Anda di halaman 1dari 25

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

14

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Malaria


Malaria adalah suatu penyakit kawasan tropika yang biasa tetapi apabila
diabaikan juga dapat menjadi serius, seperti malaria jenis Plasmodium falciparum
penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan kematian. Ia adalah suatu
serangga protozoa yang dipindahkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk
Anopheles betina terutama pada waktu terbit dan terbenam matahari (Harmendo,
2008)
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria, suatu
protozoa darah yang termasuk dalam Phyllum Apicomplexa, Kelas Sporozoa,
Subkelas Coccidiida, Ordo Eucoccidides, Sub ordo Haemosporidiidea Famili
Plasmodiidae, Genus plasmodium (Nugroho dan Wagey, 2000). Menurut Depkes
(2005), malaria adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang
hidup dan berkembang biak dalam sel darah manusia. Penyakit malaria ditularkan
oleh nyamuk betina Anopheles (Abdullah, 2008).
Penyakit malaria juga dapat dikatakan sebagai penyakit yang muncul
kembali (re-emerging disease). Hal ini disebabkan oleh pemanasan global yang
terjadi karena polusi akibat ulah manusia yang menghasilkan emisi dan gas rumah
kaca, seperti CO2, CFC, CH3, NO, perfluoro carbon dan carbon tetra fluoride
yang menyebabkan atmosfer bumi memanas dan merusak lapisan ozon, sehingga
radiasi matahari yang masuk ke bumi semakin banyak dan terjebak di lapisan

14
TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

15

bumi karena terhalang oleh rumah kaca, sehingga temperatur bumi kian memanas
dan terjadilah pemanasan global.
Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok resiko tinggi yaitu
bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menyebabkan
anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih
endemis di sebagian besar wilayah Indonesia (KemenKes RI, 2011)
2.2 Gejala Klinis Malaria dan Masa Inkubasi
Keluhan dan tanda klinis, merupakan petunjuk yang penting dalam
diagnosa malaria. Gejala klinis ini dipengaruhi oleh jenis/ strain Plasmodium
,imunitas tubuh dan jumlah parasit yang menginfeksi. Waktu mulai terjadinya
infeksi sampai timbulnya gejala klinis dikenal sebagai waktu inkubasi, sedangkan
waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah disebut
periode prepaten (Harmendo, 2008)
Gejala klinis

1.

Gejala klasik malaria yang umum terdiri dari tiga stadium (trias malaria),
yaitu:
a) Periode dingin.
Mulai dari menggigil, kulit dingin dan kering, penderita sering
membungkus diri dengan selimut dan pada saat menggigil sering seluruh
badan bergetar dan gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti
orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti
dengan meningkatnya temperatur.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

16

b) Periode panas.
Penderita berwajah merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan
panas badan tetap tinggi dapat mencapai 400 C atau lebih, respirasi
meningkat, nyeri kepala, terkadang muntah-muntah, dan syok. Periode ini
lebih lama dari fase dingin, dapat sampai dua jam atau lebih diikuti
dengan keadaan berkeringat.
c) Periode berkeringat.
Mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah,
temperatur turun, lelah, dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan
merasa sehat dan dapat melaksanakan pekerjaan seperti biasa.
Di daerah dengan tingkat endemisitas malaria tinggi, sering kali orang
dewasa tidak menunjukkan gejala klinis meskipun darahnya mengandung parasit
malaria. Hal ini merupakan imunitas yang terjadi akibat infeksi yang berulangulang. Limpa penderita biasanya membesar pada serangan pertama yang berat/
setelah beberapa kali serangan dalam waktu yang lama. Bila dilakukan
pengobatan secara baik maka limpa akan berangsur-berangsur mengecil.
Keluhan pertama malaria adalah demam, menggigil, dan dapat disertai
sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. Untuk penderita
tersangka malaria berat, dapat disertai satu atau lebih gejala berikut: gangguan
kesadaran dalam berbagai derajat, kejang-kejang, panas sangat tinggi, mata atau
tubuh kuning, perdarahan di hidung, gusi atau saluran pencernaan, nafas cepat,
muntah terus-menerus, tidak dapat makan minum, warna air seni seperti the tua

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

17

sampai kehitaman serta jumlah air seni kurang sampai tidak ada (DepKes RI,
2003 dalam Harmendo, 2008)
1.

Masa inkubasi
Masa inkubasi dapat terjadi pada :
a. Masa inkubasi pada manusia (intrinsik)
Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing Plasmodium. Masa
inkubasi pada inokulasi darah lebih pendek dari infeksi sporozoid. Secara
umum masa inkubasi Plasmodium falsiparum adalah 9 sampai 14 hari,
Plasmodium vivax adalah 12 sampai 17 hari, Plasmodium ovale adalah 16
sampai 18 hari, sedangkan Plasmodium malariae bisa 18 sampai 40 hari.
Infeksi melalui transfusi darah, masa inkubasinya tergantung pada jumlah
parasit yang masuk dan biasanya bisa sampai kira-kira 2 bulan.
b. Masa inkubasi pada nyamuk (ekstrinsik)
Setelah darah masuk kedalam usus nyamuk maka protein eritrosit
akan dicerna oeleh enzim tripsin kemudian oleh enzim aminopeptidase dan
selanjutnya karboksipeptidase, sedangkan komponen karbohidrat akan
dicerna oleh glikosidase. Gametosit yang matang dalam darah akan segera
keluar dari eritrosit selanjutnya akan mengalami proses pematangan dalam
usus nyamuk untuk menjadi gamet (melalui fase gametogenesis). Adapun
masa inkubasi atau lamanya stadium sporogoni pada nyamuk adalah
Plasmodium vivax 8-10 hari,

