Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Sendi
2.1.1. Sendi Lutut

Gambar 2.1. Anatomi Sendi Lutut

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Sendi jari-jari tangan

2.1.4.
Sendi
Pang
gul

Gambar 2.2. Anatomi sendi jari-jari tangan

Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Sendi jari-jari kaki

Gambar 2.3. Anatomi sendi jari-jari kaki

Universitas Sumatera Utara

2.1.4. Sendi Panggul

Gambar 2.4. Anatomi Sendi Panggul

Universitas Sumatera Utara

2.2. Rematik
2.2.1. Definisi
Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan tulang atau jaringan
penunjang sekitar sendi. Bagian tubuh yang diserang biasanya persendian pada
jari, lutut, pinggul dan tulang punggung (Purwoastuti, 2009). Penyakit ini
menyebabkan inflamasi, kekakuan, pembengkakan, dan rasa sakit pada sendi,
otot, tendon, ligamen, dan tulang (Misnadiarly, 2007). Istilah penyakit rematik
tidak memiliki batas yang jelas. Istilah ini mencakup lebih dari 100 kondisikondisi berbeda yang dilabelkan ke dalam penyakit rematik termasuk osteoartritis,
arthritis reumatoid, gout, sistemik lupus eritematosus, skleroderma, dan lain-lain
(Sangha, 2000).
2.2.2. Faktor Resiko
1. Riwayat keluarga dan keturunan
2. Jenis kelamin wanita lebih sering
3. Obesitas atau kegemukan
4. Usia lebih dari 40 tahun
5. Pernah mengalami trauma berat pada lutut sampai terjadi pembengkakan
atau berdarah, seperti pada olahragawan.
6. Para pekerja yang menggunakan lutut secara berlebihan misalnya
pedagang keliling dan pekerja yang bekerja dengan banyak jongkok yang
menyebabkan tekanan berlebihan pada lutut (Sangha, 2000)

2.2.3. Klasifikasi
Penyakit rematik dapat digolongkan kepada 2 bagian, yang pertama diuraikan
sebagai penyakit jaringan ikat karena mengefek rangka pendukung (supporting
framework) tubuh dan organ-organ internalnya. Antara

penyakit yang dapat

digolongkan dalam golongan ini adalah osteoartritis, gout, dan polimialgia.


Golongan yang kedua pula dikenali sebagai penyakit autoimun karena terjadi

Universitas Sumatera Utara

apabila sistem imun yang biasanya memproteksi tubuh dari infeksi dan penyakit,
mulai merusakkan jaringan-jaringan tubuh yang sehat. Antara penyakit yang dapat
digolongkan dalam golongan ini adalah rheumatoid artritis, spondiloartritis, lupus
eritematosus sistemik dan skleroderma. (NIAMS, 2008)

a) Artritis Reumatoid (AR)


Merupakan penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik
kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama.
Manifestasi klinis klasik AR adalah poliartritis simetrik yang terutama
mengenai sendi-sendi kecil pada tangan dan kaki. Selain lapisan
sinovial sendi, AR juga bisa mengenai organ-organ di luar persendian
seperti kulit, jantung, paru-paru dan mata. Mortalitasnya meningkat
akibat adanya komplikasi kardiovaskular, infeksi, penyakit ginjal,
keganasan dan adanya komorbiditas (Suarjana, I.N., 2009).
Penyebab RA belum diketahui dengan pasti. Terdapat interaksi yang
kompleks antara faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik
berperan penting terhadap kejadian AR, dengan angka kepekaan dan
ekspresi penyakit sebesar 60%. Hubungan gen HLA-DRB1 dengan
kejadian AR telah diketahui dengan baik. Kerusakan sendi pada AR
dimulai dari proliferasi makrofag dan fibroblas sinovial setelah adanya
faktor pencetus, berupa autoimun atau infeksi. Limfosit menginfiltrasi
daerah perivaskular dan terjadi proliferasi sel-sel endotel yang
selanjutnya terjadi neovaskularisasi. Pembuluh darah pada sendi yang
terlibat mengalami oklusi oleh bekuan-bekuan kecil atau sel-sel
inflamasi. Terjadi pertumbuhan yang iregular pada jaringan sinovial
yang mengalami inflamasi sehingga membentuk jaringan pannus.
Pannus menginvasi dan merusak rawan sendi dan tulang. Berbagai
macam sitokin, interleukin, proteinase dan faktor pertumbuhan
dilepaskan, sehingga mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi
sistemik (Suarjana, I.N., 2009).

