Anda di halaman 1dari 11

GENETIKA POPULASI DAN SPESIASI

JAWABAN PERTANYAAN
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Evolusi

oleh:
Kelompok 7 / Biologi C 2013
Bonita Rachma F.

1303952

Fanny Azzahra

1307318

Ningtyas Arum Sari

1300200

Riyan Septianingrum

1303466

PROGRAM STUDI BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016

GENETIKA POPULASI

1. Jelaskan peranan kesetimbangan Hardy-Weinberg dalam teori evolusi!


Jawaban:
-

Untuk menghitung persentase populasi manusia yang membawa alel penyakit


menurun tertentu. Misalnya untuk penyakit albino yang merupakan penyakit
dimana seseorang kehilangan pigmen warna kulit disebabkan oleh satu alel
resesif. Maka albino ini bertalian dengan frekuensi genotype homozigot resesif.

Memberikan dasar untuk melacak struktur genetik suatu populasi selama beberapa
generasi.

Menghitung frekuensi alel dalam suatu kumpulan gen jika mengetahui frekuensi
genotipenya atau sebaliknya menghitung frekuensi genotype kika diketahui
frekuensi alel.

2. Jelaskan syarat-syarat berlakunya kesetimbangan Hardy-Wenberg!


Jawaban:
a. Ukuran populasi yang cukup besar.
Populasi dengan jumlah besar dapat dengan mudah memenuhi syarat hukum
kesetimbangan frekuensi gen. Karena populasi yang besar dapat mempertemukan
jodoh dari tiap-tiap pasangan alel secara acak.
b. Populasi tersebut terisolasi.
Bila populasi kecil dan tidak terisolasi maka dapat dengan mudah kita memahami
adanya perubahan frekuensi gen bila ada anggota yang berpindah tempat.
c. Jumlah mutasi setimbang.
Mutasi yang setimbang tidak mengubah kesetimbangan anggun gen. jika mutasi
gen tidak setimbang maka akan mengakibatkan berubahnya frekuensi gen dalam
mutasi
d. Perkawinan terjadi secara acak.
e. Kemampuan reproduksi antar individu.

3. Kondisi mana yang paling memungkinkan dalam mempertahankan Teorema


Hardy-Weinberg menurut Anda, beri alasan!
Jawaban:

Kondisi yang memungkinkan dalam mempertahankan Teorema Hardy-Weinberg :


a. Ukuran populasi yang sangat besar
b. Terisolasi dari populasi yang lainnya
c. Tidak terjadi mutasi
d. Perkawinan yang terjadi secara acak (random)
e. Tidak terjadi peritiwa seleksi alam.

4. Di suatu wilayah dari 1000 orang diperiksa golongan darahnya menurut system
ABO, ditemukan 130 orang mempunyai golongan darah A, 280 orang golongan
darah B, 230 AB, 360 golongan darah O, tentukan berapa:
a. Frekuensi alel IA, IB dan I O pada populasi tesebut
b. Dari 130 rang bergolongan darah A, berapa diperkirakan homozigot I A dan
IA?
c. Dari 280 orang bergolongan darah B, berapakah yang diperkirakan
heterozigot IB IO?
Jawaban:
a. Andaikan p = frekuensi alel IA, q = frekuensi alel IB, dan r = frekuensi alel IO
menurut Hukum Hardy Weinberg.
p2 IAIA + 2pr IAIO+ q2 IBIB + 2qr IBIO + 2pq IAIB + r2 IOIO
r2 = frekuensi golongan O = 360/1000 = 0,36
r = 0,36 = 0,6
( p + r )2 = frekuensi golongan A + golongan O
= (130 + 360)/1000 = 0,49
( p + r ) = 0,49 = 0,7
p = 0,7 0,6 = 0,1
karena ( p + q + r ) = 1, maka q = 1 ( p + r )
q = 1 ( 0,1 + 0,6 ) = 0,3
jadi frekuensi alel IA = p = 0,1
frekuensi alel IB = q = 0,3
frekuensi alel IO = r = 0,6
b. Frekuensi genotip IAIA = p2 = ( 0,1 )2 = 0,01
Jadi dari 130 orang yang bergolongan darah A yang diperkirakan homozigot IAIA
= 0,01 x 1000 orang = 10 orang

c. Frekuensi genotip IBIO = 2qr = 2 ( 0,3 x 0,6 ) = 0,18


Jadi dari 150 orang yang bergolongan darah B yang diperkirakan heterozigotik
IBIO = 0,18 x 1000 orang = 180 orang.

