Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LATAR BELAKANG

Latar belakang penulisan ini adalah masalah gigi bungsu, dimana dalam
proses erupsi (muncul) ke rongga mulut sering mengalami gangguan berupa impaksi. Kasus
impaksi sangat bervariasi, ada yang memerlukan tatalaksana bedah yaitu odontektomi dan
ada pula kasus yang dapat dibiarkan tanpa pembedahan. Kedua pilihan tersebut masingmasing dapat menimbulkan komplikasi yang harus diantisipasi dan dicegah agar komplikasi
seringan mungkin. Perbedaan persepsi antar dokter menimbulkan kontroversi. Pasien yang
semakin kritis, menuntut kewaspadaan dokter akan pilihan tatalaksana yang akan diambil.
Dokter harus menjelaskan kepada pasien komplikasi tersebut dan keputusan bersama diambil
berdasarkan pertimbangan akan manfaat dan risikonya.
Gigi bungsu adalah gigi molar ketiga, terletak di rahang atas dan bawah, yang
terbentuk dan mengalami erupsi paling akhir. Umumnya erupsi terjadi pada usia 16 -25
tahun, suatu periode dalam kehidupan yang disebut age of wisdom sehingga gigi bungsu
disebut sebagai wisdom teeth.Gigi akan tumbuh normal ke dalam rongga mulut tanpa
halangan bila benih gigi terbentuk dalam posisi yang baik, lengkung rahang cukup ruang
untuk menampungnya. Sebaliknya, pertumbuhan terganggu bila benih malposisi, lengkung
rahang tidak cukup luas atau keduanya. Kondisi di atas berakibat gangguan erupsi yang
disebut impaksi. Gigi impaksi dapat terjadi pada gigi-gigi lain, namun frekuensi tertinggi
ditemukan pada molar ketiga bawah dan atas, diikuti oleh gigi kaninus atas, gigi premolar
bawah, dan gigi berlebih (supernumerary tooth). Sebanyak sembilan dari 10 orang
mengalami satu gigi bungsu yang impaksi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Impaksi


Gigi impaksi adalah gigi yang jalan erupsinya terhalang, biasanya oleh gigi di
dekatnya atau jaringan patologis. Impaksi diperkirakan secara klinis apabila gigi
antagonisnya sudah erupsi dan hampir dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang
lain sudah erupsi. Gigi impaksi terjadi karena tidak tersedianya ruangan yang cukup pada
rahang untuk tumbuhnya gigi dan angulasi yang tidak benar pada gigi tersebut. 1,4
Menurut Sid Kirchheimer, gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat erupsi
seluruhnya atau sebagian karena tertutup oleh tulang, jaringan lunak atau kedua-duanya.
Jalan erupsi yang salah dari gigi permanen, kemungkinan besar dapat disebabkan oleh
kegagalan resorpsi gigi desidui sehingga gigi desidui menjadi persistensi. Hal ini dapat
menimbulkan kegagalan gigi permanen untuk erupsi. sehingga menjadi gigi terpendam.
Berikut ini disebutkan beberapa pendapat para ahli yang membahas mengenai etiologi
kaninus impaksi, menurut Moyers, pola herediter dapat menyebabkan gigi impaksi namun
etiologi yang paling sering didapati adalah persistensi gigi susu, lesi lokal patologis dan
penyempitan lengkung rahang atas.
Gigi molar tiga adalah gigi yang paling terakhir erupsi dalam rongga mulut. Keadaan
ini yang memungkinkan gigi molar tiga menjadi gigi yang paling sering mengalami impaksi
dibandingkan gigi yang lain, karena seringkali tidak tersedia ruangan yang cukup bagi gigi
untuk erupsi.3

Gambar 1. Gigi Impaksi

2.2. Etiologi Gigi Impaksi

2.2.1. Penyebab Lokal 2,3


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kedudukan gigi tetangga yang tidak teratur.


