Anda di halaman 1dari 9

BAB

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia pada babI pasal 1 ayat 2, yang dimaksud
lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.
Dra.

Ny.

Lansia

merupakan

kelanjutan

dari

usia

dewasa.

Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian pertama fase iufentus,


antara 25-40 tahun, kedua fase vertilisasi, antara 40 dan 50 tahun
ketiga, fase prasenium antara 55 dan 65 tahun dan keempat fase
senium, antara 65 hingga tutup usia.
B. Fisiologi pada lansia
Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat
diramalkan yang terjadi pada semua orang saat mereka mencapai usia tahap
kronologis tertentu yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang.
Menua didefinisikan sebagai proses menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual)
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan
struktur dan fungsi secara normal, ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya
infeksi.5 Menua juga didefinisikan sebagai proses yang mengubah seorang dewasa
sehat menjadi seorang yang frail (lemah, rentan) dengan berkurangnya sebagian besar
cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit
dan kematian secara eksponensial. Proses penuaan sebenarnya berlangsung sejak
maturitas dan berakhir dengan kematian. Namun demikian, efek penuaan tersebut
umumnya menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun.7
Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis ketika
membicarakan proses menua:
1. Aging (pertambahan umur): menunjukkan efek waktu; suatu proses perubahan,
biasanya bertahap dan spontan
2. Senescence (menjadi tua): hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan
berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan kematian)
3. Homeostenosis: penyempitan/berkurangnya cadangan homeostasis yang terjadi
selama penuaan pada setiap sistem organ7

Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dengan


pengenalan konsep homeostenosis. Seiring bertambahnya usia jumlah cadangan
fisiologis untuk menghadapi berbagai perubahan yang mengganggu homeostasis
(challange) berkurang. Setiap challenge terhadap homeostasis merupakan pergerakan
menjauhi keadaan dasar (baseline) dan semakin besar challenge yang terjadi maka
akan semakin besar cadangan fisiologis yang diperlukan untuk kembali homeostasis.
Di sisi lain dengan semakin berkurangnya cadangan fisiologis, maka seorang lanjut
lebih mudah untuk mencapai suatu ambang, precipe, yang berupa keadaan sakit atau
kematian akibat challenge tersebut.
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahanperubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara
terus-menerus. Berikut ini Perubahan-perubahan yang terjadi pada
lansia:
1. Perubahan kondisi fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem
organ tubuh, diantaranya system pernapasan, pendengaran,
penglihatan,

kardiovaskuler,

system

pengaturan

tubuh,

musculoskeletal, gastro intestinal, genitor urinaria, endokrin dan


integumen. Dan masalah-asalah fisik sehari-hari yang sering
ditemukan pada lansia.
Menurut Nugroho (2000), perubahan biologis yang terjadi
pada lansia adalah :
a. Kulit menjadi tipis, kering, keriput dan tidak elastis lagi.
Fungsi kulit sebagai penyakit suhu tubuh lingkungan dan
mencegah kuman-kuman penyakit masuk.
b. Rambut mulai rontok, berwarna putih, kering dan tidak
c.
d.
e.
f.
g.

mengkilat.
Gigi mulai habis.
Penglihatan dan pendengaran berkurang.
Mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.
Keterampilan tubuh menghilang disana-sini.
Terjadi timbunan lemak terutama bagian perut dan

panggul
h. Jumlah sel otot berkurang mengalami atrofi sementara
jumlah jaringan ikat bertambah, volume otot secara
keseluruhan menyusut.
2. Perubahan kondisi mental

Pada umumnya usia lanjut mengalami penurunan fungsi


kognitif dan psikomotor. Perubahan-perubahan mental ini erat
sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan,
tingkat pendidikan atau pengetahuan, serta situasi lingkungan.
Intelegensi diduga secara umum makin mundur terutama faktor
penolakan abstrak mulai lupa terhadap kejadian baru, masih
terekam baik kejadian masa lalu.
3. Perubahan psikososial
Masalah-masalah ini serta reaksi individu terhadapnya akan
sangat beragam, tergantung pada kepribadian individu yang
bersangkutan.