5. Misalkan disuatu daerah terdapat 9% pria buta warna, penyakit buta warna
terpaut pada kromosom x, dimana wanita memiliki kode kromosom xx dan pria
adalah xy, tentukan berapa:
a. Presentase wanita buta warna
b. Presentase wanita normal
Jawaban:
Alel normal= p, alel buta warna = q
Maka pria buta warna xby, dengan frekuensi q= 9% =0,09dan p = 1-0,09=0,91
Frekuensi alel q = q = 0,09
Frekuensi alel p = 1 0,09 = 0,91
a. Wanita buta warna = q2 = (0,09)2= 0,0081 x 100 %= 0,81%
b. Wanita normal dengan frekuensi = p2
= (0,91)2
= 0,8281
= 0.8281 x 100% = 82,81%

6. Misalkan di suatu daerah terdapat tanaman bunga Rose dengan alel A (merah),
Aa (merah muda), dan a (putih), bila frekuensi alel A = 0.6, alel a = 0.4, dan
pada setiap generasi terjadi laju mutasi dari a ke A = 5%,
a. Kapan mulai terjadi proses evolusi dari populasi bunga tersebut?
b. Pada generasi ke berapa hasil evolusi mulai nampak?
Jawaban:
a. Proses evolusi pada bunga tersebut dimulai pada saat terjadi mutasi pada generasi
yang dihasilkan. Karena mutasi merupakan evolusi dalam skala kecil
(mikroevolusi). Maka jika sudah terjadi mutasi dari a ke A, saat itu pula evolusi
mulai terjadi.
b. Hasil evolusi mulai nampak jika frekuensi alel sudah tidak sesuai/seimbang
karena terjadinya mutasi dari a ke A yang menyebabkan dalam populasi bunga
tersebut lebih banyak tanaman dengan alel A.

7. Jelaskan apa yang dimaksud mikroevolusi dan kemungkinan penyebabnya?


Jawaban:
Mikroevolusi adalah perubahan yang terjadi dalam suatu kumpulan gen yang
menyebabkan terjadinya evolusi dalam skala kecil, mikroevolusi dapat berlangsung
walaupun frekuensi alel yang berubah hanya terjadi pada sebuah lokus gen tunggal
saja. Terdapat lima hal potensial yang menyebabkan terjadinya mikroevolusi, yaitu
hanyutan genetik, aliran gen, mutasi, perkawinan tidak acak (selektif), dan seleksi
alam.

8. Berdasarkan materi dari internet yang anda dapat, berikan gambaran umum
mengenai genetika populasi!
Jawaban:
Genetika Populasi merupakan bagian dari genetik yang mempelajari atau melukiskan
konsekuensi pewarisan mendel dari suatu populasi dalam bahasa (terminologi)
matematik. Genetik populasi berhubungan dengan frekuensi dan interaksi alel dalam
suatu populasi mendel (medium populasi), yaitu suatu kelompok interbreeding dari
organisme yang masing-masing memiliki gen pool.

SPESIASI

1. Ada dua istilah berbeda tetapi saling berkaitan dalam pembahasan kita, yaitu
spesies dan spesiasi. Bagaimana keterkaitan antara kedua hal tersebut?
Jawaban:
Keterkaitan antara kedua hal tersebut yaitu bahwa spesies yang merupakan suatu
kelompok organisme dimana anggotanya ini memiliki kemampuan bentuk dan dapat
melakukan perkawinan secara bebas di alam dan menghasilkan keturunan fetil serupa
induknya serta terpisah secara reproduktif dengan spesies lain. Maka adanya spesies
ini yang dikelompokkan seperti hal berikut akan berproses menjadi pembentukan
suatu spesies baru yang dinamakan spesiasi. Spesiasi ini tidak lain hadir atau
terbentuk karena adanya peran dari spesies di dalamnya.

