Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan kerja atau kegiatan. Tanpa energi,

dunia ini akan diam atau beku. Dalam kehidupan manusia selalu terjadi kegiatan dan untuk
kegiatan otak serta otot diperlukan energi. Energi itu diperoleh melalui proses oksidasi
(pembakaran) zat makanan yang masuk ke tubuh berupa makanan. Kegiatan manusia lainnya
dalam memproduksi barang, transportasi, dan lainnya juga memerlukan energi yang diperoleh
dari bahan sumber energi atau sering disebut sumber daya alam (natural resources).
Sumber daya alam itu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
1.

Sumber daya alam yang dapat_diperbarui (renewable) atau hampir tidak dapat habis.
Misalnya: tumbuhan hewan. air, tanah, sinar matahari, angin, dan sebagainya.

2.

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (unjenewable) atau habis.
Misalnya: minyak bumi atau batu bara.
Turbin angin adalah kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik.

Turbin angin ini pada awalnya dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan para petani dalam
melakukan penggilingan padi, keperluan irigasi dan lain - lain. Kini turbin angin lebih banyak
digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan listrik masyarakat, dengan menggunakan prinsip
konversi energi. Walaupun sampai saat ini pembangunan turbin angin masih belum dapat
menyaingi pembangkit listrik konvensional (seperti PLTD, PLTU dan lain lain), turbin angin
masih lebih dikembangkan oleh para ilmuwan karena dalam waktu dekat manusia akan
dihadapkan dengan masalah kekurangan sumber daya alam tak terbaharui (seperti batubara,
minyak bumi) sebagai bahan dasar untuk membangkitkan listrik.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Energi Angin, maka pada makalah ini akan
dibahas semua tentang Energi Angin. Perlu diketahui bahwa energi dapat diubah dari suatu
bentuk ke bentuk lainnya. Misalnya, energi potensial air (air terjun) dapat diubah menjadi
energi gerak, energi listrik, dan seterusnya.
1

1.2

Rumusan Makalah
1. Apa itu energi angin?
2. Apa itu turbin angin?
3. Dimana saja lokasi pemanfaatan energi angin
4. Berapa potensi energi angin?
5. Bagaimana pemanfaatan angin Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTB)?

1.3

Tujuan
1. Mengetahui pengertian energy angina
2. Mengetahui tentang turbin angin
3. Mengetahui lokasi pemanfaatan energi angin
4. Mengetahui potensi energi angin
5. Mengetahui pemanfaatan angin Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTB)

1.4

Manfaat
1. Mengetahui pengertian energy angina
2. Mengetahui tentang turbin angin
3. Mengetahui lokasi pemanfaatan energi angin
4. Mengetahui potensi energi angin
5. Mengetahui pemanfaatan angin Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTB)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Angin
2

Dua ribu tahun yang lalu manusia sudah dapat memanfaatkan energi angin
untuk usaha sederhana. Beratus-ratus tahun kemudian energi angin itu menjadi semakin jelas
pemanfaatannya. Kapal kecil dan besar dapat mengarungi lautan luas dengan bantuan energi
angin yang meniup layar kapal. Angin merupakan udara yang bergerak; udara yang berpindah
tempat, mengalir dari tempat yang dingin ke tempat yang panas dan dari tempat yang panas
mengalir ke tempat yang dingin, demikian terus-menerus.
Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan bakar fosil
kecuali energi pasang surut dan panas bumi berasal dari Matahari. Matahari meradiasi 1,74 x
1.014 kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam. Dengan kata lain, Bumi menerima 1,74 x 1.017
watt daya.
Sekitar 1-2 persen dari energi tersebut diubah menjadi energi angin. Jadi, energi angin
berjumlah 50-100 kali lebih banyak daripada energi yang diubah menjadi biomassa oleh
seluruh

tumbuhan

yang

ada

di

muka

Bumi. Sebagaimana

diketahui,

pada

dasarnya angin terjadi karena ada perbedaan temperatur antara udara panas dan udara dingin.
Daerah sekitar khatulistiwa, yaitu pada busur 0, adalah daerah yang mengalami pemanasan
lebih banyak dari Matahari dibanding daerah lainnya di Bumi.
Daerah panas ditunjukkan dengan warna merah, oranye, dan kuning pada
gambar inframerah dari temperatur permukaan laut yang diambil dari satelit NOAA-7
pada Juli 1984. Udara panas lebih ringan daripada udara dingin dan akan naik ke atas sampai
mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer dan akan tersebar ke arah utara dan selatan.
Jika Bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara akan tiba di kutub utara
dan kutub selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke khatulistiwa. Udara yang
bergerak inilah yang merupakan energi yang dapat diperbaharui, yang dapat digunakan
untuk memutar turbin dan akhirnya dapat menghasilkan listrik.
Angin adalah proses alam yang berlaku secara skala kecil dan skala besar,
secara lingkup daerah dan dunia. Di lapisan atmosfir bawah udara dingin mengalir dari daerah
kutub menuju daerah khatulistiwa dan di lapisan atmosfir atas udara hangat mengalir dari
khatuistiwa menuju daerah kutub.
Angin merupakan suatu energi alam yang berlimpah adanya di bumi yang
juga merupakan

energi

yang

murah

serta

tak

pernah habis.

Energi

angin

telah

lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia. Adapun pemanfaatannya adalah antara lain :
3

Pemompaan air untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.


Melaksanakan kegiatan pertanian, seperti menggiling jagung, menggiling

tepung, tebu.

Mengalirkan air laut untuk pembuatan garam.


Membangkitkan tenaga listrik khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga
Angin

2.2

terutama untuk daerah yang belum terjangkau oleh PLN.

Pengertian Energi Angin


Salah satu energi terbarukan yang berkembang pesat di dunia saat ini adalah energi

angin. Energi angin merupakan energi terbarukan yang sangat fleksibel. Energi angin dapat
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya pemompaan air untuk irigasi, pembangkit
listrik, pengering atau pencacah hasil panen, aerasi tambak ikan/udang, pendingin ikan pada
perahu-perahu nelayan dan lain-lain. Selain itu, pemanfaatan energi angin dapat dilakukan di
mana-mana, baik di daerah landai maupun dataran tinggi, bahkan dapat di terapkan di laut,
berbeda halnya dengan energi air.
Pemanfaatan energi angin ini, selain dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi
fosil, diharapkan juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem pertanian, yang
pada gilirannya akan meningkatkan produktifitas masyarakat pertanian. Walaupun
pemanfaatan energi angin dapat dilakukan di mana saja, daerah-daerah yang memiliki potensi
energi angin yang tinggi tetap perlu diidentifikasi agar pemanfaatan energi angin ini lebih
kompetitif dibandingkan dengan energi alternatif lainnya. Angin selama ini dipandang sebagai
proses alam biasa yang kurang memiliki nilai ekonomis bagi kegiatan produktif masyarakat.
Secara umum, pemanfaatan tenaga angin di Indonesia memang kurang mendapat
perhatian. Sampai tahun 2004, kapasitas terpasang dari pemanfaatan tenaga angin hanya
mencapai 0.5 MW dari 9.29 GW potensi yang ada (DESDM, 2005). Padahal kapasitas
pembangkitan listrik tenaga angin di dunia telah berkembang pesat dengan laju pertumbuhan
kumulatif sampai dengan tahun 2004 melebihi 20 persen per tahun. Dari kapasitas terpasang 5
GW pada tahun 1995 menjadi hampir 48 GW pada akhir tahun 2004 tersebar dalam 74,400
turbin angin di sekitar 60 negara (BTM Consults ApS, 2005). Menunjukan laju pertumbuhan
energi angin tahunan dunia.
2.3

