Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Agama Islam merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup
pemeluknya di dunia dan akhirat kelak.1 Syaratnya, segala aturan yang ada di
dalamnya harus dijalankan. Adapun dasar agama Islam, adalah Al- Qur'an. AlQur'an yang telah diwahyukan kepada Rosul-Nya berguna untuk diajarkan kepada
manusia. Ia adalah rahmat, hidayah dan petunjuk bagi manusia. Allah SWT
menurunkan Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk, tetapi
Akan lebih tepat dinyatakan bahwa ia adalah petunjuk bagi kehidupan umat
manusia, petunjuk yang menuntun manusia ke arah jalan yang lurus, yaitu
dalam konteks perjuangan menyeluruh antara yang baik dan yang buruk.2
Sesuai dengan kodrat manusia di dunia ia berada dalam banyak jalan. Dan jika tidak
hati-hati, maka ia akan terjerumus dalam kesesatan terkecuali orang-orang yang
mendapat pertolongan. Manusia sejak keberadaannya adalah berbeda dengan
makhluk lain. Manusia mempunyai banyak tabiat dibanding
makhluk lain yang hanya memiliki satu tujuan saja.3
Selain itu manusia juga dihadapkan pada pengalaman-pengalaman hidup
yang diharapkan dapat menjadi bahan renungan dan kemudian memilih mana yang
baik. Walaupun manusia sudah diberi akal fikiran, namun dalam menggunakannya
dilarang secara berlebihan karena bukan sebagai ukuran segala sesuatu.
Maka tepat sekali sikap al Ghazali yang berjuang dengan gigih menaklukan
fikiran melalui jalan penghayatan batin. Ini berarti, akal fikiran harus tunduk kepada
hati (al qalbu) yang didasari atau dilandasi oleh iman yang kuat dan memang
iman adalah soal hati Oleh karena itu manusia harus dapat menentukan jalan
yang benar (shirat al mustaqim) di antara jalan-jalan yang ada. Dalam hal ini
manusia harus berjuang dan sungguh-sungguh, baik melalui fisik maupun mental
B. Rumusan Masalah
Dari judul makalah yang saya buat akan timbul masalah dan pertanyaan sebagai
berikut
a. Apakah pengertian islam sebagai islam way of life
b. Apa fungsi islma
c. Apasajakah sumber ajaran islam
d. Apasajakah ruang lingkup ajaran islam
1

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Dari rumusan masalah yang sudah tertulis di atas, maka dapat kita tuliskan
tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
a. Agar penulis dan pembaca mengetahuipengertian islam sebagai way of
liffe
b. Agar penulis dan pembaca mengetahui apa saja fungsi islam
c. Agar penulis dan pembaca mengetahui apa saja sumber ajaran islam
d. Agar penulis dan pembaca mengetahui ruang lingkup ajaran islam
D. Metode pembahasan
Dalam metode pembahasan kami adalah mengumpulkan data dari internet yang
tersedia di blog blog internet yang telah tersedia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Islam Way Of Life1
Islam adalah Way Of Life pandangan hidup dan sistem hidup universal, juga
denyut nadi yang mensejarah sepanjang peradaban manusia. Sampai kapanpun
dimanapun islam kian diperbincangkan karna menjadi suatu topik yang menarik
untuk di ketahui oleh orang-orang yang tengah kehilangan hidup yang pasti.
Kenyataanya islam bukanlah satu-satunya jalan hidup yang ada, dari zaman onta
hingga toyota pada hakikatnya manusia mencari kebahagian dan maslahat dalam
hidupnya. Ya tergantung manusia itu sendiri akan berbuat baikkah? Atau buruk?
Dan apa sih agama islam itu?
Dalam kitab hadist shoheh al bukhori muslim bab 1 hal 3 menyatakan bahwa
dalam hadist di katakan silam adalah menyembah allah dan tidak mensekutukan
nya dengan suatu apapun, dan lalu mendirikan sholat
Agama islam adalah agama allah, dari Allah dan untuk Allah. Diamanatkan
kepada umat pengikut Allah. Sejak jaman nabi Adam, Musa, dan Isa agama Allah
adalah islam, meskipun agama yahudi diklaim sebagai agama yang dibawa oleh
nabi Musa juga agama kristen yang di klaim sebagai ajaran yang dibawa oleh nabi
Isa. Padahal sebenarnya ajaran yang dibawa oleh Musa dan Isa untuk masalah
akidah adalah sama, sama-sama mengesakan Allah. Hanya berbeda dalam hal
syara yang lain. Jadi, makna islam dapat dipersempit lagi sebagai agama yang
diamanatkan kepada umat pengikut Rasulullah Muhammad SAW.
Karna sperti yang kita tahu,tujuan islam adalah untuk mewujudkan
kemaslahatan dan menghindarkan kerusakan dan bahaya dari seorang hamba baik
dulu, sekarang dan zaman yang akan datang. Sehingga akan tercapailah
kebahagian yang hakiki dimanapun berada.
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup
bersifat kodrati, karena itu ia akan menentukan masa depan seseorang. Pandangan
hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman,
arahan serta petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan
hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah seseorang menurut
waktu dan tempat hidupnya. Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul
1 Rio Antoro,islam sebagai way of life, http://hakunix.blogspot.co.id/2013/12/contoh-makalah-islam-sebagaipedoman.html,di akses pada 15 september 2016 pukul 08:00
3

