos, yang dilakukan
melalui proses biokonversi secara aerobik dan menghasilkan energi berupa gas Meta (gas bio)
pada proses secara aerobik.
Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja karena tuntutan akan lingkungan yang nyaman
tetapi juga karena pengembangan peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan,
sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat di sekitarnya.

1.2 maksud dan tujuan


maksud dari praktikum ini adalah agar mahasiswa memahami prinsip serta prosedur dari pembuatan
pupuk organik cair, biogas dan pupuk organin padat agar bisa mengaplikasikan dimasyarakat .
tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa memahami prinsip,prosedur dan hasil yang baik dari
pembuatan pupuk organik cair,b iogas dan pupuk organik padat.

1.3 Waktu dan Tempat


Waktu
Tempat

: Senen, pukul 10:00-12:00 WIB


: Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah
Fakultas peternakan - Universitas Padjadjaran

II
ALAT , BAHAN dan PROSEDUR

2.1 Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)


2.1.1 Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Wadah atau bak


Bak saringan
Plastik
Karung
Timbangan
Tongkat bambu yang telah diruncingkan
Pisau

2.1.2 Bahan
1.
2.
3.
4.

Dekomposan basah (jerami padi + feses sapi perah)


Dekomposan kering (jerami padi + feses sapi perah)
Air panas
Air bersih

2.1.3 Cara kerja


a. Dekomposisi Awal
1. Hitung perbandingan bahan dengan perhitungan nisbah C/N (30).
2. Hitung air dari masing-masing campuran. Bila kurang dari 50-55% hitung berapa
jumlah air yang harus ditambahkan (1 Kg feses : 0,58 Kg Jerami).
3. Timbang masing-masing bahan sesuai dengan hasil perhitungan diatas. Masukkan ke
dalam bak plastik.
4. Campurkan kedua bahan (feses sapi potong dan jerami) sampai homogen/merata.
5. Tambah air jika kadar air campuran < 50-55%.
6. Susun ke dalam karung plastik yang telah disiapkan (karung sudah diisi bagian
bawahnya dengan potongan jerami kering 2 cm). Fungsi jerami kering adalah untuk
menyerap kelebihan air pada bahan campuran.
7. Padatkan dengan menggunakan tongkat bambu.
8. Pompa oksigen ke dalam susunan bahan campuran dengan tongkat bambu yang sama
selapis demi selapis sampai karung terisi penuh.
9. Setelah penuh, lapisan atas kembali dilapisi dengan jerami kering dengan ketebalan 2
cm. Fungsi jerami kering adalah untuk menyerap bau yang timbul pada proses
dekomposisi awal.
10.Tutup dengan karton tebal selebar diameter karung, untuk mencegah penguapan dan
menahan panas tidak keluar dari tumpukan bagian atas.
11.Untuk menjaga kelembaban, selimuti bagian samping karung dengan kain yang dibasagi
sampai lembab.
12.Tempelkan karung yang sudah diselimuti kain lembab di tempat yang terlindungi dari
sinar matahari dan air hujan.
13.Setiap hari dilakukan pemeriksaan suhu sampai hari ke- 7.