Universitas Sumatera Utara

b) Osteoartritis
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif noninflamasi yang terutama terjadi pada orang tua. Osteoartritis dapat
ditandai dengan adanya degenerasi tulang rawan sendi, hipertrofi
tulang pada tepinya, dan perubahan pada membrane sinovial (Dorland,
W.A.N., 2012). Pada umumnya osteoarthritis menyerang sendi-sendi
yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronis, berjalan progresif lambat,
dan ditandai oleh adanya pembentukan tulang baru pada permukaan
persendian. OA merupakan penyakit sendi yang paling banyak
dijumpai dan prevalensinya semakin meningkat dengan bertambahnya
usia. Masalah OA di Indonesia diperkirakan 1 sampai 2 juta orang
lanjut usia menderita kecacatan (Dubey, S., Adebajo, A., 2008).
Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari suatu proses
ketuaan yang tidak dapt dihindari. Para pakar yang meneliti penyakit
ini sekarang berpendapat bahwa OA ternyata merupakan penyakit
gangguan homeostatis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan
struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum jelas
diketahui (Woodhead, 1989).
Pemahaman yang lebih baik mengenai patogenesis OA akhir-akhir
ini diperoleh antara lain berkat meningkatnya pengetahuan mengenai
biokimia dan biologi molekuler rawan sendi. Dengan demikian
diharapkan kita dapat mengelola pasien OA dengan lebih tepat dan
lebih aman. Perlu dipahami bahwa penyebab nyeri yang terjadi pada
OA bersifat multifaktorial. Nyeri dapat bersumber dari regangan
serabut syaraf periosteum , hipertensi intra-osseous, regangan kapsul
sendi, hipertensi intra-artikular, regangan ligament, mikrofraktur
tulang subkondral, entesopati, bursitis dan spasme otot. Dengan
demikian penting difahami, bahwa walaupun belum ada obat yang
dapat menyembuhkan OA saat ini, namun terdapat berbagai cara untuk
mengurangi nyeri dengan memperhatikan kemungkinan sumber

Universitas Sumatera Utara

nyerinya, memperbaiki mobilitas dan meningkatkan kwalitas hidup


(Dubey, S., Adebajo, A., 2008).

c) Artritis Gout
Penyakit ini berhubungan dengan tingginya asam urat darah
(hiperurisemia). Artritis gout merupakan jenis penyakit yang
pengobatannya mudah dan efektif. Namun bila diabaikan, gout juga
dapat menyebabkan kerusakan sendi. Penyakit ini timbul akibat kristal
monosodium urat di persendian meningkat. Timbunan kristal ini
menimbulkan peradangan jaringan yang memicu timbulnya rematik
gout akut. Pada penyakit gout primer, 99% penyebabnya belum
diketahui (idiopatik). Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor
genetik

dan

faktor

hormonal

yang

menyebabkan

gangguan

metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam


urat atau bisa juga diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam
urat dari tubuh (Roddy, E., Zhang, W., Doherty, M., 2007).
Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya
produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengkonsumsi makanan
dengan kadar purin yang tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa
organik yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk
dalam kelompok asam amino, unsur pembentuk protein. Produksi
asam urat meningkat juga bisa karena penyakit darah (penyakit
sumsum tulang, polisitemia), obat-obatan (alkohol, obat-obat kanker,
vitamin B12). Penyebab lain adalah obesitas (kegemukan), penyakit
kulit (psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita diabetes
yang tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat kadar benda-benda
keton (hasil buangan metabolisme lemak) yang meninggi. Bendabenda keton yang meninggi akan menyebabkan asam urat juga ikut
meninggi (Roddy, E., Zhang, W., Doherty, M., 2007).

