Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum

Agroklimatologi
ANALISIS KEBUTUHAN AIR TANAMAN

NAMA

: FATMAWATI

NIM

: G111 15 028

KELAS

: AGROKLIMATOLOGI A

KELOMPOK

: 13

ASISTEN

: YOPIE BRIAN PANGGABEAN

PROGRAN STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan budidaya tanaman di Indonesia saat ini masih bergantung pada air
hujan. Menyiasati hal tersebut, pengelolaan air harus diusahakan secara optimal,
yaitu tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran sehingga upaya peningkatan
produktivitas maupun perluasan areal tanam dan peningkatan intensitas
pertanaman dapat dilakukan secara efisien. Pengelolaan air perlu disesuaikan
dengan sumber daya fisik alam (tanah, iklim, sumber air) dan biologi dengan
memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk membawa air ke perakaran tanaman
sehingga mampu meningkatkan produksi.
Air irigasi di Indonesia umumnya bersumber dari sungai, waduk, air tanah
dan sistem pasang surut. Salah satu usaha peningkatan produksi pangan
khususnya padi adalah tersedianya air irigasi di sawahsawah sesuai dengan
kebutuhan. Kebutuhan air yang diperlukan pada areal irigasi besarnya bervariasi
sesuai keadaan. Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk
tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui
hujan dan kontribusi air tanah. Besarnya kebutuhan air irigasi juga bergantung
kepada cara pengolahan lahan.
Di daerah Jeneponto kebutuhan air di Kabupaten Jeneponto Provinsi
Sulawesi Selatan sehingga perlu upaya optimalisasi sumberdaya air. Salah satu
upaya untuk mengetahui potensi ketersediaan air tanaman dengan menggunakan
model simulasi tanaman dan iklim untuk menghitung nisbah ETR/ETM (indeks

kecukupan air). Fluktuasi ETR/ETM mencerminkan kecukupan-kekurangan air


oleh tanaman sehingga dapat diketahui periode tanaman mengalami kekeringan.
Berdasarkan hasil analisis tersebut disusun skenario masa tanam yang tepat untuk
menekan terjadinya risiko kekeringan. Untuk itu dilakukan kegiatan penelitian
tentang pemetaan masa tanam dan pendayagunaan air untuk pengembangan
jagung di Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum ini agar kita dapat
mengetahui kebutuhan air pada tanaman jagung di daerah jeneponto agar tanaman
tersebut dapat berproduksi dengan optimal.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilakukannya praktikum analisis kebutuhan air tanaman yaitu Untuk
mengetahui kebutuhan air suatu tanaman, untuk mengetahui kebutuhan air pada
tanaman jagung dan untuk mengetahui cara menggunakan cropwat dalam
menentukan kebutuhan air tanaman.
Adapun kegunaan dari praktikum ini yaitu sebagai bahan informasi bagi
mahasiswa agar dapat menerapkan pengguanaan cropwat di dalam kehidupan
sehari-hari untuk menentukan kebutuhan air pada suatu tanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Pada (Oryza Sativa L)
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae.Terna semusim, berakar
serabut, batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian
pelepah daun yang saling menopang, daun sempurna dengan pelepah tegak, daun
berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar,
tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang, bunga tersusun majemuk, tipe
malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet
yang duduk pada panikula, buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat
dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3
mm hingga 15 mm, tertutup palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari
disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang
(Basri, 2006).
Menurut Basri (2006), klasifikasi tanaman padi terdiri dari :
Divisio

: Spermatophyta

Sub divisio

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Poales

Famili

: Graminae

Genus

: Oryza Linn

Species

: Oryza sativa L.

Menurut Rahardjo, Pudji (2011) padi termasuk genus Oryza L yang meliputi
lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti

Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal
dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia,
sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima
Steund berasal dari Afrika barat.
Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis
dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi
diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha
memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya
kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah
Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika (Basri, 2006).
2.2 Kebutuhan Air Tanaman (Oryza Sativa L)
Air sangat diperlukan tanaman padi untuk pertumbuhan tanaman, tanpa air
semua proses biologi akan terhenti dan semua zat hara yang tersedia pun menjadi
kurang efektif air. Air berfungsi membawa karbohidrat dan mineral ke daerah
perakaran tanaman sebagai cadangan makanan, air untuk penguapan berguna
menjaga kestabilan suhu disekitar tanaman dimana pori-pori daun akan tertutup
apabila kadar air dalam daun terlalu kecil. Kebutuhan air irigasi perlu di analisis
dengan kondisi setempat agar tidak terjadi pemborosan pemakaian air yang akan
berdampak bagi tanaman itu sendiri (Basri, 2006).
Kebutuhan air untuk tanaman padi mencakup perhitungan air yang masuk
dan keluar dari lahan sawah. Air di sawah dapat bertambah karena turun hujan,
sengaja diairi dari saluran irigasi, dan perembesan dari sawah yang lebih tinggi
letaknya. Air di sawah akan berkurang karena terjadinya transpirasi, evaporasi,