Proses Terjadinya Angin


4

Angin terjadi bila terdapat pemanasan permukaan bumi yang tak sama oleh
sinar matahari. Disiang hari udara di atas lautan relati lebih dingin daripada daratan.
Sinar matahari menguapkan air lautan dan diserap lautan. Penguapan dan obsorsi
sinar matahari di daratan kurang sehingga udara di atas daratan lebih panas. Dengan demikian
udara di atas mengembang,jadi ringan dan naik ke atas.
Udara dingin yang lebih berat turun mengisi kekurangan udara di daratan,
Maka terjadilah aliran udara yang disebit angin dari lautan ke daratan tepi pantai. Di
malam hari peristiwa yang sebaliknya terjadi, angin di permukaan laut mengalir dari pantai ke
tengah lautan dan peristiwa inilah yang dimanfaatkan oleh para nelayan untuk mencari ikan di
lautan. Angin di lereng gunung juga terjadi demikian. Pada sekitar puncak pegunungan lebih
dulu panas dibandingkan dengan daerah lembah. Karena perbedaan panas ini sehingga
menimbulkan perbedaan tekanan yang akhirnya timbul angin biasa yang disebut angin lembah
dan angin gunung.
2.4

Turbin Angin
2.4.1 Sejarah Turbin Angin
Sebuah turbin

angin adalah

nama

populer

untuk

perangkat

yang

mengubah energi kinetik dari angin menjadi tenaga listrik . Secara teknis tidak ada
turbin yang digunakan dalam desain tetapi istilah tampaknya telah bermigrasi dari
teknologi listrik tenaga air paralel.Deskripsi yang benar untuk jenis mesin
akan aerofoil-powered generator .
Hasil lebih dari seribu tahun pembangunan kincir angin dan rekayasa modern,
turbin angin saat ini diproduksi dalam berbagai jenis sumbu vertikal dan
horisontal. Terkecil turbin digunakan untuk aplikasi seperti pengisian baterai untuk
daya tambahan untuk kapal ataukafilah atau lalu lintas kekuasaan tanda-tanda
peringatan. Sedikit turbin lebih besar dapat digunakan untuk membuat kontribusi
untuk power supply dalam negeri sementara penjualan listrik yang tidak terpakai
kembali ke pemasok utilitas melalui jaringan listrik . Array dari turbin besar, yang
dikenal sebagai peternakan angin , menjadi sumber yang semakin penting dari energi

terbarukan dan digunakan oleh banyak negara sebagai bagian dari strategi untuk
mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil .
Kincir angin yang digunakan di Persia (sekarang Iran) sedini 200 SM The
windwheel dari Hero of Alexandria menandai salah satu contoh pertama yang
diketahui angin powering mesin dalam sejarah. Namun, yang pertama kincir angin
praktis dikenal dibangun di Sistan , sebuah provinsi Timur Iran, dari abad ke-7. Ini
" Panemone "yang kincir angin poros vertikal, yang memiliki panjang vertikaldrive
shaft dengan pisau persegi panjang. Terbuat dari enam hingga dua belas layar tertutup
alang-alang anyaman atau bahan kain, kincir angin ini digunakan untuk menggiling
gandum atau menyusun air, dan digunakan dalam gristmilling dan tebu industri.
Kincir angin pertama kali muncul di Eropa selama Abad Pertengahan . Catatan
sejarah pertama penggunaan mereka di tanggal Inggris ke abad ke-11 atau ke-12 dan
ada laporan dari Jerman tentara salib mengambil keterampilan membuat kincir anginmereka untuk Suriah sekitar 1190.

Pada abad ke-14, kincir angin Belanda digunakan

untuk mengalirkan daerah dari Rhine delta.


Pertama turbin angin menghasilkan listrik adalah mesin pengisian baterai yang
dipasang pada bulan Juli 1887 oleh akademik SkotlandiaJames Blyth untuk menerangi
rumah liburannya di Marykirk , Skotlandia. Beberapa bulan kemudian penemu
Amerika Charles F. Brushdibangun pertama otomatis dioperasikan turbin angin untuk
produksi listrik di Cleveland, Ohio. Meskipun turbin Blyth ini dianggap tidak
ekonomis di Inggris. Pembangkit listrik oleh turbin angin adalah biaya yang lebih
efektif di negara-negara dengan populasi tersebar luas.
Di Denmark pada tahun 1900, ada sekitar 2.500 kincir angin untuk beban
mekanis seperti pompa dan pabrik, memproduksi sekitar puncak kekuasaan gabungan
dari sekitar 30 MW. Mesin-mesin terbesar berada di 24 meter (79 kaki) menara dengan
empat-berbilah 23 meter (75 kaki) diameter rotor. Pada 1908 ada 72 generator listrik
angin-driven yang beroperasi di Amerika Serikat dari 5 kW sampai 25 kW. Sekitar

waktu Perang Dunia I, pembuat kincir angin Amerika yang memproduksi 100.000
kincir angin pertanian setiap tahun, sebagian besar untuk air-pompa.
Dengan tahun 1930-an, generator angin untuk listrik yang umum di pertanian,
terutama di Amerika Serikat di mana sistem distribusi belum diinstal. Pada periode ini,
baja tarik tinggi murah, dan generator ditempatkan di atas prefabrikasi baja terbuka
menara kisi. Sebuah pelopor modern generator angin horisontal sumbu berada di
layanan di Yalta , Uni Soviet pada tahun 1931. Ini adalah generator 100 kW pada 30
meter (98 kaki) menara, terhubung ke sistem distribusi 6,3 kV lokal. Dilaporkan
memiliki tahunan faktor kapasitas dari 32 persen, tidak jauh berbeda dari mesin angin
saat ini.
Pada musim gugur 1941, yang pertama turbin angin megawatt kelas
disinkronisasi ke jaringan utilitas di Vermont . The Smith-Putnam turbin angin hanya
berlari selama 1.100 jam sebelum menderita kegagalan kritis. Unit tidak diperbaiki,
karena kekurangan bahan selama perang. Utilitas pertama terhubung jaringan-turbin
angin untuk beroperasi di Inggris dibangun oleh John Brown & Company pada tahun
1951 di Kepulauan Orkney.
Meskipun perkembangan ini beragam, perkembangan sistem bahan bakar fosil
hampir seluruhnya dihilangkan setiap sistem turbin angin lebih besar dari ukuran
Supermicro. Pada awal 1970-an, bagaimanapun, protes anti-nuklir di Denmark
memacu mekanik tukang mengembangkan microturbines dari 22 kW.Pengorganisasian
pemilik dalam asosiasi dan koperasi mengarah pada melobi pemerintah dan utilitas
dan insentif yang diberikan untuk turbin lebih besar sepanjang tahun 1980 dan
kemudian. Aktivis lokal di Jerman, produsen turbin baru lahir di Spanyol, dan investor
besar di Amerika Serikat pada awal 1990-an kemudian melobi untuk kebijakan yang
mendorong industri di negara-negara. Kemudian perusahaan yang dibentuk di India
dan China. Pada 2012, perusahaan Denmark Vestas adalah produsen turbin angin
terbesar di dunia.

