Anda di halaman 1dari 22

Tekanan Formasi

Tekanan merupakan efek yang diakibatkan oleh gaya yang bekerja pada suatu area. Pressure
(tekanan) dapat dikatakan sebagai jumlah gagya yang bekerja per satuan unit area. Tekanan lebih
sering digunakan untuk istilah gaya yang bekerja pada fluida. Tekanan pada fluida bernilai sama
dalam segala arah. Nilai dari tekanan dipengaruhi oleh kedalaman dan massa jenis fluida.
Semakin dalam maka tekanan fluida akan semakin besar. Tekanan terdapat dua jenis, yaitu
tekanan absolut dan tekanan relatif, tekanan absolut memperhitungkan nilai tekanan dari suatu
titik beserta tekanan atmosfernya.
Apa yang dimaksud tekanan formasi? Tekanan formasi merupakan tekanan dari fluida yang
mengisi ruang pori pada batuan. Selama proses burial dan kompaksi, sedimen akan mengalami
konsolidasi dan mengakibatkan fluida yang ada di dalam batuan tersebut akan mengalami
dewatering (pengurasan fluida) sebagai akibat karena ruang pori di dalam batuan tersebut
semakin kecil. Semakin banyak sedimen yang terakumulasi di atas suatu formasi, maka tekanan
overburden semakin besar dan tekanan formasi akan cenderung meningkat seiring dengan
kedalaman. Hal ini akan menunjukkan adanya gradien hidrostatic pressure jika peningkatan
tekanan formasi sebanding dengan kedalaman. Setiap fluida memiliki nilai gradien tekanan yang
berbeda-beda karena tekanan berbanding lurus dengan massa jenis fluida. Air memiliki nilai
gradien paling besar diantara minyak dan gas yaitu sekitar 1,42 psi/m sedangkan minyak bernilai
1 psi/m dan gas memiliki gradien paling kecil yaitu 0,3 psi/m.

(Sumber http://www.glossary.oilfield.slb.com)
Terdapat tiga kondisi tekanan formasi / tekanan dalam reservoir dapat berupa kondisi normal
pressure, overpressure dan sub normal/depleted. Kondisi normal pressure atau hidrostatic

pressure terjadi ketika proses burial akan terjadi proses kompaksi, semakin dalam porositas
batuan akan menjadi lebih kecil. Karena porositas batuan semakin kecil, maka untuk
meimbanginya terdapat fluida keluar dengan mudah, tidak ada yang menghalangi jalan keluarnya
fluida tersebut.
Kondisi overpressure terjadi ketika terjadi kompaksi, fluida tidak dapat keluar dari ruang pori
sehingga terjadi undercompaction. Akibat adanya penambahan tekanan dari proses burial dan
fluida tidak dapat keluar maka tekanan akan ditopang oleh butir dan fluida di dalam batuan,
fluida akan menopang tekanan lebih besar sehingga terjadi kondisi overpressure. Dalam grafik,
kondisi overpressure dapat terlihat jika gradien tekanan formasi ada di sebelah kanan tekanan
normal. Kondisi geologi yang mempengaruhi terjadinya overpressure adalah ketika terjadi
pengendapan sedimen yang sangat cepat dan dalam jumlah banyak dalam waktu yang sangat
lama sehingga batuan mengalami kompaksi yang tidak normal (undercompaction). Umumnya
hal ini terjadi apabila batu serpih/lempung lebih dominan di banding batupasir, karena
permeabilitas betuserpih/ batulempung yang kecil sehingga fluida tidak dapat mengalir keluar.
Lingkungan pengendapan yang dapat mengakomodasi kondisi overpressure adalah delta dan laut
dalam.
Sub normal/depleted merupakan kondisi tekanan formasi di bawah kondisi tekanan hidrostatik.
Biasanya kondisi ini terjadi akibat di dalam formasi tersebut sudah diproduksi hidrokarbonnya
sehingga kondisinya di bawah normal.

(Sumber http://www.glossary.oilfield.slb.com)
Mengetahui kondisi tekanan formasi sangat penting karena perlu dilakukan pengawasan saat
proses pemboran, apabila melewati formasi dengan kondisi overpressure maka diperlukan
perawatan khusus agar tidak terjadi blowout. Ketika mengebor formasi dengan kondisi
overpressure, perlu diberikan lumpur pemboran yang densitasnya lebih besar untuk mengatasi

tekanan formasi tersebut. Ada beberapa kegunaan lain jika mengetahui kondisi tekanan formasi
yaitu untuk mengevaluasi maksimum kolom ketinggian hidrokarbon, mengevaluasi kontak antar
fluida dan gradien fluida untuk mengetahui tipe fluidanya dan dapat mengidentifikasi
kemungkinan terdapatnya barrier atau lapisan batuan yang memiliki permeabilitas yang kecil
atau shale yang tipis pada batuan reservoir sehingga dengan adanya barrier ini akan
mempengaruhi jumlah dan proses produksi hidrokarbon. Evaluasi kondisi tekanan formasi
sangat diperlukan karena operasi pemboran merupakan sesuatu yang sangat berisiko dan mahal.
Dengan keakuratan dalam mengestimasi tekanan formasi maka dapat dilakukan perencanaan
drilling dan well design (casing program) yang lebih baik dan lebih akurat serta pengoperasian
yang lebih aman dan efisien.

