Anda di halaman 1dari 17

ACARA II

EVALUASI KADAR SIANIDA BAHAN PANGAN

A. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum acara II Evaluasi Kadar Sianida Bahan Pangan
yaitu:
1. Mengetahui prinsip evaluasi kadar sianida dalam bahan pangan dengan
menggunakan metode destilasi dan spektrofotometri.
2. Mengetahui pengaruh berbagai perlakuan terhadap kadar sianida dalam
bahan pangan.
3. Mengetahui kadar sianida bahan pangan dengan berbagai variasi
perlakuan.
B. Tinjauan Pustaka
Ubi kayu segar banyak mengandung air dan pati. Ubi kayu
mengandung racun yang disebut asam sianida (HCN). Berdasarkan kandungan
asam sianidanya, ubi kayu digolongkan menjadi empat yaitu (a) golongan
yang tidak beracun, mengandung HCN 50 mg/kg umbi segar yang telah
diparut, (b) sedikit beracun mengandung HCN antara 50-80 mg/kg, (c)
beracun, mengandung HCN antara 80-100 mg/kg, (d) sangat beracun,
mengandung HCN lebih besar dari 100 mg/kg. Ubi kayu yang tidak beracun
dikenal dengan ubi kayu manis, sedangkan ubi kayu yang beracun disebut ubi
kayu pahit (Muchtadi, 2010).
Pengolahan secara tradisional ternyata dapat mengurangi atau bahkan
menghilangkan kandungan racun. Seperti misalnya singkong, kulitnya dikupas
dulu sebelum diolah, singkongnya dikeringkan, direndam sebelum dimasak,
dan difermentasi selama beberapa hari. Dengan perlakuan tersebut linamarin
banyak yang rusak dan hydrogen sianidanya ikut terbuang keluar sehingga
tinggal 10-40% mg/kg. Di samping itu hidrogen sianida akan mudah hilang
oleh penggodokan, asal tidak ditutup rapat. Dengan pemanasan, enzim yang
bertanggung jawab terhadap pemecahan linamarin menjadi inaktif sehingga
hidrogen sianida tidak dapat terbentuk (Winarno, 2004).

Sianogen merupakan senyawa pada umbi-umbian yang berpotensi


sebagai toksikan dan dapat terurai menjadi asam hidrosianida (HCN). Pada
saat pengupasan atau pengirisan umbi, jaringan umbi mengalami kerusakan
dan sistem sel rusak, senyawa alkaloid sebagai substrat yang berada dalam
vakuola dan enzim dalam sitoplasma akan saling kontak dan mengalami
reaksi enzimatis membentuk glukosa dan senyawa aglikon. Senyawa aglikon
kemudian dengan cepat akan mengalami pemecahan oleh enzim liase menjadi
asam sianida (HCN) dan senyawa aldehid atau keton (Almaarif dkk, 2012).
Hidrogen sianida adalah cairan tak berwarna atau gas dengan samar
bau almond pahit. Hidrogen sianida memiliki rumus molekul HCN.
Hal ini mudah larut dalam air. Solusinya dalam air dikenal sebagai asam
hydrocyanic acid atau prussic. Namanya yang lain adalah formonitrile.
Garam dari HCN disebut sianida. Formonitrile adalah zat beracun, karena itu
sering dianggap sebagai faktor anti-nutrisi. Menurut Kamalu (1995),
singkong, sebuah makanan pokok di banyak daerah tropis mengandung
cyanogenic glikosida, seperti linamarin, yang melepaskan sianida (CN -)
ketika dimetabolisme endogen (Anhwange, 2011).
Jansz et al. (1997), melaporkan bahwa, orang yang makan makanan
yang mengandung tingkat sianida rendah untuk waktu yang lama dapat
mengembangkan kerusakan pada pusat sistem saraf (CNS-) dan kelenjar
tiroid. Hal tersebut nampak bahwa glukosida sianogenik diserap oleh usus.
Hal ini telah dibuktikan bahwa setidaknya sebagian glukosida sianogenik
dapat dihidrolisa dalam urin. Senyawa glukosida sianogenik dapat
mengkonversi CN- menjadi CNS- atau dengan yang disimpan dalam molekul
seluler setelah konversi oleh flora usus atau enzim endogen, menjadi zat
seperti asparagin. Untuk menunjang hal ini, Kamalu (1995) dalam Anhwange
(2011) menekankan bahwa lama konsumsi makanan yang mengandung
sianida dapat menyebabkan ketulian, masalah penglihatan, dan hilangnya
koordinasi otot. Pengaruh ini pada kelenjar tiroid adalah kretinisme
(pertumbuhan terbelakang fisik dan mental pada anak-anak), atau pembesaran
aktivitas kelenjar.