Tinggi muka air di berbagai bendungan terutama yang dimanfaatkan sebagai


sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA), telah menurunkan pasokan listrik di
Jawa hingga 500 megawatt. Sebagai salah satu sumber pemasok listrik, PLTA bersama
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG)
memang memegang peran penting terhadap ketersediaan listrik terutama di Jawa,
Madura, dan Bali. Energi angin yang sebenarnya berlimpah di Indonesia ternyata
belum dimanfaatkan sebagai alternatif penghasil listrik. Padahal, di berbagai negara,
pemanfaatan energi angin sebagai sumber energi alternatif nonkonvensional sudah
semakin mendapatkan perhatian.
Hal ini tentu saja didorong oleh kesadaran terhadap timbulnya krisis
energi dengan kenyataan bahwa kebutuhan energi terus meningkat sedemikian
besarnya. Di samping itu, angin merupakan sumber energi yang tak ada habisnya
sehingga pemanfaatan

sistem konversi

energi

angin

akan

berdampak

positif

terhadap lingkungan.
2.4.2

Prinsip Kerja Turbin Angin/Kincir Angin


Energi angin tersedia dalam jumlah tidak terbatas, selama bumi masih

memiliki cadangan udara. Energi tersebut dihasilkan oleh angin yang menggerakkan
kincir angin ukuran raksasa. Biasanya kincir angin sebagai penghasil energi diletakkan
pada wilayah tertentu dengan tingkat intensitas angin yang tinggi.
Untuk menggerakan blade / baling-baling agar bisa berputar saja harus
memiliki kecepatan angin 2 meter/detik dan untuk menghasilkan listrik yang stabil
sesuai kapasitas generatornya rata-rata 6 s/d 10 meter/detik.
Pembangkit ini bisa digunakan untuk skala kecil, menengah dan besar karena
arus yang dihasilkan dalam 1 jam lebih besar serta membutuhkan investasi yang lebih
murah ketimbang PLTS .Daerah yang cocok digunakan pembangkit ini adalah daerah
pantai, pesisir, pegunungan.
Kincir angin merupakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Awal
mulanya kincir angin digunakan pada zaman babilonia untuk penggilingan padi.

Penggunaan teknologi modern dimulai sekitar tahun 1930, diperkirakan ada


sekitar 600.000 buah kincir angin untuk berbagai keperluan. Saat ini kapasitas daya
yang dihasilkan kincir angin skala industri antara 1 4 mw.

Cara kincir angin bekerja sangat sederhana yaitu:

Angin akan meniup bilah kincir angin sehingga bilah bergerak

bilah kincir angin akan memutar poros didalam nacelle

Poros dihubungkan ke gearbox, di gearbox kecepatan perputaran poros


ditingkatakan dengan cara mengatur perbandingan roda gigi dalam
gearbox

gearbox dihubungkan ke generator. generator merubah energi mekanik


menjadi energi listrik

dari generator energi listrik menuju transformer untuk menaikan


tegangannya kemudian baru didistribusikan ke konsumen

2.4.3

Jenis Turbin Angin


Turbin angin dibagi menjadi dua kelompok utama berdasarkan arah sumbu:

1. Turbin Angin Sumbu Horizontal


Turbin Angin Sumbu Horizontal (TASH) memiliki poros rotor utama
dan generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh
sebuah baling-baling angin (baling-baling cuaca) yang sederhana, sedangkan
turbin berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin yang
digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah gearbox
yang mengubah perputaran kincir yang pelan menjadi lebih cepat berputar.
Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya, turbin
biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah turbin dibuat
kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin berkecepatan
tinggi. Sebagai tambahan, bilah-bilah itu diletakkan di depan menara pada
jarak tertentu dan sedikit dimiringkan.
Karena turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan
realibilitas begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin upwind
(melawan arah angin). Meski memiliki permasalahan turbulensi, mesin
downwind (menurut arah angin) dibuat karena tidak memerlukan mekanisme
tambahan agar mereka tetap sejalan dengan angin, dan karena di saat angin
berhembus sangat kencang, bilah-bilahnya bisa ditekuk sehingga mengurangi
wilayah tiupan mereka dan dengan demikian juga mengurangi resintensi angin
dari bilah-bilah itu.
Tabel 1.1 Kelebihan dan Kekurangan Turbin Angin Sumbu Horizontal
Turbin Angin Sumbu Horizontal
Kelebihan

Dasar

menara

Kekurangan
yang

tinggi

Menara yang tinggi serta bilah yang

membolehkan akses ke angin yang

panjang

sulit

lebih kuat di tempat-tempat yang

memerlukan

diangkut
biaya

dan

besar

juga
untuk

10

memiliki geseran angin (perbedaan

pemasangannya, bisa mencapai 20%

antara laju dan arah angin) antara dua

dari seluruh biaya peralatan turbin

titik yang jaraknya relatif dekat di


dalam atmosfir bumi. Di sejumlah

angin.
TASH yang tinggi sulit dipasang,

lokasi geseran angin, setiap sepuluh

membutuhkan derek yang yang sangat

meter

tinggi dan mahal serta para operator

ke

atas,

kecepatan

angin

meningkat sebesar 20%.

yang terampil.
Konstruksi
menara

yang

besar

dibutuhkan untuk menyangga bilahbilah

yang

generator.
Ukurannya

berat,
yang

gearbox,

tinggi

dan

merintangi

jangkauan pandangan dan mengganggu

pemandangan.
Berbagai varian downwind menderita
kerusakan struktur yang disebabkan
oleh turbulensi.

1-blade Wind Turbine

2-blade Wind Turbine

3-blade WindTurbine

2. Turbin Angin Sumbu Vertikal


11

Kendala penggunaan turbin angin adalah kecepatan angin dan arah angin
yang berubah-ubah sepanjang waktu. Oleh karena itu, turbin angin yang baik
adalah turbin yang dapat menerima angin dari segala arah selain itu juga mampu
bekerja pada angin dalam kecepatan yang rendah salah satunya Turbin Angin
Sumbu Vertikal (TASV). Turbin ini memiliki efisiensi yang lebih kecil
dibandingkan dengan turbin angin sumbu horizontal.
Ada berbagai type TASV yang sering digunakan diantaranya adalah Tipe
Savonius, Tipe Darrieus, dan Tipe H-Rotor.
a.

Tipe Savonius TASV seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah,

diciptakan oleh seorang insinyur Finlandia SJ Savonius pada tahun 1929.


Kincir TASV ini merupakan jenis yang paling sederhana dan menjadi versi
besar dari anemometer. Kincir Savonius dapat berputar karena adanya gaya
dorong dari angin, sehingga putaran rotorpun tidak akan melebihi
kecepatan angin. Meskipun daya koefisien untuk jenis turbin angin
bervariasi antara 30% sampai 45%, menurut banyak peneliti untuk jenis
Savonius biasanya tidak lebih dari 25%. Jenis turbin ini cocok untuk
aplikasi daya yang rendah dan biasanya digunakan pada kecepatan angin
yang berbeda.

b.

Type Darrieus TASV ditemukan oleh seorang insinyur Perancis

George Jeans Maria Darrieus yang dipatenkan pada tahun 1931. Ia


memiliki 2 bentuk turbin yang digunakan diantaranya adalah
Eggbeater/ Curved Bladed dan Straightbladed TASV. Sketsa dari
12

kedua variasi konsep Darrieus ditunjukkan dalam gambar dibawah.


