Anda di halaman 1dari 13

ASKEP CA LAMBUNG

1. DEFINISI
Kanker lambung atau kanker lambung merupakan bentuk neoplasma
maligna gastrointestinal. Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma
lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua
kematian akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991)
2.3 ETIOLOGI
Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui, akan tetapi
sejumlah faktor dihubungkan dengan penyakit tsb. Juga dipercaya bahwa faktor
eksogen dalam lingkungan seperti bahan kimia karsinogen, virus onkogenik
mungkin mengambil bagian penting dalam karsinoma lambung. Karena lambung
mempunyai kontak yang lama dengan makanan, bahan-bahan makanan sudah
dikaitkan. Ada yang timbul sebagai hubungan dengan konsumsi gram yang
meningkat. Ingesti nitrat dan nitrit dalam diet tinggi protein telah memberikan
perkembangan dalam teori bahwa senyawa karsinogen seperti nitrosamine dan
nitrosamide dapat dibentuk oleh gerak pencernaan.
Penurunan kanker lambung di USA pada decade lalu dipercaya sebagai hasil
pendinginn yang meningkat yang mnyebabkan terjadinya bermacam-macam
makanan segar termasuk susu, sayuran, buah, juice, daging sapi dan ikan,
dengan penurunan konsumsi makanan yang diawetkan, garam, rokok, dan
makanan pedas. Jadi dipercaya bawha pendinginan dan vit C (dalam buah
segar dan sayuran) dapat menghambat nitrokarsinogen.
Faktor genetik mungkin memainkan peranan dalam perkembangan kanker
lambung. Frekuensi lebih besar timbul pada individu dengan gol.darah A.
Riwayat keluarga meningkatkan resiko individu tetapi minimal, hanya 4% dari
organ dengan karsinoma lambung mempunyai riwayat keluarga.
2.4 FAKTOR PREDISPOSISI
Adapun faktor predisposisi dari kanker lambung ini yaitu :

1. Faktor genetik, karena kanker lambung lebih sering terjadi pada orang
bergolongan darah A dari pada golongan darah lainnya.
2. Lingkungan, karena kanker lambung sangat sering terjadi di Jepang,
Thailand, Finlandia, Irlandia, dan Kolombia.
3. Kebiasaan makan makanan yang mengandung bahan karsinogenik
seperti daging asap, makanan yang diasamkan, dan tinggi nitrat.
4. Perokok dan pengguna alkohol
5. Pekerja dalam industri tertentu
6. Status ekonomi yang rendah.
2.5 PATOFISIOLOGIS
Beberapa faktor dipercaya menjadi pemicu kanker yang mungkin yaitu
polip, anemia pernisiosa, prostgastrektomi, gastritis atrofi kronis dan ulkus
lambung. Diyakini bahwa ulkus lambung tidak mempengaruhi individu menderita
kanker lambung, tetapi kanker lambung mungkin ada bersamaan dengan ulkus
lambung dan tidak ditemukan pada pemeriksaan diagnostic awal.
Kanker lambung adalah adenokarsinoma yang muncul paling sering sebagai
massa irregular dengan penonjolan ulserasi sentral yang dalam ke lumen dan
menyerang lumen dinding lambung. Tumor mungkin menginfiltrasi dan
menyebabkan penyempitan lumen yang paling sering di antrum. Infiltrasi dapat
melebar keseluruh lambung, menyebabakan kantong tidak dapat meregang
dengan hilangnya lipatan normal dan lumen yang sempit, tetapi hal ini tidak
lazim. Desi polipoid juga mungkin timbul dan menyebabkan sukar untuk
membedakan dari polip benigna pada X-ray.
Kanker lambung mungkin timbul sebagai penyebaran tumor superficial yang
hanya melibatkan prmukaan mukosa dan menimbulkan keadaan granuler
walupun hal ini jarang. Kira-kira 75% dari karsinom ditemukan pada 1/3 distal
lambung, selain itu menginvasi struktur lokal seperti bag.bawah dari esophagus,
pancreas, kolon transversum dan peritoneum. Metastase timbul pada paru,
pleura, hati, otak dan lambung.