14.Bersamaan dengan pemeriksaan suhu, lakukan pemeriksaan kelembaban dengan cara


memeriksa kain penutup karung. Jika kain penutup terlihat kering, celupkan dalam air
sampai kain lembab kembali.
15.Setelah hari ke- 7, lakukan pembongkaran hasil dekomposisi dan amati kondisi yang
terjadi (tampilan fisik, warna, dan bau).
b. Pengeringan
1. Timbang total dekomposan yang terdapat dalam karung.
2. Pisahkan dekomposan menjadi dua bagian yang sama beratnya.
3. Masukan kedalam karung dekomposan yang telah ditimbang.
4. Keringkan selama 7 hari.
c. Ekstraksi dan Pemisahan
1. Masukan dekomposan yang telah disiapkan kedalam wadah
2. Panaskan air sampai mendidih
3. Rendam dekomposan pada wadah dengan air panas dan biarkan hingga dingin ( air
panas digunakan untuk mengekstraksi kandungan yang dibutuhkan pada substrat dan
juga berfungsi untuk membunuh bakteri pathogen agar bakteri yang dibutuhkan dapat
tumbuh dengan baik). Minimal 3 liter / kg bahan kental untuk pembuatan POC.
4. Kemudian setelah keadaan campuran air panas dengan dekomposan dingin dan
tercampur secara homogen lalu pisahkan cairan tersebut dan padatan dari kompos
tersebut dengan cara menyaringnya dengan beberapa bak saring yang telah disusun
bertingkat.
5. Bahan yang telah dituangkan kemudian dibilas dengan air bersih untuk membantu
dalam pelarutan.
d. Pembuatan POC
1. Setelah semua cairan kompos tersebut tersaring semua maka cairan POC tersebut
dimasukankedalam wadah untuk difermentasi selama 14-30 hari( hingga hilang bau
busuk dan menjadi tidak keruh).
2. Untuk mengecek pupuk organik sudah jadi atau belum dapat dilihat dengan cara melihat
warna, bau, dan dilakukan uji dengan memasukan pupuk organik cair kedalam air. Bila
pupuk organik cair terlarut sempurna tanpa adanya endapan ataupun suspensi maka
pupuk organik cair telah siap.

2.2 Pembuatan Biogas


2.2.1. Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Karet ban bekas


Ban dalam mobil
Tong biru
Penutup tong
Selang

6. Keran
7. Obeng dan mur
8. Kompor gas
9. Penjepit dan perekat tong
10. Sambungan letter L
11. Lem PVC
2.2.2. Bahan
1. Dekomposan (jerami padi dan feses sapi)
2. Air
2.2.3 cara kerja
a. Pemasangan Instalasi Biogas
1. Instalasi biogas yang terdiri dari digester dan penampung gas disiapkan.
2. Instalasi biogas yang terdiri dari digester (tong plastik dengan volume 30 L) yang
dilengkapi dengan kran gas di bagian penutupnya dirangkai.
3. Kemudian penampung gas yang terbuat dari bahan karet bagian dalam yang telah
dilepaskan pentilnya dirangkai bersama dengan digester.
4. Untuk menghubungkan kran dari digester ke lubang angin pada ban menggunakan
slang olastik dengan diameter sama dengan lubang kran dan lubang angin pada ban.
b. Pemasukan Substrat Kedalam Instalasi
1. Tentukan kadar air substrat (KA = 75%).
2. Analisis kandungan air substrat biogas.
3. Hitung penambahan air pada substrat sampai mencapai kadar air substrat 75%.
4. Timbang substrat dan air yang harus ditambahkan sesuai dengan perhitungan.
5. Tambahkan air dalam substrat dan campur hingga rata.
6. Masukkan campuran substrat tersebut ke dalam digester sampai mencapai volume
dari volume tong.
7. Sisipkan sealer yang terbuat dari karet pada antar tong dan penutupnya.
8. Kunci tong dan penutup dengan menggunakan klem.
9. Inkubasi selama 1 bulan, setiap 1 minggu sekali diperiksa perkembangan proses
pembentukan biogas.
10.
Setelah 1 bulan, untuk mengetahui kualitas biogas yang dihasilkan, lakukan uji
nyala api.

2.3 Pembuatan Pupuk Organik Padat (POP)


2.3.1 Alat
1. Bak
2. Timbangan
2.3.2 Bahan
1. Cacing tanah
2. Substrat hasil ekstraksi POC
2.3.3 Prosedur Kerja

1.
2.
3.
4.