Mengontrol Tekanan Formasi

Pada formasi yang permeable, fluida yang berada disekitarnya akan mendapat tekanan sebagai
fungsi kedalaman sumur. Sehingga diperlukan lumpur pemboran dengan densitas yang memadai
untuk mengatasi tekanan formasi dan juga untuk menahan influks fluida agar tidak menghambur
ke dalam lubang sumur. Disini lumpur harus mampu memberikan suatu tekanan hidrostatik yang
cukup untuk mengimbangi tekanan formasi. Kondisi pemboran overbalanced dilakukan apabila
tekanan yang terjadi disebabkan oleh takanan kolom lumpur melebihi tekanan formasinya.
Sedangkan pemboran underbalanced biasanya dilakukan untuk mendiskripsikan tekanan yang
terjadi disebabkan oleh tekanan kolom lumpur terlalu kecil untuk menahan tekanan formasinya.
Tekanan formasi umumnya adalah sekitar 0.465 psi/ft kedalaman. Pada tekanan yang normal, air
dan padatan pemboran telah cukup untuk menahan tekanan formasi ini. Untuk tekanan yang
lebih kecil dari normal (subnormal), beberapa sumur dibor menggunakan lumpur dengan
densitas sekitar 9.5 ppg, densitas lumpur diperkecil agar lumpur tidak hilang masuk ke formasi.
Sebaliknya untuk tekanan lebih besar dari normal (abnormal), sumur biasanya dibor
menggunakan lumpur dengan densitas sekitar 18 ppg dengan menambahkan barite untuk
memperberat lumpur. Suatu situasi memerlukan lumpur berdensitas besar untuk kedalaman
dangkal dengan tekanan formasi yang tinggi dan mengandung gas, dan kemungkinan terjadi
kebocoran casing sehingga menyebabkan tekanan diatas normal. Lumpur dengan densitas yang
memadai diharapkan mampu menahan tekanan formasi selama proses pemboran untu mencegah
terjadinya blowout.
TEKANAN FORMASI DAN
GRADIEN REKAH

1. PENDAHULUAN
Pengetahuan tentang tekanan formasi (tekanan pori) adalah merupakan hal yang sangat penting,
karena tekanan formasi sangat berpengaruh terhadap casing design, densitas lumpur, laju
penembusan, problem pipa terjepit dan well control. Perkiraan dan penentuan zona yang
bertekanan tinggi sangat penting karena adanya resiko terjadinya blowout (semburan liar). Pada
umumnya air asin yang terperangkap pada zona-zona yang berasosiasi dengan lapisan shale yang
tebal terbebaskan selama proses sedimentasi berlangsung. Fenomena ini akan dijelaskan pada
pembahasan berikutnya.
Proses kompaksi dapat digambarkan dengan sebuah model sederhana yaitu berupa sebuah
selinder yang berisi suatu fluida dan sebuah pegas (mewakili matriks batuan). Overburden stress
dapat disimulasikan dengan menggunakan sebuah piston yang ditekan kebawah pada selinder.
Overburden ) dan tekanan fluida (p), maka :(S) ditahan oleh pegas (
+ p ...................................................(1)S =
Jika tekanan overburden bertambah (karena proses sedimentasi terus berlangsung) maka beban
tambahan tersebut harus ditahan oleh matriks dan fluida dalam pori. Pada formasi dimana fluida
dapat bergerak bebas maka kenaikan beban harus ditahan oleh matriks, sedangkan fluida yang
tersisa sebagai hidrostatik. Dalam kondisi tersebut maka tekanan formasi disebut Normal, dan
nilainya proporsional terhadap kedalaman dan densitas fluida. Tetapi jika formasi tersebut
tersekat sehingga fluida terperangkap, maka tekanan fluida tersebut akan bertambah diatas harga
hidrostatik. Kondisi ini disebut sebagai Overpressure (yaitu bagian dari beban overburden
ditransfer dari matriks ke fluida yang mengisi ruang pori). Luas bidang kontak antar butir tidak
dapat bertambah karena hadirnya air yang tidak kompresibel, maka pertambahan beban tersebut
akan ditransfer ke fluida, sehingga tekanan pori naik.

2. TEKANAN FORMASI NORMAL


Jika perlapisan sedimen terendapkan di dasar laut, maka butir-butir sedimen tersebut akan
terkompaksi satu dengan yang lain, sehingga air akan terperas dari dalam ruang pori. Jika proses
tersebut tidak terganggu, dan air bawah permukaan masih tetap berhubungan dengan laut
diatasnya melalui ruang pori yang saling berhubungan, maka akan menghasilkan tekanan
hidrostatik. Gradien hidrostatik (psi/ft) nilainya bervariasi tergantung dari densitas fluida. Pada
umumnya air asin di lapangan minyak mempunyai kadar mineral terlarut bervariasi antara 0
sampai 200.000 ppm. Sehubungan dengan hal itu, maka gradien hidrostatik nilainya bervariasi
antara 0,433 psi/ft (air murni) sampai sekitar 0,50 psi/ft. Pada umumnya secara geografis gradien