Universitas Sumatera Utara

d) Spondiloartritis
Spondiloartritis (atau spondiloartropati) adalah nama keseluruhan
suatu penyakit rematik dengan peradangan yang dapat mempengaruhi
tulang belakang dan sendi, ligamen dan tendon. Penyakit tersebut
dapat menyebabkan kelelahan dan nyeri atau kekakuan di punggung,
leher, tangan, lutut, dan pergelangan kaki serta peradangan mata, kulit,
paru-paru, dan katup jantung. Penyakit yang termasuk dalam
spondiloartritis dapat mencakup, ankilosing spondilitis, reaktif artritis,
artritis psoriatis dan spondilitis psoriasis, dan artritis atau spondilitis
yang berkaitan dengan penyakit inflamasi usus, kolitis ulseratif dan
Crohn's disease. (Reveille, J.D., 2010)

e) Sistemik Lupus Eritematosus (SLE)


Lupus adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan
akut dan kronis dari berbagai jaringan tubuh. Orang dengan lupus
memproduksi

antibodi

abnormal

dalam

darah

mereka

yang

menargetkan jaringan dalam tubuh mereka sendiri daripada agen


infeksi asing. Karena antibodi dan sel-sel yang menyertai peradangan
dapat mempengaruhi jaringan di mana saja di tubuh, lupus memiliki
potensi untuk mempengaruhi berbagai area. Lupus dapat menyebabkan
penyakit hati, kulit, sistem paru-paru, ginjal, sendi, dan/atau sistem
saraf. Ketika hanya kulit yang terlibat, kondisi ini disebut dermatitis
lupus atau lupus eritematosus kulit. Suatu bentuk dermatitis lupus yang
dapat diisolasi ke kulit, tanpa penyakit internal disebut lupus discoid.
Ketika organ-organ internal yang terlibat, kondisi ini disebut sebagai
LES (Shiel, W.C., 2010).

Universitas Sumatera Utara

f) Polimialgia
Polimialgia rematika adalah suatu keadaan yang menyebabkan
nyeri hebat dan kekakuan pada otot leher, bahu dan panggul. Penyakit
ini terjadi pada usia lebih dari 50 tahun dan wanita 2 kali lebih sering
terkena. Kekakuan ini akan memburuk pada pagi hari dan setelah
beristirahat. Gejala-gejala otot bisa disertai demam, tidak enak badan,
penurunan berat badan dan depresi. Semua gejalan ini bisa timbul
secara tiba-tiba atau secara bertahap (Borigini, M.J., 2010).

g) Skleroderma
Skleroderma merupakan penyakit kronis multisistem dimana
etiologinya masih belum diketahui. Secara klinis, dikarakteristikkan
dengan penebalan kulit yang disebabkan oleh akumulasi jaringan ikat
dan abnormalitas struktur dan fungsional pada organ viseral, termasuk
saluran pencernaan, paru-paru, jantung, dan ginjal. Antara manifestasi
klinis yang terdapat pada penyakit ini adalah fenomenon Raynaud,
penebalan kulit, kalsinosis subkutan, artralgias, miopati, ismotilitas
esofageal, fibrosis pulmonal, gagal jantung kongestif, dan krisis renal.
Penyakit skleroderma mempunyai distribusi di seluruh dunia dan
mengefek semua suku kaum. Onset bagi penyakit ini biasanya pada
masa anak-anak dan pria usia muda. Insidensi semakin meningkat pada
usia lanjut, dimana puncak maksimumnya ada pada usia 30-50 tahun.
Wanita, secara keseluruhan terkena penyakit ini 3 kali lebih sering jika
dibanding dengan pria. Penyakit ini biasanya didiagnosis berdasarkan
gejala-gejalanya. Pada beberapa pasien, monoklonal IgG dapat
dideteksi. Selain itu, biopsi juga turut dilakukan untuk membedakan
dengan penyakit rematik lain.Walaupun penyakit ini tidak dapat
disembuhkan,

penanganan

organ-organ

yang

terlibat

dapat

mengurangkan simptom-simptom dan memperbaiki fungsi. Efek terapi

Universitas Sumatera Utara

obat untuk penyakit ini, menjadi susah untuk dievaluasi karena


penyebabnya yang bervariasi dan keparahan penyakit yang berbeda.
Pasien dengan skleroderma kutan yang terbatas, mempunyai prognosis
yang baik, tetapi prognosis pada pasien tahap awal menjadi susah
untuk diprediksi (Fauci, A.S., & Langford, C.A., 2006).