Kincir angin Darrieus TASV mempunyai bilah sudu yang disusun
dalam posisi simetri dengan sudu bilah yang diatur relatif terhadap
poros. Pengaturan ini cukup efektif untuk menangkap berbagai arah
angin. Berbeda dengan Savonius, kincir angin Darrieus bergerak
dengan memanfaatkan gaya angkat yang terjadi ketika angin bertiup.
Bilah sudu turbin Darrieus bergerak berputar mengelilingi sumbu.

Eggbeater/Curved Bladed Darrieus

c.

Straight-Bladed Darrieus

Type H-rotor ditunjukkan pada gambar di atas, dikembangkan di

Inggris melalui penelitian yang dilakukan selama 1970-1980an,


13

diuraikan bahwa mekanisme yang digunakan pada pisau berbilah lurus


(Straight-bladed) Darrieus TASV tidak diperlukan, ternyata ditemukan
bahwa efek hambatan yang diciptakan oleh sebuah pisau akan
membatasi kecepatan aliran angin. Oleh karena itu, H-rotor akan
mengatur semua kecepatan angin untuk mencapai kecepatan putaran
optimalnya.

Tabel 1.2 Kelebihan dan Kekurangan Turbin Angin Aksis Vertikal


Turbin Angin Aksis Vertikal
Kelebihan

Kekurangan

Tidak membutuhkan struktur menara yang


besar.
Sebuah TASV bisa diletakkan lebih dekat ke

energi hanya 50% dari efisiensi TASH

tanah,

saat kincir berputar.


TASV tidak mengambil keuntungan

membuat

pemeliharaan

lebih

keaerodinamisan

tinggi,
yang

memberikan
tinggi

memproduksi

dari angin yang melaju lebih kencang di

baling-baling yang terlihat secara melintang)


yang

TASV

karena drag tambahan yang dimilikinya

bagian-

bagiannya yang bergerak jadi lebih mudah.


Memiliki sudut airfoil (bentuk bilah sebuah

Kebanyakan

elevasi yang lebih tinggi.


Kebanyakan TASV mempunyai torsi

sembari

awal yang rendah, dan membutuhkan

mengurangi drag pada tekanan yang rendah

energi untuk mulai berputar.


Sebuah TASV yang menggunakan

dan tinggi.
Desain TASV berbilah lurus dengan potongan

kabel untuk menyanggahnya memberi


14

melintang berbentuk kotak atau empat persegi

tekanan pada bantalan dasar karena

panjang memiliki wilayah tiupan yang lebih

semua berat rotor dibebankan pada

besar

daripada

bantalan. Kabel yang dikaitkan ke

wilayah tiupan berbentuk lingkarannya TASV.


TASV memiliki kecepatan awal angin yang

puncak bantalan meningkatkan daya

untuk

diameter

tertentu

dorong ke bawah saat angin bertiup.

lebih rendah daripada TASH. Biasanya TASV


mulai menghasilkan listrik pada 10 km/jam (6

m.p.h.)
TASV biasanya memiliki tip speed ratio
(perbandingan antara kecepatan putaran dari
ujung sebuah bilah dengan laju sebenarnya
angin) yang lebih rendah sehingga lebih kecil
kemungkinannya

rusak

di

saat

angin

berhembus sangat kencang.


TASV bisa didirikan pada lokasi-lokasi
dimana struktur yang lebih tinggi dilarang

dibangun.
TASV yang ditempatkan di dekat tanah bisa
mengambil keuntungan dari berbagai lokasi
yang menyalurkan angin serta meningkatkan
laju angin (seperti gunung atau bukit yang

puncaknya datar dan puncak bukit).


TASV tidak harus diubah posisinya jika arah
angin berubah.

2.5

Alat Pengukur Kecepatan Angin


Dalam mengetahui seberapa besar kecepatan hembusan suatu angin maka perlu suatu

alat/parameter pengukur kecepatan angin itu. Alat yang sering digunakan dalam mengukur
kecepatan angin biasa disebut anemometer. Anemometer adalah sebuah alat pengukur

15

kecepatan angin yang banyak dipakai dalam bidang Meteorologi dan Geofisika atau stasiun
prakiraan cuaca. Nama alat ini berasal dari kata Yunani anemos yang berarti angin. Perancang
pertama dari alat ini adalah Leon Battista Alberti pada tahun 1450. Selain mengukur
kecepatan angin, alat ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin itu.
Anemometer jenis mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer
mangkok mempunyai sumbu vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap
angin. Jumlah putaran per menit dari poros anemometer dihitung secara elektronik. Biasanya,
anemometer dilengkapi dengan sudut angin untuk mendeteksi arah angin. Jenis anemometer
lain adalah anemometer ultrasonik atau jenis laser yang mendeteksi perbedaan fase dari suara
atau cahaya koheren yang dipantulkan dari molekul-molekul udara.

2.6

Potensi Energi Angin


Kecepatan angin rata-rata di Indonesia berkisar antara 1,3-6,3 m/s. Daerah potensi
energi angin utama yang terletak di Timur dan Nusa Tenggara Barat (bagian timur
dan barat pulau-pulau Lesser Sunda, selatan tengah dan selatan timur Indonesia)
yang memiliki kecepatan angin rata-rata lebih dari 5 m/s. Perkiraan potensi tenaga
angin di Indonesia diperkirakan sekitar 9.500 MW. Namun, Indonesia tertinggal
potensinya, dengan kapasitas terpasang sekitar 1,2 MW. Sebuah database dengan
potensi energi angin dari masing-masing daerah tersedia dari Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
16

2.7

Lokasi Pemanfaatan Energi Angin


Lokasi yang diinginkan dalam penempatan turbin angin adalah pada daerah
yang memiliki kecepatan angin yang relatif konstan, arahnya tak berubah-ubah
dan sedikit kemungkinan kecepatan angin yang sangat besar. Ditinjau dari
letaknya pemanfaatan energi angin dibedakan menjadi tiga, onshore, offshore dan
nearshore.
Instalasi turbin onshore didefinisikan pada jarak 3 km atau lebih dari garis
pantai dan umumnya instalasi dilakukan di daerah berbukit untuk mendapatkan
percepatan topografis. Akan tetapi penentuan lokasi tepatnya harus dilakukan
secara hati-hati karena dapat menyebabkan perbedaan kecepatan angin yang
signifikan.
Instalasi turbin nearshore umumnya didefinisikan di wilayah pantai dari 3 km
di daratan ke 10 km pada laut dari garis pantai. Pemanfaatan pada lokasi ini
mengutamakan keuntungan dari adanya angin darat dan angin laut sehubungan
dengan perbedaan suhu laut dan darat.
Ketika instalasi dilakukan di laut lebih dari 10 km dari pantai maka disebut
sebagai intalasi turbin offshore. Keuntungan dari pemasangan ini disebabkan oleh
kecepatan angin yang relatif lebih tinggi sehubungan dengan tahanan geseknya
yang lebih rendah dibandingkan di daratan. Selain itu, keberadaan turbin-turbin
relatif tidak mengganggu dibandingkan dengan pemasangan di daratan. Akan
tetapi, pemasangan di laut tentu akan memiliki kekurangan yakni membutuhkan
transmisi yang lebih kompleks sehubungan dengan jarak dan harus melalui lautan.

