Anda di halaman 1dari 20

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA
JL. SERIKAYA No. 17 Telp (0413) 81290,81292 Fax. 83030

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA


Nomor :
TENTANG
KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA

Menimbang :
a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan RSUD H. Andi Sulthan
Daeng Radja, maka diperlukan penyelenggaraan Pencegahan Pengendalian
Infeksi yang bermutu tinggi;
b. bahwa agar pelayanan Pencegahan Pengendalian Infeksi di RSUD H. Andi
Sulthan Daeng Radja dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan
Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja sebagai landasan bagi
penyelenggaraan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RSUD RSUD H. Andi
Sulthan Daeng Radja;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir a dan b,
perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng
Radja.
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2004 tentang Rumah Sakit;
2. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2014 tentang
Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 /Menkes/Per/III/2008 tentang
Pencegahan Pengendalian Infeksi;
6. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No 270/Menkes/SK/III/2007 tentang
Pedoman Manajerial PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayaan Kesehatan
Lainnya
7. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No 382/Menkes/SK/III/2007 tentang
Pedoman PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Akreditasi Rumah Sakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor
413);
10. Peraturan Daerah Kabupaten Bullukumba Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda, Lembaga Teknis Daerah dan
Lembaga Lain Kabupaten Bulukumba (Lembaran Daerah Kabupaten Bulukumba
Nomor 11 Seri D);
11. Keputusan Bupati Bulukumba Nomor Kpts.1178/XII/2013 tentang Penerapan

Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit


Umum Daerah H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba.
Memperhatikan :
1. Buku Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi yang disusun oleh Komisi
Akreditasi Rumah Sakit tahun 2012;
2. Standar Akreditasi Rumah Sakit, Kerjasama Ditjen Bina Upaya Kesehatan
Kemenkes RI dengan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), September 2011.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama

: KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H. ANDI


SULTHAN DAENG RADJA TENTANG KEBIJAKAN PENCEGAHAN
DAN PENGENDALIAN INFEKSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H.
ANDI SULTHAN DAENG RADJA BULUKUMBA

Kedua

: Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Umum


Daerah H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba sebagaimana
tercantum dalam Lampiran Keputusan ini

Ketiga

: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pencegahan dan


Pengendalian Infeksi RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba
dilaksanakan oleh Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Keempat

: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila


dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan : di Bulukumba
Pada tanggal :
Direktur,

dr. Hj. WAHYUNI, AS, MARS


NIP. 19641121 198803 2 002

Lampiran Keputusan Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja


Nomor
:
Tanggal
:

KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


DI RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA

I. PENGERTIAN
A. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) adalah kegiatan
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan
dalam upaya menurunkan angka kejadian infeksi rumah sakit (IRS) pada pasien
atau petugas RS dan mengamankan lingkungan rumah sakit dari resiko transmisi
infeksi yang dilaksanakan melalui manajemen resiko, tata laksana klinik yang
baik dan pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja RS.
B. Infeksi yang terjadi di Rumah Sakit
Hospital associated infection (HAIs) adalah infeksi yangterjadi di rumah sakit,
dimana pasien tidak ada tanda gejala dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk
infeksi yang didapat di rumah sakit, tetapi muncul setelah pulang dan juga infeksi
yang terjadi pada petugas kesehatan yang terjadi di rumah sakit.
Suatu infeksi dikatakan didapat dari rumah sakit bila :
1. Pada saat masuk rumah sakit tidak ada tanda / gejala atau tidak dalam masa
inkubasi tersebut.
2. Infeksi terjadi 2 x 24 jam setelah pasien dirawat di rumah sakit .
3. Infeksi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang
berbeda dari mikroorganisme pada saat masuk rumah sakit atau
mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi infeksi berbeda.
Kewaspadaan Standar adalah prinsip kewaspadaan sebagai bagian
manajemen resiko pada pengendalian infeksi RS yang dilaksanakan secara
menyeluruh oleh setiap petugas berdasarkan perhitungan besar resiko transmisi
infeksi yang dihadapi pada setiap pelayanan rawat jalan maupun rawat inap
untuk melindungi pasien, petugas, pengunjung maupun lingkungan RS. Prinsip
kewaspadaan standar meliputi kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung
diri (APD), peralatan perawatan pasien, pengendalian lingkungan, pemrosesan
peralatan pasien dan penatalaksanaan linen, kesehatan karyawan, penempatan
pasien, etika batuk, praktik menyuntik yang aman, praktek untuk lumbal pungsi.
C. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis (PPI TB)
Adalah kegiatan yang terintegrasi dengan pengendalian infeksi RS secara umum
dan secara khusus ditujukan untuk mencegah dan mengendalikan resiko
penyebaran infeksi TB di RS (sebagai bagian kewaspadaan isolasi airborne)
melalui tata laksana administratif, pengendalian lingkungan dan penggunaan alat
pelindung diri (APD).

