Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

GEOLOGI MINYAK BUMI


CEKUNGAN KUTAI

Disusun Oleh :
Boymo Sanservanda Sinamo
21100113140058

LABORATORIUM SEDIMENTOLOGI, STRATIGRAFI,


DAN GEOLOGI MINYAK BUMI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
MEI 2016

1. Geometri Cekungan
Cekungan Kutai memiliki luas sekitar 43.680 km2. Cekungan ini
merupakan salah satu cekungan tersier terbesar dan terdalam di Indonesia.
Cekungan ini termasuk dalam klasifikasi Paleogene Continental FractureNeogene Passive Margin ataupun Divergent-Margin Basins. Cekungan
Kutai ini merupakan Cekungan Sedimen Dengan Produksi Hidrokarbon. Secara
geografis, cekungan Kutai terletak dibagian timur Pulau Kalimantan pada
koordinat 103o LU - 2o LS, dan 113o - 118o BT).
Batuan dasar dari Cekungan Kutai tersusun oleh kerak kontinen yang
diinterpretasikan sebagai bagian dari Kraton Sunda dan akresi dari lempeng
mikro. Adang Flexure dengan arah umum baratlaut tenggara (batas patahan
Paternosfer) membatasi bagian selatan dari cekungan ini dengan Cekungan
Barito. Di utara, arah utarabaratlaut Busur Mangkalihat memisahkan
Cekungan Kutai dengan Cekungan Tarakan. Cekungan Kutai berdampingan
dengan Cekungan Lariang di bagian timur dan Tinggian Kuching di sebelah
baratnya.
Cekungan Kutai merupakan cekungan hidrokarbon terbesar kedua di
Indonesia saat ini. Cekungan Kutai mengandung cadangan minyak sebesar
2,47 MMBO dan 28,1 TCF gas. Merupakan cekungan Tersier yang berlokasi di
Propinsi Kalimantan Timur, memanjang ke arah timur menuju lepas pantai Selat
Makassar.
Cekungan Kutai memiliki tebal sedimen antara 1.500-12.000 m, dengan
kedalaman cekungan antara 0-14.000 m. Sebagian besar wilayah Cekungan
Kutai menempati wilayah daratan dengan sebagian kecil menempati wilayah
perairan Selat Makasar.

2. Tektonik dan Struktur Geologi Regional


Dalam tatanan tektonik, Cekungan Kutai terbentuk sebagai bagian dari
bagian tenggara dari Kraton Sunda yang dipengaruhi oleh tiga lempeng utama
yakni Eurasia, India-Australia, dan Pasifik. Struktur batuan dasar dari Cekungan
Kutai merupakan produk tektonik Mesozoik Akhir hingga Tersier Awal.
Pada kala Paleosen hingga Eosen Awal pada wilayah ini terjadi
pengangkatan dan juga erosi dari Paparan Sunda. Aktivitas tektonik ini berlanjut
dengan peregangan dan penipisan kerak pada tepian benua dan pemekaran lantai
samudra di Laut Sulawesi. Episode ini membentuk terban- terban rift terisi
sedimen sungai dan danau, pensesaran bongkah pada tepi bukaan, serta intrusi

