Anda di halaman 1dari 45

Makalah Pajak

MANAJEMEN PAJAK

Nama
Kelas
Dosen

: Kurnia Widya Oktarini


(01022681519007)
Nurhayati
(01022681519031)
Sri Ikhrima
(01022681519006)
: Reguler Sore II Jumat Sabtu
: Dr. Luk Luk Fuadah, SE, M.Si , Ak.
Dr. Saadah Siddik, SE, M.Si, Ak, C.A.

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan manajemen pajak pada dasarnya sama saja dengan tujuan manajemen
keuangan yaitu sama-sama bertujuan untuk memperoleh likuiditas (kelancaran) dan laba
yang cukup. Kita juga dapat mendefinisikan bahwa manajemen pajak sebagai kewajiban
perpajakan dengan benar, tapi jumlah pajak dapat ditekan serendah mungkin untuk
memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan. Dengan demikian, dimasa yang akan

datang tidak akan terjadi yang namanya Restitusi pajak (kurang bayar) yang
berakibatkan denda dan sebagainya.
Hubungan perdagangan internasional yang semakin terbuka luas dan ekstensif
saat ini, menyebabkan pula semakin diperlukannya suatu ketentuan perundangundangan perpajakan yang mengatur masalah transaksi internasional. Bersamaan
dengan peningkatan beberapa tarif pajak di beberapa negara, terdapat pula peningkatan
cara-cara penghindaran pajak internasional (international tax avoidance) yang antara
lain terdapatnya beberapa daerah di dunia ini yang disebut sebagai perlindungan pajak
(tax haven) yang menampung dana yang bergerak secara internasional (internationally
mobile funds).
Tujuan Penulisan
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka penulis tertarik untuk membuat
makalah terkait dengan manajemen pajak, khusunya manajemen pajak perusahaan
multinasional. Makalah ini akan membahas hal-hal, kasus dan jurnal yang berkaitan
dengan manajemen pajak perusahaan multinasional.

TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN


LANDASAN TEORI
Hukum Pajak Internasional (international Tax Law)
Sumber hukum utama perpajakan internasional yang terpenting adalah UndangUndang Nasional atau disebut juga Undang-Undang Dalam Negeri (Domestic Tax
Laws) dan Perjanjian Pencegahan Pajak Berganda (Tax treaties Double Tax Agreement
Agreement for the Avoidance of Double taxation and the Prevention of Fiscal Evasion
with Resppect to Taxes on Income).
Undang-undang Nasional mengatur kewenangan untuk memungut pajak sesuai
dengan sistem dan konsep yang dianut, sedangkan Perjanjian Pencegahan Pajak
Berganda mengatur agar dalam pelaksanaan pemungutan pajak tidak mengakibatkan
adanya pemungutan pajak berganda dan juga jangan sampai tidak terlaksananya
pungutan pajak atas Wajib Pajak tertentu berkenaan dngan penghasilan tersebut.

Penggabungan Undang-undang Nasional dan Perjanjian Pencegahan Pajak Berganda


sering diartikan sebagai Hukum Pajak Internasional, yang dipertegas oleh P.J.A yang
mengatakan bahwa:
Hukum Pajak Internasional ialah keseluruhan peraturan yang mengatur tata
tertib hukum dan yang mengatur soal pengalihan daya beli di masing-masing negara.
Pengertian Hukum Pajak Internasional merupakan suatu pengertian yang lebih luas
daripada pengertian pajak ganda dan hukum (pajak) nasional.
Beberapa istilah dan perbedaan yang berkaitan dengan Hukum Pajak
Internasional yang perlu dijelaskan lebih dahulu agar tidak muncul salah tafsiran, yaitu
apa yang disebut dengan:
1. National External Tax Law
Hukum pajak eksternal nasional (National External Tax Law) merupakan bagian
dari hukum pajak nasional yang memuat ketentuan mengenai pengenaan pajak
yang mempunyai daya kerja sampai di luar batas negara karena terdapat unsureunsur asing, baik mengenai objeknya (sumber berada di luar negeri) maupun
mengenai subjeknya (subjek berada di luar negeri). Kalau ditinjau dari sumber
hukumnya, maka National External Tax Law merupakan hukum pajak nasional,
tetapi kalau dilihat dari sasarannya (objek atau subjek) maka merupakan hukum
pajak internasional, karena daya kerja atau lingkungan kuasanya melampaui
batas wilayah negara yang bersangkutan dan menyangkut hubungan
internasional yang mungkin menyebabkan bentrokan hukum dengan negara lain.
2. Foreign Tax Law
Pengertian ini mencakup keseluruhan perundang-undangan dan peraturanperaturan pajak dari negara-negara di seluruh dunia. Hukum Pajak Luar Negeri
(Foreign Tax Law) ini berguna bagi studi perbandingan yang diperlukan dalam
rangka melaksanakan perjanjian pencegahan pajak berganda dengan negara lain.
3. International Tax Law
Dalam pengertian yang sempit, Hukum Pajak Internasional (International Tax
Law) merupakan keseluruhan kaidah yang berdasarkan Hukum antarNegara
seperti traktat-traktat, konvensi/dan lain sebagainya, da berdasarkan prinsipprinsip hukum pajak yang telah lazim diterima baik oleh negara-negara di dunia,
serta bertujuan mengatur perpajakan antarnegara yang saling mempunyai
kepentingan. Hukum Pajak Internasional dalam arti sempit semata-mata
berdasarkan sumber-sumber asing.

Dalam pengertian yang luas, Hukum Pajak Internasional ialah keseluruhan


kaidah baik yang berdasarkan traktat-traktat, konvensi dan prinsip hukum pajak
yang dterima baik oleh negara-negara di dunia, mauoun kaidah-kaidah nasional
yang objeknya adalah pengenaan pajak, di mana dapat ditujukkan adanya unsure
asing, yang dapat mengakibatkan munculnya bentrokan hukum antardua negara
atau lebih. Kadang-kadang Hukum Pajak Internasional dalam arti yang luas ini,
disebut sebagai supra nasional tax
Selanjutnya H. Rochmat Soemitro (alm) mengemukkan tentang defines Hukum
pajak Internasioan sebagai berikut:
Hukum Pajak Internasional adalah hukum pajak nasional yang terdiri dari
kaidah, baik berupa kaidah-kaidah nasional maupun yang berasal dari traktat
antarnegara dan dari prinsip/kebiasaan yang telah diterima baik oleh negaranegara di dunia, untuk mengatur soal-soal perpajakan dan dalam mana dapat
ditunjukkan adanya unsur-unsur asing, baik mengenai subjeknya maupun
mengenai objeknya.
Kemudian dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan unsur-unsur asing pada
subjeknya, adalah subjek pajak yang ada di Indonesia tersebut adalah orang asing yang
mungkin tunduk pada hukum pajak asing yang berlaku baginya, atau bangsa Indonesia
yang merupakan Wajib Pajak Indonesia berada di luar negeri atau orang yang sumber
pendapatannya di Indonesia bertempat di luar negeri. Apabila ini dikaitkan dengan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang No 36 Tahun 2008, maka pasal
yang mengatur hal ini antara lain adalah:

Subjek pajak
Hukum Pajak Internasional merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan
karena adanya unsur asing, baik mengenai objeknya maupun subjeknya. Maksud
unsur asing pada objeknya adalah bahwa objek yang dimiliki oleh Wajib Pajak
Dalam Negeri yang berada di Luar Negeri (diluar wilayah Republik Indonesia), atau
sebaliknya bahwa objek pajak berada di wilayah Republik Indonesia, tetapi dimiliki
oleh orang yang berada di luar negeri. Sedangkan unsur asing pada subjeknya berarti
bahwa apabila seorang Warga Negara Indonesia atau badan Indonesia menerima atau
memperoleh penghasilan dari luar negeri. Hal ini disebabkan karena Pajak

Penghasilan Indonesia menerapkan prinsip worldwide income, sehingga penghasilan


dari luar negeri di atas juga merupakan objek Pajak Penghasilan Indonesia.
Dalam pengenaan Pajak Penghasilan, dikenal 2 (dua) jenis subjek pajak yaitu Subjek
Pajak Dalam Negeri (disingkat SPDN) dan Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN). SPDN
terdiri dari SPDN Orang Pribadi dan SPDN Badan.
SPDN Orang Pribadi adalah orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia,
orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu
tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia. Sementara itu SPDN Badan adalah badan yang didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia.
SPLN adalah kebalikan dari SPDN dalam arti orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia, tidak berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan suatu tahun pajak tidak
berada di Indonesia dan tidak mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
SPLN yang berbentuk badan adalah badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia.
Kedua kelompok di atas (SPLN Orang Pribadi dan SPLN Badan) baru bisa disebut
SPLN apabila mendapatkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia. Dilihat dari
cara mendapatkan penghasilannya dari Indonesia, SPLN ini terbagi menjadi 2 (dua)
jenis. Pertama adalah SPLN yang mendapatkan penghasilan dengan memiliki tempat
usaha tetap di Indonesia. Tempat usaha tetap ini biasa disebut Bentuk Usaha Tetap
(BUT). Kedua, SPLN yang mendapatkan penghasilan dari Indonesia tidak melalui
BUT di Indonesia. Kedua bentuk SPLN ini selanjutnya disebut SPLN BUT dan
SPLN Non BUT.
Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh SPLN (baik
orang pribdai atau badan) untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di
Indonesia.
Suatu Bentuk Usaha Tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha
(place of business), yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga
mesin-mesin, peralatan, gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan
otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh

penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui


internet.
Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan
yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
Perwujudan BUT dapat berupa tempat kedudukan manajemen, cabang, kantor
perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel, pertambangan dan penggalian sumber
alam, wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi, perikanan, peternakan,
pertanian, perkebunan, atau kehutanan, gudang, ruang untuk promosi dan penjualan,
proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan, pemberian jasa dalam bentuk apa
pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, orang atau badan yang bertindak
selaku agen yang kedudukannya tidak bebas, agen atau pegawai dari perusahan
asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia; dan komputer, agen
elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui
internet.

Objek Pajak
Penghasilan yang menjadi objek pajak bagi BUT, sebagaimana di dalam Pasal 5 ayat
(1) UU PPh, terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu:
1. Penghasilan dari usaha atau kegiatan Bentuk Usaha Tetap tersebut dan dari harta
yang dimiliki atau dikuasai;
2. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau
pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia;
3. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh
kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara Bentuk Usaha Tetap
dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud.
Penghasilan BUT yang pertama adalah penghasilan sebenarnya BUT dari harta yang
dimiliki atau dikuasainya di Inonesia. Penghasilan yang kedua merupakan penerapan
force of attraction rule di mana walaupun penghasilan ini adalah penghasilan kantor
pusat BUT di luar negeri, tetapi karena berasal dari penjualan atau pemberian jasa

yang sejenis dengan yang dilakukan BUT, maka penghasilan ini ditarik sebagai
penghasilan BUT nya di Indonesia.
Penghasilan yang ketiga merupakan penerapan atribusi karena hubungan efektif di
mana jika kantor pusat BUT menerima atau memperoleh penghasilan berupa bunga,
dividend dan royalty dari suatu perusahaan di Indonesia dan perusahaan ini
mempunyai hubungan efektif dengan BUT, maka penghasilan ini akan distribusi juga
kepada BUT di Inonesia. Tidak ada definisi kelas tentang hubungan efektif ini namun
demikian, hubungan yang efektif ini bisa digambarkan sebagai hubungan
ketergantungan atau hubungan yang saling menguntungkan antara BUT dan
perusahaan yang memberikan dividen, bunga atau royalty kepada kantor pusat BUT.
Selain tunduk kepada ketentuan umum tentang pengurang sebagaimana diatur dalam
Pasal 6 dan Pasal 9 UU PPh, biaya bagi BUT juga diatur dalam Pasal 5 ayat (2) dan
Pasal 5 ayat (3) UU PPh.
Berdasarkan Pasal 5 ayat (2) UU PPh, biaya-biaya yang terkait dengan penerapan
force of attraction rule dan atribusi hubungan efektif dapat dibiayakan oleh BUT.
Sementara itu berdasarkan Pasal 5 ayat (3) biaya administrasi kantor pusat yang
diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau
kegiatan bentuk usaha tetap, yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Yurisdiksi Hukum Pajak Internasional
Martha (1989) yang dikutip oleh Zain (2005) menyebut empat teori justifikasi
legal hak pemajakan suatu negara, yaitu:
a. Realistis atau empiris
Teori realistis menyatakan bahwa yang dimaksud dengan yurisdiksi adalah
kewenangan fisik (physical power) yang dapat melaksanakan yurisdiksi
terhadap orang dan harta yang berada dalam wilayah kekuasaannya, sedangkan
teori empiris menyebut bahwa, yurisdiksi pemajak bukanlah semata-mata karena
kewenangan fisik, tetapi lebih cenderung didasarkan kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang meluas sampai kepada orang yang secara
fisik berada di luar kewenangan administrasi pengenaan pajak.
b. Etis atau retributif
Teori etis atau retributif menyatakan bahwa pemajakan pada hakikatnya
merupakan kontraprestasi atas manfaat dan kemudahan yang diperoleh dari
negara. Merupakan suatu norma atau aturan yang dapat diterima secara umum