D. Surveilans
Adalah kegiatan pengamatan sistematis aktif dan terus menerus terhadap
timbulnya dan penyebaran IRS pada suatu peristiwa yang menyebabkan
meningkat atau menurunkan risiko tersebut.
E. Dekontaminasi
Adalah menghilangkan mikroorganisme patogen dan kotoran dari suatu benda
sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya dan dilakukan sebagai langkah
pertama bagi pengelolaan alat kesehatan bekas pakai atau pengelolaan
pencemaran lingkungan, seperti tumpahan darah/ cairan tubuh atau pengelolaan
limbah yang tidak dimusnahkan dengan cara insenerasi atau pembakaran
dengan alat insenerator, tetapi ditimbun dengan cara kapurisasi.
F. Sterilisasi
Adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari benda/
alat kesehatan termasuk endespora bakteri melalui cara fisika atau kimia.
G. Desinfeksi
Adalah suatu proses untuk menghilangkan sebagian
mikroorganisme dari alat kesehatan kecuali endospora bakteri.

atau

semua

H. Penggunaan antibiotika yang rasional


Adalah bila memenuhi kriteria : tepat indikasi, tepat penderita (tidak ada kontra
indikasi), tepat informasi, tepat jenis obat, tepat dosis dan cara pemberian (saat
pemberian dan lama pemberian) serta waspada terhadap efek samping obat
(ESO).
I. Pengelolaan linen yang aman
Adalah kegiatan yang bertujuan mencegah kontaminasi linen kotor atau infeksius
kepada petugas, pasien dan lingkungan, meliputi proses pengumpulan,
pemilahan, pengangkutan linen kotor, pemilahan dan teknik pencucian sampai
dengan pengangkutan dan distribusi linen bersih.
J. Pengelolaan lingkungan
Merupakan bagian upaya pengendalian infeksi untuk meminimalkan potensi
reservoar tumbuh dan berkembangbiaknya agen patogen di lingkungan RS
sehingga mencegah transmisi kepada pasien, petugas maupun lingkungan yang
lebih luas.
AI. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Terciptanya lingkungan rumah sakit yang memenuhi standar untuk menjamin
pencegahan IRS dan membantu program pengobatan serta proses
penyembuhan pasien, agar dapat meningkatkan mutu pelayanan berfokus pada
keselamatan (pasien, petugas dan lingkungan) dan efisien.
B. Tujuan Khusus
Dapat melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi dengan baik.