hidrostatik diambil sebesar 0,465 psi/ft (dengan asumsi kadar garam 80.000 ppm). Gradien ini
menunjukkan tekanan normal. Sedangkan untuk setiap tekanan formasi yang nilainya diatas atau
dibawah 0,465 psi/ft disebut tekanan abnormal (overpressured).
Besarnya bulk density dari suatu batuan ditentukan oleh matriks dan air yang mengisi ruang pori.
atau
..........................................(2)
dimana ;
b = bulk density batuan berpori
m = densitas matriks
f = densitas fluida dalam ruang pori
= porositas
Karena litologi dan kadar fluida tidak konstan, maka bulk density nilainya akan bervariasi
terhadap kedalaman.
Gradien overburden diturunkan dari tekanan yang dikenakan pada batuan diatas kedalaman
tertentu. Hal ini dapat dihitung dari spesific gravity yang bervariasi antara 2.1 (batupasir) sampai
2,4 (batugamping). Dengan menggunakan spesific gravity rata-rata = 2,3, maka gradien
overburden dapat dihitung :
2,3 x 0,433 = 0,9959 psi/ft.
Pada umumnya untuk perhitungan nilai gradien overburden dibulatkan menjadi 1 psi/ft, dan
gradien overburden juga sering disebut sebagai gradien geostatik. Harus diingat bahwa gradien
overburden nilainya bervariasi terhadap kedalaman karena kompaksi dan perubahan litologi,
sehingga nilainya tidak dapat dianggap konstan.

3. TEKANAN ABNORMAL
Tekanan abnormal didifinisikan sebagai tekanan yang menyimpang dari gradien tekanan normal.
Penyimpangan tersebut dapat Subnormal (kurang dari 0,465 psi/ft) atau Overpressured/Tekanan
Abnormal (lebih besar dari 0,465 psi/ft). Secara umum tekanan subnormal jarang sekali dijumpai
dan dapat menyebabkan masalah yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan overpressure.
Tekanan abnormal terjadinya sangat berkaitan erat dengan adanya sealing mechanism.
Penyekatan (sealing) mencegah adanya ketetimbangan tekanan yang terjadi dalam urutan proses
geologi. Sekat (seal) terbentuk oleh adanya penghalang permeabilitas (permeability barrier) yang
dihasilkan dari proses fisik maupun kimiawi.

Penyekat fisik (physical seal) dapat terbentuk dari efek gravitasi patahan selama proses
pengendapan atau pengendapan dari bahan dengan ukuran butir yang lebih halus. Penyekat
kimiawi (chemical seal) terbentuk karena adanya pengendapan kalsium karbonat, sehingga akan
mengakibatkan terjadinya penghalang permeabilitas rata-rata. Contoh lain dari adanya diagenesa
kimia selama proses kompaksi adalah bahan organik. Baik proses fisika maupun kimia
kemuanya akan menyebabkan terbentuknya penyekat, seperti proses pelarutan gypsum.

3.1. Tekanan Subnormal


Mekanisme terbentuknya tekanan subnormal (lebih kecil dari tekanan hidrostatik) dapat
dijelaskan sebagai berikut :
(a) Ekspansi Panas (Thermal Expansion)
Karena batuan sedimen dan fluida yang mengisi pori berada pada lingkungan yang dalam,
dimana temperatur juga mengalami kenaikan, maka fluida akan mengembang. Hal ini akan
menyebabkan penurunan densitas, dan akibatnya tekanan akan berkurang.
(b)Formation Shortening
Selama proses kompresi berlangsung akan menyebabkan perlapisan batuan terlipat (bagian atas
terlipat ke atas, sedangkan bagian bawah terlipat ke bawah), sehingga perlapisan bagian tengah
akan mengembang, sehingga mengakibatkan terjadinya tekanan subnormal
(c) Deplesi
Jika hidrokarbon atau air diproduksikan dari formasi yang tidak mengalami efek subsidence,
maka akan menyebabkan terjadinya tekanan subnormal. Hal ini sangat penting jika pemboran
sumur dikembangkan pada reservoir yang telah lama diproduksikan. Sebagai contoh, gradien
tekanan akuifer di salah satu lapangan minyak di Texas besarnya hanya 0,36 psi/ft.
(d) Penguapan
Pada daerah kering, seperti di Timur Tengah batas water table dapat berada pada kedalaman
ratusan meter dari permukaan, hal ini akan menurunkan tekanan hidrostatik.
(e) Permukaan Potensiometrik
Permukaan potensiometris ini mengikuti relief formasi dan dapat menghasilkan baik tekanan
subnormal maupun tekanan tinggi (overpressure). Permukaan potensiometris didefinisikan
sebagaibatas ketinggian kenaikan air yang dibor dari aquifer yang sama. Permukaan
potensiometris dapat berada ribuan foot diatas atau dibawah permukaan tanah
(f) Pergeseran Epirogenik

Perubahan elevasi dapat menyebabkan terjadinya tekanan abnormal pada formasi yang terbuka
secara lateral, tetapi dibagian lainnya tersekat. Jika singkapan arahnya naik akan menghasilkan
tekanan tinggi, dan jika arahnya ke bawah akan menghasilkan tekanan subnormal.
Perubahan tekanan jarang disebabkan oleh adanya perubahan elevasi saja, tetapi juga karena
adanya proses erosi dan pengendapan. Adanya kehilangan atau pertambahan saturasi air pada
batuan sedimen juga penting.
Batas besarnya tekanan subnormal kurang diperhatikan dalam praktek di lapangan.

