Anda di halaman 1dari 10

Teori Biaya Transaksi

(Transaction Cost
Theory)
Teori biaya transaksi atau transaction cost theory menurut penjelasan
Oliver E. Williamson (1975, 1985, dalam Donaldson, 1995), yang
konsern/peduli pada biaya transaksi, menyimpulkan bahwa transaksi adalah
pertukaran barang atau jasa antara orang dalam berbagai batasan.
Pada proses pertukaran sumber-sumber menurut pendapat penganut teori
biaya transaksi ternyata terdapat sejumlah faktor penting penciptaan dan
pengembangan struktur organisasi, yaitu biaya-biaya keseluruhan dari
sebuah rantai perekonomian (Scott, 1983, dalam Donaldson, 1995).
Williamson memandang berbeda terhadap dua pandangan pengembangan
struktur yaitu pasar dan organisasi. Pada pasar, pertukaran terjadi lewat
negosiasi kontrak dimana semua bagian diasumsikan bergerak untuk
kepentingan
pribadi.
Dalam
pandangan
pengetahuan
murni,
pertukaran/transaksi merupakan kebutuhan semua bagian, dan harga
didasarkan atas kepentingan individual serta tangan tak kelihatan (invisible
hand) pada perekonomian bebas (sebagian besar adalah penjual dan
pembeli) sehingga pengendalian biaya dibutuhkan oleh pasar bebas (pure
market).
Dengan pemahaman tersebut di atas kemudian akan memberi penjelasan
baru kepada kita tentang organisasi dalam perspektif biaya transaksi.
Penjelasan pada pendekatan yang dibuat teori biaya transaksi
memungkinkan kita membuka perspektif baru pula dengan lebih mendalam
bagi penjelasan sejarah bisnis sebuah perusahaan (yang mungkin tidak
dikenal) yang entah muncul dari mana, dan dalam waktu beberapa tahun
telah mengambil kepemimpinan dengan mantap, kelihatannya tanpa usaha
yang susah payah.
Penjelasan yang selalu diberikan untuk hal ini adalah strategi yang unggul,
teknologi yang unggul, atau struktur yang ramping. Tetapi ternyata ada fakta
baru yang menjelaskan setiap kasus perusahaan pendatang baru yang selalu
menikmati keunggulan biaya, biasanya 30 persen (Drucker, 1995). Alasannya
berada pada penjelasan teori ini yaitu setiap perusahaan baru pasti
mengetahui dan mengelola biaya dari keseluruhan rantai ekonomi pada pasar

bebas bukan hanya biaya-biaya pada perusahaannya sendiri.

Biaya Transaksi
Dengan demikian asumsi tersebut memungkinkan pekerjaan (pada
organisasi) dilakukan lewat kontrak-kontrak yang dibuat guna mengendalikan
biaya-biaya dalam transaksi. Klaim pada kontrak menyatakan bahwa melalui
kontrak segala sesuatu yang bernilai di masa yang akan datang dapat
diestimasi. Pada situasi ini organisasi dapat memandang dengan lebih baik
alternatif untuk memediasi transaksi di pasar bebas.
Pada pertukaran yang penuh dengan ketidakpastian (uncertaintly) dapat
diredusir jika dilakukan pada sekelompok orang yang terorganisir dalam
acuan yang rasional dan mekanisme organisasi yang mencegah sifat
oportunistis. Organisasi menolong kita untuk melokalisir persoalan,
menyederhanakan pilihan-pilihan, menciptakan jaringan informasi dan
mencari alternatif-alternatif, menolong individu-individu menanggulangi
keterbatasan pengetahuan untuk menentukan harga dan mengurangi
ketidakpastian serta membuat keputusan pada pasar dan organisasi.
Williamson mengintrodusir acuan kegagalan pasar untuk menjelaskan
mengapa sejumlah situasi memungkinkan pertukaran dalam organisasi terjadi
secara lebih baik dibanding membiarkannya terjadi lewat pasar. Pada situasi
ini (organisasi) dapat dilakukan dengan lebih baik karena terdapat
kesempatan untuk menghalangi/mencegah dan memberikan kemungkinan
yang lebih baik karena adanya monitor dan survei serta sistem insentif dalam
mengurangi sifat oportunis.
Teori biaya transaksi memberikan kerangka acuan sebagai penjelasan umum
terhadap titik pijak/organisasi sebagai mekanisme guna mendukung
keputusan pada kondisi ketidakpastian dan mencegah sifat opportunistis
terhadap pertukaran. Merupakan fokus utama penciptaan efisiensi dan
dilakukan hampir pada semua pendekatan ekonomi (Scott, 1993, dalam
Donaldson, 1995). Jadi sesuai namanya yang menjadi fokus utama dari teori
transaksi adalah biaya-biaya transaksi di pasar. Teori ini menjelaskan bahwa
organisasi adalah konsekwensi dari kegagalan pasar (market failure) dalam