BI. KEBIJAKAN
A. Kewaspadaan standar rneliputi kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung
diri (APD), peralatan perawatan pasien, pengendalian lingkungan,
pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen, kesehatan
karyawan, penempatan pasien, etika batuk, praktik menyuntik yang aman,
praktek untuk lumbal punksi. Kewaspadaan standar diterapkan secara
menyeluruh di semua area RS dengan mengukur semua risiko yang dihadapi
pada setiap situasi dan aktivitas pelayanan sesuai Panduan PPIRS.
B. Praktik kebersihan tangan di RS merupakan kunci dari upaya PPIRS yang
menggambarkan mutu pelayanan yang berfokus pada keselamatan pasien,
petugas, pengunjung dan lingkungan RS. Kebersihan tangan dilaksanakan
melalui praktik mencuci tangan menggunakan sabun biasa/ antiseptik dan air
mengalir, atau handrub menggunakan larutan antiseptik. Kebersihan tangan
wajib diimplementasikan di RS oleh setiap anggota masyarakat RS sesuai
panduan kebersihan tangan yang dikembangkan RS berdasarkan pedoman
lnternasional (WHO) maupun pedoman nasional (Kemenkes).
B.1. Penerapan praktik kebersihan tangan oleh seluruh petugas di RS saat
diruang perawatan pasien berpedoman pada lima saat kebersihan
tangan wajib dilaksanakan (standar WHO) dan enam langkah prosedur.
B.2. Penerapan praktik kebersihan tangan di luar area perawatan pasien
berpedornan pada panduan kebersihan tangan yang dikembangkan
Komite PPI RS.
B.3. Komite PPI RS melakukan monitoring, evaluasi dan memberikan
rekomendasi untuk meningkatkan perilaku kebersihan tangan di RS
secara efektif dan efisien.
C. Kewaspadaan isolasi merupakan tambahan kewaspadaan standar diterapkan
pada pasien rawat inap yang suspek atau telah ditentukan jenis infeksinya,
berdasarkan cara transmisi kontak, droplet atau airborne. Tatalaksana
administratif meliputi percepatan akses diagnosis, pemisahan penempatan
pasien, mempersingkat waktu pelayanan di RS, penyediaan paket
perlindungan petugas ; tatalaksana lingkungan meliputi penataan alur pasien,
penataan sistem ventilasi (natural maupun mekanikal) tatalaksana penyediaan
dan penggunaan alat pelindung diri.
C.1. RS menyiapkan ruang dengan ventilasi natural yang baik untuk
perawatan pasien infeksi, khususnya infeksi airbone, yang terpisah dari
pasien non infeksi dan khususnya terpisah dari pasien dengan kondisi
immunocompromise.
C.2. Pasien infeksi yang penularannya melalui cara kontak ditempatkan di
ruang rawat secara kohorting, diutamakan di ruang rawat infeksi.
C.3. Tatalaksana perawatan pasien infeksi diterapkan berdasarkan prinsip
kewaspadaan isolasi sesuai cara transmisi spesifiknya. Petugas
menerapkan prinsip kewaspadaan kontak atau droplet atau airborne atau
kombinasinya.
C.4. Transportasi pasien infeksi dari 1 unit ke unit lain harus dibatasi
seminimal mungkin, dan bila terpaksa harus memperhatikan prinsip
kewaspadaan isolasi.
D. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberculosis (PPITB)
Merupakan bagian tidak terpisahkan dari PPIRS, khususnya kewaspadaan
infeksi airborne, dimaksudkan untuk lebih memprioritaskan kewaspadaan
terhadap risiko transmisi penyakit TB, MDR.
D.1. Skrining batuk dilakukan saat pasien datang di RS oleh petugas yang