Pada

saat

ini

orang

yang

telah

menjalani

kehidupannya dengan bekerja mendadak diharapkan untuk


menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Bila ia cukup
beruntung dan bijaksana, mempersiapkan diri untuk masa
pensiun dengan menciptakan bagi dirinya sendiri berbagai
bidang minat untuk memanfaatkan waktunya, masa pensiunnya
akan memberikan kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya.
C. Kemandirian
Kemandirian mengandung pengertian yaitu suatu keadaan
dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi
kebaikan dirinya, mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk
mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam
mengerjakan tugas-tugasnya, bertanggung jawab terhadap apa
yang dilakukannya. Kemandirian merupakan suatu sikap dimana
individu

akan

terus

belajar

untuk

bersikap

mandiri

dalam

menghadapi berbagai situasi dilingkungan sehingga individu pada


akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri.
Fungsi kemandirian pada lansia mengandung pengertian yaitu
kemampuan yang dimiliki oleh lansia untuk tidak tergantung pada
orang lain dalam melakukan aktivitasnya, semuanya dilakukan
sendiri

dengan

keputusan

sendiri

dalam

rangka

memeunuhi

kebutuhannya. Mempertahankan kemandirian pada lansia umumnya


sudah mandiri, kemandirian ini sangat penting untuk merawat
dirinya dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Meskipun sulit
bagi anggota keluarga yang lebih

muda untuk menerima orang tua melakukan aktivitas sehari-hari


secara lengkap dan lambat, dengan pemikiran dan caranya sendiri.
kesehatannya.
Percaya diri

dan

mandiri

adalah

dua

hal

yang

saling

menguatkan. Semakin lansia dapat mandiri, dia akan semakin


mampu

mengelola

kemandirian,

kemudian

mengembangkan

kemandirian. Keluarga harus memberikan kesempatan dan waktu


agar lansia bisa memiliki tugas-tugas praktis, mereka harus
memahami metode atau cara bagaimana cara menyelesaikannya
dan bagaimana menghadapi frustasi yang tidak bisa dihindarkan.
D. Pedoman Hidup Sehat Untuk Lansia
Menua sukses/sehat diyakini dapat dicapai, walaupun definisi dan faktor-faktor
yang berperan di dalamnya belum sepenuhnya disepakati. Sebenarnya, konsep menua
sukses tidak hanya terpaku pada kesehatan (baik fisik maupun mental) saja, namun
juga faktor intelektual, emosional, sosial, dan kultural juga penting dan terbukti
berpengaruh pada terciptanya menua yang sukses. Suatu penelitian besar, Mac Arthur
Longitudinal Study on Succesful Aging, menyimpulkan bahwa menua yang sukses
terdiri dari 3 komponen, yaitu:
1. Rendahnya risiko untuk mengalami sakit dan disabilitas akibat penyakit
2. Kapasitas kognitif dan fisik yang tinggi
3. Kehidupan yang selalu aktif, terdiri atas hubungan interpersonal yang baik serta
aktivitas yang produktif7
Diperlukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untu mencapai menua sukses yang
terangkum dalam pedoman hidup sehat bagi lanjut usia. Pedoman hidup sehat adalah
suatu acuan yang berisi upaya-upaya untuk memberdayakan seseorang agar sadar,
mau, serta mampu melakukan perilaku hidup sehat.
1. Kesehatan Fisik
Walaupun dianjurkan dilakukan sejak muda, latihan fisik teratur yang
dilakukan saat usia tuapun tetap memberikan banyak manfaat. Dalam melakukan
latihan fisik seyognyanya disertai dengan kontak yang erat dan sehat dengan
lingkungan.

Keuntungan

dari

melakukan

aktivitas

fisik

teratur

adalah

meningkatkan kebugaran jasmani, menyehatkan jantung, otot, dan tulang,


membuat lansia lebih mandiri dan percaya diri, meningkatkan mood dan
mencegah depresi, meningkatkan kualitas tidur, serta menjaga berat badan agar
tetap ideal.

