Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama Lengkap
Jenis Kelamin
Usia
Status Pernikahan
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk

: Ayu Handari
: Perempuan
: 26 tahun
: Menikah
: Islam
: Ibu Rumah Tangga
: Sei Glugur
: 20 Juli 2016 (12.30 WIB)

ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Pasien mengeluh perutnya mules dan keluar cairan dari jalan lahirnya.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluh perutnya mules dan keluar cairan dari jalan lahirnya.
Hal ini sudah dialami pasien kurang lebih selama satu minggu yang lalu.
Riwayat persalinan os sebelumnya dengan Sectio Caecaria 5 tahun lalu.
(G2P1A0). Os sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan USG dengan
hasil
Letak : kepala
Air Ketuban : sedikit
Jenis Kelamin : laki-laki
Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik seperti diabetes
mellitus, tidak mengonsumsi antibiotik tertentu, tidak

menggunakan

kontrasepsi oral. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan.

Riwayat Haid
Menarche

: 14 tahun

Siklus haid

: teratur

Lama

: 3-5 hari

Panjang siklus

: 30 hari

Banyak

: 2-3 pembalut/hari

Nyeri haid

: kadang-kadang

HPHT

: 10 November 2015

TTP

: 17 Agustus 2016

Riwayat Keluarga Berencana


Riwayat penggunaan kontrasepsi pil atau suntik maupun AKDR (alat
kontrasepsi dalam rahim) disangkal, hanya menggunakan kondom.
Riwayat Pernikahan :
Pasien menikah 1 kali sudah dan telah memiliki 1 orang anak berusia 2
tahun.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien menyangkal adanya riwayat sakit hipertensi, asma, diabetes
mellitus, penyakit jantung, dan penyakit serius lainnya. Riwayat operasi
disangkal (termasuk belum pernah operasi sesar).
Riwayat Alergi dan Obat-obatan:
Riwayat alergi obat, alergi makanan disangkal
Riwayat Sosial dan Kebiasaan
Riwayat merokok, minum alkohol, obat-obatan, dan jamu disangkal oleh
pasien. Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Keadaan sosial ekonomi
sedang. Mengganti celana 2 kali sehari.
Riwayat Keluarga:
Pasien tidak mengetahui riwayat penyakit hipertensi, asma, maupun
kencing manis dalam keluarganya.
PEMERIKSAAN FISIK
2

STATUS GENERALIS:
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit, regular

Pernapasan

: 24 x/menit

Suhu

: 36.5 0C

Kulit

Warna
Turgor

: Tidak pucat, tidak ikterik


: Baik

Kepala

Bentuk

: Normosefali, simetris

Mata

Pupil
Refleks pupil
Konjungtiva
Sklera
Refleks cahaya

: bulat, isokor
: +/+
: Anemis -/: Ikterik -/: +/+

Bibir
Lidah

: Pucat (-), Sianosis (-)


: Bersih, tepi hiperemis (-), tremor (-)

Tiroid
Trakea

: Pembesaran (-)
: Terletak di tengah

Mulut

Leher

Kelenjar Getah Bening

KGB leher
KGB aksila
KGB inguinal

: tidak terdapat pembesaran


: tidak terdapat pembesaran
: tidak terdapat pembesaran

Thoraks:
-

Paru-paru:
Inspeksi

: Bentuk simetris, pergerakan


pernapasan simetris
3

Palpasi

: Fremitus raba simetris

Perkusi

: Sonor

Auskultasi

: vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/-

Jantung:
Inspeksi

: Iktus cordis terlihat

Palpasi

: Iktus cordis teraba

Perkusi

: jantung dalam batas normal

Auskultasi

: S1, S2, Murmur (-), Gallop (-)

Mamae:
Simetris, tidak ada benjolan.
Areola mammae pigmentasi normal.
Puting susu menonjol, ASI (-)
Abdomen:
Inspeksi