sekita atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang
cukup lama dan terus-menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji
kenyataannya. Sehingga hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, dan diakui
kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai
pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidupCara
manusia memandang dan mensikapi apa yang terdapat dalam alam semesta
bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu boleh
jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat
atau lainnya. Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu.
Sejak dulu, umat Islam dalam memahami ajaran Islam tak pernah
surut. Segala potensi dan metodologis digunakan untuk memberi jalan kemudahan
mengenal Islam dari berbagai sudut dimensi. Singkatnya, banyak jalan bagaimana
memahami Islam secara utuh dan komprehensif. Islam adalah denyut nadi yang
mensejarah sepanjang peradaban manusia. Sampai kapan pun, Islam tak akan
pernah kering dari perhatian orang. Studi-studi agama menempatkan Islam sebagai
kajian menarik yang dilakukan setiap orang. Lebih dari itu, kini Islam di Barat
menjadi perhatian orang-orang yang tengah kehilangan pegangan hidup yang pasti.
Tidak sedikit, orang Barat tertarik mempelajari Islam, bahkan memeluknya sebagai
pegangan hidup.
Intensitas pengkajian terhadap Islam sungguh di luar dugaan. Tidak saja di
pesantren-pesantren, sebagai basis mendalami ajaran Islam, melainkan di
perguruan tinggi ramai mempelajari Islam. Meski ajaran Islam terkesan doktriner dan
final, tetapi justru membuat banyak orang tertarik melakukan pengkajian
terhadapnya. Cara pandang seseorang pun bisa berbeda, orang awam berbeda
dengan kaum cendikiawan, orang kaya berbeda dengan orang miskin, politikus
berbeda dengan ekonom, dan begitu seterusnya.
Memang, dari dulu ajaran Islam tetap sama. Namun setiap kepala orang
dapat berbeda dalam mengartikulasikan Islam. Hal ini karena Islam mengandung
nilai universalitas yang cukup memberi peluang setiap pemeluknya untuk berbeda.
Meski berbeda memahami Islam, semangat untuk menghayati dan mengamalkan
Islam justru semakin dinamis. Hal ini bisa terlihat dari semangat banyaknya
organisasi Islam yang tak pernah sepi dari upaya kreatif memahami Islam.
Dalam memahami ajaran Islam membutuhkan rujukan aslinya. Dari sumber itu
baru dapat dipahami secara korelatif, integratif dan berkesinambungan. Dengan
4

melibatkan berbagai pendekatan (interdisipliner), secara utuh Islam dapat dipahami


lebih terbuka dan kontekstual sesuai dengan tingkat peradaban umat manusia. Islam
tampil sebagai kekuatan penggerak spiritual, moral, ilmu dan amal saleh.
Aktualisasi ajaran Islam adalah penting. Hal ini seperti pesan Quran maupun
hadits yang menyuruh umat Islam agar selalu mengerahkan aql atau pemikiran dan
sekaligus menyesuaikan perkembangan dan perubahan zaman.
Islam sebagai agama sekaligus doktrin, setidaknya ada tiga hal yang pertu
dipetik, yakni Islam sebagai sumber kekuatan dan keyakinan spiritual, Islam sebagai
wawasan dan pandangan hidup (world view) dan Islam sebagai komitmen hidup dan
perjuangan. Pemahaman seperti inilah akan memberikan jawaban terhadap
persolaan di tengah tantangan kehidupan manusia dewasa ini. Islam menjadi
petunjuk yang selalu up to date sepanjang masa.
B. Peran Agama Bagi Kehidupan
a. Sebagai Pembimbing Dalam Hidup
Pengendali

utama

kehidupan

manusia

adalah

kepribadiannya

yang

mencakup segala unsure pengalaman pendidikan dan keyakinan yang didapatnya


sejak kecil. Apabila dalam pertumbuhan seseorang terbentuk suatu kepribadian
yang harmonis, di mana segala unsur pokoknya terdiri dari pengalaman yang
menentramkan jiwa maka dalam menghadapi dorongan baik yang bersifat biologis
ataupun rohani dan sosial akan mampu menghadapi dengan tenang.
b. Penolong Dalam Kesukaran
Orang yang kurang yakin akan agamanya (lemah imannya) akan menghadapi
cobaan/kesulitan dalam hidup dengan pesimis, bahkan cenderung menyesali hidup
dengan berlebihan dan menyalahkan semua orang.
Beda halnya dengan orang yang beragama dan teguh imannya, orang yang
seperti ini akan menerima setiap cobaan dengan lapang dada. Dengan keyakinan
bahwa setiap cobaan yang menimpa dirinya merupakan ujian dari tuhan (Allah) yang
harus dihadapi dengan kesabaran karena Allah memberikan cobaan kepada
hambanya sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, barang siapa yang mampu
menghadapi ujian dengan sabar akan ditingkatkan kualitas
Manusiaitu
.
2 Rio Antoro,islam sebagai way of life, https://ilmupengatahuanhukum.blogspot.co.id/2016/01/peran-danfungsi-agama-islam.html, di akses pada 15 september 2016 pukul 08:00
5