terlatih.
D.2. Pasien suspek batuk langsung diberikan masker bedah, diberikan
edukasi etika batuk dan higiene respirasi.
D.3. Akses pelayanan pasien suspek TB dikhususkan untuk diagnosis
cepat,mengamankan alur pelayanan bagi pasien-pengunjung-lingkungan
RS,mempersingkat waktu kontak di RS.
D.4. Pasien rawat inap TB BTA (+) ditempatkan di ruang rawat inap infeksi
airborne dengan pengaturan ventilasi natural campuran.
D.5. Tatalaksana perawatan pasien TB, khususnya MDR TB dan TB BTA
(+),diterapkan berdasarkan prinsip kewaspadaan isolasi airborne,
khususnya pada aktivitas/ tindakan medis yang menghasilkan aerosol.
Alat pelindung diri : masker bedah untuk pasien masker N 95 untuk
petugas.
D.6. Paket kesehatan kerja meliputi pemantauan kesehatan dan pada
surveilans TB petugas, pemeriksaan rutin prakarya dan berkala,
pemberian terapi profilaksis maupun terapeutik dan pengaturan shift
bertugas dilakukan bersama sub Bagian Kepegawaian dan Unit
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
E. Alat pelindung diri (APD) ditata perencanaan, penyediaan, penggunaan dan
evaluasinya oleh Komite PPI RS bersama Unit K3, lnstalasi Farmasi dan Sub
Bagian TU dan Rumah Tangga RS agar mudah dan dapat cepat diakses saat
dibutuhkan, efektif dan efisien.
E.1. APD digunakan berdasarkan prinsip kewaspadaan standar dan isolasi
dengan selalu mengukur potensi risiko spesifik pada setiap aktivitas
pelayanan/ tindakan medik sehingga tepat, efektif dan efisien.
E.2. APD habis pakai disediakan melalui lnstalasi Farmasi dan Sub Bag TU
dan RT dengan paket floorstock terstandar,
E.3. APD yang lain disediakan melalui unit K3.
E.4. Tim PPI RS melakukan monitoring dan audit ketepatan penggunaan APD
sebagai bahan Komite PPIRS dalam evaluasi dan rekomendasi
peningkatan efektivitasnya.
F. Surveilans lnfeksi RS (lRS) dilakukan secara sistematik aktif oleh IPCN
(infection prevention control nurse) - perawat pengendali infeksi purna waktu)
dan IPCLN (link nurse - perawat penghubung pengendali infeksi) untuk
menggambarkan tingkat kejadian berbagai penyakit infeksi target sesuai
Pedoman Surveilans IRS Kemenkes dan penyakit infeksi endemis di RS,
Target surveilans yaitu : lnfeksi saluran kemih (ISK) terkait kateterisasi, infeksi
luka operasi (lLO), plebitis lRS, dan dekubitus, Ventilator Associated
Pneumonia (VAP) & Hospital Associated Pneumonia (HAP), Infeksi Aliran
Darah Primer (IADP).
F.1. Analisis, evaluasi dan rekomendasi tindak lanjut data infeksi dilakukan
Komite PPIRS di bawah koordinator Dokter Penanggung Jawab
PPI(IPCO) untuk tujuan pengendalian, manajemen risiko dan
kewaspadaan terhadap kejadian luar biasa (KLB).
F.2. Pengendalian angka IRS menggunakan target sasaran sesuai program
PPl. Sasaran angka IRS dievaluasi setiap 3 tahun. ,
F.3. Kejadian luar biasa IRS ditetapkan oleh Direktur RS berdasarkan
pertimbangan Komite PPI RS pada hasil evaluasi epidemiologi
kecenderungan angka IRS melalui surveilans, Kecenderungan kejadian
IRS yang terus meningkat signifikan selama 3 bulan berturut-turut atau
peningkatan signifikan angka kejadian pada suatu waktu pengamatan
tertentu diwaspadai sebagai KLB, Pencegahan dan pengendalian risiko