Sediakan media biakkan cacing tanah


Air 70 %
Siapkan cacing tanah
Pisahkan cacing tanah dari media transpor dengan cra mengambil cacing

III
HASIL dan PEMBAHASAN
3.1. Pupuk Organik Cair (POC)
Pada proses pembuatan POC, ketika terjadi penguraian yang sempurna maka POC yang dihasilkan
memiliki warna yang normal seperti tanah dan tidak memiliki bau yang menyengat serta tidak terjadi
endapan pada larutan POC ketika didiamkan. Hal tersebut disebabkan oleh proses penguraian yang dapat
dilakukan dengan sempurna dan menghasilkan nutrisi serta senyawa organik yang dibutuhkan bagi
tanaman.
Keadaan tersebut menunjukan POC sudah dapat diberikan kepada tanaman. Pemeberian pupuk
organik cair dapat dilakukan dengan melakukan pengenceran. Setiap 1 liter pupuk cair sebagai terlarut
dapat dilarutkan dengan 200 liter air. Dengan asumsi 1 hektar lahan mebutuhkan 10 liter pupuk cair.

Prinsip dari pembuatan POC adalah sebagai berikut :


Dekomposisi feses sapi perah dan jerami padi
Dasar utama dari pencampuran awal adalah faktor C/N ratio, moisture content, populasi
mikroba dan porositas campuran. Selama proses, faktor temperatur dan kondisi kandungan
oksigen harus diamati untuk menjamin berlangsungnya proses pengomposan secara aerobik.
Mikroorganisme yang terdapat pada feses sapi perah merupakan bahan baku yang
digunakan untuk dapat mendekomposisi kandungan bahan organik pada jerami padi menjadi
hara yang lebih tinggi.
Pengeringan hasil dekomposisi
Pengeringan dekomposan bermaksud untuk mengurangi kandungan kadar air pada bahan
dan mengurangi mikroorganisme patogen yang dapat merugikan dan tidak diharapkan dalam
proses dekomposisi.

Ekstraksi
Ekstaksi substrat menggunakan air panas dapat melarutkan zat-zat yang dibutuhkan dan
terdapat pada substrat. Zat-zat tersebut kemudian tercampur didalam air hingga terbawa ketika
pemisahan dengan cara penyaringan.

Pemisahan suspensi jamur dan filtrat


Pemisahan menggunakan baksaring yang telah disiapkan. Penyaringan terdriri dari
beberapa tingkat untuk memisahkan suspensi jamur dan filtrat. Pemisahan ini bertujuan agar
larutan yang dihasilkan sesuai dengan kandungan yang diharapkan untuk bahan feed supplement.
Pengomposan cair
Proses fermentasi pada larutan hasil ekstraksi substrat dilakukan oleh mikroorganisme
yang terdapat pada larutan hasil ekstraksi. Mikroorganisme tersebut yang nantinya akan
mengurai bahan organik cair yang terdapat pada larutan untuk bisa didegradasi menjadi hara
yang dibutuhkan tanaman.

3.2 Biogas
Prinsip dari praktikum pembuatan biogas kali ini adalah dekomposisi bahan organik dalam kondisi
aerob yang kemudian menghasilkan gas Metana.
Dari hasil pembuatan biogas, instalasi yang kami buat tidak menghasilkan gas metana. Hal ini
ditandai dengan tidak mengembungnya ban. Hal ini dapat disebabkan beberapa hal seperti proses
degradasi substrat oleh mikroba teerutama bakteri metanogenik penghasil gas metana tidak berjalan
sempurna.

Biogas terbentuk pada hari ke 4-5 sesudah biodigester terisi penuh, dan mencapai puncak
pada hari ke 20-25. Biogas yang dihasilkan sebagian besar terdiri dari 50-70% metana (CH4),
30-40% karbondioksida (CO2), dan gas lainnya dalam jumlah kecil.
Material organik yang terkumpul pada digester (reaktor) akan diuraiakan dalam dua tahap
dengan bantuan dua jenis bakteri. Tahap pertama material organik akan didegradasi menjadi
asam-asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Bakteri ini akan menguraikan
sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis yaitu penguraian senyawa kompleks

atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat menjadi senyawa yang
sederhana. Sedangkan asidifikasi yaitu pembentukan asam dari senyawa sederhana.
Setelah material organik berubah menjadi asam asam, maka tahap kedua dari proses
anaerob adalah pembentukan gas metana dengan bantuan Arkhaebakteria pembentuk metana
seperti Methanococus, Methanosarcina, Methanobacterium.