2.6 KLASIFIKASI
Ada 3 bentuk umum karsinoma atau kanker lambung, yaitu :
1. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan
harus dibedakan dari ulkus peptikum jinak.
2. Karsinoma polipoid, tampak seperti kembang kol yang menonjol ke
dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenomatosa
3. Karsinoma infiltratif, dapat menembus seluruh ketebalan dinding
lambung dan dapat menyebabkan terbentuknya lambung botol kulit
(linitis plastica ) yan tidak lentur.
2.7 TANDA DAN GEJALA
Pada tahap awal kanker lambung, gejala mungkin tidak ada. Beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal, seperti nyeri yang hilang
dengan antasida, dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala
penyakit progresif dapat meliputi:
1. Biasanya nonspesifik (tidak khas)
2. Rasa tidak enak/nyaman pada perut (abdominal discomfort)
3. Nausea (perasaan/sensasi sebelum muntah)
4. Vomiting (muntah)
5. Anorexia (kehilangan selera makan)
6. Berat badan menurun (weight loss)
7. Perdarahan (hemorrhage)
2.8 PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dapat membantu diagnosis seperti penurunan berat


badan, anemia, teraba massa di epigastrium, jika telah metastasisi ke hati akan
terba hati yang irreguler, dan terkadang terba kelenjar limfe klavikula.
2.9 PEMERIKASAAN PENUNJANG

Endoskopi untuk biopsi dan pencucian sitologis adalah pemeriksaan


diagnostik umum.

Pemeriksaan sinar-X terhadap saluran GI atas dengan barium, karena


metastase sering terjadi sebelum tanda peringatan ada

Pemindai tomografi komputer, pemindai tulang, dan pemindai hepar


dilakukan dalam menentukan luasnya metastasis.

2.10 PROGNOSIS
Prognosisnya buruk, kebanyakan pasien telah mengalami metastase
pada waktu didiagnosis.
Faktor-faktor yang memperburuk penyakit ini antara lain:
1. Keterlibatan lesser curvature dari lambung
2. Ukuran tumor yang besar
3. Stadium lanjut (advanced stage)
Catatan:
1. Kanker Lambung Ganas (malignant gastric cancer) kedua yang paling
banyak dijumpai setelah adenocarcinoma.
2. Hanya meliputi 5% dari semua kanker lambung (gastric tumors).
3. Risiko lebih tinggi 5X pada HIV (Human Immunodeficiency Virus)
4. Rasio pria:wanita = 1,7 : 1. Berarti lebih banyak dialami oleh pria.

2.11 TERAPI/ TINDAKAN PENANGANAN


1. Radiasi efek kurang berhasil
2. Kemoterapi kurang berhasil Obat kemoterapi yang sering digunakan
mencakup kombinasi 5-fluorourasil (5FU), Adriamycin, dan mitomycin-C.
3. Pembedahan a. Gasterktomi sub total Ca Menyebar ke luar lambung b.
Esofago Jeyusutomy (gastrektomi total)
2.12 PENATALAKSANAAN
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung
kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih
terlokalisasi di lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke
area lain yang dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat
dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala
seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.
Bila gasterktomi subtotal radikal dilakukan, puntung lambung dianastomosiskan
pada jejunum, seperti pada gastrektomi untuk ulkus. Bila gastrektomi total
dilakukan kontinuitas gastrointestinal diperbaiki dengan anastomosis diantara
ujung esofagus dan jejunum. Bila ada metastasis pada organ vital lian, seperti
hepar, pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal.
Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi atau
disfagia.
Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan
perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan kontrol lanjut
terhadap penyakit atau paliasi. Radiasi digunakan untuk paliasi pada kanker
lambung.

II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
Perawat

mendapatkan

riwayat

diet

dari

pasien

yang

memfokuskan pada isu seperti masukan tinggi makanan asap

atau diasinkan dan masukan buah dan sayuran yang rendah.


Apakah pasien mengalami penurunan BB, jika ya seberapa

banyak.
Apakah pasien perokok? Jika ya seberapa banyak sehari dan

berapa lam?
Apakah pasien mengeluhkan ketidaknyamanan lambung selama

atau setelah merokok?


Apakah pasien minum alcohol? Jika ya seberapa banyak?
Perawat menanyakan pada pasien bila ada riwayat kleuarga ttg
kanker. Bila demikian anggota keluarga dekat atau langsung atau

kerabat jauh yang terkena?


Apakah status perkawinan pasien?
Adakah seseorang yang dapat

emosional?
Selama pemeriksaan fisik ini dimungkinkan untuk melakukan

memberikan

dukungan

palpasi massa.
Perawat harus mengobservasi adanya ansites. Organ diperiksa untuk nyeri
tekan atau massa. Nyeri biasanya gejala yang lambat.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d adanya sel epitel abnormal
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
3. Berduka b/d diagnosisi Ca
4. Ansietas b/d penyakit dan pengobatan yang diantisipasi
5. Kekurangan volume cairan b/d syok/hemoragi
6. Resiko infeksi b/d insisi bedah.
3. INTERVENSI Dx1. Nyeri b/d adanya sel epitel abnormal.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan nyeri berkurang , terkontrol.


