Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MATA KULIAH

GLOBAL HEALTH

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita


Systematic Review

OLEH:
Nama: Deswita
No. BP

: 1530322007

DOSEN:
Hardisman Dasman, MHID, DrPH

PROGRAM STUDI S3 KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2016

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita


Systematic Review

ABSTRAK
Status gizi anak pada Balita merupakan topik yang cukup banyak diteliti terutama
pada penelitian di bidang kesehatan masyarakat. Penelitian berupa systematic
review terhadap 10 penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal penelitian dan
dialkukan pada tahun 2010 -2014. Responden pada penelitian-penelitian ini
adalah Balita berusia 1 5 tahun dan ibu yang memiliki Balita Jumlah responden
bervariasi pada setiap penelitian berkisar dari 17 - 1085 responden. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada
Balita. Literatur yang digunakan berupa jurnal dalam negeri, buku-buku rujukan
serta hasil penelitian berupa artikel dari jurnal, skripsi dan tesis. Faktor yang
berisiko mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja yaitu sikap dan
pengetahuan remaja tentang perilaku seksual serta perilaku seksual teman sebaya.
Kata kunci : Balita, status gizi, pengetahuan, ekonomi, malnutrisi.

1. Pendahuluan
Masalah kesehatan balita juga merupakan salah satu masalah utama
dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di Indonesia. Derajat kesehatan balita
dapat mencerminkan bagaimana derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai
generasi penerus bangsa. Berdasarkan alasan tersebut masalah kesehatan anak
diprioritaskan dalam perencanaan atau penataan pembangunan bangsa (Hidayat,
2009).

Angka kematian balita di Indonesia menempati urutan tertinggi


dibandingkan Negara di ASEAN lainnya (Maryunani,A, 2010). Tingginya angka
kematian balita di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, yang salah satunya
adalah kekurangan gizi ( Hapsari, 2004).
Masalah kekurangangizi yang sering terjadi pada balita adalah Kurang
Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi Besi. Masalah kekurangan gizi yang terjadi
tidak terlepas dari terbatasnya pengetahuan keluarga terutama ibu balita mengenai
status gizi anak, pola pertumbuhan anak, nilai gizi dan makanan yang ada.
Sebagian besar keluarga hanya mengetahui balita harus diberikan makanan sama
halnya dengan orang dewasa tiap harinya (Depkes RI, 2004).
Balita berada pada urutan kedua dari enam kelompok yang rentan gizi.
Kelompok tersebut merupakan kelompok yang mudah menderita gangguan
kesehatan dan mudah mengalami kekurangan gizi. Ada salah satu hal penting
yang menyebabkan balita berada dalam kelompok tersebut yaitu balita yang
berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan dewasa, anak balita
yang belum mampu mengurus diri sendiri termasuk dalam memilih makanan.
Maka dari itu peran ibu sangat lah penting pada masa ini untuk mempertahankan
pola makan yang sehat pada balita agar tidak terjadi masalah gizi (Notoatmodjo,
2003).
Masa balita disebut dengan golden period atau masa keemasan. Anak
dibawah 5 tahun merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan yang
pesat, bila terjadi gizi buruk pada mereka akan berpengaruh langsung pada
kehidupan di usia prasekolah dan sekolah nantinya, yang akan berpengaruh pada
masa depannya sehingga sangat perlu perhatian yang optimal terhadap status gizi
anak pada saat itu (Arisman, 2004 ).
Menurut Robinson dan Weighley dalam buku pengantar gizi masyarakat,
status gizi adalah keadaan kesehatan yang berhubungan dengan penggunaan
makanan oleh tubuh. Menurutnya, status gizi dipengaruhi oleh faktor langsung
yang terdiri dari pola makan dan penyakit infeksi. Pola makan yang sehat adalah
suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud

tertentu, seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau


membantu

kesembuhan

penyakit.

