Anda di halaman 1dari 56

AKLIMATISASI PADA TANAMAN KULTUR JARINGAN

\
NAMA
NIM
KELAS

: HERNA FEBRIANTY S
: 409220018
: BIOLOGI NON DIK 2009

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIMED
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti
sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian
tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.
Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam pot.
Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan
kelembaban tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof bila
dipindahkan ke tanah atau lapangan. Tanaman hasil kultur jaringan (planlet atau tunas
mikro) perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat hidup di lingkungan baru
hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di lapang. Proses pemindahan merupakan
langkah akhir dari prosedur mikropropagasi dan diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi.
Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis karena kondisi iklim dilapang sangat
berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga diperlukan penyesuaian. Aklimatisasi
merupakan proses yang penting dalam rangkaian aplikasi teknik kultur jaringan untuk
mendukung pengembangan pertanian.
Menurut Tores (1989), masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena
pucuk atau planlet yang diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat
yang kurang menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula) tidak berkembang dengan
baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang
berkembang dan stomata seringkali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan
tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap serangan
cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu,
aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan
modifikasi terhadap kondisi lingkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu,
kelembapan, dan intensitas cahaya. Di samping itu, medium tumbuh pun memiliki
peranan yang cukup penting.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini:
1. Apa yang dimaksud dengan aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan?

2. Apa saja metode yang terdapat dalam aklimatisasi tanaman kultur jaringan?

1.3 Batasan Masalah


Dalam makalah ini, ruang lingkup permasalahan dibatasi pada aklimatisasi pada
tanaman kultur jaringan
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan
2. Mengetahui metode yang terdapat dalam aklimatisasi tanaman kultur jaringan
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi untuk para mahasiswa dan masyarakat
2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian yang relevan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian planlet dari kondisi mikro dalam botol
(heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof). Planlet yang dipelihara dalam keadaan
steril dalam lingkungan (suhu dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap
lingkungan luar (lapang). Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapang,
planlet memerlukan aklimatisasi. Aklimatisasi dapat dilakukan di rumah kaca atau
pesemaian, baik di rumah kaca atau pesemaian. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh
(terutama kelembaban) berangsur-aengsur disesuaikan dengan kondisi lapang (Wetherelll,
1982).
Aklimatisasi merupakan proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol
(aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan
kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika
tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak
akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik
kultur jaringan. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur
jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk
produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh
yang kurang aseptik.
Planlet yang dapat diaklimatisasi adalah planlet yang telah lengkap organ pentingnya
seperti daun akar dan batang (jika ada), sehingga dalam kondisi lingkungan luar planlet
dapat melanjutkan perumbuhannya dengan baik. Selain itu aklimatisasi juga memerlukan
media yang tepat untuk pertumbuhan planlet. Aklimatisasi dilakukan dengan
memindahkan planlet kedalam polybag yang berisi media dan disungkup dengan plastik
bening. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama
penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama
penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya
maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara
yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Tanaman memiliki sifat totipotesi yang merupakan kemampuan setiap sel, dari mana
saja sel tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat
tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Pemindahan eksplan dilakukan secara hati-hati
dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi
bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan
sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu
beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan
pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit
generative (Pierik, 1997).
1.1 Metode aklimatisasi pada tanaman kultur jaringan
Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang
terkendali ke lingkungan yang relatif berubah. Penyesuaian terhadap iklim pada
lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah penting apabila
membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur
jaringan (Khan, 2007). Masalah ini dapat terjadi karena beberapa faktor:
1.

pemindahan tanaman dari botol ke media dalam pot

sebenarnya telah

menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya.


2.

Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki

kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian
besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot,
maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous.

Perbedaan faktor lingkungan antara habitat asli dan habitat pot atau antara habitat
kultur jaringan dengan habitat pot memerlukan penyesuaian agar faktor lingkungan tidak
melewati batas kritis bagi tanaman.
Salah satu metode yang digunakan pada proses aklimatisasi tanaman botol ke tanaman
pot menurut lc nursery adalah sebagai berikut:
-

Bibit yang masih ada didalam botol dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan

kawat atau dengan memecahkan botol setelah dibungkus dengan kertas.

Bibit kemudian dibilas diatas tray plastik berlubang sebelum disemprot dengan

air mengalir untuk membersihkan sisa media agar.


-

Tiriskan bibit yang sudah bersih diatas kertas koran.


Tanam bibit secara berkelompok tanpa media tanam, kemudian tempatkan

ditempat teduh yang memiliki sirkulasi udara yang baik.


-

Tanaman disemprot setiap hari menggunakan hand sprayer.

Setelah kompot berumur 1-1.5 bulan, bibit dapat ditanam dalam individual pot

menggunakan media pakis atau sabut kelapa.


Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang digunakan
untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut dengan metode kering.
Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang digunakan, maka masalah fisiologis yang
dihadapi oleh tanaman mungkin juga perlu diketahui.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi
lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat
secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa
untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous (Santana, 2010).
Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang
diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukan beberapa sifat yang kurang menguntungkan,
seperti lapisan lilin (kutikula tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang,
jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata sering kali tidak
berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in
vitro sangat peka terhadap transpirasi, serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas
tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan
penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi linkungan terutama dalam
kaitannya dengan suhu, kelembaban dan intensiitas cahaya. Disamping itu, medium tumbuh pun
memiliki

peranan

yang

cukup

penting

khususnya

bila

puucuk-pucuk

mikro

yang

diaklimatisasikan belum membentuk sistem perakaran yang baik (Varghese, 2007).


Metode aklimatisasi dibagi menjadi 2, yaitu metode langsung (direct) dan metode tidak
langsung (indirect).

Metode langsung:
1. Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hatihati dari dalam botol.
2. Membersihkan akar tanaman dari agar-agar yang masih melekat dengan air.
3. Merendam akar tanaman dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
4. Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
5. Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
6. Setelah 1 -2 minggu plastik dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam bak
aklimatisasi hingga minggu ketiga sampai keempat.
7. Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polibag-polibag kecil sampai siap untuk di tanam di
lapang.
Metode tidak langsung:
1. Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hatihati dari dalam botol
2.

Memotong tanaman tepat pada bagian bawah nodus ketiga kemudian merendamnya dalam
larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.

3. Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
4. Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
Aklimatisasi Planlet di Rumah Kaca Aklimatisasi merupakan tahap penting dalam
proses kultur jaringan. Tahap ini sering kali menjadi titik kritis dalam aplikasi teknik kultur
jaringan. Aklimatisasi diperlukan karena tanaman hasil kultur jaringan umumnya memiliki
lapisan lilin tipis dan belum berkembang dengan baik, sel-sel dalam palisade belum berkembang
maksimal, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang, dan stomata sering kali
tidak berfungsi, yaitu tidak dapat menutup pada saat penguapan tinggi.
2.3. Contoh aklimatisasi tanaman kultur jaringan
A. Aklimatisasi anggrek terestrial Bletilla striata (Orchidaceae) disebarkan di bawah dalam
kondisi in vitro :
Bletilla striata adalah sympodial terestrial anggrek. Substrat digunakan untuk tumbuh
luar, berbeda dalam campuran ditambahkan

komponen dan nutrisi, yang dipilih untuk

aklimatisasi yang asimbiotik diperbanyak tanaman.

Anggrek diaklimatisasi dalam plastik mini rumah kaca seperti benih nampan, yang
terdiri dari dua bagian. Bagian bawah gelap hijau, terbuat dari plastik yang lebih fleksibel,
sementara bagian atas (penutup) adalah transparan. Ada dua yang terbuka meliputi, yaitu,
ventilasi untuk ventilasi dari daerah berkembang. Ukuran dari bagian bawah adalah 36 22 6
cm dan ukuran penutup 36 22 12 cm. Setelah penanaman, tanaman yang cukup disiram
dengan air suling. Substrat tidak boleh terlalu lembab, karena tanaman memiliki dinding sel
tipis dan lembut dalam bagian hipokotil dan dapat dengan cepat menjadi terinfeksi dan mati.
Kita Oleh karena itu menempatkan dua gelas 50 ml dengan air di setiap rumah kaca kecil untuk
mendirikan sebuah kelembaban relatif yang tinggi. Setelah satu minggu, satu gelas air yang
dibuang. Ventilasi di sampul rumah kaca kecil tinggal ditutup selama dua minggu tetapi daerah
berkembang yang berventilasi dengan mrmbuang air selama beberapa menit setiap hari dan
kemudian kembali ditutup. Ventilasi di sampul itu secara bertahap dibuka pada minggu ketiga.
Pada minggu keempat, mencakup secara bertahap diangkat dan, pada akhir minggu, benar-benar
dibuang. Anggrek dalam membuka rumah kaca kecil disiram setidaknya sekali seminggu atau
sesuai kebutuhan tergantung pada kelembaban substrat.
Hal ini juga penting bagi tanaman untuk terkena cahaya selama aklimatisasi, yang
memungkinkan mereka untuk membangun proses fotosintesis. Penting lainnya kondisi suhu
yang sesuai tanpa utama fluktuasi atau sirkulasi udara. Ketika periode cuaca panas dimulai,
rumah kaca kecil dipindahkan ke tempat gelap bagian dari rumah kaca. Setiap hari selama dua
pertama

minggu, ketika mini rumah kaca benar-benar

ditutup, direkomendasikan cahaya

buatan, dimana lebih mudah untuk mengontrol panjang dan intensitas pencahayaan. Cahaya
buatan menghindari perbedaan musiman atau lebih periode cuaca berawan dan, di samping itu,
sebagian memecahkan masalah pemanasan.
Selain faktor-faktor yang terdaftar dan sesuai
panggung dan vitalitas

substrat, ukuran dan perkembangan

dari pada tanaman budidaya in vitro sangat penting. Itu

anggrek

termasuk dalam percobaan ini adalah ukuran rata-rata dari 2,5 cm, dengan setidaknya 2 daun
dan 2 - 3 cm panjang akar atau akar bahwa ukuran yang sesuai untuk aklimatisasi anggrek
adalah ketika daun mereka setidaknya 5 cm.
Tanaman Bletilla striata lebih kecil dan dengan akar lebih sedikit dari pada menyatakan
dalam literatur tersebut. Tidak ada data yang tersedia diliteratur untuk Bletilla striata anggrek,

jadi kami memutuskan ukuran yang sesuai dan phenophase diri kita sendiri, berdasarkan ketika
tanaman memiliki setidaknya minimal nutrisi disimpan dalam daun dan akar yang diperlukan
untuk aklimatisasi proses. Dengan menggunakan tanaman minimum. Ukuran mungkin untuk
menyesuaikan diri kita memperpendek periode dalam budidaya in vitro, yang sangat penting
untuk massa pasar produksi ( Lesar, 2012)
B. Aklimatisasi Daun Encok ( Plumbago zeynalica )
Untuk aklimatisasi, planlet daun encok asal perlakuan terbaik pada multiplikasi tunas
yang telah sempurna dengan akar lengkap dikeluarkan dari botol kultur, lalu dicuci di bawah air
mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa agar yang masih menempel pada akar tanaman.
Tanaman diaklimatisasi di rumah kaca dengan menggunakan media tanah + sekam (1:1) selama
8 minggu. Setelah vigor tanaman kuat, dilakukan adaptasi tanaman dengan cara
memindahkannya ke dalam polibag berukuran 20 x 30 cm dengan perbandingan media tanah +
pupuk kandang (1:1). Tanaman yang diobservasi berjumlah dua puluh polibag. Parameter yang
diamati adalah jumlah anakan, jumlah daun dan tinggi tanaman pada umur dua dan empat bulan.
Observasi dilakukan secara individual tanpa menggunakan rancangan percobaan ( Kristinia,
2008).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam pot.
Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan kelembaban
tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof bila dipindahkan ke tanah atau
lapangan. Tanaman hasil kultur jaringan (planlet atau tunas mikro) perlu mendapatkan perlakuan
khusus untuk dapat hidup di lingkungan baru hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di
lapang. Proses pemindahan merupakan langkah akhir dari prosedur mikropropagasi dan
diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis karena
kondisi iklim dilapang sangat berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga diperlukan
penyesuaian. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam rangkaian aplikasi teknik
kultur jaringan untuk mendukung pengembangan pertanian.
Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang digunakan
untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut dengan metode kering.
Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang digunakan, maka masalah fisiologis yang
dihadapi oleh tanaman mungkin juga perlu diketahui.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi
lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat
secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa
untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous

DAFTAR PUSTAKA
Khan, S., 2007. Callus induction, plant and regeneration acclimatization of African Violet (Saintpaulia
ionatha) using leaves as explants. Universitas Karachi, Karachi-75270, Pakistan
Kristina, N., 2008. Multiplikasi tunas, aklimatisasi dan analisis mutu simplisia daun encok (plumbago
zeylanica l.) asal kultur in vitro periode panjang. Bul. Littro. Vol. XIX No. 2
Lesar, H., 2012. Acclimatization of terestrial orchid Bletilla striata Rchb.f. (Orchidaceae) propagated under
in vitro conditions. World J Gastroenterol. 9: 2676-2680.
Mantell, S.H., J.A.Matthews, and R.A.McKee. 1985. Principles of Plant Biotechnology An Iintroduction to
Genetic Engineering in Plants. Blackwell scientific Publications. Oxford. 269p
Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers. Netherlandsv
Santana, D., 2010. Micropropagation and acclimatization Bauhinia. African Journal of Biotechnology Vol. 10
Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London.
Wetherelll, D. F. 1982. Introduction To In Vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New
Jersey.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1909, Bernard secara tidak sengaja menemukan adanya fungi yang penting
untuk perkecambahan biji anggrek.Anggrek hidup secara simbiosis dengan fungi sejak
perkecambahan.Simbiosis adalah hubungan antara fungi dan akar disebut dengan mikoriza yang
berarti fungus-akar.Perkecambahan dan pertumbuhan anggrek yang masih muda sangat
tergantung pada hubungan dengan fungi tersebut karena cadangan makanan yang ada pada biji
anggrek sangat sedikit. Hadley (1982) menyimpulkan bahwa apa yang diperoleh anggrek dari
hasil simbiosis dengan fungi tergantung pada jenis anggrek. Kemungkinan besar biji anggrek
memperoleh karbohidrat dan asam amino tertentu dengan simbiosis yang dilakukan dengan fungi
tertentu.Semua jenis anggrek pada awal masa pertumbuhannya dikenal bersifat heterotropik atau
memerlukan pasokan dari luar (Peterson et al., 1998 cit. Musdiawati, 2007).
Akan tetapi perlu tidaknya fungi bagi anggrek sempat menjadi kontroversi ketika
Knudson mengembangkan teknik asimbiotik dengan media steril dengan nutrisi yang diperlukan
oleh bij anggrek.Pada tahun 1920-an, Knudson menunjukkan bahwa perkecambahan biji anggrek
dapat dilakukan dengan menanam biji anggrek pada media yang mengandung mineral dan gula
sebagai sumber energi (Arditti, 2010).
Penelitian yang berhasil dilakukan Knudson menunjukkan bahwa biji anggrek dapat
berkecambah secara in vitro. Beberapa alasan untuk megecambahkan biji anggrek secara in vitro
adalah :
1. Biji anggrek sangat kecil dan mengandung cadangan makanan yang sangat sedikit atau bahkan
tidak ada. Jika dikecambahkan in vivo kemungkinan besar bisa hilang atau cadangan makanan
2.

tidak mencukupi
Perkecambahan dan perkembangan bibit sangat tergantung pada simbiosis dengan fungi. Jika

ditumbuhkan tanpa fungi maka disebut perkecambahan asimbiotik.


3. Jika biji dihasilkan dari persilangan tertentu, maka perkecambahan secara in vitro akan
4.

meningkatkan persentase keberhasilannya.


Perkecambahan secara in vitro dapat membantu perkecambahan embrio anggrek yang belum
berkembang atau belum matang sehingga memperpendek siklus pemuliaannya atau budidayanya

5. Perkecambahan dan perkembangan bibit dapat berlangsung lebih cepat dalam kondisi in vitro
karena lingkungan yang terkendali dan tidak ada kompetisi dengan fungi atau bakteri yang tidak
menguntungkan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Buah dan Biji Anggrek
Banyak peneliti yang melaporkan bahwa buah anggrek yang dipilih untuk
dikecambahkan secara in vitro tidak harus yang sudah masak (berwarna kuning kecoklatan) dan
sudah membuka atau pecah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pemilihan buah anggrek
untuk ditanam secara in vitro adalah :
1. Lebih mudah untuk sterilisasi buah yang belum pecah
2. Dengan memilih buah yang belum terlalu masak, dapat dilakukan penyelamatan embrio dari
hasil persilangan antar spesies atau kultivar yang berkerabat jauh
3. Mengecambahkan biji yang belum terlalu masak dapat memperpendek siklus budidaya
4. Waktu pengambilan buah yang tepat tergantung tiap spesies. Biasanya diambil saat 2/3 masak
seperti diungkapkan oleh Lucke (1971) cit. Pierik (1987) di tabel 1. Akan tetapi lama
perkecambahan tersebut dapat berubah sesuai kultivar maupun lingkungan.

Menurut Damayanti (2011), kematangan buah anggrek sangat tergantung pada jenis
anggrek itu sendiri. Buah anggrek Dendrobium akan matang dalam umur 3-4 bulan, buah
anggrek Vanda setelah 6-7 bulan, sedangkan buah anggrek Cattleya baru matang setelah 9 bulan.
Buah anggrek adalah buah lentera dan akan pecah ketika matang. Bagian yang membuka adalah
bagian tengahnya. Untuk kultur jaringan anggrek, pengambilan buah lebih baik sebelum buah
pecah tetapi sudah mendekati masa matang sehingga biji siap untuk berkecambah.

Tabel 1. Lama waktu masak beberapa jenis buah anggrek (Pierik, 1987).
NO.

Jenis anggrek

Waktu buah masak (setelah pembuahan)

Calanthe

4 bulan

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Cattleya
Coelogyne
Cymbidium
Cypripedium
Dendrobium
Epidendrum
Laelia
Milotonia
Odontoglossium
Paphiopedilum
Phalaenopsis
Stanhopea
Vanda

11 bulan
13 bulan
10 bulan
3.5 bulan
12 bulan
3.5 bulan
9 bulan
9 bulan
7 bulan
10 bulan
6 bulan
7 bulan
20 bulan

Gambar 1. Buah anggrek muda (kiri) dan buah anggrek hampir masak (kanan) (sumber :
wordpress.com dan euisnovitasari.blogspot.com)
Menurut Pierik (1987), biji anggrek sangat kecil, biasanya dengan panjang 1.0-2.0 mm
dan lebar 0.5-1.0mm. Biasanya per polong atau buah terdapat 1,300-4,000,000 biji anggrek.Biji
anggrek terdiri dari testa atau kulit biji yang tebal dan embrio yang terdiri dari sekitar 100 sel
(gambar 1).Sedangkan menurut Mursidawati (2007), biji anggrek dikenal dengan sebutan dust
seed karena ukurannya sangat kecil sehingga menyerupai butiran debu.Struktur biji anggrek
hanya terdiri dari 4-200 sel saja sehingga kapasitasnya untuk membawa cadangan makanan
menjadi sangat terbatas.

Gambar 2. Biji anggrek(sumber : a. www.beyondthehumaneye.blogspot dan b.


sukasuka.blogspot.com)
Kulit biji mempunyai sifat yang spesifik yaitu bentuk seperti jaring dengan bentuk yang
khas untuk tiap spesies anggrek.Testanya adalah jaringan yang sudah mati dan terdiri dari banyak
ruang kosong atau udara sebanyak 96%, sehingga biji anggrek dapat dikatakan seperti suatu
balon udara.Embrio anggrek berbentuk bulat atau lonjong. Biji anggrek biasanya tidak bisa
dibedakan bagian-bagiannya seperti biji tanaman lain, yaitu tanpa kotiledon, tanpa akar dan
tanpa endosperm. Pada ujung distal biasanya terdapat titik tumbuh tetapi sulit untuk diamati.
2.2Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan suatu metode yang sudah dikenal cukup lama. Pelaksanaan
teknik kultur jaringan ini berdasarkan atas teori sel seperti yang dikemukakan oleh Schleiden dan
Scwann, yaitu sel mempunyai kemampuan autonomi, bahkan mempunyai kemampuan
totipotensi. Kemampuan totipotensi adalah kemampuan tiap sel untuk tumbuh menjadi tanaman
yang sempurna bila diletakkan di lingkungan yang sesuai (Suryowinoto, 1991 cit. Hendaryono
dan Wijayanti, 1994).
Metode kultur in vitro, atau kultur jaringan, telah banyak berkembang dari percobaan
yang dilakukan Kotte pada tahun 1923 dengan kacang kapri dan jagung. Berbagai spesies telah
dicoba dan dengan perkembangan pengetahuan mengenai zat pengatur tumbuh yang dapat
membantu menemukan metode kultur yang lebih baik, maka kultur in vitro telah bekembang
pesat menjadi metode alternatif untuk produksi tanaman secara vegetatif maupun metode
penelitian dalam berbagai ilmu yang lain (Mantell et al. 1985). Pemilihan eksplan yang tepat,
merupakan tahap pertama dalam tiga tahap yang dilakukan dalam kultur jaringan. Eksplan
tersebut harus disterilisasi dan kemudian baru dapat ditanam pada media. Tahap kedua adalah
perbanyakan tunas pada media dan tahap ketiga adalah pemindahan ke media pengakaran yang
kemudian dilanjutkan dengan aklimatisasi atau penyesuaian tanaman ke lingkungan alami.
2.3Media Perkecambahan Anggrek
Perkecambahan anggrek membutuhkan kondisi lingkungan dan nutrisi tertentu terutama
jika biji anggrek masih muda.Lingkungan yang mendukung seperti suhu dan cahaya tertentu
untuk mematahkan dormansi dan memicu perkecambahan.Nutrisi yang dibutuhkan perlu
didukung dengan pemberian nutrisi secara lengkap karena biji anggrek tidak mengandung
endosperm atau cadangan makanan untuk membantu pertumbuhan dalam tahap awal sebelum

mencapai tahap autotrof.Nutrisi yang harus dipenuhi mencakup senyawa anorganik, sumber
energy (sucrose atau gula pasir), vitamin (misalnya asam nikotinat), pH yang tepat dan agar
sebagai bahan pemadat. Variasi lain adalah penambahan zat pengatur tumbuh yang dapat
digunakan setelah bij berkecambah. Senyawa anorganik juga dapat diganti dengan bahan-bahan
lain seperti buah pisang, air kelapa, buah tomat atau air rebusan taoge. Jenis media yang
digunakan akan tergantung pada jenis anggrek, umur biji, dan tujuan kultur. Contoh pembuatan
media untuk perkecambahan biji anggrek dengan kultur jaringan adalah dengan menggunakan
bahan alami seperti pisang dan air kelapa. Bahan dan metode yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Bahan dan alat (untuk 1 liter media)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Satu buah pisang ambon (diambil 150g)


Air kelapa (150 ml)
Gula pasir (20g)
Agar (8g)
pH meter / pH stick
Aquadest
Hotplate + magnetic stirrer / kompor + panci kecil + pengaduk
Botol-botol steril
Autoclave
Cara Kerja

1. Pisang sebanyak 150g dihaluskan


2. Disiapkan aquadest sebanyak 500ml, dimasukkan ke dalam beaker ukuran 1 liter atau panci kecil
jika menggunakan kompor.
3. Ditambahkan pisang yang sudah dihaluskan, air kelapa sebanyak 150ml, dan gula pasir sebanyak
20g
4. Pemanas dan magnet dinyalakan (jika menggunakan magnetic stirrer) atau kompor dan diaduk
5.

perlahan sampai gula larut


Pemanas atau kompor dimatikan dan diukur pH media. pH seharusnya sekitar 5.8.Jika terlalu

basa atau asam maka ditambah HCl atau NaOH untuk mendapatkan pH 5.8
6. Larutan media ditambah aquadest hingga mencapai volume 1 liter
7. Larutan media dipanaskan sampai mendidih kemudian dituangkan ke dalam botol-botol yang
sudah steril.
8. Botol-botol yang sudah diisi media ditutup dan disterilisasi di dalam autoclave selama 15 menit
pada suhu 121 C.
2.4 Tahap Sterilisasi Buah Anggrek