Menurunnya kadar HCN dapat disebabkan oleh proses pengolahan


pada kacang koro. HCN pada tempe kacang koro dapat berkurang karena
pada proses pembuatannya melalui beberapa proses pengolahan seperti
perendaman, pengukusan, pemotongan, dan fermentasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Irmansyah (2005) dalam dalam Suciati (2012), bahwa dengan cara
merebus, mengupas, mengiris kecil-kecil, merendam dalam air, menjemur
hingga kemudian dimasak adalah proses untuk mengurangi kadar HCN.
Proses pencucian dalam air mengalir dan pemanasan yang cukup, sangat
ampuh untuk mencegah terbentuknya HCN yang beracun. Hal ini didukung
pula oleh Purwanti (2005) dalam Suciati (2012), bahwa pelepasan HCN
tergantung dari adanya enzim glikosidase serta adanya air. Senyawa HCN
mudah menguap pada proses perebusan, pengukusan, dan proses memasak
lainnya. Hal ini juga didukung oleh penelitian Prastyo (2012), bahwa
pengukusan mampu menurunkan kadar HCN. Waktu pengukusan yang paling
optimum adalah 75 menit, pada saat itu terjadi penurunan kandungan sianida
yang cukup signifikan. Dalam penelitian tersebut, proses pengukusan yang
dilakukan berhasil menghilangkan kadar sianida sebesar 25,28% yaitu 41,67
mg/kg menjadi 20,37 mg/kg.
Selain dengan metode spektrofotometri, banyak metode analisis HCN
yang telah dicoba, akan tetapi hasilnya bervariasi hal ini disebabkan oleh sifat
HCN yang mudah menguap akibat pengaruh suhu. Kenaikan suhu dan waktu
inkubasi yang relatif lama pada proses analisis, dapat menyebabkan hilangnya
sianida yang akan diukur. Untuk itu, perlu dicarikan metode lain yang lebih
efektif dan efisien yaitu dengan cara memodifikasi beberapa metode dasar
yang telah ada. Metode yang terpilih adalah metode Lian dan Hamir. Metode
Lian dan Hamir merupakan metode alkali-pikrat yang paling praktis
dibandingkan dengan metode lain misalnya metode piridine-pirazolone dan
isotachoelectrophoretic (Marlina, 2014).
Ada beberapa metode lain yang dapat menurunkan kadar HCN
menurut Pambayun (2000) dalam Djaafar (2009). Perendaman irisan umbi

setebal 2 mm dalam larutan garam 8% selama tiga hari mampu menurunkan


HCN sampai pada kadar 5,45 ppm. Blanching umbi yang tidak dikupas
selama 30 menit di dalam air mendidih dan dikombinasikan dengan
perendamam dalam air bersih selama tiga hari mampu menurunkan
kandungan HCN sampai pada kadar 4,12 ppm. Serta cara tradisional (dengan
abu sekam) dapat menurunkan kandungan HCN sampai pada kadar 13,89
ppm.
Seperti halnya kacang koro, diduga sianida yang terkandung dalam
gadung terikat dengan senyawa gula berupa glukosida sianogenik. Glukosida
sianogenik berperan sebagai prekursor sianida bebas pada gadung, sehingga
bila glukosa terhidrolisis sempurna dapat menghasilkan sianida bebas yang
menimbulkan efek toksisitas yang cukup berbahaya. Oleh karena itu
diperlukan perlakuan lanjutan setelah hidrolisis untuk menguapkan sianida
bebas. Menurut FAO, kandungan sianida 50 mg/kg (ppm) bahan masih aman
untuk dikonsumsi manusia (Harijono dan Martati, 2008).
Penambahan kloroform pada uji kadar sianida singkong berfungsi
sebagai pelarut alkaloid. Salah satu alkaloid yang terdapat di dalam singkong
adalah HCN (Pritari, 2013). Menurut Nahdhiyah (2011), penambahan KOH
berfungsi untuk membuat suasana menjadi basa, akibatnya sianida akan
terdisosiasi. Disosiasi sianida merupakan reaksi peruraian senyawa menjadi
ion-ion di dalam pelarut. Hal ini akan mempermudah proses selanjutnya
setelah penambahan alkali pikrat. Alkali pikrat berperan untuk melarutkan
sianida sehingga lebih mudah saat diukur absorbansinya.