infiltrasi, perkolasi, bocoran di tanah sawah atau pematang sawah, dan drainase.
Berdasarkan kecukupan pasokan air, ada tiga sistem pembagian air, yaitu sistem
serentak, sistem golongan, dan sistem rotasi (giliran). Berdasarkan teknik
budidaya dan kecukupan air, maka cara pemberian air irigasi untuk padi terdiri
atas tiga cara, yaitu penggenangan sampai ketinggian tertentu, pengaliran air terus
menerus, dan pengaliran air terputus-putus (Basri, 2006).
Dari beberapa analisa parameter yang berpengaruh dalam besarnya kebutuhan
air irigasi yang dihitung dengan menggunakan KP-01 hasilnya menunjukan lebih
besar dibanding hasil perhitungan menggunakan Penman Mounteith (Basri, 2006).
Menurut Basri (2006) beberapa persyaratan penggunaan air untuk tanaman
padi sawah antara lain :
a. Air yang digunakan untuk mengairi sawah berasal dari sumber air yang
telah di tentukan oleh pihak yang berwenang
b. Air yang masuk ke petak sawah hars dipertahankan agar bisa menggenangi
dan merata, sehingga semua permukaan tanah terairi dan basah
c. Pada petak sawah harus terdapat lubang pemasukan dan pembuangan air
yang letaknya bersebrangan agar air yang diperlukan oleh tanaman dapat
merata diseluruh lahan
d. Air mengalur membawa lumpur dan kotoran sawah. Kotoran yang
mengendap dapat digunakan sebagai pupuk dan lumpur sangat baik untuk
tanaman padi sawah

e. Genangan air pada ketinggian yang diinginkan dapat membantu


pertumbuhan tanaman padi yang merata pada petak sawah

2.3 Neraca Air


Neraca air adalah gambaran keadaan potensi penyediaan air dan potensi
kebutuhan air yang dirupakan dalam bentuk hasil ploting data curah hujan
bulanan dan nilai kebutuhan air tanaman di suatu wilayah. Ploting data curah
hujan dan nilai kebutuhan air tanaman tersebut bisa dimulai bulan Januari atau
lebih sering diawali dengan bulan Oktober yaitu pada saat tanam pertama. Atas
dasar hasil ploting tersebut bisa ditentukan bulan-bulan cukup air (surplus) dan
bulan-bulan kurang air (defisit). Disamping itu selisih ketebalan air yang terjadi
bisa diketahui langsung dari ploting data tersebut. Fungsi dari pemberian air
irigasi, baik itu dengan sistem irigasi siram, irigasi permukaan, atau irigasi bawah
permukaan adalah pada saat terjadi bulan-bulan kekurangan air. Namun perlu
diperhatikan bahwa tebal air yang dibutuhkan oleh tanaman pada bulan yang
bersangkutan masih harus dipertimbangkan hilangnya air baik melalui proses
penguapan (evapotranspirasi), rembesan (seepage), bocoran, operasional, dll. Oleh
karenanya tebal air yang harus dipasok pada bulan kurang air mestinya lebih besar
dari tebal air hasil ploting, yang
besar kecilnya ditentukan karateristik dari wilayah tersebut (Tim Dosen, 2007).
2.4 Cropwat
Sofware Cropwat 8.0 adalah program komputer untuk perhitungan kebutuhan
air tanaman dan kebutuhan irigasi berdasarkan data tanah, iklim dan tanaman.