penyebaran kejadian yang berpotensi menjadi KLB dilakukan segera


secara sinergi melalui kerjasama lintas unit satuan kerja oleh Komite
PPIRS.
F.4. Laporan IRS disampaikan Komite PPI RS kepada Direktur minimal setiap
3 bulan.
G. Pengendalian resistensi antibiotika dilaksanakan RS melalui Panitia Farmasi
dan Terapi.
G.1. Pemilihan terapi antibiotik secara rasional kepada pasien didasarkan
tujuan dan indikasi (profilaksis atau terapi)
G.2. Panduan pengobatan antibiotika merujuk pada Kebijakan Pengelolaan
Perbekalan Farmasi di RS di bawah tanggungjawab Sub Komite Farmasi
dan Terapi. Peresepan antibiotika mengacupada formularium RS dan
atau DPHO BPJS mempertimbangkan derajat penyakit, spektrum
antibiotika, farmakokinetik, farmakodinamik, keamanan serta harga
terjangkau.
G.3. Ketepatan pemberian antibiotika agar aman bagi pasien
meliputi:
Tepat indikasi, obat benar-benar dibutuhkan;
Tepat pemilihan obat dengan perbandingan biaya
efektifitas yang baik;
Tepat pasien, tidak ada kontra indikasi, efek
samping minimal;
Tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat durasi
pemakaian;
Tepat informasi, kepada pasien dan keluarganya.
G.4. Pasien wajib diberi informasi tentang pengobatan yang diberikan dan
efek samping serta tindakan yang diambil.
H. Sterilisasi alat/ instrumen kesehatan pasca pakai di RS dilakukan dengan 2
cara yaitu secara fisika atau kimia, melalui tahapan pencucian (termasuk
perendaman dan pembilasan), pengeringan, pengemasan, labeling,
indikatorisasi, sterilisasi, penyimpanan, distribusi diikuti dengan pemantauan
dan evaluasi proses serta kualitas/ mutu hasil sterilisasi secara terpusat
melalui lnstalasi pusat pelayananSterilisasi (CSSD).
H.1. Pemrosesan alat instrumen pasca pakai dipilih berdasarkan kriteria alat,
dilakukan derngan sterilisasi untuk alat kritikal; sterilisasi atau disinfeksi
tingkat tinggi (DTT) untuk alat semi kritikal, disinfeksi tingkat rendah
untuk non kritikal.
H.2. Kriteria pemilihan desinfektan didasari telaah secara cermat terkait
criteria memiliki spektrum luas dengan daya bunuh kuman yang tinggi
dengan toksisitas rendah, waktu disinfeksi singkat, stabil dalam
penyimpanan, tidak merusak bahan dan efisien. Unit kerja yang
bertanggung jawab terhadap penyediaan desinfektan dan antiseptik di
RS sesuai rekomendasi Komite PPI RS adalah lnstalasi Farmasi.
H.3. lnstalasi Pusat Pelayanan Sterilisasi (CSSD) bertanggungjawab
menyusun panduan dan prosedur tetap, mengkoordinasikan, serta
melakukan monitoring dan evaluasi proses serta kualitas/ mutu hasil
sterilisasi dengan persetujuan Komite PPI RS.
I. Alat medis habis pakai (AMHP) dapat digunakan sesuai dengan rekomendasi
manufactur-nya. Alat medis sekali pakai dapat digunakan ulang (re-used of
single use devices) sesuai kebijakan RS tentang AMHP reusable.
I.1. AMHP dapat digunakan ulang apabila AMHP dapat diproses secara benar/