Jenis latihan fisik yang dapat dilakukan oleh lansia sebaiknya tetap memenuhi
kriteria FITT (frequency, intensity, time, dan type). Frekunsi adalah seberapa
sering aktivitas dilakukan. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktivitas
dilakukan biasanya diklasifikasikn menjadi intensitas ringan, sedang, dan berat.
Waktu mengacu pada durasi yakni seberapa lama aktivitas tersebut dilakukan
dalam satu pertemuan.
Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya selama 30
menit dengan intensitas sedang hampir setiap hari (paling tidak 5 hari) dalam
seminggu. Namun sebaiknya olahraga dilakukan secara bertahap, dimulai dengan
intensitas rendah (40-50% denyut nadi istirahat) selama 10-20 menit, kemudian
ditingkatkan sesuai dengan kemampuan adaptasi indvidu. Jenis-jenis aktivitas
fisik pada lansia meliputi latihan aerobik (meingkatkan kerja jantung dan paru
untuk memenuhi kebutuhan oksigen), penguatan otot, fleksibilitas dan latihan
keseimbangan. Latihan aerobik untuk usia lebih dari 65 tahun disarankan
melakukan olah raga yang tidak terlalu membebani tulang seperti berjalan, sepeda
statis, latihan dalam air (berenang).
Untuk latihan penguatan otot bertujuan agar otot dapat membentuk kekuatan
untuk menggerakkan atau menahan beban, misalnya aktivitas yang melawan
gravitasi seperti gerakan berdiri di atas kursi kemudian ditahan beberapa detik,
berulang-ulang 10-15 repetisi. Dapat juga melakukan aktivitas dengan tahanan
berupa tali elastik.
Latihan fleksibilitas adalah aktivitas untuk membantu mempertahankan
kisaran gerak sendi (ROM), yang diperlukan untuk melakukan aktivitas dan tugas
sehari-hari secara teratur. Latihan ini disarankan 2-3 hari perminggu dengan
melibatkan peregangan otot dan sendi dan memperhatikan rasa tidak nyaman atau
nyeri. Latihan dilakukan sebanyak 3-4kali dengan masing-masing tarikan
dipertahankan 10-30 detik, dimulai dari otot-otot kecil kemudia ke otot-otot besar.
Latihan ini ddapat berupa yoga.
Latihan keseimbangan dilakukan untuk membantu mencegah lansia jatuh.
Latihan keseimbangan setidaknya dilakukan 3 hari dalam seminggu yang
dilakukan pada intensitas rendah. Kegiatan berjalan, Tai Chi dan penguatan otot
dapat memperlihatkan perbaikan keseimbangan pada lansia. Olahraga dilakukan
dengan cara menyenangkan disertai dengan modifikasi, termasuk denga
mengombinasikan beberapa aktivitas sekaligus, misalnya berupa berjalan yang

bersifat rekreasi atau kombinasi latihan fisik dengan musik atau menari bisa
dilakukan.
Olahraga pada lansia dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan,
masalah kesehatan, dan kelemahan yang mungkin ada. Masalah kesehatan
tersebut diantaranya:
Osteoartritis: olahraga yang direkomendasikan adalah yang bersifat tidak
membebani tubuh, misalnya bersepeda dan latihan dalam air. Latihan
fleksibilitas dilakukan dengan melibatkan sendi yang terkena atritis namun
dengan batasan ROM yang bebas nyeri. Kontraindikasinya yaitu latihan
berat, berulang-ulang pada sendi yang tidak stabil, serta melatih sendi saat

tanda-tanda radang masih aktif.


Osteoporosis: latihan jasmani yang dipilih bersifat melawan gravitasi (weight

bearing), misalnya berjalan


Penyakit kardiovaskular: latihan aerobik 30-60 menit perhari untuk
menurunkan tekanan darah dengan latihan penguatan yang dilakukan denga

tahanan lebih rendah namun lebih banyak repetisi.


