Anda di halaman 1dari 9

1.

Definisi Gastritis
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang
perut/lambung dan itis yang bebrarti inflamasi/peradangan.Gastritis adalah inflamasi dari
mukosa lambung (Mansjoer, 2010).
Gastritis adalah segala radang mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus
atau local (Price & Wilson 2006).
Berdasarkan berbagai pendapat tokoh diatas, gastritis dapat juga diartikan sebagai suatu
proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan secara hispatologi dapat
dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut.
2. Klasifikasi
Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu (David Ovedorf 2002):
a. Gastritis Akut
Disebabkan karna mencerna asam atau alkali yang dapat menyebabkan mukosa
menjadi ganggren atau proforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua gartis besar yaitu:
1)
Gastritis Eksogen Akut (biasanya disebabkan oleh faktor-faktor dari luar, seperti
bahan kimia misalnya: lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid mekanis iritasi
bakterial obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin(aspirin yang dosis rendah
sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).
2)
Gastritis Endogen Akut (adalah gastritis yang disebabkan oleh kelainan badan.)
b.
Gastritis Kronik
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna
dari lambung atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H.Pylory).Gastritis kronik
dikelompokan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Dikatakan gastritis kronis tipe A
jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar
lambung dan penurunan mukosa.Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi
antibodi. Anemi pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih
lazim.Tipe ini dikaitkan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada
dinding lambung.
3. Etiologi
Beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain:
a. Infeksi bakteri .
Sebagian besar populasi di dunia teinfeksi oleh bakteri H.Pylori yang hidup di bagian
lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti
bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi
melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh
bakteri ini. Infeksi H.Pylori sering terjadi pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan seumur
hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi H.Pylori ini sekarang diketahui sebagai
penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis. Infeksi
dalam jangka waktu yang lama akan menjadi peradangan menyebar yang kemudian

b.

c.

d.
e.
f.

g.

h.

mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung. Salah satu perubahan itu
adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung
secara perlahan rusak. Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat asam lambung yang rendah
dapat mengakibatkan racun-racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat dihancurkan atau
dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga meningkatkan resiko (tingkat bahaya)
dari kanker lambung. Tapi sebagaian besar orang yang terkena infeksi H. Pylori kronis tidak
mempunyai kanker dan tidak mempunyai gejala gastritis, hal ini mengindikasikan bahwa ada
penyebab lain yang membuat sebagian orang rentan terhadap bakteri ini sedangkan yang lain
tidak.
Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus.
Obat analgesic anti inflamasi nomsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan
naproxendapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi
prostalglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemaikaian pbat-obat
tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika
pemakaian dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat
mengakibatkan gastritisd dan peptic ulcer.
Penggunaan alkohol secara berlebihan.
Alcohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat
dinding lambung lebih rentan terhadap aam lambung walaupun pada kondisi normal.
Penggunaan kokain.
Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis.
Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar, atau infeksi berat
dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.
Kelainan aoutoimune.
Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika system kekebalan tubuh menyerang selsel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara
bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kenlenjar-kelenjar penghasil asam
lambung dan mengganggu produksi factor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh
mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12, akhirnya, dapat mengakibatkan pernicious
anemia, sebuah konsisi serius yang jika tidak dirawat mempengaruhi seluruh system dalam
tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua.
Crohns disease.
Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada dinding
saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding
lambung. Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari crohns disease (yaitu sakit
perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok dari pada gejala-gejala gastritis.
Radiasi dan Kemoterapi.
Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan
pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic
ulcer.ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara,

tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat
mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung.
i. Penyakit bile refluk.
Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh. Cairan ini
diproduksi oleh hati ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan
menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti
cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung. Tapi jika
katup ini tidak bekerja dengan benar, balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak
bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan
peradangan dan gastritis.
j. Faktor-faktor lain.
Gastritis sering juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya seperti HIV/AIDS, infeksi
oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.
4. Patofisiologi

D. Manisfestasi Klinis
1. Gastritis akut :
a)
Ulserasi superficial yang menimbulkan hemorragie
b)
Ketidaknyamanan abdomen (mual, anoreksia)
c)
Muntah serta cegukan
d) Dapat terjadi kolik dan diare
e)
Peningkatan Suhu Tubuh
f)
Takikardi
2. Gastritis kronis :

a)
b)

Tipe A : Asimtomatis
Tipe B :Mengeluh anoreksia, Sakit ulu hati setelah makan, Bersendawa, Rasa pahit dalam
mulut, Mual dan muntah

E. Komplikasi
1. Gastritis Akut
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah perdarahan saluran cerna
bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock
hemoragik.Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran
klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah H.
pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti
dapat ditegakkan dengan endoskopi.
2.

