Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PEMBAHASAN

Standar pelayanan kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai


pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian.
Pelayanan kefarmasian pada puskesmas merupakan suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab pada pasien yang berkaitan dengan sedian farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Berdasarkan
Permenkes No.30 th 2014 Tentang Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, standar
kefarmasian terdiri dari:
1). Standar Pengelolaan Obat Habis Pakai
Perencanan, Permintaan, Penerimaan Kebutuhan Obat
Menurut Kementrian Kesehatan RI tahun 2014, Perencanaan
kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas setiap periode
dilaksanakan oleh Ruang Unit Obat di Puskesmas. Proses seleksi Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan mempertimbangkan pola
penyakit, pola konsumsi Obat periode sebelumnya, data mutasi Obat, dan
rencana pengembangan.
Dalam permintaan obat, Puskesmas Sukorame telah memiliki
Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat-Obatan (LPLPO) yang
diajukan ke Dinas Kesehatan tiap bulannya. Selain itu, setiap tahun juga
membuat laporan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) untuk dua tahun kedepan
ke Dinas Kesehatan Kota Kediri.
Pada pengelolaan obat, bagian farmasi puskesmas Sukorame sudah
memiliki koordinator unit obat yang menangani managemen obat dan alat
kesehatan dalam struktur organisasi manajemen obat dan alkes. Koordinator
unit obat pada puskesmas Sukorame dipegang oleh apoteker yang menaungi
penanggungjawab pelayanan dan penanggungjawab gudang. Sehingga

23

pembagian tugas masing-masing sudah ada dan jelas. Pembagian tugas berupa
pelayanan di apotek, kamar obat, alat kesehatan dan bagian gudang obat.
Perencanaan perhitungan kebutuhan perbekalan yang digunakan di
Puskesmas Sukorame adalah metode konsumsi meliputi; pengumpulan dan
pengolahan data, analisis data untuk informasi dan evaluasi, perhitungan
perkiraan kebutuhan, penyesuaian jumlah kebutuhan perbekalan dengan
alokasi dana. Dalam menghitung dengan metode ini data yang perlu disiapkan
yaitu (Kemenkes, 2008):
1). Daftar perbekalan kesehatan
Daftar pembekalan berasal dari data tahun sebelumnya baik dari data
jumlah bekal obat dan jumlah obat kosong dalam rentang waktu tertentu.
2). Stok awal
Stok awal merupakan jumlah obat yang terpakai pada tahun sebelumnya
termasuk jumlah obat yang seharusnya ada selama kosong.
3). Penerimaan, Pengeluaran, dan Sisa stok
6). Perbekalan kesehatan hilang/rusak, kadaluarsa
7). Kekosongan perbekalan kesehatan
8). Pemakaian rata-rata/pergerakan perbekalan kesehatan pertahun
9). Waktu tunggu
10). Stok pengaman
Pada umumnya, stok pengaman berkisar antara 10-20% (termasuk untuk
mengantisipasi kemungkinan kenaikan kunjungan) dari obat yang terpakai.
11). Perkembangan pola kunjungan (Kemenkes, 2008).
Di Puskesmas Sukorame, metode perencanaan kebutuhan obat dan
Bahan Medis Habis Pakai adalah menggunakan metode pola konsumsi obat
periode sebelumnya. Sehingga didapatkan hasil yang tercantum di LPLPO.
Rumus Metode Konsumsi
A=B-C
A = Rencana Pengadaan bulan depan
24