bahwa perusahaan yang merupakan bagian dari suatu komunitas ekonomi


menyampaikan kontribusi proporsional atas pengeluaran komunitas. Kontribusi
dari para anggota komunitas lazim disebut sebagai pajak.
c. Kontraktual
Teori kontraktual lebih menekankan bahwa pada dasarnya pemajakan lebih
merupakan pembayaran atas barang adan jasa yang diterima dari negara
pemungut pajak dengan asumsi bahwa antara pemegang yurisdiksi pemajakan
dengan subjek pajak terdapat suatu kontrak atau perjanjian yang tidak tertulis.
Namun dalam beberapa hal, sesungguhnya teori kontraktual tersebut kurang
tepat, karena tidak adanya konsensus atas kesepakatan dari kedua belah pihak
sehingga merupakan penyimpangan dari kebebasan atau keikhlasan salah sayu
(kedua) pihak dalam perjanjian kontrak.
d. Soverinitas
Teori soverinitas menegaskan bahwa pemajakan merupakan suatu bentuk
pelaksanaan dari yurisdiksi, sedangkan yurisdiksi itu sendiri merupakan atribut
(kelengkapan) dari soverinitas. Sumber dari hak pemajakan suatu negara berasal
dari soverinitas (kedaulatan) negara tersebut. Hak dan kewajiban utama suatu
negara adalah untuk mengamankan dan melestarikan keberadaannya. Maka
untuk keperluan tersebut, negara mempunyai hak untuk meminta sesuatu
(kontribusi pajak) dari siapa pun yang berada di bawah kewenangan hukumnya.
Berbeda dengan teori retributive yang menekankan kepada manfaat ekonomi
sebagai justifikasi pemajakan, sedangkan teori soverinitas cenderung memberikan
justifikasi pemajakan berdasarkan keterkaitan politis. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa pengenaan pajak terhadap subjek maupun objeknya yang berada di
luar wilayah Indonesia, dapat dilaksanakan antarnegara Indonesia dan negara yang
terkait, apabila kedua kedua negara tersebut mempunyai hubungan yang bersifat
kenegaraan atau bersifat ekonomi. Dengan kata lain, orang atau badan yang bertempat
tinggal atau berkedudukan di luar negeri, tidak akan dikenakan pajak berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, kecuali apabila orang atau badan
tersebut antara lain mempunyai harta tidak bergerak di Indonesia atau melakukan usaha
atau kegiatan dalam bentuk usaha tetap atau bukan bentuk usaha tetap di Indonesia.
Terdapat dua prinsip yang dianut oleh beberapa negara dalam rangka penentuan
yurisdiksi pemajakan, yaitu:

1. Status wajib pajak yang manyangkut masalah kewarganegaraan (citizenship),


tempat tinggal (residence) dan domisili (domicile).
2. Sumber penghasilan, yang mendasarkan kepada suatu aktivitas ekonomi yang
dijalankan secara signifikan atau tidak, dan/atau menerima atau memperoleh
penghasilan yang bersumber dari negara yang bersangkutan.
Kedudukan Hukum Nasional dalam Lingkungan Hukum atau Persetujuan
Internasional
Hubungan antara hukum nasional dengan hukum internasional atau persetujuan
internasional termasuk Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), bergantung pada
sistem perundang-undangan suatu negara. Pada dasarnya, terdapat dua aliran yang
dianut berkaitan dengan hubungan antara hukum nasional dengan hukum atau
persetujua internasional tersebut, yaitu:
1. Aliran monist, yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan bagian
dari undang-undang domestic yang meletakkan hukum internasional di atas
hukum nasional.
2. Aliran dualist, yaitu dua sistem perundang-undangan baik hukum internasional
maupun hukum nasional. Apabila terdapat perbedaan antara hukum tersebut,
pengadilan akan memenangkan hukum nasional.
Di Indonesia, suatu persetujuan internasional termasuk P3B, menjadi bagian dari
undang-undang nasional setelah persetujuan tersebut diratifikasi (aliran monist). Oleh
karena P3B merupakan persetujuan internasional di bidang ekonomi, maka menurut
sistem yang dianut di Indonesia, persetujuan P3B tersebut tidak memerlukan ratifikasi
Dewan Perwakilan Rakyat, akan tetapi cukup diatur dengan suatu Keputusan Presiden.
P3B tersebut kemudaian menjadi bagian dari perundang-undangan dan kedudukannya
berada di atas undang-undang nasional., yang diperlakukan sebagai lex spesialis
terhadap undang-undang nasional.
Apabila terdapat pelanggaran terhadap suatu persetujuan internasional, maka
solusinya sangat bergantung pada tingkatan permasalahannya. Di tingkat pengadilan
nasional, undang-undang nasional lebih diutamakan dari pada ketentuan yang terdapat
dalam persetujuan internasional tersebut. Negara yang berada di pihak lain yang terkait
dengan persetujuan internasional tersebut, dapat mengajukan protes dan mendesak agar
masalah yang dipersengketakan tersebut diselesaikan sesuai prosedur yang tercantum

dalam persetujuan internasional dimaksud. Alternatif terakhir yang dapat ditempuh


adalah mengadukan permasalahannya ke tingkat peradilan internasional, misalnya
Internasional Court of Justice.
Berdasarkan pasal 60 dari Vienna Convention on Law of Treaty 1969, apabila
terdapat pelanggaran suatu persetujuan internasional sepanjang mmenyangkut masalah
substansi, misalnya menolak salah satu aturan dalam persetujuan internasional yang
mutlak untuk dilaksanakan, maka negara pihak-pihak yang terkait dalam persetujuan
internasional tersebut, berhak untuk mengakhiri persetujuan internasional tersebut atau
menunda pelaksanaannya sebagian atau seluruhnya.
PERENCANAAN PAJAK PERUSAHAAN MULTINASIONAL
Persyaratan Perencanaan Pajak Perusahaan Multinasional
Perencanaan pajak untuk suatu organisasi bersifat multinasional merupakan
pekerjaan yang sangat kompleks, tetapi di lain pihak mengandung aspek yang vital bagi
bisnis internasional. Agar perencanaan pajak tersebut efektif, eksekutif yang
bertanggung jawab atas masalah-masalah perpajakan pada perusahaan multinasional
dimaksud, seharusnya memiliki persyaratan berikut ini:
1. Mempunyai latar belakang pendidikan ilmu keuangan negara (public finance),
sehingga yang bersangkutan dapat memahami apa yang dimaksud dengan
prinsip pajak netral, keadilan dalam perpajakan, penghasilan, dan moral pajak.
2. Telah berpengalaman dalam memahami ketentuan peraturan perundangundangan perpajakn, sehingga dengan mudah dapat mengikuti segala perubahan
dan perkembangan peraturan perpajakan yang diberlakukan pada praktik bisnis
internasional.
3. Menguasai dengan benar beberapa bahasa asing agar dapat menginterprestasikan
segala ketentuan perundang-undangan perpajakn yang berlaku di negara yang
bersangkutan, sesuai dengan yang dimaksud oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan negara yang bersangkutan.
4. Memiliki pengetahuan akuntansi yang memadai, sebab sebagian besar dari
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan banyak menyangkut
masalah akuntansi
5. Mempunyai pengetahuan sains manajemen (management science), agar dapat
mengikuti perkembangan model-model komputerisasi simulasi pajak yang pada

saat ini banyak digunakan oleh wajib pajak agar diperoleh sistem yang optimal
untuk meninimkan beban pajak perusahaan secara global.
Berdasarkan persyaratan tersebut, sangatlah sulit untuk mendapatkan seorang
tenaga eksekutif ideal yang memenuhi segala persyaratan dimaksud, namun hal ini
dapat diatasi dengan membentuk suatu tim ahli perencanaan pajak yang anggotanya
terdiri dari para ahli sesuai persyaratan tersebut yang akan menyumbangkan
pemikirannya sesuai dengan bidang keahliannya.

Pajak Berganda Perusahaan Multinasional


Dalam rangka mengevaluasi kebijakan perdagangan dan efektivitad lalu lintas
modal internasional, adalah kurang efisien apabila hanya difokuskan secara sempit pada
tarif, kuota dan subsidi-subsidi nonpajak saja, sebab faktor pajak pun tidak sedikit
perannya dalam evaluasi kebijakan dimaksud. Kebijakan perpajakan kadang-kadang
sangat berperan dalam pengambilan keputusan mengenai penanaman dan pembiayaan
perusahaan yang akan melakukan investasi di luar negeri. Walaupun pada dasarnya
sistem perpajakan di seluruh dunia hampir serupa satu sama lain, namun dalam
beberapa hal terdapat perbedaan-perbedaan yang menyangkut beberapa dimensi,
seperti:
1. Tarif marginal yang berbeda secara esensial dari tarif 0% di negara-negara
disebut sebagai surge pajak (tax haven countries), sampai tarif 60% di negaranegara tertentu yang dikenal sebagai negara berpajak tinggi (high-tax
countries).
2. Definisi penghasilan yang berbeda secara daramatis antar satu negara dengan
negara lain.
3. Pengertian tentang penghasilan yang dikecualikan dari pengenaan pajak.
4. Wajib Pajak hanya dipajaki dari penghasilan dalam negeri atau termasuk
penghasilan luar negeri.
Sementara itu, perusahaan multinasional untuk operasionalnya di luar negeri
kadang-kadang harus mendirikan beberapa cabang atau perwakilan perusahaannya di
beberapa negara yang tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
nasional. Di beberapa negara, anatar lain Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan
Indonesia menganut pengertian penghasilan, baik penghasilan dalam negeri maupun

penghasilan luar negeri (global tax system worldwide income), sedangkan Prancis,
Hongkong, Belgia dan Belanda tidak mengenakan pajak atas aktivitas perusahaan di
luar negaranya, yang disebut sebagai territorial tax system (regional income).
Sebagian besar transaksi yang terjadi antar anggota grup Perusahaan
Multinasional tersebut dapat dikategorikan dalam beberapa transaksi, seperti penjualan
barang dan jasa, lisensi, paten dan know-how, penjamin utang dan seterusnya. Hargaharga yang dibebankan pada transaksi-transaksi tersebut, tidaklah perlu sama dengan
harga yang berlaku di pasaran bebas. Oleh karena Perusahaan Multinasional memiliki
posisi yang menentukan dalam hal prinsip yang akan digunakannya yang tentunya
menguntungkan bagi grupnya, maka dapat saja Perusahaan Multinasional tersebut
menggunakan harga yang menyimpang dari harga yang berlaku secara uum.
Penyimpangan harga dimaksud adalah penyimpangan dari harga yang disebut sebagai
arms-length price yang lazimnya berlaku dan disetujui oleh kedua belah pihak yang
melakukan transaksi terhadap barang yang sama dan dalam kondisi yang sama juga,
apabila perusahaan tersebut tidak mempunyai hubungan istimewa (unrelated parties).
Perusahaan multinasional tersebut dapat menggunakan transfer pricing yang
lebih rendah dari arms-length price, untuk tujuan mengefisiensikan beban pajaknya
atau menggunakan harga yang lebih tinggi dari arms-length price untuk tujuan-tujuan
tertentu. Namun demikian, apa pun alasannya, apabila terjadi transaksi antar grup yang
menyimpang dari arms-length price, apakah harga tersebut lebih tinggi atau lebih
rendah, hal ini disinyalir sebagai usaha untuk menggeser laba perusahaan dari satu grup
ke grup lainnya dan hal ini berarti pula bahwa pajak yang terutang di kedua grup yang
terlibat tersebut akan mengalami perubahan.
Oleh karena instansi pajak dari masing-masing negara yang terlibat, merasa
perlu untuk menentukan berapa besar penghasilan kena pajak yang wajar dari unit
perusahaan atau cabang-cabang perusahaan dari suatu grup yang beroperasi di daerah
yurisdiksinya, maka sangatlah penting untuk mempelajari masalaj kebijakan harga
(price method) yang diterapkan di Perusahaan Multinasional tersebut, khususnya
instansi pajak yang bersangkutan mempunyai alas an yang kuat bahwa unit/grup
perusahaan di daerah yurisdiksinya melaporkan dalam Surat Pemberitahuannya (SPT)
penghasilan kena pajak yang tidak wajar. Oleh sebab itu, undang-undang perpajakan di
negara yang bersangkutan hendaknya memungkinkan istansi pajak di negara tersebut