gunungapi pada bagian tengah bukaan. Elemen tektonik ini memisahkan bagian
barat Sulawesi dari bagian timur Kalimantan. Sementara itu, pemekaran lantai
samudra di Laut Sulawesi meluas ke Selat Makasar pada kala Oligosen Tengah.
Setelah tektonik ekstensi di sepanjang Selat Makasar, terbentuk rendahan pada
Cekungan Kutai. Proses penurunan suhu (thermal) pada tepi benua dan poros
cekungan tersebut juga berakibat pada pengendapan post-rift-sag. Pada saat
ini, terjadi suatu transgresi besar yang menghasilkan lautan luas epikontinental,
pertumbuhan karbonat pada paparan dan juga pengendapan suspensif dan
massflow pada rendahan cekungan.
Pada awal Miosen Tengah tektonik kompresif bekerja pada tepian
Paparan Sunda yang mengakibatkan karbonat paparan dan endapan delta pada
tepian rendahan Makasar terlipat kuat serta terangkat dengan topografi tinggian
membentuk antiklinorium Samarinda, sementara itu di kawasan Mahakam dan
paparan di selatan telah mengalami perubahan oleh sedimentasi klastik
progradatif. Antiklinorium Samarinda selanjutnya menjadi suatu daerah sumber
pasir kuarsa bagi tahap regresi berikutnya. Demikian juga, Kalimantan Tengah
menjadi sumber klastik kasar mengisi lepas pantai Cekungan Kutai dan rendahan
Selar Makasar. Sejak kala Neogen pusat pengendapannya bergeser kearah lepas
pantai. Pada kala Pliosen terjadi penurunan pada bagian utara dasar cekungan
dan berlanjut menjadi suatu lereng paparan regresif. Sementara itu, Sulawesi
Barat menjadi sumber klastik pengisi Selat Makasar.
Evolusi tektonik di cekungan Kutai menurut Asikin (1995) dalam
laporan internal VICO Indonesia terdiri dari 8 kejadian utama, antara lain:
a. Berpisahnya lempeng Australia dari Antartika pada masa Jurasik hingga
Kapur Awal, yang memulai pergerakan dari lempeng India-Australia
menuju ke Utara. Dalam waktu ini, Cekungan Kutai masih bagian dari
Lempeng Kontinen Eurasia yang dipisahkan dari Gondwana oleh lautan
Tethys.
b. Terbukanya Laut Cina Selatan selama Kapur Akhir untuk pertama kali
yang diikuti oleh pemekaran samudra (spreading) yang terjadi pada masa
Eosen Tengah,. Dalam kurun waktu ini, Kalimantan berada di sebelah
Pulau Hainan yang terpisah dari daratan Cina dan berkembang ke arah
selatan yang mengakibatkan terbentuknya cekungan Pre-Laut Cina Selatan.
Bagian batas timur dari Kalimantan mencerminkan seri dari suatu seri

struktur regangan dengan arah strike utama NE. Kejadian rift pertama ini
mengakibatkan pembentukan intra-cratonic graben di daratan Cina dan
Kalimantan
Rifting

sepanjang

patahan

ekstensi

yang

berarah

NE-SW.

ini kemungkinan berkaitan dengan tahap awal dari ekstrusi

daratan Sunda (Tapponier,1986).


c. Subduksi dari kerak samudra India-Australia terhadap kerak kontinen
Sunda yang membentuk kompleks subduksi Meratus pada Kapur akhir
hingga Paleosen Awal. Pada masa ini, punggungan Kutai yang terletak di
bagian barat dari danau Kutai kemungkinan terbentuk sebagai kelanjutan
dari pembentukan zona subduksi Meratus. Cekungan Kutai atas (Upper
Kutai Basin), yang terletak di bagian Barat dari punggungan Kutai terbentuk
sebagai bagian dari fore arc basin dan busur magmatik. Sebagai
konsekuensinya Cekungan Kutai bawah (Lower Kutai Basin) masih berperan
sebagai cekungan samudra tanpa pengendapan sedimen yang signifikan
pada masa ini. Mendekati akhir dari kejadian ini, fragmen kontinen dari
Gondwana yang dikenal dengan blok Kangean-Paternosfer mengalami
collision dengan kompleks subduksi Meratus. Pemotongan ini disebabkan
oleh sayatan dari aktifitas magmatik.
d. Subduksi Lupar pada Paleosen

Akhir

hingga

Miosen

Tengah.