Tekanan gigi tetangga.
Kurangnya tempat, karena kurangnya pertumbuhan rahang.
Densitas tulang diatas dan disekeliling gigi yang bersangkutan.
Persistensi gigi sulung.
Premature lost gigi sulung.
Keradangan kronis yang lama dan berkesinambungan yang menyebabkan

terjadinya penebalan mukosa.


8. Penyakit nekrosis karena keradangan/abses.
9. Perubahan pada tulang karena proses keradangan.
2.2.2 Penyebab Sistemik 2,3
a. Penyebab prenatal
1. Keturunan
2. Miscegeneration (perkawinan campur antar suku/bangsa).
b. Penyebab postnatal
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ricketsia (gangguan penulangan normal karena defisiensi vitamin D)


Anemia
Kongenital syphilis
TBC
Gangguan kelenjar endokrin
Malnutrisi

c. Kelainan pertumbuhan
1.
2.
3.
4.
5.

Cleidocranial dysostosis
Oxycephaly
Progeria
Achondroplasia (kerdil)
Cleft palate (celah langit-langit

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Pengangkatan Gigi Impaksi


2.3.1 Indikasi 4,7,8
Adapun indikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah :
a. Pencegahan dari terjadinya :
Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (perikoronitis)
Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik dan
neoplasma)
b. Adanya infeksi (focus selulitis)

c. Adanya keadaan patologi (odontogenik)


d.
Adanya rasa nyeri
e.
Penyimpangan panjang lengkung

rahang

dan

untuk

membantu

mempertahankan stabilitas hasil perawatan ortodonti.


2.3.2Kontraindikasi 7,8,9
Adapun kontraindikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah :
a. Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang
yang menutupinya terlalu banyak (pencabutan prematur)
b. Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan
penting

di sekitarnya

atau

kerusakan

tulang

pada

pendukung

struktur

yang

luas

misalnya rasio risiko/manfaat tidak menguntungkan


c. Apabila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat
d. Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan
terganggu oleh kondisi fisik
2.4

Dampak gigi impaksi


a. Infeksi: perikoronitis, abses, selulitis, osteitis dan osteomyelitis
b. Rasa sakit biasa terlokalisir maupun menyebar hingga ke telinga, belakang
c. telinga, maupun bagian yang disarafi oleh n. trigeminus (revered pain)
d. Kista dentigerous yang bisa berlanjut menjadi ameloblastoma
e. Pergeseran gigi tetangga
f. Food impaction karies pada gigi tetangga dan gigi impaksi yang erupsi
sebagian
g. Gigi yang impaksi dapat menyebabkan relaps setelah perawatan orthodontik,
ssehingga hasil dari perawatan orthodontik tidaklah sempurna

2.5. Klasifikasi Impaksi Gigi Molar Ketiga Rahang Bawah 6,7


a. Jarak antara gigi M rahang bawah, dan batas anterior ramus mandibula.
Posisinya berdasarkan jarak antara molar kedua rahang bawah dan batas
anterior ramus mandibula dengan cara membandingkan lebar mesio-distal molar
ketiga dengan jarak antara bagian distal molar kedua ke ramus mandibula :

1.

Klas I : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula cukup lebar
mesiodistal molar tiga bawah

Gambar 2 : Klas I Impaksi

2. Klas II : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula lebih kecil
dari lebar mesiodistal molar tiga bawah

Gambar 3 : Klas II Impaksi

Klas III : gigi molar tiga bawah terletak di dalam ramus mandibula

Gambar 4 : Klas III Impaksi

b. Kedalaman

Impaksi gigi

rahang

bawah dapat

di kelompokan berdasarkan

kedalamannya, dalam hubungannya terdapat garis servikal molar 2 disebelahnya :


1. Pada level A, mahkota molar 3 yang impaksi bearada pada atau diatas garis
oklusal

Gambar 5 : level A Impaksi

2.

Pada level B mahkota molar 3 dibawah garis oklusal tetapi diatas garis
servikal dari molar 2

Gambar 6 : level B Impaksi

3.