perusahaan besar (Williamson, 1975, 1985, Arrow, 1985, Williamson dan


Ouchi, 1981, dalam Doz dan Prahalad, 1991).
Fokus sekunder dari teori transaksi adalah biaya-biaya transaksi pada hirarki,
pengendalian dan pemenuhan (compliance) biaya pada organisasi (Fama
and Jensen, 1983; Jensen and Mackling, 1976, Doz dan Prhaland, 1991).
Selain penjelasan bagi persoalan kegagalan pasar yang telah disebutkan
diatas, teori ini juga menjelaskan bahwa pertumbuhan sebuah badan hukum
besar dengan hirarki manajemennya yang menyebabkan manajer tingkat atas
kehilangan kontrol terhadap personal level bawah dan menengah yang
berdampak pada kemungkinan personal menengah mengikuti kepentingan
pribadi mereka dengan menciptakan semacam empire building dan
memanfaatkan sumber-sumber organisasi untuk kepentingan pribadi mereka
(Williamson, 1970, 1985, dalam Donaldson, 1995).
Penganut teori ini juga menyatakan bahwa analisa biaya transaksional
memberi titik pijakan yang kuat bagi analisis pilihan antara bentuk institusional
yang bisa digunakan dalam menetapkan batasan efisiensi pada perusahaan
multinasional (MNC) (Burkley dan Cason 1986, Duning, 1980, Henard 1982,
Teece, 1985, dalam Doz dan Prahalad, 1991). Solusi dari teori ini adalah
solusi terstruktur untuk memulihkan kontrol di tingkat midle manajemen
dengan kontribusi yang lebih bertanggungjawab terhadap perusahaan melalui
temuan the M-form Coorporation, sebuah struktur multi-divisi dengan
perkalian pusat keuntungan yang dibawahi seorang kepala kantor badan
hukum yang waspada atau hati-hati yang membuat pelaksanaan manajerial
terlihat memiliki disiplin organisasi (Williamson, 1970, 1985, dalam
Donaldson, 1995). Kegunaan analisa transaksi untuk riset terhadap proses
manajemen dibatasi oleh penyederhanaan asumsi yang inheren di dalamnya
adalah tingkatan hirarki, dan fokus utamanya adalah transaksi secara
menyeluruh sebagai sebagai unit analisis.
Teori Transactional Cost juga memiliki kegunaan untuk menganalisa tipe
spesifik hubungan inter organisasional dalam konteks negara Amerika Utara
seperti hubungan antara perusahaan Amerika Serikat dengan pemasok
mereka, integrasi vertikal bounded rationality diartikan sebagai konsep
kapasitas manusia yang terbatas saat memformulasikan dan memecahkan
masalah.

Teori Biaya Transaksi


Keterangan gambar:
Oportunism diartikan sebagai kepentingan pribadi. Akan tetapi tidak
dimaksudkan sebagai perilaku keseharian melainkan hanya sebagai sikap
pesimistis terhadap sikap alamiah manusia (Williamson, 1975,1985, dalam
Douma dan Schrender, 1992).
Atmosphere diartikan sebagai cakupan luar yang mempengaruhi atau
mengatur dimensi transaksi yaitu manusia dan lingkungan sekitar. Biaya
produksi dan transaksi dapat diminimalisasi dengan konsep teori biaya
transaksional, misalnya dengan bentuk kontrak. Jadi faktor luaran yang selalu
mempengaruhi model transaksi tersebut disebut sebagai atmosphere.