: TFU dibawah umbilikus

Punggung:
Nyeri ketok costovertebral tidak ada
Ekstremitas:
Akral hangat
Varises (-), Sianosis (-), edema (-)
PEMERIKSAAN OBSTETRI
G2P1A0
TFU : dibawah umbilikus, pu-ka, presentasi kepala, DJJ : 130-145x/menit teratur
TBJ : 2800 gram.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan USG (20-07-2016), dengan hasil :


Letak Kepala
Punggung : Kanan
4

Air ketuban sedikit


Bayi baik

Pemeriksaan Laboratorium
Leukosit
: 7.1 x 103 /uL
Eritrosit
: 4.76 x 106 /uL
Trombosit
: 293 x 103 /uL
Hemoglobin
: 10.7 gr/dL
Hematokrit
: 35.9 %
CT/BT
: 3 / 4
KGD adR
: 127 mg/dL

DIAGNOSIS KERJA
SG + KDR (37-39 Minggu) + AH + LK + KPD + OLIGOHIDROAMNION
RENCANA
Sectio Caecaria Cito (21/08/2016)
TATALAKSANA

Diet MB
IVFD RL 30 gtt/i

21/08/2016
KELUHAN
VITAL
SIGN

(POST SC)
Nyeri Post SC

22/08/2016
Nyeri Post SC

23/08/2016
Nyeri Post SC

24/08

(PB
-

TD : 120/80

TD : 120/80

TD : 110/60

TD : 100/6

HR : 88

HR : 88

HR : 80

HR : 90

RR : 28

RR : 28

RR : 20

RR : 22

T : 36

T : 36

T : 36,5

T : 36,4
5

TERAPI

IVFD RL 30gtt/i
Inj. Cefotaxim

Cefotaxim tab

Cefotax

3x1
Asam mefenamat

3x1
Asam mefenamat

3x1
Asam m

1gr/12jam
Inj. Kalnex /8jam
Inj. Ketorolac/8jam

tab 3x1
Metronidazol tab

tab 3x1
Metronidazol tab

tab 3x1
Metron

3x1

Cefotaxim tab

3x1

3x1

FOLLOW UP PASIEN

BAB 2
PENDAHULUAN
2.1 Latar belakang
Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit.
Oligohidramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau pada
umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12% wanita
yang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia kehamilan

42 minggu) juga mengalami oligohidramnion, karena jumlah cairan ketuban yang


berkurang hampir setengah dari jumlah normal pada masa kehamilan 42 minggu.1
Penyebab oligohidramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas
wanita hamil yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab
oligohidramnion yang telah terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya
kantung/ membran cairan ketuban yang mengelilingi janin dalam rahim. Sekitar
7% bayi dari wanita yang mengalami oligohidramnion mengalami cacat bawaan,
seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena jumlah urin yang diproduksi
janin berkurang. Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan
oligohidramnion adalah tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah pada
plasenta. Serangkaian pengobatan yang dilakukan untuk menangani tekanan darah
tinggi, yang dikenal dengan nama angiotensin-converting enxyme inhibitor (mis
captopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan oligohidramnion parah
dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi yang
kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan sebelum
merencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah mereka tetap
terawasi baik dan pengobatan yang mereka lalui adalah aman selama kehamilan
mereka.2
Semakin awal oligohidramnion terjadi pada kehamilan, semakin buruk
prognosisnya. Jika terjadi pada trimester II, 80-90% akan mengakibatkan
mortalitas.3

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Cairan Ketuban
Definisi
Cairan ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang memenuhi rahim.
Cairan ini ditampung di dalam kantung amnion yang disebut kantung ketuban

atau kantung janin. Cairan ketuban diproduksi oleh buah kehamilan, yaitu sel-sel
trofoblas, kemudian akan bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu air seni
janin. Sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan
mengeluarkannya kembali dalam bentuk air seni. Jadi ada pola berbentuk
lingkaran atau siklus yang berulang.6
Volume Cairan Ketuban
Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena
adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari
lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan
aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal.
Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20
minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion
lebih mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri.
Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki
peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion
sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion. Dengan
bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin
dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai
kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam
memproduksi cairan amnion.
Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan
dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan
menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma
ibu dan cairan amnion.
Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis
ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan
pada janin, seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan
polihidramnion

Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi,


secara umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia
kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21
minggu, yang kemudian akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap
setelah usia kehamilan 33 minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari
50 ml pada saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan
gestasi dan 1000 1500 ml pada saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlah
cairan amnion hanya 100 sampai 200 ml atau kurang.
Brace dan Wolf menganalisa semua pengukuran yang dipublikasikan pada
12 penelitian dengan 705 pengukuran cairan amnion secara individual. Variasi
terbesar terdapat pada usia kehamilan 32-33 minggu. Pada saat ini, batas
normalnya adalah 400 2100 ml1,2,3,4.

Gambar 2. Grafik yang menunjukkan perubahan volume cairan amnion


sesuai dengan penambahan usia gestasi. dikutip dari Gilbert 5

Faktor utama yang mempengaruhi volume air ketuban :


1. Pengaturan fisiologis aliran oleh fetus
9

2. Pergerakan air dan larutan didalam dan yang melintasi membran


3. Pengaruh maternal pada pergerakan cairan transplasenta

Volume air ketuban merupakan prediktor kemampuan janin menghadapi


persalinan, karena kemungkinan tali pusat terjepit antara bagian bayi dan dinding
rahim meningkat tatkala air ketuban sedikit. Hal ini akan menimbulkan gawat
janin serta persalinan diakhiri dengan bedah caesar.
Normal Cairan Ketuban

Pada usia kehamilan cukup bulan volume 1000-1500 cc


Keadaan jernih agak keruh
Steril
Bau khas, agak manis dan manis
Terdiri dari 98-99% air, 1-2% garam-garam anorganik dan bahan organic
(protein terutama albumin), runtuhan rambut lanugo, vernix caseosa dan sel-

sel epitel
Cirkulasi sekitar 500 cc/jam10

Pengukuran Cairan Ketuban


Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan
amnion, dengan teknik single pocket ,dengan memakai Indeks Cairan Amnion
(ICA), dan secara subjektif pemeriksa.
Pemeriksaan dengan metode single pocket pertama kali diperkenalkan oleh
Manning dan Platt pada tahun 1981 sebagai bagian dari pemeriksaan biofisik,
dimana 2ccm dianggap sebagai batas minimal dan 8 cm dianggap sebagai
polihidramnion.
Metode single pocket telah dibandingkan dengan AFI menggunakan
amniosintesis sebagai gold standar. Tiga penelitian telah menunjukkan bahwa
metode pengukuran cairan ketuban dengan teknik Indeks Cairan Amnion (ICA)
memiliki korelasi yang lemah dengan volume amnion sebenarnya (R2 dari 0.55,
10

0.30 dan 0.24) dan dua dari tiga penelitian ini menunjukkan bahwa teknik single
pocket memiliki kemampuan yang lebih baik.
Kelebihan cairan amnion seperti polihidramnion, tidak mempengaruhi
fetus secara langsung, namun dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Secara
garis besar, kekurangan cairan amnion dapat berefek negatif terhadap
perkembangan paru-paru dan tungkai janin, dimana keduanya memerlukan cairan
amnion untuk berkembang 6,7

Gambar 4. Pengukuran cairan amnion berdasarkan empat kuadran. dikutip


dari Gilbert5

Bagaimana mengetahui kecukupan jumlah cairan ketuban? Jumlah cairan


ketuban dapat dipantau melalui USG, tepatnya menggunakan parameter AFI
(Amniotic Fluid Index). Pada dasarnya, cairan ketuban sudah bisa dideteksi begitu
seorang ibu terlambat haid dan dengan USG sudah terlihat kantung janinkarena
itu berarti sudah terbentuk cairan ketuban. Pada kehamilan normal, saat cukup
bulan, jumlah cairan ketuban sekitar 1000 cc.