2. Terdapat dua pandangan terhadap spesiasi, setuju dan tidak setuju bahwa
spesiasi masih terjadi sampai saat ini. Jelaskan apa pendapat anda dalam hal
tersebut!
Jawaban:
Pendapat saya mengenai hal tersebut adalah saya setuju dengan pendapat bahwa
spesiasi ini masih terus berjalan hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena masih
adanya variasi genetik antar individu maupun di lingkungan yang secara fisik masih
terus berubah. Walaupun proses terjadinya ini akan berjalan dan butuh waktu yang
lama untuk berubah namun perlahan suatu hal itu ada perubahan. Faktor yang
menyebabkan perubahan itu bisa terjadi secara internal maupun eksternal seperti
adanya penyakit genetis pada individu, kemudian yang eksternalnya seperti timbul
bencana alam berupa glasiasi, gunung meletus, tsunami dan sebagainya.

3. Apa persamaan dan perbedaan antara makroevolusi dan mikroevolusi?


Jawaban:
No.
1.

Perbedaan
Skala

Makroevolusi

Mikroevolusi

Perubahan evolusi yang Proses evolusi yang hanya


dapat

mengakibatkan mengakibatkan

perubahan dalam skala dalam


yang besar..

skala

mengarah

perubahan
kecil,

pada

yaitu

perubahan

frekuensi gen atau kromosom.

.
2.

Arah perubahan

Dapat mengarah kepada Perubahan di bawah tingkat


terbentuknya

species spesies".

baru.
Persamaan dari makroevolusi dan mikroevolusi yaitu keduanya terjadi dengan cara
atau mekanisme yang sama dan alasan yang sama. Mekanisme tersebut yaitu mutasi,
migrasi, seleksi alam, dan hanyutan genetika.

4. Mengapa pemisahan geografi sangat memungkinkan untuk terjadi proses


spesiasi alopatrik, parapatrik, atau peripatrik?
Jawaban:
Spesiasi/Speciation adalah suatu proses mengenai bagaimana spesies baru muncul.
Spesiasi alopatrik, terjadi pada saat suatu populasi kecil memisah dari populasi
moyangnya setelah terisolasi secara geografis. Spesiasi ini merupakan proses
spesiasi yang terjadi di daerah yang berjauhan atauberlainan dari spesies yang
sekerabat. Spesiasi parapatrik, merupakan spesiasi yang terjadi di daerah yang
bersebelahan

dengan

daerah populasi

moyangnya.

Suatu

spesies

sering

mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas, sehingga penyebarannya meliputi


lebih dari satu macam habitat dengan kondisi lingkungan berbeda. Karena ada
perbedaan habitat maka setiap populasi mengalami seleksi alam yang berbeda.
Dengan berjalannya waktu terbentuklah suatu populasiyang

berbeda dan

tidak

mampu berinteraksi secara kawin, sehingga dianggap berbeda spesies pada

daerah yang tetap bersebelahan. Spesies peripatrik merupakan proses spesiasi


yang terjadi
organisme

di daerah pinggir

penyebaran

spesies

moyangnya.

Suatu

memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap lingkungannya. Akibatnya

beberapa jenis akan menempati daerah tertentu. Lebih jauh dari daerah pusat
penyebaran, persyaratan hidupnya makin berbeda sehingga diperlukan suatu
keanekaragaman yang khusus untuk dapat hidup dan berkembang biak.

5. Mengapa pada daerah geografis yang sama juga dapat terjadi spesiasi
simpatrik?
Jawaban:
Karena tekanan seleksi di daerah yang sama akan selalu sama, maka proses spesiasi
akibat seleksi alam tidak mungkin terjadi. Tapi meskipun tinggal pada daerah yang
sama sebagian anggota populasi dapat terisolasi secara reproduksi, sehingga pada
akhirnya akan terjadi spesiasi secara simpatrik meskipun pada daerah geografis yang
sama.

6. Bagaimana proses gradualisme sehingga dapat membentuk spesies baru?


Jawaban:
Dengan proses dan selang waktu yang lama, populasi di daerah pinggir akan berubah
komposisi keanekaragaman genetiknya sehinggaa lambat laun akan menjadi spesies
yang baru.