2.2.4. Manifestasi Klinis


Gejala utama dari rematik adalah adanya nyeri pada sendi yang terkena,
terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. Mula-mula
terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat.
Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi
dan perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan
krepitasi (Soeroso, J., Isbagyo, H., Kalim, H., Broto, R., Pramudiyo, R., 2010).
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak menonjol dan timbul belakangan,
mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan
gerak,, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara lain:
1. Nyeri Sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan
gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu
kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibanding gerakan
yang lain.

2. Hambatan Gerakan Sendi


Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan
sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.

Universitas Sumatera Utara

3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah
imobilitas, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup
lama atau bahkan setelah bangun tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran Sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (seringkali
terlihat di lutut atau tangan) secara pelan-pelan membesar.
6. Perubahan Gaya Berjalan
Pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang
pada hamper semua pasien OA. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi
sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien
yang umumnya tua (Soeroso, J., Isbagyo, H., Kalim, H., Broto, R.,
Pramudiyo, R., 2010).

2.2.5. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, eksudat
febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi
menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian ini
granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus
masuk ke tulang sub kondria. Jaringan granulasi menguat karena radang
menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikular. Kartilago menjadi
nekrosis (Brunner dan Suddarth, 2003).
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi,
karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan
tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan
subluksasi atau dislokasi dari persendian (Brunner dan Suddarth, 2003).

Universitas Sumatera Utara

2.2.6. Penatalaksanaan
Hingga sekarang belum ada obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit
rematik, kecuali penyakit rematik yang disebabkan oleh infeksi. Obat yang
tersedia hanya mengatasi gejala penyakitnya, sedangkan proses penyakitnya tetap
berlangsung (Shiel, W.C., 2010).
Beberapa terapi yang digunakan agar dapat meringankan penderitaan pasien
adalah sebagai berikut:
1) Terapi Obat
Pengobatan yang dilakukan terhadap penyakit rematik adalah untuk
mengatasi gejala nyeri dan peradangannya. Pada beberapa kasus,
pengobatan bertujuan untuk memperlambat proses atau mengubah
perjalanan penyakit. Beberapa obat atau golongan obat yang dapat
digunakan pada rematik (Saryono, 2011) :

a) Golongan Analgetik: golongan obat ini berfungsi mengatasi atau


meredakan rasa nyeri pada sendi, contohnya aspirin, obat
antiinflamasi non steroid (NSAIDs) lainnya seperti ibuprofen dan
asetaminofen (Saryono, 2011).
b) Golongan kortikosteroid: obat kortikosteroid seperti prednisone,
kotison dan hidrokartison banyak digunakan untuk mengobati
gejala rematik. Cara kerja kortikosteroid adalah dengan mengatasi
inflamasi dan menekan sistem kekebalan tubuh sehingga reaksi
radang pada rematik berkurang. Efek samping jangka pendek
kortikosteroid adalah pembengkakan, menambah nafsu makan,
menambah berat badan dan emosi yang labil. Efek samping
tersebut akan berhenti bila pemberian obat dihentikan. Efek
samping

jangka

panjang

dari

penggunaan

kortikosteroid

diantaranya tanda goresan pada kulit (strie), rambut tumbuh


berlebihan, tulang keropos (osteoporosis), tekanan darah tinggi,

Universitas Sumatera Utara

kerusakan arteri pembuluh darah, peningkatan kadar gula darah,


infeksi dan katarak. Penghentian pemberian obat ini harus
dilakukan secara bertahap, tidak boleh secara mendadak (Saryono,
2011).
c) DMARD:

Pemilihan

DMARD

harus

mempertimbangkan

kepatuhan, beratnya penyakit, pengalaman dokter dan adanya


penyakit

penyerta.

Methotrexate

dan

Sulfasalazine

sering

digunakan sebagai terapi awal, tetapi pada kasus yang lebih berat,
MTX atau kombinasi terapi mungkin digunakan sebagai terapi lini
pertama. Banyak bukti menunjukkan bahwa kombinasi DMARD
lebih efektif dibandingkan dengan terapi tunggal (Saryono, 2011).

2) Terapi Non-Obat
Tersedia bahan alami atau herbal dan beberapa suplemen yang dapat
digunakan untuk melawan penyakit rematik. Beberapa terapi non-obat
yang digunakan adalah sebagai berikut (Putra, 2009) :

a) Suplemen dan Sayuran


Obat-obat suplemen dan sayuran yang dapat digunakan bagi
penderita rematik adalah sebagai berikut: Jus sayuran: dapat
membantu mengurangi gejala arthritis (Putra, 2009).