Subduksi ini merupakan hasil dari kelanjutan proses rifting pada Laut Cina
selatan yang memicu terjadinya proses pemekaran (Spreading). Pada
masa ini, Cekungan Kutai Atas (Upper Kutai basin) merupakan busur
magmatik, dan Cekungan Kutai Bawah (Lower Kutai basin) merupakan
suatu back arc basin, yang dicerminkan oleh pengendapan formasi
Mangkupa dan formasi Marah/Berium. Cekungan ini terletak di bagian barat
yang terbentuk di bagian atas dari kerak transisi yang terdiri dari accretional
wedge dan busur magmatik, dimana Cekungan Kutai dilandasi oleh kerak
kontinen sebagai bagian dari kompleks collisional Kangean-Paternosfer
fragmen allochtonous kontinen

e.

Terjadinya collision antara lempeng India dengan Asia pada Eosen


tengah, yang memicu perputaran berlawanan arah jarum jam dari
Kalimantan. Kejadian ini dihasilkan oleh modifikasi kembali lempeng besar
Asia. Pergerakan terjadi sepanjang struktur patahan strike-slip, (patahan
Sungai Merah, NNE-SSW Vietnam Selatan, Adang dll.), yang menyatu
menjadi sebuah rotasi besar yang berlawanan arah jarum jam dari
Kalimantan dengan lantai samudera Sulawesi dan membuka serta mekarnya
sebagian besar dari laut Cina Selatan. Pergerakan patahan strike slip
en-echelon berasosiasi dengan displacement

besar ke arah selatan dari

fragmen Asia sepanjang patahan Sungai Merah, di lempeng Indo-Cina


hingga zona Lupar di Kalimantan, telah menghasilkan transtension
(wrench) basin di Laut Cina Selatan (Cekungan Natuna) dan di bagian
Kalimantan Tengah dan Barat.\
f. Pemekaran di selat Makasar pada masa Eosen tengah hingga Oligosen
akhir Penekanan ke arah tenggara berhubungan dengan terjadinya
ekstrusi dari fragmen kontinen yang terpicu oleh terjadinya collision antara
lempeng India terhadap Asia. Hal ini mengakibatkan pembentukan
regangan di Selat Makasar yang mengaktivasi kembali patahan-patahan tua
yakni Adang, Mangkalihat, Baram Barat, dan lain-lain. Selama masa ini
Cekungan Kutai didefinisikan sebagai rift basin. Pengangkatan dan
deformasi regangan sepanjang shear paralel pada batuan dasar kerak
kontinen telah menghasilkan pemekaran (rifting) tersebutt.
g. Tahap kedua membukanya laut Cina Selatan pada masa Oligosen
Akhir hingga Miosen Awal yang diikuti oleh collision antara Lempeng
Palawan-Red Bank (Miosen Awal) yang diakhiri oleh proses pemekaran
(akhir

dari

Miosen

Awal),

dan mengakhiri terjadinya rotasi dari

Kalimantan (Miosen Tengah), dan terjadinya pengangkatan Tinggian


Kucing.

h. Collision dari kontinen Banggai-Sula terhadap Sulawesi, dan pada saat yang
sama terjadi pengangkatan Pegunungan Meratus pada Miosen Tengah

3. Stratigrafi Regional
Litostratigrafi Cekungan Kutai telah ditulis oleh Courtney dkk (1991)
dalam kolom stratigrafi regional Cekungan Kutai pada gambar di bawah ini :