Tabel IMG
Kritik Terhadap Teori Biaya Transaksi
Kritik terhadap teori teori biaya transaksi dilakukan oleh Robbins (1987),
Perrow (1986), Donaldson (1985, 1990), Arrow (1985), Chalmers (1982),
Drucker (1995), McCloskey (1983), Agryris (1964), Schein (1972), Eisenhardt
(1989), Anderson dan Tollison (1982), Kosnik dan Batenhansen (1988),
Barney (1990), Jones (1987), Hill (1990), Chanon (1978), Berle dan Means
(1932), Stigler dan Friedland (1983), Coase (1991).
Secara umum kritik terhadap teori ekonomi organisasi ditujukan pada idiologi
teori biaya transaksi yang sangat materialistis. Donaldson (1995),
mengatakan hal ini sebagai idiologi yang memuji setinggi langit lembaga
kepemilikan swasta tanpa memperhatikan hak asasi manusia (human rights)
dan hak cipta (property rights). Kesalahan umum yang dilakukan oleh positivis
teori ekonomi organisasional adalah pendekatannya yang parsial dimana
berbagai
aspek
dalam
manajemen
diabaikan.
Barney
(1990),
menyimpulkannya sebagai tindakan simplifikasi terhadap teori manajemen.
Teori ini bercuriga terhadap para manajer dan pendidikan manajemen yang
mengasumsikan bahwa pendidikan menolong organisasi lewat proses
pengajaran dan penilitian agar pekerjaan organisasi menjadi lebih efektif.
Bagi para manajer axioma dalam teori ini sangat menyerang integritas dan
idealisme mereka tentang organisasi sebagai tempat untuk bekerja dalam

suatu masa yang panjang dan bekerja keras untuk organisasi mereka, untuk
sebuah komunitas yang lebih besar, termasuk kepada para pemilik
organisasi.
Terhadap para akademisi hal yang sama terjadi pula. Asumsi teori ini
mengabaikan keyakinan mereka tentang penanaman kebenaran kepada
peserta didik khususnya para calon manajer lewat proses pengajaran dan
penilitian. Jadi teori ini tidak memiliki nilai positif terhadap para manajer,
manajemen dan bahkan akademisi.
Robbins (1987), melihat teori ini selalu menggeneralisir dan melakukan
deduksi secara umum terhadap perilaku perusahaan secara individual.
Argumen Robbins menyatakan bahwa teori biaya transaksi tidak bisa
mengkonstruksi hubungan kausal yang menjadi sebuah pernyataan umum,
karena hal ini akan mengurangi kepercayaan manajer terhadap institusi,
terhadap apresiasi perilaku ekonomi yang diyakini dalam struktur yang
spesifik.
Transaksi dalam pasar secara alamiah melibatkan transaksi organisasi
secara hirarkis, dimana semua pihak dalam organisasi dilibatkan dalam
proses tersebut. Secara alamiah organisasi sosial-ekonomi dapat dipahami
dengan merevers pembentukan sejarahnya yang spesifik sebagai sebuah
kelas dan perilaku sosial yang terjadi padanya. Hal yang sama dilihat oleh
Dore (1983), pada perusahaan Jepang dan supliers mereka. Hubungan
mereka dibangun atas dasar hubungan saling bergantung dan percaya
bahwa
hubungan
tersebut
merupakan
hubungan
yang
saling
menguntungkan, dan jauh dari usaha mementingkan diri sendiri. Dasar
hubugan seperti ini adalah win-win framework dalam jangka panjang.
Robbins (1987), tidak pernah menemukan hubungan kausal antara teori biaya
transaksi sebagai sebuah pendekatan yang mengarah terhadap lingkungan
yang spesifik. Kesimpulannya menyatakan bahwa teori ini hanya sebagai
sarana lebih lanjut bagi integrasi teori struktural kontingensi dengan upayaupaya penjelasan yang lebih luas. Walaupun kritik Robbins merupakan
elemen yang penting bagi teori biaya transaksional tetapi dia tidak pernah
menyimpulkan bahwa hal ini merupakan perspektif dan pijakan untuk
mengintegrasikan kembali teori biaya transaksional dan penilitian teori ini di
masa datang.
Perrow (1986), mengkritik pemahaman teori ini akan ide integrasi vertikal atau
merger. Merger yang biasa dilakukan pada pemahaman teori ini terjadi
karena pertimbangan dominasi pasar demi keuntungan pemilik semata bukan
karena pertimbangan efisiensi bagi kepentingan publik. Kritik Perrow
konsisten dengan kritik yang dilakukan gerakan kiri baru (new left), yang
peduli terhadap eksploitasi kapitalisme terhadap pekerja.
Coase (1991), secara tegas menolak contoh yang sering digunakan pada