C. Metodologi
1. Alat
a. Tabung reaksi
b. Pipet
c. Erlenmeyer
d. Penangas air
e. Labu destilasi

f. Kuvet
g. Spektrofotometer
2. Bahan
a. Kacang Mete Mentah
b. Kacang Merah Mentah
c. Kacang Tanah Mentah
d. Kentang Mentah
e. Kentang Kukus
f. Singkong Mentah
g. Singkong Kukus
h. Ubi Jalar Ungu Mentah
i. Ubi Jalar Ungu Matang
j. Kacang Koro Pedang Putih Mentah
k. Kacang Koro Pedang Putih Perlakuan
l. Kacang Koro Pedang Merah Mentah
m. Kacang Koro Pedang Merah Perlakuan
n.
o.
p.
q.

Aquades 125 ml
Kloroform 2,5 ml
Alkalin pikrat 5 ml
KOH 2% 10 ml

3. Cara Kerja
4 gram sampel

Ditambah 125 ml aquades dan 2,5 ml kloroform

Dimasukkan dalam labu destilasi

Dilakukan destilasi

Larutan diambil masing- masing 5 ml

Dimasukkan dalam 2 tabung reaksi kemudian ditambah


5 ml alkalin pikrat

Dimasukkan dalam waterbath yang berisi air mendidih


selama 5 menit

Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 520 nm

Dihitung konsentrasi dari kurva standar yang diperoleh

D. Hasil dan Pembahasan


Sianogen merupakan senyawa pada umbi-umbian yang berpotensi
sebagai toksikan dan dapat terurai menjadi asam hidrosianida (HCN). Pada
saat pengupasan atau pengirisan umbi, jaringan umbi mengalami kerusakan
dan sistem sel rusak, senyawa alkaloid sebagai substrat yang berada dalam
vakuola dan enzim dalam sitoplasma akan saling kontak dan mengalami reaksi
enzimatis membentuk glukosa dan senyawa aglikon. Senyawa aglikon
kemudian dengan cepat akan mengalami pemecahan oleh enzim lipase

menjadi asam sianida (HCN) dan senyawa aldehid atau keton (Almaarif,
2012).
Secara fisik, HCN termasuk senyawa volatil tidak berwarna, berbau
menyengat sebagaimana asam lainnya, dan berasa pahit. Senyawa ini
mempunyai titik didih 25,7C (Mark dan Liener dalam Pambayun, 2007).
Dalam keadaan bebas sangat mudah larut dalam air. Dalam jaringan, senyawa
ini akan terakumulasi, tetapi apabila terdapat pada suatu permukaan, senyawa
ini cepat menguap. Karena sifat kelarutannya sangat mudah larut dalam air,
senyawa ini mudah dihilangkan dari bahan (Pambayun, 2007). Menurut
Winarno (2004), HCN bersifat mudah menguap di udara, terutama pada suhu
lebih tinggi dari 25C.
Tabel 2.1 Data Absorbansi Larutan KCN Standar 3,5 mg/ 10 ml Aquades
Volume Larutan
Volume
Absorbansi
KCN Standar (ml)
Aquades (ml)
()
0
10
0.02
0.2
9.8
0.045
0.4
9.6
0.096
0.6
9.4
0.135
0.8
9.2
0.213
1
9
0.277
1.2
8.8
0.351
Sumber : Laporan Sementara