17

Ketika turbin-turbin ini diinstalasi dalam jumlah yang besar maka instalasi ini
sering disebut sebagai ladang angin (wind farm). Pada ladang angin perlu

diperhatikan "efek wind park" yakni turbin-turbin ini cenderung menghalangi


turbin yang lain. Umumnya digunakan jarak antar turbin 3 - 5 kali diameter turbin
pada instalasinya.

2.8

Pembangkit Listrik Tenaga Angin/Bayu (PLTB)


Berdasarkan data IEA Clean Coal Center (sampai Mei 2012) menunjukkan bahwa

jumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) didunia telah mencapai 2300 unit (7000 unit
individu). Data ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa konsumsi energi fosil
dalam pemenuhan energi listrik sangat besar. Penggunaan energi fosil dalam pemenuhan
energi listrik ini ternyata lambat laun menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.
Dampak buruk yang paling terasa saat ini adalah global warming (pemanasan global).
Semakin banyaknya dampak buruk yang timbul akibat penggunaan energi fosil ini,
menyebabkan banyak negara membangun dan mengembangkan berbagai macam pembangkit
listrik dengan energi alternatif. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga bayu / angin
(PLTB). Pembangkit listrik tenaga bayu / angin (PLTB) merupakan pembangkit listrik yang
dapat mengkonversi (mengubah) energi angin menjadi energi listrik. Energi angin memutar
tubin angin / kincir angin. Turbin angin yang berputar juga menyebabkan berputarnya rotor
generator karena satu poros sehingga dapat menghasilkan energi listrik.

18

Penggunaan angin sebagai energi utama dalam pembangkitan energi listrik saat ini
tentunya tidak lepas dari sejarah penggunaan angin dalam pemenuhan kebutuhan hidup
manusia. Berikut akan adalah sejarah pengguanaan angin hingga akhirnya kini digunakan
untuk membangkitkan energi listrik.
2.8.1

Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Angin/Bayu (PLTB)


Sejak dahulu, orang telah memanfaatkan energi angin. Lebih dari 5.000 tahun

yang lalu, orang Mesir kuno menggunakan angin untuk berlayar kapal di Sungai Nil.
Kemudian, orang-orang membangun kincir angin untuk menggiling gandum dan bijibijian. Kata "Kincir Angin" awalnya dikenal di Persia (Iran). Kincir angin ini sendiri
awalnya tampak seperti roda dengan dayung-dayung yang besar. Berabad-abad
kemudian, orang-orang Belanda mengembangkan desain dasar dari kincir angin ini.
Mereka membuat baling-baling berjenis pisau, namun masih berbentuk layar.
Koloni Amerika menggunakan kincir angin untuk menggiling gandum dan
jagung, memompa air, dan memotong kayu di pabrik kayu. Sampai akhir tahun 1920an, Amerika menggunakan kincir angin kecil untuk menghasilkan listrik di daerah
pedesaan tanpa layanan listrik. Namun ketika kabel listrik mulai mengalirkan listrik ke
daerah-daerah pedesaan di tahun 1930-an, kincir angin lokal mulai jarang digunakan,
meskipun kincir angin ini masih dapat dilihat pada beberapa peternakan di daerah
barat.

Turbin Angin Mulai Ditinggalkan


19

Krisis minyak di tahun 1970-an mengubah gambaran energi bagi negaranegara dunia. Hal ini menciptakan minat tersendiri terhadap sumber-sumber energi
alternatif, membuka jalan kembali bagi kincir angin untuk menghasilkan listrik. Di
awal 1980-an, penggunaan energi angin benar-benar pesat di California, sebagian
adalah karena kebijakan negara yang mendorong sumber energi terbarukan. Dukungan
untuk pengembangan energi angin ini kemudian menyebar ke negara-negara lain.
Disaat yang bersamaan, California telah menghasilkan lebih dari dua kali lipat energi
angin dibandingkan dengan negara lain. Saat ini telah ada pembangkit listrik tenaga
angin

lepas

pantai

(offshore),

seperti di

daerah

lepas

pantai

Cape

Cod,

Massachusetts, Amerika Serikat.

PLTB Lepas Pantai Cap Cod, Amerika Serikat

2.8.2

Komponen Turbin Angin


Turbin angin yang digunakan pembangkit listrik tenaga bayu / angin (PLTB)

tersusun dari berbagai komponen. Berikut akan dijelaskan bagian-bagian dari turbin
angin :

20

Bagian-Bagian Kincir Angin

1. Blades
Kebanyakan turbin baik dua atau tiga pisau. Angin bertiup di atas menyebabkan pisau
pisau untuk mengangkat dan berputar.
2.Rotor
Pisau dan terhubung bersama-sama disebut rotor
3. Pitch
Blades yang berbalik, atau nada, dari angin untuk mengontrol kecepatan rotor dan
menjaga rotor berputar dalam angin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk
menghasilkanlistrik.
4. Brake
Digunakan untuk menjaga putaran pada poros setelah gearbox agar bekerja pada titik
aman saat terdapat angin yang besar. Alat ini perlu dipasang karena generator memiliki
titik kerja aman dalam pengoperasiannya. Generator ini akan menghasilkan energi
listrik maksimal pada saat bekerja pada titik kerja yang telah ditentukan. Kehadiran
angin diluar diguaan akan menyebabkan putaran yang cukup cepat pada poros
generator, sehingga jika tidak diatasi maka putaran ini dapat merusak generator.
21

Dampak dari kerusakan akibat putaran berlebih diantaranya overheat, rotor


breakdown, kawat pada generator putus karena tidak dapat menahan arus yang cukup
besar.
5.Low-Speed Shaft
Mengubah poros rotor kecepatan rendah sekitar 30-60 rotasi per menit.
6.Gear Box
Gears menghubungkan poros kecepatan tinggi di poros kecepatan rendah dan
meningkatkan kecepatan sekitar 30-60 rotasi per menit (rpm), sekitar 1000-1800 rpm,
kecepatan rotasi yang diperlukan oleh sebagian besar generator untuk menghasilkan
listrik. gearbox adalah bagian mahal (dan berat) dari turbin angin dan insinyur
generator mengeksplorasi direct-drive yang beroperasi pada kecepatan rotasi yang
lebih rendah dan tidak perlu kotak gigi.
7. Generator
Berfungsi mengkonversi energi putar menjadi energi listrik. Ada berbagai jenis
generator yang dapat digunakan dalam sistem turbin angin, antara lain generator
serempak

(synchronous

generator),

generator

tak-serempak

(unsynchronous

generator), rotor sangkar maupun rotor belitan ataupun generator magnet permanen.
Penggunaan generator serempak memudahkan kita untuk mengatur tegangan dan
frekuensi keluaran generator dengan cara mengatur-atur arus medan dari generator.
Sayangnya penggunaan generator serempak jarang diaplikasikan karena biayanya yang
mahal, membutuhkan arus penguat dan membutuhkan sistem kontrol yang rumit.
Generator tak-serempak sering digunakan untuk sistem turbin angin dan sistem
mikrohidro, baik untuk sistem fixed-speed maupun sistem variable speed.
8. Controller
Pengontrol mesin mulai dengan kecepatan angin sekitar 8-16 mil per jam (mph) dan
menutup mesin turbin sekitar 55 mph. tidak beroperasi pada kecepatan angin sekitar
55 mph di atas, karena dapat rusak karena angin yang kencang.
22

9.Anemometer
Mengukur kecepatan angin dan mengirimkan data kecepatan angin ke pengontrol.
10. Wind Vane
Tindakan arah angin dan berkomunikasi dengan yaw drive untuk menggerakkan turbin
dengan koneksi yang benar dengan angin.