Plasmodium palsifarum 9-10 hari,

Plasmodium ovale 12-14 hari dan Plasmodium malariae 14-16 hari (Dep.
Kesehatan R.I, 2009)

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

18

2.3 Vektor Malaria di Indonesia


Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2011), mengatakan
bahwa di Indonesia konfirmasi vektor telah dilakukan sejak tahun 1919 sampai
tahun 2009, dan selama periode tersebut terdapat 25 spesies ditemukan positif
membawa parasit malaria. Menurut tempat berkembang biak, vektor malaria
dapat dikelompokkan dalam tiga tipe yaitu berkembang biak di persawahan,
perbukitan/hutan dan pantai/aliran sungai. Vektor malaria yang berkembang
biak di

daerah

persawahan adalah

An. aconitus, An. Annullaris, An.

barbirostris, An. kochi, An karwari, An.nigerrimus, An.sinensis, An.tesellatus,


An.Vagus,

An.

perbukitan/hutan

Vektor

letifer.
adalah

malaria

yang

An.balabacensis,

berkembang

biak

di

An.bancrofti, An.punculatus,

An.Umbrosus. Sedangkan untuk daerah pantai/aliran sungai jenis vekor


malaria

adalah

An.flavirostris, An.Koliensis, An.ludlowi, An.minimus,

An.punctulatus, An.parangensis, An.sundaicus, An.subpictus.


Waktu aktivitas menggigit vektor malaria yang sudah diketahui yaitu jam
17.00-18.00, sebelum jam 24 (20.00-23.00), setelah jam 24 (00.00-4.00).Vektor
malaria yang aktivitas menggigitnya jam 17.00-18.00 adalah An.tesselatus,
sebelum jam 24 adalah An.Aconitus, An.annullaris, An.barbirostris, An.kochi,
An.sinensis, An.Vagus, sedangkan yang menggigit setelah jam 24 adalah
An.farauti, An.koliensis, An.leucosphyrosis, An.unctullatus (Ahmadi, 2008)
Perilaku vektor malaria seperti tempat berkembang biak dan waktu
aktivitas menggigit ini sangat penting diketahui oleh pengambil keputusan

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

19

sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan intervensi dalam pengendalian


vektor yang lebih efektif (Triboewono, dkk. 2012).
Nyamuk Anopheles dewasa adalah vektor penyebab malaria. Nyamuk
betina dapat bertahan hidup selama sebulan. Siklus nyamuk Anopheles sebagai
berikut:
1.

Telur
Nyamuk betina

meletakkan telurnya sebanyak 50-200 butir sekali

bertelur. Telur-telur itu diletakkan di dalam air dan mengapung di tepi air. Telur
tersebut tidak dapat bertahan di tempat yang kering dan dalam 2-3 hari akan
menetas menjadi larva.
2.

Larva
Larva nyamuk memiliki kepala dan mulut yang digunakan untuk mencari

makan, sebuah torak dan sebuah perut. Mereka belum memiliki kaki. Dalam
perbedaan nyamuk lainnya, larva Anopheles tidak mempunyai saluran pernafasan
dan untuk posisi badan mereka sendiri sejajar dipermukaan air.
Larva bernafas dengan lubang angin pada perut dan oleh karena itu harus
berada di permukaan. Kebanyakan Larva memerlukan makan pada alga, bakteri,
dan mikroorganisme lainnya di permukaan. Mereka hanya menyelam di bawah
permukaan ketika terganggu. Larva berenang tiap tersentak pada seluruh badan
atau bergerak terus dengan mulut.
Larva berkembang melalui 4 tahap atau stadium, setelah larva mengalami
metamorfisis menjadi kepompong. Disetiap akhir stadium larva berganti kulit,
larva mengeluarkan exoskeleton atau kulit ke pertumbuhan lebih lanjut.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

20

Habitat Larva ditemukan di daerah yang luas tetapi kebanyakan spesies


lebih suka di air bersih. Larva pada nyamuk Anopheles ditemukan di air bersih
atau air payau yang memiliki kadar garam, rawa bakau, di sawah, selokan yang
dirtumbuhi rumput, pinggir sungai dan kali, dan genangan air hujan. Banyak
spesies lebih suka hidup di habitat dengan tumbuhan. Habitat lainnya lebih suka
sendiri. Beberapa jenis lebih suka di alam terbuka, genangan air yang terkena
sinar matahari.
3.