Diabetes: latihan fisik mempertimbangkan efek insulin dam kadar gula darah.
Insulin disuntikkan 1 jam sebelum latihan. Monitor gula darah dilakukan sebelum,
selama, dan sesudah latihan untuk menentukan perlunya penyesuaian dosis
insulin.
2. Kesehatan Mental
Dengan bermain dan bercengkrama dengan cucu-cucu, selain bermanfaat
secara fisik, hubungan sosial dan kondisi mentalpun akan tetap terjaga bahkan
meningkat sampai tahap optimal. nikmati berbagai aktivitas yang menjaga
ketajaman pikiran, seperti: membaca, menulis, mengisi teka-teki silang, atau
terlibat dalam pembicaraan atau diskusi yang santai namun serius. Tidur yang
cukup sangat dibutuhkan tubuh untuk tetap sehat fisik maupun psikis. PAPDI
mennganjurkan paling tidak tidur selama 6 jam setiap hari.
3. Kebutuhan Nutrisi
Walaupun status nutrisi yang buruk lebih mudah didapatkan pada mereka yang
berusia lanjut, namun bukan hal yang tidak mungkin mereka mampu mendapatkan
nutrisi yang cukup dan seimbang untuk mempertahankan kesehatan dan
kebugaran fisik. Pemenuhan kebutuhan nutrisi tidak semata-mata terbatas pada
jenis dan jumlah makanan, tetapi yang tidak kalah penting adalah aktivitas makan
yang tentu melibatkan hubungan sosial dan rekreasi yang manfaatnya juga akan
sangat dirasakan.

Kebutuhan nutrisi sehat untuk lansia yaitu:


Kebutuhan kalori untuk lansia akan berkurang dibandingkan dewasa
karena penurunan kecepatan basal metabolik dan aktivitas fisik seiring
bertambahnya usia. Menurut Angka Kecukupan Gizi Indonesia, laki-laki
lansia membutuhkan 2200 Kkal/hari dan perempuan lansia sekitar 1850

Kkal/hari
Kebutuhan kalori tersebut dipenuhi dari sumber energi karbohidrat 4565%, lemak 20-35% dengnan lemak jenuh tidak lebih dari 10% dan
kolesterol tidak lebih dari 200mg/dl, serta protein sisanya dan dipengaruhi

oleh fungsi ginjal


Porsi makan kecil dan sering, dianjurkan makan besar 3 kali dan selingan
2 kali sehari, sayuran dipotong lebih kecil, bila perlu dimasak sampai

empuk, daging dicincang dan buah dapat dijus/diblender


Untuk memenuhi kebutuhan cairan minum 6-8 gelas air putih setiap hari
Menggunakan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe,
kunyit, lada, gula, untuk meningkatkan cita rasa makanan. Namun tidak
menggunakan bumbu yang merangsang seperti pedas atau asam karena

mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan


Mengurangi pemakaian garam dapur yakni tidak lebih dari 4 gram (satu

sendok teh) perhari untuk mengurangi risiko darah tinggi


Mengurangi santan, daging yang berlemak dan minyak agar kolesterol
darah tidak tinggi. Menggunakan sedikit minyak untuk menumis dan
kurangi makanan yang digoreng. Memperbanyak makanan yang diolah

dengan direbus karena makanan lebih mudah dicerna


Memperbanyak makanan yang berkalsium tinggi seperti susu dan ikan.
Pada lanjut usia khususnya ibu-ibu yang menopause sangat perlu
mengonsumsi kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. Bila perlu
dengan suplementasi kalsium hingga memenuhi kebutuhan kalsium
>1200mg/ hari bagi yang berusia di atas 51 tahun. Dapat juga dengan
berjemur di bawah matahari selama 15 menit setiap pagi hari untuk

meningkatkan aktivasi vitamin D dalam tubuh.


Memperbanyak makanan serat, sayuran dan buah-buahan paling tidak

5porsi sehari agar pencernaan lancar dan tidak sembelit


Menggurangi mengonsumsi gula dan makanan yang mengandung
karbohidrat tinggi agar gula darah normal khususnya bagi penderita
kencing manis agar tidak terjadi komplikasi lain