Faktor

langsung

yang

menyebabkan

permasalahan gizi yang kedua yaitu penyakit infeksi. Menurut Supariasa, dkk,
2001, penyakit infeksi yang umumnya terkait dengan masalah gizi antara lain,
diare, TBC, ISPA, campak, batuk rejan, dan pneumonia. Hadirnya penyakit
infeksi dalam tubuh anak akan membawa pengaruh terhadap gizi anak. Reaksi
yang akan timbul karena adanya infeksi adalah menurunnya nafsu makan,
muntah, dan mencret sehingga akan menyebebkan berkurangnya asupan makanan
pada anak sehingga dengan sangat cepat mengubah tingkat gizi anak kearah gizi
buruk ( Santoso, dkk, 2004).
Selain faktor langsung, status gizi balita juga di pengaruhi lima faktor
tidak langsung yaitu oleh ekonomi keluarga, budaya, produksi pangan, kebersihan
lingkungan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Suhardjo 2008, yang
menjadi patokan dalam ekonomi adalah kemiskinan. Kemiskinan dinilai memiliki
peranan penting dan bersifat timbal balik, artinya kemiskinan akan menyebabkan
kurang gizi dan individu yang kurang gizi akan melahirkan kemiskinan. Faktor
tidak langsung kedua yang mempengaruhi status gizi yaitu budaya. Permasalahan
yang timbul pada faktor ini karena masih ada kepercayaan untuk memantang
makanan tertentu yang dipandang dari segi gizi sebenarnya mengandung zat gizi
yang baik. Faktor ketiga yaitu fasilitas pelayanan kesehatan yang sangat penting
untuk menyokong status kesehatan dan gizi anak. Faktor selanjutnya yaitu
produksi pangan dan kebersihan lingkungan. Produksi pangan sebagai peranan
pertanian yang penting karenan kemampuannya menghasilkan produk pangan.
Sedangkan kebersihan lingkungan akan mempengaruhi kesehatan anak,
kebersihan lingkungan yang buruk akan memudahkan anak menderita penyakit
tertentu seperti ISPA, diare, dsb.
Menurut Adnan, M dan Wirjatmadi, B (2012), kekurangan energi protein
yang akan menimbulkan masalah gizi juga dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu.
Seorang ibu dengan pendidikan tinggi akan dapat merencanakan menu makanan
yang sehat bagi dirinya dan keluarganya dalam upaya memenuhi zat gizi yang
diperlukan.

Menurut Sediaoetama, A (2006), pengetahuan gizi yang baik akan


menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi.
Semakin

baik

pengetahuan

gizi

seseorang,

maka

ia

akan

semakin

memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperoleh untuk keluarga


termasuk anak balita.

2. Metode
Penulisan ini menggunakan systematic review. Sumber data penulisan ini
berasal dari literatur yang diperoleh melalui internet berupa hasil penelitian
mahasiswa, dosen dan peneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi status
gizi Balita yang dipublikasikan di internet. Pengambilan data dilakukan pada
tanggal 1 27 Januari 2016.
Data penelitian yang diambil dari tahun 2010 - 2014 untuk menjaga keterkinian
penulisan berdasarkan hasil penelitian terbaru. Sampel penelitian adalah 10
penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal penelitian. Responden pada
penelitian ini adalah Balita, dengan rentang usia 1-5 tahun dan juga ibu yang
mempunyai Balita. Jumlah responden bervariasi pada setiap penelitian mulai dari
17 responden samapai 1085 responden.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi status gizi Balita.
3. Hasil & Pembahasan
Jumlah responden bervariasi pada setiap penelitian mulai dari 17 responden
samapai 1085 responden. Sebagian besar penelitian menggunakan desain cross
sectional. Penelitian cross sectional bertujuan menilai hubungan antara variabel
bebas dan variabel terikat yang dikumpulkan dalam waktu bersamaan (Dharma,
2011). Kelemahan penelitian ini adalah tidak dapat menggambarkan secara akurat
perjalanan suatu penyakit atau masalah kesehatan.
Pemanfaatan literatur bervariasi antara 7- 29 literatur. Literatur yang diambil
berupa jurnal dalam negeri, buku-buku rujukan serta hasil penelitian berupa

skripsi dan tesis. Masih adanya peneliti yang memakai rujukan literatur yang
sudah lama yaitu tahun 1980 yang dapat dilihat pada tabel 1. Ini menunjukkan
kurangnya akses dan upaya peneliti dalam meneliti faktor-faktor yang
mempengaruhi gizi Balita.
Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi Balita, khususnya malnutrisi,
antara lain faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung adalah
sebagai berikut : pola makan dan penyakit infeksi pada Balita. Bebrapa penelitian
melihat pola makan dengan melihat riwayat pemberian ASI.
Penyebab tidak langsung adalah jumlah Balita dalam satu keluarga, riwayat
imunisasi, pengetahuan, sikap, tindakan ibu, pendidikan orang tua, usia ibu,
pekerjaan orang tua, ekonomi keluarga yang berhubungan dengan ketersediaan
pangan. Penyebab tidak langsung lainnya yaitu, pelayanan kesehatan, home care,
sanitasi lingkungan dan budaya.
Tabel 2, menunjukkan dari sekian banyak penelitian tentang faktor yang
mempengaruhi status gizi Balita, maka hal yang paling banyak diteliti yaitu sikap
dan pengetahuan ibu tentang nutrisi serta keadaan ekonomi dan pelayanan
kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa faktor yang dominan
mempengaruhi status gizi yaitu penyakit infeksi, ekonomi, pengetahuan dan sikap
seta tindakan ibu tentang gizi Balita
.

Tabel 1. Gambaran Umum Penelitian


No

Judul

Tahun

Jumlah

Metoda

Kepustakaan

Sampel
1.

