Anda di halaman 1dari 14

KAWASAN KONSERVASI

TWP PULAU PIEH

Oleh :
KELOMPOK 1
Samuel Leivy Opa

14051103017

Aaron Lumingas

14051103008

Romario Pohos

14051103024

Asshidiq Djaguna

14051103035

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016

Pulau Pieh seluas 39.900 ha pada awalnya merupakan pulau yang dikelola secara turun
temurun oleh keluarga Basyiruddin yang bertempat tinggal di Desa Ulakan Tengah,
Kecamatan Tapakis Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Melalui proses panjang dengan surat
Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Nomor 3354/Kwl5/1994 tanggal 24 Nopember 1994 tentang usulan penetapan Kawasan Konservasi Laut Pulau
pieh dan surat Gubernur Kepala Daerah Tk.I Sumatera Barat No.522.51/1903/ILH-1995 tanggal
10 Agustus 1995 tentang Usulan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Pulau Pieh keseluruhan
proses ini sampai proses penunjukkan memakan waktu lebih dari 6 tahun. Kawasan Pulau Pieh

ditujukan sebagai Taman Wisata Alam Laut berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 070/kptsII/2000.

Gambar 1. Pulau Pieh


Data Kawasan Konservasi
Provinsi

Sumatera Barat

Kabupaten / Kota

Pariaman

Nama Kawasan

TWP Pulau Pieh

Dasar Hukum

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 70/Men/2009

Rencana Pengelolaan :

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38 Tahun 2014

Tipe Kawasan

Taman Wisata Perairan

Luas Kawasan

39,900.00 km2

Kategori IUCN

Garis Lintang

000 45 10 010 03 08 LS

Garis Bujur

990 59 36- 1000 59 28 BT

Sejarah Kawasan Konservasi Laut Pulau Pieh

1. Inisiasi
Dalam rentang waktu antara 1993 1997 terjalin kerja sama antara Universitas Bung Hatta
dengan Universitas Bremen dalam Program ZMT (Zentrum fur Marine Trapenokologie). Melalui
kerja sama ini dilaksanakan Serangkaian penelitian oleh PUSLITBANG Perikanan Universitas
Bung Hatta, Kantor Sub Balai KSDA bekerja sama dengan Pemerintah Jerman. Hasil penelitian
merekomendasikan kawasan Pulau Pieh sangat ideal dan layak untuk diusulkan pemerintah
menjadi kawasan pelestarian alam.
Menindaklanjuti hasil penelitian ini, pada tahun 1994 Kantor Wilayah Departemen Kehutanan
Provinsi Sumatera Barat mengeluarkan Surat Nomor 3354/KWL-5/94 Tanggal 24 November
1994 tentang Usulan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Pulau Pieh.
Kemudian pada tahun 1995 Gubernur Kepala Daerah Tk. 1 Sumatera Barat, mengeluarkan Surat
Nomor 522.51/1903/ILH-1995 Tanggal 10 Agustus 1995 tentang Usulan Penetapan Kawasan
Konservasi Laut Pulau Pieh.
2. Pengukuhan
Berdasarkan usulan-usulan tersebut di atas, maka keluar Surat Keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan Nomor 70/KPTS-II/2000 Tanggal 28 Maret 2000 tentang Penunjukan Pulau
Pieh dan Perairan dan Sekitarnya seluas 39.900 ha menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA)
dengan fungsi Taman Wisata Alam (TWA).
Semenjak kawasan ini ditunjuk sebagai KPA, pengelolaan kawasan dilakukan oleh BKSDA
Sumatera Barat.
3. Serah Terima Kawasan
Dilakukannya harmonisasi dan penyelarasan urusan antara Kementerian Kelautan dan Perikanan
dengan Kementerian Kehutanan salah satunya menghasilkan serah terima pengelolaan 8
(delapan) kawasan konservasi yang berbasis perairan (laut) melalui berita acara serah terima
Nomor BA.01/Menhut-IV/2009 dan Nomor BA.108/MEN.KP/ III/2009 pada tanggal 4 Maret
2009.
Salah satu dari 8 kawasan yang diserahterimakan adalah TWA Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya
di Provinsi Sumatera Barat.