c. Penentram Batin
Jika orang yang tidak percaya akan kebesaran tuhan tak peduli orang itu kaya
apalagi miskin pasti akan selalu merasa gelisah. Orang yang kaya takut akan
kehilangan harta kekayaannya yang akan habis atau dicuri oleh orang lain, orang
yang miskin apalagi, selalu merasa kurang bahkan cenderung tidak mensyukuri
hidup
Lain halnya dengan orang yang beriman, orang kaya yang beriman tebal tidak
akan gelisah memikirkan harta kekayaannya. Dalam ajaran Islam harta kekayaan itu
merupakan titipan Allah yang didalamnya terdapat hak orang-orang miskin dan anak
yatim piatu. Bahkan sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang maha berkehendak, tidak
Begitu juga dengan orang yang miskin yang beriman, batinnya akan selalu
tentram karena setiap yang terjadi dalam hidupnya merupakan ketetapan Allah dan
yang membedakan derajat manusia dimata Allah bukanlah hartanya melainkan
keimanan dan ketakwaannya
d. Pengendali Moral
Setiap manusia yang beragama yang beriman akan menjalankan setiap
ajaran agamanya. Terlebih dalam ajaran Islam, akhlak amat sangat diperhatikan dan
di junjung tinggi dalam Islam. Pelajaran moral dalam Islam sangatlah tinggi, dalam
Islam diajarkan untuk menghormati orang lain, akan tetapi sama sekali tidak
diperintah untuk meminta dihormati.
Islam mengatur hubungan orang tua dan anak dengan begitu indah. Dalam AlQuran ada ayat yang berbunyi: dan jangan kau ucapkan kepada kedua (orang
tuamu) uf!! Tidak ada ayat yang memerintahkan kepada manusia (orang tua) untuk
minta dihormati kepada anak.
Selain itu Islam juga mengatur semua hal yang berkaitan dengan moral, mulai
dari berpakaian, berperilaku, bertutur kata hubungan manusia dengan manusia lain
(hablum minannas/hubungan sosial). Termasuk di dalamnya harus jujur, jika seorang
berkata bohong maka dia akan disiksa oleh api neraka. Ini hanya contoh kecil
peraturan Islam yang berkaitan dengan moral. Masih banyak lagi aturan Islam yang
berkaitan dengan tatanan perilaku moral yang baik, namun tidak dapat sepenuhnya
dituliskan disin

C. 3Sumber Ajaran Islam


a. Al-quran
Al-Quran adalah nama bagi kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai
petunjuk hidup (hidayah) bagi seluruh umat manusia. Al-Quran diwahyukan olah
Allah kepada Nabi Muhamad SAW. setelah beliau genap berumur 40 tahun. AlQuran diturunkan kepada beliau secara berangsur-angsur selama 23 tahun.[3]
Secara etimologi, Al-Quran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraaatan atau
quraanan yang berarti mengumpulkan (al-jamu) dan menghimpun (al-dlammu).
Huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur dikatakan
al-Quran karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu
pengetahuan.
Sedangkan secara terminologi, Alquran adalah Kalam Allah taala yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai Rasul terakhir melalui perantara
malaikat Jibril, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
[4] Sedangkan menurut para ulama, Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan
pada Rasulullah dengan bahasa arab, merupakan mukjizat dan diriwayatkan secara
mutawatir serta membacanya adalah ibadah.
Adapun kandungan dalam al-Quran antara lain:
1) Tauhid, yaitu kepercayaan terhadap ke-Esaan Allah dan semua kepercayaan
yang berhubungan dengan-Nya.
2) Ibadah, yaitu semua bentuk

perbuatan

sebagai

manifestasi

dari

kepercayaan ajaran tauhid.


3) Janji dan ancaman (al wad wal waiid), yaitu janji pahala bagi orang yang
percaya dan mau mengamalkan isi al-Quran dan ancaman siksa bagi orang
yang mengingkarinya.
4) Kisah umat terdahulu, seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiarkan
risalah Allah maupun kisah orang-orang shaleh ataupun orang yang
mengingkari kebenaran al-Quran agar dapat dijadikan pembelajaran bagi
umat setelahnya.

3 Rio antoro,islma sebagai way of life, https://www.academia.edu/8745153/sumber-sumber_ajaran_islam, di


akses pada 16 september 2016
7

5) Berita tentang zaman yang akan datang. Yakni zaman kehidupan akhir
manusia yang disebut kehidupan akhirat.[5]
6) Benih dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, yakni informasi-informasi
tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, langit, bumi, matahari dan
lain sebagainya.
Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, yaitu:
1) Hukum Itiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia
dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan.
Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut
Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu Kalam.
2) Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan
manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta
manusia dengan lingkungan sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam
Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat. Adapun ilmu yang
mempelajarinya disebut Ilmu Fikih.
3) Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal
manusia dalam kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk
sosial. Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. Adapun ilmu yang
mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf.
Sedangkan khusus hukum syara, dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yakni:
1)

Hukum ibadah, yaitu mencakup hubungan vertikal atau dalam bahas arab
biasa disebut dengan hablum minallah, hukum yang mengatur hubungan
manusia dengan Allah SWT, misalnya salat, puasa, zakat, haji, dank urban.