tepat (rasional) dan hasil sterilisasi masih efektif dan efisien baik secara
fisik; fungsi , kualitas serta aman digunakan bagi pasien.
I.2. Kriteria AMHP yang disterilkan kembali adalah AMHP yang telah
digunakan tetapi secara fisik dan fungsi masih baik, AMHP yang sangat
dibutuhkan tetapi sulit diperoleh atau sangat mahal harganya dan atau
AMHP telah kedaluwarsa. Daftar AMHP yang di reuse dan berapa kali
batas maksimal reuse ditentukan oleh RS melalui Panitia Farmasi dan
Terapi
I.3. Mekanisrne pemrosesan AMHP yang di-reuse dan disterilkan kembali
dengan pencatatan dan pengawasan mutu serta batas maksimal reuse
diCSSD.
J. Pengendalian lingkungan RS meliputi penyehatan air, pengendalian serangga
dan binatang pengganggu, penyehatan ruang dan bangunan, pemantauan
hygiene sanitasi makanan, pemantauan penyehatan linen, disinfeksi
permukaan udara, lantai, pengelolaan limbah cair, limbah B3, limbah padat
medis dan non medis dikelola oleh lnstalasi Kesehatan Lingkungan dan Sub
Bagian Rumah Tangga bekerjasama dengan pihak ketiga, berkoordinasi
dengan komite PPI RS, sehingga aman bagi lingkungan.
J.1. Pengelolaan limbah padat medis dipisahkan dan dikelola khusus sampai
dengan pemusnahannya sesuai persyaratan Kementerian Lingkungan
Hidup sebagai limbah infeksius (ditempatkan dalam kantong plastic
berwarna kuning berlogo infeksius), limbah padat tajam (ditempatkan
dalam wadah tahan tusuk, tidak tembus basah dan tertutup).
J.2. Pengelolaan limbah padat non medis ditempatkan dalam kantong plastik
benwarna hitam dan pemusnahannya bekerjasama dengan Badan
Lingkungan Hidup Kota Bulukumba.
J.3. Prinsip metode pembersihan ruang perawatan dan lingkungan, pemilihan
bahan desinfektan, cara penyiapan dan penggunaannya dilaksanakan
berdasarkan telaah Komite PPI RS untuk mencapai efektivitas yang
tinggi.
J.4. Pernbersihan lingkungan ruang perawatan diutamakan dengan metode
usap seluruh permukaan lingkungan menggunakan bahan desinfektan
yang efektif.
J.5. Pelaksanaan Panduan PPI RS dan standar prosedur operasional tentang
pengendalian lingkungan, monitoring dan evaluasinya dilaksanakan oleh
Instalasi Kesehatan Lingkungan bersama sub Bagian Rumah Tangga
berkoordinasi dengan komite PPI.
J.6. Baku mutu berbagai parameter pengendalian lingkungan dievaluasi
periodik dengan pemeriksaan parameter kimia - biologi surveilan angka
dan pola kuman lingkungan berdasarkan standar Kepmenkes Rl
No.416/MenKes/Per/x1990 tentang persyaratan Kualitas Air Bersih dan
Air Minum, Kepmenkes Rl No. 492l/MenKes/SKA/ll/2010 tentang
persyaratan Kualitas Air Minum, Kepmenkes Rl No, l204/Menkes/X/2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS.
K. Pengelolaan linen kotor dan bersih secara terpisah untuk mengurangi risiko
infeksi pada pasien, petugas dan lingkungan dilakukan menyeluruh dan
sistematis agar mencegah kontaminasi, di bawah tanggung jawab lnstalasi
Laundry berkoordinasi dengan Komite PPI RS.
K.1. Jenis linen di RS diklasifikasikan menjadi linen bersih, linen steril, linen
kotor infeksius, linen kotor non infeksius ( linen kotor berat dan linen
kotor ringan)
K.2. Pencegahan kontaminasi lingkungan maupun pada petugas dilakukan
dengan disinfeksi kereta linen, pengepelan/ disinfeksi lantai,