Kepompong
Kepompong terdapat dalam air dan tidak memerlukan makanan tetapi

memerlukan udara. Pada kepompong belum ada perbedaan antara jantan dan
betina. Kepompong menetas dalam 1-2 hari menjadi nyamuk, dan pada umumnya
nyamuk jantan lebih dulu menetas daripada nyamuk betina.
Lamanya dari telur berubah menjadi nyamuk dewasa bervariasi tergantung
spesiesnya dan dipengaruhi oleh panasnya suhu. Nyamuk bisa berkembang dari
telur ke nyamuk dewasa paling sedikit membutuhkan waktu 10-14 hari.
4.

Nyamuk dewasa
Semua nyamuk, khususnya Anopheles dewasa memiliki tubuh yang kecil

dengan 3 bagian : kepala, torak dan abdomen (perut). Kepala nyamuk berfungsi
untuk memperoleh informasi dan untuk makan. Pada kepala terdapat mata dan
sepasang antena. Antena nyamuk sangat penting untuk mendeteksi bau host dari
tempat perindukan dimana nyamuk betina meletakkan telurnya. Thorak berfungsi
sebagai penggerak. Tiga pasang kaki dan sebuah kaki menyatu dengan sayap.
Perut berfungsi untuk pencernaan makanan dan mengembangkan telur. Bagian

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

21

badannya mengembang agak besar saat nyamuk betina menghisap darah. Darah
tersebut lalu dicerna tiap waktu untuk membantu memberikan sumber protein
pada produksi telurnya, dimana mengisi perutnya perlahan-lahan.
Nyamuk Anopheles dapat dibedakan dari nyamuk lainnya, dimana
hidungnya lebih panjang dan adanya sisik hitam dan putih pada sayapnya.
Nyamuk Anopheles dapat juga dibedakan dari posisi beristirahatnya yang khas :
jantan dan betina lebih suka beristirahat dengan posisi perut berada di udara
daripada sejajar dengan permukaan.
Nyamuk Anopheles mengalami metamorphosis sempurna, dari telur, larva
dan pupa, dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk Anopheles dapat
berbiak dalam kolam-kolam air tawar yang bersih, air kotor , air payau, maupun
air-air yang tergenang di pinggiran laut. Nyamuk ini ada yang menyukai hidup di
dalam rumah dan ada yang suka hidup di luar rumah. Aktif terbang pada waktu
pagi, siang, sore, ataupun malam. Nyamuk Anopheles identik sebagai nyamuk
malaria karena banyak jenis nyamuk ini yang menularkan penyakit malaria. Jenis
nyamuk ini juga dilaporkan mampu menularkan penyakit chikungunya. Spesies
Anopheles yang berbeda menunjukkan tingkah laku yang berbeda serta
kemampuan menularkan penyakit yang berbeda pula. Oleh sebab hal itu, jenis
nyamuk Anopheles yang menularkan penyakit malaria atau penyakit chikungunya
di daerah yang lain (Sembel, 2009)
Untuk pembentukan telurnya nyamuk Anopheles betina menghisap darah
manusia atau hewan, sedangkan nyamuk jantan menghisap cairan tumbuhan dan
buah-buahan. Kebiasaan nyamuk setelah menghisap darah akan mencari tempat

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

22

untuk istirahat. Tempat istirahatnya di dalam rumah (endofilik), diluar rumah


(eksofilik), hinggap di tanaman, kandang ternak, dekat tanah atau kadang di
tempat yang agak tinggi. Pada umumnya nyamuk Anopheles aktif menghisap
darah pada senja hingga dini hari (Abdullah, 2008)
2.4 Ekologi Nyamuk Anopheles
Karakter topografi, iklim dan ekologi memilki pengaruh besar terhadap
aspek tempat dalam keberadaan dan penyebaran penyakit. Suhu, curah hujan,
angin, air, kelembaban, dingin, panas, lama matahari bersinar mempengaruhi
kemampuan patogen, khususnya bakteri, jamur, dan parasit, untuk bertahan di
lingkungan (Timmreck, 2005 dalam Abdullah 2008).
1. Lingkungan klimatologis
a. Suhu
Suhu yang tinggi meningkatkan perkembangan nyamuk ke bentuk dewasa,
peningkatan frekwensi menggigit dan meningkatkan populasi parasit dalam tubuh
Anopheles, (Walsh et al. 1993). Rahman, et al.(1998). Menambahkan Suhu
optimum
perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk berkisar antara 20 dan 30C.
b. Kelembaban
Kelembaban yang rendah umur nyamuk menjadi singkat (kelembaban
60%), pada kelembaban yang tinggi umur nyamuk lebih lama, dan menjadi lebih
aktif dan lebih sering menggigit.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

23

c. Curah hujan
Curah hujan yang banyak akan

memungkinkan banyak tempat

perkembangan nyamuk. Rahman, et al.(1998), dalam penelitiannya di Serawak,


mengatakan, kasus malaria mengalami tinggi pada musim kemarau daripada
musim penghujan. Hal ini dikarenakan pada musim hujan telur dan larva akan
hanyut terbawa aliran air.
d. Ketinggian
Pada ketinggian 2000 m ke atas jarang terjadi transmisi malaria, hal ini
bisa berubah bila terjadi pengaruh panas bumi dan pengaruh El Nino.
e. Angin
Kecepatan angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk.
f. Sinar matahari
Pertumbuhan larva

Anopheles

dipengaruhi oleh sinar matahari;

Anopheles sundaicus lebih suka tempat yang teduh, Anopheles hyrcanus spp dan
Anopheles punctuletus spp

menyukai tempat yang terbuka dan

Anopheles

barbirostris dapat hidup di tempat yang teduh maupun yang terang.


g. Arus air
Air yang mengalir lambat (statis) disukai sebagai perindukan Anopheles
barbirostris, Anopheles minimus menyukai aliran air deras sedangkan Anopheles
letifer menyukai air yang tergenang.
h. Kadar garam
Air payau yang kadar garamnya antara 12-18% menjadi tempat yang
optimal bagi pertumbuhan Anopheles sundaicus.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

24

2.