3.2. Tekanan Formasi Abnormal (Overpressured Formation)


Ada beberapa formasi yang tekanan porinya lebih besar dibanding dengan kondisi normal
(gradien 0,465 psi/ft). Tekanan formasi dapat diplot antara gradien hidrostatik dan gradien
overburden (1 psi/ft). Beberapa contoh tekanan tinggi yang telah dilaporakan adalah :
Gulf Coast 0,8 - 0,9 psi/ft.
Iran 0,71- 0,98 psi/ft
North Sea 0,5 - 0,9 psi/ft
Carpathian Basin 0,8 - 1,1 psi/ft.
Dari data tersebut diatas terlihat bahwa tekanan abnormal dapat dijumpai di seluruh dunia.
Mekanisme terbentuknya tekanan abnormal ada berbagai faktor, diantaranya adalah permukaan
potensiometris dan penyusutan formasi (formation foreshortening).

Selain itu, mekanisme terbentuknya tekanan abnormal juga dapat disebabkan oleh :
(a). Kompaksi Sedimen yang tidak Sempurna
Pada proses pengendapan clay atau shale yang sangat cepat, maka air yang terbebaskan sangat
kecil. Pada kondisi normal porositas awal yang tinggi (+/-50%) akan berkurang karena air
terperas keluar melaui struktur pasir yang permeabel atau melalui penyaringan dari clay/shale itu
sendiri. Jika proses sedimentasi terlalu cepat, sehingga tidak terjadi proses pembebasan air,
akibatnya air akan terperangkap dan selanjutnya menahan tekanan overburden.
(b). Patahan
Patahan dapat merubah struktur batuan sedimen, sehingga zona permeabel berhadapan dengan
zona impermeabel. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penghalang bagi aliran fluida,
akibatnya air tidak dapat keluar dari shale dan selanjutnya akan menghasilkan tekanan abnormal.

(c). Perubahan Fasa Selama Proses Kompaksi


Mineral dapat mengalami perubahan fasa dengan naiknya tekanan, seperti gypsum + anhydrite +
air bebas. Diperkirakan bahwa lapisan gypsum setebal 50 ft akan menghasilkan kolom air
setinggi 24 ft. Sebaliknya anhydrite dapat terhidrasi pada kedalaman untuk menghasilkan
gypsum dengan peningkatan volume sampai 40%. Transformasi montmorillonite menjadi illite
juga akan melepaskan sejumlah air.
(d). Deposisi Batu Garam Masif
Deposisi batu garam dapat terjadi karena batu garam bersifat impermeabel, sehingga fluida
dalam formasi yang berada dibawahnya akan menghasilkan tekanan abnormal. Tekanan
abnormal biasanya dijumpai pada zona-zona dibawah perlapisan batu garam.
(e). Salt Diaperism
Gerakan keatas dari kubah garam yang berdensitas rendah karena adanya efek apung (bouyancy)
yang mengganggu perlapisan sedimen akan menghasilkan anoma;i tekanan. Garam juga dapat
berfungsi sebagai penghalang (impermeable seal) terhadap pembebasan air dari clay secara
lateral.
(f). Kompresi Tektonik
Kompresi lateral sedimen dapat menghasilkan pengangkatan sedimen lapuk atau perlipatan
sedimen yang lebih kuat, sehingga formasi yang secara normal terkompaksi akan naik ke bagian
yang lebih tinggi. Jika tekanan mula tetap, maka pengangkatan formasi tersebut dapat
menghasilkan tekanan abnormal.
(g). Migrasi Fluida
Migrasi fluida dari zona tekanan tinggi ke zona yang lebih dangkal yaitu dengan melalui patahan
atau dari casing/semen yang buruk akan dapat menyebabkan terjadinya kick, karena perubahan
litologi tidak dapat mendeteksi adanya tekanan yang tinggi. Dengan kata lain, bahwa tekanan
abnormal dapat terjadi pada formasi-formasi dangkal jika terjadi migrasi gas dari formasiformasi dibawahnya.

(h). Pembentukan Hidrokarbon

Shale yang terendapkan dengan sejumlah bahan-bahan organik akan menghasilkan gas, karena
bahan organik akan terdegradasi pada saat proses kompaksi. Jika gas tersebut tidak terbebaskan,
maka akan berkembang menjadi tekanan abnormal. Produk organik juga membentuk garam yang
akan terendapkan dalam ruang pori, sehingga akan menurunkan porositas dan menghasilkan
suatu penghalang (seal).

4. PROBLEM PEMBORAN YANG BERKAITAN DENGAN


TEKANAN FORMASI
Jika pemboran menembus formasi dengan tekanan hidrostatik lumpur yang cukup memadai,
maka dapat mencegah :
1. lubang bor runtuh dan
2. masuknya fluida formasi.
Untuk mencapai kondisi tersebut, maka tekanan hidrostatik lumpur harus sedikit lebih besar dari
tekanan formasi (disebut sebagai overbalance). Tetapi jika overbalance terlalu besar akan
menyebabkan :
1. Menurunkan laju penembusan (chip hold down effect)
2. Hilang lumpur (aliran lumpur masuk ke formasi)
3. Rekah formasi (melebihi gradien rekah formasi)
4. Pipa terjepit (differntial pressure pipe stuck).
Tekanan formasi juga berpengaruh terhadap perencanaan casing. Jika zona tekanan abnormal
berada diatas zona subnormal, maka densitas lumpur yang sama tidak dapat digunakan pada
kondisi tersebut (karena zona bawah akan rekah). Untuk itu, maka zona atas harus dipasang
casing, agar berat lumpur dapat diturunkan untuk melanjutkan pemboran pada zona bawah.
Problem umum yang sering terjadi adalah penempatan surface casing terlalu tinggi, sehingga
ketika pemboran menembus zona tekanan abnormal kick tidak dapat disirkulasikan keluar
dengan lumpur berat karena terjadi rekah formasi pada zona atas yang tidak dipasang casing.
Setiap rangkaian casing harus dipasang pada kedalaman maksimum berdasarkan data gradien
rekah formasi. Jika hal ini tidak dilakukan, maka harus dipasang casing tambahan atau liner
sebagai protektor. Hal ini bukan saja mahal, tetapi juga akan memperkecil diameter lubang bor,
sehingga akan menimbulkan masalah pada saat sumur dikomplesi.
Berdasarkan hubungan antara tekanan formasi dengan problem-problem pemboran, maka
tekanan formasi abnormal harus diidentifikasikan sebelum perencanaan program pemboran
dilakukan.