Upaya Peningkatan Status Gizi Balita Malnutrisi


Akut Berat Melalui Program Home Care

2014

67

Cross-sectional

29 (2000- 2014)

2.

Malnutrisi Akut Berat dan Determinannya pada


Balita di Wilayah Rural dan Urban

2014

56

Korelasi dengan pendekatan

11 (2000 2011)

3.

Model Pengendalian Risiko Stunting pada Anak


Usia di bawah tiga Tahun.

2014

50

Analisis multivariat Uji regresi Logistik 29 (2000 2014)


Ganda

4.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status


Gizi pada Balita Di Nagari Abai Siat Wilayah
Kerja Puskesmas Kabupaten Dharmasraya

2013

196

Penelitian ini adalah explanatory research 13 (1997 2007)


yang menggunakan metode survey
dengan
pendekatan
cross sectional

5.

Faktor Determinan Status Gizi Anak Balita di


Wilayah Kerja Puskesmas Sei jang Kota Tanjung
Pinang

2010

90

Analitik dengan
sectional

No

Judul

Cross sectional

Tahun

Jumlah Sampel

pendekatan

Metoda

Cross

26 (1990 2009)

Kepustakaan

6.

Kondisi ekonomi dan budaya keluarga dengan


status gizi balita

2014

184

Korelasi dengan spearmen


Rho

14 (1987 - 2006)

7.

Hubungan Perilaku Ibu dalam Pemenuhan


Nutrisi dengan Status Gizi Balita

2013

17

Korelasi
pendekatan

dengan

7 (2002 2012)

dengan

10 (1985 2010)

Cross sectional
8.

Hubungan Antara Stimulasi dan Status Gizi


dengan Perkembangan Anak usia 3-4 tahun di
wilayah kerja Puskesmas Kuranji Posyandu
Taruko.

2013

63

9.

Model Pengasuhan Gizi Anak Balita


Berdasarkan Pendekatan Faktor Risiko

2012

1085

10.

Analisis Faktor Yang Berkaitan Dengan Kasus


Gizi Buruk Pada Balita

2014

17

Korelasi
pendekatan
Cross sectional

Korelasi

21 (1980 2010)

Cross sectional

19 (2003 2014)

Tabel 2. Hasil Penelitian


No

Penulis

Tujuan

Hasil

1.

Titih
Huriah, Menganalisis pengaruh program home care
Laksono trisnantoro, terhadap peningkatan status gizi Balita
Fitri
harhanti, malnutrisi pada anak usia 6-60 bulan.

Madarina Julia

Setelah home care terjadi peningkatan yang signifikan pada


status gizi balita.
Terjadi penurunan kejadian malnutrisi akut berat dari 100%
menjadi 56,7%.

2.

Titih
Huriah, Melihat perbedaan kejadian malnutrisi dan
Laksono trisnantoro, determinannya di area perkotaan dan
Fitri
harhanti, pedesaan Yogyakarta.

Madarina Julia

Prevalensi balita malnutrisi akut lebih banyak di perkotaan


daripada di pedesaaan.
Persentase faktor risiko kejadian malnutrisi pada kelompok
urban dan rural adalah jumlah balita dalam keluarga satu
orang, jenis kelamin laki-laki, riwayat pemberian ASI tidak
eksklusif, usia ibu kurang dari 35 tahun, pekerjaan non-PNS,
penghasilan orang tua lebih dari UMR, tingkat pendidikan
orang tua dan pengasuh balita di rumah adalah ibu..
Perbedaan yang signifikan adalah variabel pekerjaan dan
penghasilan orang tua, tingkat pendidikan orang tua, dan
pengasuh Balita di rumah adalah ibu..
Hasil pengukuran antopometri tidak menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan.
Determinan kejadian malnutrisi adalah jumlah balita dalam
keluarga.

3.

Erna

Kusumawati, Menganalisis faktor risiko terkait faktor

Karakteristik batita stunting terkena penyakit infeksi, riwayat

Setiyowati Rahardjo, anak, ibu, lingkungan terhadap stunting


Hesti Permata sari
BATITA agar dapat dikembangkan model
pengendaliannya.

4.

Yuliani, Deswita

Mengidentifikasi
faktor-faktor
yang
mempengaruhi status gizi balita adapun
faktor-faktor tersebut yaitu: pola makan,
penyakit infeksi, tingkat pengetahuan ibu,
status ekonomi, pelayanan kesehatan dan
budaya.