Kriteria hasil :

Pasien tidak tampak meringi

Skala nyeri 0 ( tidak nyeri)

Pasien tampak lebih rileks Intervensi :

Kaji karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan; lokasi, kualitas frekuensi,


durasi,dsb.

R: memberikan dasar untuk mengkaji perubahan tingkat nyeri dan mengevaluasi


intervensi.
- Tenangkan pasien bahwa anda mengetahui bahwa nyeri yang dirasakan
adalah nyata dan bahwa anda kan membantu pasien dalam mengurangi nyeri
tsb.
R: Rasa takut dapat meningkatkan ansietas dan mengurangi toleransi nyeri.
- Kolaborasi dalam pemberian analgesik untuk meningkatkan peredaran nyeri
optimal dalam batas resep dokter.
R: Cenderung lebih efektif ketika diberikan dini pada siklus nyeri.
- Ajarkan pasien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamnan
dengan distraksi, imajinasi, relaksasi.
R: Meningkatkan strategi pereda nyeri alternative secara tepat.
Dx2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi. Kriteria hasil :

Klien

akan

metabolisme

mempertahankan

masukan

nutrisi

untuk

kebutuhan

Nafsu makan meningkat

Tidak terjadi penurunan berat badan Intervensi Keperawatan :

Ajarkan pasien hal-hal sbb : hindari pandangan, bau, bunyi-bunyi yang


tidak menyenangkan didalam lingkungan selama waktu makan.

R: anoreksia dapat distimulasi atau ditingkatkan dengan stimuli noksius.

Sarankan makan yang disukai dan yang ditoleransi dengan baik oleh
pasien, lebih baik lagi makanan dengan kandungan tinggi kalori/protein.
Hormati kesukaan makanan berdasarkan etnik. R: makanan kesukaan
yang dioleransi dengan baik dan tinggi kandungan kalori serta proteinnya
akan mempertahankan

status nutrisi

selama

periode

kebutuhan

metabolic yang meningkat.

Berikan dorongan masukan cairan yang adekuat, tetapi batasi cairan


pada waktu makan.

R: tingkat cairan diperlukan untuk menghilangkan produk sampah dan


mencegah dehidrasi.
- Meningkatkan kadar cairan bersama makanan dapat mengarah pada keadaan
kenyang. Pertimbangkan makanan dingin, jika diinginkan.
R: makanan dingin tinggi kandungan protein sering lebih dapat ditoleransi
dengan baik dan tidak berbau dibanding makanan yang panas.
- Kolaboratif pemberian diet cair komersial dengan cara pemberian makan
enteral melalui selang, diet makanan elemental/makanan yang diblender melalui
selang makan silastik sesuai indikasi.
R: pemberian makanan melalui selang mungkin diperlukan pada pasien yang
sangat lemah yang sistem gastrointestinalnya masih berfungsi.
Dx3. Berduka b/d diagnosisi Ca.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan klien dapat melewati proses


berduka dengan baik.
Kriteria hasil:

Klien sanggup menerima keadaannya

Tidak menutup diri

Mengkomunikasikan perasaannya dengan baik

Intervensi :
- Dorong pengungkapan ketakutan, kekhawatiran, pertanyaan mengenai
penyakit, pengobatan dan implikasinya dimasa mendatang.
R: dasar pengetahuan yang akurat dan meningkat akan mengurangi ansietas
dan meluruskan miskonsepsi.
- Berikan dorongan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga dalam keputusan
perawatan dan pengobatan.
R: partisipasi aktif akan mempertahankan kemandirian dan control pasien.

Kunjungi keluarga untuk menetapkan dan memelihara hubungan dan


kedekatan fisik. R: meningkatkan rasa saling percaya dan keamanan
serta mengurangi perasaan takut.

Berikan dorongan ventilasi perasan-perasaan negative, termasuk marah


yang meluap-meluap, didalam batasan yang dapat diterima.

R: untuk ekspresi emosional tanpa kehilangan harga diri.


- Sisihkan waktu untuk periode menangis dan mengekspresikan kesedihan. R:
perasaan ini diperlukan untuk terjadinya perpisahan dan kerenggangan.
Dx4. Ansietas b/d penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ansietas klien menurun. Kriteria


hasil :

Klien lebih rileks

Nadi normal

Tidak terjadi peningkatan respirasi Intervensi :

Berikan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam.

