Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

TELAAH REVIEW JURNAL


A. Efektifitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Halusinasi
Terhadap Penurunan Kecemasan Klien Halusinasi Pendengaran Di
Ruang Sakura RSUD Banyumas Tahun 2007.
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok klien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang
dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist (Yosep, 2009). Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas
sebagai stimulus terkait dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk
didiskusikan dalam kelompok (Keliat, 2004).
Fokus terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah membantu
pasien yang mengalami kemunduran orientasi dengan karakteristik: pasien
dengan gangguan persepsi; halusinasi, menarik diri dengan realitas, kurang
inisiatif atau ide, kooperatif, sehat fisik, dan dapat berkomunikasi verbal (Yosep,
2007).
Pengertian TAK stimulasi persepsi menurut Purwaningsih dan Karlina
(2009) adalah terapi yang bertujuan untuk membantu klien yang mengalami
kemunduruan orientasi, menstimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses
berpikir dan afektif serta mengurangi perilaku maladaftif. Jadi Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas
kelompok secara bersamaan untuk mempersiapkan stimulasi yang terkait dengan
pengalaman dalam kehidupan dan menetapkan alternatif penyelesaian masalah.
Kemampuan pasien mengontrol halusinasi dapat ditingkatkan dengan
pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif dan terus menerus disertai
dengan terapi modalitas seperti Terapi Aktivitas Kelompok. Menurut

90

91

Purwaningsih dan Karlina (2010) Terapi Aktivitas Kelompok memberikan hasil


yang lebih besar terhadap perubahan perilaku pasien, meningkatkan perilaku
adaptif serta mengurangi perilaku maladaptif. Bahkan Terapi Aktivitas Kelompok
memberikan modalitas terapeutik yang lebih besar dari pada hubungan terapeutik
antara dua orang yaitu perawat dan klien (Stuart and Sundeen, 1998).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tri Hatma Agung Nugraha
(2007), tentang Efektifitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Halusinasi Terhadap Penurunan Kecemasan Klien Halusinasi Pendengaran Di
Ruang Sakura RSUD

Banyumas Tahun 2007, dapat disimpulkan adanya

perubahan yang bermakna tingkat kecemasan klien yang mengalami Halusinasi


Antara yang dilakukan TAK Stimulasi Persepsi Halusinasi dibandingkan
dengan yang tidak mendapatkan TAK Stimulasi Persepsi Halusinasi.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan
TAK stimulasi persepsi adalah 6 (40%) responden mengalami cemas ringan dan
9 (60%) responden mengalami kecemasan sedang. Setelah dilakukan TAK
Stimulasi Persepsi Halusinasi didapatkan penurunan tingkat kecemasan yaitu 9
(60%) responden tidak mengalami kecemasan, 5 (33%) responden tidak
mengalami kecemasan ringan dan 1 (6,7%) responden mengalami kecemasan
sedang. Hasil uji statistik tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan
TAK stimulasi persepsi halusinasi menunjukkan nilai signifikasi kurang dari alfa
yang ditetapkan sebelumnya sebesar 0.5% (0.05), Artinya ada perbedaan
penurunan kecemasan pada klien halusinasi pendengaran setelah dilakukan TAK
Stimulasi Persepsi Halusinasi.
Menurut Darwanti (2007), klien dengan Halusinasi mengalami
kecemasan dari kecemasan sedang sampai panik tergantung dari tahap halusinasi
yang dialaminya. Seseorang yang menderita skizofrenia dan mempunyai gejala
halusinasi