1. Vitamin C: menurut penelitian ahli fisiologis Dr. Robert Davis dari


Pennsylvania membuktikan bahwa penyakit artritis rheumatoid berkorelasi
dengan kadar vitamin C rendah. Penggunaan dosis besar vitamin C (5001000 mg) sehari dapat menghilangkan gejala arthritis (Carter, 2006).

2. Ikan dan minyak ikan: menurut Dr. Robert C. Atkins, penulis New Diet
Revolution prinsip dasar terapi dari artritis

harus diberikan suplemen

kapsul minyak ikan yang mengandung asam lemak omega-3 yang dapat
menghilangkan nyeri dan pembengkakan pada semua jenis artritis. Selain

Universitas Sumatera Utara

itu minyak ikan kod juga kaya akan vitamin D yang membantu
membangun tulang, dan vitamin A membantu melawan peradangan. Satu
sendok makan minyak ikan setiap hari merupakan dosis yang diperlukan
untuk mendapat manfaatnya. Penelitian telah dilakukan selama 12 bulan
tentang suplemen minyak ikan pada pasien artritis rheumatoid dan
hasilnya menunjukkan 2-6 gram minyak omega-3 setiap hari dapat
menurunkan pembengkakan dan nyeri sendi (Carter, 2006).

b) Olahraga dan istirahat


Penderita rematik mau tidak mau harus menyeimbangkan
kehidupannya antara istirahat dan beraktivitas. Kalau merasa nyeri
atau pegal, pasien harus beristirahat. Namun harus diingat, istirahat
tidak boleh berlebihan karena dapat mengakibatkan kekakuan pada
otot dan sendi (Junaidi, 2006).
Latihan dan olahraga yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

1. Range of motion exercises: merupakan latihan fisik yang


membantu menjaga pergerakkan normal sendi, memelihara
atau

meningkatkan

fleksibilitas

dan

menghilangkan

kekakuan sendi (Junaidi, 2006).


2. Aerobic atau endurance exercises: untuk meningkatkan
kesehatan pembuluh darah jantung, membantu menjaga
berat badan ideal dan memperbaiki kesehatan secara
menyeluruh (Junaidi, 2006).

c) Mobilisasi dan relaksasi


Mobilisasi dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan
memperbaiki kekakuan pada sendi yang terserang rematik.
Relaksasi

progresif

membantu

mengurangi

nyeri

dengan

melakukan gerakan yang melemaskan otot yang tegang. Pada


relaksasi progresif, gerakan yang dilakukan adalah pada satu saat

Universitas Sumatera Utara

mengencangkan kumpulan otot tertentu, kemudian secara perlahan


melemaskannya atau merelaksasikannya (Junaidi, 2006).

d) Terapi rehabilitasi
Ada beberapa terapi rehabilitasi yang dibutuhkan oleh penderita
rematik adalah sebagai berikut (Purwoastuti, 2009):

1. Edukasi: pada edukasi ini pasien diberi informasi yang


lengkap dan benar mengenai pengobatan dan perjalanan
penyakit ke depan.
2. Fisioterapi: berbagai aktivitas latihan yang diperlukan
untuk mendapatkan gerak sendi yang baik dan optimal,
agar massa otot tetap dan stabil.
3. Okupasi: okupasi bertujuan untuk membantu pasien agar
dapat

melakukan

tugas

sehari-hari,

yakni

dengan

memosisikan sendi secara baik sehingga dapat berfungsi


dengan baik dan terhindar dari gerakan berlebihan yang
dapat menimbulkan nyeri.
4. Diet: diet diutamakan untuk mengurangi berat badan yang
berlebihan, dianjurkan mencapai berat badan 10-15% di
bawah ideal. Kegemukan memberikan beban tekanan pada
sendi penopang berat tubuh (Purwoastuti, 2009).

2.3. Nyeri
2.3.1. Definisi Nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau
potensial akan menyebabkan kerusakan jaringan. Reseptor neurologik
yang dapat membedakan antara rangsang nyeri dengan rangsang lain
disebut nosiseptor. Nyeri dapat mengakibatkan impairment dan disabilitas.