2)

Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama


manusia dan alam sekitarnya. Pada dasarnya hukum tersebut bisa
dikatakan sebagai Hablum Minannas.

b. As-Sunnah
Hadits disebut juga As-Sunnah. Sunnah secara bahasa berarti "adat-istiadat"
atau "kebiasaan" (traditions). Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan
penetapan/persetujuan serta kebiasaan Nabi Muhammad Saw. Penetapan (taqrir)
adalah persetujuan atau diamnya Nabi Saw terhadap perkataan dan perilaku
sahabat. Pengertian di atas didasarkan kepada Hadits Nabi Saw yang diriwayatkan
oleh Muslim sebagai berikut:
8

Barang siapa
membuat sunnah yang baik maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala
orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Barangsiapa membuat sunnah yang buruk maka dia akan memperoleh dosanya dan
dosa orang yangmengamalkannya se
sudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun
Al Sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah: Apa-apa yang diriwayatkan
dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik berbentuk ucapan, perbuatan,
ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan
sabda Nabi Muhammad Saw.
Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka
menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, lalu mereka tidak merasa berat hati terhadap putusan yang kamu
berikan dan mereka menerima sepenuh hati(Q.S. An Nisaa:65).
Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang
dilarangnya maka tinggalkanlah (Q.S.Al Hasyr:7).
Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh
dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan
Sunnah-ku. (HR. Hakim dan Daruquthni).
Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur
Rasyidin setelahku(H.R. Abu Daud).
Sunnah merupakan penafsir sekaligus juklak (petunjuk pelaksanaan) AlQuran. Sebagai contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan
berbicara tentang ruku dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang
memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulai takbiratul ihram
(bacaan Allahu Akbar sebagai pembuka shalat), doa iftitah, bacaan Al-Fatihah,
gerakan ruku, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam.
Fungsi Al-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Quran itu adalah sebagai
berikut

1. Bayan Tafsir
Yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak.
Seperti hadits : Shallu kamaa ro-aitumuni ushalli (Shalatlah kamu sebagaimana
kamu melihatku shalat) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Quran yang
9

umum, yaitu : Aqimush-shalah (Kerjakan shalat). Demikian pula hadits: Khudzu


anni manasikakum (Ambillah dariku perbuatan hajiku) adalah tafsir dari ayat AlQuranWaatimmulhajja(Dansempurnakanlah hajimu ).
2. Bayan Taqrir
Yaitu Al-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan
Al-Quran. Seperti hadits yang berbunyi: Shoumu liruyatihiwafthiru liruyatihi
(Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya) adalah
memperkokoh ayat Al-Quran dalam surat Al-Baqarah : 185.
3. Bayan Taudhih,
Yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-Quran, seperti
pernyataan Nabi : Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik
harta-hartamu yang sudah dizakati, adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat AlQuran dalam surat at-Taubah: 34, yang artinya sebagai berikut : Dan orang-orang
yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah
maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih. Pada waktu ayat ini turun
banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka
mereka bertanya kepada Nabi yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.
c. Ijtihad
Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu
masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Pelakunya disebut Mujtahid.
Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga setelah AlQuran dan As-Sunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu
Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad Saw dan Muadz
bin Jabal yang diangkat sebagai Gubernur Yaman.
Ijtihad adalah sarana ilmiah untuk menetapkan hukum sebuah perkara yang
tidak secara tegas ditetapkan Al-Quran dan As-Sunnah. Pada dasarnya, semua
umat Islam berhak melakukan Ijtihad, sepanjang ia menguasai Al-Quran, AsSunnah, sejarah Islam, juga berakhlak baik dan menguasai berbagai disiplin ilmu
pengetahuan. Lazimnya, Mujtahid adalah para ulama yang integritas keilmuan dan
akhlaknya diakui umat Islam. Hasil Ijtihad mereka dikenal sebagai fatwa. Jika Ijtihad
dilakukan secara bersama-sama atau kolektif, maka hasilnya disebut Ijma atau
kesepakatan.

10

D. 4Ruang Lingkup Ajaran Islam


a. Aqidah
Kata aqidah berasal dari bahasa Arab, yaitu yang berarti
(menghimpun atau mempertemukan dua buah ujung atau sudut/ mengikat). Secara
istilah aqidah berarti keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang dan menjadi
landasan segala bentuk aktivitas, sikap, pandangan dan pegangan hidupnya. Istilah
ini identik dengan iman yang berarti kepercayaan atau keyakinan
Sekiranya disinergiskan antara makna lughawi dan istilah dari kata aqidah di
atas dapat digambarkan bahwa aqidah adalah suatu bentuk keterikatan atau
keterkaitan antara seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga kondisi ini selalu
mempengaruhi hamba dalam seluruh perilaku, aktivitas dan pekerjaan yang ia
lakukan. Dengan kata lain keterikatan tersebut akan mempengaruhi dan mengontrol
dan mengarahkan semua tindak-tanduknya kepada nilai-nilai ketuhanan.
Masalah-masalah aqidah selalu dikaitkan dengan keyakinan terhadap Allah,
Rasul dan hal-hal yang ghaib yang lebih dikenal dengan istilah rukun iman. Di
samping itu juga menyangkut dengan masalah eskatologi, yaitu masalah akhirat dan
kehidupan setelah berbangkit kelak. Keterkaitan dengan keyakinan dan keimanan,
maka muncul arkanul iman, yakni, iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, hari
akhirat, qadha dan qadar
Di dunia Islam, permasalahan aqidah telah terbawa pada berbagai pemahaman,
sehingga menimbulkan kelompok-kelompok di mana masing-masing kelompok
memiliki metode dan keyakinan masing-masing dalam pemahamannya. Di antara
kelompok-kelompok tersebut adalah Muktazilah, Asyariyah, Mathuridiyah, Khawarij
dan Murjiah.
Menurut Harun Nasution, timbulnya berbagai kelompok dalam masalah aqidah
atau

teologi

berawal

ketika

terjadinya

peristiwa

arbitrase

(tahkim)

ketika

menyelesaikan sengketa antara kelompok Muawiyah dan Ali ibn Abi Thalib. Kaum
Khawarij memandang bahwa hal tersebut bertentangan dengan QS al-Maidah/ 5: 44
yang berbunyi;

Siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang diturunkan Allah adalah
kafir (QS al-Maidah/ 5: 44)
Peristiwa tersebut membuat kelompok Khawarij tidak senang, sehingga mereka
mendirikan kelompok tersendiri serta memandang bahwa Muawiyah dan Ali ibn Abi
Thalib adalah Kafir, sebab mereka telah melenceng dari ketentuan yang telah
4 Rio antoro,islma sebagai way of life, https://apri76.wordpress.com/2008/07/14/ruang-lingkup-ajaran-islamsebuah-telaah-kritis/, di akses pada 16 september 2016 pada pukul 05:00
11

digariskan al-Quran. Dengan berdirinya kelompok ini, juga memicu berdirinya


kelompok-kelompok lain dalam masalah teologi, sehingga masing-masing memiliki
pemahaman yang berbeda dengan yang lainnya. Namun demikian, perbedaan
tersebut tidaklah sampai menafikan Allah, dengan kata lain perbedaan pemahaman
tersebut tidak sampai menjurus untuk lari dari tauhid atau berpaling pada thgh t.
Di antara sumber perbedaan pemahaman antara masing-masing golongan
tersebut antara lain adalah masalah kebebasan manusia dan kehendak mutlak
Tuhan. Ada kelompok yang menganggap bahwa kekuasan Tuhan adalah maha
mutlak, sehingga manusia tidaklah memiliki pilihan lain dalam berbuat dan
berkehendak. Kelompok ini diwakili oleh kelompok Asyariyah. Ada pula kelompok
bahwa Tuhan memang maha kuasa, tetapi Tuhan menciptakan sunnah-Nya dalam
mengatur kebebasan manusia, sehingga manusia memiliki alternatif dan pilihan
dalam berkehendak dan berbuat sesuai dengan sunnah yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain manusia bebas dalam berbuat dan berkehendak. Kelompok ini
diwakili oleh kelompok Muktazilah. Ada pula kelompok yang mengambil sikap
pertengahan antara kedua kelompok tersebut, namun mereka tetap meyakini bahwa
Allah maha kuasa terhadap seluruh tindak-tanduk dan kehendak manusia.
Kelompok ini diwakili oleh Mathuridiyah.
Itulah sekilas tentang permasalahan aqidah serta pemikiran masing-masing
kelompoknya, di mana semua itu beranjak dari pemahaman mereka terhadap
kekuasaan Allah dan kebebasan manusia.
b. Ibadah
Ibadah berasal dari kata yang berarti hamba. Kemudian dari kata ini muncul
kata yang berarti ( memperlihatkan/ mendemonstrasikan
ketundukan dan kehinaan). Secara istilah ibadah berarti usaha menghubungkan
dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang disembah
Ulama fiqh mendefenisikan ibadah sebagai ketaatan yang disertai dengan
ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah SWT. Redaksi lain menyebutkan
bahwa ibadah adalah semua yang dilakukan atau dipersembahkan untuk
memperoleh keredhaan Allah dan mengharapkan imbalan pahala-Nya di akhirat
kelak.
Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa ibadah berawal dari suatu hubungan dan
keterkaitan yang erat antara hati dengan yang disembah.Kemudian hubungan dan
keterkaitan tersebut meningkat menjadi kerinduan karena tercurahnya perasaan hati
12

kepada-Nya. Kemudian rasa rindu itu pun meningkat menjadi kecintaan yang
kemudian meningkat pula menjadi keasyikan. Sehingga akhirnya membuat cinta
yang amat mendalam yang membuat orang yang mencitai bersedia melakukan apa
saja demi yang dicintai. Oleh karena itu, betapapun seseorang menundukkan diri
kepada sesama manusia, ketundukan demikian tidak dapat disebut sebagai ibadah
sekalipun antara anak dan bapaknya.
Dari

segi

manfaatnya

yaitu; pertama, ibadah

ibadah

perorangan

dapat

dibagi

menjadi

(fardhiyah/mahdhah),

dua

yakni

macam,

ibadah

yang

menyangkut diri pelakunya sendiri serta tidak ada hubungannya dengan orang lain
seperti

shalat

dan

puasa. Kedua, ibadah

kemasyarakatan

(ijtimiyah/ghaira

mahdhah), yakni ibadah yang memiliki keterkaitan dengan orang lain, terutama dari
segi sasarannya seperti sedekah, zakat dan sebagainya. Berkaitan dengan ini,
Dalam Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah dijelaskan bahwa ibadah ialah
bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan mentaati segala perintah-Nya,
menjauhi