11.Nacelle
Nacelle berada di atas menara dan berisi gear box, poros kecepatan rendah dan tinggi,
generator, kontrol dan rem.
12. High-Speed Shaft
Drive generator. Poros yang berhubungan langsung dengan rotor generator.
13. Yaw Drive
Yaw drive yang digunakan untuk menjaga rotor menghadap ke arah angin sebagai
perubahan arah angin.
14. YawMotor
Kekuatan dari drive yaw.
15. Tower
Menara yang terbuat dari baja tabung, beton atau kisi baja. Karena kecepatan angin
meningkat dengan tinggi, menara tinggi memungkinkan turbin untuk menangkap lebih
banyak energi dan menghasilkan listrik lebih banyak. Tower PLTB dapat dibedakan
menjadi 3 jenis seperti gambar dibawah ini. Setiap jenis tower memiliki karakteristik
masing-masing dalam hal biaya, perawatan, efisiensinya, ataupun dari segi kesusahan
dalam pembuatannya.

23

Guyed (Kiri), Lattice (Tengah) dan Mono-Structure (Kanan)


Penyimpan Energi (Battery)
Karena keterbatasan ketersediaan akan energi angin (tidak sepanjang hari angin
akan selalu tersedia), maka ketersediaan listrik juga tidak menentu. Oleh karena itu
digunakan alat penyimpan energi yang berfungsi sebagai back-up energi listrik. Ketika
beban penggunaan daya listrik masyarakat meningkat atau ketika kecepatan angin
suatu daerah sedang menurun, maka kebutuhan permintaan akan daya listrik tidak
dapat terpenuhi. Oleh karena itu kita perlu menyimpan sebagian energi yang
dihasilkan ketika terjadi kelebihan daya pada saat turbin angin berputar kencang atau
saat penggunaan daya pada masyarakat menurun. Contoh sederhana yang dapat
dijadikan referensi sebagai alat penyimpan energi listrik adalah aki mobil. Aki 12 volt,
65 Ah dapat dipakai untuk mencatu rumah tangga selama 0.5 jam pada daya 780 watt.
2.8.3

Proses Pembangkitan Energi Listrik Tenaga Angin (PLTB) Secara Umum


Suatu pembangkit listrik dari energi angin merupakan hasil dari penggabungan

dari beberapa turbin angin sehingga akhirnya dapat menghasilkan listrik. Cara kerja
dari pembangkitan listrik tenaga angin ini yaitu awalnya energi angin memutar turbin
angin. Turbin angin bekerja berkebalikan dengan kipas angin (bukan menggunakan
listrik untuk menghasilkan listrik, namun menggunakan angin untuk menghasilkan
listrik). Kemudian angin akan memutar sudu-sudu turbin, lalu diteruskan untuk
memutar rotor pada generator letaknya di bagian belakang turbin angin. Generator
mengubah energi putar rotor menjadi energi listrik dengan prinsip hukum Faraday,
yaitu bila terdapat penghantar didalam suatu medan magnet, maka pada kedua ujung
penghantar tersebut akan dihasilkan beda potensial.
24

Proses Pembangkitan PLTB


Ketika poros generator mulai berputar, maka akan terjadi perubahan fluks pada
stator yang akhirnya dihasilkan tegangan dan arus listrik. Tegangan dan arus listrik
yang dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik dan didistribusikan ke
rumah-rumah, kantor, sekolah, dan sebagainya. Tegangan dan arus listrik yang
dihasilkan oleh generator ini berupa AC (alternating current) yang memiliki bentuk
gelombang kurang lebih sinusoidal. Energi Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam
baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Turbin untuk pemakaian umum berukuran 50-

25

750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas 50 kilowatt, digunakan untuk perumahan,
piringan parabola, atau pemompaan air.
2.8.4

Syarat Angin Untuk PLTB


Tidak semua jenis angin dapat digunakan untuk memutar turbin pembangkit

listrik tenaga bayu / angin. Untuk itu berikut akan dijelaskan klasifikasi dan kondisi
angin yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik.

26

Angin kelas 3 adalah batas minimum dan angin kelas 8 adalah batas maksimum energi angin
yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
2.8.5

Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia dan Dunia


Pada saat ini, sistem pembangkit listrik tenaga angin mendapat perhatian yang

cukup besar sebagai sumber energi alernatif yang bersih, aman, serta ramah
lingkungan serta kelebihan-kelebihan lain yang telah disebutkan sebelumnya di atas.
Turbin angin skala kecil mempunyai peranan penting terutama bagi daerah-daerah
yang belum terjangkau oleh jaringan listrik. Pemanfaatan energi angin merupakan
pemanfaatan energi terbaru yang paling berkembang saat ini.
Berdasarkan laporan tengah tahun 2012 The World Wind Energy Association
(WWEA), total kapasitas pembangkit listrik tenaga angin diseluruh dunia telah
mencapai 254.000 MW atau 254 GW. Jumlah tersebut sudah merupakan penambahan
16.546 MW selama enam bulan pertama tahun 2012. Hal ini menunjukkan 10 % lebih
sedikit jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011, yaitu terdapat
penambahan 18.405 MW.

27

Total Kapasitas Terpasang 2010-2012 [MW]


Kapasitas global tumbuh sekitar 7 % dalam 6 bulan (2 % lebih sedikit
dibandingkan dengan tahun 2011 untuk periode yang sama) dan 16,4 % dari basis
tahunan (mid-2012 dibandingkan dengan mid-2011). Perbandingannya, pertumbuhan
tahunan tahun 2011 adalah 20,3 %.
Berdasarkan laporan akhir tahun 2011 The World Wind Energy Association
(WWEA), Indonesia menempati urutan ke 84 dalam kaitan total kapasitas pembangkit
listrik tenaga bayu (PLTB) serta penambahan kapasitas ditahun 2011. Peringkat ini
merosot dari yang pada akhir tahun 2010 menempati peringkat 74. Di akhir tahun
2011, total kapasitas pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang dimiliki oleh
Indonesia hanya 1,4 MW dan hal tersebut tidak ada penambahan kapasitas jika
dibandingkan dengan tahun 2010.
Pada akhir tahun 2007 telah dibangun kincir angin pembangkit dengan
kapasitas kurang dari 800 watt dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau
Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka
Belitung, masing-masing satu unit. Kemudian, di seluruh Indonesia, lima unit kincir
angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) mulai dibangun.
Mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB)
ditargetkan mencapai 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