No

Penulis

Tujuan

panjang badan lahir < 48 cm, riwayat pemberian ASI dan


PASI dan riwayat BBLR.
Faktor risiko stunting adalah penyakit infeksi, pelayanan
kesehatan, imunisai, pengetahuan ibu, pendapatan keluarga,
ketersediaan pangan keluarga, dan sanitasi lingkungan.
Faktor yang paling dominan adalah penyakit infeksi.
Model pengendalian stunting melalui peningkatan
pemberdayaan keluarga terkait pencegahan penyakit infeksi,
memanfaatkan pekarangan sebagai sumber gizi keluarga dan
perbaikan sanitasi lingkungan.
Lebih dari separoh balita memiliki status gizi yang kurang
(50,5%), memiliki pola makan yang baik (53,6%) dan 72,4%
balita mengalami penyakit infeksi selama 3 bulan terakhir.
Lebih dari separoh responden di Nagari Abai Siat Wilayah
Kerja Puskesmas Koto Besar Kabupaten Dharmasraya Tahun
2013 memiliki pengetahuan gizi yang kurang (53,6%),
sebanyak 64,3% responden dengan status ekonomi mampu,
sebanyak 97,4% responden mengatakan bahwa pelayanan
kesehatan di Abai Siat sudah memberikan pelayanan yang
baik dan sebanyak 70,9% responden memiliki budaya yang
baik terkait kesehatan balita.
Terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan
dengan status gizi balita di Nagari Abai Siat
Hasil

5.

W. Balquis Putri
Oktavina

Mengidentifikasi faktor determinan status


gizi anak balita di wilayah kerja
Puskesmas Sei Jang Kecamatan Bukit
Bestari Kota Tanjungpinang Tahun 2010.

6.

Abdul Muhith,
Nursalam, Lutfiana
Wulandari

Mengidentifikasi
hubungan
tingkat
ekonomi dan udaya dengan status nutrisi
Balita.

7.

Eveline Paskalia
Mea Mau, Yuni
Sufyanti Arif,
Kristiawati

Mengidentifikasi hubungan Perilaku Ibu

dalam Pemenuhan Nutrisi dengan Status


Gizi Balita di Desa Kabuna Nusa Tenggara
Timur

Adanya hubungan yang bermakna antara enam variabel


independen dengan status gizi anak balita yaitu:
pengetahuan gizi, sosial budaya, jumlah anggota
keluarga, status ekonomi keluarga, konsumsi makanan
dan pelayanan kesehatan. Pengetahuan merupakan faktor
determinan yang paling berhubungan dengan status gizi
anak balita.
Sejumlah 76,1% (140) responden memiloki tingkat
ekonomi bawah.
Sebanyak 57,1% (105) responden memiliki budaya
negatif tentang nutrisi balita.
Ada hubungan antara tingkat ekonomi dan budaya
dengan status nutrisi balita.
Sebagian besar ibu balita (24-59 bulan) di desa Kabuna
memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dalam
pemenuhan nutrisi balita.
Sebagian besar ibu balita (24-59 bulan) di desa Kabuna
memiliki sikap positif dalam pemenuhan nutrisi balita.
Tindakan ibu balita (24-59 bulan) di desa Kabuna dalam
pemenuhan nutrisi terhadap balita sesuai dengan angka
kecukupan gizi masih tergolong dalam tindakan deficit.
Sebagian balita (24-59 bulan) di desa Kabuna memiliki
status gizi kurang.
Pengetahuan ibu yang cukup dalam pemenuhan nutrisi
dapat meningkatkan status gizi balita di Desa Kabuna.
Sikap positif ibu dalam pemenuhan nutrisi dapat

meningkatkan status gizi balita di Desa Kabuna.


Tindakan ibu yang baik dalam pemenuhan nutrisi secara
langsung tidak mempengaruhi status gizi balita di Desa
Kabuna.

8.

Puji
Yastuti Mengidentifikasi hubungan pengetahuan
Rahmatia, Yonrizal dan sikap ibu balita tentang gizi seimbang
Nurdin, Lili Fajria
dengan status gizi balita (1-5 tahun) di
Posyandu Cupak Tangah Kecamatan Pauh
Padang tahun 2013
9.

10.

Budi Faisol
Wahyudi, Sriyono,
Retno Indarwati

Sri Umijati , Sri Kardjati,


Ismoedijanto

Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan


sikap ibu balita tentang gizi seimbang.

Membuat Model Pengasuhan


Gizi Anak Balita Berdasarkan
Pendekatan Faktor Risiko

Mengidentifikasi Faktor Yang Berkaitan


Dengan Kasus Gizi Buruk Pada Balita

Model pengasuhan gizi


anak yang berumur 06
bulan tidak terbentuk.
Hal ini disebabkan
karena keterbatasan data
sekunder yang
digunakan dalam
pembentukan model ini.