Universitas Sumatera Utara

Impairment adalah abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi


anatomik, fisiologik maupun psikologik. Sedangkan disabilitas adalah
hasil dari impairment, yaitu keterbatasan atau gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas yang normal (The International Association for the
the study of pain (IASP)).

2.3.2. Klasifikasi Nyeri


Nyeri terbagi atas (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir, Y.I., Isbagio, H.
dan Kalim, H., 2010):

a. Nyeri nosiseptif
Nyeri yang timbul sebagai akibat perangsangan pada nosiseptor
(serabut a-delta dan serabut-c) oleh rangsang mekanik, termal atau
kemikal.
b. Nyeri somatik
Nyeri yang timbul pada organ non viseral, misal nyeri pasca bedah,
nyeri metastatic, nyeri tulang, nyeri artritik.
c. Nyeri viseral
Nyeri yang berasal dari organ viseral, biasanya akibat distensi organ
yang berongga, misalnya usus, kandung empedu, pankreas, jantung.
Nyeri viseral seringkali diikuti referred pain dan sensasi otonom,
seperti mual dan muntah.
d. Nyeri neuropatik
Nyeri yang timbul akibat iritasi atau trauma pada saraf. Nyeri
seringkali persisten, walaupun penyebabnya sudah tidak ada. Biasanya
pasien merasakan rasa seperti terbakar, seperti tersengat listrik atau
alodinia dan disestesia.

Universitas Sumatera Utara

e. Nyeri psikogenik
Nyeri yang tidak memenuhi kriteria nyeri somatik dan nyeri
neuropatik, dan memenuhi kriteria untuk depresi atau kelainan
psikosomatik

2.3.3. Mekanisme Nyeri


Proses nyeri mulai stimulasi nociceptor oleh stimulus noxiuos sampai
terjadinya pengalaman subyektif nyeri adalah suatu seri kejadian elektrik
dan kimia yang bias dikelompokkan menjadi 4 proses, yaitu transduksi,
transmisi, modulasi dan persepsi (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir,
Y.I., Isbagio, H. dan Kalim, H., 2010).

a. Transduksi
Mekanisme nyeri dimulai dari stimulasi nociceptor oleh stimulus
noxiuos pada jaringan, yang kemudian akan mengakibatkan stimulasi
nosiseptor dimana disini stimulus noxiuos tersebut akan dirubah
menjadi potensial aksi. Proses ini disebut transduksi atau aktivasi
reseptor.
b. Transmisi
Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron aferen
primer ke kornu dorsalis medulla spinalis, pada kornu dorsalis ini
neuron aferen primer bersinap dengan neuron susunan saraf pusat. Dari
sini jaringan neuron tersebut akan naik keatas di medulla spinalis
menuju batang otak dan thalamus.
c. Modulasi
Terdapat proses modulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses
nyeri tersebut, tempat modulasi sinyal yang paling diketahui adalah
pada kornu dorsalis medula spinalis.

Universitas Sumatera Utara

d. Persepsi
Proses dimana pesan nyeri di relai ke otak dan menghasilkan
pengalaman yang tidak menyenangkan (nyeri).

2.3.4. Nyeri Inflamasi

Pada proses inflamasi, misalnya pada artritis, proses nyeri terjadi


karena stimulus nosiseptor akibat pembebasan berbagai mediator
biokimiawi selama proses inflamasi terjadi. Inflamasi terjadi akibat
rangkaian reaksi imunologik yang dimulai oleh adanya antigen yang
kemudian diproses oleh antigen presenting cell (APC) yang kemudian
akan diekskresikan ke permukaan sel dengan determinan HLA yang
sesuai. Antigen yang diekspresikan tersebut akan diikat oleh sel T melalui
reseptor sel T pada permukaan sel T membentuk kompleks trimolekuler.
Kompleks trimolekuler tersebut akan mencetuskan rangkaian reaksi
imunologik dengan pelepasan berbagai sitokin (IL-1, IL-2) sehingga
terjadi aktifasi, mitosis dan proliferasi sel T tersebut. Sel T yang teraktifasi
juga akan menghasilkan berbagai limfokin dan mediator inflamasi yang
bekerja