B = Stok optimum
C = Sisa akhir stok bulan sekarang
B = D + E x 3/2

D = Pemakaian bulan lau


E = Pemakaian bulan sekarang
Cara perhitungan lainnya dapa menggunakan Metode Morbiditas yaitu
berdasarkan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit dengan faktor yang
diperhatikan yaitu perkembangan pola penyakit waktu tunggi, dan stok
pengaman (Kemenkes, 2008).
Permintaan alat-alat kesehatan dimulai dari diterimanya usulan
barang yang dibutuhkan dari poli/unit pelayanan oleh pihak petugas ketua tata
usaha. Petugas lalu membuat rekap macam-macam alat kesehatan sesuai
dengan jenis, jumlah, dan kebutuhan. Usulan tersebut kemudian diteruskan
kepada kepala Puskesmas untuk disetujui ataukah tidak. Jika disetujui maka
kepala tata usaha mengirimkan data rekap permintaan alat kesehatan ke Dinas
Kesehatan.
Pengadaan alat kesehatan dilakukan setelah usulan permintaan barang
yang dibutuhkan dari poli/unit pelayanan disetujui kepala Puskesmas. Setelah
disetujui, kepala Puskesmas akan mengeluarkan disposisi kepada ketua tata
usaha untuk melakukan permintaan alat-alat kesehatan tersebut. Permintaan
ditujukan kepada gudang Dinas Kesehatan (DINKES).

25

Gambar 3.1 Alur permintaan alat kesehatan di Puskesmas Sukorame


Penyimpanan Kebutuhan
Gudang obat puskesmas merupakan salah satu sarana yang perlu
diperhatikan dalam upaya penyimpanan obat agar aman dari gangguan fisik
yang dapat merusak mutu obat. Syarat gudang obat puskesas harus memiliki
fasilitas penunjang, fasilitas penunjang gudang dan fasilitas penjamin
stabilisasi obat. Fasilitas di gudang obat dan alkes meliputi fasilitas penunjang
seperti lemari obat, lemari alkes, dan lemari narkotik atau psikotropik.
Fasilitas penunjang di gudang puskesmas Sukorame telah mencukupi dan
dibedakan anatara lemari obat baik narkotik atau psikotropika dengan obat
lainnya dan alkes. Fasilitas penjamin stabilisasi obat seperti ventilasi udara,
dan pencahayaan. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan
menurut Kementrian Kesehatan tahun 2014 mempertimbangan beberapa hal
seperti bentuk dan jenis sediaan, stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban), dan
kondisi ruangan.
Pada Puskesmas Sukorame, ruangan gudang obat ukurannya masih
kurang luas yaitu hanya 1,5x6 m 2, ruangan yang baik adalah berukuran 3x4
m2. Di gudang obat juga terdapat sudut lantai yang seharusnya dibuat
melengkung. Untuk pengukur suhu ruangan sudah terdapat di Gudang Obat
Puskesmas Sukorame dan suhu ruangan sudah sesuai suhu ruangan normal
26

yakni berkisar 27 oC, dan sebaiknya perlu diberikan AC untuk mengatur suhu
ruangan agar terjaga kestabilan suhu dan kelembaban udara di gudang obat.
Penyimpanan di Puskesmas Sukorame sudah menggunakan kelompok
alfabetis, bentuk obat cairan juga sudah dipisahkan dengan yang padat.
Kemudian untuk pencahayaan pada gudang baik, karena tidak
langsung terpapar oleh sinar matahari sehingga dapat menjaga obat dan alkes.
Namun kerapian gudang dirasa kurang untuk penempatan kardus-kardus obat
atau alkes. Sedangkan untuk obat yang mudah terbakar telah diletakkan di
suatu tempat khusus sehingga dapat menurunkan resiko obat tersebut terbakar.
Fasilitas pencatatan dan penataan meliputi catatan obat rusak/kadaluarsa,
catatan obat keluar masuk obat telah dilakukan.
Untuk pengelolaan obat rusak dan kadaluarsa di puskesmas Sukorame
yaitu mengembalikan lagi ke dinas kesehatan tanpa ada yang dimusnahkan
langsung. Hal ini telah sesuai dengan standar prosedur pada obat dan alkes
yang kadaluarsa dan rusak.
Pendistribusian
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
Sukorame adalah ke ruang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, laboratorium,
puskesmas pembantu, ruang unit obat, dan ruang tindakan Sejak beberapa
tahun yang lalu kebutuhan obat yang didistribusikan selalu diambil sendiri ke
dinas kesehatan, pada tahun 2015 sempat di antarkan sendiri oleh pihak dinas,
tetapi tahun 2016, Puskesmas Sukorame kembali mengambil sendiri obat ke
Dinas Kesehatan.
Pengendalian
Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
Sukorame adalah dengan cara pengendalian persediaan, penggunaan, obat
hilang, Obat Rusak Dan Kadaluwarsa. Pengendalian persediaan dilakukan
dengan mengetahui stok optimum. Pengendalian Obat Hilang, Obat Rusak
dan Kadaluwarsa tercatat dalam buku pelaporan yang terdapat di ruang
farmasi Puskesmas Sukorame Kota Kediri. Apabila terjadi obat hilang, maka
27

