Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah,
apendiks itu bisa pecah. Apendiks merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan
menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum).
Apendiks besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah.
Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar
yang senantiasa mengeluarkan lendir.Apendisitis merupakan peradangan pada usus
buntu/apendiks (Defa Arisandi, 2008).
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan
dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi,
dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.

B. KLASIFIKASI
Secara onset penyakit, apendisitis diklasifikasi menjadi dua, yaitu :

Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah
sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk
nanah.

Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh
akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya
ditemukan pada usia tua(Defa Arisandi, 2008).

C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai factor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai factor
pencetus disamping hyperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris
dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab yang lain yang diduga dapat menyebabkan
apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.histolytica. Namun menurut
E. Oswari, kuman yang sering ditemukan dalam apendiks yang meradang adalah
Escherichia coli dan Streptococcus.
Apendisitis

akut

pada

dasarnya

adalah

suatu

proses

obstuksi

(hyperplasia

Lnn.submucosa, fecolith, benda asing, strieture, tumor). Kemudian disusul dengan proses
infeksi sehingga gejalanya adalah mula-mula suatu obstruksi ileus ringan yakni : Kolik, mual,
muntah, anoreksia dan sebagainya yang kemudian mereda karena sudah jadi paralitik ileus.
Kemudian disusul oleh gejala keradangan yakni : nyeri tekan, defans muscular, subfebril dan
sebagainya.
Faktor

obstruksi

pada

anak-anak

terutama

hyperplasia

dari

kelenjar

lymphe

submucosal. Pada orang tua adalah fecolith, dan sedikit corpus alineum, strictura dan tumor.
Tumor pada orang muda adalah cacinoid dan pada orang tua adalah Ca caecum. Fecolith
diduga terbentuk bila ada serabut sayuran terperangkap masuk ke dalam apendiks, sehingga
keluar mucous berlebihan.
Cairan mucous ini mengandung banyak calcium sehingga bahan tersebut mengeras dan
dapat menimbulkan obstruksi,dan peregangan lumen apendiks, hambatan venous return
dana aliran lymphe yang berakibat oedema apendiks dimulai dengan diapedesis dan
gambaran ulcus mukosa. Hal ini merupakan tahap dari akut fokal apendisitis. karena
apendiks dan usus halus mempunyai tekanan intra luminal dengan akibat obstruksi vena dan
thrombosis sehingga terjadi oedema dan ischemi apendiks. Invasi bakteri malalui dinding
apendiks. Phase ini disebut akut supurative apendisitis. lapisan serosa apendiks
berhubungan dengan peritoneum parictalis.
Nyeri somatis timbul dari peritoneum karena terjadi kontak dengan apendiks yang
meradang, dan ini tampak sebagai perubahan yang klasik dalam Bentuk nyeri yang
terlokalisir di kwadrant kanan bawah perut. Seterusnya proses patologis mungkin mengenal

sistim arterial apendiks. Apendiks dengan vaskularisasi yang sangat kurang akan mengalami
gangrene dan terlihat. Sekresi yang terus menerus dari mukosa apendiks yang masih baik
serta peningkatan intra luminal berakibat perforasi melalui gangrenous infark. Timbul
apendisitis perforasi.
Jika apendisitis tidak terjadi secara progesif, terbentuk perlekatan pada lubang usus,
peritoneum dan omentum yang mengelilingi apendiks. Kecepatan rentetan peristiwa tersebut
tentunya tergantung pada : virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding
apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum parietale bahkan organ lain seperti buli-buli,
uterus, tuba, mencoba membatasi dan melokalisir proses keradangan ini. Bila proses
melokalisir ini belum dan sudah terjadi perforasi maka timbul peritonitis. Walaupun proses
melokalisir sudah selesai tetapi belum cukup kuat menahan tarikan/tegangan dalam cavum
abdominalis, karena itu pasien harus benar-benar tirah baring.
Kadang-kadang apendisitis akut terjadi tanpa adanya obstruksi, ia terjadi karena adanya
penyebaran infeksi dari organ lain secara hematogen ke apendiks. Terjadi abses multipel
kecil pada apendiks dan pembesaran lnn.mesentrica regional. Karena terjadi tanpa obstruksi
maka gambaran klinis tentunya berbeda dengan gejala obstruksi tersebut diatas.