Lebih dari setengah jumlah responden memiliki tingkat


pendidikan rendah.
Sebagian kecil responden memiliki pengetahuan baik
tentang gizi.
Lebih dari setengah jumlah responden tidak bekerja.
Sebagian besar responden memiliki pendapatan keluarga

dibawah UMK.
Sebagian besar balita yang lahir dengan kondisi normal.
Sebagian besar balita terkena penyakit infeksi.
Lebih dari setengah jumlah balita diberikan ASI
eksklusif.
Sebagian besar balita memiliki status imunisasi yang
sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Lebih dari setengah jumlah balita mulai beranjak
membaik atau tidak mengalami gizi buruk lagi setelah
dilakukan penanganan dari Puskesmas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa di Kecamatan
Sampang yang memiliki keterkaitan dengan kasus gizi
buruk setelah penanganan antara lain status pekerjaan
responden, pendapatan keluarga dan riwayat penyakit
infeksi balita.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita


Faktor yang mempengaruhi gizi Balita ada yang merupakan faktor langsung
dan tidak langsung, yaitu sebagai berikut :
a. Penyakit Infeksi
Hadirnya penyakit infeksi dalam tubuh anak membawa pengaruh terhadap
keadaan gizi anak dan akan memperburuk keadaan gizi. Reaksi yang akan timbul
karena adanya infeksi adalah menurunnya nafsu makan, muntah, dan mencret
sehingga akan menyebebkan berkurangnya asupan makanan pada anak sehingga
dengan sangat cepat mengubah tingkat gizi anak kearah gizi buruk.
Hasil penelitian mengenai riwayat penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir
menunjukkan sebagian besar balita terkena penyakit infeksi. Penyakit infeksi
dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang buruk dapat
mempermudah terkena penyakit infeksi, sehingga penyakit infeksi dengan
keadaan gizi merupakan suatu hubungan timbal balik (Notoatmodjo, 2003).
Keadaan tersebut dapat mengakibatkan gizi buruk, yang disebabkan pada balita
yang mengalami diare karena balita akan mengalami asupan makanan dan banyak
nutrisi yang terbuang serta kekurangan cairan. Selain itu, balita dengan ISPA
yaitu salah satu penyakit infeksi yang sering dialami oleh balita, dapat
menyebabkan menurunnya nafsu makan sehingga asupan zat gizi ke dalam tubuh
anak menjadi berkurang (FK UI, 2007).
Balita yang terkena penyakit infeksi cenderung mengalami penurunan berat
badan, hal ini dikarenakan terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh balita
dan biasanya juga diikuti penurunan nafsu makan. Penurunan berat badan yang
terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penurunan status gizi. Sejalan
dengan penelitian ini yang menunjukkan sebagian besar balita gizi buruk di
Kecamatan Sampang terkena penyakit infeksi. Sehingga perlunya penanganan
yang cepat dan akurat terhadap penyakit infeksi di Kecamatan Sampang untuk
mencegah bertambah parahnya status gizi balita.

b. Pola Makan
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa adanya hubungan pola makan dengan
status gizi balita dengan

pvalue <0,05. Artinya semakin baik pola makan

semakin baik pula status gizi balita tersebut dan sebaliknya semakin buruk pola
makan semakin buruk pula status gizi balita tersebut. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sebagian besar responden balitanya memiliki pola makan
yang baik dan sebaliknya sebagian dari responden juga ada
balitanya dengan pola makan yang kurang hal ini disebabkan karena ibu
cenderung membiarkan balitanya untuk memilih sendiri makanan yang akan
dikonsumsi walaupun makanan tersebut tidak bergizi, ibu juga sering
memberikan makanan bergula yang berlebihan kepada balita dan ibu juga sering
membiarkan balita untuk menentukan sendiri jumlah makanan yang akan
dikonsumsi setiap harinya tanpa memperhatikan jumlah yang baik yang telah
ditentukan. Sebagian responden yang balitanya memiliki pola makan yang baik
masih ada balitanya dengan status gizi kurang dan buruk.
Hasil penelitian mengenai status ASI eksklusif dalam penelitian ini
didapatkan lebih dari setengah jumlah balita diberikan ASI eksklusif. Memberi
ASI kepada bayi merupakan hal yang sangat bermanfaat antara lain karena
praktis, mudah, murah, sedikit kemungkinan untuk terjadi kontaminasi,dan
menjalin hubungan psikologis yang erat antara bayi dan ibu yang penting dalam
perkembangan psikologi anak tersebut. Beberapa sifat pada ASI yaitu merupakan
makanan alam atau natural, ideal, fisiologis, nutrien yang diberikan selalu dalam
keadaan segar dengan suhu yang optimal dan mengandung nutrien yang lengkap
dengan komposisi yang sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi (Walker, 2004).
Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi
atau zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang
menyebabkan balita yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat
berperan langsung terhadap status gizi balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan
sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat terserap (Soekirman, 2000).

