Anda di halaman 1dari 9

Borang Portofolio Internship RSU Berkah Pandeglang Periode November 2015- 2016

Nama Peserta
Nama Wahana
Topik
Tanggal (kasus)
Nama Pasien
Tanggal Presentasi
Tempat Presentasi
Obyektif presentasi
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus
Lansia
Deskripsi

dr. Abraham Gita Ramanda


RSU Berkah Pandeglang
TB Paru pada anak
2 Febuari 2016
An. JA

No. RM :
Nama Pendamping : dr. Yeni

RSU Berkah Pandeglang


Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan

Pustaka

Istimewa

Remaja

Manajemen
Masalah
Bayi
Anak
Bumil
Anak laki-laki, 15 tahun mengalami demam kurang lebih 3 bulan, batuk
kering, keringat malam, berat badan tidak bertambah. Diduga menderita

Tujuan :
Bahan bahasan :
Cara membahas :

Data Pasien :
Nama Klinik :

TB paru.
Penatalaksanaan TB Paru pada anak
Tinjauan Pustaka
Riset
Diskusi
Presentasi dan Diskusi

Kasus
Email

Audit
Pos

Nama : An. JA
Usia : 15 tahun
No Registrasi :
RSU Berkah Pandeglang
Telepon :
Terdaftar Sejak :

Data Utama untuk bahan diskusi :


1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengalami demam kurang lebih 3 bulan SMRS. Demam naik turun. Pasien
mengalami batuk sejak kurang lebih 3 bulan SMRS, batuk kering, darah (-). Pasien sering
berkeringat pada malam hari. Berat badan pasien tidak mengalami pertambahan sejak
beberapa bulan terakhir. Terdapat nyeri ulu ati, hilang timbul, sejak kurang lebih 1 minggu.
Tidak nafsu makan.
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan paru 6 bulan. Pasien hanya berobat biasa di
puskesmas.
3. Riwayat Kesehatan :
Pasien sudah pernah mengalami demam dan batuk sebelumnya, dan sudah pernah
dirontgen dengan hasil efusi pleura dextra.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :

Orang tua pasien mengatakan riwayat kontak dengan penderita TB paru di keluarga tidak
ada.
5. Riwayat Pekerjaan :

Belum bekerja.
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (Rumah, Lingkungan, Pekerjaan)
Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya. Orang tua pasien mengatakan kontak dengan
penderita TB paru di lingkungan sekitar tidak ada.
7. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus)
Pasien mengaku sudah pernah menerima imunisasi BCG.
8. Lain-lain (Pemeriksaan fisik dan Penunjang)
Tanda Vital (UGD RSU Berkah 27/1/2016 pk : 10.15)
Nadi : 88x/ menit
RR : 28x/ menit
Suhu : 37,1 C
Bb: 40 kg
GCS : E4M6V5 (15)
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/ Leher : JVP tidak distensi, dalam batas normal
Paru : Vesikuler +/+, rhonki +/+, wheezing -/-, friction rub +/- basal paru kanan
Jantung : BJ 1 2 reguler normal, irama sinus, murmur -/-, gallop -/ Abdomen : Datar lembut. Bising usus (+). Hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas : CRT < 2 detik
Hasil Laboratorium (27/1/2016)
Hb : 12,5 g/dl
Ht : 37 %
Leukosit : 14.850/ uL
Trombosit : 360.000/uL
Daftar Pustaka:
1. Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. Kementrian kesehatan republik Indonesia

direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan 2014. Jakarta:


Kemenkes RI. 2014.
Hasil Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.

Pathogenesis dan penularan TB


Diagnosis TB pada anak
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan
Klasifikasi pasien dan tipe pasien TB pada anak
Pengobatan TB pada anak

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio:


1. Subyektif:
Pasien mengalami demam terus menerus, naik turun. Berkeringat pada malam hari. Tidak
nafsu makan, tidak mengalami pertambahan berat badan dalam beberapa bulan. Batuk terus
menerus, batuk kering, tidak terdapat darah. Semua merupakan gejala sistemik dari TB

paru.
2. Obyektif:
Hasil laboratorium: menunjukkan adanya peningkatan leukosit, menandakan
adanya infeksi bakteri.
3. Assessment :
Gejala sistemik/umum TB anak adalah sebagai berikut:
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan tidak naik dengan
adekuat atau tidak naik dalam 1 bulan setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang

baik.
Demam lama (2 minggu) dan/atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam
tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, dan lain-lain). Demam umumnya tidak tinggi.
Keringat malam saja bukan merupakan gejala spesifik TB pada anak apabila tidak

disertai dengan gejala-gejala sistemik/umum lain.


Batuk lama 3 minggu, batuk bersifat non-remitting (tidak pernah reda atau
intensitas semakin lama semakin parah) dan sebab lain batuk telah dapat

disingkirkan.
Nafsu makan tidak ada (anoreksia) atau berkurang, disertai gagal tumbuh (failure to

thrive).
Lesu atau malaise, anak kurang aktif bermain.
Diare persisten/menetap (>2 minggu) yang tidak sembuh dengan pengobatan baku
diare.

Diagnosis pasti TB ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi yang terdiri dari


beberapa cara, yaitu pemeriksaan mikroskopis apusan langsung atau biopsi jaringan
untuk menemukan BTA dan pemeriksaan biakan kuman TB. Pada anak dengan gejala
TB, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mikrobiologi.
Pemeriksaan penunjang utama untuk membantu menegakkan diagnosis TB pada anak
adalah membuktikan adanya infeksi yaitu dengan melakukan uji tuberkulin/mantoux
test.