D. GEJALA KLINIS
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan
nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai diperut
sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa
mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah
ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa
bertambah tajam.
Demam bisa mencapai 37,8-38,8 Celsius. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat
menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu
berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan
demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok.

E. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik sertsa pemeriksaan
penunjang.
1) Anamnesis
Rasa sakit di daerah epigastrium, daerah periumbilikus, di seluruh abdomen atau
di kuadran kanan bawah. Ini merupakan gejala-gejala pertama. Rasa sakit ini samarsamar, ringan samapai moderat, dan kadang-kadang berupa kejang. Sesudah 4 jam
biasaya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian beralih ke kuadran
bawah kanan dan disini rasa nyeri itu menetap dan secara progresif bertambah
hebat, dan semakin hebat apabila pasien bergerak.
Anoreksia, mual dan muntah yang timbul selang beberapa jam sesudahnya
merupakan kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.

Gejala-gejala lain

adalah demam tidak tinggi dan konstipasi.


Pada bayi yang mengalami apendisitis gelisah, mengantuk dan anoreksia.
Sedangkan pada pasien yang sudah lanjut usia gejala-gejalanya tidak senyata
mereka yang lebih muda.

2) Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda yang paling penting adalah nyeri tekan di daerah kuadran kanan
bawah. Titik maksimal nyeri adalah pada sepertiga dari umblikus ke fossa ilaka
kanan, itu disebut titik Mc Burney. Nyeri biasanya tajam dan diperburuk dengan
gerakan (seperti batuk dan berjalan). Nyeri pada titik Mc Burney juga dirasakan pada
penekanan iliaka kiri, yang biasa disebut tanda Rovsing. Posisi pasien dipengaruhi
oleh posisi dari apendiks. Jika apendiks ditemukan di posisi retrosekal (terpapar
antara sekum dan otot psoas) nyeri tidak terasa di titik Mc Burney, namun ditemukan
lebih ke lateral pinggang. Jika apendiks terletak retrosekal nyeri jika ilaka kiri ditekan
tidak terasa.

Ketika apendiks dekat dengan otot psoas, pasien datang dengan pinggul
tertekuk dan jika kita coba meluruskan maka akan terjadi nyeri pada lokasi apendiks
(tanda psoas). Ketika apendiks terletak retrosekal maka bisa menyebabkan iritasi
pada ureter sehingga darah dan protein dapat ditemukan dalam urinalisis. Jika
apendiks terletak di pelvis, maka tanda klinik sangat sedikit, sehingga harus
dilakukan pemeriksaan rektal, menemukan nyeri dan bengkak pada kanan
pemeriksaan. Jika apendiks terletak di dekat otot obturator internus, rotasi dari
pinggang meningkatkan nyeri pada pasien (tanda obturator)
Tanda-tanda lain adalah demam(kurang dari 38C), kekuan otot, nyeri tekan dan
nyeri lepas, nyeri alih, dan tanda-tanda psoas serta obturator positip.
Bayi mungkin membutuhkan sedasi. Terdapat nyeri lokal. Pada mereka
yangsudah lanjut usia rasa nyeri mungkin tidak nyata, dan lebih dapat menimbulkan
salah duga yang menyesatkan. Pada wanita hamil rasa nyeri terasa lebih tinggi di
daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya.
Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skor Alvarado.
Sistem skor dibuat untuk meningkatkan cara mendiagnosis apendisitis.

Gejala
3)
Tanda

Pemeriksaan
Lab

The Modified Alvarado Score


Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut
kanan bawah
Mual-Muntah
Anoreksia
Nyeri di perut kanan bawah
Nyeri lepas
Demam diatas 37,5 C
Leukositosis

Hitung jenis leukosit shift to the left


Total
Interpretasi dari Modified Alvarado Score:
1-4 : sangat mungkin bukan apendisitis akut
5-7 : sangat mungkin apendisitis akut
8-10 : pasti apendisitis akut
penunjang

Pemeriksaan laboratorium

Skor
1
1
1
2
1
1
2
1
10

Pe
me
rik
sa
an

Jumlah leukosit berkisar antara 10.000 dan 16.000/mm dengan pergeseran ke


kiri (lebih dari 75 persen neutrofil) pada 75 persen kasus yang ada. 96 persen
diantaranya leukositosis atau hitung jenis sel darah putih yang abnormal. Tetapi
beberapa pasien dengan apendisitis memiliki jumlah leukosit yang normal. Pada
urinalisis tampak sejumlah kecil eritrosit atau leukosit.