dilakukan pengecekan terlebih dahulu mulai dari pengecekan penulisan dan


pengecekan pada kartu stelling. Untuk pelaporan obat kadaluarsa terdapat
format pelaporan atau berita acara penyerahan ke Dinas Kesehatan Kota
Kediri. Untuk obat-obat yang rusak/kadaluwarsa petugas mengumpulkan dari
ruang unit obat, gudang obat dan pustu. Kemudian dilakukan pencatatan
dalam bentuk berita acara yang kemudian dikembalikan ke dinas kesehatan
untuk dilakukan pemusnahan (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan
Dalam hal ini puskesmas Sukorame telah melakukan pencatatan dan
pelaporan pengelolaan obat dan bahan habis pakai. Pencatatan, Pelaporan, dan
Pengarsipan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas Sukorame
adalah menggunakan sistem manual. Dalam proses pelaporan dan pencatatan,
terdapat buku dan laporan yang sudah tersusun sistematis. Pencatatan
dilakukan di gudang obat dan ruang unit obat. Hal ini sesuai dengan peraturan
Departemen Kesehatan RI tahun 2007. Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan
obat tertulis dalam LPLPO.
Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
Sukorame sudah sesuai dengan Kementrian Kesehatan RI 2014. Semua
petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas
ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai berikut kelengkapan catatan yang
menyertainya. Petugas penerima di Puskesmas Sukorame juga melakukan
pengecekan terhadap Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang diserahkan,
mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah Obat, bentuk Obat sesuai
dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan
diketahui oleh Kepala Puskesmas.
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan
Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai di Puskesmas Sukorame dilakukan melalui laporan dari masing-masing
unit kerja. Pemantauan di gudang obat dilakukan dengan menggunakan kartu
Stelling. Pemantauan dan evaluasi ini dilakukan di bawah tanggung jawab
28

bagian kefarmasian. Mekanisme keluar masuknya obat berdasarkan dua


prinsip yakni First Expired First Out yaitu berdasarkan tanggal
kadaluwarsa dan First In First Out yakni berdasarkan obat yang masuk
lebih dahulu. Obat yang baru datang, disimpan dalam gudang dan diletakkan
berdasarkan tanggal kadaluwarsanya. Untuk mencocokkan dengan buku
keluar masuk, maka masing-masing obat diberikan kartu data keluar-masuk
(kartu stelling). Pencatatan obat pada kartu stelling dilakukan setiap kali ada
obat yang masuk maupun keluar di gudang obat (tanpa jadwal yang tetap).
2). Bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik.
Pengkajian resep, penyerahan obat dan pemberian
informasi serta konseling.
Puskesmas Sukorame telah memiliki kertas resep yang telah
memenuhi syarat administrasi menurut Permenkes No.30 th 2014 Tentang
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Dalam ketepatan indikasi, dosis dan
waktu

penggunaan

obat,

puskesmas

Sukorame

telah

melakukan

mengidentifikasi dari resep setiap hari dalam satu bulan untuk mengevaluasi
penggunaan obat rasional, namun belum ada pelaporan evaluasi terhadap
ketepatan indikasi, kontraindikasi, efek samping terhadap pemakaian obat
pasien.
Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Di Puskesmas Sukorame terdapat apoteker sehingga kegiatan dalam
memberikan informasi tentang obat terkini dan akurat serta pelatihan bagi
tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya berdasarkan perkembangan
ilmu dan teknologi kepada dokter, perawat, dan profesi kesehatan lainnya
berjalan berkesinambungan.
Untuk kegiatan pelayanan dalam memberikan informasi tentang obat
kepada pasien dilakukan oleh apoteker dan asisten apoteker. Sarana prasarana
farmasi di puskesmas Sukorame telah sesuai dengan standar farmasi klinik.
Ronde/visite pasien (pasien rawat inap)