untuk melakukan verifikasi atau pemeriksaan dan bahkan sampai kepada penyidikan
sekalipun serta mempunyai kewenangan untuk melakukan koreksi fiskal terhadap harga
transfer yang dilaporkannya dalam SPT, sesuai dengan arms-length price.
Dalam hubungan ini perlu dicatat bahwa pendekatan dengan prinsip armslength price tersebut, didukung oleh United Nations Group of Experts on Tax treaties
between Developed dan Developing Countries, dimana kemudian terdapat consensus
antara pemerintah negara maju dan negara berkembang bahwa arms-length pricing
adalah cara yang tepat untuk diterapkan dalam hal penentuan penghasilan kena pajak.
Hal ini sesuai pula dengan asumsi yang terdapat dalam pasal-pasal dari OECD
(Organization for Economic Cooperation dan Development) Model Double Taxation
Convention on Income and on Capital, sepanjang yang menyangkut transaksi
perusahaan yang berasosiasi.
Ditinjau dari segi kepentingan Perusahaan Multinasional, dalam rangka
mengorganisir transaksi antar unit dalam grupnya, harga transfer memang merupakan
masalah yang harus dipertimbangkannya, dengan catatan bahwa penyesuaian harga
sebenarnya dengan harga pasaran bebas dalam rangka menentukan penghasilan kena
pajak yang wajar tidak perlu memperhatikan kewajiban-kewajiban berdasarkan
perjanjian yang ada yang harus dipenuhi oleh negara-negara bersangkutan untuk
memenuhi harga-harga atau maksud-maksud tertentu dari negara yang bersangkutan
untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
Berdasarkan hal tersebut, pertimbangan-pertimbangan mengenai masalah
pembebanan harga jangan dicampuradukkan dengan pertimbangan-pertimbangan
mengenai masalah penghindaran pajak (tax avoidance) atau penyeludupan pajak (tax
evasion), walaupun kebijakan pembebanan harga mungkn pula digunakan untuk
maksud-maksud tersebut.
Masalah yang paling serimg dibicarakan dalam rangka perencanaan pajak
Perusahaan Multinasional menyangku masalah pengenaan pajak atas penghasilan yang
berbeda yurisdiksi pajaknya. Pemecahan masalah ini biasanya dilakukan melalui
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda, yang bertujuan untuk mencegah pengenaan
pajak berganda atas Penghasilan Perusahaan Multinasional dengan cara memecahmecah penghasilan dan biaya yang dialokasikan di berbagai yurisdiksi pajak tersebut.
Pencegahan pajak berganda tersebut, sesungguhnya dapat dihindari, apabila:

1. Pengenaan pajak atas penghasilannya hanya dikenakan atas penghasilan di satu


negara saja.
2. Ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan memungkinkan adanya
semacam kredit pajak yang dapat diperhitungkan dengan pajak yang terutang.
Bagaimanapun, pajak berganda tersebut dapat dikurangi melalui kredit pajak
(tax credits), perjanjian perpajakan (tax treaties), surge pajak (tax haven), pengecualian
pajak (tax exemption) dan prinsip penangguhan (the deferral principles). Yang
dimaksud dengan:
1. Tax credit, memungkinkan Wajib Pajak untuk mengurangi jumlah pajak yang
terutang/dibayar di luar negeri dari jumlah pajak yang terutang berdasarkan
perhitungan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan domestik.
Pengurangan ini bersifat pengurangan langsung dari jumlah pajak yang terutang,
sehingga dalam hal-hal tertentu mengurangi pajak berganda.
2. Tax treaty, menagtur antar negara yang bersangkutan tentang hal-hal apa saja
dari suatu penghasilan yang dipajaki dan yang tidak boleh dipajaki oleh otoritas
negara, di mana penghasilan tersebut diterima atau diperoleh.
3. Tax haven, adalah suatu negara di mana tarif pajak penghasilannya sangat rendah
atau tidak ada sama sekali pengenaan pajak atas penghasilan. Pada umumnya,
negara tax haven ini digunakan oleh perusahaan untuk investasi atau transfer
penghasilan yang pajaknya rendah atau sama sekali tidak ada pajak yang
dikenakan terhadap penghasilan tersebut. Negara tax haven juga digunakan
Perusahaan Multinasional untuk menggeser penghasilan dari negara yang tarif
pajaknya tinggi ke negara ini, melalui transfer harga.
4. Tax exemption, memungkin perusahaan tertentu tidak perlu membayar pajak
penghasilan atas penghasilan atas suatu penghasilan tertentu pula.
5. The deferral principle, adalah semacam penundaan pajak sedemikian rupa,
sehingga perusahaan induk tidak akan dipajaki atas penghasilan luar negerinya
sampai dengan perusahaan induk betul-betul sudah menerima dividen dari
penanaman luar negerinya.
Dalam United Nations Model Taxation Convention Between Developed and
Developing Countries dibahas lebih jelas lagi cara mengeliminasi pajak berganda
tersebut, dicantumkan dalam Bab V , article 23 A tentang Exemption Method dan
Article 23 B tentang Credit Method.

Kredit Pajak dalam Undang-Undang Nasional


Dalam Undang-Undang No 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah diubah, terakhir dengan Undang-Undang No.
36 Tahun 2008, terdapat dua pasal yang mempermasalahkan penghasilan luar negeri
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri (pasal 24) dan penghasilan
dalam negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri (pasal 26) yang dapat
dikreditkan. Hal-hal dalam pasal-pasal tersebut adalah:
Pasal 24
1. Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan
terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undang-Undang ini dalam tahun
pajak yang sama.
2. Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebesar pajak
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi
penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang-Undang ini.
3. Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber
penghasilan ditentukan sebagai berikut:
a. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari
pengalihansaham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang
menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan;
b. penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau
dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada;
c. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak
adalah negara tempat harta tersebut terletak;
d. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan
kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan
tersebut bertempat kedudukan atau berada;
e. penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap
tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan;
f. penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau
tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan
pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada;
g. keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap
berada; dan

h.

keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk

usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.


4. Penentuan sumber penghasilan selain penghasilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) menggunakan prinsip yang sama dengan prinsip yang dimaksud pada
ayat tersebut.
5. Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata
kemudian dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak yang terutang menurut
Undang-Undang ini harus ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun
pengurangan atau pengembalian itu dilakukan.
6. Ketentuan mengenai pelaksanaan pengkreditan pajak atas penghasilan dari luar
negeri diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasl 26
1. Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya

oleh

badan

pemerintah,

subjek

Pajak

dalam

negeri,

penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar


negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di
Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh
pihak yang wajib membayarkan:
a. dividen;
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
jaminan pengembalian utang;
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
h. keuntungan karena pembebasan utang.
1a. Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah Negara tempat tinggal atau tempat kedudukan
Wajib Pajak luar negeri yang sebenarnya menerima manfaat dari penghasilan
tersebut (beneficial owner).
2. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang
diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar
negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang

dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri dipotong pajak 20% (dua
puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto. (2a) Atas penghasilan dari
penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(3c) dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan
neto.
3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (2a) diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
4. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di
Indonesia dikenai pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan
tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
5. Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (2a), dan
ayat (4) bersifat final, kecuali:
a. pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat
(1) huruf b dan huruf c; dan
b. pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi
atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam
negeri atau bentuk usaha tetap.
Perencanaan Pajak Perusahaan Multinasional
Sistem pengendalian manajemen perusahaan multinasional pada saat ini
merupakan prioritas untuk dilaksanakan, agar tujuan yang telah ditetapkan terlebih
dahulu dapat dicapai melalui suatu perencanaan strategi (strategic planning) yang
didesain sedemikan rupa agar terdapat suatu sistem pengendalian berupa komunikasi
informasi yang akan meningkatkan keharmonian sasaran yang ingin dicapai. Selain itu,
sistem tersebut hendaknya pula dapat meyediakan informasi yang memadai untuk suatu
pengambilan keputusan pada semua tingkat atau unit di perusahaan multinasional
tersebut. Sistem pengendalian manajemen tersebut, tentunya tidak terlepas dari tujuan
manajemen perusahaan multinasional, yang umumnya meliputi:
1. untuk menjamin agar sasaran yang dilaksanakan oleh unit-unit perusahaan
multinasional sejalan dengan pencapaian sasaran dari induk perusahaan
multinasional secara keseluruhan.
2. Untuk mengarahkan para manajer unit-unit perusahaan multinasional dalam
rangka pengambilan keputusannya seirama dengan tujuan induk perusahaan

multinasional, agar tercapai efisiensi dalam alokasi sumber daya, baik antar unit
maupun dalam masing-masing unit.
3. Terdapat suatu ukuran yang seragam untuk menilai prestasi dari semua unit-unit
perusahaan multinasional yang bersangkutan.
4. Untuk memudahkan terlaksananya komunikasi yang paling efektif antara
seluruh unit perusahaan multinasional, maupun dengan induk perusahaan
multinasionalnya.
Seperti diketahui, perpajakan internasional cukup berpengaruh terhadap kegiatan
perusahaan multinasional sehingga perpajakan internasional tersebut merupakan salah
satu faktor yang harus diputuskan oleh pembuat keputusan, dengan mempertimbangkan
sampai sejauh mana pajak tersebut berperan terhadap kegiatan-kegiatan berikut ini:
1.
2.
3.
4.
5.