11

Cairan ketuban dikatakan kurang bila volumenya lebih sedikit dari 500 cc.
Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan USG. Istilah medisnya oligohidramnion.
Ibu harus curiga jika ada cairan yang keluar secara berlebih atau sedikit tetapi
terus menerus melalui vagina. Biasanya berbau agak anyir, warnanya jernih dan
tidak kental. Sangat mungkin itu adalah cairan yang keluar atau merembes karena
ketuban mengalami perobekan. Tanda lainnya adalah gerak janin menyebabkan
perut ibu terasa nyeri12.
Kelainan Cairan Ketuban

Hidramnion (polihidramnion)

Oligohidramnion

3.2 Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal, yaitu kurang dari 500 cc.
Definisi lainnya menyebutkan sebagai AFI yang kurang dari 5 cm. Karena
VAK tergantung pada usia kehamilan maka definisi yang lebih tepat adalah AFI
yang kurang dari presentil 5 ( lebih kurang AFI yang <6.8 cm saat hamil cukup
bulan) 13.
3.2.1 Patofisiologi Oligohidramnion
Mekanisme atau patofisiologi terjadinya oligohidramnion dapat dikaitkan
dengan adanya sindroma potter dan fenotip pottern, dimana, Sindroma Potter dan
Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan gagal
ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang
sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru
lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion
menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari
dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain itu,
12

karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal
atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru
(paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal
ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal
bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal
berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air
kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari
sindroma Potter.

Gejala Sindroma Potter berupa :

Wajah Potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal
hidung yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).

Tidak terbentuk air kemih

Gawat pernafasan14.

3.2.2 Epidemiologi Oligohidramnion


Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit.
Olygohydramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau pada
umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12% wanita
yang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia kehamilan
42 minggu) juga mengalami olygohydrasmnion, karena jumlah cairan ketuban

13

yang berkurang hamper setengah dari jumlah normal pada masa kehamilan 42
minggu1

3.2.3 Etiologi Oligohidramnion


Penyebab oligohydramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas
wanita hamil yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab
oligohydramnion yang telah terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya
kantung/ membran cairan ketuban yang mengelilingi janin dalam rahim. Sekitar
7% bayi dari wanita yang mengalami oligohydramnion mengalami cacat bawaan,
seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena jumlah urin yang diproduksi
janin berkurang. Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan
oligohidramnion adalah tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah pada
plasenta. Serangkaian pengobatan yang dilakukan untuk menangani tekanan
darah tinggi, yang dikenal dengan namaangiotensin-converting enxyme inhibitor
(mis captopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan oligohydramnion
parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi
yang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan
sebelum merencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah
mereka tetap terawasi baik dan pengobatan yang mereka lalui adalah aman
selama kehamilan mereka.
Fetal :

Kromosom

Kongenital

Hambatan pertumbuhan janin dalam rahim

Kehamilan postterm

14

Premature ROM (Rupture of amniotic membranes)

Maternal :

Dehidrasi

Insufisiensi uteroplasental

Preeklamsia

Diabetes

Hypoxia kronis

Induksi Obat :
Indomethacin and ACE inhibitors
Idiopatik2

3.2.4 Faktor Resiko Oligohidramnion


Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion yang
tinggi :

Anomali kongenital ( misalnya : agenosis ginjal,sindrom patter ).

Retardasi pertumbuhan intra uterin.

Ketuban pecah dini ( 24-26 minggu ).