29

Kegiatan ini di puskesmas Sukorame tidak berjalan karena di


puskesmas Sukorame belum melayani rawat inap sehingga kunjungan ke
pasien dalam pengawasan obat oleh farmasi, ahli gizi, dokter dan tenaga
kesehatan lainnya tidak mencapai target.
Pemantauan dan pelaporan efek samping obat (ESO)
Puskesmas Sukorame telah memiliki Standar Operasional Prosedur
(SOP) Efek Samping obat. Data efek samping obat didapatkan langsung dari
pasien tentang keluhan setelah mengkonsumsi obat kemudian mencatat kasus
bersangkutan dengan kemungkinan faktor resiko terhadap kasus tersebut serta
koreksi dalam upaya pengelolaan resiko efek samping meliputi indikasi,
kontraindikasi dan cara pemakaian obat.
Pencatatan rasionalisasi obat antibiotik di puskesmas Sukorame belum
dilakukan. Penyelenggaraan serta ketersediaan vaksin di puskesmas Sukorame
sudah sesuai dengan permenkes no. 42 tahun 2013 tentang penyelengaraan
imunisasi. Jenis imunisasi di puskesmas Sukorame telah mencukup meliputi
imunisasi dasar, pencatatan dan pelaporan meliputi cakupan imunisasi, stok
dan pemakaian vaksin, monitoring suhu, dan kasus KIPI atau diduga KIPI
sudah berjalan baik. Pencatatan pelayanan imunisasi dilakukan di buku
Kesehatan Ibu dan Anak, rekam medis, dan/atau kohort. Pelaporan stok obat,
cakupan imunisasi dan KIPI non serius dilaporkan oleh pihak puskesmas
Sukorame ke pihak dinkes Kediri setiap bulan sekali. Serta distribusi dan
penyimpanan vaksin di puskesmas Sukorame memenuhi syarat seperti
kelengkapan vaksin, Auto Disable Syringe, safety box dan kotak emergensi.
Penyimpanan vaksin di Puskesmas Sukorame telah memenuhi standar
dengan suhu berkisar 2-8C, pengecekkan suhu lemari es dilakukan 2 kali
sehari yaitu pagi dan sore. Sedangkan pengecekkan kelayakan obat dimulai
dari perubahan warna obat, posisi penempatan vaksin baik yang dekat dengan
dinding evaporator atau tidak.

30

Gambar 3.2 Suhu lemari es vaksin


Puskesmas Sukorame telah akif menggerakkan masyarat dalam
berperan menggalakkan imunisasi yaitu meliputi pembinaan kader, pembinaan
organisasi atau lembaga swadaya dan kelompok binaan balita dan anak
sekolah.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

31

1. Pelayanan kefarmasian di puskesmas Sukorame dalam pengelolaan obat dan


bahan medis habis pakai sesuai Permenkes 30 th 2014 sudah berhasil karena
ketersediaan obat di puskesmas merata.
2. Pelayanan kefarmasian di puskesmas Sukorame dalam pelayanan farmasi klinik
sesuai Permenkes 30 th 2014 yaitu dalam peresepan, penyerahan hingga KIE
obat telah sesuai dengan standar. Namun MESO belum berjalan.
3. Gudang obat belum memnuhi syarat karena luas dari gudang dan tidak adanya
AC untuk mengatur suhu ruangan agar terjaga kestabilan suhu dan kelembaban
udara.
4. Peran petugas farmasi dalam pengelolaan vaksin sudah sesuai dengan standar
puskesmas.
4.2 Saran
1. Perlu perluasan gudang obat, pemberian AC di gudang obat, dan perlu
ditambahkan lemari penyimpanan/kulkas untuk menyimpan obat dengan
stabilitas rendah, seperti suppositoria.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2009. Pelatihan Pengelolaan Vaksin dan Rantai Vaksin
Tingkat Puskesmas. Jakarta. Hal 1-35
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan di Daerah Kepulauan. Jakarta: Direktorat Bina Obat Publik dan
32

Perbekalan Kesehatan dan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat


Kesehatan
Keputusan Menteri Kesehatan no. 1121/MENKES/SK/XII/2008, 2008, Jakarta, Hal
25-30
Permenkes RI. 2014. Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Jakarta. Hal 1-25
Permenkes RI. 2013. Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta. Hal 1-40
.

33