teori biaya transaksi yaitu akuisisi yang dilakukan pada tahun 1926, antara
Fisher Body sebagai supplier dengan General Motors sebagai klien yang
menyebabkan hilangnya kebebasan A.O Smith. Ia sebagai pengelola
mengalami kehilangan kebebasan selama dua puluh tahun lebih karena
bentuk hubungan kontraktual yang diciptakan lewat integrasi vertikal.
Coase menolak dua pilar utama dari teori integrasi vertikal yang dibangun
Williamson (1975) dan Klein (1978), yaitu transaksi spesifik penanaman
modal dan oportunisme. Ia menjelaskan penolakannya dengan mereview
kembali artikel klasiknya pada tahun 1937 tentang biaya transaksi.
Menurutnya konsep integrasi vertikal yang dibangun dalam teori biaya
transaksi kontemporer telah menyimpang dari pemahaman awal teori biaya
transaksi oleh karenanya perlu disanggah. Dalam realitas, konsep
oportunisme penting guna membandingkan hal-hal yang berhubungan
dengan organisasi ekonomi yaitu masalah ketamakan para manajer, akan
tetapi konsep sisi-gelap manusia yang dimaksudkan oleh Williamson dan
Klein (termasuk yang lainnya; Barney, Ouchi, Jones, dan tulisan kontemporer
biaya transaksi lainnya) perlu disanggah karena menyimpang dari
pemahaman awal teori biaya transaksi. Pandangan seperti ini akan
membawa pusaran masalah baru.
Drucker (1995), juga mengkritik model keiretsu atau integrasi vertikal pada
konteks perusahaan Amerika Utara yang dibangun dalam pemahaman teori
ini bermasalah karena antara tahun 1950 sampai dengan 1960 penyatuan
pada peruhaan General Motors tersebut menimbulkan biaya-biaya tenaga
kerja yang lebih tinggi pada divisi-divisi suku cadang GM daripada biaya
tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan kompetitor mereka. Ketika para
pelanggan luar mereka yaitu perusahaan-perusahaan mobil independen
seperti Packard dan Studebaker, yang telah membeli 50 persen barang yang
dihasilkan divisi-divisi suku cadang di GM, menghilang satu per satu, kontrol
yang dilakukan oleh GM pada biaya maupun kualitas dari pemasok utamanya
ikut menghilang. Namun selama empat puluh tahun atau lebih, perhitungan
biaya sisem GM memberikan keunggulan bagi para kompetitornya yang
paling efektif, yang sering muncul kala itu yaitu Studebaker sendiri. Menurut
Drucker (1995), para eksekutif perlu mengorganisir dan mengelola bukan saja
rantai biaya, namun juga segala sesuatu yang lain, khususnya strategi
perusahaan dan perencanaan produk sebagai satu kesatuan ekonomi,
apapun pembatas hukum setiap perusahaan.
Dalam mengukur kontribusi teori biaya transaksi terhadap organisasi yang
berskopa luas dan kompleks yaitu perusahan multinasional. Kritik terhadap
teori ini dilakukan oleh Bukley dan Casson (1983), Dunning (1980), Henard
(1983), Teece (1985), Kreps (1984), Dore (1983), Stokey (1983), Doz dan
Prahalad (1991), Hedlund (1981), Eisenhardt (1989). Indikator kontribusi teori
biaya transakasional diukur dalam beberapa elemen manajemen antara lain
determinansi teori terhadap struktur, diferensiasi internal, optimalisasi
pengambilan keputusan, pengelolaan informasi, akselerasi, penciptaan
hubungan antar perusahaan, kontinuitas dan pembelajaran.