implementasi praktik kebersihan tangan, penggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) sesuai potensi risiko selama bekerja.
L. Pengelolaan makanan di lnstalasi Gizi memperhatikan standar sanitasi
makanan minuman, alat, lingkungan produksi dan higiene perorangan
penjamah makanan.
L.1. Semua bahan makanan yang disiapkan hingga sampai dengan disajikan
kepada pasien, pegawai dikelola sesuai pedoman dan standar prosedur
pelayanan Instalasi Gizi agar terhindar dari pencemaran dan penularan
infeksi melalui makanan (sesuai persyaratan hygiene makanan dalam
Kepmenkes RI No.1204/SK/X/2004; Keputusan Direktorat Jenderal POM
No 03726/B/SK/VII/1989; Kepmenkes RI No.715/Menkes/SK/V/2003
tentang persyaratan hygiene sanitasi jasa boga)
L.2. Penyimpanan bahan makanan harus selalu terpelihara dan dalam
keadaan bersih, terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya dan hewan
lain serta suhu penyimpanan disesuaikan dengan jenis bahan makanan.
L.3 Penjamah makanan yang kontak langsung dengan makanan mulai dari
proses penyiapan bahan sampai dengan penyajiannya dilakukan
surveilans higiene pribadi berupa monitoring pemeriksaan darah rutin,
darah kimia, kultur widal, feses dan urin rutin dan kultur mikrobiologi
swab rektal setahun sekali, dikoordinasikan dan di bawah tanggung
jawab Unit K3 RS dan Sub Bag Kepegawaian dan Pengembangan SDM.
L.4. Pemeriksaan mikrobiologi lingkungan dilakukan setiap 6 bulan untuk
monitoring evaluasi mutu pembersihan lingkungan.
M. Pendidikan dan pelatihan pencegahan pengendalian infeksi RS direncanakan
dan dilaksanakan secara periodik dan berkesinambungan oleh Bagian SDM
dan Pendidikan melalui Bidang Diklat bekerjasama dengan Komite PPI RS
untuk menjamin setiap petugas yang berada dan bekerja di RS (termasuk
peserta didik dan karyawan kontrak) memahami dan mampu melaksanakan
program PPI RS, khususnya kewaspadaan standar dan isolasi.
M.1. Seluruh SDM baru wajib mengikuti program orientasi, termasuk materi
PPI RS.
M.2. Monitoring dan evaluasi hasil pendidikan dan pelatihan dilakukan oleh
Bagian SDM bersama Komite PPIRS sesuai ketentuan yang berlaku
sebagai dasar perencanaan program selanjutnya.
N. Kesehatan dan keselarnatan kerja (K3) petugas di RS terkait risiko penularan
infeksi karena merawat pasien maupun identifikasi risiko petugas yang
mengidap penyakit menular dilaksanakan oleh Unit K3RS berkoordinasi
dengan Komite PPI RS.
N.1 Pencegahan penularan infeksi pada dan dari petugas dilakukan dengan
pengendalian administratif untuk petugas yang rentan tertular infeksi
ataupun berisiko menularkan infeksi dikoordinasikan Unit K3 RS
bersama Komite PPI RS dan Bagian SDM berupa penataan penempatan
SDM, pemberian imunisasi, dan sosialisasi PPI berkala khususnya di
tempat risiko tinggi infeksi.
N.2. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kondisi kesehatan petugas
dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan prakarya dan berkala sesuai
faktor risiko di tempat kerja.
N.3. Perencanaan, pengadaan dan pengawasan penggunaan alat pelindung
diri petugas dari risiko infeksi yang berupa alat/ bahan tidak habis pakai
dikelola Unit K3 RS berkoordinasi dengan Komite PPI RS.
N.4. Unit K3RS berkoordinasi dengan Komite PPI RS mengembangkan