4. Petroleum System (Sistem Petroleum)


Duval, dkk pada tahun 1992 berhasil mendokumentasikan Cekungan Kutai
ini dengan baik, yang mengatakan bahwa batuan induk di Cekungan Kutai
merupakan batubara yang telah matang dan batu serpih yang kaya akan bahan
organik di daerah kitchen, yang dibatasi oleh nilai Ro 0,6% di bagian atas dan
zona bertekanan tinggi (overpressured zone) di bagian bawahnya. Pada Cekungan
Kutai terdapat sistem petreleum yang berupa Batuan Induk (source rock), Batuan
Reservoir, Batuan Perangkap, Batuan Penyekat, dan Migrasi.
Berikut penjelasan tentang Sistem Petroleum Cekungan Kutai :
a. Batuan Induk
Analisis batuan induk yang dilakukan oleh Oudin dan Picard (1982)
serta Burus dkk (1992) di daerah Mahakam menyimpulkan bahwa batuan
induk yang membentuk hidrokarbon di daerah itu berjenis humic.
Serpih yang berasosiasi dengan Batubara yang terendapkan diantara
endapan paparan pantai yang merupakan anggota dari formasi Balikpapan
dan Kampung Baru, kaya akan kandungan bahan organik. Batuan ini
memiliki kerogen yang melimpah yang berasal dari endapan darat yang
banyak mengandung sisa tumbuhan. Analisis hidrokarbon di Cekungan Kutai
menunjukan bahwa minyak yang berasal dari batuan induk ini mencapai
tingkat kematangan sedang-akhir.
Kandungan TOC pada batuan induk ini bervariasi dan dipengaruhi
oleh struktur dan elemen sikuen (Burrus dkk., 1992). Di bagian dasar dari
sikuen dengan jenis endapan laut dan pro delta, nilai TOC rata-rata nya
adalah 1%.
Batupasir endapan delta anggota batuan induk tidak
memiliki kerogen, dan serpih yang berseling dengan batupasir ini memiliki
TOC 2,5 - 8%. Pada bagian atas dari sikuen ini lapisan batubara dengan
ketebalan 0,1 - 5 meter memiliki TOC di atas 80%.
Tingkat kematangan batuan induk yang berumur Miosen awal
sangat tinggi dengan nilai Ro lebih dari 0,4%. Hal ini dapat dikenali dari
peta kematangan permukaan dan data sumur.
b. Batuan Reservoir
Batuan reservoir utama yang berumur Miosen Akhir-Pliosen pada
umunya merupakan batupasir yang berasal dari endapan paparan delta, delta
front, prodelta/marine, dan fasies prograding lowstand.
Pada arah struktur Badak-Nilam-Handil, objektif reservoirnya
merupakan endapan bar dan endapan sungai yang berumur Miosen
Tengah-Akhir. Reservoir ini merupakan anggota dari Grup Balikpapan dan
juga Formasi Kampung Baru (Miosen Akhir-Pliosen). Batupasir ini hadir

dalam lapisan yang multilayer, dengan ketebalan 0,5 - 30 meter, porositas


rata-rata 14 - 19%, permeabilitas rata-rata 1 3.000 md dan kumulatif
ketebalan netpay antara 200-300 meter. Pada formasi Kampung Baru,
batupasirnya merupakan endapan delta front dengan porositas rata-rata25 30% dan permeabilitas rata-rata 2 - 300 md.
Pada tren struktur Attaka-Tunu-Bakapai, reservoir utamanya berumur
Miosen Akhir-Pliosen dari formasi Kampung Baru. Fasies batupasir dari
reservoir ini bervariasi, dari endapan upper tidal delta hingga marine delta
front. Porositas rata-rata dari reservoir ini adalah 16 - 30%. Pada bagian
bawah dari lapisan reservoir ini, fasies pro delta hadir dengan kualitas
batupasir yang buruk.
Pada tren struktur Sisi-Nubi-Dian, fasies prograding lowstand
dariperlapisan batupasir yang berumur Miosen Akhir-Pliosen dari Formasi
Kampung Baru dan batuan karbonat berumur Pliosen menjadi reservoir
yang paling potensial. Batuan reservoir utama penghasil hidrokarbon berupa
batupasir endapan delta yang berumur Miosen Awal Miosen Tengah dari
Formasi Pamaluan, Pulubalang, dan Balikpapan dengan porositas berkisar
15% - 30%.
Di daerah Tanjung, batuan sedimen dari Formasi Tanjung bagian
bawah menjadi batuan reservoir dengan kualitas baik-sangat baik. Di daerah
Mamahak, batuan reservoir merupakan batupasir dan konglomerat dari
Formasi Kehamhaloq. Di daerah Teweh, batuan reservoirnya merupakan
batuan karbonat Oligosen yang terisolasi.
c. Perangkap
Perangkap yang paling berperan dalam akumulasi hidrokarbon di
Cekungan Kutai merupakan perangkap struktural dengan tipe closure
empat arah, seperti yang ditemukan di Lapangan Badak, Handil, Bekapai,
dan Attaka. Selain itu, perangkap stratigrafi pula menjadi perangkap yang
paling penting pada saat ini, namun lebih sulit diidentifikasi keberadaannya
bila dibandingkan dengan perangkap struktur. Kombinasi dari perangkap
struktur dan stratigrafi lebih umum ditemukan pada lapangan-lapangan di
Cekungan Kutai.
Perangkap hidrodinamik juga berperan dalam akumulasi hidrokarbon
di Cekungan Kutai. Perangkap hidrodinamik ini terutama berhubungan
dengan aliran hidrodinamik dari air meteorik dan tekanan yang tinggi pada
aliran tersebut.
Perangkap hidrokarbon yang berkembang berupa perangkap struktur
berupa perangkap lipatan dan perangkap sesar inversi, maupun kombinasi
antara lipatan dan sesar naik, disamping itu beberapa perangkap stratigrafi