Sterilisasi dilakukan untuk membersihkan buah anggrek dari mikroorganisme yang dapat
mengganggu pertumbuhan biji anggrek saat di kondisi in vitro. Sterilisasi buah anggrek biasanya
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan buah yang masih tertutup atau buah yang sudah
pecah. Jika buah masih tertutup maka sterilisasi lebih mudah dengan menggunakan alkohol dan
buah dibakar di atas api Bunsen. Jika buah sudah pecah maka sterilisasi juga harus dilakukan
terhadap biji yang sudah keluar. Metode yang kedua akan lebih rumit karena harus dilakukan
sterilisasi basah menggunakan larutan bleach (bayclin) yang dicampur dengan tween untuk
membersihkan buah dan biji anggrek. Salah satu metode sterilisasi buah anggrek adalah sebagai
berikut :Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Buah anggrek yang sudah masak (tapi belum pecah)


Bunsen
Alkohol 70%
Pinset
Kapas
Petridish steril
Kertas saring steril
Cara kerja

1. Buah anggrek dibersihkan / dilap dengan kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol 70%. Cara
lain adalah dengan mencuci dengan detergen atau sunlight kemudian dibilas dengan air mengalir.
2. Buah anggrek dibawa masuk ke laminair airflow cabinet (LAF) dengan petridish steril, pinset
steril, alkohol 70% dalam botol, dan bunsen
3. Bunsen dinyalakan di dalam LAF
4. Buah anggrek dicelupkan di dalam alkohol, diangkat sampai sisa alkohol tidak menetes,
kemudian dibakar diatas api Bunsen. Dilakukan 3 kali.
5. Buah anggrek siap untuk dibelah dan ditanam bijinya
2.5 Penanaman atau Penaburan Biji Anggrek
Penanaman biji anggrek dilakukan dengan membuka buah anggrek di dalam kondisi
steril.Media yang digunakan biasanya berada dalam posisi miring di dalam botol untuk
memudahkan penanaman dan penyebaran biji dalam tiap botol.Metode penanaman dapat
beragam sesuai dengan kondisi buah dan jenis anggrek yang digunakan.Arditti (1982) cit Pierik
(1987) mengemukakan metode penyebaran dengan biji yang disuspensi dalam air steril
kemudian disebarkan di media.Akan tetapi terdapat metode yang lebi mudah dan dapat
mengurangi kontaminasi yaitu penanaman langsung dengan pinset, atau spatula yang dirancang
khusus untuk penanaman biji anggrek.Biji anggrek disebar di atas media agar dan tidak di

dalamnya atau di dalam media cair supaya dapat memperolehoksigen yang cukup. Jumlah biji
yang ditanam dalam tiap botol akan bervariasi tergantung pada spesies yang ditanam. Sebagai
contoh, jika Phalaenopsis ditanam dalam jumlah yang terlalu banyak dalam satu botol akan
mengakibatkan akarnya saling menumpuk dan sulit untuk melakukan subkultur atau aklimatisasi.
Gambar 3. Media anggrek dalam botol (Sumber : ugm.ac.id dan atjenese.blogspot.com)
2.6 Pemeliharaan Anggrek Secara In Vitro
Pertumbuhan anggrek dalam media kultur akan tergantung pada spesies yang ditanam.
Lama pertumbuhan dan kondisi yang diperlukan akan bervariasi. Suhu sekitar 20 0C dan
pencahayaan selama 12-16 jam dengan lampu neon diperlukan meskipun terdapat beberapa
spesies yang lebih menyukai kondisi gelap untuk perkecambahan seperti Paphiopedilum dan
Cyrpipedium. Selain kondisi lingkungan untuk mendukung perkecambahan dan pertumbuhan
anggrek, penjarangan atau sub kultur perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi untuk nutrisi
di dalan botol kultur. Sub kultur dilakukan saat media sudah terlihat habis atau setiap 2 bulan
sekali. Jumlah sub kultur juga sekitar 2-3 kali sebelum aklimatisasi. Jika terlalu sering
melakukan sub kultur dapat mengakibatkan perubahan pada tanaman anggrek yang disebut
dengan keragaman somaklonal. Pertumbuhan anggrek di dalam botol kultur biasanya selama 6
bulan sampai 2 tahun tergantung varietas.
2.7 Aklimatisasi
Proses aklimatisasi dilakukan dengan cara bertahap supaya tanaman hasil kultur jaringan
dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Baik suhu, kelembaban, cahaya maupun faktor
lainnya akan berbeda dan tanaman hasil kultur jaringan juga memiliki kekurangan dibanding
tanaman yang ditanam di lingkungan alami. Menurut Pierik (1987), tanaman hasil kultur jaringan
memiliki lapisan lilin (kutikula) yang tidak berkembang sempurna dan akar yang belum bisa
berfungsi dengan baik. Saat pemindahan tanaman ke kondisi normal atau dalam media pakis,
tanah, atau compost, harus dilakukan secara bertahap dan menghindari infeksi dari fungi serta
bakteri karena tanaman hasil kultur jaringan belum mampu beradaptasi dengan pathogen-patogen
yang biasa ditemukan di lingkungan luar. Pemberian fungisida diperlukan untuk mencegah
serangan jamur, pembersihan media secara benar juga mengurangi resiko serangan.Pemindahan
pertama dilakukan ke dalam community pot yang bisa menampung jumlah bibit yang cukup
banyak.Pada tahap awal kelembaban sangat perlu dijaga dan pemberian nutria tambahan bisa

dilakukan dengan penyemprotan pupuk daun.Selanjutnya bibit bisa dipindah ke pot-pot individu
saat daun dan akar siap untuk mendukung pertumbuhannya.
Gambar 4. Tahap aklimatisasi anggrek, dari atas kiri, menurut arah jarum jam : pembersihan
media agar, perendaman dalam larutan fungisida, bibit dalam community pot, dan bibit dalam
pot individu. (Sumber gambar : kasopondok.blogspot.com, anggrekayah.wordpress.com,
bioscugm.blogspot.com)

DAFTAR PUSTAKA
Arditti, J. 2010. Plenary Presentation : History of Orchid Propagation. AsPac J.Mol.Biol.Biotecnol. Vol
18 (1) Supplement : 171-174.
Damayanti, E. 2011.Budidaya Tanaman Anggrek. Penerbit Araska. Yogyakarta.Hal 24.
Hendaryono, D.P.S., dan A.Wijayani. 1994.

Teknik Kultur Jaringan. Penerbit Kanisius.

Yogyakarta.139p. Henuhili, V. 2012.Kultur Jaringan Tumbuhan. Petunjuk Praktikum FMIPA


UNY. Yogyakarta.Mantell, S.H., J.A.Matthews, and R.A.McKee. 1985. Principles of Plant
Biotechnology An Iintroduction to Genetic Engineering in Plants. Blackwell scientific
Publications. Oxford. 269p.
http.www.anggrekayah.wordpress.com.

Diakses

tanggal

21

Januari

2013http.www.atjenese.blogspot.com. Diakses tanggal 21 Januari 2013


http.

www.beyondthehumaneye.blogspot.com.
http.www.bioscugm.blogspot.com.

Diakses

Diakses

tanggal

tanggal

21

Juli

2012.

Januari

2013

Januari

2013

http.www.euisnovitasari.blogspot.com. Diakses tanggal 2 Juli 2012.


http.www.kasopondok.blogspot.com.

Diakses

tanggal

21

http.www.sukasuka.blogspot.com. Diakses tanggal 2 Juli 2012.


http.www.ugm.ac.id. Diakses tanggal 21 Januari 2013 http.www.wordpress.com Diakses tanggal 2 Juli
2012.

Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil kultur jaringan yang semula kondisinya
terkendali menjadi lingkungan yang tidak terkendali (mengubah pola hidupnya dari tanaman
heterotrof ke tanaman

ototrof ). Tujuan dari aklimatisasi adalah untuk mengkondisikan

tanaman agar tidak terjadi stress pada waktu ditanam di lapangan.


Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis bagi planlet, karena planlet menunjukkan
beberapa sifat, yaitu :
1.

Lapisan lilin tidak berkembang dengan baik

2.

Sel-sel palisade daun hanya terbentuk dalam jumlah sedikit

3.

Jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang

4.

Stomata seringkali tidak berfungsi, yaitu tidak mau menutup pada penguapan tinggi.

Kriteria planlet siap aklimatisasi


Adapun criteria planlet yang siap Untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut :
1.

2.

Organ planlet lengkap ( akar, batang, daun )

Warna pucuk batang hijau mantap artinya tidak tembus pandang


3.

Pertumbuhannya kekar

4.

Akar memenuhi media

5.

Ukuran tinggi tanaman 3 - 4 cm ( tergantung jenis tanaman )

6.

Umur tanaman ( anggrek 4 bulan)

Prosedur aklimatisasi aklimatisasi


1.

Menyiapkan wadah

Wadah merupakan tempat yang brisi media tumbuh tanaman hasil kultur. Jenis wadah yang
dapat digunakan meliputi ; Pot terbuat dari tanah liat atau plastik, sabut kelapa tua, tempurung
kelapa tua dan batang pakis. Wadah yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a.

Harus memiliki lubang pembuangan air (draenase)

b.

Harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelembaban media tanam

c.

Tidak mudah lapuk

d.

Harus bersih dan bebas dari berbagai penyakit

e.

Mudah diperoleh dan harganya murah


2.

Menyiapkan media

Media merupakan tempat tumbuh dan berdiri tegaknya tanaman.


Persyaratan Media tanam Untuk aklimatisasi adalah :
a.

Mampu mengikat air dan unsur hara secara baik

b.

Harus memiliki kemampuan untuk menjaga kelembaban

c.

Mempunyai aerasi yang baik

d.

Tahan lama /Tidak mudah lapuk

e.

Tidak menjadi sumber penyakit

f.

Derajat keasaman (pH) 5 6

g.

Mudah didapat dan harganya murah


Media yang biasa digunakan Untuk tanaman hasil kultur meliputi ; Pakis ( anggrek ), Moss,
Potongan kayu pinus, Arang sekam (pisang), Pasir steril ( Jati) dan Sabut Kelapa. Sebelum
digunakan media tersebut harus diseterilkan selama 4 jam agar serangga, mikroba, serta bijibijian gulma mati.
3.

Menyiapkan tempat

Tempat yang digunakan Untuk memelihara tanaman hasil kultur harus mempunyai Intensitas
cahaya matahari : 35 45%, Suhu : malam 18-240 C, siang 21-320 C, Ketinggian tempat : 0
700 meter DPL, Kelembaban : 60 85% dan mempunyai Aerasi / sirkulasi udara. Dalam
memilih tempat harus memperhatikan hal-hal berikut :
a.

Lingkungan harus bersih dan bebas dari segala hama dan penyakit

b.

Kondisi lingkungan disesuaikan dengan kondisi tanaman: suhu, kelembaban dan cahaya

Teknik aklimatisasi
Adapun teknik yang digunakan dalam aklimatisasi adalah sebagai berikut :

a.

Mengeluarkan bibit dari botol

Mengisi air ke dalam bibit botolan, kocok-kocok dan membuang air serta media agar
Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset / kawat pengait satu persatu
Mencuci bibit hingga bersih dari media agar

Akar-akar

yang

terlalu

panjang

dipotong

dengan

gunting
b.

Merendam bibit dalam larutan fungisida

Bibit direndam selama 5 menit


Meniriskan bibit di hamparan kertas koran
Bibit dikelompokkan berdasarkan ukurannya
c.

Mengisi media dalam wadah

Media sebelum digunakan direndam dalam larutan fungisida


Pot diisi dengan media tinggi pot
d.

Menanam bibit dalam pot

Bibit ditanam dengan bantuan pinset, letakkan sacara tegak


Bibit ditanam 20 - 25 tanaman per pot
e.

Meletakkan pot bibit dalam green house

AKLIMATISASI PLANLET HASIL PERBANYAKAN SECARA KULTUR


JARINGAN
PENDAHULUAN
Pucuk-pucuk dan planlet dari in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan
kelembaban yang tinggi dan bersifat heterotroph, harus berubah menjadi autotroph bila
dipindahkan ke tanah atau lapangan. Proses pemindakan merupakan langkah akhir dari prosedur
mikropropagasi dan diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Menurut Yusnita (2003), aklimatisasi
yaitu suatu upaya mengkondisikan planlet atau tunas mikro hasil perbanyakan melalui kultur
invitro ke lingkungan in vivo yang aseptik. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam
rangkaian aplikasi kultur jaringan untuk mendukung pengenmbangan pertanian.