Dalam kurva standar KCN ada dua variabel yaitu absorbansi dan
volume larutan KCN standar. Semakin banyak larutan yang digunakan maka
semakin besar absorbansi yang didapatkan. Kurva standar HCN menjadi
acuan perhitungan persamaan regresi yang akan digunakan untuk menghitung
kadar HCN pada masing-masing sampel. Persamaan regresi ditentukan
dengan nilai absorbasi sebagai sumbu y dan mg KCN sebagai sumbu x.
Berdasarkan kurva standar HCN, persamaan regresi yang diperoleh yaitu : y
= 0,280x - 0,006.
Tabel 2.2 Data Absorbansi Kadar HCN Berbagai Bahan Pangan
Absorbansi Kadar HCN
Kelompok
Sampel
()
(mg)
1 & 2A
Kacang Mete Mentah
0,058
0,228
3 & 4A
Kacang Merah Mentah
0,524
1,893

Kadar HCN
(ppm)
228
1893

5 & 6A
1B
2B
3B
4B
5B
6B
1C
2C
3 & 4C
5 & 6C

Kacang Tanah Mentah


Kentang Mentah
Kentang Kukus
Singkong Mentah
Singkong Kukus
Ubi Jalar Ungu Mentah
Ubi Jalar Ungu Matang
Kacang Koro Pedang
Putih Mentah
Kacang Koro Pedang
Putih Perlakuan
Kacang Koro Pedang
Merah Mentah
Kacang Koro Pedang
Merah Perlakuan

0,085
0,039
0,034
0,458
0,113
0,027
0,258

0,325
0,161
0,144
1,657
0,425
0,118
0,943

325
161
144
1657
425
118
943

0,022

0,100

100

0,036

0,150

150

0,031

0,133

133

0,030

0,129

129

Sumber : Laporan Sementara

Evaluasi kadar sianida dalam bahan pangan ditujukan untuk


mengetahui kadar sianida dalam pangan sehingga tidak melebihi batas ambang
yang dianjurkan karena sifat sianida yang beracun. Sianida mengikat enzim
penting mengandung besi yang diperlukan bagi sel untuk menggunakan
oksigen dan sebagai akibatnya jaringan sel tidak dapat mengambil oksigen
dari darah (Ballantyne 1987; Richardson 1992). Kandungan sianida dalam
singkong sangat bervariasi. Kadar sianida rata- rata dalam singkong manis
dibawah 50 mg/kg berat asal, sedangkan singkong pahit/ racun diatas 50
mg/kg. Menurut FAO, singkong dengan kadar 50 mg/kg masih aman untuk
dikonsumsi manusia (Winarno, 2004).
Pada praktikum digunakan evaluasi secara kualitatif dengan metode
ekstraksi dan evaluasi secara kuantitatif dengan metode spektrofotometri.
Prinsipnya adalah menguapkan sampel yang mengandung HCN dengan
pelarut kloroform dan ditampung dalam erlenmeyer yang berisi KOH 2%
kemudian didinginkan dan ditambahi alkalin pikrat kemudian di vortex dan di
absorbansi dengan panjang gelombang 520 nm.
Penambahan kloroform ini dimaksudkan untuk merusak ikatan
glukosida sianogenik. Menurut Darjanto (1980), racun dalam ubi kayu tidak
terdapat dalam keadaan merdeka, melainkan terikat dalam rangkaian
cyanogenic glucoside, yaitu suatu benda padat yang disebut pula linamarine

yang terdiri dari glucose, aceton, dan HCN yang mempunyai rumus
C10H17O6N dan tahan terhadap panas sampai suhu 1400C. Selain fungsi dari
penambahan kloloform yaitu sebagai pelarut non polar yang mudah menguap
sehingga sampel ekstrak tersebut tidak larut (tidak

bereaksi dengan

kloroform). Alkalin pikrat dalam praktikum berfungsi untuk membantu dalam


proses

absorbansi.

Penggunaan

KOH

sebagai

penampung

destilat

dimaksudkan untuk menetralkan asam sianida yang telah diekstraksi.