Di mana akan dilakukan investasi


Bagaimana dan di mana pemasaran produksinya
Bagaimana bentuk organisasi bisnisnya
Kapan dan di mana dapat dilakukan pengiriman uang
Pilihan harga transfer
Sistem perpajakan di seluruh dunia cukup berpengaruh terhadapa kebijakan

ekonomi, masalah-masalah sosial dan politik negara yang bersangkutan dan juga sangat
bergantung pada bagaimana pimpinan negara tersebut mengembangkan sistem
perpajakannya. Diakui bahwa perpajakan internasional tersebut merupakan suatu hal
yang sangat kompleks dan secara konstan akan selalu berubah, sehingga apabila
terdapat perubahan berkenaan dengan perjanjian penghindaran pajak berganda,
perjanjian-perjanjian lainnya, perubahan undang-undang pajak dan ketentuan-ketentuan
yang mengikutinya, hal ini berarti bahwa jaringan perusahaan multinasional tersebut
harus ditinjau kembali dan diadakan penyesuaian sehingga secara relatif dapat
terpelihara keunggulan-keunggulan yang selama ini dimiliki.
Dalam kaitan dengan tujuan tersebut, perusahaan multi nasional dihadapkan
kepada dua variabel yang rumit yang akan mempengaruhi perusahaan domestic, yaitu:
1. Variabel pertama menyangkut harga transfer barang dan jasa di pasar global dan;
2. Variabel kedua berkenaan dengan pajak internasional serta rembesan
pengaruhnya terhadap segala aspek operasional perusahaan multinasional.
Pada dasarnya perencanaan pajak perusahaan multinasional dilakukan melalui
penghindaran pajak (tax avoidance) yang sangat bergantung kepada keputusan
manajemen tentang proses strategis perencanaan, sistem pengendalian manajemen dan
evaluasi kinerja perusahaan. Keberhasilan suatu sistem informasi perencanaan pajak (a

tax-planning information system) yang direncanakan untuk mengurangi beban pajak


hlobal oleh perusahaan multinasional, sangat bergantung sampai sejauh mana
perusahaan multi nasional tersebut mengikuti prosedur yang lazim dilakukan sebagai
berikut:
1. Menetapkan sasaran perencanaan pajak dalam operasional perusahaan
multinasional.
2. Mendelegasikan pertanggungjawaban perencanaan pajak tersebut, baik di
tingkat pusat maupun cabang perusahaan.
3. Menentukan operasi yang mana yang akan berdampak terhadap pengenaan
pajak, bagaimana dan berapa besar dampak pajaknya.
4. Memberikan informasi yang diperlukan bagi penyusun perencanaan pajak
kepada perencana pajak (tax planner) dan para pengambil keputusan (decision
maker)
5. Megevaluasi dampak perencanaan pajak tersebut terhadap strategi perencanaan
dan sistem pengendalian manajemen.
HARGA TRANSFER
Pengertian Harga Transfer
Transfer pricing disebut juga intracompany pricing, intercorporate pricing,
interdivisional pricing, internal pricing. Pengertian transfer pricing dapat dibedakan
menjadi dua yaitu pengertian yang bersifat netral dan pejoratif. Pengertian netral
mengasumsikann bahwa transfer pricing adalah murni merupakan strategi dan taktik
bisnis tanpa motif pengurangan beban pajak. Sedangkan pengertian pejoratif
mengasumsikan transfer pricing sebagai upaya untuk menghemat beban pajak dengan
taktik, antara lain, menggeser laba ke negara yang tarif pajaknya rendah. (Suandy, 2006)
Pengertian netral menurut para ahli di antaranya:
1) Dr. Gunadi, M.Sc.Ak.
Transfer pricing adalah penentuan harga atau imbalan sehubungan dengan
penyerahan barang, jasa atau pengalihan teknologi antar-perusahaan yang
mempunyai hubungan istimewa.
2) Sophar Lumbantoruan
Transfer pricing atau transfer harga adalah penentuan harga balas jasa suatu
transaksi antarunit daalm suatu perusahaan atau antar unit dalam suatu perusahaan
antar perusahaan dalam suatu grup.
3) Robert N. Anthony, Glenn A. Welsch dan James S. Reece

A transfer price is a price used to measure the value of goods or services furnished
by a profit center to other responsibility centers within a company.
4) Edward J. Blocher, Kung H. Chen, dan Thomas W. Lin
Transfer pricing adalah penentuan dari harga pertukaran pada saat unit-unit bisnis
yang berbeda di dalam suatu perusahaan bertukar produk atau jasa. Produk produk
tersebut mungkin merupakan produk akhir yang dapat dijual pada pelanggan luar
atau produk menengah yang merupakan komponen produk akhir.
Sedangkan pengertian secara pejoratif di antaranya:
1) Charles T. Horngren Dan Gary L. Sundem
Transfer prices are the amount charged by one segment of an organization for a
product that it supplies to another segment of the same organization in
multinational companies, transfer price are used to minimize worldwide income
taxes and import duties.
2) Dr. Gunadi, M.Sc, Ak
Transfer pricing adalah suatu rekayasa manipulasi harga secara sistematis dengan
maksud mengurangi laba artifisial, membuat seolah-olah perusahaan rugi,
menghindari pajak atau bea di suatu negara.
3) Prof. Dr. Rochmat soemitro, SH.
Transfer pricing adalah suatu perbuatan pemberian harga faktur (invoice) pada
barang barang (juga jasa-jasa) yang diserahkan antar bagian/ cabang suatu
multinasional enterprises.
Tujuan Harga Transfer
Dengan globalisasi bisnis, aspek internasional dari harga transfer menjadi suatu
perhatian yang lebih kritis, terutama dengan adanya isu-isu pajak. Tujuan internasional
yang lain mencakup meminimalkan beban-beban pajak, pengendalian devisa dan
berkenaan dengan resiko pengambilalihan oleh pemerintahan asing. Fenomena
perusahaan multinasional dalam ekspansinya cenderung mengoperasikan usahanya
secara desentralisasi dan melakukan konsep cost revenue profit atau corporate profit
center concept, yang dapat mengukur dan menilai kinerja dan motivasi setiap divisi atau
unit yang bersangkutan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai
tujuan tersebut antara lain digunakan sistem transfer pricing.
Harga transfer multinasional berhubungan dengan transaksi-transaksi antardivisi
dalam satu unit hukum (entitas) atau antarentitas dalam satu-kesatuan ekonomi yang

meliputi berbagai wilayah kedaulatan negara. Tujuan yang ingin dicapai dalam harga
transfer, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Memaksimalkan penghasilan global.


Mengamankan posisi kompetitif anak atau cabang perusahaan dan penetrasi pasar.
Mengevaluasi kinerja anak atau cabang perusahaan mancanegara.
Menghindarkan pengendalian devisa.
Mengatrol kredibilitas asosiasi.
Mengurangi risiko moneter.
Mengatur arus kas anak atau cabang perusahaan yang memadai.
Membina hubungan baik dengan administrasi setempat.
Mengurangi beban pengenaan pajak dan bea masuk.
Mengurangi risiko pengambilalihan oleh pemerintah.

Penetuan Harga Transfer


Menurut Martz dan Usry (Suandy, 2006), terdapat empat dasar untuk penentuan
harga transfer, yaitu harga transfer berdasarkan biaya, penentuan harga transfer
berdasarkan harga pasar, penentuan harga transfer berdasarkan negosiasi dan penentuan
harga transfer berdasarkan arbitrase.
Keempat dasar harga transfer tersebut merupakan instrumen bisnis manajemen
dan atau kebijaksanaan rencana perpajakan secara global. Masing-masing dasar
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dari aspek manajemen keuanga, harga transfer
merupakan

instrumen

perencanaan

(corporation

planning)

dan

pengendalian

mekanisme arus sumber daya divisi atau unit perusahaan secara keseluruhan. Oleh
karena itu, manajer keuangan akan senantiasa berusaha mengoptimalkan dan
mengefisienkan arus dan alokasi sumber daya, maka dengan sendirinya aspek
perpajakan harus benar-benar dipertimbangkan.

Penentuan harga transfer berdasarkan biaya (cost basis transfer pricing)


Digunakan pada transfer antarperusahaan yang menggunakan konsep pusat
pertanggungjawaban

biaya.

Kinerja

manajer

diukur

melalui

pertanggungjawabannya mengenai pengendalian biaya. Konsep ini sederhana


dan menghemat sumber daya karena tersedianya informasi biaya di setiap
tingkat aktivitas perusahaan.
Sesuai dengan jenis perusahaan, selain transfer secara vertikal (antar divisi di
beberapa jenjang aktivitas produksi dan distribusi) dapat pula terjadi transfer
secara horizontal (antar divisi yang sama pada aktivitas produksi dan distribusi).
Pada transfer horizontal digunakan basis biaya, sedangkan pada transfer vertikal

manajer divisi bertanggung jawab pula atas penghasilan (profit center), maka
harga transfer termasuk elemen laba, dan akan mendekati harga pasar.
Modifikasi ini sering disebut harga transfer biaya plus (cost plus transfer
pricing), dengan plusnya adalah pengembalian atas investasi (return on
investment) atau aset divisi.
Variasi dari biaya plus dapat berupa full cost plus mark up atau biaya variabel
plus margin kontribusi (variable cost plus contribution margin). Dalam biaya
plus margin kontribusi (cost plus contribution margin), profit center transfer
pricing mendekati harga pasar, sedangkan cost center transfer pricing mendekati
biaya variabel plus kontribusi biaya tetap. Harga transfer basis biaya dianut

apabila harga pasar tidak tersedia atau kurang tepat.


Penentuan harga transfer berdasarkan harga pasar (market basis transfer pricing)
Kelemahan yang ada pada basis biaya yaitu tidak dapat memotivasi dan
mengevaluasi kinerja divisi, diganti dengan basis pasar yang dianggap dapat
mengukur kinerja divisi atau unit dalam satu grup perusahaan, serta sekaligus
dapat merefleksikan keuntungan setiap produk dan menstimulasi divisi untuk
bekerja per basis kompetisi. Basis ini dianggap tolak ukur untuk menilai kinerja
manajer divisi karena kemampuannya menghasilkan laba dan memotivasi divisi
untuk bekerja secara bersaing. Basis ini baik digunakan bila pasar perantara

cukup bersaing dan saling ketergantungan antarunit adalah minimal.


Penentuan harga transfer berdasarkan negosiasi (the negotiated price)
Pengendalian keuntungan dan pemberian otoritas kepada unit dalam grup secara
memadai menghendaki adanya harga transfer berdasarkan negosiasi, dengan
asumsi bahwa kedudukan divisi-divisi tersebut berada dalam posisi tawarmenawar (bargaining position) yang sama. Kelemahannya adalah negosiasi ini

memakan banyak waktu, mengulang pemeriksaan dan revisi harga transfer.


Penentuan harga transfer berdasarkan arbitrase (arbitration transfer pricing)
Pendekatan ini menekankan pada harga transfer berdasarkan interaksi kedua
divisi dan pada tingkat yang dianggap terbaik bagi kepentingan perusahaan
tanpa adanya pemaksaan oleh salah satu divisi mengenai keputusan akhir.
Pendekatan ini mengesampingkan tujuan konsep pusat pertanggungjawaban
laba.

Harga Transfer Ganda

Untuk memenuhi disparitas pertanggungjawaban dari dua divisi, dikenal juga


harga transfer ganda. Misalnya, divisi penerima dapat mempertimbangkan penerapan
harga transfer berdasarkan biaya diferensial. Sebaliknya, divisi yang melakukan transfer
dapat

mempertimbangkan

unsur

laba

dalam

penentuan

harga

transfer

dan

memungkinkan pengukuran kinerja divisi. Prosedur aplikasi pendekatan ini dapat


berupa misalnya (1) pemakaian harga transfer berdasarkan harga pasar, negosiasi, atau
arbitrase oleh divisi yang melakukan transfer dalam menghitung penghasilan dari
penyerahan antarperusahaan; (2) biaya variabel divisi yang melakukan transfer plus
contribution margin atas beban tetap, ditransfer kepada divisi penerima; (3) total laba
per divisi akan lebih besar apabila laba perusahaan, dan laba divisi produksi akan
dieliminasi dalam penyusunan laporan keuangan.
Isu-Isu Pajak Internasional Dalam Harga Transfer

Arms-length Standard
Negara-negara OECD (organization for economic cooperation and
developments) termasuk Jerman, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat (yang
terkenal dengan section 482 of the US Internal Revenue Code), mempunyai
metode untuk menguji apakah harga transfer dari perusahaan multinasional sama
dengan harga pasar wajar (arms-length price), yaitu tingkat harga antara
pembeli dan penjual independen, bebas melakukan transaksi.
Menurut arms-length standard, harga-harga transfer seharusnya
ditetapkan supaya dapat mencerminkan harga yang akan disusun oleh pihakpihak yang tidak terkait yang bertindak secara bebas. Arms-length standard
ditetapkan dalam banyak cara, tetapi metode yang paling banyak digunakan
adalah sebagai berikut (Choi, Frederick D.S., dan Mueller Gerhard G.: 1985):
a. Comparable uncontrolled pricing method
Metode ini mengevaluasi kewajaran harga transfer dengan mengacu
kepada tingkat harga yang terjadi antra unit yang indepen atau anatara
perusahaan multinasional dengan unit yang independen. Secara teoritis
termasuk yang paling baik, namun dalam pelaksanaannya terdapat
beberapa kendala, misalnya perbedaan kuantitas, kualitas, kondisi,
waktu penjualan, merek dagang, pangsa pasar dan geografis pasar.
b. Resale pricing method