(Sumber : http://atsiri.ub.ac.id/page/3/)
Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang diregenerasikan
dari kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat yang kurang menguntungkan seperti lapisan lilin
(kutikula) tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari
akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata sering sekali tidak berfungsi (tidak menutup
ketika penguapan tinggi). keadaan ini menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap
transpirasi, serangan candawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas yang tinggi dan suhu yang
tinggi. oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan yang khusus,
bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi kondisi lingkungan terutama dalam kaitannya
dengan suhu, kelembaban dan intensitas cahaya. Di samping itu, medium tumbuh pun memiliki
peranan yang cukup penting, khususnya bila pucuk-pucuk mikro yang diaklimatisasikan belum
membentuk
sistem
perakaran
yang
baik
(Zulkarnain,
2009).
Penyesuaian bibit kultur terhadap lingkungan luar merupakan salah satu tahapan yang harus
dilalui dalam kegiatan yang melibatkan kultur in vitro. Menurut Ziv, 1986 dalam Pierik, 1987,
aklimatisasi adalah masa adaptasi planlet dari kultur heterotrofik menjadi autotrofik, yang
merupakan tahap akhir dari kegiatan kultur in vitro. Aklimatisasi merupakan adaptasi planlet dari
lingkungan yang terkendali (in vitro) ke lingkungan in vivo sebelum ditanam di lapangan (Husni
et al. 2004).
Karakteristik planlet kultur In vitro
Tanaman yang berasal dari kultur in vitro sangat berbeda bila dibandingkan dengan tanaman
yang hidup pada kondisi in vivo. Beberapa karakteristik khas tanaman hasil perbanyakan in vitro
diuraikan
sebagai
berikut
(Zulkarnain,
2009):
Daun
Tanaman yang berasal dari kultur in vitro sering memperlihatkan lapisan lilin (kutikula) yang
kurang berkembang sebagai akibat tingginya kelembapan di dalam wadah kultur (90-100%). Hal

ini menyebabkan tanaman kehilangan air dalam jumlah yang cukup besar melalui evaporasi
kutikula pada saat tanaman dipindahkan ke tanah karena kelembapan udara pada kondisi in vivo
jauh lebih rendah dibandingkian dengan kondisi in vitro. Planlet kadang-kadang memiliki daun
yang tipis, lunak, tidak aktif berfotosintesis, dan tidak adaptif terhadap kondisi in vivo. Sel- sel
palisade lebih kecil dan lebih sedikit jumlahnya sehingga tidak dapat menerima cahaya secara
efisien dengan rongga udara mesofil yang lebih besar dibandingkan tanaman normal. Stomata
tidak berfungsi dengan sempurna dan tidak menutup sehingga menyebabkan terjadinya cekaman
air
pada
beberapa
jam
pertama
aklimatisasi.
Jaringan
angkut
Pada planlet hasil kultur jaringan, sistem pumbuluh angkut antara pucuk dan akar sering tidak
terhubung dengan sempurna sehingga menyebabkan berkurangnya transport air dan unsur hara.
Harus diingat bahwa dalam keadaan in vitro tanaman bersifat heterotroph sedangkan pada
keadaan in vivo tanaman dituntut untuk menjadi autotroph, kebutuhan karbohidratnya harus
disuplai melalui fotosintesis yang salah satu bahan bakunya adalah air.
Sistem perakaran pada planlet yang berasal dari kultur jaringan cenderung mudah rusak dan
tidak berfungsi dengan sempurna pada keadaan in vivo, misalnya akar yang terbentuk sedikit
atau tidak ada sama sekali. Akar yang tidak berkembang dengan sempurna akan membuat
pertumbuhanm tanaman pada kondisi in vivo sangat tertekan, terutama pada evaporasi tinggi.
Untuk mengatasi masalah perkembangan system perakaran pada tahap aklimatisasi, dapat
diterapkan langkah-langkah sebagai berikut :

Upayakan tanaman yang masih berada pada lingkungan in vitro membentuk primordial
akar yang akan tumbuh mnjadi akar fungsional pada kondisi in vivo,

Ciptakan kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya perkembangan akar in vitro,


misalnya menggunakan medium cair kemudian akar-akar tersebur akan berfungsi secara
normal pada saat planlet dipindahkan ke tanah.

Aklimatisasikan planlet ke tanah setelah tahap perakaran. Pada saat memasuki tahap
perakaran, rendam bagian pangkal planlet dalam larutan auksin untuk merangsang
pembentukan akar.

Kemampuan
bersimbiosis
Planlet dari tanaman yang pada kondisi pertumbuhan normal bersimbiosis dengan bakteri dan
mikoriza akan memiliki kemampuan bersimbiosis yang sangat terbatas pada saat dipindahkan
dari lingkungan in vitro ke lingkungan in vivo.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tahap aklimatisasi
Keberhasilan aklimatisasi kedelai ditentukan oleh berbagai faktor. Secara umum, faktor- faktor
yang berpengaruh terhadap keberhasilan aklimatisasi tanaman kedelai adalah kondisi planlet
(ukuran bibit, perakaran), kondisi lingkungan (ketepatan media tumbuh yang digunakan dan

kelembapan udara), ketepatan perlakuan pra dan pasca transplantasi dari media invitro ke media
tanah, dan sanitasi lingkungan dari infeksi penyakit (Zulkarnain, 2009).
Ukuran
Bibit
Ukuran bibit kultur memengaruhi keberhasilan tahap aklimatisasi tanaman. Penggunaan bibit
kultur yang kurang vigor menyebabkan tanaman banyak yang mati (Pardal et al. 2005). Misalnya
pada tanaman pepaya yang dilaporkan oleh Damayanti et al. (2007) pada aklimatisasi tanaman
pepaya. Bibit yang besar berpeluang tumbuh dengan baik dan sehat. Vigor kuantitatif bibit kultur
kedelai yang berhasil diaklimatisasi adalah tinggi bibit 56 cm, jumlah tunas 23 buah, dan
jumlah akar 24 buah (Slamet et al. 2005). Namun, pada tanaman lain, vigor kuantitatif yang
meliputi tinggi tanaman, jumlah akar, dan jumlah daun dalam kaitannya dengan persentase
tanaman hidup hingga kini masih sulit didapatkan sumber informasinya.
Akar
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan aklimatisasi adalah perakaran. Akar yang
makin banyak dan panjang akan meningkatkan bidang serapan hara (Lestari et al. 1999).
Jangkauan akar yang luas dapat memenuhi kebutuhan air secara cepat yang hilang akibat laju
respirasi yang tinggi. Laju respirasi bibit kultur umumnya sangat tinggi akibat kurang
sempurnanya jaringan dan sistem pembuluh tanaman. Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan
suhu dan kelembapan dari lingkungan in vitro ke lingkungan in vivo yang berbeda.
Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi tahap aklimatisasi yaitu (Zulkarnain, 2009):
Suhu
Udara
Selama dalam lingkungan in vitro, planlet memperoleh suhu yang relative sama, yaitu 25 1C.
saat dipindahkan ke kondisi in vivo maka suhu udara akan mengalami variasi yang terkadang
cukup besar. Suhu lingkungan in vivo dapat mencapai 18C pada malam hari atau 32C pada
siang hari. Kondisi suhu yang ekstrim, terutama suhu tunggi akan mengakibatkan pertumbuhan
planlet tertekan, bahkan dapat berakibat pada kegagalan aklimatisasi. Oleh karena itu, suhu di
areal aklimatisasi harus diatur sedemikian ruipa agar mendekati suhu in vitro, kemudian secara
bertahap dapat dinaikkan seiring dengan semakin kuatnya pertumbuhan tanaman.
Kelembaban
udara
Planlet hasil mikropropagasi terbiasa hidup di lingkungan dengan kelembapan tinggi, berkisar
90-100%. Kondisi tersebut menyebabkan planlet tidak mengembangkan system pertahanan yang
baik dalam menghadapi cekaman kekeringan. Oleh karena itu, aklimatisasi hendaknya dilakukan
dengan menurunkan kelembaban udara secara bertahap. Pada tahap awal, planlet dapat di
tempatkan di bawah sungkup plastik secara individual, kemudian sungkup tersebut dibuka dan
planlet dipelihara di bawah naungan massal sebelum akhirnya dipindahkan ke lapangan.
Intensitas
cahaya
Intensitas cahaya memiliki hubungan yang erat dengan suhu dan kelembapan. Biasanya dengan
intensitas cahaya yang tinggi dapat menginduksi terciptanya suhu lingkungan yang tinggi pula
disertai dengan rendahnya kelembapan udara, dan sebaliknya. Oleh karena itu, intensitas cahaya
di areal aklimatisasi harus diperhatikan agar suhu dan kelembapan dapat dipertahankan pada
tingkat yang tidak membahayakan planlet. Pemberian naungan merupakan cara yang baik untuk
menurunkan intensitas cahaya dan suhu dengan mempertahankan kelembapan agar tetap tinggi.
Infeksi
penyakit

Kematian bibit kultur sering disebabkan oleh serangan hama atau penyakit. Kondisi lingkungan
tumbuh yang kurang steril dapat menyebabkan akar atau batang bibit terserang hama. Luka
akibat serangan hama dapat menjadi tempat infeksi penyakit. Serangan penyakit yang umum
dijumpai adalah karena jamur dan bakteri (Gunawan 1988). Menurut Lestari et al. (2001),
serangan jamur dapat dipicu oleh pencucian bibit kultur yang kurang bersih dari media in vitro
sebelum ditanam pada media berikutnya. Bakteri yang sering merusak tanaman penting adalah
Pseudomonas sp. (Machmud 1986). Patogen layu bakteri ini dikenal memiliki kisaran inang dan
daerah sebaran yang luas (Suryadi dan Machmud 2002).
Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk keberhasilan aklimatisasi
Untuk meningkatkan laju keberhasilan pada tahap aklimatisasi, Pierik (1997) memberikan
anjuran sebagai berikut :

Untuk menghindari infeksi dari cendawan atau bakteri maka sisa-sisa medium (agar-agar)
hendaknya dicuci sampai bersih dan gunakan tanah steril sebagai substrat aklimatisasi.

Musnahkan semua hama atau pathogen, seperti serangga, siput, cendawan, dan bakteri
karena kondisi planlet masih lamah sehingga sangat rentan terhadap serangan hama dan
pathogen. Lakukan pemyemprotan pestisida secara teratur.

Untuk menghindari kerusakan akar, sebaiknya lakukan penanaman planlet pada tanah
yang diayak (strukturnya seragam).

Gunakan medium dengan kadar garam yang rendah pada tahap perakaran. Misalnya
komposisi medium MS

Terkadang diperlukan perlakuan suhu rendah (5C) selama 4-8 minggu pertama untuk
mematahkan dormansi, terutama terhadap umbi-umbi in vitro.

Bagan faktor-faktor yang mempengaruhi tahap aklimatisasi (Slamet et al.,. 2011).