umum dijumpai pada kawasan ini berupa pembajian dari lensa- lensa
batupasir.
d. Batuan Penyekat (Cap Rock)
Batuan tudung yang berkembang dikawasan Cekungan Kutai
berasal dari serpih. Grup Balikpapan dan Formasi Kampung Baru memiliki
serpih yang sangat potensial sebagai batuan tudung. Serpih ini berinterkalasi
dengan batupasir yang membentuk cebakan hidrokarbon. Dalam konteks
stratigrafi sikuen, maximum flooding surface merupakan lapisan tudung yang
efektif, karena mengandung banyak serpih. Patahan dapat pula berperan
sebagai tudung yang sangat efektif di beberapa lapangan minyak di
Cekungan Kutai.
e. Migrasi
Migrasi primer yang merupakan ekspulsi dari hidrokarbon dari
batuan induk yang telah matang dapat diperhitungkan dari beberapa metoda
pendekatan, seperti indeks plot silang kematangan produksi dan pemodelan
kinetik. Dengan menggunakan plot silang Ro-OPI, secara semu dapat terlihat
bahwa hidrokarbon terekspulsi pada Ro=0.7%. Pada Ro 1.2%, semua cairan
dari hidrokarbon akan terkonversi menjadi gas dan memicu migrasi
sekunder. Model Kinetik menunjukan bahwa efisiensi ekspulsi dari batuan
induk yang berumur Miosen berkisar antara 25% - 40%.
Migrasi sekunder dari batuan induk menuju reservoir kebanyakan
dipengaruhi oleh strukturisasi yang intensif pada area tersebut. Mekanisme
yang dominan yakni migrasi vertikal sepanjang sistem patahan. Pada
beberapa area, ditemukan migrasi lateral. Rembesan minyak dan gas
ditemukan sepanjang Zona Patahan Saka Kanan-Loa Haur-Separi.
Cekungan Kutai ini memproduksi oil dan gas.

DAFTAR PUSTAKA

Duval, B.C., G.C. de Janvry, and B.Loiret, 1992, Detailed Geoscience Re-Interpretation
of
Indonesias Mahakam Delta Score, Oil and Gas Journal, 10
Agustus1992.
Laporan Internal VICO, 1995, Regional Tectonic Projects, Tidak dipublikasikan
Marks, E.L., Sujatmiko, L. samuel, H. Dhanutirto, T. Ismoyati, dan B.B. Sidik, 1982, Cenozoic
stratigraphic nomenclature in East Kutei Basin, Kalimantan, Indonesian Pet.
Assoc.,
11th Annual Convention Proceeding.
PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification
and
Exploration Play-types in Indonesia, Vol I, Kutai Basin, PERTAMINA, Jakarta.
PERTAMINA dan BPPKA; 1996; Petroleum Geology of Indonesian Basins:
Principles,
Methods and Application, Vol XI: Kutai Basin