c. Pengetahuan Ibu tentang Status Gizi balita


Hasil penelitian ini didapatkan bahwa adanya hubungan tingkat pengetahuan
ibu dengan status gizi balita dengan

pvalue <0,05. Artinya semakian baik

pengetahuan gizi ibu maka status gizi balitanya semakin baik pula dan sebaliknya,
semakin kurang pengetahuan ibu maka status gizi balitanya semakin buruk pula.
Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa responden memiliki pengetahuan yang
kurang tentang status gizi balita, makanan yang harus dikonsumsi balita yang mana
responden lebih memberikan makanan kepada balita tergantung keinginan balita
dan tergantung makanan yang tersedia dirumah tanpa mengetahui kalau makanan
yang harus di konsumsi harus beragam jenisnya dan responden juga memiliki
pengetahuan yang kurang tentang jumlah dan porsi yang cukup untuk balita. Hal
tersebut nantinya akan berdampak buruk terhadap status gizi balita karena
Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan membantu ibu khususnya dalam hal
pemenuhan zat-zat gizi dalam penyediaan makanan sehari-hari, karena dengan hal
itu ibu akan mengetahui pola pemberian makanan yang memiliki gizi kepada balita
maupun keluargasehingga pemenuhan gizi bagi keluarga akan terjadi dan dengan
hal ini akan membuat kecukupan gizi bagi balita dan keluarga akan terpenuhi.
Pengetahuan

(knowledge)

merupakan

hasil

tahu

seseorang

setelah

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif


merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang
(Notoatmodjo, 2005). Lawrence Green menyatakan faktor perilaku sendiri
ditentukan salah satu faktornya yaitu faktor predisposisi (predisposing faktors)
yang merupakan faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang,
antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
Didukung oleh Hurlock (1998) yang menjelaskan bahwa semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan
bekerja. Hurlock menjelaskan bahwa pada tahapan yang lebih dewasa seseorang
akan bertambah pengetahuan sebelum akhirnya mencapai masa penurunan daya
ingat.
Sesuai dengan teori diatas pengetahuan sebagian besar ibu balita (24-59 bulan)
dalam pemenuhan nutrisi tergolong dalam pengetahuan yang cukup. Pengetahuan

tentang pemenuhan nutrisi balita ini diperoleh melalui pendidikan kesehatan yang
diberikan oleh petugas Puskesmas Haliwen. Hal lain yang mendukung pengetahuan
ibu balita tergolong cukup adalah rerata usia ibu dalam rentang usia produktif
(tahap dewasa) antara 21-31 tahun yang memudahkan ibu untuk berpikir,
mengingat informasi yang didapat dari luar, dan menerapkan perilaku sehat yang
didapatkan dari luar. Responden dengan umur produktif dan memiliki pendidikan
formal yang cukup, mudah menerima informasi dan memproses informasi yang
didapat.

d. Sikap Ibu tentang Status Gizi

Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek


tertentu, yang telah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.
Menurut Allport (1954) komponan sikap terdiri dari tiga komponen pokok yaitu
Kepercayaan atau keyakinan terhadap objek, kehidupan emosional atau evaluasi
orang (penilaian) terhadap objek, dan kecendrungan untuk bertindak. Sedangkan
tingkatan sikap terdiri dari 4 tingkatan yaitu (1) Menerima (receiving) atau
menerima stimulus yang diberikan, (2) Menanggapi (responding) atau memberikan
tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi, (3) Menghargai (valuing)
atau nilai positif yang diberikan terhadap objek, (4) Bertanggungjawab (responsible)
atau bertanggungjawab terhadap yang diyakininya. Menurut Lawrence Green faktor
perilaku sendiri ditentukan oleh salah satunya yaitu faktor predisposisi
(predisposing faktors) atau faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku
seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan
tradisi. Lebih khusus Green menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku seseorang salah satunya adalah sikap dari orang tersebut. Hal ini
menjelaskan bahwa sikap selalu di awali dengan latar belakang pengetahuan yang
sesuai sebagai bagian dari terwujudnya perilaku kesehatan seseorang.
Sebagian besar ibu balita (24-59 bulan) di Desa Kabuna memiliki sikap yang
positif dalam pemenuhan nutrisi. Alasan yang mendasari adalah dengan pengetahuan
yang cukup tentang pemenuhan nutrisi yang tepat, ibu balita (24-59 bulan) di Desa

Kabuna memiliki sikap menerima informasi kesehatan yang diberikan tentang


pemenuhan nutrisi, menanggapi bahwa pemenuhan nutrisi sesuai yang dibutuhkan
oleh tubuh balita akan menunjang kecerdasan dan pertumbuhan fisik balita,
menghargai dan bertanggung jawab bahwa semua informasi yang diperoleh sangat
penting untuk balita.