Metode ini diterapkan untuk produk yang ditransfer ke anggota grup


lainnya untuk dijual kembali. Kewajaran harga transfer didekati dengan
pengurangan harga penjualan kepada pihak independen dengan suatu
mark up yang wajar (sebanyak laba dan biaya si penjual). Kesulitan
terjadi dalam menentukan mark up.
c. Cost plus pricing method
Metode ini mendekati kewajaran harga transfer dengan menambahkan
mark up yang wajar pada harga pokok pihak yang mentransfer.
Pendekatan ini umumnya dipakai dalam hal penyerahan barang setengah
jadi (semifinished product) atau salah satu anggota grup sebagai
subkontraktor dari yang lainnya.
d. Other method
Dalam keadaan tertentu, kombinasi ketiga metode di atas perlu
ditetapkan, atau mungkin metode lain, misalnya alokasi laba yang
diperoleh grup perusahaan dalam transaksi tertentu, kalkulasi tingkat
keuntungan yang pantas pada investasi Wajib Pajak.
Di samping keempat metode di atas masih terdapat alternatif lain yang
dapat digunakan, yaitu:
a. Global method
Suatu pendekatan yang merupakan penyimpangan dari harga pasar
wajar adalah metode global atau unitary taxation. Metode ini
merupakan alokasi langsung atas laba dari beberapa entitas hukum yang
merupakan anggota dari satu-kesatuan ekonomi. Aplikasi metode ini
adalah dengan menjumlahkan semua laba dari tiap anggota grup
kemudian mengalokasikannya berdasar beberapa faktor misalnya
penjualan, upah tenaga kerja dan modal kerja.
b. Safe havens
Pendekatan ini dilakukan dengan menyusup suatu batas toleransi
interval harga. Harga transfer yang berada dalam batas tersebut tanpa
evaluasi lebih lanjut langsung dianggap sebagai harga wajar.
Perusahaan Multinasional Dan Apek Pajaknya
Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dalam arti perusahaanperusahaan

multinasional

perusahaan/cabang/perwakilan)

Indonesia
di

luar

yang
negeri

mempunyai
maulpun

unit

(anak

perusahaan-perusahaan

multinasional di luar negeri yang mempunyai unit (anak perusahaan/cabang/perwakilan)


di Indonesia pada umumnya akan senantiasa berusaha dengan instrument harga transfer,
mencapai salah satu tujuannya memaksimalkan keuntungan dengan berupaya
meminimalkan beban pajaknya, terutama Pajak Penghasilan Badan (Corporation
Income Tax).
Upaya yang dilakukan dengan pergesaran harga dari negara yang beban
pajaknya tinggi ke negara yang beban pajaknya rendah atau nihil. Frederick D.S. Choi
dan Gerhard G. Mueller: 1985 dalam Suandy: 2006 mengatakan bahwa, profits
accuring to the corporate system as a whole can be increased by setting high transfer
prices to shipon profits from subsidiaries domiciled in high tax countries and setting
low transfer prices to more profits to subsidiaries located in low tax countries. Selain
itu, diadakan pula perjanjian bilateral di bidang perpajakan, dengan maksud antara lain
untuk menghindarkan pengenaan pajak berganda, sehingga beban pajak dapat ditekan.
Perlakuan Harga Transfer di Indonesia
Perkembangan dunia usaha semakin cepat, yang sering kali bersifat internasioal
dan diperkenalkannya produk dan metode usaha baru yang semula belum dikenal dalam
bidang usaha (misalnya dalam bidang keuangan dan perbankan), maka bentuk dan
variasi harga transfer menjadi tidak terbatas. Namun demikian, dengan pengaturan lebih
lanjut tentang transaksi atar-Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa,
diharapkan dapat meminimalkan atau mengurangi prakti penghindaran pajak atau
penyelundupan pajak dengan menggunakan rekayasa harga transfer.
Harga transfer dapat terjadi baik anatar-Wajib Pajak dalam negeri maupun antara
Wajib Pajak dalam negeri dengan pihak luar negeri, terutama yang berkedudukan di
negara-negara dengan beban pajak rendah. Terhadap transaksi antara Wajib Pajak yang
mempunyai hubungan istimewa, undang-undang perpajakanIndonesia menganut asas
material (substance over from rule).
Hubungan istimewa tersebut dapat mengakibatkan kekurangwajaranharga, biaya
atau imbalan lain yang direalisasikan dalam suatu transaksi usaha. Harga transfer
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya penggalian penghasilan atau dasar pengenaan
pajak dan/atau biaya, dari satu Wajib Pajak ke Wajib Pajak lainnya, yang dapat

direkayasa untuk menekan keseluruhan jumlah pajak terutang atas Wajib Pajak yang
mempunyai tujuan istimewa baik nasional maupun multinasional.
Kekurangwajaran di atas dapat terjadi pada:
a.
b.
c.
d.
e.

Harga penjualan
Harga pembelian
Alokasi biaya administrasi dan umum (biaya overhead)
Pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang saham
Pembayaran komisi, lisensi, waralaba, sewa, royalti, imbalan jasa manajemen,
imbalan jasa teknik dan imbalan jasa lainnya.
Dalam kasus Pajak Pertambahan Nilai (PPN), mekanisme kredit pajak akan

secara otomatis menetralisir harga transfer. Namun pertimbangan waktu pembayaran


dipertimbangkan. Hal ini dapat ditempuh melalui harga transfer dengan menggeser
pajak keluaran ke perusahaan hilir (menunda terutangnya PPN). Akibat positif definitif
juga akan diperoleh dalam kasus Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dengan
memperkecil harga transfer atas Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yang terkena PPnBM.
Penangkal Harga Transfer
Ada beberapa prosedur yang dapat ditempuh untuk menanggulangi maneuver
pajak melalui harga transfer, antara lain:
a. Menyingkap praktik bisnis antarperusahaan secara lengkap sehingga dapat
dievaluasi keinginan harga transfer. Hal ini biasanya dimintakan kepada Wajib
Pajak asosiasi. Informasi tersebut dilampirkan pada Surat Pemberitahuan (SPT)
tahunan.
b. Harmonisasi pemajakan internasional untuk meniadakan disparitas beban pajak.
Prosedur ini sangat ideal, namun sulit diaktualisasikan, karena pada umumnya
setiap pemegang yurisdiksi pemajakan cenderung menomorsatukan kepentingan
nasionalnya. Suatu konsesi pajak selalu dihitung timbal-balik.
c. Kerja sama internasional. Prosedur ini dapat ditempuh melalui pertukaran
informasi, audit secara simultan atau audit pemajakan secara terpadu (antaryurisdiksi secara koordinatif).
d. Advanced pricing agreement (APA). Prosedur ini memperbolehkan Wajib Pajak
untuk membuat kesepakatan dengan otoritas pajak tentang aplikasi salah satu
metode harga transfer. Dengan demikian, Wajib Pajak terikat untuk memakai
metode terebut dan administrasi pajak menguji apakah kesepakan tersebut
dipatuhi.

Advanced Pricing Aggrement (APA)


Advanced Pricing Agreement (APA) adalah persetujuan di antara Internal
Revenue Service (IRS) dan perusahaan dengan menggunakan harga-harga transfer,
untuk menetapkan harga transfer yang disepakati

Menurut

Peraturan

Menteri

Keuangan Republik Indonesia Nomor 7/PMK.03/2015 Tentang Tata Cara Pembentukan


dan Pelaksanaan Kesepakatan Harga Transfer (Advanced Pricing Agreement), naskah
APA adalah dokumen yang berisi kesepakatan antara Direktur Jenderal Pajak dengan
Wajib Pajak di Indonesia mengenai penentuan harga transfer dan kriteria-kriteria dalam
penentuan harga transfer untuk tahun pajak selama jangka waktu APA.
Dalam laporan OECD tahun 1995, advanced pricing agreement didefinisikan
sebagai:
an agreement that determines, in advance of controlled transaction, an appropriate
adjustment there to, critical assumptions as to future events for the determination of the
transfer pricing for that transaction over a given period of time.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa APA adalah suatu kesepakatan
mengenai penentuan harga transaksi dari transaksi yang terjadi antara dua perusahaan
yang mempunyai hubungan istimewa dengan cara menetapkan suatu set kriteria yang
sesuai (seperti metode, faktor-faktor pembanding dan asumsi-asumsi) untuk periode
waktu tertentu.
Transaksi yang dimaksud di atas adalah transaksi yang terjadi antara
perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa dalam sebuah perusahaan
multinasional. Definisi hubungan istimewa mengacu pada aturan undang-undang
domestik negara masing-masing. Kesepakatan yang dibuat dalam APA terjadi antara
Wajib Pajak dengan otoritas pajak, bisa terjadi dengan satu otoritas pajak dan juga
dengan dua otoritas pajak dari negara yang berbeda. Apabila APA dilakukan antara
Wajib Pajak dengan otoritas pajak dalam satu negara maka disebut unilateral APA.
Sedangkan apabila APA dibuat oleh Wajib PAjak dengan dua atau lebih otoritas pajak
dari negara yang berbeda maka disebut multilateral APA.

Inisiatif pelaksanaan APA baik yang unilateral maupun multilateral harus datang
dari Wajib Pajak dengan cara mengajukan permohonan APA kepada otoritas pajak,
namun dalam prosedur pelaksanaannya untuk proses multilateral APA akan lebih rumit
daripada unilateral APA. Dasar hukum diterapkan unilateral APA adalah peraturanperaturan domestik, sedangkan multilateral APA dapat diterapkan dengan salah satu
pasal dalam perjanjian pajak, yaitu pasal mengenai persetujuan bersama.
Manfaat APA
Wajib Pajak harus mempertimbangkan manfaat penyelenggaraan APA
berdasarkan situasi dan kondisi dari permasalahan Wajib Pajak. Beberapa manfaat dari
diselenggarakan APA adalah sebagai berikut:
a. Memberikan kepastian kepada Wajib Pajak atas semua penghitungan mengenai
harga transaksi dengan menggunakan metode yang disetujui.
b. Memberikan kepastian terhadap kegiatan Wajib Pajak termasuk kepastian
mengenai kewajiban pajak yang berkaitan dengan harga transfer.
c. Mengurangi biaya dan waktu pada saat diaudit, karena selama periode APA
berlaku harga transaksi yang disepakati oleh Wajib Pajak dan otoritas pajak.
d. Dapat mencegah praktik harga transfer yang tidak benar dan semata-mata hanya
untuk menghindari pajak.
Masalah Dalam Penyelenggaran APA
Hal yang harus dipertimbangkan dalam penyelenggaran APA yaitu kemungkinan
adanya potensi kerugian, seperti:
a. Pengorbanan waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaran APA.
b. Wajib Pajak harus mengungkapkan informasi yang mungkin merupakan rahasia
perusahaan kepada otoritas pajak.
Apabila APA berhasil dilakukan maka Wajib Pajak harus melaksanakan setiap
kesepakatan yang tertulis dalam perjanjian tersebut selama periode berlakunya APA.
Berdasarkan pengalaman negara-negara yang telah menerapkan APA, masa berlakunya
APA berkisar antara tiga sampai empat tahun. Namun, apabila Wajib Pajak berkehendak
untuk memperpanjang masa berlakunya APA, maka ia dapat mengajukan permohonan
perpanjangan waktu.
Yang perlu diperhatikan, bahwa APA tidak menjamin Wajib Pajak untuk tidak
diaudit oleh otoritas pajak. Masalah-masalah yang tidak mencakup dalam APA masih