Lingkungan geografis
Tumbuhan bakau, lumut dan ganggang dapat mempengaruhi pertumbuhan

larva karena dapat menghalangi sinar matahari dan melindungi larva dari serangan
mahluk hidup lainnya (Abdullah, 2008).
Perkembangan dan distribusi spasial dan temporal nyamuk Anopheles
sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat, baik lingkungan fisik,
biotik maupun kultural. Onori dan Grab (1980) menyebutkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi transmisi malaria dapat dibedakan menjadi 2, yaitu 1) faktor
langsung, yang meliputi faktor entomologi, parasitologi, dan imunologi, serta 2)
faktor tak langsung, meliputi faktor klimatologis dan faktor lingkungan. Faktor
klimatologis meliputi: curah hujan, temperatur, dan kelembaban, faktor ingkungan
diklasifikasi menjadi 4 kelompok, yaitu (1) peningkatan vektor akibat aktivitas
manusia, (2) perubahan kebiasaan nyamuk dalam mencari makanan, (3) masuknya
parasit malaria, dan (4) migrasi orang yang tidak kebal. dalam penelitian
mengenai ekologi

Anopheles

di Fayoum Mesir, Hasan,

et al (2003),

menemukan keadaan fisik hidrologi yaitu rawa-rawa, kolam, irigasi dan lahan
sangat berperan bagi ekologi An. pharoensis dan An. Sergentii, jenis Anopheles
ini yang umumnya ada di Mesir.
Dalam penelitiannya Pramudiawati, (2001) di Kecamatan Salaman
Magelang menjelaskan, tersedianya tutupan vegetasi yang lebat dan bervariasi
dalam kebun campur dan hutan belukar, memberikan peluang sebagai tempat
istirahat nyamuk Anopheles.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

25

Berdasarkan pengukuran variabel iklim kelembaban udara pada kebun


campur dan hutan belukar relatif lebih tinggi dengan penggunaan lahan lainnya,
yaitu berkisar antara 65-68% dengan temperatur 29-32. Hal ini merupakan
tempat istirahat yang disukai nyamuk Anopheles setelah menghisap darah selama
menunggu perkembangan telur, atau istirahat sebelum mencari darah lagi. Selain
itu, adanya vegetasi yang lebat dan dalam kebun campur dan hutan belukar,
cenderung menjaga kelembaban udara, sehingga mampu menciptakan iklim mikro
yang kondusif bagi perkembangan nyamuk.
Servis (2000), menemukan bahwa tempat perindukan Anopheles sundaicus
dan Anopheles subpictus adalah kolam dan rawa. WHO (1996) melaporkan,
bahwa meningkatnya ketinggian air laut dan bertambahnya banjir di daerah pantai
akan menyebabkan bertambahnya air payau hal ini akan berpengaruh pada
Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus.

Keadaan geografis dan

meteorologi suatu daerah sangat mempengaruhi kehidupan vektor dan transmisi


malaria (Abdullah, 2008).
Peningkatan kepadatan Anopheles, selain dapat disebabkan oleh faktor
alam, dapat pula disebabkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia tersebut
antara lain pembangunan konstruksi saluran irigasi, saluran drainase, genangan air
akibat penanganan sistem irigasi yang tidak benar. Hubungannya pengelolaan
sawah dengan peningkatan nyamuk Anopheles adalah dalam hal tersedianya
genangan air dalam waktu tertentu pada lahan sawah. Hal ini dimanfaatkan oleh
nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

