Anda di halaman 1dari 1

Mekanisme Penegakan dan Instrumen Ekstralegal

Dari review terhadap bergam studi tentang kontrak yang telah dilakukan, terdapat empat
aspek yang bisa disimpulkan menjadi faktor perbedaan jenis kontrak (Menard, 2000:236).
1. Jangka waktu (dration) dari kontrak
Hampir semua studi empiris yang dilakukan menunjukkan bahwa jangka waktu
kontrak sangat berhubungan dengan atribut dari transaksi.
2. Derajat kelengkapan (degree of completeness)
Yang mencakup variabel-variabel harga, kualitas, aturan keterlambatan (delay), dan
penalti. Beberapa studi menunjukkan bahwa derajat kelengkapan kontrak meningkat
seiring dengan spesifikasi aset dan menurun bersamaan dengan ketidakpastian.
3. Kontrak biasanya bersinggungan dengan insentif.
Disini hanya terdapat sedikit jenis mekanisme insentif. Mekanisme tersebut antara
lain adalah :
o sistem tingkat yang tetap (piece-rate systems)
o upah berdasarkan jam kerja
o distribusi bagian kepada pekerjan
o pengembalian aset yang dibayarkan kepada pemilik
o sewa yang dibagi di antara mitra yang bergabung dalam proyek
4. Prosedur penegakan (enforcement procedures) yang berlaku
Kontrak berhubungan dengan mitra untuk tujuan yang saling menguntungkan
(mutual advantage), tetapi ada tempo yang bersamaan kontrak juga menyimpan risiko
kerugian (disadvantage) melalui sikap oportunis (opportunism) : entah disebabkan
oleh kontrak yang tidak lengkap maupun kondisi pelaksanaan yang berbeda dengan
situasi pada saat negosiasi, atau bisa karena keduanya.
Berkaitan dengan aspek penegakan, dalam masyarakat yang kelembagaan
penegakannya tidak berjalan dengan baik individu - individu dan perusahaan perusahaan cenderung menghindari membuat kesepakatan - kesepakatan yang
kompleks, yakni transaksi penegakannya tidak secara otomatis (non-self-enforcing
transactions) [Clauge, et. al., 1997: 69]. Setidaknya terdapat dua tipe penegakan yang
eksis dalam masyarakat, yakni aturan formal dan informal.
Aturan - aturan yang formal dibuat dan dipaksakan oleh organisasi resmi, seperti
negara dan perusahaan untuk menyelesaikan masalah tindakan kolektif (collective
action) melalui pihak ketiga (third party sanction). Sementara itu, norma (aturan)
informal muncul akibat adanya jaringan kerja dan dipaksakan melalui hubungan
sosial (social relationship)