Pada level C mahkota gigi molar 3 yang impaksi terletak di bawah garis
servikal

Gambar 7 : Level C Impaksi

c.

Hubungan radiografis terhadap molar kedua.


Hubungan radiografis terhadap molar kedua. Gigi molar 3 rahang atas
dan bawah yang impaksi

dikelompokan

berdasarkan

hubungan

dengan molar kedua. Klasifikasi yang di dasarkan sinar-X ini dilakukan


dengan melihat inklinasi gigi yang mengalami impaksi yaitu:

Gambar 8 : Hubungan radiografis terhadap molar kedua.

Klasifikasi impaksi kaninus


Lokasi yang jelas dari gigi kaninus impaksi sangat penting dalam menunjang
diagnosa dan rencana perawatan, sebab itu perlu diketahui klasifikasi dan beberapa
pemeriksaan. Klasifikasi dari kaninus impaksi dibagi menjadi 2 yaitu klasifikasi kaninus

impaksi

berdasarkan

radiografi

dan

klasifikasi

kaninus

impaksi

berdasarkan

transmigrasi/perpindahan kaninus impaksi.


Beberapa ahli mengklasifikasi gigi kaninus impaksi seperti berikut:
1. Archer mengklasifikasi dalam 5 klas yaitu :
Klas I : Gigi berada di palatum dengan posisi horizontal, vertikal atau semi vertikal.
Klas II : Gigi berada di bukal dengan posisi horizontal, vertikal atau semi vertikal.
Klas III : Gigi dengan posisi melintang berada diantara dua gigi dengan korona berada
di palatinal dan akar di bukal atau sebaliknya korona di bukal dan akar di
palatinal sehingga disebut juga posisi intermediate.
Klas IV : Gigi berada vertikal di prosesus alveolaris diantara gigi insisivus dua dan
premolar.
Klas V : Kaninus impaksi berada di dalam tulang rahang yang edentulos.
2. Yavuz dan Buyukkurt mengklasifikasi berdasarkan kedalaman kaninus impaksi
dalam 3 tingkat (Gambar 9) yaitu:

Gambar 9. Klasifikasi berdasarkan kedalaman kaninus impaksi

Level A : Korona kaninus impaksi berada pada garis servikal dari gigi tetangganya.
Level B : Korona kaninus impaksi berada diantara garis servikal dan apikal dari akar
gigi tetangganya.
Level C : Korona kaninus impaksi berada dibawah apikal dari akar gigi tetangganya.

3. Stivaros dan Mandall mengklasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap mid-line dan
dataran oklusal, posisi akar kaninus impaksi secara horizontal, panjang kaninus impaksi
secara vertikal dan posisi kaninus impaksi terhadap lebar akar insisivus.
A. Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap mid-line dan dataran oklusal. (gambar 10).
Grade 1 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 0 - 15o
Grade 2 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 16 30o
Grade 3 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 31o

Gambar 10. Klasifikasi kaninus impaksi


terhadap mid-line dan dataran oklusal

B. Klasifikasi posisi akar kaninus


impaksi secara horizontal. (gambar
Grade 1 : Akar kaninus impaksi
berada diatas regio dari kaninus.
Grade 2 : Akar kaninus impaksi
berada diatas regio dari premolar satu.
Grade 3 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari premolar dua.

Gambar 11. Klasifikasi posisi akar kaninus impaksi secara horizontal

C. Klasifikasi panjang kaninus impaksi secara vertikal (Gambar 12).

11)

Grade 1 : Kaninus impaksi berada dibawah CEJ (Cemento Enamel Junction) dari insisivus.
Grade 2 : Kaninus impaksi berada diatas CEJ, tetapi kurang dari setengah panjang akar
insisivus.
Grade 3 : Kaninus impaksi berada lebih dari setengah, tetapi belum sampai keseluruhan
panjang akar insisivus.
Grade 4 : Kaninus impaksi berada diatas keseluruhan panjang akar insisivus.