dapat dilakukan audit dalam kriteria audit yang biasa dilakukan. APA tidak berlau
retroaktif sehingga masalah harga transfer yang ada sebelum APA disepakati tidak dapat
diselesaikan dengan APA.
SURGA PAJAK (TAX HAVEN)
Dalam UU PPh terbaru, yakni dalam pasal 18 (3c) UU PPh tahun 2008, tax
haven dideskripsikan sebagai berikut:
"Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara (conduit company atau
special purpose company) yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara
yang memberikan perlindungan pajak (tax haven country) yang mempunyai
hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia dapat ditetapkan sebagai
penjualan atau pengalihan saham badan yang didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia.
Menurut SE Dirjen Pajak Nomor SE-04/PJ.7/1993 menyebutkan bahwa kriteria tax
haven adalah:
1. Negara yang tidak memungut pajak
2. Memungut pajak lebih rendah dari pada Indonesia.
Tax Haven Country (Negara Surga Pajak) adalah merupakan suatu istilah yang
menyatakan bahwa sebuah negara atau teritori yang menjadi tempat berlindung bagi
para pembayar pajak sehingga para pembayar pajak ini dapat menghindarkan
pembayaran pajaknya. Suatu negara/wilayah dapat dikategorikan sebagai Tax Haven
Country, menurut Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for
Economic Co-operation Development/OECD), jika memenuhi salah satu faktor:
1. Pajaknya sangat rendah, bahkan tidak ada pajak yang dikenakan, dengan tujuan
untuk menyediakan negara/wilayahnya sebagai negara/wilayah tempat pelarian
warga asing yang akan menghindarkan pajak.
2. Memiliki fasilitas perlindungan yang sangat ketat terhadap informasi nasabah.
3. Tidak adanya transparansi dalam operasi tax haven tersebut.
Ciri-ciri suatu negara tax haven , yaitu:
a. Tidak memungut pajak sama sekali atau apabila memungut pajak, maka tarifnya
adalah tarif yang rendah.
b. Memiliki peraturan yang ketat tentang rahasia bank dan/atau rahasia bisnis dan
tidak akan mengungkapkan kerahasian tersebut kepada siap pun atau negara

manapun, walaupun hal tersebut dimungkinkan pengungkapannya berdasarkan


perjanjian internasional.
c. Tersedia fasilitas alat komunikasi yang modern yang memungkinkan komunikasi
ke seluruh dunia tanpa ada hambatan apapun.
d. Pengawasan yang longgar atas lalu lintas devisa, termasuk deposito yang berasal
dari negara asing, baik perseorangan maupun badan.
e. Adanya promosi dan kepercayaan bahwa negara-negara tax haven merupakan
pusat keuangan yang baik dan terjamin.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 650/KMK.04/1994 menyebutkan 32
negara yang dikategorikan sebagai tax haven dan sebagai satu-satunya data tax haven
yang Indonesia miliki. Dalam data tersebut disebutkan beberapa negara antara lain:
Argentina, Bahama,Bahrain Balize, Bermuda, British isle, British Virgin Island,
Caymand Island, Channel Island Greensey, Channel Island Jersey, Cook Island, El
Savador, Estonia, Hong Kong, Liechtenstein, Lithuania, Makau, Mauritius, Mexico,
Nederland Antiles, Nikaragua, Dan lain-lain.
Berdasarkan hasil pertemuan G-20 tanggal 2 April 2009, Negara-negara anggota
OECD menetapkan daftar Negara-negara yang dikategorikan sebagai tax haven country
yang dikelompokan pada tiga kategori:
1. Negara-negara yang sepakat menerapkan perjanjian perpajakan international,
antara lain; Argentina, Australia, China, Yunani, Hungaria, jepang, Korea,
Mauritius, Norwegia, Amerika Serikat, dan lain-lain
2. Kategori Abu-abu; Belize, Bermuda, pulau Marshal, Brunei, Singapura, dan
lain-lainnya.
3. Daftar Hitam (black list); Costarica, Malaysia, Philipina, Uruguay.
Negara tax haven menerapkan tarif pajak yang rendah atau sama sekali tidak ada
pembebanan pajak yang merupakan daya tarik tersendiri bagi perusahaan-perusahaan
yang melakukan bisnis off-shore sehingga dapat memupuk dana sebesar-besarnya.
Beberapa partai politik mendukung adanya industri tax haven, sedangkan di lain pihak
partai oposisi sering kali menentang adanya industri tax haven. Bisnis tax haven
merupakan bisnis yang kompetitif. Oleh karena itu, dapat dikatan hampir sepanjang
tahun, negara tax haven memodifikasi bisnis off-shore yang sering kali berisi
keuntungan-keuntungan yang menarik yang tidak terdapat di negara lain.
PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B-Tax Treaty)

Perjanjian penghindaran pajak berganda adalah perjanjian pajak antara dua


negara bilateral yang mengatur mengenai pembagian hak pemajakan atas penghasilan
yang diperoleh atau diterima oleh penduduk dari salah satu atau kedua negara pihak
pada persetujuan (Both Constracting States). Sedangkan tujuan P3B adalah mencegah
seminimal mungkin terjadinya perpajakan berganda. Disamping itu, P3B memiliki
tujuan lainnya, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mencegah timbulnya pengelakan pajak


Memberikan kepastian
Pertukaran informasi
Penyelesaian sengketa di dalam penerapan p3b
Non diskriminasi
Bantuan dalam penagihan pajak
Penghematan dalam cash flow
Tujuan P3B adalah sebagai berikut:

a. Tidak terjadi perpajakan ganda yang memberatkan iklim dunia usaha. Dengan
P3B, maka pengenaan pajak atas laba usaha tidak dapat dikenakan di kedua
tempat, yaitu negara sumber atau negara domisili. Laba usaha dikenakan pajak
di tempat di mana mereka berkedudukan. Dengan adanya ketentuan ini,
diharapkan dunia usaha mendapatkan kepastian hukum, karena membayar pajak
hanya dikenakan satu kali yaitu di negara domisili.
b. Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke dalam negeri. Perpajakan atas
investasi berupa bunga dari pinjaman, dividen dari penanaman saham, royalti
dari pemilik hak cipta, jika dikenakan pemajakan yang tinggi, maka dipastikan
penduduk asing akan berpikir ulang bahkan menjadi ragu untuk menanamkan
modal di Indonesia, karena hasil investasi tidak sesuai dengan yang diharapkan
c. Peningkatan sumber daya manusia. Dengan adanya pembebasan pajak atas
mahasiswa dan pelatihan karyawan di negara di mana mereka menempuh
pendidikan dan pelatihan, maka dipastikan dapat meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia yang lebih memadai. Apabila penghasilan mahasiswa dan
karyawan yang sedang melakukan pendidikan dan pelatihan dikenakan pajak,
maka akan membebani mereka sehingga mereka lebih baik tidak belajar di luar
negeri atau menambah ilmu di luar negeri di mana mereka belajar atau bekerja.
Hal ini jika diberlakukan maka sumber daya manusia salah satu negara tersebut
akan mengalami keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan.

d. Pertukaran informasi guna mencegah pengelakan pajak. Dengan adanya


informasi yang saling berhubungan antar kedua negara, maka penduduk yang
tidak memenuhi kewajiban perpajakan di kedua negara menjadi jelas terlihat dan
dapat terdeteksi sedini mungkin. Negara yang terkait dengan tax treaty, dapat
melaporkan penghasilan penduduk asing di negara sumber, misalnya dengan
mengirimkan bukti penerimaan penghasilan dari negara sumber. Informasi
penghasilan tersebut seharusnya dilaporkan oleh penerima penghasilan di negara
domisili, dan diperhitungkan kembali di akhir tahun pajak.
e. Keadilan dalam hal perpajakan penduduk antar kedua negara. P3B mengatur
adanya pemajakan yang sama dan setara antar kedua negara, dengan prinsip
saling menguntungkan dan tidak memberatkan penduduk asing antar kedua
negara dalam menjalankan usaha. Negara yang mengadakan tax treaty tidak
boleh sewenang-wenang dalam hal perpajakannya.
Model Pernjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
1. Model OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)
Model OECD merupakan model P3B untuk negara-negara maju, didirikan di
Paris, 14 Desember 1960, meliputi 24 negara termasuk Jepang yang masuk
tahun 1998. Model ini lebih mengedepankan pada asas domisili negara yang
memberikan jasa atau menanamkan modal, dimana hak perpajakannya berada di
negara domisili. Oleh karena itu penulis ingin mengulas tentang perjanjian
dengan negara Jepang yang merupakan contoh dari model P3B yang
mengkombinasikan kedua model UN dan OECD.
2. Model UN (United Nations)
Model UN merupakan model P3B untuk negara-negara berkembang. Model ini
lebih mengedepankan asas sumber penghasilan, karena mereka umumnya yang
menggunakan jasa dan yang menerima modal dari luar negeri, sehingga model
ini lebih menerapkan perpajakan yang berasal dari negara yang memberi
penghasilan. Namun demikian model OECD dan UN tidaklah dapat berdiri
sendiri, karena tergantung kesepakatan kedua negara yang mengadakan
perjanjian tersebut.
3. Model Indonesia
Model ini mengkombinasikan kedua jenis model UN dan OECD, dan yang
cocok digunakan di Indonesia dengan melihat hal-hal yang terkait dengan

ketentuan Undang-Undang PPh dan program pembangunan di Indonesia dan


sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak dalam perjanjian. Hal-hal yang
dapat mendorong perkembangan Negara Indonesia menjadi lebih maju, dapat
diatur dalam perjanjian ini, misal penghasilan atas guru dan peneliti, yang dalam
kedua model UN dan OECD tidak diatur, namun dalam Model Indonesia diatur
dalam pasal tersendiri.
Isi Pasal-Pasal Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
1. Permufakatan kedua negara
Perjanjian P3B akan berlaku apabila ada kesepakatan bersama, namun jika P3B
tidak diinginkan salah satu negara, maka P3B dinyatakan tidak berlaku.
2. Orang/Badan yang merupakan penduduk salah satu atau kedua negara terikat
dan berlaku P3B.
Dengan berlakunya P3B maka dipastikan mau tidak mau penduduk yang
memperoleh penghasilan dari negara lainnya yang mengadakan P3B harus
terikat dan tunduk kepada keputusan adanya P3B.
3. Pajak-pajak apa saja yang tunduk pada P3B, pada umumnya pajak pendapatan
dan pajak perseroan.
P3B tidak mengatur terhadap PPN, PBB, BPHTB dan lain-lain, P3B hanya
mengatur tentang pajak badan seperti Pajak Penghasilan. Penghasilan tersebut
bisa berasal dari jasa, pekerjaan, kegiatan, dan usaha.
4. Istilah yang mengandung perihal hukum
Menurut Adriani, hukum nasional itu termasuk di dalam hukum internasional,
hukum pajak internasional merupakan suatu pengertian yang lebih luas dari pada
pengertian pajak ganda. Hukum pajak internasional merupakan suatu kesatuan
hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur dalam undang-undang
nasional mengenai:
a. Perpajakan terhadap orang-orang luar negeri
b. Peraturan-peraturan nasional untuk menghindarkan pajak ganda
c. Traktat-traktat.
5. Bentuk Usaha Tetap (BUT)
Dalam perpajakan internasional, untuk menentukan hak pemajakan suatu negara,
atas sumber penghasilan dari usaha yang dijalankan wajib pajak luar negeri
dapat dikenakan di negara Indonesia atau di negara domisili, untuk itu harus
ditentukan apakah BUT atau tidak? Jika dianggap sebagai BUT, maka harus
mengacu kepada undang-undang negara dimana BUT berkedudukan atau
tergantung P3B antar kedua negara.