5. ZONA TRANSISI
Perubahan tekanan fluida dari normal menjadi abnormal pada suatu interval zona impermeabel
disebut sebagai zona transisi, yaitu akibat adanya air konat yang terperangkap pada saat proses
sedimentasi. Jika zona transisi berupa lapisan shale yang tebal, maka tekanan formasi secara
gradual bertambah besar. Zona transisi ini dicirikan oleh adanya perubahan gradien tekanan
secara menyolok. Dibawah zona transisi abnormal gradien tekanan mengecil lagi. Variasi
tekanan formasi pada sumur yang bertekanan abnormal. Zona transisi memberikan indikasi
kepada kru pemboran supaya menyadari bahwa mereka akan menembus zona tekanan abnormal.

MASALAH PEMBORAN
(HOLE PROBLEMS)
Masalah-masalah yang berhubungan dengan pemboran sumur minyak sebagian besar disebabkan
oleh karena adanya gangguan keseimbangan terhadap tegangan tanah (earth stress) di sekitar
lubang bor yang disebabkan akibat adanya aktivitas pembuatan lubang bor itu sendiri, dan
adanya interaksi antara lumpur pemboran dengan formasi yang ditembus.
Tegangan tanah bersama dengan tekanan formasi berusaha untuk mengembalikan keseimbangan
yang telah ada sebelumnya, dengan cara mendorong lapisan batuan untuk bergerak ke arah
lubang bor.
Untuk itu, lubang bor harus dijaga stabilitasnya dengan cara menyeimbangkan tegangan tanah
dan tekanan formasi di satu sisi dengan tekanan lumpur pemboran di sekitar lubang bor serta
komposisi kimia lumpur pada sisi yang lain.
Dalam modul ini akan diuraikan secara singkat tentang masalah-msalah yang paling sering
terjadi pada saat operasi pemboran berlangsung. Sebagian besar materi modul ini diambil dari
beberapa artikel maupun literatur terbaru yang pada saat ini banyak digunakan dalam industri
perminyakan.
Masalah pemboran (hole problems) secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :
1. Pipa Terjepit (Pipe Stuck)
2. Sloughing Shale, dan
3. Hilang sirkulasi (Lost Circulation)

Tekanan Formasi
Pada tekanan Formasi di kenal tiga macam :

Tekanan Overbourden

Tekanan fluida formasi

Tekanan Rekah formasi


2.1.1. Tekanan Overbourden
Tekanan yang diakibatkan oleh seluruh beban yang berada di atas suatu
kedalaman tertentu tiap satuan luas di derita fluida akibat beban batuan diatasnya.
P = Go x D
Go = gradient tekanan Overbourden psi / ft
D = kedalaman
2.1.2. Tekanan fluida formasi, terdapat :
2.1.2.1.

Tekanan fluida formasi normal


Tekanan fluida (minyak, gas, air) yang bekerja pada pori pori batuan.

Secara hidrostatis untuk keadaan normal sama dengan keadaan tekanan kolom cairan
yang ada didalam dasar formasi sampai ke permukaan. Bila isi dari kolom yang terisi
cairannya bebeda, maka besarnya tekanan hidrostatik berbeda, untuk kolom air tawar

sebebsar 0.433 psi/ft dan untuk kolom air asin gradient tekanan hidrostatiknya sebebsar
0.465 psi/ft
Formasi di katakan normal apabila garadient tekanan formasinya 0.465 psi.
2.1.2.2.

Tekanan formasi Abnormal


Yang dimaksud dengan tekanan formasi abnormal biasanya tekanan formasi

yang lebih besar dari yang di perhitungkan pada gradient hidrostatik. Hal ini di
sebabkan oleh kompaksi sedimen yang ada di atasnya sedemikian rupa sehingga air
yang keluar dari lempeng tidak langsung dapat menghilang dan tetap berada di dalam
batuan.
2.1.2.3.

Tekanan formasi Subnormal


Tekanan formasi yang berada di bawah tekanan hidrostatik normal,

kejadiannya bias akibat proses geologi naik turunnya formasi.


2.1.3. Tekanan Rekah formasi
Tekanan dimana formasi itu akan merekah, karena adanya tekanan yang
besar dari dalam lubang bor
Kalau formasi rekah tentunya lumpur pemboran akan lari masuk ke
formasi. Besarnya gradient tekanan rekah dipengaruhi oleh besarnya tekanan
overbourden, tekanan formasi dan kondisi kekuatan batuan.
Mengetahui gradien tekanan rekah sangat berguna ketika meneliti
kekuatan casing, sedangkan bila gradient tekanan rekah tidak diketahui maka akan

mendapat

kesulitan

dalam

pekerjaan

penyemenan

dan

penyelubungan

sumur.
2.2.