pendengaran

harus

mendapatkan

penanganan

atau

tindakan

keperawatan yang tepat. Perawat dalam menangani klien dengan halusinasi


pendengaran dapat melakukan asuhan keperawatan yang bersifat komprehensif

92

dengan pendekatan proses keperawatan meliputi: pengkajian, diagnosis


keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi.
Salah satu intervensi keperawatan yang ada adalah terapi aktivitas kelompok.
Terapi kelompok yang paling tepat diberikan pada klien halusinasi adalah Terapi
Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi Halusinasi.
Dari asuhan keperawatan yang telah dilakukan kepada Nn R salah satu
implementasi yang dilaksanakan adalah TAK Simulasi Persepsi Halusinasi. TAK
dilakukan sebanyak 5 sesi yang terdiri dari: 1). Mengenal Halusinasi, Mengontrol
Halusinasi dengan Menghardik, Mengontrol Halusinasi dengan Bercakap- cakap,
Mengontrol halusinasi dengan aktifitas dan mengontrol halusinasi dengan
Minum Obat. Sebelum dilakukan TAK klien berada pada tahap III dengan
Tingkat Kecemasan Berat setelah dilakukan 5 sesi TAK klien berada pada tahap
II dengan tingkat halusinasi sedang.
Dari hasil Asuhan keperawatan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
TAK pada klien halusinasi sangat efektif. TAK yang paling efektif diberikan
kepada pasien dengan Gangguan Persepsi Halusinasi Adalah TAK Persepsi
Sensorik: Halusinasi, dari wawancara dengan pasien sesi yang paling cepat
membantu pasien dalam mengontrol halusinasi adalah TAK stimulasi persepsi
sesi 3 yaitu melakukan aktifitas terjadwal. Untuk itu disarankan kepada perawat
dan keluarga yang memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan
halusinasi agar melaksanakan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Halusinasi.
B. Hubungan tingkat kecemasan keluarga dengan kemampuan pasien dalam
mengontrol halusinasi di Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Ernaldi Bahar
Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2014
Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi merupakan faktor
utama yang menentukan keberhasilan tindakan medis dan keperawatan dalam
mengobati pasien dengan halusinasi (Maramis, 2008). Penyebab utama
terjadinya kekambuhan pasien halusinasi ketidakmampuan pasien dalam

93

mengontrol halusinasi serta keluarga merasa cemas dengan kondisi pasien


(Nurdiana, 2010).
Kecemasan merupakan salah satu masalah yang teridentifikasi dialami
oleh keluarga yang mempuanyai anggota keluarga gangguan jiwa dengan
halusinasi, dalam menghadapi keluarga yang cemas ada beberapa cara untuk
mengatasi cemas tersebut sehingga keluarga tidak merasakan kecemasan
terhadap pasien yang mengalami gangguan jiwa (Notosoedirdjo & Latipun,
2005).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ns.Sutrisno,S.Kep (2014),
tentang Hubungan tingkat kecemasan keluarga dengan kemampuan pasien
dalam mengontrol halusinasi di Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Ernaldi Bahar
Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2014, dapat disimpulkan adanya hubungan
yang bermakna antara tingkat kecemasan keluarga dengan kemampuan klien
mengontrol Halusinasi.
Hasil uji statistik chi-square dengan batas kemaknaan = 0.05 diperoleh
nilai p value = 0,028. Dengan hasil p value < , ini menunjukkan ada hubungan
yang bermakna antara tingkat kecemasan keluarga dengan kemampuan pasien
dalam mengontrol halusinasi. Ini berarti semakin rendah tingkat kecemasan
keluarga dalam menghadapai klien dengan halusinasi akan mempercepat
kemampuan klien dalam mengontrol halusinasi.
Penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sopyan (2008) yang berjudul Hubungan Pengetahuan dan Tingkat Kecemasan
keluarga dengan kemampuan pasien mengontrol halusinasi pasca rawat inap di
Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara didapatkan hasil ada hubungan yang
bermakna Antara pengetahuan dan kecemasan keluarga dengan kemampuan
pasien dalam mengontrol halusinasi.
Kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang
tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam kehidupan
sehari-hari. Kecemasan dapat dirasakan oleh individu ataupun sekelompok orang
termasuk keluarga, kecemasan meliputi keluarga dan mereka sangat terbebani

94

dengan kondisi penderita. Bahkan tidak sedikit keluarga yang sama sekali tidak
mengetahui rencana apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi masalah
gangguan jiwa salah satu anggota keluarganya. Kecemasan semakin meningkat
tanpa pemahaman yang jernih mengenai masalah yang dihadapi keluarga.
Keluarga mengalami cemas ketika anggota keluarganya mengalami sakit.
Pasien yang dirawat di Rumah dalam waktu yang lama akan lebih membuat
cemas. Hal ini karena mereka takut terjadinya kekambuhan pada pasien, serta
biaya yang banyak. Semua stresor ini menyebabkan keluarga jatuh pada kondisi
krisis dimana mekanisme koping yang digunakan menjadi tidak efektif dan
perasaan menyerah atau apatis dan kecemasan akan mendominasi perilaku
keluarga.
Dalam studi kasus ini kehadiran keluarga dalam perawatan klien
ditingkatkan dengan menghadirkan keluarga lebih banyak selama perawatan,
Perawat memberikan pendidikan kesehatan dan SP keluarga diharapkan dengan
kehadiran keluarga dapat mengurangi kecemasan dan apatis keluaraga dalam
prawatan klien. Selama dilakukan perawatan selama 6 hari keluarga datang
sebanyak 3 kali dengan rincian 2 kali pertemuan diberikan SP keluarga dan satu
kali pertemuan penyuluhan dan pendidikan kesehatan.
Dari catatan perkembangan dapat kita lihat dengan kehadiran keluarga
dan keterlibatan keluarga dalam perawatan klien membuat klien dapat berespon
lebih baik dan dapat mengontrol halusinasi dengan cepat ini terbukti pada hari ke
enam klien sudah dapat mngontrol halusinasinya dengan empat cara mengontol
halusinasi. Ini lebih cepat jika dibandingkan dengan kemajuan mengontrol
halusinasi secara rata rata pasien di Wisma Melati yaitu selama 15 Hari.
Menurut asumsi penulis terjadinya percepatan kemampuan pasien dalam
mengontrol halusinasi dengan menghadirkan keluarga disebabkan karena dengan
kehadiran keluarga akan mengurangi kecemasan klien, kecemasan keluarga
biasanya ditranfer kepada anggota keluarga yang lain. Jadi dengan kehadiran
keluarga akan memperlihatkan bahwa keluarga tidak cemas sehingga pasienpun
akan merasa nyaman di RS dan merasa tidak jauh dari keluarga. Untuk itu