segala

larangan-larangan-Nya

dan

mengamalkan

segala

yang

diizinkannya. Ibadah ada yang umum dan ada yang khusus. Ibadah umum ialah
segala amalan yang dizinkan Allah sedangkan ibadah khusus ialah apa yang telah
ditetapkan Allah akan perinciannya, tingkat dan cara-caranya yang tertentu.
Menurut Nazaruddin Razak, dalam konteks ibadah yang dikerjakan, terdapat
lima pokok ibadah, yakni: shalat, zakat, puasa dan naik haji serta disusul dengan
thaharah, di mana thaharah merupakan kewajiban yang menyertai shalat, zakat,
puasa dan naik haji.
Yusuf al-Qaradhawiy menjelaskan lima persyaratan agar suatu perbuatan dapat
bernilai ibadah, yaitu:
1)

Perbuatan yang dimaksud tidak bertentangan dengan syariat Islam.

2)

Perbuatan tersebut dilandasi dengan niat yang suci dan ikhlas.

3)

Untuk melakukan perbuat tersebut, yang bersangkutan harus memiliki

keteguhan hati dan percaya diri bahwa perbuatan yang dilakukan akan membawa
kepada kebaikan.
4)

Harus memperhatikan garis-garis atau aturan-aturan Allah SWT, tidak ada

unsur kelaliman, khianat, penipuan dan lain-lain.


5)

Perbuatan-perbuatan duniawi yang dilakukan dengan niat ibadah tidak

boleh menghalangi kewajiban-kewajiban agama seperti berjual beli yang membuat


diri lalai mengerjakan shalat dan sebagainya.
13

c. Ahlaq
Akhlaq merupakan bentuk jamak dari ( al-khuluq) yang berarti
( kekuatan jiwa dan perangai yang dapat diperoleh melalui
pengasahan mata bathin). Dari pengertian lughawi ini, terlihat bahwa akhlaq dapat
diperoleh dengan melatih mata bathin dan ruh seseorang terhadap hal yang baikbaik. Dengan demikian dari pengertian lughawi ini tersirat bahwa pemahaman
akhlaq lebih menjurus pada perbuatan-perbuatan terpuji. Konsekuensinya adalah
bahwa perbuatan jahat dan melenceng adalah perbuatan yang tidak berakhlaq
(bukan akhlq al-madzmmah).
Secara istilah akhlaq berarti tingkah laku yang lahir dari manusia dengan
sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan. Sedangkan Nazaruddin
Razak, mengungkapkan akhlak dengan makna akhlak islam, yakni suatu sikap
mental dan laku perbuatan yang luhur, mempunyai hubungan dengan Zat Yang
Maha Kuasa dan juga merupakan produk dari keyakinan atas kekuasaan dan
keeasaan Tuhan, yaitu produk dari jiwa tauhid.
Dari pengertian ini terlihat sinergisitas antara makna akhlaq dengan alkhalq yang berarti penciptaan di mana kedua kata ini berasal dari akar kata yang
sama. Dengan demikian pengertian ini menggambarkan bahwa akhlaq adalah hasil
kreasi manusia yang sudah dibiasakan dan bukan datang dengan spontan begitu
saja, sebab ini ada kaitannya dengan al-khalq yang berarti mencipta. Maka akhlaq
adalah sifat, karakter dan perilaku manusia yang sudah dibiasakan.
Al-Quran memberi kebebasan kepada manusia untuk bertingkah laku baik atau
berbuat buruk sesuai dengan kehendaknya. Atas dasar kehendak dan pilihannya
itulah manusia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat atas segala tingkah
lakunya. Di samping itu, akhlaq seorang muslim harus merujuk kepada al-Quran
dan sunnah sebagai pegangan dan pedoman dalam hidup dan kehidupan.
Secara garis besar menurut Endang Saifuddin Anshari, akhlak terdiri
atas; pertama, akhlak manusia terhadap khalik, kedua, akhlak manusia terhadap
sesama makhluk, yakni akhlak manusia terhadap sesama manusia dan akhlak
manusia terhadap alam lainnya.
Menurut Muhammad Quraish Shihab, akhlaq manusia terhadap Allah SWT
bertitik tolak dari pengakuan dan kesadarannya bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah
yang memiliki sifat terpuji dan sempurna. Dari pengakuan dan kesadaran itu akan
lahir tingkah laku dan sikap sebagai berikut:
14

1)

Mensucikan Allah dan senantiasa memujinya.

2)

Bertawakkal atau berserah diri kepada Allah setelah berbuat dan berusaha

terlebih dahulu.
3)

Berbaik sangka kepada Allah, bahwa yang datang dari Allah kepada

makhluk-Nya hanyalah kebaikan.


Adapun akhlaq kepada sesama manusia dapat dibedakan kepada beberapa hal,
yaitu:
1) Akhlaq kepada orang tua, yaitu dengan senantiasa memelihara keredhaannya,
berbakti kepada keduanya dan memelihara etika pergaulan dengan keduanya.
2) Akhlaq terhadap kaum kerabat, yaitu dengan menjaga hubungan shilaturrahim serta
berbuat kebaikan kepada sesama seperti mencintai dan merasakan suka duka
bersama mereka.
3) Akhlaq kepada tetangga, yaitu dengan menjaga diri untuk tidak menyakiti hatinya,
senantiasa berbuat baik (ihsn) dan lain-lain sebagainya.
d.