Tindak lanjut serah terima tersebut adalah ditetapkannya kawasan-kawasan tersebut sesuai
dengan nomenklatur yang ada di peraturan perundang-undangan terkait kelautan dan perikanan.
Untuk kawasan Pulau Pieh ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN)
Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat
melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 70/MEN/2009 tanggal 3
September 2009. Untuk selanjutnya, pengelolaan kawasan ini diserahkan kepada Direktorat
Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka
Kawasan Konservasi Perairan Nasional (Loka KKPN) Pekanbaru.
Tujuan Pengelolaan
1. Mengurangi atau menghilangkan ancaman yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
pada area/kawasan yang mempunyai nilai-nilai konservasi alam, budaya, warisan, atau
nilai-nilai ilmiah;
2. Melakukan pemulihan bagi ekosistem dalam kawasan yang rusak atau perlindungan bagi
jenis-jenis atau komunitas ekologis yang berada dalam kondisi terancam;
3. Mengatur pemanfaatan kawasan sesuai dengan zonasi yang ditetapkan dan berbasis
wisata bahari;
4. Memastikan bahwa kegiatan-kegiatan pemanfaatan yang dilakukan di dalam kawasan
dikelola secara berkelanjutan dengan melibatkan pemangku kepentingan; dan
5. Untuk mencapai efektifitas pengelolaan kawasan.
Visi Dan Misi
Visi pengelolaan KKPN TWP Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya adalah Terwujudnya
Kawasan TWP Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya sebagai tujuan wisata bahari yang
ramah lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut ditempuh dengan melakukan misi sebagai berikut:
Mengelola kawasan TWP Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya secara terpadu dan
berkelanjutan dengan mengembangkan wisata bahari yang ramah lingkungan dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ZONASI KAWASAN

TWP Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan ini telah
dibagi menjadi 4 (empat) zona, yaitu zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan,
dan zona lainnya.

Gambar 2. Peta Zonasi TWP Pulau Pieh dan Laut disekitarnya


Zona inti dalam kawasan merupakan area yang dilindungi secara penuh. Kegiatan yang
dapat dilakukan di zona ini benar-benar dibatasi.
Zona perikanan berkelanjutan dalam kawasan merupakan area terluas. Zona ini
merupakan area bagi masyarakat/nelayan untuk melakukan aktivitas perikanannya. Aktivitas
perikanan yang dapat dilakukan di zona ini adalah perikanan yang ramah lingkungan dan skala
kecil/tradisional. Selain itu, di zona ini juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata
memancing.
Zona pemanfaatan dalam kawasan dialokasikan bagi kegiatan pariwisata. Kegiatan wisata
yang dapat dilakukan di dalam kawasan adalah wisata terbatas atau wisata minat khusus. Tidak
berorientasi pada mass tourism. Zona ini juga merupakan no take zone atau zona larang ambil.
Zona yang terakhir adalah zona lainnya. Zona ini dialokasikan bagi perlindungan dan
rehabilitasi kawasan. Zona ini menempati gosong-gosong yang terdapat di dalam kawasan.