Anak dengan skor 6 yang diperoleh dari kontak dengan pasien BTA positif dan hasil uji
tuberkulin positif, tetapi TANPA gejala klinis, maka dilakukan observasi atau diberi
INH profilaksis tergantung dari umur anak tersebut. Foto toraks bukan merupakan alat
diagnostik utama pada TB anak.

Anak dengan skor 5 yang terdiri dari kontak BTA positif dan 2 gejala klinis lain, pada
fasyankes yang tidak tersedia uji tuberkulin, maka dapat didiagnosis, diterapi dan
dipantau sebagai TB anak. Pemantauan dilakukan selama 2 bulan terapi awal, apabila
terdapat perbaikan klinis, maka terapi OAT dilanjutkan sampai selesai.
Semua bayi dengan reaksi cepat (<2 minggu) saat imunisasi BCG dicurigai telah

terinfeksi TB dan harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.


Pada anak yang pada evaluasi bulan ke-2 tidak menunjukkan perbaikan klinis
sebaiknya diperiksa lebih lanjut adanya kemungkinan faktor penyebab lain misalnya
kesalahan diagnosis, adanya penyakit penyerta, gizi buruk, TB MDR maupun masalah
dengan kepatuhan berobat dari pasien. Apabila fasilitas tidak memungkinkan, pasien
dirujuk ke RS. Yang dimaksud dengan perbaikan klinis adalah perbaikan gejala awal
yang ditemukan pada anak tersebut pada saat diagnosis.

Prinsip pengobatan TB anak:


- OAT diberikan dalam bentuk kombinasi minimal 3 macam obat untuk mencegah
terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan
-

ekstraseluler.
Waktu pengobatan TB pada anak 6-12 bulan. pemberian obat jangka panjang selain
untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya

kekambuhan
Pengobatan TB pada anak dibagi dalam 2 tahap:
Tahap intensif, selama 2 bulan pertama. Pada tahap intensif, diberikan minimal

3 macam obat, tergantung hasil pemeriksaan bakteriologis dan berat ringannya

penyakit.
Tahap Lanjutan, selama 4-10 bulan selanjutnya, tergantung hasil pemeriksaan

bakteriologis dan berat ringannya penyakit.


Selama tahap intensif dan lanjutan, OAT pada anak diberikan setiap hari untuk
mengurangi ketidakteraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak

diminum setiap hari.


Pada TB anak dengan gejala klinis yang berat, baik pulmonal maupun
ekstrapulmonal seperti TB milier, meningitis TB, TB tulang, dan lain-lain dirujuk

ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.


Pada kasus TB tertentu yaitu TB milier, efusi pleura TB, perikarditis TB, TB
endobronkial, meningitis TB, dan peritonitis TB, diberikan kortikosteroid
(prednison) dengan dosis 1-2 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 3 dosis. Dosis maksimal
prednisone adalah 60mg/hari. Lama pemberian kortikosteroid adalah 2-4 minggu
dengan dosis penuh dilanjutkan tappering off dalam jangka waktu yang sama.
Tujuan pemberian steroid ini untuk mengurangi proses inflamasi dan mencegah

terjadi perlekatan jaringan.


Paduan OAT untuk anak yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian

Tuberkulosis di Indonesia adalah:


Kategori Anak dengan 3 macam obat: 2HRZ/4HR
Kategori Anak dengan 4 macam obat: 2HRZE(S)/4-10HR
Paduan OAT Kategori Anak diberikan dalam bentuk paket berupa obat Kombinasi
Dosis Tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 3 jenis
obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini

dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.


OAT untuk anak juga harus disediakan dalam bentuk OAT kombipak untuk
digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.

Pasien dengan keluhan neuritis perifer (misalnya: kesemutan) dan asupan piridoksin
(vitamin B6) dari bahan makanan tidak tercukupi, maka dapat diberikan vitamin B6 10
mg tiap 100 mg INH.
Untuk pencegahan neuritis perifer, apabila tersedia piridoksin 10 mg/ hari
direkomendasikan diberikan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, pasien gizi buruk,
anak dengan HIV positif.
Ketidakpatuhan minum OAT pada pasien TB merupakan penyebab kegagalan terapi.
- Jika anak tidak minum obat >2 minggu di fase intensif atau > 2 bulan di fase
-

lanjutan DAN menunjukkan gejala TB, beri pengobatan kembali mulai dari awal.
Jika anak tidak minum obat <2 minggu di fase intensif atau <2 bulan di fase

lanjutan DAN menunjukkan gejala TB, lanjutkan sisa pengobatan sampai selesai.
Pada pasien dengan pengobatan yang tidak teratur akan meningkatkan risiko
terjadinya TB kebal obat

4. Planning :
- Terapi awal di IGD:
IVFD RL 10 tpm
Ceftriaxone 2 x 1 gram
Ranitidine 2 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg
Ambroxol 3 x 1 cth
B comp 3 x 1 tab
- Rencana test mantoux dan rontgen thorax PA.
- Scoring TB Paru anak, jika 6 mulai terapi OAT tahap awal 2RHZ lalu OAT tahap
-

lanjutan 4RH.
Pemantauan minum obat, tahap awal pasien kontrol tiap minggu, tahap lanjutan pasien
control tiap bulan. Setelah 2 bulan pengobatan, dinilai efektivitas pengobatan. Setelah
pengobatan selesai, dilakukan evaluasi klinis dan penunjang.