Aktimalisasi Tanaman
Tujuan

Percobaan

Tujuan praktikum Aklimatisasi Planlet ini yaitu mampu melaksanakan teknik aklimatisasi planlet
yang sudah memiliki perakaran dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi
tanaman dari kondisi lingkungan in vitro ke kondisi in vivo dari planlet yang memiliki akar.
METODOLOGI PERCOBAAN
Alat

dan

Bahan

Alat yang digunakan yaitu gelas plastik transparan, sendok plastik dan alat tulis menulis.
Sedangkan, Bahan yang digunakan yaitu bibit kenaf dan krisan yang berumur 8-12 minggu,

arang sekam, bak air steril, bakterisida dan fungisida (Agrpt 2 g/l dan Dithane M-45 4 g/L).
Metode

percobaan

Prosedur kerja yang dilakukan yaitu pastikan planletnya sudah berakar dan planlet dikeluarkan
dari botol dengan hati- hati agar akarnya tidak putus. Planlet kemudian di cuci bersih dengan air
yang sudah disterilkan secara perlahan-lahan dan dipastikan semua agar-agar sudah tidak ada di
akar planlet. Bibit yang sudah bersih kemudian direndam pada larutan Dithane 1 g/L + agrept 1
g/L selama 10 menit. Siapkan media tanam dengan memasukkan arang sekam di gelas plastik
dan diberikan sedikir air steril. Planlet kemudian siap ditanam di gelas plastik transparan. Gelas
plastik yang telah berisi planlet tersebut kemudian disemprot sedikit dengan air steril dan di tutup
dengan menggunakan gelas planstik. Selanjutnya, di simpan di ruang kultur. Langkah
selanjutnya, planlet disiram dengan cara dispray setiap 2-3 hari untuk menjaga kelambapan. Jika
medianya kering tetapi jika media tersebut tampak basah sebaiknya penyiraman tidak dilakukan
karena
dengan
kondisi
demikian
akan
menyebabkan
timbulnya
jamur.
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini adalah jumlah planlet yang hidup selama 3
minggu, jumlah planlet mati dan penyebab kematian planlet. Data dianalisis secara deskriptif.
Gambar Tahapan perbanyakan secara In Vitro

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Tabel 1. Hasil Aklimatisasi pada tanaman krisan
Tanaman
Krisan

Kelompok
(ulangan)

Jumlah
botol

1
3
5
Total
Persentase tanaman hidup

3
3
4
10

Jumlah tanaman
di awal
pengamatan
12
6
4
22

Jumlah tanaman
di akhir pengamatan
12
6
4
22

Tabel 2. Hasil Aklimatisasi Pada Tanaman Kenaf


Tanaman
Kenaf

Kelompok
(ulangan)
2
4
6
7
8

Jumlah botol
3
3
4
4
3

Jumlah tanaman
di awal pengamatan
9
9
8
16
9

Jumlah tanaman
di akhir pengamatan
9
9
4
12
9

Jum

Total
Persentase tanaman hidup

17

51

43

Pembahasan
Dari kedua jenis planlet yang digunakan dalam praktikum ini, planlet krisan merupakan planlet
yang memiliki persentase tanaman hidup terbaik yaitu 100% yang tidak berbeda dengan kondisi
planlet awal. Dengan demikian, perlakuan penyiapan, pemilihan planlet, penanaman, dan
penggunaan plastik gelas dan pemeliharaan planlet yang baik dapat memperbaiki kondisi planlet
saat aklimatisasi.selain itu, penggunaan fungisida dan bakterisida bertujuan untuk mengeliminasi
pertumbuhan serta perkembangan sumber kontaminasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Untari et
al (2007) yang menyatakan bahwa salah satu penentu keberhasilan tahap aklimatisasi adalah
pemilihan planlet yang tidak tercampur jamur atau bakteri. Sehingga diperlukan perendaman
menggunakan dithane dan agrept yang berfungsi membunuh cendawan dan bakteri. Selain itu,
pengaruh lingkungan dapat diatasi dengan penggunaan gelas plastik. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian aklimatisasi pada tanaman anyelir oleh Rohayati dan Marlina (2009) menunjukkan
bahwa penggunaan wadah plastik transparan pada 7 hari pertama berpengaruh terhadap
keberhasilan aklimatisasi. Wadah ini menyebabkan planlet tetap segar dan mampu beradaptasi
dengan
baik.
Berbeda halnya aklimatisasi pada tanaman kenaf yang memiliki persentase hidup rendah yaitu
84,31% jika dibandingkan dengan persentase tanaman krisan. Rendahnya persentase aklimatisasi
tanaman kenaf disebabkan daun tanaman ini lebar, lapisan lilin tidak berkembang baik, dan
perakaran yang pendek. Sesuai dengan pendapat Zurkarnain (2009) bahwa daun dengan
permukaan yang lebar dapat meningkatkan evaporasi sehingga air yang tersedia untuk tanaman
menjadi lebih sedikit, planlet yang memiliki lapisan lilin (kutikula) yang tidak berkembang baik
akibatnya tanah mudah kelebihan air dalam jumlah besar dan sistem perakaran pada planlet
cenderung mudah rusak dan tidak berfungsi dengan sempurna yang menyebabkan tanaman pada
kondisi in vivo menjadi tertekan terutama pada kondisi evaporasi yan tinggi.
Dalam percobaan ini, kedua planlet ini diaklimatisasikan dalam kondisi yang sama dalam ruang
kultur yang memiliki kelambapan yang tinggi dan diberi penyungkupan dengan bahan plastik
transparan. Menurut hasil penelitian Ritchie (1991) menghasilkan eksplan krisan yang
ditumbuhkan pada kelembapan di bawah 100% menyebabkan terjadinya peningkatan lapisan
epikutikula, perbaikan fungsi stomata, dan penurunan dehidrasi daun. Penurunan tingkat
kelembapan juga meningkatkan kerapatan trikoma krisan. Namun, kelembapan terbaik untuk
tanaman krisan untuk aklimatisasi hanya sampai 81% tetapi jika di bawah 81% dapat
menghambat pertumbuhan planlet. Vigor kenaf yang tampak lemah menyebabkan pertumbuhan
planlet ini lambat. Keterlambatan penyiraman menyebabkan planlet kenaf menjadi layu dan
kemudian
mati.
Guna mendukung tingkat keberhasilan aklimatisasi yang tinggi, maka media tanam untuk
aklimatisasi disterilkan terlebih dahulu minimal selama 4 jam sehingga serangga, mikroba serta
biji-bijian gulma akan mati, peranan media tanam yang paling utama adalah sebagai tempat
bertumpunya tanaman, dimana akar akan menyerap air dan unsur hara untuk pertumbuhannya.
Media aklimatisasi terbaik untuk tanaman induk anyelir menurut Rohayati dan Marlina (2009)

adalah campuran kompos dan humus bamboo yang menghasilkan persentase tanaman hidup
70,81%. Sedangkan menurut Susanti (2005), media kompos merupakan media paling sesuai
untuk aklimatisasi tebu.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Planlet krisan memiliki persentase hidup yang tinggi yaitu 100% sedangkan untuk planlet
kenaf memiliki persentase yg rendah yaitu 84,31%.
2. Keberhasilan tahap aklimatisasi ini dipengaruhi oleh faktor morfologi dari tanaman itu
sendiri seperti daun, jaringan angkut dan sistem perakaran. Selain itu tahap aklimatisasi
juga di pengaruhi oleh adanya faktor lingkungan yang menjadi faktor utama. Adapun
faktor lingkungannya meliputi suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas cahaya.
DAFTAR PUSTAKA
Husni, A., S. Hutami, M. Kosmiatin, dan I. Mariska. 2004. Seleksi in vitro tanaman kedelai untuk
meningkatkan sifat ketahanan terhadap cekaman kekeringan. Laporan Tahunan Penelitian TA
2003. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Pertanian, Bogor. 16 hlm.
Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus N.J. Hoff Publ., London. 344 pp.
Ritchie GA, KC Short, MR Davey. 1991. In Vitro Acclimatization of Crisanthemum and sugar beat
plantlets by treatment with paclobutrazol and exposure to reduced humidity. J of Exp Bot. 42
(12) : 1557-1563.
Rohayati E, Marlina N. 2009. Teknik aklimatisasi planlet anyelir (Dianthus caryophyllus L.) untuk
tanaman induk. Bull Teknik Pert. 14(2 : 72-75).
Slamet et al. 2011. Perkembangan Teknik Aklimatisasi Tanaman Kedelai Hasil Regenerasi Kultur In
Vitro. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Pertanian. Jurnal Litbang Pertanian, 30(2), 2011.
Susanti D. 2005. Pengujian berbagai media aklimatisasi untuk planlet tebu kultivar PA 117 dan PA 198.
Skripsi. Departemen Tanah Fakultas Pertanian IPB.
Untari R, Sandra, DM Puspitaningtyas. 2007. Aklimatisasi bibit anggrek hitam (Coelogyne pandurata
Lindl.). Bul Kebun Raya Indo. 10 (1) : 13-19.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan. Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efesien. Agro Media Pustaka.
Jakarta.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan. Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya. Bumi Aksara. Jakarta. 250
halaman.

Monday, 28 December 2015


makalah aklimatisasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman (sel, kelompok sel, jaringan, organ, protoplasma) dan menumbuhkannya
dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut berkembang menjadi
tanaman lengkap. Pada umumnya teknik kultur jaringan dapat dibagi menjadi
empat

tahapan,

yaitu

: tahap

pertama

induksi

(penanaman

awal),

untuk

menumbuhkan jaringan tanaman baik berupa tunas maupun kultur kalus dengan
tujuan untuk membentuk kultur masal sel/tunas yang belum/tidak terdiferensi.
Tahap kedua multiplikasi (perbanyakan), untuk memperbanyak tunas/kalus dari
hasil tahap pertama dimana tunas yang sudah terbentuk dipotong-potong dengan
tujuan untuk memproduksi tunas majemuk. Tahap ketiga rooting (pembentukan
akar), yaitu pemindahan tunas-tunas terbaik hasil multiplikasi ke media perakaran
dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan dan pembentukan akar sehingga
menjadi planlet yang sempurna. Tahap keempat adalah aklimatisasi, yaitu
penyesuaian kondisi tempat tumbuh dari lingkungan in vitro ke tempat tumbuh di
rumah kaca dan atau lapangan agar tanaman mampu beradaptasi terhadap iklim
dan lingkungan yang baru (Herawan, 2000).

Tahapan aklimatisasi ini diperlukan oleh planlet karena terdapat perbedaan


kritis antara kedua tempat tumbuh tersebut. Tanpa proses aklimatisasi planlet tidak
akan mampu tumbuh dan beradaptasi dengan kondisi luar, meliputi kelembaban
udara, intensitas cahaya, suhu dan media tumbuh (Nugroho dan Sugito, 1996).
Pada umumnya tanaman yang tumbuh secara in vitro membutuhkan proses
aklimatisasi untuk meningkatkan ketahanannya ketika dipindahkan ke lapangan.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
2.
3.
4.

Apa yang di maksud dengan aklimatisasi ?


Apa tujuan aklimatisasi ?
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tahap aklimatisasi ?
Apa saja faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk keberhasilan aklimatisasi ?
Bagaimana metode dan tahapan aklimatisasi ?
Bagaimana prosedur aklimatisasi
Bagaimana teknik penyungkupan tanaman ?
Bagaimana aplikasi dari aklimatisasi ?
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pentingnya aklimatisasi dalam kultur jaringan
Untuk mengetahui teknik-teknik yang digunakan dalam proses aklimatisasi.
Untuk mengetahui tujuan dilakukanya aklimatisasi.
Untuk mengetahui aplikasi penerapan metode aplikasi dari jenis-jenis tanaman
yang berbeda.

BAB II
PEMBAHASAN
A. AKLIMATISASI
Pucuk-pucuk dan planlet dari in vitro yang diregenerasikan di dalam
lingkungan dengan kelembaban yang tinggi dan bersifat heterotroph, harus
berubah menjadi autotroph bila dipindahkan ke tanah atau lapangan. Proses
pemindakan

merupakan

langkah

akhir

dari

prosedur

mikropropagasi

dan

diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Menurut Yusnita (2003), aklimatisasi yaitu


suatu upaya mengkondisikan planlet atau tunas mikro hasil perbanyakan melalui
kultur invitro ke lingkungan in vivo yang aseptik. Aklimatisasi merupakan proses
yang

penting

dalam

rangkaian

aplikasi

kultur

jaringan

untuk

mendukung

pengenmbangan pertanian.
Menurut Basri (2004), aklimatisasi merupakan proses pengadaptasian hasil
kultur jaringan terhadap lingkungan luar yang lebih ekstrim. Perbedaan faktor-faktor
lingkungan yang utama dari kondisi kultur jaringan dan greenhouse antara lain
cahaya, suhu, kelembaban relatif, di samping hara dan media tanam (Seelye et al.,
2003). Komponen cahaya dan suhu dapat disesuaikan dengan pemberian naungan.
Aklimatisasi tanaman hasil kultur jaringan bertujuan untuk menyesuaikan
(prakondisi) dari lingkungan in vitro ke lingkungan in vivo di rumah kaca dan
persemaian, dari kegiatan tersebut diharapkan diperoleh tanaman yang memiliki
formasi perakaran dan tinggi yang lebih baik dan kokoh.
Planlet yang dapat diaklimatisasi adalah planlet yang telah lengkap organ
pentingnya seperti daun akar dan batang (jika ada), sehingga dalam kondisi
lingkungan luar planlet dapat melanjutkan perumbuhannya dengan baik. Selain itu
aklimatisasi juga memerlukan media yang tepat untuk pertumbuhan planlet.
Aklimatisasi dilakukan dengan memindahkan planlet kedalam polybag yang berisi
media dan disungkup dengan plastik bening. Sungkup digunakan untuk melindungi
bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan
sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit
mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup

dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan
pemeliharaan bibit generatif.
Pemindahan eksplan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan
memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar
dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan
terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi
dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan
pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit
generative (Pierik, 1997).