Makan bersama teman agar lebih meningkatkan selera makan dan

hubungan sosial dengan teman


4. Pemeriksaan Kesehatan dan Managemen Penyakit
Semenjak usia 40 tahun, setiap orang sangat dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko
penyakit tertentu dari keluarga. Upaya ini dapat diakukan untuk mencegah,
menunda, atau menemukan dan mengenali secara dini berbagai penyakit atau
gangguan kesehatan, serta mengatasi penyakit yang muncul untuk mencegah
komplikasi. Penyakit yang paling sering dialami kaum lanjut usia diantaranya
adalah: penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, diabetes melitus,
pernyakit kanker, dan penyakit sendi dan tulang. Deteksi dini diperlukan agar
dapat menatalaksana penyakit sedini mungkin pula. Hal ini dapat berupa:
o Kanker: pemeriksaan pap smear setiap 1-3 tahun, pemeriksaan payudara
sendiri (sadari), setiap bulan setelah selesai menstruasi, dan pemeriksaan
payudara oleh dokter setiap tahun setelah usia 40 tahun, mamografi setiap
tahun setelah usia 40 tahun. Pemeriksaan rektal (colok dubur) setiap tahun
pada orang dewasa setelah usia 40 tahun. Endoskopi pada semua usia lanjut
setelah usia 50 tahun, setiap 5 tahun. Pemeriksaan pemeriksaan PSA setiap
tahun antara 50 sampai dengan 70 tahun
o Pemeriksaan kolesterol tiap 3-5 tahun
o Pemeriksaan rutin kimia darah, darah perifer lengkap, dan pemeriksaan urin
lengkap
o Pemeriksaan tekanan darah setiap 3 tahun sebelum usia 40 tahun dan setiap
tahun setelah berusia 40 tahun bila. Bila pasien telah menderita darah tinggi,
sangat dianjurkan untuk mengevaluasi tekanan darah 2-4 minggu setelah
terapi dimulai atau setelah adanya perubahan terapi. Target tekanan darah
bagi lansia diatas 60 tahun tanpa penyakit penyerta (gagal ginjal kronis dan
diabetes): sistole: <150 mmHg dan diastole <90 mmHg. Bila lansia dengan
penyerta target sistole adalah <140 mmHg.
o Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG): berikan 1 kopi hasil EKG tersebut
kepada pasien. Manakala pasien mengalami masalah jantung (nyeri dada),
hasil EKG tersebut dapat diberikan ke dokter yang melayaninya untuk
digunakan oleh sang dokter dalam membuat penilaian klinis
o Pemeriksaan ketajaman penglihatan dan penapisan glaukona setiap 1-3 tahun
setelah usia 50 tahun.
o Evaluasi fungsi pendengaran setiap 3 tahun setelah berusia 50 tahun

o Pemeriksaan dan perawatan gigi-geligi paling tidak enam bulan sekali. Bila
perlu menggunakan gigi palsu
o Pengkajian fungsi fisik dan mental
Apabila pasien terbukti mengidap penyakit atau gangguan kesehatan, maka
pengelolaan penyakit secara seksama harus dilakukan. Diperlukan kerjasama yang
baik antara tenaga kesehatan dan pasien serta keluarganya agar penyakit atau
gangguan kesehatan yang diderita pasien dapat terkelola dan terkendali dengan
baik. Untuk itu amat dibutuhkan kepatuhan pasien dalam mengontrol penyakitpenyakit yang diderita agar tidak timbul komplikasi atau penyulit.
Pada umumnya berbagai penyakit kronik degeneratif memerlukan kedisiplinan
dan ketekunan dalam diet atau latihan jasmani, demikian pula di dalam pengobatan
yang umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan bisa seumur hidup.
Tidak jarang pasien merasa bosan dan akhirnya menghentikan pengobatannya
sehingga penyakit menjadi tidak terkendali dan kemudian timbul berbagai
komplikasi yang tidak jarang sampai mengancam nyawa.
5. Penghindaran Faktor Resiko yang Dapat Menganggu Kesehatan
Hal ini dapat berupa penghindaran stres (meningkatkan rasa percaya diri,
selalu berfikir positif, mengatur waktu dengan baik, mengetahui dan menerima
keterbatasan diri, hilangkan ketegangan, dan berbuat sesuatu yang positif),
penghindaran diri dari kecelakaan (tidak bepergian seorang diri terutama bagi
yang sudah memiliki gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, dan
pendengaran), mengurangi dan berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol.