Anda di halaman 1dari 15

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Rencana Kerja


3.1.1 Penyuluhan
Masyarakat pesisir Pangandaran yang memiliki kebiasaan untuk menjadikan tempat
berjualan di daerah wisata sebagai tempat untuk melakuakn aktivitas sehari- hari. Selain itu
karena merupaka kawasan wisata, maka mobilitas penduduk dan pengunjung tinggi. Dan
kurangnya kesadaran akan kebersihan lingkungan seperti mengabaikan potensi tempat
nyamuk berkembang biak merupakan celah munculnyapenyakit. Kebiasaan tersebut
membuat masyarakat rentan terhadap penyakit menular demam berdarah. Karena pekerjaan
yang umum adalah nelayan, serta masyarakat sekitar sering kontak dengan air laut, ditambah
kurangnya sarana air bersih, maka penyakit kulit juga merupakan salah satu masalah
kesehatan yang harus diperhatikan. Kemudian, tingginya aktifitas yang melibatkan produksi
asap seperti pengunaan kayu bakar, dan merokok, menjadikan ISPA salah satu malasah
kesehatan pula di daerah Pantai Pangandaran. Apabila dilihat dari penyebab penyakit yang
telah disebutkan, penyakit-pennyakit ini dapat diatasi dan dicegah perkembangannya dengan
meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan serta pola hidup bersih sehat.
Promosi kesehatan dilakukan untuk memperbaiki kesehatan atau mendorong untuk
menempatkan kesehatan kesehatan sebagai kebutuhan yang lebih tinggi pada setiap individu
ataupun masyarakat dengan cara peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan akan
membantu individu ataupun masyarakat untuk cepat tanggap dalam masalah kesehatan
(khususnya untuk penyakit ISPA, demam berdarah dan penyakit kulit). Promosi kesehatan
yang berupa penyuluhan yang akan dilakukan dengan pilar komunikasi, informasi dan
edukasi terhadap penyakit kulit, demam berdarah dan ISPA. Tujuan dari promosi kesehatan
ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kebersihan lingkungan
dan perilaku kesehatan yang tepat, meningkatkan kebersihan lingkkungan, mengubah pola
hidup menjadi lebih sehat dan menurunkan serta mencegah peninhkatan angka penderita
penyakit kulit, demam berdarah dan ISPA. Media penyuluhan berupa poster serta
penyuluhan secara lisan. Sasaran penyuluhan ini adalah para penderita maupun yang
mengalami gejala penyakit kulit, demam berdarah dan ISPA, pihak keluarga penderita, serta
masyarakat sekitar Pantai Pangandaran. Penyuluhan akan dilakukan oleh apoteker, serta
tenaga kesehatan lain dari puskesmas setempat.
3.1.2

Pengobatan Gratis

Pada penderita penyakit ISPA, demam berdarah dan penyakit kulit di pangandaran
merupakan masalah kesehatan yang masih soroti karena angka penderita penyakit tersebut
tinggi di wilayah Pantai Pangandaran. Salah satu upaya untuk mengatasi penyakit yang telah
ada adalah melakukan pengobatan. Namun, masyarakat pangandaran nampaknya memiliki
keterbatasan biaya, fasilitas dan kesadaran akan pentingnya berobat. Oleh karena itu, akan
dilakukan pengobatan gratis di wilayah Pesisir Pangandaran. Dari acara pengobatan gratis ini

diharapkan agar menurangi angka kesakitan serta memberikan pelayanan dan pengobatan
yang memadai terhadap masalah kesehatan yang muncul di Pesisir Pangandaran. Pengobatan
gratis ini akan dilakukan oleh dokter, perawat, apoteker, serta tenaga kesehatan lain dari
puskesmas setempat. Pada pengobatan gratis ini juga dilakukan kegiatan edukasi berupa
konseling tentang pengobatan maupun kondisi kesehatan para korban serta penyampaian
pengetahuan tentang obat dan pengobatan yang dapat dilakukan baik secara kelompok
maupun individu. Pemberian informasi obat kepada pasien berdasarkan resep atau kondisi
kesehatan pasien baik lisan maupun tertulis; menjawab pertanyaan pasien dengan jelas dan
mudah dimengerti, tidak bias, etis, dan bijaksana baik secara lisan maupun tertulis;
memberikan brosur atau leaflet kesehatan untuk informasi pasien; serta melakukan
pencatatan/dokumentasi terhadap setiap kegiatan pelayanan informasi obat.

3.1.3

Mendapatkan Air Bersih

Beberapa penyakit yang biasa menjangkiti masyarakat di wilayah pesisir pantai antara
lain demam berdarah, ISPA dan penyakit kulit. Disamping itu, masalah kesehatan lingkungan
lain yang umum terjadi pada sebagian besar kawasan pesisir adalah masalah penyediaan air
bersih bagi masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut. Penggunaan air bersih yang
sangat minimal dapat menyebabkan kurangnya kesadaran akan kesehatan diri. Hal ini
dikarenakan sumber air yang ada di kawasan pesisir biasanya berasal dari sumur air tanah
yang airnya berasa asin. Kualitas air tanahnya juga sangat bergantung dari curah hujan. Pada
musim kemarau, air tawar yang berasal dari air hujan sudah tidak tersedia lagi, sehingga air
tanah dengan mudah akan terkontaminasi oleh air laut. Selain itu, kadar air tawar juga
semakin menurun karena pembangunan yang berkelanjutan tanpa memperhatikan lingkungan
sehingga memperkecil daerah resapan air hujan. Kandungan air tawar dalam tanah semakin
menipis karena diambil terus menerus sehingga semakin banyak air laut yang meresap
kedalam tanah menggantikan posisi air tawar tersebut. Kondisi tanah yang umumnya berupa
tanah karang membuat sumber-sumber air yang memadai sulit diperoleh. Kerusakan alam
akibat penebangan hutan bakau juga akan mempercepat intrusi air laut ke darat yang
menyebabkan air tawar di desa-desa pesisir pantai berubah menjadi payau. Untuk
mendapatkan air bersih bagi penduduk pesisir Pantai Pangandaran, dapat dilakukan opsi:
1.

Pemurnian air laut.

Pada dasarnya prinsip pemurnian air laut adalah proses pemisahan garam dari air laut
sehingga diperoleh air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Ada banyak
cara untuk mengolah air asin menjadi air tawar, antara lain:
a.

Penyulingan

Percobaan pertama untuk memisahkan garam dan air laut adalah meniru cara alam, yaitu
dengan menguapkan air laut kemudian mengembunkan uapnya kembali. Ketika air laut
dipanaskan, hanya air yang menguap, garam-garam yang terlarut tetap tinggal dalam larutan
(air laut). Dengan menggunakan alat suling bagian dalam wadah perebus air laut dilengkapi

dengan pipa-pipa tegak untuk memperluas permukaan air yang dipanaskan. Dengan
perluasan dapat diperoleh banyak uap dalam waktu relatif singkat.
b.

Osmosis Balik (Reverse Osmosis)

Osmosis balik atau reverse osmosis (RO), dilaksanakan dengan memberikan tekanan
terhadap air laut, sehingga memaksa dari molekul-molekul air murni menembus suatu kan
bakteri akan ditolak (rejeksi). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar diatas. Osmosis
balik ini dioperasikan secara kontinyu. Kemurnian air yang dicapai hingga 99% dan tingkat
produksi yang tinggi. RO merupakan cara paling murah untuk menawarkan pemurnian air
laut. Keuntungan metode ini adalah kemurnian air yang dihasilkan bagus, menghemat
tempat,dan menghemat energi.
c.

Evaporator

Evaporator adalah sistem utama bagi pabrik untuk mengolah air laut menjadi air tawar.
Demikian juga ladang garam memproduksi garam melalui proses penguapan air laut.
Sebaliknya, air bersih akan diproduksi, dengan menghilangkan garam dari air laut.
Evaporator untuk mengolah air laut dirancangkan untuk mengumpulkan uap yang terjadi di
dalam proses penguapan. Proses tersebut antara lain: penguapan dengan multi guna yaitu air
laut yang direbus untuk penguapan. Sehingga uap itu akan terkumpul menjadi air tawar.
Teknologi itu biasanya digunakan untuk pabrik pengolah air laut skala besar. Disamping itu
juga terdapat proses tekanan peresapan (osmosis) dengan arah balik yaitu cara untuk
mengurangi dan menghapus rasa asin air laut. Teknologi ini digunakan untuk pabrik pengolah
air laut sekala menengah dan kecil.

2.

Program Penyediaan Air Minum Dan Sanitasi Masyarakat

Program penyediaan air minum dan sanitasi masyarakat adalah program yang ditujukan bagi
daerah-daerah tertinggal yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan airnya. Fokus dari
program ini adalah kemudahan untuk mengakses air bersih diamanpun masyarakat berada,
seperti penampungan air bersih serta kran air bersih di lingkungan masyarakat. Program ini
diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat terpencil dan masyarakat pesisir untuk
memenuhi kebutuhan akan air bersih dan air minumnya secara swadaya, karena program ini
digerakkan langsung oleh masyarakat itu sendiri.

3.2 Pencegahan Penyakit


3.2.1 Pencegahan Penyakit Kulit
Pencegahan penyakit kulit dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Meningkatkan kebersihan diri

Meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara banyak mengkonsumsi makanan

bergizi (multivitamin) dan istirahat yang cukup.


Menghindari kontak langsung dengan penderita penyakit kulit menular, bila
bersinggungan/bersentuhan dengan penderita segera cuci tangan menggunakan

air bersih yang mengalir bila perlu menggunakan sabun


Menghindari penggunaan perlengkapan pribadi secara bersamaan (selimut,

pakaian, handuk, sabun mandi, dll)


Melakukan perawatan dan pengobatan pada anggota keluarga yang menderita
penyakit kulit yang cenderung menular.

3.2.2

Pencegahan Demam Berdarah

Pencegahan Primer
Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan primer,
pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan tingkat pertama ini merupakan
upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang
sehat menjadi sakit.
1. Surveilans Vektor
Surveilans untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi,
kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang
berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang
dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan pengendalian vektor.
Data tersebut akan memudahkan pemilihan dan penggunaan sebagian besar peralatan
pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan
yang dilakukan adalah survei jentik.
Survei jentik dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat atau bejana yang
dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dengan mata telanjang untuk
mengetahui ada tidaknya jentik,yaitu dengan cara visual. Cara ini cukup dilakukan dengan
melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
2. Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes
aegypti. Secara garis besar ada 3 cara pengendalian vektor yaitu :
a. Pengendalian Cara Kimiawi
Pada pengendalian kimiawi digunakan insektisida yang ditujukan pada nyamuk dewasa atau
larva. Insektisida yang dapat digunakan adalah dari golongan organoklorin, organofosfor,
karbamat, dan pyrethoid. Bahan-bahan insektisida dapat diaplikasikan dalam bentuk

penyemprotan (spray) terhadap rumah-rumah penduduk. Insektisida yang dapat digunakan


terhadap larva Aedes aegypti yaitu dari golongan organofosfor (Temephos) dalam bentuk
sand granules yang larut dalam air di tempat perindukan nyamuk atau sering disebut dengan
abatisasi.
b. Pengendalian Hayati / Biologik
Pengendalian hayati atau sering disebut dengan pengendalian biologis dilakukan dengan
menggunakan kelompok hidup, baik dari golongan mikroorganisme hewan invertebrate atau
vertebrata. Sebagai pengendalian hayati dapat berperan sebagai patogen, parasit dan
pemangsa. Beberapa jenis ikan kepala timah (Panchaxpanchax), ikan gabus (Gambusia
affinis) adalah pemangsa yang cocok untuk larva nyamuk. Beberapa jenis golongan cacing
nematoda seperti Romanomarmis iyengari dan Romanomarmis culiforax merupakan parasit
yang cocok untuk larva nyamuk.
c. Pengendalian Lingkungan
Pengendalian lingkungan dapat digunakan beberapa cara antara lain dengan mencegah
nyamuk kontak dengan manusia yaitu memasang kawat kasa pada pintu, lubang jendela, dan
ventilasi di seluruh bagian rumah. Hindari menggantung pakaian di kamar mandi, di kamar
tidur, atau di tempat yang tidak terjangkau sinar matahari.

3. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk


Gerakan PSN adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah
untuk mencegah penyakit DBD yang disertai pemantauan hasilhasilnya secara terus menerus.
Gerakan PSN DBD merupakan bagian terpenting dari keseluruhan upaya pemberantasan
penyakit DBD, dan merupakan bagian dari upaya mewujudkan kebersihan lingkungan serta
prilaku sehat dalam rangka mencapai masyarakat dan keluarga sejahtera. Dalam membasmi
jentik nyamuk penularan DBD dengan cara yang dikenal dengan istilah 3M, yaitu :
1. Menguras bak mandi, bak penampungan air, tempat minum hewan peliharaan minimal
sekali dalam seminggu.
2. Menutup rapat tempat penampungan air sedemikian rupa sehingga tidak dapat diterobos
oleh nyamuk dewasa.
3. Mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang semuanya dapat
menampung air hujan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.

Pencegahan Sekunder
Pada pencegahan sekunder dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Penemuan, Pertolongan dan Pelaporan Penderita

Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD dilaksanakan oleh petugas kesehatan
dan masyarakat dengan cara :
a. Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD, berikan pertolongan
pertama dengan banyak minum, kompres dingin dan berikan obat penurun panas yang tidak
mengandung asam salisilat serta segera bawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.
b. Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa dan pengobatan
segaera melaporkan penemuan penderita atau tersangka DBD tersebut kepada Puskesmas,
kemudian pihak Puskesmas yang menerima laporan segera melakukan penyelidikan
epidemiologi dan pengamatan penyakit dilokasi penderita dan rumah disekitarnya untuk
mencegah kemungkinan adanya penularan lebih lanjut.

Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga ini dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat penyakit DBD
dan melakukan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan :
a. Transfusi Darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan malena
diindikasikan untuk mendapatkan transfusi darah secepatnya.
b. Stratifikasi Daerah Rawan DBD
Adapun jenis kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan seperti :
i. Endemis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD. Kegiatan
yang dilakukan adalah fogging Sebelum Musim Penularan (SMP), Abatisasi selektif, dan
penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
ii. Sporadis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD. Kegiatan yang
dilakukan adalah Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB), PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
dan 3M, penyuluhan tetap dilakukan.
iii. Potensial
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir tidak ada kasus DBD. Tetapi
penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi dengan wilayah lain dan persentase
rumah yang ditemukan jentik > 5%. Kegiatan yang dilakukan adalah PJB, PSN, 3M dan
penyuluhan.
iv. Bebas

Yaitu Kecamatan, Kelurahan yang tidak pernah ada kasus DBD. Ketinggian dari permukaan
air laut > 1000 meter dan persentase rumah yang ditemukan jentik 5%. Kegiatan yang
dilakukan adalah PJB, PSN, 3M dan penyuluhan.

3.2.3

Pencegahan ISPA

1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)


Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi
untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. Termasuk disini ialah :
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat
mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor
resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA,
penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan
anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan
(insiden) pneumonia.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi vitamin A.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi di
dalam maupun di luar rumah

2. Perlindungan Khusus (Spesifik Protection)


Perlindungan khusus dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan
upaya antara lain:
a

Perbaikan

status

gizi

individu/perorangan

ataupun

masyarakat

untuk

membentuk daya tahan dalam tubuh yang lebih baikdan dapat melawan agent
b

penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh.


Pemberian ASI Ekslusif kepada bayi yang baru lahir, karena ASI banyak
mengandung kalori, protein dan vitamin yang banyak dibutuhkan tubuh,
pencegahan ini bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh.

3. Diagnosis dini dan Pengobatan Segera (early diagnosis and prompt treatment)

Diagnosis dini dan pengobatan segera terhadap penyakit ISPA dapat dilakukan upaya
antara lain:
a

Temukan semua penderita secara dini dan aktif dengan cara diperiksa di sarana
pelayanan kesehatan guna memastikan bahwa seseorang/bayi benar-benar tidak

menderita ISPA.
Melakukan pencarian penderita ISPA dan berikan segera pengobatan yang tepat
serta sediakan fasilitas untuk penemuan dan pengobatan penderita agar tidak

menularkan penyakitnya pada orang lain.


Sediakan fasilitas yang memadai seperti laboratorium agar dapat melakukan
diagnosa dini terhadap penderita, kontak, dan tersangka.

Pemberantasan cacat (disability limitation)

Penyakit ISPA jika tidak diobati secara baik dan teratur akan dapat mengakibatkan
kematian. Pemberantasan cacat dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat
dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya:
a

Mencegah proses lebih lanjut dengan cara melakukan pengobatan secara

berkesinambungan sehingga dapat tercapai proses pemulihan yang baik.


Melakukan perawatan khusus secara berkala guna memperoleh pemulihan
kesehatan yang lebih baik.

Rehabilitasi (Rehabilitation)

Rehabilitasi dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan


rehabilitasi fisik /medis apabila terdapat gangguan kesehatan fisik akibat penyakit ISPA.
Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:

Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.

Immunisasi.

Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.

Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

3.3 Pengobatan Penyakit


3.3.1 Pengobatan Penyakit Kulit
Penyakit kulit dikenal bermacam-macam, seperti kudis, eksema, kutu air, biang keringat,
koreng dan sebagainya. Untuk mengobati penyakit-penyakit kulit tersebut digunakan bahan-

bahan yang sifatnya mampu melindungi kulit yang luka, mampu menghaluskan dan
melemaskan kulit, mengurangi rasa gatal dan mempunyai kerja khusus serta bersifat
antiseptika.
Sediaan farmasi yang digunakan pada kulit adalah untuk memberikan aksi lokal, berlangsung
lama pada tempat yang sakit dan sedikit mungkin diabsorpsi. Oleh karena itu sediaan pada
kulit biasanya digunakan sebagai antiseptik, antifungi, antiinflamasi, anestetik lokal, emolien,
pelindung terhadap sinar matahari, udara dan iritasi zat kimia. Biasanya bentuk sediaannya
berupa salep, krim dan pasta, sedangkan sediaan lain yang juga digunakan adalah berupa
serbuk tabur, aerosol, larutan dan losio.
Contoh obat-obatan yang sering digunakan pada pengobatan penyakit kulit:
1. Obat antibakteri dan germisida, seperti fenol, kresol, timol alkohol dan lain-lain.
2. Antibiotik topikal, terdiri dari Penisilin, Neomisin, Framisetin, Gramisidin, Gentamisin,
Polimixin B, Tetrasiklin HCl, Eritromisin dan lainnya.
3. Antifungi topikal, seperti natrium propionat, asam undesilenat, salisilamid, asam benzoat,
asam salisilat dan lain sebagainya.

a. Neomisin sulfat
Neomisin sulfat adalah garam sulfat dari neomisin, zat antibakteri yang dihasilkan oleh
pertumbuhan Streptomyces fradiae (1949) Waksman (Familia Streptomycetaceae) atau
campuran dari dua atau lebih bentuk garam. Mempunyai potensi setara tidak kurang dari 600
mcg neomisin per mg, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Neomisin merupakan antibiotik berspektrum luas. Mikroorganisme yang rentan biasanya
dihambat oleh konsentrasi 5 hingga 10 mcg/ml atau kurang. Neomisin tersedia untuk
penggunaan topikal dan oral. Neomisin digunakan secara luas untuk penggunaan topikal dan
berbagai infeksi kulit dan membran mukus yang disebabkan oleh mikroorganisme yang
rentan terhadap obat ini. Pemberian oral neomisin biasanya dalam kombinasi dengan
eritromisin basa. Neomisin diabsorpsi dengan buruk dari saluran gastrointestinal dan
diekskresikan oleh ginjal sebagaimana aminoglikosida lainnya.
Neomisin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida. Aminoglikosida adalah golongan
antibiotik bakterisidal yang terkenal toksik terhadap saraf otak (ototoksik) dan terhadap ginjal
(nefrotoksik). Antibiotik ini merupakan produk berbagai spesies streptomyces atau fungus
lainnya. Aminoglikosida merupakan kelompok antibiotik yang gula aminonya tergabung
dalam ikatan glikosida. Antibiotik ini memiliki spektrum luas dan bersifat bakterisidal dengan
mekanisme penghambatan pada sintesis protein. Antibiotik ini berikatan pada subunit 30S
ribosom bakteri (beberapa terikat juga pada subunit 50S ribosom) dan menghambat
translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke situs P dan menyebabkan kesalahan pembacaan

mRNA dan mengakibatkan bakteri tidak mampu menyintesis protein vital untuk
pertumbuhannya.
Secara in vitro neomisin aktif terhadap organisme Gram negatif termasuk Eschericia coli,
Enterobacter aerogenes, Klebsiella pneumonia, Proteus vulgaris dan Haemophilus influenza.
Neomisin aktif terhadap Gram positif yaitu Staphylococcus aureus ataupun Staphylococcus
epidermidis. Organisme yang resisten terhadap neomisin termasuk mikroorganisme Gram
negatif Pseudomonas aeruginosa, mikroorganisme Gram positif, bakteri anaerob, fungi dan
virus.

b. Betason-N krim
Tiap gram krim mengandung Betametason-17-valerat 1 mg dan Neomisin sulfat 5 mg.
Betametason merupakan 9-fluorokortikosteroid, yaitu suatu senyawa dari golongan
kortikosteroid yang paling efektif untuk obat kulit. Neomisin dikenal sebagai suatu antibiotik
yang aktif terhadap sejumlah besar bakteri yang umumnya menyertai radang kulit. Betason-N
krim sangat berguna untuk mengobati penyakit kulit dengan radang akut maupun sub-akut
seperti eksema, dermatitis atopik, neurodermatitis, alergi terhadap bubuk sabun atau zat-zat
kimia. Adanya Neomisin dalam Betason-N krim menjamin penyembuhan infeksi sekunder
yang umumnya disertai radang-radang kulit.

3.3.2

Pengobatan Demam Berdarah

Farmakologi dan Tatalaksana (Prayitno, et al., 2012)


1

Demam dengue
Pasien DD dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat. Pada fase demam pasien dianjurkan
Tirah baring, selama masih demam.
Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan.
Untuk menurunkan suhu menjadi < 39C, dianjurkan pemberian parasetamol.
Asetosal/salisilat tidak dianjurkan karena dapat meyebabkan gastritis, perdarahan,
atau asidosis.
Dianjurkan pemberian cairan danelektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping
air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari.
Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalesen.

Gambar 1. Dosis parasetamol menurut kelompok umur

2. Demam Berdarah Dengue


Tatalaksana DBD fase demam bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral
untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena tidak mau
minum, muntah atau nyeri perut yang berlebihan, maka cairan intravena perlu diberikan.
Pemberian parasetamol direkomendasikan pada pasien. Rasa haus dan keadaan dehidrasi
dapat timbul sebagai akibat demam tinggi. Jenis minuman yang dianjurkan adalah jus buah,
teh manis, sirup, susu, serta larutan oralit. Pasien perlu diberikan minum 50 ml/kg BB dalam
4-6 jam pertama. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi anak diberikan cairan rumatan 80100 ml/kg BB dalam 24 jam berikutnya. Bayi yang masih minum asi, tetap harus diberikan
disamping larutan oralit. Bila terjadi kejang demam, disamping antipiretik diberikan
antikonvulsan selama demam. Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok yang
mungkin terjadi. Periode kritis adalah waktu transisi, yaitu saat suhu turun pada umumnya
hari ke 3-5 fase demam.
Penggantian Volume Plasma
Cairan intravena diperlukan, apabila (1) Anak terus menerus muntah, tidak mau minum,
demam tinggi sehingga tidak rnungkin diberikan minum per oral, ditakutkan terjadinya
dehidrasi sehingga mempercepat terjadinya syok. (2) Nilai hematokrit cenderung meningkat
pada pemeriksaan berkala. Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi
dankehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam larutan NaCl 0,45%. Bila
terdapat asidosis, diberikan natrium bikarbonat 7,46% 1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahanlahan. Apabila terdapat hemokonsentrasi 20% atau lebih maka komposisi jenis cairan yang
diberikan harus sama dengan plasma. Volume dan komposisi cairan yang diperlukan sesuai
cairan untuk dehidrasi pada diare ringan sampai sedang.
Jenis Cairan (rekomendasi WHO)
Kristaloid.
Larutan ringer laktat (RL)
Larutan ringer asetat (RA)
Larutan garam faali (GF)
Dekstrosa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL)
Dekstrosa 5% dalam larutan ringer asetat (D5/RA)
Dekstrosa 5% dalam 1/2 larutan garam faali (D5/1/2LGF)
(Catatan:Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak boleh larutan yang
mengandung dekstran)
2.

Sindrom Syok Dengue

Syok merupakan keadaan gawat darurat. Cairan pengganti adalah pengobatan yang utama
yang berguna untuk memperbaiki kekurangan volume plasma. Pasien anak akan cepat
mengalami syok dan sembuh kembali bila diobati segera dalam 48 jam. Pada penderita SSD
dengan tekanan darah tak terukur dan tekanan nadi <20 mm Hg segera diberi cairan kristaloid

sebanyak 20 ml/kg BB/jam selama 30 menit, bila syok teratasi turunkan menjadi 10 ml/kg
BB. Cairan intravena dapat dihentikan apabila hematokrit telah turun, dibandingkan nilai
hemtokrit sebelumnya. Pada umumnya, cairan tidak perlu diberikan lagi setelah 48 jam syok
teratasi.
Hiponatremia dan asidosis metabolik sering menyertai pasien DBD/SSD, maka analisis gas
darah dan kadar elektrolit harus selalu diperiksa pada DBD berat. Terapi oksigen 2 liter per
menit harus selalu diberikan pada semua pasien syok. Dianjurkan pemberian oksigen dengan
mempergunakan masker. Pemberian transfusi darah diberikan pada keadaan perdarahan.
Penurunan hematokrit (misalnya dari 50% menjadi 40%) tanpa perbaikan klinis walaupun
telah diberikan cairan yang mencukupi, merupakan tanda adanya perdarahan. Transfusi darah
dimaksudkan untuk mengatasi pendarahan karena cukup mengandung plasma, sel darah
merah dan trombosit.
Terapi Nonfarmakologi
Balittro (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik )sebagai balai yang memiliki mandat
penelitian tanaman obat berupaya mencari jenis-jenis tanaman obat yang berkhasiat dalam
mengobati penyakit DBD. Jenis tanaman obat yang terpilih ada lima, yaitu pepaya gandul,
kunyit, temu ireng, meniran, dan jambu biji. Balittro telah mengeluarkan formula ramuan
anti-DBD berupa simplisia maupun sirup. Ramuan tersebut terdiri atas daun pepaya tua 2
lembar, meniran 3-4 tanaman,daun jambu biji merah 2-3 lembar, kunyit 2-4 jari, temu ireng
2-3 buah, dan garam secukupnya. Ramuan bisa digunakan dalam bentuk segar dengan cara
ditumbuk atau diblender kemudian dicampur dengan satu gelas air putih. Ramuan diminum
tiga kali sehari. Dapat pula digunakan dalam bentuk simplisia. Caranya, simplisia direbus
dengan enam gelas air sampai menghasilkan tiga gelas, lalu air rebusan diminum tiga kali
sehari, masingmasing satu gelas pada pagi, siang, dan malam hari (Balittro, 2006).

