Anda di halaman 1dari 18

PERCOBAAN 10

HASIL KALI KELARUTAN (Ksp)


A. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan diharapkan mahasiswa dapat menghitung kelarutan
elektrolit yang bersifat sedikit larut, dan menghitung panas pelarutan PbCl2 dengan
menggunakan sifat kebergantungan Ksp pada suhu.
B. Dasar Teori
Kelarutan adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Secara umum,
pengertian kelarutan adalah batas maksimum dari sejumlah zat terlarut dalam pelarut tertentu.
Ksp adalah hasil kali konsentrasi ion-ion terlarut dipangkatkan koefisiennya. Kelarutan
dipengaruhi oleh zat terlarut, zat pelarut dan suhu.
Sedangkan untuk PbCl2 yang sedikit larut terjadi kesetimbangan sebagai berikut,

Dengan persamaan tetapan kesetimbangan,

Karena aktivitas zat murni = 1, dan aktivitas dalam larutan dapat dianggap konsentrasi, maka
tetapan kesetimbangan menjadi,

Maka, hasil kali kelarutan dapat dikatakan sebagai hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut
dalam larutan dimana sebelumnya dipangkatkan masing-masing koefisien.
Dengan menghubungkan nilai Ksp sebagai ordinat dan 1/T sebagai absis, maka akan
didapatkan Ksp pada 250C. Sedangkan nilai panas pelarutan dihitung dengan persamaan,

C. Alat dan Bahan


Alat :
- Rak tabung reaksi
- Sepuluh tabung reaksi
- Labu erlenmeyar 250 mL untuk digunakan sebaga penangas
- Dua buah buret 50 mL
- Pembakar Gas (Bunsen)
- Kaki Tiga
- Kasa
- Termometer
Bahan :

0,075 M Pb(NO3)2
- 1,0 M KCl
D. Langkah Kerja
-

No

Langkah Kerja

Larutan Pb(NO3)2 dan KCl


- Ditempatkan larutan Pb(NO3)2 dan KCl pada dua buret yang berbeda
- Disiapkan larutan seperti tabel
- Ditambahkan 10 ml 0,075 M Pb(NO3)2 kedalam tiap tabung reaksi
- Ditambahkan KCl sebanyak yang dcantumkan pada tabel
- Dikocok tabung reaksi pada saat pencampuran dan setelah
pencampuran
- Dibiarkan 5 menit dan diamati apakah terbentuk endapan atau belum
- Diisi hasil pengamatan pada tabel
- Diulangi langkah tersebut untuk menentukan banyaknya volume KCl
1,0 M yang dapat menyebabkan terbentuknya endapan sampai ketelitian
0,1 mL
- Dicatat hasil pengamatan pada tabel dan dicatat pula volume KCl 0,1 M
yang dapat menyebabkan terjadinya pengendapan dan suhu larutan
- Diletakkan campuran 1 pada penangas labu Erlenmeyer
- Dipanaskan sambil di aduk secara perlahan dengan menggunakan
thermometer
- Di catat suhu ketika endapan tepat larut
- Di ulangi hal yang sama untuk campuran 2,3,4 dan 5
- Dicatat hasil yang diperoleh
Hasil
E. Hasil Pengamatan
Tabung
Volume

0,075

M Volume 1,0 M Pembentukan

Suhu

Pb(NO3)2

KCl

Endapan

(mL)

(mL)

(Sudah/Belum)

1.

10

0,5 mL

Sudah ada endapan

39,5

2.

10

0,6 mL

Sudah ada endapan

42

3.

10

0,7 mL

Sudah ada endapan

49

(oC)

4.

10

0,8 mL

Sudah ada endapan

53

5.