Sindrom pasca maturitas15

15

3.2.5 Manifestasi Klini Oligohidramnion


Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
Sering berakhir dengan partus prematurus.
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih
jelas.
Persalinan lebih lama dari biasanya.
Sewaktu his akan sakit sekali.
Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar16.
3.2.6 Diagnosis dan Pemeriksaan Oligohidramnion
Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah cairan ketuban
terlalu sedikit atau terlalu banyak. Umumnya para doketer akan mengukur
ketinggian cairan dalam 4 kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya. Metode
ini dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika ketinggian amniotic
fluid (cairan ketuban) yang di ukur kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut
didiagnosa mengalami oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih dari 25
cm, ia di diagnosa mengalami poluhydramnion17
3.2.7 Penatalaksanaan Oligohidramnion
Sebenarnya air ketuban tidak akan habis selama kehamilan masih normal
dan janin masih hidup. Bahkan air ketuban akan tetap diproduksi, meskipun sudah
pecah berhari-hari. Walau sebagian berasal dari kencing janin, air ketuban berbeda
dari air seni biasa, baunya sangat khas. Ini yang menjadi petunjuk bagi ibu hamil
untuk membedakan apakah yang keluar itu air ketuban atau air seni.

16

Supaya volume cairan ketuban kembali normal, dokter umumnya


menganjurkan ibu hamil untuk menjalani pola hidup sehat, terutama makan
dengan asupan gizi berimbang. Pendapat bahwa satu-satunya cara untuk
memperbanyak cairan ketuban adalah dengan memperbanyak porsi dan frekuensi
minum adalah salah kaprah. Tidak benar bahwa kurangnya air ketuban
membuat janin tidak bisa lahir normal sehingga mesti dioperasi sesar.
Bagaimanapun, melahirkan dengan cara operasi sesar merupakan pilihan terakhir
pada kasus kekurangan air ketuban. Meskipun ketuban pecah sebelum waktunya,
tetap harus diusahakan persalinan pervaginam dengan cara induksi yang baik dan
benar.
Studi baru-baru ini menyarankan bahwa para wanita dengan kehamilan
normal tetapi mengalami oligohydramnion dimasa-masa terakhir kehamilannya
kemungkinan tidak perlu menjalani treatment khusus, dan bayi mereka cenderung
lahir denga sehat. Akan tetapi wanita tersebut harus mengalami pemantauan terusmenerus. Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menjalani pemeriksaan
USG setiap minggu bahkan lebih sering untuk mengamati apakah jumlah cairan
ketuban terus berkurang. Jika indikasi berkurangnya cairan ketuban tersebut terus
berlangsung, dokter mungkin akan merekomendasikan persalinan lebih awal
dengan bantuan induksi untuk mencegah komplikasi selama persalinan dan
kelahiran. Sekitar 40-50% kasus oligohydramnion berlangsung hingga persalinan
tanpa treatment sama sekali. Selain pemeriksaan USG, dokter mungkin akan
merekomendasikan tes terhadap kondisi janin, seperti tes rekam kontraksi untuk
mengganti kondisi stress tidaknya janin, dengan cara merekam denyut jantung
janin. Tes ini dapat memberi informasi penting untuk dokter jika janin dalam
rahim mengalami kesulitan. Dalam kasus demikian, dokter cenderung untuk
merekomendasikan persalinan lebih awal untuk mencegah timbulnya masalah
lebih serius. Janin yang tidak berkembang sempurna dalam rahim ibu yang
mengalami oligohydramnion beresiko tinggi untuk mengalami komplikasi selama
persalinan, seperti asphyxia (kekurangan oksigen), baik sebelum atau sesudah