Muamalah

Secara etimologi muamalah semakna dengan yang berarti saling berbuat.


Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan orang
lain atau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Secara
terminologi kata ini lebih dikenal dengan istilah fiqh muamalah, yaitu hukum-hukum
yang

berkaitan

dengan

tindak-tanduk

manusia

dalam

persoalan-persoalan

keduniaan. Misalnya dalam persoalan jual beli, utang-piutang, kerjasama dagang,


persyarikatan, kerjasama dalam penggarapan tanah, sewa menyewa dan lain-lain
sebagainya.
Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa tidak boleh ada sesuatupun dari
tindak-tanduk manusia yang lari dari prinsip-prisip ketuhanan, termasuk dalam
masalah muamalah atau yang lebih dikenal dengan tindak-tanduk manusia dalam
berinteraksi dengan sesamanya untuk memenuhi kehidupannya masing-masing.
Walau semua itu diatur hanya secara global, namun Allah telah memberikan konsep
dan prinsip-prinsip umum bagi manusia dalam berhubungan dengan sesamanya.
Dengan demikian, maka seluruh aktivitas dan tindak-tanduk manusia harus sesuai,
menjurus dan sinergis dengan apa yang telah ditetapkan di dalam nash, baik dari
nash al-Quran maupun dari hadits.
Di samping itu, juga terdapat beberapa keistimewaan ajaran muamalah yang
bersumber dari al-Quran dan sunnah, antara lain yaitu:
15

1)

Prinsip dasar dalam persoalan muamalah adalah untuk mewujudkan

kemaslahatan umat manusia, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan


berbagai situasi dan kondisi yang mengitari manusia itu sendiri. Dari prinsip pertama
ini terlihat perbedaan muamalah dengan persoalan aqidah, akhlaq dan ibadah.
Dalam persoalan aqidah, syariat Islam bersifat menentukan dan menetapkan secara
tegas hal-hal yang menyangkut masalah aqidah tersebut dan tidak diberikan
kebebasan bagi manusia untuk melakukan suatu kreasi. Dalam bidang akhlaq juga
demikian, yaitu dengan menetapkan sifat-sifat terpuji yang harus diikuti oleh umat
Islam serta sifat-sifat tercela yang harus dihindari. Selanjutnya di bidang ibadah dan
bahkan prinsip dasarnya adalah tidak boleh dilakukan atau dilaksanakan oleh setiap
muslim jika tidak ada dalil yang memerintahkan untuk dilaksanakan.
2)

Bahwa berbagai jenis muamalah, hukum dasarnya adalah boleh sampai

ditemukan dalil yang melarangnya. Ini artinya, selama tidak ada dalil yang melarang
suatu kreasi jenis muamalah, maka muamalah itu dibolehkan. Namun demikian,
walau pada prinsipnya muamalah dibolehkan selama tidak ada dalil yang
melarangnya, tetapi semua itu tidak boleh lepas dari sikap pengabdian kepada Allah
SWT, di mana terdapat kaidah-kaidah umum yang mengatur dan mengontrolnya,
antara lain yaitu; Tidak boleh terlepas dari nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai
kemanusiaan; Berdasarkan pertimbangan kemaslahatan pribadi dan masyarakat;
Menegakkan prinsip kesamaan hak dan kewajiban sesame manusia; Seluruh
perbuatan kotor adalah haram dan seluruh tindakan yang baik adalah halal, dan lainlain.
Secara umum muamalah mencakup antara lain yaitu; hal-hal yang berkaitan
dengan hak-hak dan hal lain yang terkait dengannya; Hal-hal yang berkaitan dengan
harta seperti hibah, sedekah dan sebagainya; Hal-hal yang berkaitan dengan
perdagangan seperti jual beli, khiyr, ihtikr, syirkah, mudhrabah dan sebagainya;
Hal-hal

yang

berkaitan

dengan

pemberian

amanah

kepada

orang

lain

seperti hiwlah, ijrah, ariyah, al-rahn dan sebagainya; Hal-hal yang berkaitan
dengan lahan pertanian seperti muzraah, musqah, dan lain-lain.
E.

Karakteristik Ajran Islam

Selama ini mungkin kita sudah mengenal Islam, tapi banyak diantara kita yang
belum memahami Islam itu sendiri. Namun, banyak juga orang yang telah mengenal
5 Rio Antoro,islam sebagai way of life, http://www.kompasiana.com/alihanafia/karakteristik-ajaranislam_54f82c30a33311805e8b462d, di akses pada 19 september 2016 pada pukul 06:00
16