26

Wood, et al (1992) melakukan pemetaan peta tematik menggunakan


landsat dengan

resolusi 30 meter, kembali menemukan kepadatan nyamuk

Anopheles yang tinggi pada sawah produksi di California. Tempat yang paling
disenangi oleh nyamuk Anopheles aconitus adalah tempat air yang jernih dan
mengalir lambat , seperti daerah persawahan, saluran irigasi, serta kolam ikan
dengan tanaman rumput-rumputan. Astati (1995) dalam penelitiannya di Kulon
Progo, menemukan tempat perindukan Anopheles maculetus pada kubakankubakan kecil dengan air yang jernih tidak mengalir, terlindung daun-daun
disekitar tepi sungai, sedang tempat istirahatnya adalah pada semak belukar yang
rimbun terlindung oleh daun kayu semak belukar di tepi sungai.
Hutan berperan penting dalam kehidupan nyamuk sebagai tempat
peristirahatan dan mencari perlindungan dari perubahan cuaca yang terjadi seharihari. Beck et al (1994) dalam penelitiannya dengan menggunakan teknik GIS
(Geographic Information System), menemukan kepadatan nyamuk jenis An.
albimanus di padang rumput tempat makan ternak, hutan bakau, rawa-rawa, hutan
belukar, perkebunan pisang, tanaman musiman, lahan pertanian, air yang
menggenang di rawa-rawa, tumbuh-tumbuhan di tepi sungai dengan jarak satu
kilometer, timbul kasus malaria.
2.5 Siklus Hidup Plasmodium
Siklus hidup semua spesies parasit malaria pada manusia adalah sama,
yaitu mengalami perpindahan dari vektor nyamuk ke manusia dan kembali lagi ke
nyamuk. Siklus yang berlangsung pada tubuh nyamuk Anopheles disebut dengan
siklus seksual (stadium nyamuk/sporogoni). Sedangkan pada tubuh manusia

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

27

disebut siklus hidup aseksual, yang terdiri atas fase ekso-eritrosit yang
berlangsung pada sel parenkin hepar (stadium hati / stadium ekso-eritrosit/
skizogoni ekso-eritrositik) Parasit dari genus Pasmodium tumbuh dan berkembang
biak di dalam tubuh nyamuk Anopheles menjadi infekitf sebelum ditularkan
kepada orang yang sehat (Sorontou, 2013).
2.6 Manusia yang rentan terhadap infeksi malaria
Secara alami penduduk di suatu daerah endemis malaria ada yang mudah
dan ada yang tidak mudah terinfeksi malaria, meskipun gejala klinisnya ringan.
Perpindahan penduduk dari dan ke daerah endemis malaria hingga kini masih
menimbulkan masalah. Sejak dulu, telah diketahui bahwa wabah penyakit ini
sering terjadi di daerah-daerah pemukiman baru, seperti di daerah perkebunan dan
transmigrasi. Hal ini terjadi karena pekerja yang datang dari daerah lain belum
mempunyai kekebalan sehingga rentan terinfeksi (Harmaendo, 2008)
2. 7 Faktor-faktor yang Berperan dalam Terjadinya Malaria
Meningkatnya kasus malaria ditentukan oleh banyak faktor. Perubahan
tata guna tanah dan aktifitas pembangunan yang tidak terencana dengan baik
terkadang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan
menguntungkan bagi perkembangbiakan nyamuk (Saikhu, 2011)
WHO juga mengemukakan bahwa rusaknya infrastuktur pelayanan
kesehatan,

perubahan

iklim dan

lingkungan, konflik akibat

perpindahan

penduduk, meningkatnya kemiskinan dan munculnya resistensi parasit terhadap


obat merupakan faktor-faktor

lainnya

dalam

peningkatan kasus

penyakit

malaria. Distribusi tempat dan waktu vektor malaria dipengaruhi oleh topografi,

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

28

temperatur, curah hujan, pemanfaatan lahan, migrasi, dan perusakan hutan


meningkatnya

epidemi

malaria juga disebabkan oleh kegagalan program

pemberantasan (Saikhu, 2011)


1 . Faktor Agent ( penyebab infeksi)
Untuk kelangsungan hidupnya, Plasmodium sebagai penyebab infeksi
memerlukan 2 macam siklus, yaitu:
a. Siklus di luar sel darah merah (siklus preeritrositer)
Siklus ini berlangsung di dalam sel hati. Jumlah merosoit yang
dikeluarkan skizon hati berbeda untuk setiap spesies. P. falciparum menghasilkan
40.000 merosoit, P. vivax lebih dari 10.000, P. ovale 15.000 merosoit. Di dalam
sel darah merah membelah, sampai sel darah merah

tersebut pecah. Setiap

merosoit dapat menghasilakn 20.000 sporosoit. Pada P. vivax dan P. ovale ada
yang ditemukan dalam bentuk laten di dalam sel hati dan disebut hipnosoit
sebagai suatu fase dari siklus hidup parasit yang dapat menyebabkan penyakit
kumat/kambuh (long term relapse).
Bentuk hipnosoit dari P. vivax bisa hidup sebagai dormant stage sampai
beberapa tahun. Sejauh ini diketahui bahwa P. vivax dapat kambuh berkali-kali
sampai jangka waktu 34 tahun, sedangkan P.ovale sampai bertahun-tahun, bila
pengobatan tidak adekuat. P. falciparum dapat persisten selama 12 tahun dan P.
malariae sampai 21 tahun. (Depkes, 2003).
b. Siklus di dalam sel darah merah (eritrositer)
Siklus skizogoni eritrositer yang menimbulkan demam. Merosoit masuk
kedalam darah kemudian tumbuh dan berkembang menjadi 924 merosoit