Untuk shift 1 dari kelompok 1 dan 2 dengan sampel kacang mete yang
mentah memiliki kadar HCN 0,228 mg, sedangkan untuk kelompok 3 dan 4
dengan sampel kacang merah mentah memiliki kadar HCN 1,893 mg dan
kelompok 5 dan 6 dengan sampel kacang tanah mentah memiliki kadar HCN
0,325 mg. Untuk shift 2 dari kelompok 1 dengan sampel kentang mentah
memiliki kadar HCN 0,161 mg, kelompok 2 dengan sampel kentang kukus
memiliki kadar HNC 0,144 mg, kelompok 3 dengan sampel singkong mentah
memiliki kadar HCN sebesar 1,657 mg, kelompok 4 dengan sampel singkong
kukus memiliki kadar HCN 0,425 mg, untuk kelompok 5 dengan sampel ubi
jalar ungu mentah memiliki kadar HCN sebesar 0,118 mg dan kelompok 6
dengan sampel ubi jalar ungu matang memiliki kadar HCN 0,943 mg. Untuk
shift 2 kelompok 1 dengan sampel kacang koro pedang putih mentah memiliki
kadar HCN 0,100 mg, untuk kelompok 2 dengan sampel kacang koro pedang
putih perlakuan memiliki kadar HCN 0,150 mg, untuk kelompok 3 dengan
sampel kacang koro pedang merah mentah memiliki kadar HCN 0,130 mg,
dan untuk kelompok 4 dengan sampel kacang koro pedang merah perlakuan
memiliki kadar HCN 0,129 mg.
Berdasarkan data di atas dapat dianalisa bahwa pengaruh perlakuan
pemanasan dapat menurunkan nilai kadar asam sianida dalam bahan pangan,
hanya saja ada beberapa penyimpangan pada sampel ubi jalar ungu yang
mentah maupun yang matang dimana kadar HNC pada sampel ubi jalar ungu
mentah memiliki kadar asam sianida lebih rendah dibanding dengan sampel
ubi jalar ungu kukus. Sedangkan sampel yang diberi perlakuan rata-rata
memiliki nilai kadar asam sianida yang lebih rendah dibanding yang tanpa
perlakuan. Umumnya sianida yang dihasilkan oleh bahan nabati tersebut

bervariasi antara 10-800 mg per 100 g bahan. Dan umumnya aktivitas


senyawa ini dapat dihilangkan atau dikurangi melalui proses pemanasan
(Yuniastuti, 2007). Berdasarkan standar SNI, batas sianida dalam produk
pangan (makanan) maksimal 1 ppm (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Di
dalam praktikum untuk sampel ubi jalar ungu mentah didapatkan hasil sesuai
dengan teori sedangkan untuk sampel lainnya ada yang sesuai teori ada yang
melebihi apa yang ada dalam teori.
Ada dua metode untuk mengetahui kadar sianida dalam bahan pangan
yaitu metode kulitatif dan metode kuantitatif. Metode kuantitatif sendiri terdiri
dari metode spektrofotometri dan metode titrimetri. Dalam praktikum
digunakan dua metode yaitu metode kualitatif dengan mendestilasi bahan dan
ditambahi dengan alkalin pikrat untuk menguji ada tidaknya asam sianida
dalam sampel dan kemudian dengan

metode kuantitatif dengan uji

spektrofotometri untuk mendapatkan nilai kadar asam sianida dalam bahan.


Penggunaan dua metode ini berguna agar tidak terjadi kesalahan dalam
pengujian dimana sampel sudah jelas terdapat asam sianida untuk diuji.
Pengolahan yang memadai (mengupas, mengiris, dan memasak) baik
glukosa sianogenik maupun hidrogen sianida dalam umbi dapat dihapus atau
dikurangi sebelum konsumsi. Perebusan adalah proses pemasakan dengan
menggunakan suhu panas ( 100C), dan termasuk dalam kategori pemanasan
basah karena menggunakan media air. Melalui pemanasan, enzim yang
bertanggung jawab terhadap pemecahan linamarin menjadi inaktif dan
hidrogen sianida tidak terbentuk (Winarno, 2002). Pada umbi-umbian proses
rebus atau diiris tipis lalu direbus mengurangi kadar sianida 60-90%
sedangkan proses kukus atau diiris tipis lalu dikukus mengurangi kadar
sianida 30-60% (Murdiana, 2000).
Metode yang paling efektif dalam pengurangan kadar sianida yaitu
dengan pemanasan. Menurut Kumoro dkk (2011) dalam Retnowati dan Andri
(2012), menyatakan bahwa proses penurunan kadar sianida dapat dilakukan
dengan perendaman air mengalir (leaching) yang kemudian diikuti dengan
pengukusan. Pemanasan memiliki dwifungsi, menginaktifkan enzim dan
menguapkan HCN yang terbentuk karena senyawa ini sifatnya volatile.