Kreps (1984), menyatakan kelemahan teori ini tehadap proses manajemen


terletak pada simplifikasi asumsi yang inheren, di dalamnya ada penciptaan
hirarki dengan transaksi sebagai fokus tunggal unit analisis, karena terjadi
simplifikasi pada struktur maka teori biaya transaksional tidak terlalu formal
menjelaskan teori mereka dalam kriteria-kriteria manajemen perusahaan
multinasional. Termasuk menurut Dore (1998), terhadap pembahasan dimensi
hubungan kontraktual inter-organisasional.
Teori Transactional Cost memiliki kegunaan terhadap analisa tipe spesifik
hubungan inter organisasional dalam konteks negara Amerika Utara seperti
hubungan antara perusahaan Amerika Serikat dengan pemasok mereka,
integrasi vertikal (Monteverde and Teece, 1982, Stokey, 1983) dan joint
venture dengan batasan atau konstrain yang kaku dalam hubungan alamiah
pada joint venture (Hemart, 1982). Akan tetapi Dore (1983), melihat hal ini
tidak terjadi pada perusahaan Jepang dan supliers mereka, dimana hubungan
mereka dibangun atas hubungan saling bergantung dan percaya bahwa
hubungan mereka merupakan hubungan yang saling menguntungkan yang
jauh dari usaha mementingkan diri sendiri. Dasar hubungan seperti ini adalah
win-win framework dalam jangka panjang.
Hubungan seperti ini biasanya dikembangkan pula dalam bentuk keiretsu.
Doz dan Prahalad (1991), melihat asumsi teori biaya transaksi yang sangat
materialistis terlalu jauh mengatur tugas-tugas manajerial pada perusahaan
multinasional, terutama hal-hal yang menyangkut budaya organisasi, perilaku
clan (misalnya hubungan perusahaan dengan pemasok), masalah
pengendalian, atau integrasi normatif pada perusahaan multinasional. Analisa
biaya transaksional berasumsi secara berlebihan terhadap kemanusiaan dan
organisasi sehingga fokus Teori Biaya Transaksi (Transaction Cost
Theory) menjauh dari isu-isu sentral manajemen.

ALIRAN EKONOMI KELEMBAGAAN LAMA,


QUASI DAN BARU
1. Aliran Kelembagaan Lama
Bapak Ekonomi kelembagaan yang disetujui oleh para pakar adalah
Thorestein Bunde Veblen (1857-1929). Krirtik Veblen sangat tajam terhadap
ekonomi ortodoks, dimana pengertian ekonomi ortodoks adalah pemikiranpemikiran yang menggunakan dan melanjutkan ekonomi Klasik seperti
persaingan bebas, persaingan sempurna, manusia adalah rasional, motivasi
memaksimalkan keuntungan dan meminimasi pengeorbanan ekonomi.
Menurut Veblen teori ekonomi ortodoks merupakan teori teologi, oleh karena
akhir cerita telah ditentukan dari awal. Misalnya, keseimbangan jangka
panjang itu tidak pernah dibuktikan, tetapi telah ditentukan walaupun
ceritanya belum dimulai. Ilmu ekonomi bukan hanya mempelajari tingkat
harga, alokasi sumber-sumber tetapi justru mempelajari faktor-faktor yang
dianggap tetap (given).
Salah seorang tokoh ekonomi kelembagaan dari inggris yang penting adalah