Pengertian kick
Kick adalah merupakan suatu proses masuknya fluida formasi ke dalam lubang

sumur. Terjadi karena kondisi tekanan Hidrostatik (Ph) lebih kecil dari pada tekanan
formasi (Pf). Tekanan Hidrostatik turun tergantung pada berat jenis lumpur, dan
ketinggian kolom lumpur.
2.3.

Penyebab terjadinya Kick


Kick dapat terjadi karena disebabkan oleh :

1. Berat jenis lumpur yang tidak memadai


2. Swab Effect
3. Menembus formasi gas
4. Tinggi kolom lumpur

2.3.1. Berat jenis lumpur yang tidak memadai


Berat jenis lumpur turun dikarenakan bercampurnya fluida formasi
dengan lumpur bor, fluida formasi yang cepat menurunkan berat jenis lumpur adalah
gas.
2.3.2. Swab Effect
Swab Effect terjadi apabila pencabutan rangkaian pipa pemboran yang
terlalu cepat, dan viscositas lumpur yang terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan lumpur

yang diatas bit terlambat turun ke bawah bit sehingga ruangan yang berada di bawah
bit menjadi vakum, sehingga fluida formasi masuk kedalam lubang.
Pencegahannya dapat dilakukan dengan mencabut rangkaian pipa bor
jangan terlalu cepat, terutama di dalam open hole, dan usahakan viscositas lumpur
jangan terlalu tinggi.

2.3.3. Menembus formasi gas


Formasi gas mengandung gas di dalam pori pori batuannya, waktu
menembus formasai gas, cutting yang dihasilkan akan mengandung gas. Gas keluar
dari cutting dan masuk kedalam lumpur, makin lama gas makin banyak sehingga akan
menurunkan berat jenis lumpur.

2.3.4. Tinggi kolom lumpur


Tinggi kolom lumpur dapat turun dikarenakan lumpur yang masuk
kedalam formasi (lost circulation), sehingga hal ini menyebabkan terjadinya kehilangan
sirkulasi, maka berakibat berkurangnya volume lumpur juga dan akhirnya mengurangi
tekanan hidrostatik lumpur itu sendiri, maka cairan formasi akan mendesak lumpur
dalam sumur juga.
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1. Formasi pecah

2. Bit masuk formasi berongga, bergoa atau rekahan

2.4.

Tanda tanda terjadinya kick


Tanda tanda Well kick dalam operasi pemboran dapat diketahui dari beberapa

parameter, yaitu :
2.4.1. Saat sedang dilangsungkannya pemboran
1. Laju penembusan tiba tiba naik
2. Volume di lumpur naik
3. Tekanan pompa untuk sirkulasi turun dengan kecepatan pompa naik.
4. Hadirnya gelembung gelembung gas pada lumpur
2.4.2. Saat menyambung pipa, pompa dihentikan
1. Aliran tetap walaupun pompa dihentikan.
2. Volume lumpur di tangki bertambah.
3. Tekanan pompa untuk sirkulasi makin turun dengan bertambahnya pipa.

2.5.

Kondisi tekanan system pada saat normal, saat Well kick dan pada saat
penanggulangannya.

2.5.1. Kondisi tekanan ketika operasi pemboran berjalan dengan normal.


1. Besarnya tekanan lumpur yang keluar dari annulus sangat kecil mendekati nol, supaya
lumpur tersebut tidak tersembur ke atas tetapi yang diinginkan berupa pengaliran dari
flow line ke shale shaker dan alat alat lainnya sampai ke tangki lumpur.
2. Karena selama operasi pemboran tersebut lumpur mulai dari pompa sampai kembali di
flow line mengalami kehilangan tekanan (pressure loss) akibat lumpur bergesekan
dengan pipa pipa dan viscositas lumpur itu sendiri, sedangkan dalam keadaan static
tekanan dalam pipa dan annulus pipa dipermukaan sama yaitu nol, maka ketika
sirkulasi terjadi pompa harus memberikan tekanan kepada lumpur sebesar tekanan
yang hilang sepanjang jalan yang dilalui.
3. kondisi tekanan selama operasi pemboran berjalan dengan normal ialah, gradient
tekanan lumpur dinamik di annulus lebih besar sedikit dari gradient tekanan lumpur
static dan lebih besar dari gradient tekanan formasi. Dalam kondisi ini dijamin tidak ada
fluida formasi yang masuk kedalam lubang bor yang kita sebut dengan Well kick.

2.5.2. Tekanan operasi ketika ada kick


Hadirnya kick pada sumur pemboran menunjukkan bahwa gradient tekanan
formasi lebih besar dari gradient tekanan hidrostatik lumpur.
Gradient tekanan static formasi lebih besar dari gradient tekanan dinamik
lumpur maupun gradient tekanan static lumpur sehingga menyebabkan fluida formasi
mendesak masuk ke lubang bor.