Gosong-gosong ini dulunya merupakan habitat ekosistem terumbu karang. Kondisi sekarang
nampak bekas-bekas terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang.
Letak Geografis
Secara geografis Pulau Pieh berada pada posisi 99 0 59 36- 1000 59 28 BT sampai
dengan 000 45 10 010 03 08 LS, jaraknya dari daratan Kabupaten Padang Pariaman 17
mil, yang dapat ditempuh dengan kapal motor selama 2 Jam. Sedangkan secara administrative
wilayah ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan ulakan tapakis yang merupakan pecahan dari
kecamatan nan sebaris Kabupaten Padang Pariaman dengan batas-batas kawasan sebagai
berikut :
a. Sebelah Utara Perbatasan dengan Samudera Indonesia.
b. Sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia.
c. Sebelah Barat dengan samudera Indonesia dan
d. Sebelah Timur dengan daratan Sumatera.
Selain Pulau Pieh, Pulau bando Juga merupakan bagian dari TWP, pulau ini berada di
wilayah administrasi kabupaten padang pariaman. Sedangkan Pulau Air masuk dalam wilayah
kota padang. Jarak TWP Pulau Pieh dari daratan (Kota Padang) 22 mil laut.
Kondisi Umum Kawasan Konservasi TWP Pulau Pieh
Luas Perairan Sumatera Barat adalah 186.580 km2 dengan luas laut territorial 57.880 Km2
dan 128.700 Km2 perairan ZEEI, serta panjang garis pantai 2.420,4 Km. Luas laut Sumatera
barat melebihi dua pertiga dari luas daratan yang dimiliki, juga memiliki pulau-pulau kecil
dengan jumlah 185 pulau. Salah satu dari pulau tersebut adalah pulau pieh, yang masuk dalam
daerah administrattif Kabupaten Padang Pariaman.
Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya mempunyai potensi bahari dan biota laut yang perlu
dilindungi dan dapat dikembangkan untuk pemanfaatan wisata bahari. Potensi yang dimiliki
Pulau Pieh antara lain hamparan terumbu karang, topografi bawah laut yang unik, ikan karang,
penyu, mangrove, biota lainnya pantai pasir putih dan air laut yang bening.
Keunikan lainnya dari Pulau Pieh yaitu daerah daratan di tengah pulau yang berupa lahan
rawa yang langsung berhubungan dengan laut, dimana ketinggian air yang terdapat di rawa-rawa

ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Daerah ini dapat dikembangkan sebagai aquarium alam
yang sangat menarik bagi wisatawan.
Berdasarkan kondisi di atas Kawasan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya telah ditunjuk
oleh Menteri Kehutanan dan perkebunan RI sebagai Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL)
berdasarkan Surat Keputusan No. 070/Kpts-II/2000 tanggal 28 Maret 2000 dengan luas kawasan
39.900 hektar. Penentuan status TWAL tersebut berdasarkan kriteria penentuan kawasan
konservasi laut yang memiliki keanekaragaman biota laut dan lingkungan yang memungkinkan
untuk dikembangkan sebagai objek wisata.
Saat ini Pengelolaan Pulau Pieh dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada
Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan berita acara serah terima no: BA.01/menhutIV/2009 dan No BA. 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 maret 2009 dengan nama Taman
Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di sekitarnya (TWP Pulau Pieh).
Kawasan konservasi perairan dengan fungsi Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut
di sekitarnya, terdiri dari beberapa pulau, yaitu pulau Bando, Pulau Pieh, Pulau Air, Pulau Toran
dan Pulau Pandan. Kawasan ini memiliki luas 39.900 Ha dan telah ditetapkan melalui Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP. 70/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan
Konservasi Perairan Nasional Pulau Pieh dan laut di sekitarnya di provinsi Sumatera Barat.
Pulau Pieh dan laut disekitarnya ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan (TWP).

Gambar 3. Berbagai Spot Indah di TWP Pulau Pieh


Aksesibilitas
Berdasarkan data dari Loka KKPN pekanbaru bahwa kawasan Taman Wisata Perairan
Pulau Pieh ditempuh melalui jalan laut dengan kapal motor yang berkekuatan 33 HP (rata-rata

kecepatan 7 knot) sekitar 2.5 jam. Jaraknya dari daratan kota padang sekitar 29 mil. Dengan
jarak terdekat ke kota Padang 16.75 km dan jarak terjauh 50,6 km sedangkan jarak terdekat ke
daratan pulau sumatera adalah 28 km.
TWP Pulau Pieh dan laut sekitarnya dapat ditempuh dengan kapal speed dari pelabuhan
Muara Padang dengan waktu tempuh jam dan bisa juga melalui Pelabuhan TPI kota pariaman
yang memakan waktu 1 jam dengan menggunakan kapal. Jarak antara kota padang ke
pelabuhan Muara menghabiskan waktu jam, sedangkan jarak bandara ke kota pariaman
menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan darat.