Selain itu, program ini memungkinkan pengembangan jadwal irigasi untuk


kondisi manajemen yang berbeda dan perhitungan pasokan skema air untuk
berbagai pola tanaman. Sofware Cropwat 8.0 juga dapat digunakan untuk
mengevaluasi praktek-praktek irigasi petani dan untuk menilai kinerja tanaman
yang berhubungan dengan kebutuhan air (Angraeni, 2013).
Prosedur perhitungan yang digunakan dalam semua Sofware Cropwat 8.0
didasarkan pada dua publikasi dari FAO Irigasi dan Drainase Series, yaitu, No 56
"Evapotranspirasi Tanaman - Pedoman untuk kebutuhan air tanaman komputasi"
dan Nomor 33 berjudul "Tanggapan Hasil untuk air". Sebagai titik awal, dan
hanya untuk digunakan saat data lokal tidak tersedia, Sofware Cropwat 8.0
termasuk tanaman standar dan data tanah. Ketika data lokal yang tersedia, file-file
data dapat dengan mudah diubah atau yang baru dapat diciptakan. Demikian juga,
jika data iklim lokal tidak tersedia, ini dapat diperoleh untuk lebih dari 5.000
stasiun di seluruh dunia dari Climwat, data iklim terkait. Perkembangan jadwal
irigasi di Sofware Cropwat 8.0 didasarkan pada keseimbangan tanah, air setiap
hari menggunakan pilihan yang ditetapkan pengguna berbagai untuk suplai air dan
kondisi pengelolaan irigasi. Skema pasokan air dihitung sesuai dengan pola tanam
yang ditentukan oleh pengguna, yang dapat berisi hingga 20 tanaman (Alen,
2006).
Dalam Sofware Cropwat 8.0, penetapan ETo menggunakan metode
Penman- Montei th. Rumus yang menjelaskan ETo secara teliti adalah rumus
Penman-Montei th, yang pada tahun 1990 oleh FAO dimodifikasi dan

dikembangkan menjadi rumus FAO Penman-Montei th (Alen, 2006), yang


diuraikan dengan persamaan:
ETo = 0,408 (Rn-G)+y 2(es-ea) +y(1+0,3 2)

Keterangan:
ETo

= Evapotranspi rasi tanaman acuan, mm/hari

Rn

= Radiasi net to pada permukaan tanaman, MJ/m2/hari

= Kerapatan panas terus -menerus pada tanah (fluks panas tanah),

MJ/m2/hari
T

= Suhu harian rata-rata pada ket inggian 2 meter, 0C

= Kecepatan angin pada ketinggian 2 meter, m/det

es

= Tekanan uap jenuh, kPa

ea

= Tekanan uap aktual , kPa

= Kurva kemiringan tekanan u`ap, kPa/ 0C

= Konstanta psycrometr ic, kPa/ 0C

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 18 dan 25 Maret 2016,
pada pukul 13.00 WITA sampai selesai di Laboratorium Agroklimatologi dan
Statistika

Jurusan

Budidaya

Pertanian,

Fakultas

Pertanian,

Universitas

Hasanuddin, Makassar.
3.2 Metode Pelaksanaan
Adapun metode pelaksanaan dari analisis kebutuhan air tanaman adalah
sebagai berikut:
1. Menyiapkan data mentah 15 tahun terakhir pada kecamatan tertentu yang
ingin diolah datanya.
2. Menentukan jumlah rata-rata curah hujan, lamanya penyinaran, suhu
minimum, suhu maximum, bacaan angin, kelembapan udara dan menghitung
rata-ratanya yang terjadi dalam waktu perhari, perbulan dan pertahun.
3. Menghitung jumlah bobot curah hujan, lamanya penyinaran, suhu minimum
maximum, bacaan angin, kelembapan udara. Mengukur data pada Cropwat
sesuai dengan prosedur.
4. Memasukkan data rata-rata suhu minimum, suhu maximum, kelembapan,
curah hujan, kecepatan angin dan lamanya penyinaran matahari yang telah
diubah kedalam Cropwat agar mendapatkan hasil secara otomatis.
5. Memasukkan jenis tanaman dan menentukan waktu tanam maka akan terlihat
secara otomatis waktu panen tanaman tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil yang diperoleh dalam praktikum analisis kebutuhan air tanaman
adalah sebagai berikut :
4.1.1 Tabel Climate

Sumber : Data primer setelah diolah, 2016


4.1.2 Rain and Eff.Rain

80

Rain mm
Eff rain mm

75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
1

10

11

12

Month

Sumber : Data primer setelah diolah, 2016


4.1.3 EtO
ETo mm/day

3
1

10

11

12

Month

Sumber : Data primer setelah diolah, 2016


4.1.4 Irr Req
180.0
170.0

Irr. Req.

160.0
150.0
140.0
130.0
120.0
110.0
100.0
90.0
80.0
70.0
60.0
50.0
40.0
30.0
20.0
10.0
0.0

6
Month

Sumber : Data primer setelah diolah, 2016


4.1.5 CWR

180.0

ETc
Irr. Req.