7. Bagaimana pula dengan model kesetimbangan bersela dalam proses spesiasi?


Jawaban:
Spesies mengalami perbedaan akibat beberapa perubahan yang tiba-tiba dan bukan
melalui perubahan yang bertahap. Spesies mengalami modifikasi morfologi ketika
mereka memisah dari spesies moyangnya yang kemudian mengalami sedikit
perubahan bahkan sampai menghasilkan spesies lain. spesiasi ini bisa disebabkan oleh
perubahan dalam suatu genom.

8. Bagaimana eksaptasi dan heterokroni dapat memengaruhi munculnya struktur


baru pada proses evolusi?
Jawaban:

Asal Mula Struktur Baru Akibat Evolusi (Evolutionary Novelty)


Pada jawaban ini akan menjawab pertanyaan proses apa saja yang
menyebabkan perubahan evolusioner skala besar yang dapat kita lacak melalui catatan
fosil? Bagaimana, misalnya, suatu sifat atau ciri baru yang menentukan kelompok
taksonomik di atas level spesies, seperti adaptasi terbang pada burung, muncul? Apa
yang menyebabkan arah evolusi yang tampak dari catatan fosil menjadi semakin
progresif, seperti peningkatan ukuran otak selama evolusi manusia? Ketiga konsep
berikutnya akan memfokuskan pada proses yang relevan dengan pertanyaan mengenai
makroevolusi.
a. Sebagian besar struktur baru akibat evolusi merupakan versi yang dimodifikasi

dari struktur yang lebih tua. Catatan fosil menunjukkan bahwa burung
berkembang dari garis keturunan dinosaurus yang hidup di daratan. Bagaimana
vertebrata yang dapat terbang berkembang dari tetua yang tidak dapat terbang?
Dalam pengertian yang lebih umum, bagaimana struktur baru akibat evolusi
berkembang? Salah satu mekanismenya adalah perbaikan secara bertahap struktur
yang telah ada untuk fungsi-fungsi baru.
Banyak struktur biologis memiliki plastisitas evolusioner yang memungkinkan
terbentuknya berbagai fungsi alternatif. Istilah eksaptasi mengacu ke suatu struktur
yang berevolusi dalam satu konteks dan kemudian memiliki fungsi yang lain. Konsep
ini bukan berarti bahwa suatu struktur berkembang untuk mengantisipasi kegunaan di
masa datang. Seleksi alam tidak dapat meramalkan masa depan dan hanya dapat
memperbaiki struktur dalam konteks fungsinya saat ini. Tulang yang sangat ringan
dan berlubang mirip sarang lebah pada burung yang memang homolog dengan tulang
tetua burung yang hidup di darat. Namun demikian, tulang ringan berlubang tidak
mungkin berkembang lebih dulu dari kemampuan terbang, seperti terlihat jelas di
catatan fosil, maka tulang tersebut pasti memiliki beberapa fungsi di permukaan
tanah. Mungkin tetua burung adalah dinosaurus yang gesit dan berkaki dua, yang juga
telah diuntungkan karena memiliki rangka yang ringan. Mungkin saja bahwa bulu dan
tungkai depan yang mirip sayap, yang meningkatkan luas permukaan tungkai depan
ini, juga merupakan struktur yang dipilih sebagai organ terbang setelah berfungsi
dalam kapasitas yang lain, seperti untuk memamerkan dri-dalam percumbuan,
misalnya. Aktivitas terbang pada awalnya mungkin hanya merupakan loncatan jauh
yang dilakukan saat mengejar mangsa atau menghindar dari pemangsa. Setelah

kemampuan terbang menjadi suatu keuntungan, seleksi alamm akan merombak ulang
bulu dan sayap supaya lebih sesuai dengan fungsi tambahannya.
Eksaptasi menawarkan satu penjelasan mengenai bagaimana ciri atau sifat
baru dapat muncul secara perlahan-lahan melalui serangkaian tahapan intermediet,
dimana masing-masing tahap memiliki beberapa fungsi dalam konteks organisme
tersebut saat ini. Konsep struktur baru akibat evolusi dapat berkembang melalui
pemodelan ulang struktur tua demi mengembangkan fungsi baru sesuai dengan
pandangan Darwin yang menyatakan bahwa perubahan besar merupakan akumulasi
banyak perubahan-perubahan kecil yang disebabkan oleh seleksi alam.
b. Gen yang mengontrol perkembangan berperan penting dalam pemunculan struktur

baru akibat evolusi.