Pemanasan akan menyebabkan enzim b-glukosidase yang berada dalam umbi


(sitoplasma selular) mengalami inaktif sehingga rantai enzimatis dapat
diputus. Jika reaksi itu diputus, pembentukan sianohidrin dari glukosida
sianogenik dan reaksi pembentukan HCN dari sianohidrin bisa dihindari
(Pambayun, 2007).
E. Kesimpulan
1. Prinsip evaluasi kadar sianida dalam bahan pangan dengan metode
destilasi

dan

spektofotometri

adalah

menguapkan

sampel

yang

mengandung HCN dengan pelarut kloroform dan ditampung dalam


erlenmeyer yang berisi KOH 2% kemudian didinginkan dan ditambahi
alkalin pikrat kemudian di vortex dan di absorbansi dengan panjang
gelombang 520 nm.
2. Nilai kadar asam sianida dalam bahan pangan dengan pengaruh perlakuan
pemanasan dan variasi perlakuan rata-rata mengalami penurunan kadar
dibanding dengan tanpa perlakuan pemanasan dan variasi perlakuan.
3. Nilai kadar asam sianida terbesar pada sampel kacang merah mentah
sebesar 1893 ppm, sedangkan untuk sampel dengan nilai kadar asam
sianida terendah pada sampel kacang koro pedang putih mentah sebesar
100 ppm.
DAFTAR PUSTAKA
Almaarif, Ahmad Luthfi, Ariska Wijaya, dan Djoko Murwono. 2012.
Penghilangan Racun Asam Sianida (HCN) dalam Umbi Gadung dengan
Menggunakan Bahan Penyerap Abu. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri
Vol. 1 No.1 p. 14-20.
Anhwange, 2011. Hydrogen Cyanide Content of Manihort Utilissima, Colocasia
Esculenta, Dioscorea Bulbifera and Dioscorea Domentorum Tubers Found
in Benue State. International Journal of Chemistry Vol. 3, No. 4.
Badan Standardisasi Nasional. 2006. Bahan Tambahan Pangan Persyaratan
Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan.
Ballantyne, B. 1987. Toxicology of cyanides in B Ballantyne, TC Marrs (eds.).
Clinical and Experimental Toxicology of Cyanides, Wright Publishers,
Bristol, UK.
Djaafar, Titiek F., Siti Rahayu, dan Murdijati Gardjito. 2009. Pengaruh Blanching
dan Waktu Perendaman dalam Larutan Kapur terhadap Kandungan