6. Pendirian atas harta tak gerak.


Pendekatan produksi dimanfaatkan untuk menentukan letak sumber penghasilan
dari harta tak bergerak, sewa atas harta tak bergerak yang terletak di Indonesia
dianggap bersumber di negara tersebut. Sebaliknya sewa atas harta tak bergerak
yang terletak di luar Indonesia dapat dianggap bersumber selain di negara
tersebut dan oleh karenanya berhak atas kredit pajak luar negeri.
7. Laba perusahaan di suatu negara.
Laba perusahaan suatu negara dikenakan pajak di negara domisili, kecuali jika
negara tersebut memiliki BUT di negara lainnya.
8. Hubungan istimewa.
Untuk menghindari terjadinya transfer pricing yang tidak sesuai dengan prinsip
arms lenght, maka pejabat yang berwenang di negara Indonesia, dapat
melakukan penghitungan kembali atas jumlah pendapatan atau biaya serta
hutang atau modal yang tidak wajar.
9. Keuntungan dari pengoperasian kapal laut atau pesawat udara.
10. Pajak atas dividen, bunga dan royalti.
11. Keuntungan karena pengalihan harta tak gerak.
12. Pendapatan yang diterima seorang penduduk suatu negara sehubungan dengan
pekerjaan bebas atau pekerjaan lain yang sifatnya sama.
13. Pajak atas gaji, upah dan balas jasa lainnya yang berkenaan dengan pekerjaan.
14. Pendapatan para pengurus.
15. Pendapatan seorang seniman penghibur.
16. Pendapatan atas pensiunan.
17. Kunjungan penduduk atau mahasiswa yang menerima bantuan negara lainnya.
18. Pengajar atau peneliti negara lain.
Dimulainya P3B dan ratifikasi.
Berdasarkan Pasal 23 A Undang-undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa
Segala Pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang Setelah diratifikasi,
maka P3B mulai di berlakukan. Dengan demikian perjanjian P3B dapat disetarakan
dengan Undang-undang. Untuk itu diperlukan adanya pengesahan atau ratifikasi oleh
Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini juga sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945
Pasal 11, yang menyatakan bahwa: Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian, dan perjanjian dengan negara lain.
Berakhirnya P3B

Persetujuan P3B akan tetap berlaku sampai diakhiri oleh salah satu pihak pada
persetujuan. Masing-masing pihak pada persetujuan dapat mengakhiri berlakunya
persetujuan ini, melalui perwakilan diplomatik, dengan menyampaikan pemberitahuan
tertulis tentang berakhirnya persetujuan sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum
berakhirnya tahun takwim berikutnya setelah jangka waktu sekian tahun sejak
berlakunya persetujuan.
PEMBAHASAN PERMASALAHAN
Keberadaan negara-negara tax haven jelas merupakan isu penting bagi negara
lain

yang

berusaha

mengamankan

penerimaan

negaranya

demi

mendukung

pembangunan. Selain itu, Financial Action Tax Force FATF (semacam Satgas Anti
Pencucian Uang) negara-negara tax haven ditengarai sebagai tempat menyalurkan dana
yang diperoleh dari berbagai kejahatan seperti terorisme, perdagangan illegal,
penyelundupan, kejahatan terorganisir dan sebagainya.
Publikasi OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development)
pada pertemuan G-20 di London, April 2009, yang mengumumkan daftar negara yang
merupakan tax haven dan financial center. Kemudian, Presiden Prancis Nicolas
Sarkozy, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown
menjadi sebagian dari banyak tokoh yang mendukung adanya pengendalian atas tax
haven. Dukungan demi dukungan membangkitkan optimisme akan segera berakhirnya
rezim surga pajak. Pertemuan G-20 itu seperti menjadi lonceng kematian bagi tax
haven. Namun benarkah rezim tax haven akan segera berakhir?
Ada beberapa kendala pada bangsa ini yang akan memperlambat berakhirnya
pemanfaatan rezim tax haven sebagai sarana penghindaran dan penggelapan pajak
dikutip dari tulisan Bayu Rahmat Rahayu (2009), seorang Peneliti Finedu Indonesia.
Pertama, terkait dengan identifikasi tax haven. Definisi tax haven dalam regulasi
kita dapat ditemui pada UU Nomor.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Pasal 18
ayat (3c) UU ini menyebutkan bahwa tax haven country adalah negara yang
memberikan perlindungan pajak. Sementara Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE04/PJ.7/1993 menyebutkan kriteria tax haven, yaitu: (a) Negara yang tidak memungut
pajak, atau (b) memungut pajak lebih rendah dari Indonesia. Sudah begitu, kita sendiri
tidak memiliki daftar negara yang masuk kategori tax haven. Kendala kedua terkait

dengan program dan perlakuan atas tax haven. Sejauh ini, pemerintah belum pernah
mengumumkan adanya program yang komprehensif dan terarah untuk menangani tax
haven dan masalah yang ditimbulkannya. Jangan-jangan pemerinta tidak tahu bahwa
masalah tersebut besar dan harus ditangani segera.
Di samping masalah diatas, memerangi tax haven bukanlah masalah ringan.
Pertama, perang ini adalah perang lama. Upaya memberantas tax haven sudah lama
dilakukan dan melibatkan banyak pihak. Tapi, tax haven tetap hidup, bahkan
berkembang. Kongres Amerika Serikat (AS), misalnya, telah berupaya melenyapkan
penggelapan pajak melalui tax haven sejak 1983. Tapi, sampai saat ini, Stop Tax Haven
Abuse Act masih merupakan draf (Levin: 2009). Selain AS, OECD juga merupakan
lembaga yang sibuk memberantas tax haven, baik dengan Harmful Tax Competition
Report yang dimulai sejak 1998, maupun mempromosikan standar internasional dengan
laporan Tax Co-operation: Towards a Level Playing Field sejak 2001. Kedua,
keragaman daftar dan kriteria. Itu terjadi karena banyak pihak yang berkepentingan atas
tax haven. Banyak ide dan program pemberantasannya yang terkadang terkesan
sporadis dan tidak berkoordinasi. Misalnya masalah daftar, OECD, Bank Dunia, Tax
Justice Network, dan masing-masing negara memiliki daftar tax haven yang berbedabeda. Hal ini menimbulkan ketidakpastian tentang siapa yang harus diperlakukan
sebagai tax haven. Sialnya lagi, kita malah tidak memiliki daftarnya. Ketiga,
inkonsistensi pencitraan tax haven yang merugikan ekonomi global atau justru
menguntungkan investasi. Salah satu daftar tax haven adalah yang diterbitkan oleh
Financial Stability Forum (FSF) Forum hasil kerjasama IMF dan World Bank. FSF
dalam Report on the Warking Group on Offshore Centres (FSF,2000) memasukkan 46
negara dalam daftar tax haven. Anehnya, dalam laporan Doing Business 2010, lembaga
riset di bawah World Bank, beberapa negara tersebut justru dimasukkan pada peringkat
tinggi dalam kriteria Paying Taxes, antara lain Hong Kong (nomor 3), Singapura (5),
dan Maurittius (12). Adapun Indonesia di 126 dan Jepang di 123. Keempat, laporan
The Price of Offshore oleh Tax Justice Network (TJN-2005) memperkirakan bahwa
besaran aset yang disimpan investor individual pada tax haven mencapai US$ 11,5
triliun. Laporan Kongres AS (US GAO: 2006) menunjukkan keterlibatan banyak pihak
dalam pemanfaatan tax haven. Sebut saja, akuntan publik, penasehat hukum, bank,

konsultan pajak, dan lembaga amal. Besaran angka dan banyaknya pihak yang terlibat
menunjukkan bahwa tax haven adalah lawan yang tangguh.
Daftar hambatan dalam menghadapi tax haven bisa panjang atau pendek,
tergantung pemahaman kita akan masalah ini. Berikut ini adalah apa yang dapat kita
lakukan untuk mengurangi hambatan itu. Pertama, harus disadari bahwa tax haven
adalah masalah yang terlalu besar utuk ditangani sendiri oleh Dirjen Pajak. Pemerintah,
DPR, dan duia usaha harus berkoalisi memperhatikan masalah tersebut. Lakukan upaya
apa pun untuk meminimalkan besaran pendapatan negara yang lenyap karena tax haven.
Salah satunya, pemerintah dapat melarang pengusaha yang menggunakan tax haven
untuk berinvestasi pada pertambangan dan kehutanan. Kedua, melakukan evaluasi atas
semua Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Hal ini perlu dilakukan untuk
memastikan bahwa P3B yang berlaku tersebut bersifat saling menguntungkan. Di
samping itu, kita juga harus memastikan bahwa terdapat mekanisme pertukaran
informasi yang efektif dan efisien. Ketiga, menyusun daftar dan kriteria tax haven. Dari
hasil evaluasi P3B dan memperhatikan perkembangan daftar tax haven yang secara
internasional diterima, pemerintah dapat menyusun kriteria daftar dan daftar siapa saja
yang dianggap tax haven. Pemerintah juga dapat memberikan diskresi kepada Dirjen
Pajak untuk menambah atau mengurangi daftar tersebut sesuai dengan kriteria ang
ditetapkan. Keempat, pemerintah harus menyusun aturan dan program untuk
memberikan disinsentif pemanfaatan tax haven dalam rangka penggelapan dan
penghindaran pajak. Jika keempat langkah di atas telah diambil, harapan kita akan
lenyapnya tax haven akan besar.
Pembahasan Permasalahan Jurnal Pertama
Pada pembahasan pertama ini, jurnal yang dibahas transfer pricing dan
penghindaran pajak. Jurnal yang akan dibahas berjudul Aspek Perpajakan dalam
Transfer Pricing dan Problematika Praktik Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
yang diteliti oleh Ita Salsalina Lingga (2015).
Praktik transfer pricing ini dulunya hanya dilakukan oleh perusahaan sematamata hanya untuk menilai kinerja antar anggota atau divisi perusahaan, tetapi seiring
dengan

perkembangan

zaman,

praktik

transfer

pricing

juga

dipakai

untuk

meminimalkan jumlah pajak yang harus dibayar (Mangoting, 2000). Transfer Pricing

ini telah menuai banyak sekali masalah di berbagai negara karena dalam praktiknya
mereka menggunakan hal-hal yang sangat bertentangan dengan aturan yang ada.
Tujuan penulis meneliti hal ini adalah untuk mencoba memaparkan aspek
penetapan harga transfer (transfer pricing) ditinjau dari sudut akuntansi maupun
perpajakan serta problematika praktik penghindaran pajak (tax avoidance) maupun
kecurangan-kecurangan yang marak terjadi akibat praktik transfer pricing yang tidak
wajar. Metode penelitian yang digunakan adalah ini penelitian deskriptif (descriptive
research) yaitu penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari
suatu populasi.
Penulis mendapati dalam praktik, seringkali ditemukan transaksi antar anggota
perusahaan multinasional yang tidak luput dari rekayasa transfer pricing. Bagi
perusahaan berskala global (multinational corporations), transfer pricing dipercaya
menjadi salah satu strategi yang efektif untuk memenangkan persaingan dalam
memperebutkan sumber daya yang terbatas. Perusahaan cenderung berupaya
meminimalkan biaya-biaya (cost efficiency) termasuk di dalamnya minimalisasi
pembayaran pajak perusahaan (corporate income tax). Hal ini telah mendorong
dilakukannya praktik transfer pricing untuk menghindari pajak (tax avoidance).
Transfer pricing diyakini mengakibatkan berkurang atau hilangnya potensi penerimaan
pajak suatu negara karena perusahaan multinasional cenderung menggeser kewajiban
perpajakannya dari negara-negara yang memiliki tarif pajak yang tinggi (high tax
countries) ke negara-negara yang menerapkan tarif pajak rendah (low tax countries).
Untuk mencegah praktik penghindaran pajak karena penentuan harga tidak
wajar (non arm's length price), maka Dirjen Pajak menetapkan pedoman penentuan
harga transfer yang membahas penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arms
length principles) terkait transaksi antara wajib pajak dengan pihak yang memiliki
hubungan istimewa. Aturan ini mengharuskan wajib pajak untuk menggunakan nilai
pasar wajar dalam bertransaksi dengan pihak berelasi (related parties). Dirjen Pajak
memiliki kewenangan untuk menentukan harga transaksi antar pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa (Advance Pricing Agreement/APA) yaitu kesepakatan
antara Wajib Pajak dan Direktur Jenderal Pajak mengenai harga jual wajar produk yang
dihasilkannya kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan berelasi (related parties).