95

perawat dan keluarga dipandang perlu keterlibatannya secara bersama sama


dalam membantu pasien.
C. Pengaruh presipitasi, waktu dan respon halusinasi terhadap durasi
halusinasi pasien skizofrenia di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang
Halusinasi adalah terganggunya persepsi seseorang dimana tidak
terdapatnya stimulus dari ke lima pancaindra, penderita halusinasi pasca rawat di
rumah sakit dapat kembali kambuh apabila pasien tidak dapat mengontrol
halusinasinya dan tidak dilakukannya perawatan oleh keluarga di rumah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Jalil (2011), tentang
Pengaruh presipitasi, waktu dan respon halusinasi terhadap durasi halusinasi
pasien skizofrenia di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, dapat disimpulkan adanya
hubungan yang bermakna antara presipitasi halusinasi dengan durasi halusinasi,
adanya hubungan Antara waktu munculnya halusinasi dengan durasi halusinasi
dan ada hubungan yang bermakna antara respon terhadap halusinasi dengan
durasi halusinasi.
Dari tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa ada pengaruh faktor presipitasi
dengan durasi halusinasi pada pasien skizofrenia dengan signifikansi 0,027 atau
ada pengaruh pada taraf 5 %. Faktor presipitasi merupakan pencetus, atau hal-hal
yang dapat menjadi stressor munculnya halusinasi. Jumlah atau banyaknya
stressor yang dialami pasien dapat berdampak dari munculnya halusinasi,
sehingga akan berdampak pula pada lamanya halusinasi akan teratasi. Pasien
yang mempunyai faktor presipitasi biopsikososial dan budaya mempunyai durasi
halusinasi yang lebih pendek (12 hari), dibandingkan dengan yang hanya
mengalami satu jenis presipitasi, misalnya responden yang mengalami presipitasi
sosial budaya mempunyai durasi halusinasi yang lebih panjang. Dengan
banyaknya jumlah faktor presipitasi yang dialami pasien, kemungkinan
mempengaruhi kemampuan pasien dalam mengambil keputusan terutama dalam
mencari pertolongan untuk mengatasi halusinasinya. Pengambilan keputusan
yang tepat ini dapat memotivasi pasien untuk proaktif terhadap segala sesuatiu
yang disarankan oleh perawat untuk aktiv melakukan kegiatan harian di ruangan,