Iklim
Suhu udara tercatat antara 260 290C, suhu maksimum 31,430C sedangkan suhu
minimum 22,600C. Temperatur terpanas jatuh pada bulan Mei dan suhu terendah pada bulan
Desember. Kecepatan angin berkisar antara 1,0-1,7 knot.
Curah hujan rata-rata mencapai 4.200,5 mm/tahun, dan kelembaban udara cukup tinggi
yaitu sebesar 80%. Curah hujan berkisar antara 2.500-77mm/tahun dengan jumlah hari hujan
antara 132-267 hari hujan/tahun, sedangkan suhu berkisar antara 220 310C dengan kelembaban
udara 82-85%.

Kondisi Perairan
Topografi Pulau Pieh dan Pulau Bando adalah datar dengan ketinggian hampir sejajar
dengan permukaan laut. Pada bagian tengah Pulau Pieh agak rendah berupa rawa yang airnya
sangat tergantung pasang surut laut. Bagian timur agak landai dan di sebelah selatan sangat
curam, dengan ketinggian 1,5 m dpl.
Topografi pantai dengan pulau ini umumnya datar dan berpasir putih; dengan kedalaman
perairan pantai 1 3 meter pada batas 70 meter. Rataan terumbu di sekeliling Pulau Pieh dari

Timur-Selatan berbentuk drop 700-900. Antara Timur-Selatan terdapat drop yang diperkirakan
sudut kemiringannya 1000 (wall) hal mana merupakan keunikan tersendiri dari Pulau Pieh. Di
bagian tengah pulau ini terdapat hutan rawa nypa yang beradaptasi dengan kondisi pasang surut
permukaan air laut, kondisi ini menarik untuk diteliti dan dipelajari lebih lanjut.
Salinitas perairan Pulau Pieh berkisar antara 33-34%, suhu perairan berkisar antara 28-320C.
Kondisi Salinitas dan suhu tersebut cukup bagus bagi pertumbuhan terumbu karang.
Angin dan gelombang di perairan Padang Pariaman sangat dipengaruhi oleh angin dari Samudera
Hindia dengan ketinggian gelombang maksimum 3 meter yang terjadi pada bulan Juli dan
Desember. Secara umum pola sirkulasi air diperairan pantai Kabupaten Padang Pariaman
bergerak dari arah utara-barat laut kearah tenggara, sejajar dengan Orientasi pantai. Pola ini
hampir berlangsung tetap sepanjang tahun, kecuali pada bulan Agustus arus bergerak kearah
sebaliknya.

Kondisi Ekosistem Perairan


Terumbu Karang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Fungsi
ekologisnya antara lain sebagai tempat pemijahan, pembesaran, tempat mencari makan, terumbu
karang juga dipandang penting karena produk yang dihasilkan seperti ikan karang, ikan hias,
udang, alga dan bahan-bahan bio-aktif.
Berdasarkan hasil pengambilan data Loka KKPN Pekanbaru (2009) kondisi terumbu
karang berada pada status jelek dengan nilai rata-rata tutupan karang sebesar 4%, nilai tersebut
terdiri dari 1% Acropora dan 3% Non Acropora sebagian kawasan yang diamati ditumbuhi oleh
Alga, 10,5% ditutupi oleh pasir, sementara sisanya ditutupi oleh Rubbie dan Sponge.\

Potensi Perikanan

Disamping terumbu karang perairan Pieh juga sangat kaya dengan ikan karang, baik
berupa ikan hias, maupun ikan konsumsi. Ikan hias laut di kawasan Pieh ini cukup potensial
untuk didayagunakan, khususnya bagi wisata bawah air maupun objek penelitian.
Disamping ikan di Pieh juga dapat ditemui penyu, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas)
dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Pualu Pieh merupakan lokasi bertelurnya penyupenyu tersebut. Penyu ini bertelur pada malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00.