2.5.3. Tekanan operasi penanggulangan


Pada kondisi normal tekanan formasi cukup terpenuhi oleh tekanan hidrostatik
lumpur sehingga tekanan di permukaan beharga nol.
Pada kondisi kick tekanan formasi dipenuki oleh tekanan hidrostatik lumpur dan
hidrostatik kick.
2.5.4. Calculate
2.5.4.1.

Calculate Estimated Kick Length


....................................... (2.1)

2.5.4.2.

Calculate Approximate Density

..(2.2)

Seperti yang telah diketahui bahwa kick adalah masuknya fluida formasi yang
tidak kita inginkan pada saat pemboran berlangsung atau tidak, maka kita harus dapat
mengantisipasi kejadian tersebut, karena hal itu dapat merugikan pemboran yang

sedang berlangsung, apabila kick tidak dapat tertanggulangi, maka kick tersebut akan
menyembur ke permukaan yang di sebut dengan semburan liar atau blowout. Hal ini
akan manyebabkan kerugian yang besar, seperti hilangnya peralatan akibat terbakar
hingga nyawa pekerja pun menjadi taruhannya. untuk itu di perlukan suatu
pengontrolan sumur yang lebih kita kenal dengan Well Control.
Basic perhitungan dari well control merupakan bagian dari proses sirkulasi
lumpur, yang mana meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian,
tekanan, densitas fluida, volume sirkulasi juga perlu diketahui di dalam suatu sumur.
Dalam bab ini menerangkan bahwa perhitungan matematik dari pekerjaan akan
memberikan suatu jawaban dalam pengontrolan sumur.

Kontaminasi Lumpur Pemboran-1


February 16, 2015
Kontaminan adalah segala sesuatu termasuk di dalamnya,
atom/molekul/komponen/senyawa/partikel padatan yang mampu merubah sifat fisik dan sifat
kimia pada fluida yang asli baik berasal dari formasi ataupun dari permukaan sewaktu sirkulasi
berlangsung. Salah satu penyebab berubahnya sifat fisik lumpur adalah adanya material-material
yang tidak diinginkan (kontaminan) yang masuk ke dalam lumpur pada saat operasi pemboran
sedang berjalan. Kontaminasi yang sering sekali terjadi adalah sebagai berikut :
1. Kontaminasi Sodium Chlorida (NaCl)
Kontaminasi ini terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome), lapisan garam,
lapisan batuan yang mengandung konsentrasi garam cukup tinggi atau akibat air formasi yang

berkadar garam tinggi dan masuk ke dalam sistem lumpur. Sodium chlorida yang masuk ke
dalam sistem lumpur basa akan bereaksi dengan ion OH dan membentuk ion Cl.
NaCl + OH(aq) NaOH(l) + Cl(aq)
Akibat adanya kontaminasi ini, akan mengakibatkan berubahnya sifat lumpur seperti viskositas,
yield point, gel strength dan filtration loss. Kadang-kadang penurunan pH dapat pula terjadi
bersamaan dengan kehadiran garam pada sistem lumpur. Hal ini dapat dideteksi dengan
peningkatan klorida. Efek elektrolit cenderung menyebabkan flokulasi clay dengan ion natrium
yang menggantikan ion hidrogen. Kontaminasi NaCl dapat ditangani dengan menambahkan
KOH.
Cl(aq) + KOH KCl + OH(aq)
2. Kontaminasi Gypsum (CaSO4.2H2O)
Gypsum dapat masuk ke dalam lumpur saat pemboran menembus formasi gypsum, lapisan
gypsum yang terdapat pada formasi shale atau limestone. Akibat adanya gypsum dalam jumlah
yang cukup banyak dalam lumpur pemboran, maka akan merubah sifat-sifat fisik lumpur
tersebut seperti viskositas plastik, yield point, gel strength dan fluid loss. Gypsum yang masuk ke
dalam sistem lumpur akan membentuk ion sulfat sehingga dapat menurunkan pH yang akan
menyebabkan peningkatan laju korosif pada peralatan pemboran.
CaSO4.2H2O +2OH Ca(OH)2 + SO42- + 2H2O
Penanggulangan kontaminasi gypsum yaitu dengan menambahkan soda ash atau dapat dengan
menggunakan barium karbonat.
Na2CO3+ Ca(OH)2 + SO42-(aq) CaCO3 + Na2SO4 + 2OH
BaCO3 + Ca(OH)2 + SO42-(aq) BaSO4 + CaCO3+ 2OH
3. Kontaminasi Semen (CaO.Al2O3)
Kontaminasi semen dapat terjadi akibat operasi penyemenan yang kurang sempurna atau setelah
pengeboran lapisan semen dalam casing, float collar dan casing shoe. Kontaminasi ini mudah
terdeteksi karena adanya peningkatan kalsium (dilihat sebagai peningkatan
kekerasan/kesadahan), viskositas meningkat dan pH semen kontaminasi meningkat. Zat kimia
dari semen yang menyebabkan kerusakan lumpur adalah Ca(OH)2 atau biasa disebut kapur (lime)
yang dapat menyebabkan flokulasi yang parah.
2CaO.Al2O3+ 4OH 2Ca(OH)2 + 2Al2O3+ O2

Penanggulangan kontaminasi semen yaitu dengan menambahkan Sodium Acid Pyrophosphate