Gambar 12. Klasifiksi panjang kaninus impaksi secara vertikal.

D. Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap lebar akar insisivus (Gambar 13).

Grade 1 : Korona kaninus impaksi tidak menimpa/overlap akar insisivus.


Grade 2 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap kurang dari setengah lebar akar
insisivus.
Grade 3 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap lebih dari setengah, tetapi belum sampai
keseluruhan lebar akar insisivus.
Grade 4 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap keseluruhan atau lebih lebar akar
insisivus.

Gambar 13. Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap lebar akar insisivus

Berdasarkan transmigrasi / perpindahan kaninus


Transmigrasi atau perpindahan kaninus adalah suatu keadaan kaninus berpindah
melewati mid-line dari posisi normal yang dapat dilihat dari radiografi. Keadaan ini
dilaporkan lebih banyak terjadi pada mandibula daripada maksila. Akan tetapi, hal ini
merupakan suatu keadaan yang sangat jarang didapat.
Mupparapu mengklasifikasikan 5 tipe berdasarkan transmigrasi atau perpindahan
kaninus:
Tipe 1 : Kaninus impaksi mesio-angular melewati mid-line, labial atau lingual ke gigi

anterior dengan korona dari gigi kaninus melewati mid-line (Gambar 14).
Gambar 14. Transmigrasi kaninus impaksi tipe 1

Tipe 2 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi insisivus

Gambar 15. Transmigrasi kaninus impaksi tipe 2


Tipe 3 : Kaninus erupsi ke mesial atau distal ke gigi kaninus yang berlawanan.

Tipe 4 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi premolar atau molar dari sisi
yang berlawanan.

Gambar 16. Transmigrasi kaninus impaksi tipe 4.

Tipe 5 : Kaninus impaksi melewati garis tengah secara vertikal

Gambar 17. Transmigrasi kaninus impaksi tipe 5.

2.6

Prosedur
Menurut Archer odontektomi adalah

pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan


pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang
disekitar akar bukal dengan chisel, bur, atau rongeurs. Ada 2 metode / teknik : 6,7
a. Odontotomi : Pencabutan gigi secara utuh. Teknik ini juga dipakai untuk gigi dengan
akar hiper sementosis
b. Odontektomi disertai odontotomi : Pencabutan gigi disertai dengan pemotongan
gigi {gigi dipotong menjadi beberapa bagian in separate}
2.6.1 Pemilihan Anestesi
1. Anestesi Lokal: 7
a. Dilakukan untuk pengangkatan 1 gigi impaksi
b. Pasien kooperatif
2. Anestesi Umum: 7

a. Apabila kita hendak melakukan pengangkatan seluruh gigi impaksi secara bersamaan.
b. Untuk pengangkatan gigi impaksi dengan derajat kesukaran yang tinggi.
c. Penderita yang gelisah / tidak kooperatif
2.6.2

Anamnesa
Suatu kegiatan wawancara antara pasien/keluarga pasien dan dokter atau

tenaga kesehatan lainnya yang berwenang untuk memperoleh keteranganketerangan tentang keluhan dan penyakit yang diderita pasien. Biasanya menggunakan
aturan 5W 1H. Dari anamnesa kita dapat mengetahui keluhan utama pasien serta riwayat
penyakit yang dapat digunakan untuk memoerkirakan diagnosa, penanganannya serta
pemberian obat. Anamnesa dapat dilakukan dengan dua acara , yaitu : 5,6
a. Auto-anamnesa

yaitu

kegiatan

wawancara

langsung

kepada

pasien

karena pasien dianggap mampu melakukan tanya jawab


b. Allo-anamnesa yaitu kegiatan wawancara secara tidak langsung atau
dilakukan wawancara/tanya jawab pada keluarga pasien atau yang mengetahui
tentang pasien.
Allo-anamnesa dilakukan karena :
Pasien belum dewasa (anak-anak yang belum dapat mengemukakan
pendapat terhadap apa yang dirasakan)
Pasien dalam keadaan tidak sadar karena sesuatu
Pasien tidak dapat berkomunikasi
Pasien dalam keadaan gangguan jiwa
2.6.3. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi
Rujukan pemeriksaan radiologi dilakukan

bila dokter gigi ingin melihat

gambaran radiologis suatu penyakit atau kelainan dengan bantuan foto rontgen.
Beberapa tipe foto rontgen yang umum digunakan dokter gigi: 4,6
Cephalometric
Panoramic
Lateral
Periapical