Dengan ditetapkannya APA, diharapkan dapat mengurangi terjadinya praktik


penyalahgunaan transfer pricing oleh perusahaan multinasional.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi praktik transfer pricing
(Suryana, 2012) dalam Lingga (2015), antara lain dengan mengaktifkan peran akuntan
publik untuk menguji kewajaran perhitungan jumlah related parties transaction yang
diungkapkan dalam laporan keuangan, memperluas kriteria transfer pricing tidak hanya
related parties, tetapi melebar ke semua transaksi yang diindikasikan di bawah harga
pasar wajar, termasuk dengan perusahaan non afiliasi, menggunakan data pembanding
eksternal dari pelaporan DHE (Devisa Hasil Ekspor) untuk mendeteksi aliran dana dan
underlying transaksi ekspor, mengumumkan ke publik tentang proses banding oleh
wajib pajak yang melakukan transfer pricing, sebagai bentuk tekanan moral,
menyediakan data center, seperti Indonesian Coal Index, serta membentuk single
document window (SDW) antar negara yang telah menerapkan tax treaty, dan forum
multilateral, seperti APEC.
Pembahasan Permasalahan Jurnal Kedua
Pada pembahasan kedua ini, penulis akan membahas jurnal yang berkaitan
dengan manajemen pajak suatu perusahaan. Jurnal ini membahas keterkaitan aplikasi
Corporate Governance dan manajemen pajak perusahaan. Jurnal yang akan dibahas
berjudul Pengaruh Corporate Governance terhadap Manajemen Pajak yang
diteliti oleh Maria Meilinda dan Nur Cahyonowati (2013).
Isu mengenai corporate governance di Indonesia semakin mendapat perhatian
khusus

setelah

terjadinya

krisis

keuangan

pada

tahun

1997-1998.

Survei

PricewaterhouseCoopers atas investor internasional pada tahun 2002 menunjukkan


bahwa Indonesia pada saat itu menduduki posisi terbawah dalam hal audit dan
kepatuhan, akuntabilitas terhadap pemegang saham, standar pengungkapan dan
transparansi serta peranan direksi, untuk membandingkan kerangka governance
Indonesia dengan negara lain pada satu wilayah (FCGI, 2002).
Manajemen berkewajiban memanfaatkan sumber daya perusahaan secara efisien
dan meningkatkan kinerja perusahaan sehingga nilai perusahaan meningkat. Salah satu
strategi yang dilakukan adalah dengan efisiensi pembayaran pajak. Manajemen dapat
memilih strategi manajemen pajak yang bermanfaat bagi perusahaan dalam jangka

panjang. Manajemen pajak merupakan upaya perusahaan dalam hal penanganan


pembayaran

pajak

mulai

dari

perencanaan,

pelaksanaan,

dan

pengendalian.

Karakteristik corporate governance sebuah perusahaan tentu saja menentukan


bagaimana perusahaan tersebut menerapkan manajemen.
Penulis jurnal ini tertarik meneliti pengaruh Good Corporate Governance
terhadap manajemen pajak karena isu ini tergolong baru. Penelitian ini menggunakan
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dengan periode pengamatan mulai tahun 2009-2011. Sampel penelitian
ini menggunakan purposive sampling untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan
penelitian ini.
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manajemen pajak
(yang diukur dengan GETR dan CETR). Varibel independennya sendiri terdiri dari
Jumlah Dewan Komisaris (BOARD), Persentase Komisaris Independen (INDEP) dan
Jumlah Kompensasi Dewan Komisaris serta Direksi (COMP). Penelitian ini juga
memiliki variabel kontrol yang terdiri dari Ukuran Perusahaan (SIZE),Kinerja
Perusahaan (ROA), Tingkat Hutang Perusahaan (DEBT) dan Beda Tarif Pajak(TARIF).
Hasil dari uji statistika yang dilakukan penulis didapat hasil sebagai berikut:
jumlah dewan komisaris memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap GETR dan
CETR; persentase komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap GETR dan
positif terhadap CETR; kompensasi memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan
terhadap GETR dan CETR; ukuran perusahaan memiliki pengaruh negatif dan
signifikan terhadap GETR dan CETR; kinerja perusahaan memiliki pengaruh negatif
dan signifikan terhadap GETR dan CETR; tingkat hutang perusahaan memiliki
pengaruh negatif dan signifikan terhadap GETR dan CETR; beda tarif pajak memiliki
pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap GETR dan CETR, dan; manajemen
pajak GETR dan CETR memiliki variasi yang berbeda yang dapat dijelaskan oleh
ketiga variabel independen dan empat variabel kontrol, dimana secara umum
kemampuan menjelaskan manajemen pajak CETR lebih tinggi.
Pembahasan Permasalahan Jurnal Ketiga
Pada pembahasan jurnal ketiga ini, penulis akan membahas jurnal tentang pajak
berganda. Jurnal yang akan dibahas berjudul Penentuan Beneficial Owner Untuk

Mencegah Penyalahgunaan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda yang


diteliti Anthony Tiono dan R. Arja Sadjiarto (2013).
Kegiatan ekonomi lintas negara tentu akan melibatkan paling sedikit dua negara
yang berbeda yang masing-masingnya memiliki peraturan pajak masing-masing.
Perbedaan peraturan pajak yang dilandasi kepentingan masing-masing negara itu dapat
menimbulkan terjadinya pemajakan berganda (double taxation) terhadap penghasilan
yang diperoleh pelaku usaha. Hal ini merugikan pelaku usaha karena beban pajak yang
harus ditanggungnya menjadi lebih besar dan mengurangi nilai tambah yang seharusnya
dapat dihasikan. Di sisi lain, perbedaan peraturan itu juga berpotensi menyebabkan
terjadinya ketiadaan pajak (double non taxation).
P3B merupakan kesepakatan untuk membagi hak pemajakan diantara negara
yang melakukan perjanjian. P3B mengandung kemudahan-kemudahan atau manfaat
perpajakan yang ditujukan untuk bagi pelaku usaha yang berkedudukan di negara mitra
P3B. Bervariasinya manfaat P3B antar negara mendorong investor menyalahgunakan
(abuse) perjanjian untuk mendapatkan manfaat ataupun intensif yang paling
menguntungkan. Perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum
apabila semata-mata dilakukan untuk menghindari pajak melalui manfaat-manfaat P3B
yang bertentangan dengan tujuan dibentuknya P3B itu sendiri.
Langkah antisipasi yang banyak dilakukan adalah melalui penerapan konsep
beneficial owner. Beneficial owner disepakati sebagai satu-satunya pihak yang berhak
untuk mendapatkan manfaat P3B. Dalam common law, terminologi kepemilikan terbagi
menjadi dua, yaitu kepemilikan secara hukum (legal ownership) dan kepemilikan secara
factual (beneficial ownership). Dalam common law dijelaskan bahwa definisi beneficial
owner adalah pihak yang memenuhi kriteria sebagai pemilik tanpa adanya keharusan
pengakuan kepemilikan dari sudut pandang hukum. Konsep ini digunakan dalam secara
internasional dalam OECD Model Tax Convention tahun 1977.
Desain penelitian ini adalah studi literatur, yaitu suatu penelitian yang bertujuan
referensi teori yang relevan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Hasil dari
studi literatur ini adalah terkelompoknya referensi yang relevan untuk menjawab
perumusan itu. Tujuannya adalah untuk memperkuat permasalahan serta sebagai dasar
teori dalam melakukan studi dan juga menjadi dasar untuk menggambarkan penerapan

peraturan dan ketentuan pajak dalam menentukan beneficial owner untuk mencegah
terjadinya penghindaran pajak.
Dari hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa: P3B, baik
US model, OECD model, UN model, ataupun Indonesian model semuanya
memposisikan beneficial owner sebagai owner sebagai satu-satunya pihak yang berhak
menerima manfaat P3B terkait penghasilan dividen, bunga, dan royalti. Hanya saja, US
model memiliki kriteria yang harus dipenuhi oleh beneficial owner dalam model P3B
nya; Untuk menentukan apakah manfaat P3B diberikan kepada beneficial owner,
Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan PER-61/PJ./2009 dan PER-62/PJ./2009. PER62/PJ./2009 berisi kriteria yang harus dipenuhi oleh penerima penghasilan dividen,
bunga, dan royalti untuk tidak dianggap menyalahgunakan P3B. Kriteria-kriteria itu
dicantumkan dalam Surat Keterangan Domisili. Semua kriteria itu harus dipenuhi.
Sayangnya, kebenaran SKD itu tidak dapat diketahui baik oleh Wajib Pajak Pemotong
ataupun DJP sebelum dilakukan pemeriksaan dan didapatkan informasi yang
memastikan kebenaran SKD; Peraturan pajak Amerika Serikat Republik Rakyat China,
dan Indonesia terkait beneficial owner menggunakan kriteria untuk menentukan
beneficial owner. Kriteria diambil dari ciri-ciri beneficial owner. Ketiganya
menggunakan prinsip substance over form dalam peraturan terkait beneficial owner,
kecuali Amerika Serikat, karena pengadilannya telah menggunakan prinsip substance
over form dalam doktrin pengadilannya. Amerika Serikat dan Indonesia menggunakan
form yang didalamnya berisi indentitas dan kriteria beneficial owner yang harus diisi
dan diberikan kepada Wajib Pajak Pemotong untuk mencegah pennyalahgunaan P3B.
Republik Rakyat China mengharuskan WPLN yang ingin menggunakan P3B untuk
mengajukan ijin kepada otoritas pajak Republik Rakyat China. Untuk mendapatkan ijin
WPLN meyampaikan surat permohonan sesuai dengan format yang ditentukan, dan;
PER-61/PJ.2009 yang telah disempurnakan dengan PER-24/PJ./2010 dan PER62/PJ.2009 yang telah disempurnakan dengan PER-25/PJ./2010 telah dapat lebih baik
menentukan menentukan beneficial owner daripada peraturan-peraturan sebelumnya,
yaitu dengan menggunakan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dan memasukannya
dalam SKD yang harus diisi oleh WPLN untuk dapat menggunakan P3B. Sayangnya,
apakah SKD diisi dengan benar tidak dapat diketahui dengan pasti sebelum dilakukan
pemeriksaan.

PENUTUP
Kesimpulan
Hubungan perdagangan internasional yang semakin terbuka luas dan ekstensif
saat ini, menyebabkan pula semakin diperlukannya suatu ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang mengatur masalah transaksi internasional.
Bersamaan dengan peningkatan beberapa tarif pajak di beberapa negara, terdapat pula
peningkatan cara-cara penghindaran pajak internasional (international tax avoidance)
yang antara lain terdapatnya beberapa daerah di dunia ini yang disebut sebagai tax
haven yang menampung dana yang bergerak secara internasional (internationally
mobile fund).
Ketentuan-ketentuan yang mengatur cara untuk menandingi penghindaran pajak
internasional tersebut menjadi semakin intensif dan kompleks, karena begitu celah

(loophole) penghindaran pajak lama tertutup melalui perubahan undang-undang pajak.


Mengingat begitu hal ini, maka sangat diperlukan peran lebih lagi oleh pemerintah guna
mengantisipasi hal tersebut kemudian juga diharapkan

kesadaran dan kedisiplinan

Wajib Pajak untuk taat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

DAFTAR PUSTAKA
Brotodihardjo, R. Santoso. 2008. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Bandung: Refika
Aditama
Lingga, I. S. (2015). Aspek Perpajakan dalam Transfer Pricing dan Problematika Praktik
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance). Zenit, 1(3).
Mangoting, Yenni. 2000. Aspek Perpajakan Dalam Praktik Transfer Pricing. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan. Vol. 2 No. 1, Mei 2000: hal 69-82
Meilinda, Maria, and Nur Cahyonowati. 2013. Pengaruh Corporate Governance
terhadap Manajemen Pajak. Diponegoro Journal of Accounting pp. 559-571.
OECD Committee on Fiscal Affairs. 1979. Transfer Pricing and Multinational
Enterprises. Paris: OECD.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-32/PJ/2011 tentang tentang Penerapan


Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak
Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa (Related Party).
Rahayu, B. R. Mengharapkan Tax Heaven Tidak Ada adalah Sebuah Mimpi,
http://www.kompasiana.com/finedu/mengharapkan-tax-heaven-tidak-adaadalah-sebuah-mimpi_54ff385fa33311124550fded, diakses 25 November 2015
Suandy, Erly. 200. Perencanaan Pajak. Jakarta: Salemba Empat
Tiono, A., & Sadjiarto, R. A. 2014. Penentuan Beneficial Owner Untuk Mencegah
Penyalahgunaan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda. Tax & Accounting
Review, 3(2), 80.
Zain, Mohammad. 2007. Manajemen Perpajakan. Jakarta: Salemba Empat
www.pajak.go.id