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

29

(tergantung spesies). Pertumbuhan ini membutuhkan waktu 48 jam untuk malaria


tertiana (P. falciparum, P.vivax dan P.ovale), serta 72 jam untuk malaria quartana
(P. malariae).
Fase gametogoni yang menyebabkan seseorang menjadi sumber penular
penyakit bagi vektor malaria. Beberapa parasit tidak mengulangi siklus seksual,
tetapi berkembang menjadi gametosit jantan dan gametosit betina. Gametosit pada
P.vivax dan P.ovale timbul 23 hari sesudah terjadi parasitemia, P. falciparum 6
14 hari dan P. malariae beberapa bulan kemudian (Depkes, 2003).
2. faktor Lingkungan
Menurut Mukono (2000) dalam Yudhastuti (2011), bahwa yang dimaksud
lingkungan merupakan faktor ekstrinsik yang terdiri dari lingkungan fisik,
biologis dan sosial. Salah satu cara pendekatan untuk menunjukkan hubungan
antara lingkungan manusia adalah : model roda. Model tersebut mengandung
pusat genetik (genetic core) dibagian central dan dibagian luarnya adalah inang
(host), dan di sekelilingnya terdapat tiga sektor lingkungan yaitu fisik, biologi dan
soaial.
Perkembangbiakan nyamuk akan baik pada keadaan lingkungan yang
sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap terjadinya distribusi, prevalensi dan insidensi penyakit malaria di suatu
wilayah tertentu, mencakup kondisi lingkungan fisik, biologis, kimia dan sosial
ekonomi penduduk (Yudhastuti, 2011)

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

30

2. 8 Kriteria Penentuan Daerah Prioritas Malaria


Penentuan suatu daerah berpotensi terjadi malaria adalah dengan
melakukan stratifikasi, stratifikasi daerah malaria meliputi daerah bebas yaitu desa
yang terletak di daerah kabupaten/kota yang tidak reseptif, tidak ada penularan
selama tiga tahun terakhir. Sedangkan yang termasuk daerah malaria adalah desa
yang reseptif sehingga masih terjadi penularan atau kondisi lingkungan yang
berpotensi terjadi penularan malaria (Yudhastuti, 2011)
Penentuan kriteria daerah prioritas malaria dapat dilihat dari dua aspek
penting yaitu pertama adalah prioritas masalah meliputi desa yang pernah terjadi
kejadian luar biasa (KLB) dan prioritas berdasarkan rangking epidemiologis dan
yang kedua adalah prioritas program meliputi prioritas nasional seperti desa
transmigrasi baru, desa di daerah pembangunan sosial ekonomi (perkebunan,
pertambangan,

hutan

tanaman

industri),

dan

prioritas

program

daerah

(pengembangan daerah pariwisata) (Yudhastuti, 2011).


2. 9 Upaya Pengendalian Malaria
Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah
maupun sedang dilakukan baik dalam skala global maupun nasional. Malaria
merupakan salah satu indikator dari target Pembangunan Milenium (MDGs),
dimana ditargetkan untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi kejadian
insiden malaria pada tahun 2015 yang dilihat dari indikator menurunnya
angka kesakitan dan angka kematian akibat malaria (KemenKes RI, 2011)
Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan
Menteri

TESIS

Kesehatan

RI

No

293/MENKES/SK/IV/2009.

Analisis Ecososial Terhadap .....

Pelaksanaan

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

31

pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu


pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya
masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai
tahun 2030. Status Indonesia masih tahap pertama yaitu pada eliminasi
malaria di DKI, Bali dan Barelang Binkar pada tahun 2010.
Untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria
dapat dilakukan melalui

program

pemberantasan malaria

yang

memiliki

kegiatan antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat,
surveilans dan pengendalian vektor yang kesemuanya bertujuan untuk memutus
mata rantai penularan malaria.
Indikator

keberhasilan

Rencana

Strategis

Kementerian

Kesehatan

Tahun 2010-2014 adalah menurunkan angka kesakitan malaria dan kematian


penyakit malaria, pada tahun 2015 menjadi 1 per 1.000 penduduk dari baseline
tahun 1990 sebesar 4,7 per 1.000 penduduk. Indikator lain yang perlu
diperhatikan adalah target MDGs yaitu angka kematian malaria dan proporsi
balita yang tidur dalam perlindungan kelambu berinsektisida dan proporsi balita
yang diobati (KemenKes RI, 2011)
1. Pemakaian Kelambu
Pemakaian kelambu adalah salah satu dari upaya pencegahan penularan
penyakit malaria. Melalui bantuan Global Fund (GF) komponen malaria ronde
1 dan 6 telah dibagikan kelambu berinsektisida ke 16 provinsi.
2. Pengendalian Vektor

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

32

Untuk meminimalkan penularan malaria, maka dilakukan upaya


pengendalian terhadap Anopheles sp sebagai nyamuk penular malaria.
Beberapa upaya pengendalian vektor yang dilakukan misalnya terhadap
jentik dilakukan larviciding (tindakan pengendalian larva Anopheles sp secara
kimiawi, menggunakan insektisida), biological control (menggunakan ikan
pemakan

jentik), manajemen

lingkungan,

dan

lain-lain.