Occlusal

Gambar 14 Radiologi Impaksi

c. Laboratorium
Periksa darah memang diwajibkan untuk pasien operasi. Dengan mengetahui kondisi
darah

dari

pasien,

dokter

otomatis

akan

mempelajari

riwayat

penyakit

pasien

tersebut. Termasuk juga untuk menyiapkan antisipasi jika ternyata dalam pemeriksaan
darah itu ditemukan sesuatu yang tidak normal sehingga mempengaruhi keadaan pasien
saat dan setelah

dilakukan

operasi.

Pemeriksaan

hematologi

lengkap

meliputi

pemeriksaan hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan sel darah putih atau leukosit, pemeriksaan
trombosit atau faktor pembeku darah, pemeriksaan cloying time (CT) bleeding
time (BT), pemeriksaan fungsi ginjal, pemeriksaan kadar gula darah. 4,6
2.6.4 Pembuatan Flap
Flap merupakan suatu bagian mukosa yang secara bedah dipisahkan dari jaringan di
bawahnya. Tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur di bawahnya
(biasanya pada tulang atau gigi) atau untuk prosedur koreksi, untuk mencapai
daerah patologis, merawat luka, atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan. Klasifikasi flap
ada tiga parameter penting untuk mempermudah aplikasi klinisnya yaitu lokasinya,
komposisi jaringannya, dan desain/bentuknya.1,3
Berdasarkan komponen jaringan yang membentuknya atau ketebalannya, flap dibagi
menjadi 2 (dua) yaitu full thickness flap (berketebalan penuh) atau flap mukoperiosteal yang
mengikut sertakan mukosa dan periosteum dan partial thickness flap (berketebalan sebagian)

atau flap mukosa yang

hanya menyertakan mukosa saja sedangkan periosteum

tetap ditempatnya. Ada beberapa prinsip yang mendasari desain flap mukoperiostal, yaitu: 7
a. Menyediakan ruang yang cukup bagi daerah yang akan di operasi
b. Dasar flap harus lebar sehingga jaringan lunak mendapatkan suplai darah yang cukup
setelah penutupan luka
c. Untuk menghindari pendarahan, full

thickness mukoperiosteal

flap

harus

ditinggikan
d. Insisi harus didesain sedemikian rupa sehingga flap dapat menutupi tulang padat
e. Dapat memperbaiki margin pada tulang yang sehat.
f. Insisi seharusnya tidak merusak struktur anatomi yang penting

Pada dasarnya desain flap untuk operasi gigi molar tiga dibagi menjadi dua kategori :
a. Flap envelope
Insisi yang bisa diandalkan untuk pembedahan impaksi molar tiga bawah adalah flap
envelope. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi horizontal pada tepi gingiva.
Flap dibuat memanjang dari papilla mesial molar pertama rahang bawah dan mengelilingi
sekitar leher gigi ke sudut garis distobukal dari molar kedua. Kemudian garis
insisi memanjang ke posterior dan lateral sampai ke perbatasan anterior ramus mandibular.
Flap envelope seringkali digunakan untuk membuka jaringan lunak mandibular dalam
pencabutan gigi

impaksi

molar

tiga,

perluasan

insisi

posterior harus

divergen

kearah lateral untuk menghindari cedera pada saraf lingual. Insisi envelope dibuka kearah
lateral sehingga tulang yg menutupi gigi impaksi terbuka. Keuntungan flap ini adalah
kerusakan minimal dari suplai vaskular pada jaringan flap, penutupan dan proses
penyembuhan luka lebih cepat dan baik. Akses bedah yang terbatas merupakan kelemahan
utama desain flap ini. 8,9

Gambar 15 : Desain flap envelop

b.