10

0,9 mL

Sudah ada endapan

90

F. Analisa data dan Pembahasan


Pada percobaan kali ini, dilakukan perhitungan hasil kali kelarutam dari Pb(Cl 2).
Dimana dilakukan dengan cara mencampurkan larutan Pb(NO 3)2 pada volume tetap dengan
larutan KCl dengan berbagai variasi volume yang berbeda, tetapi konsentrasinya sama, untuk
menentukan kelarutan dari Pb(Cl2) yang sukar larut. Dari percobaan yang telah dilakukan
diperoleh data sebagai berikut
Tabung
Volume

0,075

M Volume 1,0 M Pembentukan

Pb(NO3)2

KCl

Endapan

(mL)

(mL)

(Sudah/Belum)

1.

10

0,5 mL

Sudah ada endapan

2.

10

0,6 mL

Sudah ada endapan

3.

10

0,7 mL

Sudah ada endapan

4.

10

0,8 mL

Sudah ada endapan

5.

10

0,9 mL

Sudah ada endapan

Dari data diatas dapat ditentukan hasil kali kelarutan masing masing campuran yaitu
sebagai berikut
Tabung 1
Volume 0,075 M Pb(NO3)2= 10 mL
Volume 1,0 KCl = 0,5 mL
mmol Pb(NO3)2

= V Pb(NO3)2 x M Pb(NO3)2

= 10 mL x

= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl

= 0,50 mL x

= 0,50 mmol
V total

= V Pb(NO3)2 + V KCl
= 10 mL + 0,50 mL
= 10,50 mL

Pb(NO3)2 (aq) + 2KCl (aq)


m

0,75 mmol

0,50 mmol

0,25 mmol

0,50 mmol

0,50 mmol

M [PbCl2]

PbCl2 (s) + 2KNO3 (aq)

= 0,0238 M
PbCl2 (s)
s

Pb2+ (aq) + 2Cl- (aq)


s

2s

0,25 mmol

0,50 mmol

0,25 mmol

0,50 mmol

[PbCl2]= s
Ksp

= [Pb2+] [2Cl-]2
= s x (2s)2
= 4s3
= 4(0,0238)3
= 5,39 .

Tabung 2
Volume 0,075 M Pb(NO3)2= 10 mL
Volume 1,0 KCl = 0,60 mL
mmol Pb(NO3)2

= V Pb(NO3)2 x M Pb(NO3)2

= 10 mL x

= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl

= 0,60 mL x

= 0,60 mmol
V total

= V Pb(NO3)2 + V KCl
= 10 mL + 0,60 mL
= 10,60 mL

Pb(NO3)2 (aq) + 2KCl (aq)


m

0,75 mmol

0,60 mmol

0,30 mmol

0,60 mmol

0,45 mmol

M [PbCl2]

PbCl2 (s) + 2KNO3 (aq)

0,30 mmol

0,60 mmol

0,30 mmol

0,60 mmol

= 0,0283 M
Pb2+ (aq) + 2Cl- (aq)

PbCl2 (s)
s

2s

[PbCl2]= s
Ksp

= [Pb2+] [2Cl-]2
= s x (2s)2
= 4s3
= 4(0,0283)3
= 9,07 .

Tabung 3
Volume 0,075 M Pb(NO3)2= 10 mL
Volume 1,0 KCl = 0,70 mL
mmol Pb(NO3)2

= V Pb(NO3)2 x M Pb(NO3)2

= 10 mL x

= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl

= 0,70 mL x

= 0,70 mmol
V total

= V Pb(NO3)2 + V KCl
= 10 mL + 0,70 mL
= 10,70 mL

Pb(NO3)2 (aq) + 2KCl (aq)


m

0,75 mmol

0,70 mmol

0,35 mmol

0,70 mmol

0,40 mmol

M [PbCl2]

PbCl2 (s) + 2KNO3 (aq)

= 0,0327 M
PbCl2 (s)
s

Pb2+ (aq) + 2Cl- (aq)


s

2s

0,35 mmol

0,70 mmol

0,35 mmol

0,70 mmol

[PbCl2]= s
= [Pb2+] [2Cl-]2

Ksp

= s x (2s)2
= 4s3
= 4(0,0327)3
= 13,99 .
Tabung 4
Volume 0,075 M Pb(NO3)2= 10 mL
Volume 1,0 KCl = 0,80 mL
mmol Pb(NO3)2