Racun pada Umbi dan Ceriping Gadung. Penelitian Pertanian Tanaman


Pangan Vol. 28 No. 3.
Jansz, E.R., & Uluwaduge, D.I. (1997). Biochemical aspect of cassava (manihot
esculenta crantz) with special emphasis on cyanogenic glucoside-A review.
J Natural sciences, 25, 1-24.
Marlina, Nina. 2013. Analisis Sianida Dalam Singkong Dengan Metode Lian Dan
Hamir Yang Dimodifikasi. Lokakarya Fungsional Non Peneliti. Balai
Penelitian Temak, Ciawi-Bogor.
Muchtadi, Tien dkk. 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Penerbit Alfabeta.
Bogor.
Murdiana, A. 2000. Pengaruh Berbagai Cara Pengolahan untuk Mengurangi
Sifat Goitrogenik Tiosianat pada Beberapa Bahan Makanan di Daerah
Endemik Gondok.
Nahdhiyah, Nissa. 2011. Analisis Ion Sianida (CN-) dan Timbal (Pb2+) secara
Simultan dengan Metode Reverse Flow Injection Potentiometry. Skripsi.
Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Jember.
Pambayun, R. 2007. Kiat Sukses Teknologi Pengolahan Umbi Gadung. Ardana
Media. Yogyakarta.
Prastyo, Dian Heru, dan Triaji, Wahyu. 2011. Penurunan Sianida Umbi Gadung
dengan Proses Leaching dan Pengukusan sebagai Bahan Dasar Tepung.
Skirpsi S1. Diponegoro University
Pritari, Aulia Ratu. 2013. Uji Larvasidal Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.)
terhadap Larva Aedes aegypti (dalam Pelarut n-Heksana, Kloroform dan
Metanol).
Skripsi.
Fakultas
Kedokteran.
Universitas
Jember.
http://www.stuffspec.com/publicfiles/Definisi_Pelarut.html
Retnowati, Diah Susetyo., dan Andri Cahyo Kumoro. 2012. Penurunan Sianida
dalam Umbi Gadung dengan Proses Leaching yang Bekerja Batch.
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia. Yogyakarta.
Richardson, ML. 1992. The Dictionary of Substances and their Effects. Royal
Society of Chemistry, UK, hal. 716-718.
Suciati, Andi. 2012. Pengaruh Lama Perendaman dan Fermentasi Terhadap
Kandungan HCN pada Tempe Kacang Koro (Canavalia ensiformis L).
Skripsi. Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi
Pertanian, Fakultas PertanianUniversitas Hasanuddin. Makasar.
Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Yuniastuti, A. 2007. Gizi dan Kesehatan. Cetakan I. Graha Ilmu, Yogyakarta.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

Kadar sianida kentang mentah


y

= 0,280 x - 0,006

0,039 = 0,280 x - 0,006


0,045 = 0,280 x
x

= 0,161

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809
= (0,039 + 0,0061)/0,2809
= 0,161 mg

HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106


= {(0,161 x 4)/ (4000)} x 106

= 161 ppm
Kadar sianida kentang matang
y

= 0,280 x - 0,006

0,034 = 0,280 x - 0,006


0,040 = 0,280 x
x

= 0,143

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809
= (0,040 + 0,0061)/0,2809
= 0,144 mg

HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106


= {(0,144 x 4)/ (4000)} x 106
= 144 ppm
Kadar sianida singkong mentah
y

= 0,280 x - 0,006

0,458 = 0,280 x - 0,006


0,464 = 0,280 x
x

= 1,657

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809
= (0,458 + 0,0061)/0,2809
= 1,657 mg

HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106


= {(1,657 x 4)/ (4000)} x 106
= 1657 ppm
Kadar sianida singkong matang
y

= 0,280 x - 0,006

0,113 = 0,280 x - 0,006


0,119 = 0,280 x
x

= 0,425

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809

= (0,113+ 0,0061)/0,2809
= 0,425 mg
HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106
= {(0,425 x 4)/ (4000)} x 106
= 425 ppm
Kadar sianida ubi ungu mentah
y

= 0,280 x - 0,006

0,027 = 0,280 x - 0,006


0,033 = 0,280 x
x

= 8,485

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809
= (0,027 + 0,0061)/0,2809
= 0,118 mg

HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106


= {(0,118 x 4)/ (4000)} x 106
= 118 ppm
Kadar sianida ubi ungu kukus
y

= 0,280 x - 0,006

0,258 = 0,280 x - 0,006


0,264 = 0,280 x
x

= 0,943

Kadar HCN (mg)

= (y +0,0061) / 0,2809
= (0,264 + 0,0061)/0,2809
= 0,943 mg

HCN (ppm) = {Kadar HCN (mg) x FP} / (g sampel. 1000)}x 106


= {(0,943 x 4)/ (4000)} x 106
= 943 ppm

LAMPIRAN

Gambar 2.1 Proses Pemanasan setelah Ditambah Alkalin Pikrat

Gambar 2.2 Hasil Pengujian Sianida pada ubi ungu mentah