panduan dan menyusun standar pelaporan dan penanganan kejadian


kecelakaan kerja terkait pajanan infeksi, mensosialisasikan, memonitor
pelaksanaan, serta melakukan evaluasi kasus dan menyusun
rekomendasi tindaklanjutnya.
N.5. Surveilans pada petugas dan pelaporannya dilakukan secara teratur,
berkesinambungan, periodik oleh unit K3RS berkoordinasi dengan PPI
RS.
O. Setiap renovasi, pemeliharaan, pengembangan maupun pembangunan
gedung di lingkungan RS harus mempertimbangkan keselamatan dari sisi
pencegahan dan pengendalian infeksi RS. Desain konstruksi bangunan
diarahkan untuk menjamin tercapainya kondisi kebersihan, tata udara,
pencahayaan dan kebisingan lingkungan yang mengacu pada Keputusan
Menteri Kesehatan Rl No1204/Menkes/X/2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan RumahSakit.
O.1. Desain, penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai
dengan fungsi, memenuhi persyaratan serta dikelompokkan berdasarkan
tingkat risiko terjadinya penularan penyakit (kohorting), yaitu :
Zona dengan risiko rendah,: ruang administrasi, ruang perkantoran,
ruang pertemuan, ruang perpustakaan, ruang resepsionis;
Zona dengan risiko sedang : ruang rawat inap bukan penyakit
menular, ruang rawat jalan, instalasi Gizi, IPSRS,
Zona dengan risiko tinggi : Instalasi Gawat Darurat, ruang bersalin,
Kamar jenazah, Instalasi Farmasi, Instalasi HD, Radiologi;
Zona dengan risiko sangat tinggi : Instalasi Rawat Intensif, R.Padma,
ruang operasi, ruang laboratorium, ruang isolasi (airborne).
O.2. Prasarana yang mendukung dapat operasionalnya gedung seperti sistem
perlistrikan, sistem air dan tata udara dijaga untuk dapat berfungsi sesuai
dengan zonasi
O.3. Sistem ventilasi natural (alamiah) didesain dengan memaksimalkan
jendela dan tata ruang, dibantu sistem fan.
O.4. IPSRS berkoordinasi dengan PPIRS menerapkan Panduan keamanan
dan pengurangan dampak risiko dari setiap pembangunan/ perbaikan/
renovasi gedung di lingkungan RS.
P. Pendidikan pencegahan dan pengendalian infeksi diberikan untuk setiap
pasien.
P.1. Untuk pasien rawat inap disampaikan oleh perawat saat orientasi pasien
baru masuk meliputi kebersihan tangan, etika batuk dan ketertiban
pembuangan sampah.
P.2. Untuk pasien rawat jalan disampaikan oleh perawat pada Promosi
Kesehatan
RS
(PKRS)
yang
dilaksanakan
secara
teratur
berkesinambungan dalam program PKRS bersama Bagian Hukum dan
Pelayanan Pelanggan.
Q. Pendidikan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk pengunjung
dilaksanakan pada PKRS, melalui poster, leaflet atau banner dan berbagai
media informasi lain di RS bersama bagian Hukum dan Pelayanan pelanggan.
R. Penerapan sistem manajemen informasi dalam pengelolaan PPI RS ditujukan
untuk mengoptimalkan sosialisasi dan implementasi standar/ program
monitoring dan evaluasi kinerja, serta penyampaian feedback hasil surveilans
PPI RS, dilakukan bersama Instalasi Teknologi Informasi RS.

S. Pelayanan kamar jenazah ditujukan untuk mencegah penularan infeksi pada


petugas kesehatan dan keluarga. Petugas kesehatan harus menjalankan
kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat
penyakit menular. Alat pelindung diri lengkap harus digunakan petugas yang
menangani jenazah jika pasien tersebut dalam masa penularan. Petugas
harus memberikan penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan
khusus bagi jenazah yang meninggal akibat dengan penyakit menular.
Kegiatan pengendalian infeksi di kamar jenazah dilakukan bersama Instalasi
kamar jenazah.
T. Pengelolaan Darah dan Komponen Pengelolaan darah dan komponen
jenazah ditujukan untuk mencegah penularan infeksi pada petugas kesehatan,
pasien dan keluarga. Petugas kesehatan harus menjalankan kewaspadaan
standar ketika menangani darah dan komponennya.
Alat pelindung diri lengkap harus digunakan petugas yang menangani darah
dan komponennya. Kegiatan penanganan darah dan komponen di kamar
jenazah dilakukan bersama Instalasi Bank Darah.

Ditetapkan di
Pada Tanggal

: Bulukumba
:
Direktur,

dr. Hj. WAHYUNI, AS, MARS


NIP. 19641121 198803 2 002