e. Tindakan Ibu
Tingkatan tindakan terdiri dari (1) Persepsi (perception) atau mengenal dan
memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil (indikator
tindakan tingkat pertama), (2) Respon terpimpin (quided response) atau dapat
melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh
(indikator tindakan tingkat dua), (3) Mekanisme (mechanism) apabila seseorang
telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah
merupakan kebiasaan (indikator tindakan tingkat tiga), (4) Adopsi (adoption) atau
adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik
artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan
tersebut. Green menyatakan bahwa tindakan memerlukan faktor lain untuk dapat
terwujud melalui salah satunya adalah fasilitas atau sarana dan prasarana. Dalam
pemenuhan nutrisi sesuai dengan penelitian yang dilakukan Lutviana&budiono
(2010) menyatakan bahwa pendapatan keluarga sangat mempengaruhi pola
konsumsi makanan sehat sehari-hari.
Sebagian besar tindakan ibu balita (24-59 bulan) di Desa Kabuna tergolong
deficit sesuai dengan standar angka kecukupan gizi. Hal ini dipengaruhi oleh
tindakan pemenuhan didasarkan pada makanan yang tersedia dalam rumah tangga.
Hal ini sesuai dengan teori Green bahwa tindakan dapat terwujud didukung oleh
fasilitas sarana dan prasarana. Dengan mata pencaharian terbanyak adalah petani
dengan pendapatan yang masih dibawah upah minimum regional karena
berdasarkan hasil panen, maka secara langsung mempengaruhi ketersediaan pangan
tingkat rumah tangga. Ini dikarenakan keluarga dengan pendapatan minim tidak
dapat memenuhi kebutuhan makanan sesuai keanekaragaman makanan yang
dibutuhkan oleh tubuh. Tindakan ibu balita (24-59 bulan) dalam pemenuhan nutrisi

melalui wawancara lembar food recall 2x24 jam menggambarkan bahwa makanan
yang diberikan kepada balita selalu disesuaikan dengan jumlah dan jenis makanan
yang tersedia saja. Ini didukung saat penelitian cuaca di daerah penelitian berada
dalam musim penghujan sehingga sebagian besar ibu balita menyediakan makanan
untuk keluarga lebih memanfaatkan hasil kebun sendiri atau membeli dari tempat
terdekat. Hal ini yang mempengaruhi tindakan dari ibu balita (24-59 bulan)
tergolong dalam tindakan yang kurang atau deficit menurut angka kecukupan gizi.
f. Ekonomi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
status ekonomi yang mampu hal ini di duga disebabkan oleh karena sebagian besar
responden berpenghasilan dari berkebun dan bertani yang umumnya sudah
memiliki lahan sendiri dengan pendapatan berkisar Rp.1.500.000-Rp.2.500.000 per
bulannya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya hubungan status
ekonomi dengan status gizi balita dengan pvalue 0,000<0,05. Artinya semakin baik
status ekonomi keluarga maka semakin baik pula status gizi balita dalam keluarga
tersebut, dan sebaliknya. Status ekonomiakan mempengaruhi sikap seseorang
dalam penggunaan pelayanan kesehatan dan dapat mempertahankan tingkat
keteraturan dalam penggunaan pelayanan kesehatan.

g. Budaya
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa adanya hubungan budaya
dengan status gizi balita dengan pvalue <0,05. Artinya, semakin baik
budaya yang ada dalam suatu keluarga mengenai kesehatan, maka
semakin baik pula status gizi balita dalam keluarga tersebut.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah memiliki
budaya yang baik dalam keluarga mengenai kesehatan balitanya. Namun,
masih ada sebagian kecil responden yang memiliki budaya yang kurang
baik seperti masih adanya kepercayaan responden terhadap dukun untuk
pengobatan balitanya yang sakit dan masih adanya pantangan terhadap

makanan yang bergizi seperti pantangan terhadap buah-buahan dan sayursayuran.

h. Riwayat Imunisasi
Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar balita yang memiliki status
imunisasi yang sesuai dengan jadwal. Terdapat 3 dari 4 balita yang status
imunisasinya tidak sesuai dengan jadwal dikarenakan kondisi kesehatan balita yang
bersangkutan tidak memungkinkan untuk dilakukan imunisasi. Sedangkan seorang
balita sisanya tidak memenuhi jadwal yang sudah ditentukan dikarenakan ibu balita
trauma untuk pergi ke Posyandu diakibatkan karena terdapat anak tetangga dari yang
berasangkutan meninggal beberapa saat setelah pulang dari Posyandu.
Golongan yang paling memerlukan imunisasi adalah bayi dan balita karena mereka yang
paling peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh balita masih belum sebaik
dengan orang dewasa (Hidayat, 2008). Sistem kekebalan ini membuat balita menjadi tidak
mudah sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh balita akan
berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai dampak yang tidak
langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi
dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit untuk mempertahankan

agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit (Supartini,
2002).
Imunisasi pada balita sangatlah penting peranannya, terutama untuk
mencegah penyakit yang dapat mengganggu pertumbuahan dan perkembangannya
balita itu sendiri. Namun hasil dalam penelitian ini menunjukkan dengan lebih
besarnya distribusi balita yang status imunisasinya sudah sesuai dengan jadwal akan
tetapi balita tersebut masih memiliki status gizi buruk. Kemungkinan kejadian ini
terjadi karena adanya faktor resiko lain yang menyebabkan terjadinya kasus gizi
buruk. Hal tersebut memperlihatkan status imunisasi bukan menjadi faktor resiko
penyebab terjadinya gizi buruk di Kecamatan Sampang. Penyebab ketidaksesuaian
jadwal pada 3 dari 4 balita dalam penelitian ini dikarenakan kondisi kesehatan balita
yang tidak memungkinkan untuk diimunisasi dan satu balita dikarenakan ibu balita
trauma psikologis setelah melihat anak tetangganya meninggal setelah pulang dari