17

kelahiran. Ibu dengan kondisi janin seperti ini akan dimonitor ketat bahkan
kadang-kadang harus tinggal di rumah sakit.
Jika wanita mengalami oligohydramnion di saat-saat hampir bersalin,
dokter mungkin akan melakukan tindakan untuk memasukan laruran salin melalui
leher rahim kedalam rahim. Cara ini mungkin mengurangi komplikasi selama
persalinan dan kelahiran juga menghindari persalinan lewat operasi caesar. Studi
menunjukan bahwa pendekatan ini sangat berarti pada saat dilakukan monitor
terhadap denyut jantung janin yang menunjukan adanya kesulitan. Beberapa studi
juga menganjurkan para wanita dengan oligohydramnion dapat membantu
meningkatkan jumlah cairan ketubannya dengan minum banyak air. Juga banyak
dokter menganjurkan untuk mengurangi aktivitas fisik bahkan melakukan
bedrest18
3.2.8 Prognosis Oligohidramnion
Semakin awal oligohidramnion terjadi pada kehamilan, semakin buruk
prognosisnya
Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas3

3.2.9 Komplikasi Oligohidramnion


Kurangnya cairan ketuban tentu aja akan mengganggu kehidupan janin,
bahkan dapat mengakibatkan kondisi gawat janin. Seolah-olah janin tumbuh
dalam kamar sempit yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Malah pada
kasus extrem dimana suah terbentuk amniotic band (benang atau serat amnion)
bukan tidak mustahil terjadi kecacatan karena anggota tubuh janin terjepit atau
terpotong oleh amniotic band tersebut.
Efek lainnya janin berkemungkinan memiliki cacat bawaan pada saluran
kemih, pertumbuhannya terhambat, bahkan meninggal sebelum dilahirkan. Sesaat

18

setelah dilahirkan pun, sangat mungkin bayi beresiko tak segera bernafas secara
spontan dan teratur.
Bahaya lainnya akan terjadi bila ketuban lalu sobek dan airnya merembes
sebelum tiba waktu bersalin. Kondisi ini amat beresiko menyebabkan terjadinya
infeksi oleh kuman yang berasal daribawah. Pada kehamilan lewat bulan,
kekurangan air ketuban juga sering terjadi karena ukuran tubuh janin semakin
besar.
Masalah-masalah yang dihubungkan dengan terlalu sedikitnya cairan
ketuban berbeda-beda tergantung dari usia kehamilan. Oligohydramnion dapat
terjadi di masa kehamilan trimester pertama atau pertengahan usia kehamilan
cenderung berakibat serius dibandingkan jika terjadi di masa kehamilan trimester
terakhir. Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa awal kehamilan dapat menekan
organ-organ janin dan menyebabkan kecacatan, seperti kerusakan paru-paru,
tungkai dan lengan.
Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga
meningkatka resiko keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam
kandungan. Jika ologohydramnion terjadi di masa kehamilan trimester terakhir,
hal ini mungkin berhubungan dengan pertumbuhan janin yang kurang baik.
Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat meningkatkan resiko
komplikasi

persalinan

dan

kelahiran,

termasuk

kerusakan

pada

ari-ari

memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin.


Wanita yang mengalami oligohydramnion lebih cenderung harus mengalami
operasi caesar disaat persalinannya19.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Rustam, mochtar.1998. Sinopsis Obstetri; obstetri fisiologi, obstetri


patologi edisi ke 2. Jakarta: EGC.
2. Wikojosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan Edisi Ke2 Cetakan Ke4.
Jakarta: YBB- SP.
3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstorm
KD. Williams obstetric. 22nd ed. New York. McGraw-Hill Companies, Inc;
2005.
4. Laughlin D, Knuppel RA. Maternal-placental-fetal unit;fetal & early
neonatal physiology. In: DeCherney AH, Nathan L. Current obstetric &
gynecologic diagnosis & treatment. 9th ed. New York: The McGraw-Hill
Companies;2003.
5. Chamberlain G, editor. Obstetrics by ten teacher. 16 th ed. New York:
Oxford University Press;1995.Gilbert WM. Amniotic fluid dynamics.
NeoReviews 2006;7
6. Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, Nygaard I, editors. Danforths obstetrics
and gynecology. 10th ed. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins; 2008.

20