Anda di halaman 1dari 18

PERBEDAAN DI ANTARA CONCEPTUAL FRAMEWORK

Perbandingan Rerangka Konseptual FASB dan Rerangka Konseptual IASC


Rerangka Konseptual FASB
Dewan penyusun standar akuntansi di Amerika Serikat dibentuk pada tahun 1936
dengan nama Committee on AccountingProcedure (CAP). Dewan ini bekerja sampai tahun
1959 dan berganti nama menjadi Accounting Princilpes Booard (APB). APB bekerja
sampai dengan tahun 1973, kemudian digantikan oleh Financial Accounting Standards Board
(FASB) sampai sekarang ini. Setelah mengalami beberapa titik waktu (Juncture) dalam
merumuskan prinsip-prinsip akuntansi (Zeff 1984), FASB akhirnya berhasil membuat sebuah
model rerangka
Concepts

konseptual yang mapan disebut, Statement of Financial Accounting

(SFAC). Rerangka ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam

mengembangkan Standard Akuntansi Keuangan di Amerika Serikat. Standar-standar tersebut


berkenaan dengan pengukuran aktivitas ekonomi, penentuan waktu kapan pengukuran dan
pencatatan harus dilakukan, ketentuan pengungkapan mengenai aktivitas tersebut, penyiapan
dan penyajian ringkasan aktivitas ekonomi tersebut dalam bentuk laporan keuangan.
Rerangka Konseptual IASC
Pembentukan IASC terjadi pada tanggal 23 Juni 1973 di Inggris yang diwakili oleh
organisasi profesi akuntansi dari sembilan negara (Nobes dan

Parker 1995 :

9 ; dan

Solomons, 1986 : 60). Tujuan pembentukan IASC adalah memformulasi standar dan
mendorong keberterimaan dan ditaatinya IFRS secara luas di dunia. (Solomons 1986 : 60).
Sampai saat ini IASC beranggotakan sekitar 150 organisasi atau badan penyusun standard
akuntansi dari 113 negara (media akuntansi, 2000), dan telah berhasil merumuskan model
teoritis yang juga mengadopsi meta teori dengan menempatkan tujuan sebagai top level.

Model ini disebut Framework for the Preparation andPresentation of Financial Statements
(FPPFS) (naskah asli terdapat di IAI, SAK, Oktober 2004).
Perbedaan GAAP dan IFRS
Kerangka konseptual pelaporan keuangan yang kita kenal selama ini sebagaimana
yang diadopsi dalam buku ajar di kampus-kampus adalah kerangka konseptual berdasarkan
US GAAP. Sejalan dengan konvergensi International Financial Reporting Standar (IFRS)
kedalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), mau tidak mau kita harus
merubah mindset kita mengikuti kerangka konseptual IFRS tersebut. Karena proyek-proyek
konvergensi sedang berlangsung, perbedaan spesifik menyusut antara IFRS dan US GAAP.
Namun perbedaan yang signifikan yang tetap ada, sebagai contoh :
-

IFRS tidak mengizinkan Last In First Out (LIFO) sebagai metode persediaan biaya.

IFRS memungkinkan penilaian kembali aktiva dalam keadaan tertentu.

IFRS menggunakan metode langkah tunggal untuk penurunan write-downs daripada


metode dua langkah yang digunakan dalam US GAAP, membuat write-downs lebih mungkin.

IFRS membutuhkan kapitalisasi biaya pengembangan, ketika kriteria tertentu terpenuhi.


Perbedaan SAK ETAP vs PSAK - IFRS

Materi SAK ETAP lebih sederhana sedangkan PSAK IFRS complicated dan rumit.

SAK ETAP cenderung menggunakan basis stewardship sebagai pertanggungjawaban


pengelola kepada stakeholder sehingga cenderung menggunakan prinsip reliability,
sedangkan PSAK IFRS telah bergeser untuk pemenuhan user dalam pengambilan
keputusan sehingga cenderung menggunakan prinsip relevan.

A. Definisi Kerangka Kerja Konseptual

Kerangka konseptual (conceptual framework) merupakan suatu sistem logis dari


tujuan-tujuan dan dasar-dasar yang saling terkait yang dapat mengarah pada standar-standar
konsisten dan yang menentukan sifat, fungsi, dan batasan dari akuntansi keuangan dan
laporan-laporan keuangan.
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri
dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi
penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari
akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidahkaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasari akuntansi keuangan, yakni yang
menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus
dipertanggungjawabkan,

pengakuan

dan

pengukurannya,

cara

meringkas

serta

mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.


Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya
mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulangulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan
pelaporan.
Fungsi Kerangka Konseptual:

Mengumumkan lebih banyak standar yang berguna dan konsisten di masa yang akan

datang (dasarnya sama).


Masalah-masalah praktis yang baru muncul, sehingga dapat dengan cepat dipecahkan

dengan referensi kerangka teori dasar yang sudah ada.


Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai
laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar

laporan keuangan perusahaan.


Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada
kerangka teori yang telah ada

B. Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual


Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting Standard Board)
telah menerbitkan enam statement of financial accounting concept yang berhubungan dengan
pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:

SFAC no. 1 objective of financial reporting by business enterprises, yang

menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.


SFAC no. 2 qualitative caracteristics of accounting information, yang menjelaskan

karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.


SFAC no. 3 element of financial statement of business enterprises, yang
memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti

aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.


SFAC no. 5 recognition and measurement in financial statement of business
enterprises, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta

pedoman tentang informasi.


SFAC no. 6 element of financial statement, yang menggantikan SFAC no. 3 dan

memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.


SFAC no. 7 using cash flow information and present value in accounting
measurement, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa
depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran

C. Tujuan Dasar Kerangka Kerja Konseptual


Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan
informasi:
1.Yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan
ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;
2.Untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial, serta
pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;
3.Tentang sumber daya ekonomi, klaim terhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di
dalamnya.
Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi yang berguna bagi
para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada
kepentingan investor dan kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam,
atau dari pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis.
Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang
berguna untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang
menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan
(decision usefulness).

Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi akuntan


mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-purpose financial statement), yaitu

menyediakan informasi paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok
pemakai

D.

Konsep-Konsep Kerangka Kerja Konseptual

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi


Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision usefulness), informasi akuntansi harus
memiliki dua kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat
beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas tersebut.
a.

Kualitas Primer

Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi.
1.

Relevansi.

Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah
keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat
dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak
relevan. Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back value), yakni
mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus
memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa
yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness).
Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan
kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.
2.

Keandalan.

Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan secara tepat serta bebas
dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu
pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari
informasi.
Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau
keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan


menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.

Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan


dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.


Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok
pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias
3.

Keberdayaujian (verifiability).

Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi
berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan
fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan).
Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa
mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur
ekonomis.

4.

Kenetralan (neutrality).

Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh
karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada
kelompok tertentu.
5.
Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya
kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.
b.

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan


(comparability) dan konsistensi (consistency).
1.

Keberdayabandingan.

Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan
dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal) atau
membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal).
Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.
2.

Konsistensi.

Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila


mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian
serupa, dari periode ke periode.
Kendala-kendala
Terdapat dua kendala yang mempengaruhi tercapainya kualitas informasi seperti yang telah
dijelaskan, yaitu pertimbangan manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya

yang kurang dominan tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah praktek
industri dan konservatisme.
Pertimbangan manfaat-biaya (cost-effectiveness).
Untuk menghasilkan informasi yang relevan,andal, berdaya banding, dan konsisten
dibutuhkan biaya yang mahal. Oleh karena biaya dan terutama manfaat tidak mudah diukur,
maka mempertimbangkan hubungan manfaat-biaya menjadi masalah.
Materialitas (materiality)
Berhubungan dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara
keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item
tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan. Baik
faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan
suatu item material atau tidak.
Praktik industri.(industry practices)
Sifat unik dari sejumlah industri dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari
teori dasar.
Konservatisme (conservatism)
Berarti jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil kemungkinannya dalam
menghasilkan penetapan laba dan aktiva yang terlalu tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika
diaplikasikan secara tepat adalah menyediakan pedoman yang paling rasional dalam situasi
sulit : jangan menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi.
Elemen-elemen Laporan Keuangan
SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen utama laporan keuangan. Cakupannya bukan hanya
perusahaan yang berorientasi laba, tetapi juga organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan
keuangan bagi organisasi yang berorientasi laba meliputi 10 macam, yaitu : aktiva,
kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba komprehensif,
pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi organisasi nirlaba ada 7 macam,
yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.

E.

Pengakuan dan Pengukuran Kerangka Kerja Konseptual

Kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan


tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana
unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem
akuntansi.
Asumsi-Asumsi Dasar

Asumsi-asumsi menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar
akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat
dipraktikkan.

a)

Asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption).

Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah
dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).
b)

Kesinambungan (going concern).

Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu
perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa,
meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan
hidup yang panjang.
c)

Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption).

Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas
perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.
d)

Asumsi periodisitas (periodicity assumption).