(SAPP) atau dengan sodium bikarbonat.
Na2H2P2O7 + 3Ca(OH)2Ca3(PO4)2 + 2NaOH + 3H2O
NaHCO3+ Ca(OH)2CaCO3 + NaOH + H2O
4. Kesadahan/Hardwater (Ca2+ dan Mg2+)
Air yang mengandung banyak kalsium dan magnesium digolongkan ke dalam hard water. Air ini
akan berbusa dan untuk mencapai yield dan gel tertentu akan banyak memerlukan betonite. Bila
terdapat dua atau lebih sumber air di lapangan, maka masing-masing air tersebut diuji terlebih
dahulu kandungan kalsium dan kandungan magnesiumnya. Air yang mempunyai kandungan
kalsium dan magnesium yang terkecil yang baik digunakan sebagai fasa cair lumpur. Hal ini
untuk memenuhi prinsip ekonomis. Kandungan kalsium dan kandungan magnesium lumpur akan
bertambah bila menembus formasi gypsum dan formasi anhydrite. Adapun penanganan ion
kalsium yaitu dengan soda ash.
Ca2+(aq) + Na2CO3 CaCO3 + 2Na+(aq)
5. Kontaminasi Alkalinitas (Keasaman)
Alkalinitas dapat dinyatakan sebagai kekuatan asam suatu zat. Berdasarkan pengujian diketahui
bahwa ada korelasi antara sumber alkalinitas di dalam lumpur terhadap sifat-sifat lumpur yang
bersangkutan. Data yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai perkiraan/taksiran konsentrasi
ion-ion hidroksida (OH-), carbonate (CO32-), dan bicarbonate (HCO3-) di dalam lumpur
pemboran. Jika sumbernya berasal hanya berasal dari OH, menunjukkan lumpur stabil dan
kondisinya baik. Jika sumbernya berasal dari CO32, menunjukkan lumpur tidak stabil tetapi
masih bisa dikontrol. Jika HCO3, menunjukkan kondisi lumpur sangat jelek dan sulit untuk
dikontrol. Alkalinitas lumpur dan filtrat penting untuk diketahui untuk memastikan dengan baik
analisa/pengaturan kimia lumpur pemboran. Alkanitas atau aciditas dari lumpur telah ditentukan
berdasarkan harga pH, tergantung dari kandungan ion di dalam filtrat lumpur. Untuk itu analisa
dari mud filtrate lebih tepat untuk menentukan alkanitas lumpur. Pengontrolan alkalinitas pada
lumpur dapat dilakukan dengan menambahkan lime dalam sistem lumpur.
Ca(OH)2 + 2HCO3 Ca(CO3)2 + 2H2O
Ca(OH)2 + CO32- CaCO3 + 2OH
6. Kontaminasi Ion Chlor (Cl)

Kontaminasi ini terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome) atau swabbing dari
pasir air garam dengan penarikan pipa bor secara tiba-tiba (mengejut). Penentuan salinitas (kadar
Cl) dalam lumpur diperlukan terutama jika pemboran melalui daerah dimana garam dapat
terkontaminasi dengan fluida pemboran yaitu daerah yang terdapat kubah-kubah garam.
NaCl + OH(aq) NaOH + Cl
Pengaruh ion Chlor terhadap sifat-sifat lumpur pemboran adalah mengakibatkan filtrate loss
besar, mud cake tebal, suspensi padatan sukar dicapai karena flokulasi oleh clay, penurunan
alkalinitas filtrat, dan peningkatan viskositas dan gel strength dari lumpur. Kandungan ion Chlor
dapat ditentukan dengan mentitrasi filtrat lumpur dengan larutan standar perak nitrat (AgNO3).
Kenaikan ion Cl disebabkan formasi shale reaktif terbor, sehingga ion K+ pada lumpur yang
berfungsi sebagai pengganti ion Na+ pada shale menyisakan radikal ion Cl yang terlarut dalam
lumpur dan ion Na+ sebagai native clay pada sistem lumpur. Untuk menurunkan kadar ion Cl
yang terdapat dalam lumpur dilakukan penambahan banyak PHPA thinner, karena
penambahan air akan merubah seluruh properties lumpur. Pengenceran dan pemulihan alkalinitas
sangat disarankan.
7. Kontaminasi Carbon Dioksida (CO2)
Pada suasana basa, CO2 (carbon dioksida) bereaksi dengan ion OH dan membentuk ion
bicarbonate atau ion carbonate yang dapat menurunkan pH lumpur (menjadi suasana asam yang
bersifat korosif) sehingga plastic viscosity, yield point dan gel strength lumpur menjadi tinggi.
CO2+ 2OH(aq) CO32-(aq) + H2O HCO3(aq)+ OH(aq)
Jika diduga bahwa kontaminasi carbonate-bicarbonate terjadi di dalam lumpur, langkah pertama
sistem harus selalu diobati dengan soda kaustik.
2NaOH +CO32- Na2CO3 +2OH
Atau
NaOH +HCO3 NaCO3 +H2O
Jika pengobatan ini tidak efektif maka ion calsium larut dapat digunakan (Ca(OH)2). Namun hal
ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari penggumpalan lumpur clay.
Ca(OH)2 + CO32- CaCO3 +2OH
Atau

Ca(OH)2 +2HCO3 Ca(CO3)2 +2H2O


Kapur harus ditambahkan ke sistem secara bertahap, dan masing-masing penambahan
menghasilkan peningkatan kekerasan tidak lebih dari 10 ppm dalam filtrat. Jika
memungkinkan, uji coba harus dilakukan sebelum merawat sistem secara keseluruhan.