Pengendalian

terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan penyemprotan dinding rumah


dengan insektisida (IRS/ indoors residual spraying) atau menggunakan
kelambu berinsektisida.
Namun perlu ditekankan bahwa pengendalian vektor harus dilakukan
secara REESAA

(rational, effective, efisien, suntainable, affective dan

affordable) mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan bionomik


vektor yang beraneka ragam sehingga pemetaan breeding places dan perilaku
nyamuk menjadi

sangat penting. Untuk itu diperlukan peran pemerintah

daerah, seluruh stakeholders dan masyarakat dalam pengendalian vektor


malaria.
3. Diagnosis dan Pengobatan
Selain pencegahan, diagnosis dan pengobatan malaria juga merupakan
upaya pengendalian malaria yang penting. Pemeriksaan Sediaan Darah (SD)
untuk diagnosis malaria merupakan salah satu hal yang perlu dilihat. Untuk
pemeriksaan sediaan darah dari tahun 2008 sampai tahun 2010 terjadi
peningkatan penderita malaria klinis yang diperiksa sediaan darahnya. Pada
tahun 2008 dari 1.912.698 malaria klinis diperiksa sediaan darahnya hanya

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

33

921.599 (48,18%). Tahun 2009 dan 2010 malaria klinis yang diperiksa sedian
darahnya sudah di atas 50% (tahun 2009 sebesar 75,61%, tahun 2010 sebesar
64,44%).
Pencapaian ini dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan dengan
dukungan dari pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjaminan
ketersediaan bahan/reagen lab/mikroskospis malaria, kemampuan petugas
kesehatan, jangkauan pelayanan kesehatan dan ketersediaan obat malaria. Pada
tahun 2009-2010, beberapa provinsi telah melaporkan bahwa seluruh kasus
malaria klinis (100%) diperiksa sediaan darahnya, pada tahun 2009 sebanyak
6 provinsi dan tahun 2010 sebanyak 3 provinsi.
2.10 Penyebaran malaria
Malaria adalah penyakit yang penyebarannya di dunia sangat luas, yakni
antara garis bujur 600 di Utara dan 400 di Selatan yang meliputi lebih dari 100
negara yang beriklim tropis. Penduduk yang beresiko terhadap malaria berjumlah
2,3 miliar atau 41% dari penduduk dunia. Setiap kasus malaria berjumlah 300-500
juta dan mengakibatkan 1,5 sampai dengan 2,7 juta kematian, terutama di Afrika
Sub-Sahara. Wilayah di dunia yang kini sudah bebas dari malaria adalah Eropa,
Amerika Utara, sebagian besar Timur Tengah, sebagian besar Karabia, sebagian
besar Amerika Selatan, Australia dan Cina.WHO mencatat setiap tahun tidak
kurang 1 hingga 2 juta penduduk meninggal karena penyakit yang disebarluaskan
nyamuk Anopheles itu.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

34

2.11 Surveilans terhadap penyakit malaria


System surveilans merupakan suatu metode utama dalam pengendalian
malaria. Sistem surveilans malaria hanya mampu mendeteksi sekitar 14% dari
jumlah global malaria yang diperkirakan kasus. Sistem surveilans malaria sangat
dibutuhkan untuk mengaktifkan respon malaria secara dini. Kegiatan system
surveilans

efektif dilakukan di daerah-daerah endemis malaria. Kegiatan

surveilans berfungsi untuk mencegah terjadinya wabah, terjadinya kasus KLB


pada daerah endemis malaria, melacak perkembangan kasus, dan untuk
memastikan agar pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab terhadap
penyakit malaria secara global.
Pada bulan April 2012, Direktur Jenderal WHO meluncurkan panduan
pedoman system surveilans yang baru untuk pengendalian malaria dan eliminasi,
mereka mendesak negara-negara yang memiliki tingkat endemis tinggi untuk
memperkuat sistem surveilans mereka terhadap kasus malaria. Hal ini tercantum
dalam buku besar pedoman kegiatan surveilans yaitu untuk melakukan
peningkatan secara tes diagnostik, pengobatan dan pengawasan terhadap malaria,
yang dikenal sebagai T3 WHO: yaitu Test, Treat, Track initiative. (WHO, 2014)
2.12 Eliminasi penyakit malaria
Eliminasi malaria didefinisikan sebagai suatu cara untuk mengganggu atau
mencegah transmisi malaria yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles di suatu
wilayah geografis yang ditetapkan , yaitu nol kejadian kasus dengan diputus
penularannya secara lokal. Sedangkan pemberantasan malaria didefinisikan
sebagai penurunan permanen ke nol dari kejadian di seluruh dunia infeksi malaria

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

35

yang disebabkan oleh agen tertentu ; yaitu berlaku untuk spesies parasit malaria
tertentu.
Laporan WHO (World Health Organisation) menyebutkan bahwa pada
tahun 2012 , 52 negara berada di jalur untuk mengurangi tingkat kejadian malaria
mereka dengan 75 % , sejalan dengan yang di target World Health Assembly
untuk tahun 2015 . Untuk selanjutnya strategi WHO adalah merekomendasikan
kepada negara yang termasuk ke dalam daerah endemis malaria tinggi untuk
menyediakan alat-alat dalam pengendalian kasus malaria, memiliki komitmen
nasional yang kuat, dan berupaya berkoordinasi dengan mitra. Sehingga nantinya
akan memungkinkan lebih banyak negara lagi khususnya Negara dengan
penularan malaria rendah untuk berpartisipasi dalam mengurangi beban penyakit
dan meningkatkan aktivitas eliminasi .
2. 13 Ilmu lingkungan
Ilmu Lingkungan adalah suatu studi interaksi antara manusia dan
lingkungan sekitarnya, baik mahluk hidup ataupun non mahluk hidup. Saat
penduduk dunia mulai berkembang, serta teknologi mutakhir dan kebutuhan
manusia

dan keinginan bertambah, dampaknya bagi dunia menyeluruh dan

memprihatinkan, walaupun perbaikan dan pelestarian berusaha dilakukan di


berbagai

tempat. Dampak

Lingkungan,

pada

dasarnya,

mempengaruhi

kesehatan manusia dan kesejahterannya (Pardieck, 2005).