3.3.3

Pengobatan ISPA

Pengobatan meliputi pengobatan penunjang dan antibiotika. Penyebab ISPA atas yang
terbanyak adalah infeksi virus maka pemberian antibiotika pada infeksi ini tidaklah rasional
kecuali pada sinusitis, tonsilitis eksudatif, faringitis eksudatif dan radang telinga tengah.
Pengobatan penderita penyakit ISPA dimaksud untuk mencegah berlanjutnya ISPA
ringan menjadi ISPA sedang dan ISPA sedang menjadi ISPA berat serta mengurangi angka
kematian ISPA berat. Adapun jenis pengobatannya :
1. Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian
multivitamin dll.
2. Antibiotik :
- Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
- Utama ditujukan pada S.pneumonia, H.influensa dan S.aureus

- Menurut WHO : Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksazol, Amoksisillin, Ampisillin,


Penisillin Prokain,Pnemonia berat : Benzil penicillin, klorampenikol, kloksasilin, gentamisin.
- Antibiotik baru lain : Sefalosforin,quinolon dll.

Untuk pengobatan ISPA pada anak-anak, klasifikasinya adalah sebagai berikut:

a. Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :


a.1. Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral,
tidak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan
memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.
a.2 Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, nasihati ibu untuk menjaga
agar bayi tetap hangat, memberi ASI secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika
sumbatan itu menggangu saat memberi makan.

b. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi :


b.1 Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan
memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi
perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral, obati
demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang
dua kali sehari.
b.2 Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan
memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari,
obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai
ulang setiap hari.
b.3 Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol,
ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari, nasihati ibu
untuk memberikan perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2 hari.
b.4. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya tidak
diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam, nasihati ibu untuk
memberikan perawatan di rumah.
b.5. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan
kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik,
perawatan suportif, penilaian ulang.

Monitoring terapi pada anak penderita ISPA


Monitoring terapi ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan
mengakibatkan kematian.
a. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloramfenikol
selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin
jika diduga suatu pneumonia stafilokokus.
b. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48
jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya
komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda pneumonia
setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi.
c. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tandatanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan membaik. Nilai
kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada
atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati sebagai
pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak membaik sama sekali tetapi
tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti
antibiotik dan pantau secara ketat.

dapus
Balittro. Mengatasi Demam Berdarah dengan Tanaman Obat. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Vol. 28, No 6, 2006.
Prayitno, et al.2012. Update Management of Infectious Diseases and Gastrointestinal
Disorders. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
Fahmi, N. 2015. Obat Kulit. Tersedia online di
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/51904/4/Chapter%20II.pdf [diakses 18 september
2016)
Gulo, R.R., 2010. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan
Atas (ISPA) pada Balita di Kelurahan Ilir Gunung Sitoli Kabupaten Nias Tahun 2008. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Yuswulandary, V. 2010. Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe Dan Kegiatan Pemberantasannya Tahun 2003-2007.
Tersedia online di repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16366/2/Chapter%20II.pdf
[diakses 18 september 2016]