= V Pb(NO3)2 x M Pb(NO3)2

= 10 mL x

= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl

= 0,80 mL x

= 0,80 mmol
V total

= V Pb(NO3)2 + V KCl
= 10 mL + 0,80 mL
= 10,80 mL

Pb(NO3)2 (aq) + 2KCl (aq)


m

0,75 mmol

0,80 mmol

PbCl2 (s) + 2KNO3 (aq)

0,40 mmol

0,35 mmol

M [PbCl2]

0,80 mmol
0

0,40 mmol

0,80 mmol

0,40 mmol

0,80 mmol

= 0,0370 M
Pb2+ (aq) + 2Cl- (aq)

PbCl2 (s)
s

2s

[PbCl2]= s
Ksp

= [Pb2+] [2Cl-]2
= s x (2s)2
= 4s3
= 4(0,0370)3
= 20,26 .

Tabung 5
Volume 0,075 M Pb(NO3)2= 10 mL
Volume 1,0 KCl = 0,80 mL
mmol Pb(NO3)2

= V Pb(NO3)2 x M Pb(NO3)2

= 10 mL x

= 0,75 mmol

mmol KCl

= V KCl x M KCl

= 0,90 mL x

= 0,90 mmol
V total

= V Pb(NO3)2 + V KCl
= 10 mL + 0,90 mL
= 10,90 mL

Pb(NO3)2 (aq) + 2KCl (aq)


m

0,75 mmol

0,90 mmol

0,45 mmol

0,90 mmol

0,30 mmol

M [PbCl2]

PbCl2 (s) + 2KNO3 (aq)

= 0,0413 M
Pb2+ (aq) + 2Cl- (aq)

PbCl2 (s)
s

[PbCl2]= s
Ksp

= [Pb2+] [2Cl-]2
= s x (2s)2
= 4s3

2s

0,45 mmol

0,90 mmol

0,45 mmol

0,90 mmol

= 4(0,0413)3
= 28,18 .
Maka dari perhitungan diatas dapat diperoleh tabel sebagai berikut
Nomor

Volum

Campu e
ran

Volum

Suhu

e 1,0M pelarutan

0,075M KCl

endapan

Pb(NO

(mL)

[Pb2+][Cl-]

Ksp

Log

1/T

Ksp
(K-1)

(oC-1)

3 2

(mL)
1

10

0,5

39,5

312,5

[0,0238][0,0476]

5,39.

-4,27

0,00320

0,0253

10

0,6

42

315

[0,0283][0,0566]

9,07.

-4,04

0,00317

0,0238

10

0,7

49

322

[0,0327][0,0654]

13,99.

-3,85

0,00311

0,0204

10

0,8

53

326

[0,0370][0,0740]

20,26.

-3,69

0,00307

0,0188

10

0,9

90

363

[0,0413][0,0826]

28,18.

-3,55

0,00275

0,011

Dari tabel diatas, dapat digambarkan kurva sebagi berikut


1. Kurva Ksp sebagai fungsi suhu (oC)
a. Grafik T terhadap Ksp

b. Grafik 1/T terhadap log Ksp

Dari grafik yang telah digambarkan maka, dapat ditarik garis menghasilkan suatu persamaan
yaitu
y = -46,876x - 2,949
dapat digunakan untuk menentukan harga Ksp pada suhu 25oC, yaitu sebagai berikut
sumbu y = log Ksp
sumbu x = 1/T

= 1/25
= 0,04
y = -46,876x - 2,949
= -46,876(0,04) - 2,949
= -4,82404
Maka
Log Ksp = -4, 82404
Ksp

= antilog -4, 82404


= 1,5.