Flap Triangular
Flap triangular merupakan bagian dari desain envelope dengan membebaskan insisi

vertikal. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi horizontal pada tepi gingiva,
kemudian dimodifikasi seperlunya dengan melakukan insisi serong kearah anterior. Saat flap
jaringan dibuka pada insisi pembebas, akan diperoleh lapang pandang yang lebih luas,
terutama pada aspek apikal daerah pembedahan. 10
Flap triangular modern terdiri dari satu insisi intra sulkular horizontal dan satu insisi
bebas (vertical releasing incision). Flap triangular menunjukkan kasus di mana gigi yang
terkena dampak tertanam dalam tulang dan membutuhkan pengangkatan tulang yang luas.
Flap ini memiliki dua keuntungan utama. Membuat insisi yang longgar yaitu berupa suatu
insisi pendek pada gingiva cekat dan margin yang akan mempermudah operator untuk
melebarkan flap dan untuk mendapatkan akses yang diperlukan. Flap triangular juga memacu
penyembuhan luka yang sangat cepat. Flap ini terutama diindikasikan untuk gigigigi posterior mandibular dan anterior maksila.10,11

Gambar 16. Desain flap triangular

2.6.5. Penjahitan 14,15


a. Simple interrupted suture

Gambar 17 : teknik penjahitan interupted

Simple interrupted suture merupakan teknik penjahitan yang paling sering dipakai.
Jahitan dilakukan satu persatu. Jarak dari setiap jahitan dengan garis insisi dapat bervariasi
berdasarkan kebutuhan. Jahitan ini memiliki kekuatan yang baik. 11
a. Keuntungan:
Pemilihan ujung penjahitan dapat dilakukan.
Kegagalan satu jahitan tidak mempengaruhi jahitan lainnya.
b. Kerugian:
Dapat menghasilkan bekas jahitan setelah edema pasca pembedahan.
Karena jumlah simpul bertambah, kekuatan benang jahit dapat berkurang
sebanyak 50%

2.7 Teknik Pembedahan Odontektomi 13,14

Prinsip dan langkah-langkah untuk menghilangkan gigi impaksi sama dengan surgical
extraction lain. Ada lima teknik pembedahan odontektomi yaitu:
1. Asepsis : Mensterilkan daerah kerja menggunakan betadine
2. Umumnya operasi molar tiga mandibular dilakukan dengan anestesi lokal dengan
bahan anestesi yang bersifat vasokonstriktor untuk mendapatkan efek anestesi yang
cukup lama dan memberikan daerah operasi yang relatif bebas darah, sehingga tidak
menghalangi pandangan saat pembedahan dilakukan. Untuk molar tiga madibula
dilakukan injeksi blok pada nevus alveolaris inferior dan nevus bukalis atau anestesi
umum jika jumlah gigi impaksi yang dilakukan odontektomi lebih dari satu gigi.
3. Pembuatan flap yang biasa di lakukan dalam odontektomi adalah flap triangular yaitu
dengan melakukan insisi. Tujuannya agar mendapatkan lapang pandang yang baik,
jalan masuk alat yang cukup, dan trauma secukup mungkin.
4. Mendapatkan akses yang diperlukan untuk pembuangan tulang mandibula dengan alat
bur dan dibantu dengan irigasi larutan saline agar gigi terlihat untuk dilakukan
pemotongan atau pengangkatan.
5. Melakukan tehnik odontektomi yaitu membelah / membagi gigi dengan bur agar
ekstraksi gigi dapat dilakukan tanpa pembuangan tulang yang berlebihan.
6. Penjahitan pada daerah yang telah dilakukan odontektomi
7. Pembersihan daerah operasi dengan menggunakan larutan NaCl dan betadine, socket
di spooling dengan penggunaan dua macam campuran ini, kemudian lakukan
penghalusan tulang dengan bone file supaya tidak ada tulang yang tajam, sesudah itu
lakukan spooling kembali untuk memastikan socket telah bersih secara sempurna,
berikan medikasi berupa spongostan pada lubang socketnya dengan tujuan
8.

menghentikan perdarahan.
Kemudian evaluasi minggu depannya. Pasien diberi obat secara injeksi pada saat
rawat inap: ceftriaxone, ketorolac, dexamethasone, ranitidine dan pada saat pulang
diberikan obat secara oral yaitu: clindamycin, asam mefenamat, dexamethasone.