Ilmu Lingkungan menurut Wisegeek (2011), orang yang bekerja atau
belajar di suatu bidang akan berfokus pada masalah masalah seperti polusi,
konservasi air, atau mencari suatu sumber energi baru. Ilmu Lingkungan dan

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

36

Teknologi keduanya mempunyai disiplin ilmu tersendiri. Bidang bidang ini


menggabungkan berbagai ilmu dan teknologi dalam suatu cara sehingga
sering sulit di uraikan secara definitif atau menciptakan suatu definisi yang
nyata bagi suatu karya yang nyata, melakukan pengawasan industri, mengelola
tanah, dan bahkan pengamatan para ahli semuanya merupakan layanan ilmu
lingkungan yang sangat penting. Diantaranya bersifat teknis dan yang
lainnya berupa latihan tingkat lanjut.
Hubungan

manusia

dan

lingkungan

alam

menjadi

kunci

bagi

keberhasilan pembangunan. Karena itu pada masyarakat tradisional telah


ditunjukkan hubungan manusia dan lingkungan sangat begitu dekat dan bahkan
diwujudkan dalam mitos serta larangan yang berupa tabu untuk melakukan
kontak dengan lingkungan alam itu sendiri seperti diandaikan larangan untuk
ke hutan karena sedang musim kawin rubah, namun demi keselamatan
manusia itu sendiri (Sugandhy, 2009).
Selain itu juga lingkungan bagi manusia adalah tempat untuk beraktivitas,
baik atau buruknya lingkungan sejalan dengan keadaan manusia yang
menempatinya. Konsep pemikiran mengenai faktor lingkungan hidup yang
memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan
manusia dikenal sebagai ilmu kesehatan lingkungan (triwibowo dan Pusphandani,
2013)
Kesehatan lingkungan memiliki prinsip yang harus dipenuhi yaitu
memutus mata rantai terjadinya gangguan kesehatan dan penyakit, melanjutkan
dan melestarikan gaya hidup sehat sebagai suatu parameter umum akan

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

37

kebersihan, kesehatan, keamanan dan kenyamanan, serta bersifat holisme,


multidisipliner dalam menyelesaikan sesuatu permasalahan dan terintegrasi dalam
mewujudkan kesehatan lingkungan hidup beserta masyarakat (Triwibowo dan
Pusphandani, 2013)
2.14 Ekologi lingkungan
Dalam buku irwan (2012) dijelaskan bahwa ekologi mempunyai
perkembangan yang berangsur-angsur sepanjang sejarah. Dimulai pada abad ke16 dan ke-17 yang timbul dari natural history dan kemudian berkembang menjadi
satu ilmu yang sistematik, yaitu ekologi. Yang dikemukakan oleh Ernest Haeckel
(1834-1919) pada tahun 1860. Sekitar tahun 1990 ekologi diakui sebagai ilmu dan
berkembang terus dengan cepat, apalagi di saat dunia sangat peka dengan masalah
lingkungan dalam mengadakan dan memelihara mutu peradaban manusia. Ekologi
berasal dari bahasa yunani yaitu oikos dan logos. Arti kata oikos yang berarti
rumah atau tempat tinggal, dan logos berarti telaah atau studi. Jadi ekologi
adalah ilmu tentang rumah atau tempat tinggal makhluk. Biasanya ekologi
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungannya. Yang dimaksud dengan makhluk hidup
disini adalah kelompok makhluk hidup. Suatu kawasan alam yang
didalamnya tercakup unsur-unsur hayati (organisme) dan unsur-unsur non hayati
(zat-zat tak hidup) serta antara unsur-unsur tersebut terjadi hubungan timbal
balik disebut sistem ekologi atau sering dinamakan ekosistem.

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

38

2.15 Ekosistem
Ekosistem adalah suatu proses yang terbentuk karena adanya hubungan
timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, dimana ada komponen
biotik (hidup) dan abiotik (tidak hidup) yang terlibat dalam suatu ekosistem.
Di alam terdapat organisme hidup (Makhluk hidup) dengan lingkungannya
yang tidak hidup saling berinteraksi berhubungan erat. Didalam system tersebut
terdapat dua aspek penting yaitu arus energi dan daur materi. Arus energi dapat
terlihat pada struktur makanan, keragaman biotik dan siklus bahan, yaitu
terjadinya pertukaran bahan-bahan antara bagian yang hidup dan tidak hidup
(Irwan, 2012)

TESIS

Analisis Ecososial Terhadap .....

Ahmad Ruhardi