Islam, tetapi sejauh mana sudah memahami potret Islam. Ini adalah salah satu
persoalan yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Dengan demikian Islam itu
mempunyai karakteristik yang sangat luas dan tidak bisa memisah-memisahkan
dengan yang lainnya.
Para ilmuan muslim juga mempergunakan berbagai pendekatan, untuk
mengetahui dan memahami karakteristik ajaran Islam. Dan tidak untuk mencoba
memperdebatkan antara satu dan dengan yang lainnya. Melainkan lebih mencari
sisi-sisi persamaan untuk permaslahatan umat umumnya untuk keperluan studi
khususnya.
Dari berbagai sumber tentang Islam yang di tulis para tokoh, dapat diketahui
bahwa Islam memiliki karakteristik yang khas yang dapat dikenali melalui
konsepsinya dalam berbagai bidang. Konsepsi Islam dalam berbagai bidang yang
menjadi karakteristik itu dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Dalam Bidang Agama
Nurcholis Madjid banyak berbicara tentang karakteristik ajaran Islam dalam
bidang agama. Menurutnya, bahwa dalam bidang agama Islam mengakui adanya
pluralisme. Pluralisme menurut Nurcholis adalah sebuah aturan Tuhan yang tidak
akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Dan Islam adalah
agama yang kitab sucinya dengan tegas mengakui hak agama lain, kecuali yang
berdasarkan paganisme dan syirik, untuk hidup dan menjalankan ajaran masingmasing dengan penuh kesungguhan.
Memang dan seharusnya tidak perlu mengherankan, bahwa Islam selaku agama
besar terakhir, mengklaim sebagai agama yang memuncaki proses pertumbuhan
dan perkembangan agama-agama dalam garis kontiunitas tersebut. Bahkan AlQuran juga mengisaratkan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya
kepada Tuhan dan hari kemudian serta berbuat baik., semuanya akan selamat.
Inilah yang selanjutnya menjadi dasar toleransi agama yang menjadi ciri sejati Islam
dalam sejarahnya yang otentik, sesuatu semangat yang merupakan kelanjutan
pelaksanaan ajaran Al-Quran.
Karakteristik ajaran Islam dalam bidang agama tersebut disamping mengakui
adanya pluralisme sebagai suatu kenyataan, juga mengakui adanya universalisme,
yakni mengakarkan kepercayaan kepada Tuhan dan hari akhir, menyuru berbuat
baik, dan mengajak kepada keselamatan. Dalam hubungan ini menarik sekali apa
yang dikatakan H.M Quraish Shaihab, menurutnya, bahwa dengan menggali ajaran-

17

ajaran-agama, meninggalkan fanatisme buta, serta berpijak kepada kenyataan, jalan


dapat dirumuskan.
Dengan demikian, karakteristik ajaran Islam dalam visi keagamaannya bersifat
toleran, pemaaf, tidak memaksa, dan saling menghargai karena dalam pluralisme
agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian kepada Tuhan.
b. Dalam Bidang Ibadah
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam
bidang ibadah. Secara harfiah ibadah bararti bukti manusia kepada Allah SWT,
karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid.
Ibadah yang dibahas dalam bagian ini adalah ibadah dalam arti yang nomor
dua, yaitu ibadah khusus. Dalam yuriprudensi Islam telah ditetapkan bahwa dalam
urusan ibadah tidak boleh kreatifitas, sebab yang mengcreate atau yang membentuk
suatu ibadah dalam Islam dinilai sebagai bidaah yang dikutuk Nabi sebagai
kesesatan.
Kedudukan manusia dalam hal ini mematuhi, menaati, melaksanakan, dan
menjalankannya dengan penuh ketundukan pada Tuhan, sebagai bukti pengabdian
dan rasa terima kasih kepada_Nya. Dengan demikian, visi Islam tentang ibadah
adalah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajarannya diperintahkan agar beribadah
kepada-Nya
c. Dalam Bidang Akidah
Dalam kitab Mujam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengartikan akidah menurut
bahasa adalah menghubungkan dua sudut sehingga bertemu dan bersambung
secara kokoh. Dalam bidang perundang-undangan, akidah berarti menyepakati
antara dua perkara atau lebih yang harus dipatuhi bersama.
Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui dalam bidang akidah ini adalah
bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya. Yang
diyakini dan diakui sebagai Tuhan yang wajib disebah hanya Allah. Dalam
prosesnya, keyakinan tersebut harus langsung tidak boleh ada perantara.
Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan
yang wajib di sembah ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat,
yaitu menyatakan tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW
sebagai utusa-Nya, perbuatan dengan amal sholeh.
Dalam hubungan ini Yusuf Al-Qrdawi menyatakan bahwa iman menurut
pengertian yang sebenarnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan
penuh ke yakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi
pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.

18

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengendali utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup
segala unsure pengalaman pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil.
Islam adalah Way Of Life pandangan hidup dan sistem hidup universal, juga denyut
nadi yang mensejarah sepanjang peradaban manusia.
Peran Agama Bagi Kehidupan
a. Sebagai Pembimbing Dalam Hidup
b. Penolong Dalam Kesukaran
c. Penentram Batin
d. Pengendali Moral
Sumber Ajaran Islam
a. Al-quran
b. As-Sunnah
c. Ijtihad
Ruang Lingkup Ajaran islam
a. Aqidah
b. Ibdah
c. Muamalah
Karakteristik Ajran Islam
a. Dalam Bidang Agama
b. Dalam Bidang Ibadah
c. Dalam Bidang Akidah

B. DAFTAR PUSTAKA
19

AntoroRio,Online,https://www.academia.edu/8745153/sumbersumber_ajaran_isl

am, akses 16 september


AntoroRio,Online,http://www.kompasiana.com/alihanafia/karakteristik-ajaran-

islam_54f82c30a33311805e8b462d, akses 16 september


AntoroRio,Online,http://www.computer1001.com/2008/11/cara-membuat-danmengatur-posisi-nomor.html, akses 16 september

20