2.8.6

Dampak PLT Angin Terhadap Lingkungan


28

Keuntungan utama dari penggunaan pembangkit listrik tenaga angin secara


prinsipnya adalah disebabkan karena sifatnya yang terbarukan. Hal ini berarti
eksploitasi sumber energi ini tidak akan membuat sumber daya angin yang berkurang
seperti halnya penggunaan bahan bakar fosil.Oleh karenanya tenaga angin dapat
berkontribusi dalam ketahanan energi dunia di masa depan. Tenaga angin juga
merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, dimana penggunaannya tidak
mengakibatkan emisi gas buang atau polusi yang berarti ke lingkungan. Penetapan
sumber daya angin dan persetujuan untuk pengadaan ladang angin merupakan proses
yang paling lama untuk pengembangan proyek energi angin.
Hal ini dapat memakan waktu hingga 4 tahun dalam kasus ladang angin yang
besar yang membutuhkan studi dampak lingkungan yang luas. Emisi karbon ke
lingkungan dalam sumber listrik tenaga angin diperoleh dari proses manufaktur
komponen serta proses pengerjaannya di tempat yang akan didirikan pembangkit
listrik tenaga angin. Namun dalam operasinya membangkitkan listrik, secara praktis
pembangkit listrik tenaga angin ini tidak menghasilkan emisi yang berarti. Jika
dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan batubara, emisi karbon dioksida
pembangkit listrik tenaga angin ini hanya seperseratusnya saja.
Disamping karbon dioksida, pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan
sulfur dioksida, nitrogen oksida, polutan atmosfir yang lebih sedikit jika dibandingkan
dengan pembangkit listrik dengan menggunakan batubara ataupun gas. Namun begitu,
pembangkit listrik tenaga angin ini tidak sepenuhnya ramah lingkungan, terdapat
beberapa masalah yang terjadi akibat penggunaan sumber energi angin sebagai
pembangkit listrik, diantaranya adalah dampak visual , derau suara, beberapa masalah
ekologi, dan keindahan.
Dampak visual biasanya merupakan hal yang paling serius dikritik.
Penggunaan ladang angin sebagai pembangkit listrik membutuhkan luas lahan yang
tidak sedikit dan tidak mungkin untuk disembunyikan. Penempatan ladang angin pada
lahan yang masih dapat digunakan untuk keperluan yang lain dapat menjadi persoalan
tersendiri bagi penduduk setempat. Selain mengganggu pandangan akibat pemasangan
barisan pembangkit angin, penggunaan lahan untuk pembangkit angin dapat
mengurangi lahan pertanian serta pemukiman.
29

Hal ini yang membuat pembangkitan tenaga angin di daratan menjadi terbatas.
Beberapa aturan mengenai tinggi bangunan juga telah membuat pembangunan
pembangkit listrik tenaga angin dapat terhambat. Penggunaan tiang yang tinggi untuk
turbin angin juga dapat menyebabkan terganggunya cahaya matahari yang masuk ke
rumah-rumah penduduk. Perputaran sudu-sudu menyebabkan cahaya matahari yang
berkelap-kelip dan dapat mengganggu pandangan penduduk setempat.
Efek lain akibat penggunaan turbin angin adalah terjadinya derau frekuensi
rendah. Putaran dari sudu-sudu turbin angin dengan frekuensi konstan lebih
mengganggu daripada suara angin pada ranting pohon. Selain derau dari sudu-sudu
turbin, penggunaan gearbox serta generator dapat menyebabkan derau suara mekanis
dan juga derau suara listrik.
Derau mekanik yang terjadi disebabkan oleh operasi mekanis elemen-elemen
yang berada dalam nacelle atau rumah pembangkit listrik tenaga angin. Dalam
keadaan tertentu turbin angin dapat juga menyebabkan interferensi elektromagnetik,
mengganggu penerimaan sinyal televisi atau transmisi gelombang mikro untuk
perkomunikasian.

Penentuan ketinggian dari turbin angin dilakukan dengan

menganalisa data turbulensi angin dan kekuatan angin. Derau aerodinamis merupakan
fungsi dari banyak faktor seperti desain sudu, kecepatan perputaran, kecepatan angin,
turbulensi aliran masuk.
Derau aerodinamis merupakan masalah lingkungan, oleh karena itu kecepatan
perputaran rotor perlu dibatasi di bawah 70m/s. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa
penggunaan skala besar dari pembangkit listrik tenaga angin dapat merubah iklim
lokal maupun global karena menggunakan energi kinetik angin dan mengubah
turbulensi udara pada daerah atmosfir. Pengaruh ekologi yang terjadi dari penggunaan
pembangkit tenaga angin adalah terhadap populasi burung dan kelelawar. Burung dan
kelelawar dapat terluka atau bahkan mati akibat terbang melewati sudu-sudu yang
sedang berputar.
Namun dampak ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kematian
burung-burung akibat kendaraan, saluran transmisi listrik dan aktivitas manusia
lainnya yang melibatkan pembakaran bahan bakar fosil. Dalam beberapa studi yang
telah dilakukan, adanya pembangkit listrik tenaga angin ini dapat mengganggu migrasi
30

populasi burung dan kelelawar. Pembangunan pembangkit angin pada lahan yang
bertanah kurang bagus juga dapat menyebabkan rusaknya lahan di daerah tersebut.
Ladang angin lepas pantai memiliki masalah tersendiri yang dapat mengganggu pelaut
dan kapal-kapal yang berlayar.
Konstruksi tiang pembangkit listrik tenaga angin dapat mengganggu
permukaan dasar laut. Hal lain yang terjadi dengan konstruksi di lepas pantai adalah
terganggunya kehidupan bawah laut. Efek negatifnya dapat terjadi seperti di Irlandia,
dimana terjadinya polusi yang bertanggung jawab atas berkurangnya stok ikan di
daerah pemasangan turbin angin. Studi baru-baru ini menemukan bahwa ladang
pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai menambah 80 110 dB kepada noise
frekuensi rendah yang dapat mengganggu komunikasi ikan paus dan kemungkinan
distribusi predator laut.
Namun begitu, ladang angin lepas pantai diharapkan dapat menjadi tempat
pertumbuhan bibit-bibit ikan yang baru. Karena memancing dan berlayar di daerah
sekitar ladang angin dilarang, maka spesies ikan dapat terjaga akibat adanya
pemancingan berlebih di laut. Dalam operasinya, pembangkit listrik tenaga angin
bukan tanpa kegagalan dan kecelakaan. Kegagalan operasi sudu-sudu dan juga
jatuhnya es akibat perputaran telah menyebabkan beberapa kecalakaan dan kematian.
Kematian juga terjadi kepada beberapa penerjun dan pesawat terbang kecil
yang melewati turbin angin. Reruntuhan puing-puing berat yang dapat terjadi
merupakan bahaya yang perlu diwaspadai, terutama di daerah padat penduduk dan
jalan raya. Kebakaran pada turbin angin dapat terjadi dan akan sangat sulit untuk
dipadamkan akibat tingginya posisi api sehingga dibiarkan begitu saja hingga terbakar
habis. Hal ini dapat menyebarkan asap beracun dan juga dapat menyebabkan
kebakaran berantai yang membakar habis ratusan acre lahan pertanian.
Hal ini pernah terjadi pada Taman Nasional Australia dimana 800 km2 tanah
terbakar. Kebocoran minyak pelumas juga dapat teradi dan dapat menyebabkan
terjadinya polusi daerah setempat, dalam beberapa kasus dapat mengkontaminasi air
minum. Meskipun dampak-dampak lingkungan ini menjadi ancaman dalam
pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, namun jika dibandingkan dengan

31

penggunaan energi fosil, dampaknya masih jauh lebih kecil. Selain itu penggunaan
energi angin dalam kelistrikan telah turut serta dalam mengurangi emisi gas buang.
2.8.7

Problem Teknis yang Dihadapi PLT Angin


1.