2.8 Komplikasi Bedah Gigi Impaksi serta Penanganannya11,12


a. Komplikasi intra operatif
1. Perdarahan : Perdarahan merupakan komplikasi selama pembedahan yang
umumnya terjadi hal ini di karenakan pemutusan jaringan yang di ikuti oleh putusnya
pembuluh darah.
2. Fraktur : Fraktur bisa mengenai akar gigi, gigi tetangga atau gigi antagonis,
restorasi, prosesus

alveolaris dan kadang-kadang mandibula.

Etiologi fraktur

adalah adanya tekanan yang berlebih atau tidak terkontrol atau keduanya. Fraktur
pada gigi antagonis dapat disebabkan karena pada waktu mencabut gigi tang
berkontak gigi antagonis atau tetangganya.
3. Menelan atau aspirasi gigi, fragmen gigi, restorasi, dan mahkota disebabkan karena
kecerobohan operator dalam memegang instrument dan aplikasi teknik yang kurang
tepat.
4. Dislokasi kondilus : Penyebab terjadinya dislokasi kondilus adalah tekanan
kebawah yang berlebih dan kurangnya fiksasi rahang.
5. Cedera saraf : Saraf

yang

memungkinkan

terjadinya

cedera

selama

pencabutan dan pembedahan gigi molar ketiga rahang bawah adalah divisi
ketiga

nervus trigeminus yaitu, alveolaris inferior, nervus lingualis, nervus bukalis.

Cedera saraf akan menyebabkan beberapa risiko antara lain:

Anestesi atau hipestesi: sensasi yang menurun atau hilang secara perlahan
Distesi: sensasi abnormal yang tidak nyaman terhadap stimulus normal.

Misalnya sensasi terbakar pada rangsangan sederhana


Parastesi: sensasi subjektif seperti kebakar, kesemutan, tertusuk, mati
rasa parsial dan lain-lain.

b. Komplikasi pasca operatif


1. Oeteitis alveolar (dry socket) : Oeteitis alveolar atau dry socket adalah salah satu
komplikasi bedah yang sering terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak terbentuknya
bekuan darah atau terlepasnya

bekuan

darah

pada

soket

sehingga

terjadi

infeksi. Aplikasi chlorexidine gel setelah dilakukannya pencabutan atau pembedahan


gigi molar ketiga mengurangi terjadinya dry socket.

Penanganannya : buat perdarahan baru, lakukan kuretase, spooling, lalu beri


alvogy

2. Infeksi : Infeksi setelah pencabutan gigi biasanya disebabkan karena jarum dan
larutan anestesi yang terkontaminasi, dan asespsis yang tidak memadai.

Penanganan : pemeberian antibiotik dan NSID. Jika ada abses maka lakukan
insisi dan drainase.