John A. Hobson (1858-1940). Menurutnya, ada tiga kelemahan toeri ekonomi


ortodoks, yaitu tidak dapat menyelesaikan maslah full-employment, distribusi
pendapatan yang senjang dan pasar bukan ukuran terbaik untuk menentukan
ongkos sosial. Beliau tidak setuju adanya unsur ekonomi positif dan normatif
karena keduanya tetap memerlukan adanya unsur etika. Timbulnya
Imprealsime menurut Hobsoan disebabkan karena terjadinya konsumsi yang
kurang dan kelebihan tabungan di dalam negeri, maka diperlukan penanaman
modal ke daerah-daerah jajahan. Pengeluaran pemerintah dan pajak dapat
mendorong ekonomi ke arah full-employment dan peningkatan pendapatan
pekerja dan produktivitas. Dengan semakin meratanya pembagian
pendapatan akan mendorong peningkatan produktivitas, yang berarti bisa
terhindar dari bahaya adanya resesi.
2. Aliran Quasai Kelembagaan
Para tokoh yang masuk di dalam aliran ini adalah mereka yang terpengaruh
oleh pemikiran veblen dan kawan-kawannya, para tokoh aliran ini antara lain
Joseph Schumpeter, Gunnar Myrdal, dan kenneth Galbraith. Pemikiran
schumpeter bertumpu pada ekonomi jangka panjang, yang terlihat dalam
analisisnya baik mengenai terjadinya inovasi komoditi baru, maupun dalam
mejelaskan terjadinya siklus ekonomi. Keseimbangan ekonomi yang statis
dan stasioner seperti konsep kaum ortodoks mengalami gangguan dengan
adanya inovasi, Meskipun demikian, gangguan tersebut dalam rangka
berusaha mencari keseimbangan yang baru. Inovasi tidak bisa berlanjut kalau
kaum wirasawata telah terjebak dalam persoalan-persoalan yang sifatnya
rutin.
Sedangkan Galbraith menjelaskan perkembangan ekonomi kapitalis di
Amerika serikat yang tidak sesuai dengan perkiraan (prediksi) yang
dikemukakan kaum ekonomi ortodoks. Asumsi-asumsi yang dikemukakan
oleh teori ekonomi ortodoks dalam kenyataannya melenceng jauh sekali.
Keberadaan pasar persaingan sempurna tidak ada, bahkan pasar telah
dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan ini
demikian besar kekuasaanya sehingga selera konsumen bisa diaturnya.
Pada perusahaan yang besar ini, pemilik modal terpisah dengan manajer
profesional dan para manajer ini telah menjadi technostrusture masyarakat.
Konsumsi masyarakat telah menjadi demikian tinggi, tetapi sebaliknya terjadi
pencemaran lingkungan dan kwalitas barang-barang swasta tidak dapat
diimbangi oleh barang-barang publik. Selanjutnya kekuatan-kekuatan
perusahaan besar dikontrol oleh kekuatan buruh, pemerintah dan lembagalembaga konsumen. Namun demikian, untuk menjamin keberlanjutan
perusahan-perusahaan ini, maka pemerintah hendaknya berfungsi untuk
menstabilkan perkembangan ekonomi.
3. Aliran Kelembagaan Baru
Aliran Ekonomi Kelembagaan Baru (New Institutional Economics disingkat
NIE) dimulai pada tahun-tahun 1930-an dengan ide dari penulis yang
berbeda-beda. Menurut Yustika (2006), pada tahun-tahun terakhir ini terjadi
kesamaan ide yang mereka usung dan kemudian dipertimbangkan menjadi
satu payung yang bernama NIE. Secara garis besar, NIE sendiri merupakan

upaya perlawanan terhadap dan sekaligus pengembangan ide ekonomi


Neoklasik, meskipun tetap saja dapat terpengaruh oleh ideologi dan politik
yang ada pada masing-masing para pemikir.
NIE dengan demikian menempatkan dirinya sebagai pembangun teori
kelembagaan nonpasar dengan fondasi teori ekonomi Neoklasik. Seperti
yang diungkapkan oleh salah satu tokoh NIE Douglas C. North, bahwa NIE
masih menggunakan dan menerima asumsi dasar dari ekonomi Neoklasik
mengenai kelangkaan dan kompetisi akan tetapi meninggalkan asumsi
rasionalitas instrumental (instrumental rasionality). Oleh karena ekonomi
Neoklasik memaki asumsi tersebut menyebabkan menjadi teori yang bebas
kelembagaan (institutional-free theory).
NIE selanjutnya memperdalam kajiannya tentang kelembagaan nonpasar,
seperti hak kepemilikan, kontrak, partai revolutioner dan sebagainya. Hal ini
dilakukan karena sering terjadi masalah kegagalan pasar (market failure).
Kegagalan pasar muncul karena terjadinya asimetris informasi, eksternalitas
produksi (production externality) dan adanya kenyataan keberadaan barangbarang-barang publik (publik goods). Akibat kealpaan teori ekonomi Neoklasik
terhadap adanya kegagalan pasar, maka dilupakan pula adanya kenyataan
pentingnya biaya-biaya transaksi (transaction cost). Di samping itu NIE
menambah bahasannya tentang terjadinya kegagalan kelembagaan
(institutional failure) sebagai penyebab terjadinya keterbelakangan pada
banyak negara.
Dengan demikian, ilmu ekonomi kelembagaan kemudian menjadi bagian dari
ilmu ekonomi yang cukup penting peranannya dalam perkembangan ilmu
pengetahuan sosial ekonomi, budaya dan terutama ekonomi politik. Ilmu
ekonomi kelembagaan terus berkembang semakin dalam karena ditekuni
oleh banyak ahli ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya, termasuk beberapa
diantaranya memenangkan hadiah nobel. Penghargaan tersebut tidak hanya
tertuju langsung kepada ahli dan orangnya, tetapi juga pada bidang
keilmuannya, yakni ilmu ekonomi kelembagaan (Rachbini, 2002).

Anda mungkin juga menyukai