Evolusi struktur kompleks, seperti sayap dan bulu, dari struktur yang
mendahuluinya memerlukan sangat banyak pemodelan ulang sehingga kemungkinan
melibatkan sejumlah besar lokus gen. pada kasus lain, perubahan yang relatif sedikit
dalam genom sudah dapat menyebabkan modifikasi struktur yang penting. Bagaimana
perubahan genetik yang sangat sedikit dapat diperbesar sehingga meghasilkan
perbedaan yang signifikan pada berbagai organisme. Gen yang memprogram
perkembangan suatu organisme mengontrol laju, waktu dan pola perubahan spasial
bentuk organisme ketika ia mengalami perubahan bentuk dari zigot hingga menjadi
dewasa. Sebagai contoh, pertumbuhan alometrik (bahasa Yunani, allos artinya yang
lain, dan metron artinya ukuran), yaitu suatu perbedaan dalam laju pertumbuhan
relatif berbagai bagian tubuh, membantu membentuk suatu organisme. Mengubah
sedikit saja laju pertumbuhan relatif ini sudah cukup untuk mengubah bentuknya
secara signifikan saat dewasa. Sebagai contoh, pola alometrik yang berbeda turut
mempengaruhi perbedaan yang mencolok antara bentuk tengkorak manusia dan
simpanse. Alometri merupakan salah satu mekanisme dari sedikit perubahan pada
perkembangan yang akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada masa
dewasa.
Selain mempengaruhi laju pertumbuhan, perubahan genetik dapat juga
mengubah pengaturan waktu peristiwa perkembangan itu sendiri-urutan bagian tubuh
yang berbeda mulai dan berhenti berkembang. Pada beberapa spesies, perubahan
dalam waktu perkembangan mengakibatkan paedomorfosis (bahasa Yunani. Paedos
artinya anak dan morphosis artinya pembentukan), dimana suatu organisme yang
secara seksual sudah dewasa masih tetap mempertahankan sifat-sifat dari ciri yang

sebenarnya merupakan struktur juvenil pada evolusioner tetuanya. Sebagai contoh,


sebagian besar spesies salamander melalui tahapan larva yang mengalami
metamorfosis menjadi hewan dewasa.
Akan tetapi, banyak spesies tumbuh mencapai ukuran dewasa dan menjadi
dewasa secara seksual namun masih tetap mempertahankan insang dan ciri-ciri lain
tertentu dari larva. Perubahan evolusioner dari waktu perkembangan seperti itu dapat
menghasilkan hewan yang tampak sangat berbeda dari tetuanya.
Perubahan dalam kronologi perkembangan juga penting dalam evolusi
manusia. Manusia dan simpanse sangat dekat kekerabatannya karena diturunkan dari
tetua yang sama. Diantara begitu banyak perbedaan anatomi antara kedua primata
modern ini, hal yang dapat menjadi penyebab ciri alometrik yang berbeda dan variasi
dalam pengaturan waktu perkembangannya adalah ukuran otak. Otak manusia secara
proposional lebih besar dibandinngkan dengan otak simpanse karena pertumbuhan
organ itu berdurasi jauh lebih lama pada perkembangan manusia. Dibandingkan
dengan otak simpanse, otak kita tumbuh beberapa tahun lebih lama, yang dapat
diartikan sebagai perpanjangan proses juvenil. Kita berhutang pada kebudayaan kita
terhadap munculnya struktur baru akibat evolusi ini, karena dalam kebudayaan kita
terdapat suatu masa kanak-kanak yang diperpanjang, di mana selama itu orang tua
dan guru dapat mempengaruhi apa yang akan disimpan oleh otak muda yang masih
tumbuh. Semua contoh perubahan temporal dalam perkembangan yang menciptakan
pemunculan struktur baru akibat evolusi tersebut sesuai dengan katagori heterokroni,
yaitu suatu istilah umum untuk perubahan evolusi dalam pengaturan waktu atau laju
dari perkembangan.