Tes kehamilan.
Petugas kesehatan biasanya juga melakukan tes kehamilan pada wanita, yang
bias dilakukan melalui specimen darah maupun urine.

USG Abdomen
USG menggunakan alat tranducer yang memantulkan gelombang suara yang
aman dan tidak sakit pada organ dan membuat gambaran dari strukturnya. USG
abdomen memperlihatkan gambaran apendiks dan menunjukkan tanda-tanda
inflamasi, appendiks yang pecah, penyumbatan pada lumen apendiks, dan
sumber nyeri abdomen lainnya. USG adalah tes imaging lini pertama untuk bayi,
anak-anak, dewasa muda dan wanita hamil.

Appendikogram
Apendikogram dilakukan dengan cara pemberian kontras BaSO4 serbuk halus
yang diencerkan dengan perbandingan 1:3 secara peroral dan diminum sebelum
pemeriksaan kurang lebih 8-10 jam untuk anak-anak atau 10-12 jam untuk
dewasa, hasil apendikogram diexpertise oleh dokter spesialis radiologi.

F. TATALAKSANA

Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satusatunya pilihan yang baik adalah apendektomi. Pada apendisitis tanpa komplikasi
biasanya tidak diperlukan pemberian antibiotik, kecuali pada apendisitis gangrenosa

atau apendisitis perforate. Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotik dapat
mengakibatkan abses atau perforasi. Dokter bedah akan melakkukan operasi
menggunakan metode berikut:
Laparotomi. Laparotomy membuang apendiks melalui satu insisi di area kanan bawah
dari abdomen.
Operasi laparoskopik. Operasi laparoskopik menggunakan beberapa insisi kecil dan
alat pembedahan khusus untuk masuk melalui insisi tersebut untuk mengeluarkan
apendiks. Operasi ini mempunyai komplikasi yang lebih kecil, seperti infeksi terkait
dengan rumah sakit, dan memberi waktu penyembuhan yang lebih pendek.
Dengan penanganan yang baik dan adekuat, banyak orang yang sembuh dari
apendisitis dan tidak perlu melakukan perubahan pada diet, latihan, atau pola hidup.
Dokter bedah membatasi aktivitas fisik pada 10-14 hati pertama setelah laparotomy,
dan 3-5 hari pertama setelah operasi laparoskopi.

G. KOMPLIKASI

Komplikasi yang paling sering adalah perforasi apendisitis. Perforasi usus buntu
dapat mengakibatkan periappendiceal abses (pengumpulan nanah yang terinfeksi) atau
peritonitis difus (infeksi selaput perut dan panggul). Alasan utama untuk perforasi
appendiceal adalah keterlambatan dalam diagnosis dan perawatan. Secara umum,
semakin lama waktu tunda antara diagnosis dan operasi, semakin besar kemungkinan
perforasi. Risiko perforasi 36 jam setelah onset gejala setidaknya 15%. Oleh karena itu,
setelah didiagnosa radang usus buntu, operasi harus dilakukan tanpa menunda-nunda.
Komplikasi

jarang

terjadi

pada

apendisitis

adalah

penyumbatan

usus.

Penyumbatan terjadi ketika peradangan usus buntu sekitarnya menyebabkan otot usus
untuk berhenti bekerja, dan ini mencegah isi usus yang lewat. Jika penyumbatan usus di
atas mulai mengisi dengan cairan dan gas, distensi perut, mual dan muntah dapat

terjadi. Kemudian mungkin perlu untuk mengeluarkan isi usus melalui pipa melewati
hidung dan kerongkongan dan ke dalam perut dan usus.
Sebuah komplikasi apendisitis ditakuti adalah sepsis, suatu kondisi dimana
bakteri menginfeksi masuk ke darah dan perjalanan ke bagian tubuh lainnya.
Kebanyakan komplikasi setelah apendektomi adalah

1. Infeksi luka
2. Abses residual
3. Sumbatan usus akut,
4. Ileus paralitik, dan
5. Fistula tinja eksternal,

H. PROGNOSIS
I.

EDUKASI