96

sehingga dengan demikian halusinasi yang dirasakan pasien akan terdistraksi dan
tidak diberikan waktu untuk muncul kembali. Saat ini belum ada hasil penelitian
yang relevan dengan hasil penelitian ini karena belum ada penelitian terdahulu
yang meneliti tentang pengaruh faktor presipitasi dengan durasi halusinasi.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya pengaruh waktu
munculnya halusinasi dengan durasi halusinasi. Adanya pengaruh ini dapat
dilihat dari signifikansi yang didapatkan, yaitu 0,002. Hasil ini kurang dari 0,05
atau 5%, sehingga dapat dikatakan ada pengaruh yang signifikan waktu
halusinasi muncul terhadap durasi halusinasi. Halusinasi yang dialami pasien
atau responden tidak hanya muncul pada pagi hari, siang hari, sore hari atau
malam hari, tetapi juga dialami pasien setia saat. Pasien halusinasi yang
mengalami halusinasi pada waktu siang hari atau pagi hari mungkin tidak akan
kesulitan untuk mengontrolnya karena pada saat itu banyak kegiatan atau
aktivitas yang dapat diikuti pasien sehingga dengan sendirinya isi halusinasi
dapat diatasi. Sebaliknya halusinasi yang muncul pada sore hari atau malam hari
akan menyulitkan pasien untuk mengontrolnya karena tidak banyak kegiatan
atau aktivitas yang dapat dilakukan pasien untuk mengontrol halusinasinya.
Pasien yang mengalami halusinasi pada pagi hari mempunyai durasi yang lebih
pendek dalam mengatasi halusinasi yaitu 12 hari dibandingkan dengan
halusinasi yang muncul pada malam hari. Halusinasi yang terjadi pada saat
malam hari tidak memungkinkan pasien melakukan aktivitas fisik, bercakapcakap dengan orang lain maupun minum obat karena obat sudah diminum
beberapa jam sebelumnya sehingga mempunyai durasi halusinasi yang lebih
panjang. Saat ini belum ada hasil penelitian yang berhubungan dengan pengaruh
waktu munculnya halusinasi dengan durasi halusinasi.
Faktor respon pasien pada saat muncul halusinasi juga menentukan
durasi halusinasi. Respon halusinasi saat halusinasi muncul dapat menentukan
kualitas pengambilan keputusan yang diambil pasien untuk menghadapi pasien.
Dalam penelitian ini terdapat pasien yang terganggu dengan isi halusinasinya
dan terdapat pula pasien yang justru senang dengan halusinasinya. Dalam

97

penelitian ini terdapat pengaruh respon halusinasi dengan durasi halusinasi


dengan signifikansi 0,000 atau 1%. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang
dirasakan saat halusinasi muncul akan menentukan tindakan yang dilakukan
pasien untuk menghadapi halusinasinya sehingga akan berpengaruh pada durasi
halusinasi. Respon yang menyenangkan pasien terhadap halusinasi akan
menghambat upaya perawat membantu pasien mengontrol halusinasi, sebaliknya
respon yang mengganggu akan membantu perawat dalam membantu pasien
mengontrol halusinasinya. Pasien yang mengatakan takut dengan halusinasinya
Dalam studi kasus ini dapat dilihat bahwa factor presipitasi yang ada
pada klien lebih dari satu sehingga secara empiris kita kaitkan dengan pendapat
diatas tentu akan lebih mudah bagi pasien untuk mengontrol halusinasi,
sementara waktu munculnya halusinasi kebanyakan pada malam hari sehingga
akan memperlambat dalam proses pengontrolan halusinasi karena pada malam
hari akan terjadi penurunan aktifitas yang akan membuat klien mudah melamun
dan memancing datangnya halusinasi, sementara respon klien terhadap
halusinasi adalah klien merasa halusinasi menakutkan sehingga akan
mempermudah klien dalam mengontrol halusinasi.
Upaya yang telah dilakukan pada studi kasus ini adalah dengan
mengatur jadwal aktifitas klien terutama malam hari sehingga sampai jam 9
sehingga klien masih punya aktifitas sampai megantuk. Disamping itu dilakukan
pemantauan yang lebih pada saat malam hari untuk menghindari klien kesulitan
tidur dan memantau prilaku maladaptive yang dapat membahayakan klien, orang
lain dan lingkungan. Setelah dialkukan implementasi selama 6 hari klien tampak
lebih cepat dalam mengontrol halusinasi terutama pada alam hari klien dapat
terhindar dari suasana kesendirian yang dapat memancing munculnya halusinasi.
Menurut asumsi penulis pengontrolan halusinasi pada malam hari hal
yang sangat penting dilakukan karena pada malam hari aktifitas di ruangan rawat
inap tidak ada. Sementara pasien lain banyak yang tertidur sehingga waktu ini
sangat rentan bagi pasien dengan Gangguan Persepsi Sensorik karena banyak
waktu untuk berhayal. Dengan memberikan aktifitas yang tepat untuk malam

98

hari seperti mengaji dan sholat akan membuat pasien sibuk dan merasa lelah
sehingga dapat memancing pasien untuk tidur. Disamping itu megontrol
halusinasi dengan aktifitas paling tepat dilakukan pada malam hari karena cara
pengontrolan yang lain tidak efektif. Pengontrolan halusinasi dengan
menghardik tidak tepat karena akan meribut dan mengganggu pasien lain yang
tidur, sementara bercakap cakap tidak dapat dilakukan karena pasien lain sedang
tidur. Jadi melakukan aktifitas merupakan cara yang paling tepat. Untuk itu
disarankan kepada perawat agar lebih memfokuskan kegiatan pasien halusinasi
pada malam hari sehingga tidak ada peluang untuk munculnya halusinasi pasien.