Pariwisata
Implementasi Prinsip-prinsip ecotourisme dalam pengembangan pariwisata alam perairan
di kawasan konservasi sejalan dengan paradigma yang saat ini sedang dikembangkan.
Pengelolaan dan pengusahaan pariwisata bukan hanya pada penanganan kawasannya saja,
melainkan memperhatikan pula aspek-aspek sosial, ekonomi dan budaya masyarakat disekeliling
kawasan. Hal ini didasari oleh suatu persepsi, bahwa tujuan utama pengelolaan kawasan tersebut
adalah untuk kesejahteraan dan kepentingan masyarakatnya. Demikian pula halnya dengan
pengelolaan kawasan, yang semula menjadi subyek, diharapkan menjadi mediator, fasilitator dan
pendamping dalam implementasi upaya konservasi.
Dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi, kelemahan yang bersifat teknis dan/atau nonteknis sampai saat ini masih terasa melekat kehadirannya. Dalam pengelolaan Taman Wisata
Perairan Pulau Pieh, dan laut sekitarnya, beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian antara
lain;
1. Mutu dan jumlah sarana prasarana pengelolaan masih belum sebanding dengan kinerja yang
dituntut, terutama sarana prasarana pengamanan kawasan, seperti kantor pondok kerja, pos jaga,
kendaran roda-2, speed boat alokasi sarana prasarana tersebut belum ada.
2. Minimnya kuantitas sumberdaya pengelola dan kurangnya pendidikan dan pelatihan di bidang
perencanaan, penyelenggaraan dan pemantauan ecotourism sehingga sumberdaya manusia yang
mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk mengelola kegiatan pariwisata alam masih
terbatas.
3. Belum adanya kesamaan persepsi dan pengetahuan diantara pengelola kawasan dan

penyelenggara wisata dalam pengembangan pariwisata alam yang berlandaskan prinsip-prinsip


ecotourism dan pengertian konservasi yang dinamis sesuai kebutuhan dan tantangan
4. Masih rendahnya koordinasi diantara parav pelaku pariwisata baik pemerintah, swasta maupun
masyarakat luas mengembangan pariwisata alam yang bernafaskan ecotourism;
5. Kegiatan perusahaan yang sudah ada sekarang ini belum mengacu pada prinsipprinsip
ecotourism (konservasi,edukasi, keterlibatan masyarakat dan ekonomi);
6. Belum terlibatnya secara penuh dan langsung masyarakat sekitar kawasan dalam kegiatan
pengembangan pariwisata;
7. Terbatasnya sarana prasarana penunjang kegiatan ecotourism sesuai dengan potensi yang ada;
Untuk mencapai tujuan pengelolaan, maka kepada investor diberikan batasan kegiatan yang
diizinkan seperti :
1. Konservasi
2. Budidaya laut seperti ; mutiara, ikan kerapu, kima raksasa, lobster dan teripang.
3. Ekowisata dan
4. Basis area penangkapan ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013 Data Kawasan Konservasi, http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdatakawasan-konservasi/details/1/70 (Diakses Pada 4 September 2016, Pukul 20.00)

Anonim, 2014 TWP PIEH, https://lokapekanbaru.wordpress.com/twp-pieh/


(Diakses Pada 4 September 2016, Pukul 20.07)
Anonim, 2014 Eksotisme Pulau-Pulau di TWP Pieh, https://lokapekanbaru.wordpress.com/2014/
10/29/eksotisme-pulau-pulau-di-twp-pieh/ (Diakses Pada 4 September 2016, Pukul 20.07)

Anda mungkin juga menyukai