BAB III
KESIMPULAN

Gigi impaksi adalah gigi yang tidak erupsi atau erupsi hanya sebagian oleh karena
proses erupsi normalnya terhalang, biasanya oleh gigi di dekatnya, tulang atau jaringan
sekitar yang patologis. Etiologi Gigi Impaksi disebabkan oleh karena faktor lokal
dan sistemik. Molar tiga rahang bawah yang impaksi di klasifikasikan berdasarkan: panjang
lengkung/atau kedekatannya dengan ramus mandibula, kedalamannya dalam rahang dan
hubungan radiografis terhadap molar kedua. Klasifikasi Impaksi molar tiga rahang atas,
dikelompokkan berdasarkan: Kedalaman relatif M3 atas impaksi di dalam tulang. Klasifikasi
yang didasarkan pada perbandingan sumbu aksis M3 atas dengan sumbu aksis M2 atas yang
mengalami impaksi, dan klasifikasi didasarkan pada rongten gigi yang dilakukan dengan
melihat hubungan impaksi M3 atas dengan sinus maksilaris.
Odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan pengangkatan
mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang disekitar akar
bukal dengan bur, atau rongeurs. Tindakan odontektomi ini dapat menimbulkan komplikasi
baik pra bedah dan pasca bedah. Maka perlu dilakukan tindakan odontektomi sebaiknya
dengan spesialis bedah mulut

DAFTAR PUSTAKA

1.

Alamsyah RM, Situmarong N. Dampak gigi molar tiga mandibula impaksi terhadap
kualitas hidup mahasiswa universitas sumatera barat. Dentika Dental Journal
2005;10(2):73-4

2.

Tridjaja AN. Pengamatan klinik gigi molar tiga bawah impaksi dan variasi komplikasi
yang diakibatkannya di RS Cipto Mangunkusumo bulan Juli 1993 s/d Desember
1993. 2011. Available from : URL: http://eprints.lib.ui.ac.id/12366/ Accessed Juni 6,
2011 nd

3.

Pederson GW. Buku ajar praktis bedah mulut 2 ed. Alih Bahasa: Purwanto,
Basoeseno. Jakarta: EGC; 1996,hal.61-3

4.

Chanda MH, Zahbia ZN. Pengaruh bentuk gigi geligi terhadap terjadinya impaksi gigi
molar ketiga rahang bawah. Dentofasial Jurnal Kedokteran Gigi 2007; 6(2):65-6

5.

Astuti ERT. Prevalensi karies pada permukaan distal gigi geraham dua rahang bawah
yang diakibatkan oleh impaksi gigi geraham tiga rahang bawah.Jurnal MIKGI
2002;IV(7):154-6

6.

Dwipayanti A, Adriatmoko W, Rochim A. Komplikasi post odontektomi gigi molar


ketiga rahang bawah impaksi. Journal of the Indonesian Dental Assocation
2009;58(2):20

7.

Nasir M, Mawardi. Perawatan impaksi impaksi gigi insisivus sentralis maksila dengan
kombinasi teknik flep tertutup dan tarikan ortodontik (laporan kasus). Dentika Dental
Jurnal 2003;8(2):95

8.

Pertiwi ASP, Sasmita IS. Penatalaksanaan kekurangan ruangan pada gigi impaksi 1.1
secara pembedahan dan ortodontik. Indonesian Jurnal of Oral and Maxillofacial

Surgeon 2004:229-30
9.

Tjiptono KN, Harahap S, Arnus S, Osmani S. Ilmu bedah mulut 2 ed. Jakarta:Cahaya
Sukma;1989,p.145-148

10.

Balaji SM. Oral and maxillofacial surgery. Delhi: Elsevier; 2009,p.233-5

11.

Sinan A, Agar U, Bicakci AA, Kosger H. Changes in mandibular third molar angle
and position after unilateral mandibular first molar extraction. American Journal of
Orthodontics and Dentofacial Orthopedics 2006;129(1):37 nd

12.

Beek GCV. Morfologi gigi 2 Jakarta:EGC;1996,p.101 ed. Editor: Andrianto P. Alih


Bahasa: Yuwono L.

13.

Harshanur IW. Anatomi gigi. Jakarta : EGC;1991,p.221,239

14.

Metalita M. Pencabutan gigi molar ketiga untuk mencegah terjadinya gigi berdesakan
anterior rahang bawah. Available from :URL: http://www.pdgionline.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=582&Itemid=1
Accessed Juni 19, 2011

15.

Obimakinde OS. Impacted mandibular third molar surgery; an overview. Dentiscope


2009;16:2-3