Posyandu sehingga responden berasumsi pergi ke Posyandu dapat menyebabkan


kematian.

4. Kesimpulan
Faktor yang mempengaruhi status gizi Balita pranikah yang paling
banyak diteliti yaitu pengetahuan ibu, pola makan, penyakit infeksi serta faktor

ekonomi keluarga.
Untuk mengatasi masalah malnutrisi pada Balita, perlu ditingkatkan pemberian
penyuluhan, pendidikan dan pengertian yang benar tentang nutrisi dan pola
makan sehat kepada ibu Balita. Perlunya model pelayanan kesehatan untuk
mengatasi masalah malnutrisi ini.

Daftar Pustaka
1. Abdul Muhith, Nursalam, Lutfiana Wulandari. (2014). Kondisi ekonomi dan
budaya keluarga dengan status gizi balita.
2. Abraham M. Rudolph. Hoffman, et all (2006). Buku Ajar Pediatri Rudolph.
EGC ; Jakarta.
3. Budi Faisol Wahyudi, Sriyono, Retno Indarwati. (2014). Analisis Faktor Yang
Berkaitan Dengan Kasus Gizi Buruk Pada Balita. Jurnal Pediomaternal.
Volume 3 (1).
4. Dharma., K., K. 2011. Metodologi Penelitian Keperawatan : Panduan
Melaksanakan dan Menerapkan Hasil Penelitian. Jakarta : Trans Info Media.
5. Donna L. Wong (2004). Pedoman Klinis keperawatan Pediatrik. EGC;
Jakarta.
6. Eveline Paskalia Mea Mau, Yuni Sufyanti Arif, Kristiawati (2013). Hubungan
Perilaku Ibu dalam Pemenuhan Nutrisi dengan Status Gizi Balita. Skripsi.
Universitas Airlangga.

7. Hockenberry, et all. (2009). Wongs Nursing care Of Infants and children.


Mosby; Philadelpia .US.
8. Huriah T, Trisnantoro L, Haryanti F, & Julia, M, (2014). Malnutrisi Akut
Berat dan Determinannya pada Balita di Wilayah Urban Rural dan Urban.
Jurnal Kesehatan Masyarakat. Kesmas 2014, 9 (1) p 50 57.
9. Huriah T, Trisnantoro L, Haryanti F, & Julia, M, (2014). Upaya Peningkatan
Status Gizi Balita Malnutrisi Akut Berat Melalui Program Home Care .
Jurnal Kesehatan Masyarakat. Kesmas 2014, 9 (2) p 130 136.
10. Kusumawati E, Rahardjo S., Sari P.S, (2011). Model Pengendalian Faktor
Risiko Stunting pada Anak Usia diBawah Tiga Tahun. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. Kesmas 2014, 9 (3) p 249 256.
11. Puji Yastuti Rahmatia, Yonrizal Nurdin, Lili Fajria. (2013). Hubungan Antara
Stimulasi dan Status Gizi dengan Perkembangan Anak usia 3-4 tahun di
wilayah kerja Puskesmas Kuranji Posyandu Taruko. Sripsi. Universitas
Andalas.
12. Potter P.A., Perry A.G. 2010. Fundamental of Nursing, 7th edition. Singapore:
Elsevier.
13. Sri Umijati , Sri Kardjati, Ismoedijanto. (2012). Model Pengasuhan Gizi
Anak Balita Berdasarkan Pendekatan Faktor Risiko. Skripsi. Universitas
Airlangga.
14. Tirza Z.Tamin, Ferial H. Idris, Muchtaruddin Mansyur, Damayanti R. Syarif
(2014). Prevalence and determinants of obesity in students with intellectual
disability in Jakarta.

Medical Journal of Indonesia, 2014, 23 (2) p 106

111.
15. W. Balquis Putri Oktavina (2010). Faktor determinan status gizi anak balita
di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang Kecamatan Bukit Bestari Kota
Tanjungpinang. Skripsi. Universitas Andalas.

16. Yuliani, Deswita (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita
di Nagari Abai Siat di Wilayah Kerja Puskesmas Koto Baru Kabupaten
Dhamasraya. Ners Jurnal Keperawatan, 2014, 10 (1) p 75-90.