F.

1)
a.
b.
c.
d.

e.
f.
2)
a.
b.

Gastritis Kronis
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan
absorpsi vitamin B12.
Penatalaksanaan Gastritis
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama yaitu etiologinya,
diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-obatan. Namun secara spesifik dapat
dibedakan sebagai berikut:
Gastritis Akut:
Pantang minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala menghilang; ubah menjadi diet yang
tidak mengiritasi.
Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
Jika terdapat perdarahan, penatalaksanaannya serupa dengan hemoragie yang terjadi pada
saluran gastrointestinal bagian atas.
Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan dan netralkan asam dengan
antasida umum, misalnya aluminium hidroksida, antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton,
antikolinergik dan sukralfat (untuk sitoprotektor).
Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang encer atau cuka
yang di encerkan.
Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya perforasi.
Gastritis Kronis :
Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi.
H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis; tetrasiklin atau amoxicillin) dan garam
bismuth (pepto bismol)

1 Nyeri Akut

NOC
Pain level
Pain control
Comfort level
Kriteria hasil:
Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan teknik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengurangi
nyeri (skala intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)

Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang

2 Ketidakseimbanga NOC
n nutrisi kurang
Nutritional status :

NIC
Pain management
Lakukan pengkajian nyeri secara
komperehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, dan faktor presipitasi.
Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan.
Gunakan teknik komunikasi
terapiutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri.
Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau.
Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan control nyeri masa
lampau.
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan
dukungan.
Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan, dan
kebisingan.
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi,
nonfarmakologi, dan interpersonal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
Berikan anlgetik untuk
mengurangi nyeri
NIC
Nutrition Management

dari kebutuhan
tubuh

Nutritional status :
food and fluid intake
Nutritional status :
nutrient intake
Weight control
Kreteria Hasil
Adanya peningkatan
berat badan sesuai
dengan tujuan
Berat badan ideal
sesuai dengan tinggi
badan
Mampumengidentifika
si kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda
malnutrisi
Menunjukan
peningkatan fungsi
pengecapan dari
menelan
Tidak terjadi
penurunan berat badan
yang berarti

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe.
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan vitamin
C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang erpilih
(sudah dkonsltasikan dengan ahli
gizi
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan.
Nutrision monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orang
tua selama makan.
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan tidak
selama jam makan
Monitor kulit kering dan
perubahan monitor turgor kulit
Monitor kekeringan rambut
kusam dan mudah patah
Monitor mual dan muntah

Monitor total protein Hb dan


kadar Ht
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema,
hiperemi,hipertonik, papilla
lidah,cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta
scarlet.
3 Kekurangan
volume cairan

NOC
Fluid balance
Hydration
Nutritional status :
food and fluid intake
Kriteria hasil
Mempertahankan
urine output sesuai
dengan usia, BB, Bj
urine normal, Ht
normal
Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam batas
normal.
Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi, elastisitas
turgor kulit baik,
membram mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus yang belebihan.

NIC
Fluid management
Timbang popok atau pembalut
jika diperlukan
Pertahankan catatan intake dan
output yang akurat
Monitor status hidrasi jika
diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan atau
cairan dan hitung intake kalori
harian
Kolaborasikan pemberian cairan
IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nesogratik
sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu
pasien makan
Tawarkan snack
Kolaborasikan dengan dokter atau
kemungkinan transfuse
Persiapkan untuk transfuse
Hipovolemia management

Monitor status cairan termasuk


intake dan output cairan
Pelihara IV line
Monitor tingkat Hb dan
hematokrit
Monitor tanda vital
Monitor respon pasien terhadap
penambahan cairan
Monitor berat badan
Dorong pemberian untuk
menambah pemberian IV monitor
adanya tanda dan gejala kelebihan
volume cairan
Monitor adanya tanda gagal ginjal