170.0
160.0
150.0
140.0
130.0
120.0
110.0
100.0
90.0
80.0
70.0
60.0
50.0
40.0
30.0
20.0
10.0
0.0

6
Month

Sumber : Data primer setelah diolah, 2016


4.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa data iklim pada daerah
Jeneponto cocok untuk melakukan budidaya tanaman padi. Dengan adanya data
tersebut, maka dapat dilakukan penanaman dengan melihat bulan basah atau bulan
dimana terdapat musim hujan.
Hasil olah data yang telah dilakukan pada tabel climate daapat dilihat bahwa
rata-rata suhu minimum kabupaten jeneponto selama 15 tahun terakhir yaitu
23,5C dan suhu maksimumnya yaitu 29,5C, nilai kecepatan angin yaitu 64
km/jam dan lama penyinaran matahari adalah 4,3 jam. Sedangkan efesinsi air
hujan mencapai 80% dimana sangat cocok untuk penanaman padi. Berdasarkan
hasil pengelolahan data iklim tersebut kita dapat menentukan jadwal tanam padi
yaitu pada tanggal 3 mei 2016 dan panen pada tanggal 30 agustus 2016 di
kabupaten jeneponto dengan jenis tanah medium (loam). Selanjutnya pada grafik
irr Req atau kebutuhan air irigasi menunjukkan hasil bulan agustus tidak terlalu
dibutuhkan air selama proses penanaman. Pada CWR menunjukkan bahwaa Etc
atau evapotranspirasinya stabil sehingga tidak terlalu membutuhkan air.

Analisa ini diawali dengan menghitung evapotranspirasi biasa (Et0) dengan


menggunakan model Cropwat. Modifikasi dengan data klimatologi seperti
untuk mengetahui temperatur, kelembaban, radiasi penyinaran dan kecepatan
angin dan radiasi. Kemudian ditentukan besarnya curah hujan efektif yang dapat
dimanfaatkan oleh tanaman pada kondisi tahun hujan kering (tilong-d), tahun
hujan basah (tilong-w) dan tahun hujan normal (tilongn).
Selanjutnya dilakukan analisa kebutuhan air tanaman padi untuk tanggal
tanam tertentu dengan menggunakan model Cropwat. Analisa kebutuhan air ini
dilakukan untuk kondisi tahun hujan kering (tilong-d), tahun hujan basah (tilongw) dan tahun hujan normal (tilongn). Hasil perhitungan model Cropwat untuk
evapotranspirasi biasa (Et0), curah hujan efektif dan kebutuhan air tanaman
disajikan dalam bentuk grafik.
Dengan adanya aplikasi cropwat 8.0 ini, sangatlah membantu dalam
mengetahui jadwal musim tanam yang baik untuk melakukan budidaya tanaman
padi pada daerah jeneponto.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum analisis kebutuhan air pada tanaman yaitu
sebagai berikut :
1. Tanaman Jagung mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan, selain
sebagai tanaman pangan dapat juga sebagai bahan pakan ternak dan bahan
baku industri (bioetanol ).
2. Tanaman jagung butuh sedikit air, dapat tumbuh di lahan marginal (kering,
asam, salinitas tinggi) dan dapat diratun.
3. Penggunaan Cropwat dalam menentukan kebutuhan air pada suatu tanaman
sangat membantu karena dari software tersebut dapat diketahui dengan
mudah tentang budidaya suatu tanaman.
5.2 Saran
Adapun saran dalam praktikum ini adalah sebaiknya dalam pengaplikasian
aplikasi Cropwat perlu dijelaskan sebelumnya mengenai prosedur penggunaan
aplikasi agar dalam mengerjakan laporan, praktikan tidak bingung.

DAFTAR PUSTAKA
Alen. 2006. Biology The Unity and Diversity of

Life. Wadsworth Publishing

Company. California.
Anggraeni. 2013. Prospek sorgum dan jagung di Indonesia: Potensi, peluang dan
tantangan pengembangan agribisnis. Risalah Simposium Prospek
Tanaman Sorgum untuk Pengembangan Agroindustri, 1718 Januari
1995. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan
Umbi-umbian No. 4- 1996: 2538.
Basri, Z., 2006. Kultur Jaringan Tanaman. Universitas Tadulako Press, Palu.
Rahardjo, Pudji.2011. Menghasilkan Benih dan Bibit Padi Unggul. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Tim Dosen. 2007. Petunjuk Praktikum Azas dan Irigasi. Jurusan Teknik Pertanian.
Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Bandung.

LAMPIRAN
Data Climate / Eto

Data Soil

Jadwal Tanam dan Panen Tanaman Kacang Hijau

Tabel Kebutuhan Air tanaman

Jadwal Irigasi Tanaman

Grafik Min Tem C


Min Temp C
25

24

23

22

7
Month

10

11

12

Grafik Max Tem C


42

Max Temp C

41
40
39
38
37
36
35
34
33
32
31
30
29
28
27
26
25
24
23
1

10

11

12

Month

Grafik Kelembaban
98
96
94
92
90
88
86
84
82
80
78
76
74
72
70
68
66
64
62
60
58
56
54
52
50
48
46
44
1

Humidity %

10

11

12

Month

Grafik Kecepatan Angin


110
105

Wind km/day

100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
1

7
Month

10

11

12

Grafik Lama Penyinaran


6
Sun hours

2
1

7
Month

10

11

12