Anda di halaman 1dari 4

Maafkan Aku

yang Dahulu

Forgive
Me

Menyoroti Tax Amnesty dari psikologi


pembayar pajak patuh dan penunggak

pajak

Seorang pelaku kejahatan dengan pelanggaran berat yang telah merenggut nilai-nilai kemanusian, membunuh
jiwa nasionalisme dan merampok kesejahteraan negara sangat pantas tuk mendiami jerusi besi bertahun-tahun
lamanya. Di sisi lain, sang Presiden, seorang pemimpin negara dengan penuh pertimbangan hendak
menjatuhkan amnesti untuk menghapuskan segala kejahatan si pelaku. Hati sanubari kita seakan menjerit dan
teriak bahkan mengutuk sebuah kata, kata yang tak tau mengapa saat ini sering dilempari hujatan dan kritikan.
Kata tersebut hanya bisa mengadu dan bersandar pada sahabatnya, yaitu ampun dan maaf.

emaafkan. Kita tidak bisa mengelak


bahwa sangat sulit untuk memaafkan
siapapun yang telah menyakiti dan
menzalimi. Lebih mudah untuk
menghakimi dan menaikkan panji keadilan. Hal
inilah yang sedang hangat untuk dikupas oleh para
pembayar pajak yang dengan patuh, jujur dan setia
membela ibu pertiwi dari tangan-tangan penunggak
pajak dan pembuat kejahatan lainnya.

Hadirnya Tax Amnesty menimbulkan moral hazard


bagi pembayar pajak yang patuh. Berpotensi
menciderai prinsip keadilan, karena pembayar
pajak patuh tidak mendapatkan manfaat apapun
dan merasa diperlakukan tidak adil. Sebaliknya,
para penunggak pajak sangat diuntungkan dengan
kebijakan ini. Mereka akan melenggang bebas dari
segala tuntutan pidana perpajakan.

Innocent Vs Criminal Behaviour


Di dunia ini selalu ada hitam dan putih, benar dan
salah dan berbagai hal yang kontras lainnya. Tak
terkecuali berlaku bagi kehidupan perekonomian
suatu negara. Kaya dan miskin dikelola oleh
negara untuk mendatangkan kesejahteraan dan
keadilan bersama. Kerelaan si kaya untuk
membagikan sedikit kekayaannya melalui pajak
untuk didistibusikan oleh negara kepada si miskin.
Kondisi ideal inilah yang diharapkan oleh negara
manapun untuk mewujudkan kesejahteraan

bersama. Masyarakat yang mampu membayar


pajak dengan sukarela menyisihkan kekayaannya
demi kemajuan negara. Tetapi dunia ini ribuan
tahun lamanya telah diwarnai dan digerakkan oleh
si hitam dan si putih atau orang jahat dan orang
baik. Ada yang rela dan senang hati membayar
pajak, ada yang terpaksa dan berberat hati bahkan
ada yang berbangga hati menunggak dan
menghindari pajak.

InnocenCrimina
t
lRebel
Altruisti
Adacyang rela dan
Enforce
Voluntari
senang hati membayar
pajak,
d
Punishme
ly
ada yang terpaksa
dan berberat hati
nt
Forgivene
bahkan ada yang berbangga
hati menunggak
ss
dan menghindari pajak.

Vs

Economics of Crime
Otoritas pajak di Kanada memetakan dan
menggolongkan pajak secara ekstrim pada dua
golongan, altruistic compliers, yaitu pembayar
pajak yang tunduk pada pada segala regulasi pajak
dan menentang setiap bentuk kecurangan ataupun
argumen yang merasionalisasikan ketidakpatuhan
pajak dan rebels, yaitu pembayar pajak yang sama
sekali tidak patuh, memiliki persepsi negatif
terhadap pajak serta menganggap kecurangan
adalah sesuatu hal yang dapat diterimai. Teori
economics of crime yang pertama kali
diperkenalkan oleh Gary S. Becker (1968) pada

artikelnya yang berjudul Crime and Punishment:


An Economic Approach, mengasumsikan bahwa
seorang kriminal adalah makhluk yang rasional,
dimana mereka juga turut memaksimalkan
kepuasan (utility) mereka walau dengan cara yang
ilegal2. Kristiadji, B. Bawono., dkk (2013, 8)
mengungkapkan bahwa perspektif economics of
crime secara tidak langsung melahirkan Altruistic
compliers dan rebels yang hanya memfokukan
kepada kepatuhan secara paksaan (enforced
compliance) dan mengabaikan kepatuhan pajak
secara sukarela (voluntary compliance)3.

Reward-Punishment Vs Reward-Forgiveness
Erich
Kirchler
(2007,
88)
menunjukkan
kekhawatiran bahwa tax amnesty akan mendorong
peningkatan kecurangan dalam pelaporan pajak
oleh para penunggak pajak4. Torgler, Benno., et al
(2003, 392) dalam papernya yang berjudul Is
Forgiveness Divine? A Cross-Culture Comparison
of Tax Amnesties juga menyatakan bahwa hanya
sedikit bukti empiris yang mendukung bahwa tax
amnesty mempengaruhi kepatuhan. Namun hasil
penelitiannya memaparkan bahwa tax compliance
akan meningkat secara signifikan jika masyarakat
memiliki kesempatan untuk mengikuti voting atau
pemilihan apakah tax amnesty layak untuk
diselenggarakan5. Tax Amnesty sebenarnya
memberikan kesempatan bagi para penunggak
pajak untuk kembali fitrah menjadi pembayar pajak
yang memiliki perilaku patuh dan jujur6. Ruang
kesempatan inilah yang memungkinkan pintu maaf
terbuka bagi para penunggak pajak. Apabila
penunggak pajak tidak diberikan kesempatan
apapun untuk bertobat dan menebus dosa atas
kejahatan masa lalu sebaliknya selalu dihantui dan

ditakut-takuti dengan berbagai ancaman hukuman,


mereka akan semakin lari ke luar negeri dan
singgah ke negara yang bersahabat dengan
kejahatan mereka. Psychological Tax Contract atau
kontrak psikologis bisa jadi menjadi solusi yang
tepat untuk menjembatani kebutuhan antara
penunggak pajak yang insyaf dengan pembayar
pajak yang patuh. Kontrak psikologis menimbulkan
pertukaran hak dan kewajiban berupa pertukaran
fiskal (fiscal exchange) dibandingkan dengan
insentif langsung seperti reward dan punishment.
Para penunggak pajak tidak lagi dihadiahi
punishment melainkan forgiveness sehingga
mereka akan berbondong-bondong mengalihkan
kekayaannya dari luar negeri ke dalam negeri.
Sebagai gantinya, para pembayar pajak patuh
akan menerima reward, yaitu peralihan kekayaan
dari para penunggak pajak yang nantinya akan
didistribusikan kepada seluruh masyarakat melalui
pembangunan dan pemerataan ekonomi oleh
pemerintah.

i1 The Federal/Province/Territorial Underground Economy Working Group dalam survey underground


economy di Canada tahun 2002 dan 20032 Gary S. Becker. 1968. Crime and Punishment: An Economic
Approach. Journal of Political Economy Vol. 76, No. 2, Page 169-712
3
Kristiadji, B Bawono.,dkk. 2013 Memahami Ke(tidak)patuhan Pajak. Majalah InsideTax, Edisi 14, Hal 614
4
Kirchler, Erich. 2007. The Economic Psychology of Tax Behaviour. UK: Cambridge University Press
5
Torgler, Benno., et al. 2003. Is Forgiveness Divine? A Cross-Culture Comparison of Tax Amnesties.
Schweiz. Zeitschrift fr Volkswirtschaft und Statistik, Vol. 139 (3) 375-396
6
Field & Frey. 2007. Tax Evasion,Tax Amnesties and Psychological Tax Contract. Working Paper 07-29.
US: Georgia State University