Kecepatan Angin
Variable angin menimbulkan masalah manajemen sistem jaringan listrik

lebih sedikit daripada yang diharapkan oleh pihak-pihak yang skeptis.


Ketidakstabilan permintaan energi dan kebutuhan untuk melindungi gagalnya
pembangkit listrik konvensional memenuhi kebutuhan tersebut, sesungguhnya
membutuhkan sistem jaringan listrik yang lebih fleksibel daripada tenaga
angin, dan pengalaman dunia nyata telah menunjukan bahwa sistem
pembangkit listrik nasional mampu menjalankan tugas tersebut.

Pada

malam berangin, sebagai contoh, turbin angin 50% pembangkit listrik di


bagian barat Denmark, tapi kekuatannya telah terbukti dapat diatur. PLTB
(pembangkit listrik tenaga bayu/angin) saat ini cukup menjadi primadona di
dunia barat dikarenakan potensi angin yang mereka miliki (daerah sub tropis)
sangat besar. Berangsur-angsur tapi pasti, PLTN mulai diganti dengan
penggunaan PLTB ataupun pembangkit renewable lainnya. Perlu diingat di
lokasi-lokasi tersebut size kapasitas PLTB mereka sudah besarbesar (Min 1
MW). PLTB ukuran kecil seperti di Nusa penida dengan kapasitas 80 kW
sangat teramat jarang sekarang ini.
Untuk di Indonesia, dengan iklim tropisnya mungkin akan cukup sulit
untuk menemukan daerah dengan potensi angin (distribusi anginnya) yang
konstan/baik. Ada beberapa daerah di Indonesia yang katanya memiliki
kecepatan angin cukup tinggi (gust wind) berdasarkan survei yang dilakukan
selama 3 bulan, tapi hal ini tidak berguna bagi PLTB bila kecepatan angin itu
hanya cuma bertahan beberapa menit/detik saja dan kemudian hilang. Perlu
adanya survei/studi berkesinambungan yang memerlukan data selama minimal
satu tahun untuk mevalidasi potensi angin didaerah tersebut.
Rata-rata PLTB yang dijual di pasaran untuk kapasitas kecil (kurang
dari 100 kW), cut in dan cut out mereka adalah 3 dan 25 m/s dengan kecepatan
32

optimumnya adalah 12 m/s. Di dunia saat ini banyak ditemukan PLTB stand
alone yang beredar dipasaran (untuk ukuran 10 kW). Penggunanya adalah
daerah-daerah terpencil yang tidak tersentuh oleh ataupun terlalu mahal untuk
dihubungkan oleh grid. Kebanyakan dari mereka tidak pure hanya
menggunakan PLTB tapi juga menggunakan PV. Selain karena disebabkan
kebutuhan listrik yang cukup besar juga disertai dengan diversikasi energi
apabila tiba-tiba tidak terdapat anginya yang cukup.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia saat ini untuk daerahdaerah terpecil seperti di kepulauan-kepulauan, diperlukan hybrid system
antara potensi renewable energy yang ada di lokasi (seperti PLTB-PLTsuryabaterai, PLTB-PLTMH-Fuel Cell, dll). Akan tetapi perlu menjadi catatan,
semua teknologi untuk penggunaan energi-energi tersebut masih cukup mahal
bila dilihat dari kelayakan ekonominya terutama FC dan PLTSurya.
2.

Resiko Kincir

Kelemahan listrik tenaga angin pada bunyi bising kincir dan resiko
tersambar petir serta tidak cocok untuk daerah jalur penerbangan. Apalagi
kalau banyak yang bermain layang-layang atau banyak burung terbang jadi
mudah tersangkut.Hal ini juga berpengaruh pada dampak lingkungan yang
disebabkan pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Angin skala besar.

2.8.8

Solusi Masalah Teknis


Karena kecepatan angin yang diperlukan untuk memutar kincir sangat

bergantung pada alam maka pada pembangkit listrik tenaga angin ini dilengkapi
dengan charger baterai/aki,sehingga pada saat kecepatan angin cukup untuk
menghasilkan listrik,listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai/aki dan dapat
digunakan saat turbin angin tidak beroperasi.
Kombinasi dari penggunaan listrik tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga
micro hidro mampu mengatasi krisis energi dan mengurangi pencemaran lingkungan.
33

Untuk tenaga angin selama kincir berputar maka suplai listrik terus terpenuhi walau
hari sudah gelap. Ingatlah bahwa matahari meradiasi 1,74 x 1.014 kilowatt jam energi
ke bumi setiap jam.
Jadi bumi menerima 1,74 x 1.017 watt daya. Dengan menggabungkan dua atau
lebih energy konvensional maka hal ini dapat menutupi kekurangan energy yang
diakibatkan kelemahan-kelemahan dari pembangkit listrik tenaga angin tersebut.
Penciptaan jaringan listrik yang super mengurangi masalah ketidakstabilan angin.
Caranya dengan membiarkan perubahan pada kecepatan di wilayah-wilayah berbeda
untuk diseimbangkan satu sama lain. Perkembangan tenaga angin berkembang dengan
pesat saat ini, namun demikian masa depan tenaga ini belum terjamin. Saat ini tenaga
angin telah dimanfaatkan oleh sekitar 50 negara di dunia.

Namun sejauh ini kemajuan itu disebabkan oleh usaha segelintir pihak,
yang dipimpin oleh Jerman, Spanyol dan Denmark. Negara - negara lain perlu
untuk memperbaiki industri tenaga angin secara dramastis jika target global ingin
dicapai. Oleh karena itu prediksi untuk menjadikan tenaga angin dapat memasok
energi dunia sebesar 12 persen pada tahun 2020 sebaiknya tidak dilihat sebagai hal
yang pasti, tapi sebagai tujuan satu kemungkinan masa depan yang kita bisa pilih
jika kita mau.

BAB 3
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Keuntungan utama dari penggunaan pembangkit listrik tenaga angin secara prinsipnya
adalah disebabkan karena sifatnya yang terbarukan. Hal ini berarti eksploitasi sumber

34

energi ini tidak akan membuat sumber daya angin yang berkurang seperti halnya
penggunaan bahan bakar fosil.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin juga berdampak terhadap lingkungan sekitar. Dampak
yang paling jelas adalah dambak visual,karena pembangkit istrik ini membutuhkan
tempat yang luas untuk skala besar.
Ramah lingkungan- keuntungan terpenting dari tenaga angin adalah berkurangnya level
emisi karbon dioksida penyebab perubahan ikilm. Tenaga ini juga bebas dari polusi yang
sering diasosiasikan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir.
Penggunaan energi nonkonvensional tenaga angin merupakan alternative sumber energi
yang efektif apabila digunakan ditempat yang mempunyai sumber daya angin tinggi.
1.2

Saran
Energi angin di Indonesia belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik, padahal
energi angin merupakan energy non-konvensional yang tidak dapat habis dan dapat
digunakan secara terus menerus. Seharusnya pemerintah berperan aktif dalam
kemajuan teknologi modern untuk mengembangkan potensi angin di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://kokomaulana-st.blogspot.com/2014/05/pemanfaatan-energi-angin.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Wind_turbine
http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Energi%20dan%20Listrik
%20Pertanian/MATERI%20WEB%20ELP/Bab%20IV%20ENERGI

%20ANGIN/indexANGIN.htm
https://energypedia.info/wiki/Wind_Energy_Country_Analyses_Indonesia

35

36