R: pasien dapat mengekspresikan rasa takut, masalah, dan kemungkinan rasa


marah akibat diagnosisi dan prognosisi.
- Berikan dorongan partisipasi aktif dari pasien dan keluarganya dalam
keputusan perawatan dan pengobatan.
R: untuk mempertahankan kemandirian dan kontrol pasien.
- Anjurkan pasien mendiskusikan perasaan pribadi dengan orang pendukung
misalnya rohaniawan bila diinginkan.
R: menfasilitasi proses berduka dan perawatan spiritual.
Dx.5. Kekurangan volume cairan b/d syok/hemoragi.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan kebutuhan cairan klien
terpenuhi. Kriteria hasil :

Klien tidak tampak lemah

Turgor kulit baik

Tidak terjadi penurunan berat badan secara mendadak Intervensi :

Pantau terhadap tanda-tanda hemoragi: Observasi aspirasi lambung


terhadap bukti adanya darahi Observasi garis jahitan terhadap adanya
perdarahani Berikan produk darah sesuai programi R: penurunan vol
darah sikulasi dapat menimbulkan syok hipovolemik.

Kaji klien tehadap tanda-tanda syok Evaluasi drainase dari balutan dan
penampung drainasei Evaluasi tekanan darah, nadi dan frekuensi
pernapasani Berikan produk darah sesuai programi R: menurunnya
volume sirkulasi darah dapat menimbulkan syok hipovolemik.

Dx6. Risiko infeksi b/d insisi bedah Tujuan : Setelah diberikan asuhan
keperawatan tidak terjadi gejala infeksi. Kriteria hasil :

Tidak timbul kemerahan

Tidak adanya pembengkakan

Tidak timbul nyeri

Tidak ada peningkatan suhu

Tidak kehilangan fungsi

Intervensi :
- Kaji luka terhadap tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, bengkak,
demam, nyeri tekan, dan kehilangan fungsi.
R: luka harus bersih, karena jika keadaan luka kotor akan lebih rentan terjadi
infeksi.

Kaji abdomen terhadap tanda peritonitis, nyeri tekan, kekakuan, distensi.


R: peritonitis dapat terjadi sekunder akibat bedah lambung.

Kolaborasi pemberian antibiotic profilaktik sesuai program.

R: antibiotic sering diberikan pada klien setelah bedah abdomen untuk


mencegah infeksi.
4. EVALUASI Dx1.Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman. a. Melaporkan
peredaan rasa nyeri (skala nyeri 0) b. Pasien tidak tampak meringis c. Pasien
tampak lebih rileks

Dx2.Kebutuhan nutrisi tercukupi. a. Klien akan mempertahankan masukan


nutrisi untuk kebutuhan metabolisme b. Nafsu makan meningkat c. Tidak terjadi
penurunan berat badan
Dx3.Memperlihatkan peningkatan sikap untuk menerima keadaan diri. a. Klien
sanggup menerima keadaannya b. Tidak menutup diri c. Mengkomunikasikan
perasaannya dengan baik
Dx4.Mencapai penurunan ansietas. a. Klien terlihat lebih rileks b. Nadi normal
(60-100 x/mnt untuk dewasa) c. Respirasi normal(12-20 x/mnt)
Dx5.Kebutuhan cairan terpenuhi. a. Klien tidak tampak lemah b. Turgor kulit baik
c. Tidak terjadi penurunan berat badan secara mendadak
Dx6.Tidak ada gejala infeksi. a. Tidak timbul kemerahan b. Tidak adanya
pembengkakan c. Tidak timbul nyeri d. Tidak ada peningkatan suhu e. Tidak
kehilangan fungsi BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan Jadi kanker lambung adalah bentuk neoplasma maligna dalam
gastrointestinal. Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui.
Kanker lambung dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu :
1. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan
harus dibedakan dari ulkus peptikum jinak.
2. Karsinoma polipoid, tampak seperti kembang kol yang menonjol ke
dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenomatosa
3. Karsinoma infiltratif, dapat menembus seluruh ketebalan dinding
lambung dan dapat menyebabkan terbentuknya lambbung botol kulit
(linitis plastica ) yan tidak lentur.
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali
mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di
lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang
dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada

kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi,
dapat diperoleh dengan reseksi tumor.
DAFTAR PUSTAKA
Nanda,,Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2005-2006,Nanda
International,Philadelphia,2005.
Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine, M. 2005.Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit Vol 2 Edisi 6. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C, Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan MedikalBedah Brunner & Suddath. Jakarta : EGC. www.wikipedia.c