(Sumber : http://atsiri.ub.ac.id/page/3/)
Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet
yang diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat yang kurang
menguntungkan seperti lapisan lilin (kutikula) tidak berkembang dengan baik,
kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang
berkembang dan stomata sering sekali tidak berfungsi (tidak menutup ketika
penguapan tinggi). keadaan ini menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka
terhadap transpirasi, serangan candawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas
yang tinggi dan suhu yang tinggi. oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro
memerlukan penanganan yang khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap
kondisi kondisi lingkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembaban
dan intensitas cahaya. Di samping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang
cukup penting, khususnya bila pucuk-pucuk mikro yang diaklimatisasikan belum
membentuk sistem perakaran yang baik (Zulkarnain, 2009).
Penyesuaian bibit kultur terhadap lingkungan luar merupakan salah satu
tahapan yang harus dilalui dalam kegiatan yang melibatkan kultur in vitro. Menurut
Ziv, 1986 dalam Pierik, 1987, aklimatisasi adalah masa adaptasi planlet dari kultur
heterotrofik menjadi autotrofik, yang merupakan tahap akhir dari kegiatan kultur in
vitro. Aklimatisasi merupakan adaptasi planlet dari lingkungan yang terkendali (in
vitro) ke lingkungan in vivo sebelum ditanam di lapangan (Husni et al. 2004).

B. Karakteristik Planlet Kultur In Vitro


Tanaman yang berasal dari kultur in vitro sangat berbeda bila dibandingkan
dengan tanaman yang hidup pada kondisi in vivo. Beberapa karakteristik khas
tanaman hasil perbanyakan in vitro diuraikan sebagai berikut (Zulkarnain, 2009):
1.

Daun
Tanaman yang berasal dari kultur in vitro sering memperlihatkan lapisan lilin
(kutikula) yang kurang berkembang sebagai akibat tingginya kelembapan di dalam
wadah kultur (90-100%). Hal ini menyebabkan tanaman kehilangan air dalam
jumlah

yang

cukup

besar

melalui

evaporasi

kutikula

pada

saat

tanaman

dipindahkan ke tanah karena kelembapan udara pada kondisi in vivo jauh lebih
rendah dibandingkian dengan kondisi in vitro. Planlet kadang-kadang memiliki daun
yang tipis, lunak, tidak aktif berfotosintesis, dan tidak adaptif terhadap kondisi in
vivo. Sel- sel palisade lebih kecil dan lebih sedikit jumlahnya sehingga tidak dapat
menerima cahaya secara efisien dengan rongga udara mesofil yang lebih besar
dibandingkan tanaman normal. Stomata tidak berfungsi dengan sempurna dan
tidak menutup sehingga menyebabkan terjadinya cekaman air pada beberapa jam
2.

pertama aklimatisasi.
Jaringan angkut
Pada planlet hasil kultur jaringan, sistem pumbuluh angkut antara pucuk dan
akar

sering

tidak

terhubung

dengan

sempurna

sehingga

menyebabkan

berkurangnya transport air dan unsur hara. Harus diingat bahwa dalam keadaan in
vitro tanaman bersifat heterotroph sedangkan pada keadaan in vivo tanaman
dituntut untuk menjadi autotroph, kebutuhan karbohidratnya harus disuplai melalui
fotosintesis yang salah satu bahan bakunya adalah air.
Sistem perakaran pada planlet yang berasal dari kultur jaringan cenderung
mudah rusak dan tidak berfungsi dengan sempurna pada keadaan in vivo, misalnya
akar yang terbentuk sedikit atau tidak ada sama sekali. Akar yang tidak
berkembang dengan sempurna akan membuat pertumbuhanm tanaman pada
kondisi in vivo sangat tertekan, terutama pada evaporasi tinggi.
Untuk mengatasi masalah perkembangan system perakaran pada tahap
aklimatisasi, dapat diterapkan langkah-langkah sebagai berikut :

Upayakan tanaman yang masih berada pada lingkungan in vitro membentuk


primordial akar yang akan tumbuh menjadi akar fungsional pada kondisi in
vivo,

Ciptakan kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya perkembangan akar


in vitro, misalnya menggunakan medium cair kemudian akar-akar tersebur
akan berfungsi secara normal pada saat planlet dipindahkan ke tanah.

Aklimatisasikan planlet ke tanah setelah tahap perakaran. Pada saat


memasuki tahap perakaran, rendam bagian pangkal planlet dalam larutan
auksin untuk merangsang pembentukan akar.

3.

Kemampuan bersimbiosis
Planlet dari tanaman yang pada kondisi pertumbuhan normal bersimbiosis
dengan bakteri dan mikoriza akan memiliki kemampuan bersimbiosis yang sangat
terbatas pada saat dipindahkan dari lingkungan in vitro ke lingkungan in vivo.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tahap Aklimatisasi
Keberhasilan aklimatisasi ditentukan oleh berbagai faktor. Secara umum,
faktor- faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan aklimatisasi tanaman adalah
kondisi planlet (ukuran bibit, perakaran), kondisi lingkungan (ketepatan media
tumbuh yang digunakan dan kelembapan udara), ketepatan perlakuan pra dan
pasca transplantasi dari media invitro ke media tanah, dan sanitasi lingkungan dari
infeksi penyakit (Zulkarnain, 2009).

1.

Ukuran Bibit
Ukuran bibit kultur memengaruhi keberhasilan tahap aklimatisasi tanaman.
Penggunaan bibit kultur yang kurang vigor menyebabkan tanaman banyak yang
mati (Pardal et al. 2005). Misalnya pada tanaman pepaya yang dilaporkan oleh
Damayanti et al. (2007) pada aklimatisasi tanaman pepaya. Bibit yang besar
berpeluang tumbuh dengan baik dan sehat. Misalnya vigor kuantitatif bibit kultur
kedelai yang berhasil diaklimatisasi adalah tinggi bibit 56 cm, jumlah tunas 23
buah, dan jumlah akar 24 buah (Slamet et al. 2005). Namun, pada tanaman lain,
vigor kuantitatif yang meliputi tinggi tanaman, jumlah akar, dan jumlah daun dalam

kaitannya dengan persentase tanaman hidup hingga kini masih sulit didapatkan
sumber informasinya.
2.

Akar
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan aklimatisasi adalah
perakaran. Akar yang makin banyak dan panjang akan meningkatkan bidang
serapan hara (Lestari et al. 1999). Jangkauan akar yang luas dapat memenuhi
kebutuhan air secara cepat yang hilang akibat laju respirasi yang tinggi. Laju
respirasi bibit kultur umumnya sangat tinggi akibat kurang sempurnanya jaringan
dan sistem pembuluh tanaman. Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan suhu dan

3.

kelembapan dari lingkungan in vitro ke lingkungan in vivo yang berbeda.


Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi tahap aklimatisasi yaitu (Zulkarnain, 2009):
Suhu Udara
Selama dalam lingkungan in vitro, planlet memperoleh suhu yang relative
sama, yaitu 25 1C. saat dipindahkan ke kondisi in vivo maka suhu udara akan
mengalami variasi yang terkadang cukup besar. Suhu lingkungan in vivo dapat
mencapai 18C pada malam hari atau 32C pada siang hari. Kondisi suhu yang
ekstrim, terutama suhu tunggi akan mengakibatkan pertumbuhan planlet tertekan,
bahkan dapat berakibat pada kegagalan aklimatisasi. Oleh karena itu, suhu di areal
aklimatisasi harus diatur sedemikian ruipa agar mendekati suhu in vitro, kemudian
secara bertahap dapat dinaikkan seiring dengan semakin kuatnya pertumbuhan

tanaman.
Kelembaban udara
Planlet hasil mikropropagasi

terbiasa

hidup

di

lingkungan

dengan

kelembapan tinggi, berkisar 90-100%. Kondisi tersebut menyebabkan planlet tidak


mengembangkan system pertahanan yang baik dalam menghadapi cekaman
kekeringan. Oleh karena itu, aklimatisasi hendaknya dilakukan dengan menurunkan
kelembaban udara secara bertahap. Pada tahap awal, planlet dapat di tempatkan di
bawah sungkup plastik secara individual, kemudian sungkup tersebut dibuka dan
planlet dipelihara di bawah naungan massal sebelum akhirnya dipindahkan ke

lapangan.
Intensitas cahaya
Intensitas cahaya

memiliki

hubungan

yang

erat

dengan

suhu

dan

kelembapan. Biasanya dengan intensitas cahaya yang tinggi dapat menginduksi


terciptanya

suhu

lingkungan

yang

tinggi

pula

disertai

dengan

rendahnya

kelembapan udara, dan sebaliknya. Oleh karena itu, intensitas cahaya di areal

aklimatisasi harus diperhatikan agar suhu dan kelembapan dapat dipertahankan


pada tingkat yang tidak membahayakan planlet. Pemberian naungan merupakan
cara

yang

baik

untuk

menurunkan

intensitas

cahaya

dan

suhu

dengan

mempertahankan kelembapan agar tetap tinggi.


Infeksi penyakit
Kematian bibit kultur sering disebabkan oleh serangan hama atau penyakit.
Kondisi lingkungan tumbuh yang kurang steril dapat menyebabkan akar atau
batang bibit terserang hama. Luka akibat serangan hama dapat menjadi tempat
infeksi penyakit. Serangan penyakit yang umum dijumpai adalah karena jamur dan
bakteri (Gunawan 1988). Menurut Lestari et al. (2001), serangan jamur dapat dipicu
oleh pencucian bibit kultur yang kurang bersih dari media in vitro sebelum ditanam
pada media berikutnya. Bakteri yang sering merusak tanaman penting adalah
Pseudomonas sp. (Machmud 1986). Patogen layu bakteri ini dikenal memiliki
kisaran inang dan daerah sebaran yang luas (Suryadi dan Machmud 2002).

D. Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Untuk Keberhasilan Aklimatisasi


Untuk meningkatkan laju keberhasilan pada tahap aklimatisasi, Pierik (1997)
memberikan anjuran sebagai berikut :

Untuk menghindari infeksi dari cendawan atau bakteri maka sisa-sisa


medium (agar-agar) hendaknya dicuci sampai bersih dan gunakan tanah
steril sebagai substrat aklimatisasi.

Musnahkan semua hama atau pathogen, seperti serangga, siput, cendawan,


dan bakteri karena kondisi planlet masih lamah sehingga sangat rentan
terhadap serangan hama dan pathogen. Lakukan pemyemprotan pestisida
secara teratur.

Untuk menghindari kerusakan akar, sebaiknya lakukan penanaman planlet


pada tanah yang diayak (strukturnya seragam).

Gunakan medium dengan kadar garam yang rendah pada tahap perakaran.
Misalnya komposisi medium MS

Terkadang diperlukan perlakuan suhu rendah (5C) selama 4-8 minggu


pertama untuk mematahkan dormansi, terutama terhadap umbi-umbi in
vitro.

E. Tahap Aklimatisasi
1.

Seleksi plantlet
Planlet yang akan diaklimatisasi terlebih dahulu diseleksi. Seleksi plantlet
meliputi kondisi penampakan batang dan akar. Plantlet siap untuk diaklimatisasi
ditandai dengan batang hijau tua dan telah mempunyai akar tunggang dan akar

rambut
2. Sterilisasi plantlet
Planlet hasil seleksi dibawa ke ruang aklimatisasi (rumah kaca) kemudian
dikeluarkan dari botol dengan menggunakan pinset secara hati-hati supaya akar
tidak putus. Planlet dibersihkan dari media agar dengan cara dicuci pada air
mengalir, selanjutnya direndam pada larutan fungisida dengan konsentrasi 1 gr/liter
3.

selama 2-3 menit.