3.3 Pupuk Organik Padat (POP)


Prinsip kerja dari praktikum vermicomposting kali ini adalah pengomposandekomposan, filtrat,
atau sludge biogas oleh cacing tanah. Bahan organik dekomposan, filtrat, atau sludge biogas yang tersisa
dirombak oleh cacing tanah hingga memiliki nilai hara yang tinggi dan dibutuhkan oleh tanaman.

Vermikompos adalah kompos yang diperoleh dari hasil perombakan bahan-bahan organik
yang dilakukan oleh cacing tanah. Vemikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah
(casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karna itu
vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan dan memiliki keunggulan
tersendiri dibandingkan dengan kompos lain yang kita kenal selama ini.Vermikompos banyak
mengandung humus yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah. Humus merupakan
suatu campuran yang kompleks, terdiri atas bahan-bahan yang berwarna gelap yang tidak larut
dengan air (asam humik, asam fulfik dan humin) dan zat organik yang larut (asam-asam dan
gula).
Pada proses pengomposan menggunakan metode Vermicomposting, perlu diperhatikan
beberapa syarat cacing yang dapat digunakan sebagai agen perombakan. Syaratnya adalah
menggunakan jenis cacing yang harus dapat dibudidayakan misalnya Lumbricus rubellus,
Eisema fetida, Perionyx exavatum, dan Pheretima asuatica.
Setelah 1 minggu biakan cacing yang berada disamping gundukan dekomposanberpindah
ke dalam gundukan dekomposan. Setelah proses vermicomposting selesai,vemikomposyag
terbentuk berwarna coklat kehitam-hitaman, tekstur yang halus seperti tanah. Hal ini terjadi
akibat dari proses penguraian bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah juga oeh
mikroorganisme lainnya. walaupun sebagian besar proses penguraian dilakukan mikroorganisme,
tetapi kehadiran cacing tanah dapat membantu proses tersebut karena bahan-bahan yang akan

diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dahulu oleh cacing. Dengan demikian, kerja
mikroorganisme lebih efektif dan lebih cepat.

IV
KESIMPULAN

POC yang baik adalah POC yang memiliki warna hitam kecoklatan dan tidak berbau menyengat
apalagi berbau busuk. Hal yang mempengaruhi Kualitas POC salah satunya adalah tergantung pada
substrat yang digunakan. Substrat yang baik juga dapat menghasilkan dekomposan yang baik dan hara
yang dihasilkan oleh pupuk lebih banyak.
Instalasi biogas yang kelompok saya buat tidak menghasilkan gas pada penampung gas. Hal
tersebut mungkin diakibatkan oleh pemasangan instalasi yang kurang benar atau proses degradasi substrat
oleh bakteri metanogenik tidak berjalan sempurna.

pembuatan kompos juga dapat dilakukan dengan cacing sebagai bahan baku untuk
mengurai atau mendegradasi bahan organik menjadi bahan yang memiliki kandungan hara yang
dibutuhkan oleh tanaman. Casting umumnya mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman
seperti nitrogen, fosfor, mineral, vitamin. apalagi nilai C/N nya kurang dari 20 maka casting
dapat digunakan sebagai pupuk.

DAFTAR PUSATAKA

Kurnani,Benito A. dkk. 2013. Penuntun dan Laporan Praktikum Pengolahan Limbah


Ternak. Sumedang : Fakultas Peternakan Universitas Padjdjaran.

Mashur.

Vermikompos (Kompos Cacing Tanah) Pupuk Organik Berkualitas Dan Ramah

Lingkungan. http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ntbr0102.pdf.
Sihombing, D T H.2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan.
Bogor : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut
Pertanian Bogor.
Setiawan, Ade Iwan. 2007. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Jakarta: Penebar
Swadaya.