merangsang

makrofag

untuk

meningkatkan

aktivitas

fagositosisnya dan merangsang proliferasi dan aktivasi sel B untuk


memproduksi antibodi (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir, Y.I.,
Isbagio, H. dan Kalim, H., 2010).
Setelah berikatan dengan antigen, antibodi yang dihasilkan akan
membentuk kompleks imun yang akan mengendap pada organ target dan
mengaktifkan sel radang untuk melakukan fagositosis yang diikuti oleh
pembebasan metabolit asam arikidonat, radikal oksigen bebas, enzim
protease yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan pada organ
target tersebut (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir, Y.I., Isbagio, H. dan
Kalim, H., 2010).
Dalam proses inflamasi, berbagai jenis prostaglandin seperti PGE 1,
PGE2, PGI2, PGD2 dan PGA2, dapat menimbulkan vasodilatasi dan

Universitas Sumatera Utara

demam. Di antara berbagai jenis prostaglandin tersebut, PGI2, merupakan


vasodilator terkuat (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir, Y.I., Isbagio, H.
dan Kalim, H., 2010).
Peranan prostaglandin dalam menimbulkan nyeri pada proses
inflamasi ternyata lebih kompleks. Pemberian PGE pada binatang
percobaan tidak terbukti dapat memprovokasi nyeri secara langsung, tetapi
harus ada kerjasama sinergistik dengan mediator inflamasi yang lain
seperti histamin dan bradikinin (Setiyohadi, B., Sumariyono, Kasjmir,
Y.I., Isbagio, H. dan Kalim, H., 2010).

2.3.5. Kajian Awal Terhadap Rasa Nyeri


Terdapat beberapa hal penting yang menjadi dasar kajian awal terhadap
rasa nyeri yang dikeluhkan seorang pasien (Setiyohadi, B., Sumariyono,
Kasjmir, Y.I., Isbagio, H. dan Kalim, H., 2010) yaitu:
a. Lokasi Nyeri
Mintalah pada pasien untuk menjelaskan daerah mana yang merupakan
bagian paling nyeri atau sumber nyeri. Walaupun demikian perlu
diperhatikan bahwa lokasi anatomik ini belum tentu sebagai sumber
rasa nyeri yang dikeluhkan pasien.
b. Intensitas Nyeri
Pada umumnya dipakai rating scale dengan analogi visual atau dikenal
sebagai Visual Analogue Scale (VAS). Mintalah pasien membuat
rating terhadap rasa nyerinya (0-10) baik yang dirasakan saat ini,
kapannyeri yang paling buruk dirasakan atau yang paling ringan dan
pada tingkatan mana rasa nyeri masih dapat diterima. Pengukuran
dengan VAS pada nilai di bawah $ dikatakan sebagai nyeri ringan;
nilai antara 4-7 dinyatakan sebagai nyeri sedang dan di atas 7 dianggap
sebagai nyeri hebat.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.5. Visual Analogue Scale


c. Kualitas Nyeri
Gunakan terminologi yang dikemukakan oleh pasien itu sendiri seperti
nyeri tajam, seperti terbakar, seperti tertarik, nyeri tersayat dan
sebagainya.
d. Awitan Nyeri, Variasi Durasi dan Ritme
Perlu ditanyakan kapan mulai nyeri terjadi, variasi lamanya kejadian
nyeri itu sendiri serta adakah irama atau ritme terjadinya maupun
intensitas nyeri. Apakah nyeri tetap berada pada lokasi yang
diceritakan pasien? Apakah nyeri menetap atau hilang timbul?
e. Faktor Pemberat dan yang Meringankan Nyeri
Apa saja yang dapat memperberat rasa nyeri yang diderita pasien dan
faktor apa yang meringankan nyeri hendaklah ditanyakan kepada
pasien tersebut.
f. Pengaruh Nyeri
Dampak nyeri yang perlu ditanyakan adalah seputar kualitas hidup
atau terhadap hal-hal yang lebih spesifik seperti pengaruhnya terhadap
pola tidur, selera makan, enerji, aktivitas keseharian, hubungan dengan
sesama manusia atau bahkan terhadap mood, kesulitan berkonsentrasi
pada pekerjaan atau pembicaraan dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

g. Gejala Lain yang Menyertai


Apakah pasien menderita keluhan lainnya di samping rasa nyeri seperti
mual dan muntah, konstipasi, gatal, mengantuk atau terlihat bingung,
retensio urinae serta kelemahan?

Universitas Sumatera Utara