Penyiapan media aklimatisasi
Media yang digunakan untuk aklimatisasi disesuaikan dengan jenis yang akan
ditanam. Pada umumnya media yang digunakan adalah top soil, pasir halus, sekam
padi, vermikulit dan kompos. Sterilisasi media dapat dilakukan dengan cara media
digoreng, disiram dengan air mendidih dan penyiraman dengan fungisida. Dalam
hal penyiapan dan pemilihan media ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
yaitu antara lain : media cukup terjaga kebersihannya (terbebas dari mikroba),
media cukup aerasi (porositas) dan media cukup mengandung makanan yang
dibutuhkan.

4.

Penanaman plantlet
Sebelum planlet ditanam terlebih dahulu media tanam disiram dengan air
secukupnya, kemudian dibuat lubang tanam. Pada saat penanaman dilakukan
secara hatihati mengingat formasi perakaran yang halus dan mudah patah.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan di tempat yang terlindung dari

5.

sinar matahari.
Pemeliharaan plantlet
Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, buka tutup sungkup (sungkup
masal),

pengguntingan

ujung

sungkup

(sungkup

tunggal)

dan

penyiangan.

Pembukaan dan pengguntingan sungkup dilakukan secara bertahap sedikit demi


sedikit tiap minggu hingga keseluruhannya terbuka.

F. Metode Aklimatisasi Pada Tanaman Kultur Jaringan


Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan
yang terkendali ke lingkungan yang relatif berubah. Penyesuaian terhadap iklim
pada lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah
penting apabila membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak
dengan teknik kultur jaringan (Khan, 2007). Masalah ini dapat terjadi karena
beberapa faktor:
1.

pemindahan tanaman dari botol ke media dalam pot

sebenarnya telah

menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya.


2.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki
kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman
sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan
kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik
secara endogenous.
Perbedaan faktor lingkungan antara habitat asli dan habitat pot atau antara
habitat kultur jaringan dengan habitat pot memerlukan penyesuaian agar faktor
lingkungan tidak melewati batas kritis bagi tanaman. Salah satu metode yang
digunakan pada proses aklimatisasi tanaman anggrek dari botol ke tanaman pot
menurut lc nursery adalah sebagai berikut:

Bibit yang masih ada didalam botol dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan

kawat atau dengan memecahkan botol setelah dibungkus dengan kertas


Bibit kemudian dibilas diatas tray plastik berlubang sebelum disemprot dengan air

mengalir untuk membersihkan sisa media agar


Tiriskan bibit yang sudah bersih diatas kertas koran.
Tanam bibit secara berkelompok tanpa media tanam, kemudian tempatkan

ditempat teduh yang memiliki sirkulasi udara yang baik.


Tanaman disemprot setiap hari menggunakan hand sprayer.
Setelah kompot berumur 1-1.5 bulan, bibit dapat ditanam dalam individual pot
menggunakan media pakis atau sabut kelapa.
Metode aklimatisasi ini adalah salah satu dari sekian banyak metode yang
digunakan untuk melakukan aklimatisasi terhadap bibit anggrek botol dan disebut
dengan metode kering. Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang

digunakan, maka masalah fisiologis yang dihadapi oleh tanaman mungkin juga
perlu diketahui.
Tumbuhan

yang

dikembangkan

menggunakan

teknik

kultur

jaringan

memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan
tanaman sebagian besar didapat secara

eksogenous. Oleh karena itu, apabila

dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri
bahan organik secara endogenous (Santana, 2010).
Metode aklimatisasi dibagi menjadi 2, yaitu metode langsung (direct) dan
metode tidak langsung (indirect).
Metode langsung:
1)

Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan

2)
3)
4)
5)
6)

planlet secara hati-hati dari dalam botol.


Membersihkan akar tanaman dari agar-agar yang masih melekat dengan air.
Merendam akar tanaman dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
Setelah 1 -2 minggu plastik dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh dan

7)

berkembang dalam bak aklimatisasi hingga minggu ketiga sampai keempat.


Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polibag-polibag kecil sampai siap
untuk di tanam di lapang.
Metode tidak langsung:

1)
2)

Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan


planlet secara hati-hati dari dalam botol
Memotong tanaman tepat pada bagian

bawah

nodus

ketiga

kemudian

merendamnya dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.


3) Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
4) Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
Aklimatisasi Planlet di Rumah Kaca Aklimatisasi merupakan tahap penting
dalam proses kultur jaringan. Tahap ini sering kali menjadi titik kritis dalam aplikasi
teknik kultur jaringan. Aklimatisasi diperlukan karena tanaman hasil kultur jaringan
umumnya memiliki lapisan lilin tipis dan belum berkembang dengan baik, sel-sel
dalam palisade belum berkembang maksimal, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk

kurang berkembang, dan stomata sering kali tidak berfungsi, yaitu tidak dapat
menutup pada saat penguapan tinggi.

G. Perbedaan Aklimasi Dan Aklimatisasi


Istilah aklimasi ditujukan pada proses suatu tanaman atau organisme hidup
lain agar dapat menyesuaikan diri dengan kondisi atau situasi lingkungan dan iklim
yang baru sebagai hasil dari proses ilmiah. Misalnya tanaman yang akan tumbuh di
lapangan akan mengalami aklimasi terhadap suhu rendah menjelang memasuki
musim dingin(taji, 2001).
Sementara itu istilah aklimatisasi menunjukan adanya campur tangan
manusia dalam mengarahka proses penyesuaian tersebut. Karena manusia
senantiasa terlibat dalam proses penyapihan tanaman dari kondisi in vitro agar
dapat tumbuh dan berkembang pada kondisi in vivo rumah kaca atau lapangan
maka istilah yang digunakan pada tahap akhir mikropropagasi adalah aklimatisasi,
bukan aklimasi (taji, 2001).
H. Prosedur Aklimatisasi
Menurut taji et al.(2002), secara umum prosedur aklimatisasi diuraikan
sebagai berikut.
Planlet-planlet yang akan di aklimatisasi dikeluarkan dalam wadah kultur. Agar-agar
yang masih menempel dicuci bersih untuk membuang sumber kontaminasi.
Selanjutnya, planlet tersebut ditanam pada medium tanah steril didalam pot kecil
atau pada medium siap pakai pot jiffy. Pada awalnya, planlet harus dilindungi dari

kerusakan dengan menempatkanya dibawah naungan, tenda berkelembapan tinggi,


atau dibawah semprotan embun. Dibutuhkan waktu beberapa hari sebelum
terbentuknya akar0akar baru yang fungsional. Suhu udara diusahakan sama seperti
di dalam ruang kultur. Intensitas cahaya

merupkan faktor penting untuk

diperhatikan yaitu 30% dari cahaya lingkungan. Nutrisi yang terdapat di dalam
medium tanah pun dapat menjadi faktor pembatas pertumbuhan.
Pada prinsipnya, tidak ada nutrisi tambhan yang perlu diberikan pada tiga hingga
empat minggu pertama masa aklimatisasi. Saat planlet tunbuh dengan baik pada
medium dalam pot, lplanlet tersebut harus secara perlahan-perlahan digadapkan
pada kelembapan yang rendah dan intensitas cahaya yang tinggi. Setiap keadaan
dormansi atau kondisi istirahat yang terjadi pada tanaman harus diatasi sebagai
bagian dari proses transplantasi.
Letakkan di alam terbuka di bawah naungan
Setelah daun-daun terbentuk turunkan kelembapan udara secra bertahap sehingga
sama seperti kelembapan udara lingkunganya. (dirumah kaca)
Kultur yang sedang berpoliferasi
Panen pucuk-pucuk mikro
In vitro
In vivo
Tempatakan pada medium perakaran yang sesuai
Tunggu sampai jumlah akar memadai
Keluarkan pucuk-pucuk mikro yang telah berakar
Singkirkan agar-agar dari perakaran sambil diberi perlakuan fungisida
Tempatkan pada medium pengakaran dirumah kaca
Beri perlakuan zpt perangsang akar:
Dapat dilakukan secara invitro selam 3-7 hari dalam keadaan gelap total
Perlakuan dapat berubah pencelupan di dalam cairan atau pengolesan dengan
bentuk serbuk
Pada spesies tertentu tidak diperlakuakan pelakuan ZPT perangasang akar

Berikan kelembapan udara tinggi dengan cara menyemprotkan kabut embun secara
berkala atau penyungkupan dengan sungkup plastik transparan
Tempatkan dibawah cahaya matahari penuh
Secara bertahap hadapkan ke intensitas cahaya lebih tinggi

Skema umum proses pengakaran dan aklimatisasi tanaman hasil perbanyakan kutur
jaringan modifikasi dari Taji 2001.

I. Teknik Penyungkupan
Penyungkupan yaitu suatu teknik untuk menjaga kestabilan suhu dan
kelembaban, serta meningkatkan daya tahan terhadap cahaya matahari secara
langsung. Penyungkupan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Sungkup tunggal
Sungkup tunggal yaitu sungkup yang dilakukan satu persatu terhadap setiap
tanaman. Penggunaan sungkup tunggal untuk skala besar secara ekonomis tidak
menguntungkan dan memakan waktu, tetapi kelebihannya suhu dan kelembaban
yang diperoleh oleh tanaman dapat lebih stabil.
2. Sungkup masal
Sungkup masal yaitu penyungkupan yang dilakukan terhadap seluruh
tanaman, misalnya dalam satu bedeng atau areal tertentu. Pengaturan suhu dan

kelembaban

dilakukan

dengan

cara

buka

tutup

dimana

secara

ekonomis

penggunaan sungkup ini lebih menguntungkan dan lebih praktis.

J. Aplikasi Aklimatisasi Di Kehutanan


Tanaman hasil kultur jaringan khususnya tanaman kehutanan secara umum
masih sulit untuk dipelihara sesuai dengan kondisi rumah kaca karena masih sangat
peka. Oleh karena itu, perlu ada tahap aklimatisasi atau penyesuaian untuk
menghadapi kondisi yang sulit bagi tanaman yang lemah terutama menghadapi
transisi dari media agar ke media tanah. Sehingga diharapkan tanaman mempunyai
perakaran yang lebih baik, ketinggian yang memadai dan lebih kokoh.
Tanaman kehutanan yang telah dikembangkan perbanyakannya melalui
kultur jaringan seperti halnya jati, cendana, Acacia, Eucalyptus, suren, dll. Dari hasil
pengamatan persen tumbuh untuk jenis tanaman jati, Acacia, Eucalyptus, suren dan
cendana seperti pada Tabel berikut

Tabel 1. Persen Tumbuh Beberapa Tanaman Hasil Aklimatisasi di rumah kaca


BBPBPTH
No

Jenis

Komposisi Media

Tanaman

Jumlah

Jumlah

Persen

Diaklimatis

Hidup

Tumbu

asi
1

Jati
(Tectona
grandis)

Top soil + Kompos


+ arang sekam
padi
(2:1:1)

57

h
50

87,7

Acacia
mangiu
m

Top soil + Kompos

46

39

84,4

55

51

92,7

68

65

95,6

62

41

66,1

+ arang sekam
padi
(2:1:1)

Eucalypt
us pellita
55 51
92,7

Top soil + Kompos


+ arang sekam
padi
(2:1:1)

Toona
sinensis
68 65
95,6

Top soil + Kompos


+ arang sekam
padi
(2:1:1)

Santalu
m album
62 41
66,1

Top soil + Kompos


+ arang sekam
padi
(2:1:1)

Dari tabel 1 tersebut menunjukkan bahwa untuk jenis jati, Acacia, Eucalyptus
dan suren mempunyai persen tumbuh tinggi, hal tersebut dikarenakan formasi akar
telah cukup kuat sehingga mampu menyesuaikan pada media tanah. Sedangkan
untuk jenis cendana (Santalum album) karakteristik formasi perakarannya miskin
akar rambut walaupun sudah terbentuk sehingga banyak mengalami kematian
dengan persen tumbuh kecil, disamping itu jenis ini tidak bisa berdiri sendiri
hidupnya sehingga diperlukan adanya tanaman inang. Tanaman inang untuk di

persemaian

yang

banyak

digunakan

pada

umumnya

jenis

krokot

merah

(Altenanthera sp.). Lebih lanjut menurut Surata (2001) dinyatakan bahwa krokot
merah merupakan tanaman inang primer yang paling baik untuk membantu
pertumbuhan cendana. Selain itu krokot merah memenuhi syarat sebagai inang
primer, yaitu mudah tumbuh kembali setelah dipangkas, mudah didapat, tidak
menimbulkan kompetisi, sistem perakaran sukulen dan sesuai dengan kondisi
tempat tumbuhnya.
Menurut Bonga (1985) beberapa masalah yang juga dialami oleh tanaman
kehutanan (berkayu) dari hasil kultur jaringan pada saat akan dipindahkan ke
lapangan, yaitu :
1. Planlet tidak dapat bertahan hidup jika dipindah secara tiba-tiba
2. Planlet mengering setelah dipindahkan
3. Damping off yang disebabkan oleh jamur, dan
4. Terjadi dorman jika planlet terlalu besar pada saat dipindahkan
Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan aklimatisasi, dimana
aklimatisasi dari tanaman berkayu bervariasi antara satu jenis dengan jenis lainnya,
tergantung pada sistem yang digunakan dan respon jenis tanaman terhadap
manipulasi setelah dikulturkan. Alternatif yang sering digunakan adalah dengan
mengakarkan plantlet pada media non agar secara in vivo, misal pada vermikulit
atau media lainnya.