= 6,25%
Diperoleh kesalahan dalam percobaan sebesar 6,25 %, hal tersebut disebabkan oleh kesalahan
pratikan dalam membaca termometer, dan kesalahan pratikan dalam menambahkan KCl yang
tidak sesuai jumlah yang ditentukan
c. Dari Grafik 1/T (K) terhadap log Ksp

Dapat ditentukan besaran panas pelarutan (H)


Dari grafik diatas, bila ditarik suatu garis akan menghasilkan suatu persamaan reaksi yaitu
y = -1312,1x + 0,1351

ln Ksp = -

log Ksp = -

dimana
y = log Ksp

x=

maka

. +konstanta

. +konstanta

= - 1312,1
= 1312,1 . 2,303 . 8,314
= 25122,97 J/mol
Dari perhitungan diatas diperoleh

= 25122,97 J/mol, maka reaksi berjalan secara

endotermik, hal tersebut karena untuk melarutkan campuran yang tidak larut (membentuk
endapan) dibutuhkan energi, semakin banyak komposisi campuran, maka campuran akan
semakin tidak melarut, dan dibutuhkan energi yang lebih tinggi, ditunjukkan dengan naiknya
temperature.
Selain menentukan Ksp, dalam percobaan ini juga ditentukan kelarutan PbCl2, yaitu
sebagai berikut
Tabung 1

Diketahui : s

= 0,0238

BM PbCl2 = 278

Jawab :

s=

Tabung 2

Diketahui :

= 0,0283

= 6,6164 pada suhu 39,5C

BM PbCl2 = 278

Jawab :

s=

= 7,8674 pada suhu 42oC

Tabung 3

Diketahui :

= 0,0327

BM PbCl2 = 278 g/mol


Jawab :

s=

= 9,0906 pada suhu 49oC

Tabung 4
Diketahui :

= 0,0370M

BM PbCl2 = 278 g/mol


Jawab :

s=

Tabung 5

Diketahui :

= 0,0413

BM PbCl2 = 278 g/mol

= 10,286 pada suhu 53oC

Jawab :

s=

= 11,4814 pada suhu 90oC

Dari perhitungan diatas dapat dituliskan dalam tabel sebagai berikut


Tabung

Suhu oC

Kelarutan PbCl2 dalam air (gram/L)

1.

39,5

6,6164

2.

42

7,8674

3.

49

9,0906

4.

53

10,286

5.

90

11,4814

Grafik suhu terhadap kelarutan PbCl2 dalam air

Dari perhitungan dan grafik diatas, maka terlihat semakin tinggi suhu yang digunakan untuk
melarutkan campuran, maka kelarutan yang dihasilkan makin tinggi.

G. Kesimpulan
Harga Ksp pada 25oC yang diperoleh dari percobaan ini adalah 1,5 . 10 -5, sehingga

besarnya kesalahan yaitu 6,25%


Pada percobaan ini reaksi berjalan secara endotermik yaitu membutuhkan energi,
besar

= 25122,97 J/mol

Semakin tingginya suhu, maka kelarutan akan semakin naik, karena energinya
meningkat

H. Jawaban Pertanyaan
1. Reaksi PbCl2 (s)
Pb2+ (aq) + 2CI (aq) bersifat endotermik atau eksotermik?
Jawaban:
Reaksi yang terjadi dari percobaan ini berdasarkan perhitungan ialah reaksi endotermik,
karena untuk melarutkan zat yang tidak larut membutuhkan energi
2. Nilai Ksp PbCl2 pada suhu 25C menurut literatur adalah 1,6 x 10-5. Apakah perbedaan
nilai Ksp yang diperoleh pada percobaan ini dengan nilai Ksp literatur disebabkan
kesalahan acak yang terdapat pada percobaan (random error)? Jika tidak mengapa?
Jawaban:
Tidak, karena meskipun random error tidak mempengaruhi kesalahan nilai ksp, bila
diperoleh hasil yang tepat. Kesalahan hasil ksp disebabkan oleh kurang telitinya pratikan
dalam mengambil KCl, kurang telitinya dalam mengamati.
I.

Daftar Pustaka

Sumari, dkk. 2015. Petunjuk Pratikum Kimia Fisika. Malang: FMIPA Universitas Negeri
Malang.
Castellan Gilbert W.1983. Physical Chemistry 3rd ed. London:Addison-Wesley Publishing
Company