K. Teknik Aplikasi Aklimatisasi Tanaman Anggrek


1.

Kriteria planlet siap aklimatisasi


Adapun criteria planlet yang siap Untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut:

a.

Organ planlet lengkap ( akar, batang, daun )

b.

Warna pucuk batang hijau mantap artinya tidak tembus pandang

c.

Pertumbuhannya kekar

d.

Akar memenuhi media

e.

Ukuran tinggi tanaman 3 4 cm ( tergantung jenis tanaman )

f.

Umur tanaman ( anggrek 4 bulan)

2.

Prosedur aklimatisasi aklimatisasi

1.

Menyiapkan wadah
Wadah merupakan tempat yang brisi media tumbuh tanaman hasil kultur. Jenis
wadah yang dapat digunakan meliputi ; Pot terbuat dari tanah liat atau plastik,
sabut kelapa tua, tempurung kelapa tua dan batang pakis. Wadah yang digunakan
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Harus memiliki lubang pembuangan air (draenase)


Harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelembaban media tanam
Tidak mudah lapuk
Harus bersih dan bebas dari berbagai penyakit
Mudah diperoleh dan harganya murah
2.

Menyiapkan media
Media merupakan tempat tumbuh dan berdiri tegaknya tanaman. Persyaratan
Media tanam Untuk aklimatisasi adalah :

Mampu mengikat air dan unsur hara secara baik


Harus memiliki kemampuan untuk menjaga kelembaban
Mempunyai aerasi yang baik
Tahan lama /Tidak mudah lapuk
Tidak menjadi sumber penyakit
Derajat keasaman (pH) 5 6
Mudah didapat dan harganya murah

Media yang biasa digunakan Untuk tanaman hasil kultur meliputi ; Pakis
( anggrek ), Moss, Potongan kayu pinus, Arang sekam (pisang), Pasir steril ( Jati) dan
Sabut Kelapa. Sebelum digunakan media tersebut harus diseterilkan selama 4 jam
agar serangga, mikroba, serta biji-bijian gulma mati.
3.

Menyiapkan tempat
Tempat yang digunakan Untuk memelihara tanaman hasil kultur harus
mempunyai Intensitas cahaya matahari : 35 45%, Suhu : malam 18-240 C, siang
21-320 C, Ketinggian tempat : 0 700 meter DPL, Kelembaban : 60 85% dan
mempunyai Aerasi / sirkulasi udara. Dalam memilih tempat harus memperhatikan
hal-hal berikut :

Lingkungan harus bersih dan bebas dari segala hama dan penyakit
Kondisi lingkungan disesuaikan dengan kondisi tanaman: suhu, kelembaban dan
cahaya
3.

Media Tumbuh
Tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh
dengan baik, sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang
dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup
bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan
memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air
dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi,
tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama.
Media harus bersifat menyimpan air dan tidak mudah memadat. Media padat
menyebabkan air tergenang sehingga aerasi udara rendah. Gejala yang tampak,
daun dan batang menjadi layu. Akar sehat biasanya bewarna putih dan memiliki
rambut-rambut halus. Jika aerasi rendah, akar yang putih berubah jadi coklat lalu
menghitam. Jumlah rambut akar berkurang bahkan tak ada. Padahal ia berfungsi
untuk menyerap hara. Selain masalah aerasi, media padat juga mengundang
bakteri dan cendawan penyebab busuk.

Pakis baik untuk media anggrek karena memiliki daya mengikat air, serta
aerasi dan draenase yang baik. Pakis juga sangat awet karena melapuk secara
perlahan-lahan dan mengandung unsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk
pertumbuhannya. Arang merupakan media yang cukup baik untuk digunakan
karena tidak cepat lapuk dan tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri.
Namun, arang sukar mengikat air dan miskin zat hara. Serabut kelapa mudah
melapuk dan mudah busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit tetapi daya
menyimpan air sangat baik dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan
serta mudah didapat dan murah harganya.().
4. Bahan dan alat
Alat :
1. Pinset,
2. Hand sprayer
3. Pot Penampan
Bahan :
1. Air
2. 12 plantet tanaman anggrek hasil kultur in vitro
3. Akar pakis
4. Arang kayu
5. Teknik pelaksanaan aklimatisasi
Adapun teknik yang digunakan dalam aklimatisasi adalah sebagai berikut :
a.

Planlet Dikeluarkan dari botol

Diisi air ke dalam bibit botolan, kocok-kocok dan membuang air serta media agar
Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset / kawat pengait satu persatu
Dicuci bibit hingga bersih dari media agar

Akar-akar yang terlalu panjang dipotong dengan gunting


b.

Direndam bibit dalam larutan fungisida

Bibit direndam selama 5 menit


Ditiriskan bibit di hamparan kertas koran
Bibit dikelompokkan berdasarkan ukurannya
c.

Diisi media dalam wadah

Media sebelum digunakan direndam dalam larutan fungisida


Pot diisi dengan media tinggi pot
d.

Ditanam bibit dalam pot

Bibit ditanam dengan bantuan pinset, letakkan secara tegak


Bibit ditanam 8 tanaman per pot
e.

Diletakkan pot bibit dalam green house / ruang aklimatisasi

L. Contoh Aklimatisasi Planlet Kentang


a. bahan dan alat

bahan dan alat yang diperlukan dalam prosedur aklimatisasi ini adalah
1.

Pucuk invitro kentang yang sehat dan yang telah dihadapkan pada cahaya dengan

2.

intensitas tinggi.
Medium tumbuh dapat menggunakan :
Medium pot jiffy yang merupkan medium siap pakai
Medium campuran buatan sendiri terdiri atas kompos steril tanah steril, dan pasir

steril dengan komposisi 1:1:1


3. Botol selai untuk menutupi pucuk agar kelembapan udara terjaga.
4. Baskom plastik untuk tempat meletakan pot planlet.
5. Screen house yang terbuat dari rumah plastik sederhana
6. Pinset
7. Kantong plastik transparan ukuran besar untuk menyungkup baskom plastik
8. Hand sprayer
b. cara kerja
1. Siapkan medium tumbuh :
a) Isi bak plastik dengan air sampai kira-kira 1 cm dari dasar bak, lalu masukan pot
b)
2.
3.

jiffy di dalamnya.
Rendam pot jiffy didalam air sampai mengembang.
Pucuk kentang dikeluarkan dari botol dengan pinset secara hati-hati
Bersihkan pucuk dari sisa-sisa agar-agar dengan mencucinya di kran atau gelas
piala besar sambil di kocok-kocok. Agar-agar yang tertinggar di planlet dapat

4.
5.

menjadi sumber infeksi patogen


Pucuk-pucuk yang terlalu panjang dapat di potong menjadi dua bagian
Rendam pucuk tersebut didalam larutan dithane M-45 atau Benlate selama

kira-kira 10 menit, lalu keringkan.


6. Setelah kering tanamkan pucuk pada medium tumbuh (pot jiffy)atau campuran
kompos+tanah+pasir steril) dan letakkan di dalam baskom plastik.
7. Tutuplah (sungkuplah) pot-pot di dalam plastik tersebut dengan botol selai
8. Keseluruhan baskom selanjutnya disungkup dengan kantong plastik
9. Letakkan baskom di dalam screen house
10. Lakukan pemeriksaan setiap hari
11. Jangan memberikan air secara berlebihan dan catat presentasi pucuk yang kering
atau mati.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam
pot. Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan
dengan kelembaban tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof
bila dipindahkan ke tanah atau lapangan. Tanaman hasil kultur jaringan (planlet
atau tunas mikro) perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat hidup di
lingkungan baru hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di lapang. Proses
pemindahan

merupakan

langkah

akhir

dari

prosedur

mikropropagasi

dan

diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi. Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis


karena kondisi iklim dilapang sangat berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga
diperlukan penyesuaian. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam
rangkaian

aplikasi

teknik

kultur jaringan

untuk

mendukung

pengembangan

pertanian.
Untuk dapat meningkatkan efektivitas metode yang digunakan, maka
masalah fisiologis yang dihadapi oleh tanaman mungkin juga perlu diketahui.
Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki
kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman
sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan
kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik
secara endogenous.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Bonga, J.M. 1985. Tissue Culture Technique. Di dalam J.M. Bonga and D.J. Durzan
(Penyunting).

2.

Tissue

Culture

in

Forestry.

Martinus

Nijhoff/DR.W.Junk.

Publ,.

Nedherlands.
Endin Izudin. 2013. Teknik Aklimatisasi Tanaman Hasil Kultur Jaringan. Balai Besar
Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.Jurnal Informasi

Teknis Vol.11 No. 2, September 2013, 49 56


3. Gunardi, Tom. 1985. Anggrek untuk pemula. Penerbit Angkasa, Bandung
4.
Herawan, T. dan Hendrati., R.L. 1996. Petunjuk Teknis Kegiatan

Kultur

Jaringan.Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Balai Penelitian dan


Pengembangan Pemuliaan Benih Tanaman Hutan. Yogyakarta.
5. Husni, A., S. Hutami, M. Kosmiatin, dan I. Mariska. 2004. Seleksi in vitro tanaman
kedelai untuk meningkatkan sifat ketahanan terhadap cekaman kekeringan.
Laporan Tahunan Penelitian TA 2003. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
6.

Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. 16 hlm.


Khan, S., 2007. Callus induction, plant and regeneration acclimatization of African
Violet (Saintpaulia ionatha) using leaves as explants. Universitas Karachi, Karachi-

7.

75270, Pakistan
Kristina, N., 2008. Multiplikasi tunas, aklimatisasi dan analisis mutu simplisia daun
encok (plumbago zeylanica l.) asal kultur in vitro periode panjang. Bul. Littro. Vol.

8.

XIX No. 2
Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers.

Netherlandsv
9. Nugroho, A. dan. Sugito. H, 1996. Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya, Jakarta
10. Rahardja, PE. 1988. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern .
Penebar Swadaya. Jakarta.
11. Ritchie GA, KC Short, MR Davey. 1991. In Vitro Acclimatization of Crisanthemum
and sugar beat plantlets by treatment with paclobutrazol and exposure to reduced
humidity. J of Exp Bot. 42 (12) : 1557-1563.
12. Santana, D., 2010. Micropropagation and acclimatization Bauhinia. African Journal
of Biotechnology Vol. 10
13. Slamet et al. 2011. Perkembangan Teknik Aklimatisasi Tanaman Kedelai Hasil
Regenerasi Kultur In Vitro. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi
dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Jurnal Litbang Pertanian, 30(2), 2011.

14. Susanti D. 2005. Pengujian berbagai media aklimatisasi untuk planlet tebu kultivar
PA 117 dan PA 198. Skripsi. Departemen Tanah Fakultas Pertanian IPB.
15. Surata, K., 2001. Sekilas Mengenai Cendana. Edisi khusus masalah cendana NTT.
Berita Biologi. Balai Penelitian dan Pengembangan Botani. Puslitbang Biologi. LIPI.
Bogor
16. Sitti Fatimah Syahid dan Natalini Nova Kristina,2008.

Multiplikasi Tunas,

Aklimatisasi Dan Analisis Mutu Simplisia Daun Encok (Plumbago zylanica L.) Asal
Kultur In Vitro Periode Panjang. jurnal Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
Vol. XIX No. 2, 2008, 117 - 128