Cara yang paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan
mengukurnya pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak
bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas
(periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah
perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi,
tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan
Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi
i.

Biaya historis (historical cost).

GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan
berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost) memiliki keunggulan yang penting dibandingkan
penilaian yang lainnya yaitu dapat diandalkan.
ii.

Pengakuan pendapatan.

Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat direalisasikan dan (2) telah
dihasilkan.
iii.

Prinsip Penandingan (matching principle).

Beban untuk suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu
atau dengan periode tertentu.. Beban diakui :
Jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau
penyerahan jasa,
Pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung
atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,
Dengan alokasi yang sistematis dan rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi. Contoh:
depresiasi.
iv.

Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle)

Mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan
mencerminkan trade off penilaian, seperti :
Hal-hal yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai
Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.
Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan untuk memperkuat atau memperjelas
pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan keuangan dan tahunan
4.2 PERAN KERANGKA KONSEPTUAL
A.

Peran Suatu Kerangka Kerja Konseptual

Kerangka kerja konseptual dari tingkat akuntansi, bertujuan untuk menyediakan struktur teori
akuntansi. Pada tingkat tertinggi yang teoritis, menyatakan ruang lingkup dan tujuan
pelaporan keuangan. Pada tingkat konseptual berikutnya mendasar, mengidentifikasi dan
mendefinisikan karakteristik kualitatif informasi keuangan (seperti relevansi, keandalan,
komparatif, dan dimengerti) dan elemen dasar akuntansi (seperti aktiva, kewajiban, ekuitas,
biaya pendapatan, dan keuntungan) . di tingkat operasional yang lebih rendah, kesepakatan
kerangka kerja konseptual dengan prinsip dan aturan pengakuan dan pengukuran elemen
dasar dan jenis informasi yang akan ditampilkan dalam laporan keuangan.
Manfaat rerangka konseptual :
1.Untuk keperluan manajer dalam mengambil keputusan
2.Bagi manajemen dan auditor untuk meyakinkan bahwa informasi disajikan sesuai dengan
aturan yang ditetapkan.
Rerangka konseptual diperlukan pelaporan keuangan (laporan keuangan dan penjelasan
tambahannya)Pelaporan keuangan adalah informasi yang diperlukan untuk keperluan
stakeholder dalam pengambilan keputusan terdiri dari :
- Laporan keuangan

- Catatan singkat (disclosure dan informasi tambahan)


B. Tujuan untuk Kerangka Kerja Konseptual
IASB dan FASB mempertimbangkan kerangka tujuan utama pelaporan keuangan adalah
untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pengguna. informasi tersebut akan
dipilih salah satu dasar kegunaannya dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
Tujuan ini terlihat ingin dicapai akan pelaporan yaitu:
1. berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi
2. berguna dalam menilai prospek arus kas
3. tentang sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber daya dan perubahan di dalamnya.
Kerangka IASB dikembangkan mengikuti jejak dari pembuat standar AS, FASB, pada
periode 1987-2000 FASB menerbitkan laporan konsep tujuh mencakup topik topik berikut:
1.
profit

Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis dan organisasi non-

2.

Karakteristik kualitatif informasi akuntansi akuntansi yang berguna

3.

Unsur-unsur laporan keuangan

4.

Kriteria untuk pengakuan dan pengukuran unsur-unsur

5.
akuntansi.

Penggunaan arus kas dan menyajikan informasi nilai dalam pengukuran

IASB memiliki konsep laporan hanya satu, kerangka atas penyusunan dan penyajian laporan
keuangan. itu dikeluarkan oleh IASC, organisasi pendahulu ke IASB, pada tahun 1989 dan
kemudian diadopsi oleh IASB pada tahun 2001. kerangka menggambarkan konsep-konsep
dasar dengan yang laporan keuangan disusun. Ini berfungsi sebagai panduan untuk tidak
menyasar langsung dalam IAS atau IFRS atau interpretasi. IASB menyatakan bahwa
kerangka:
- Menentukan tujuan laporan keuangan
- Mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang membuat informasi dalam laporan
keuangan berguna
- Mendefinisikan elemen dasar laporan keuangan dan konsep untuk pengakuan dan
pengukuran mereka dalam laporan keuangan.
IAS 1 penyajian laporan keuangan dan 8 IAS kebijakan akuntansi, perubahan estimasi
akuntansi dan menangani kesalahan dengan penyajian laporan keuangan dan membuat
reverance untuk framework. IAS 8 mengatur bahwa dalam ketiadaan standar IASB atau
interpretasi yang secara khusus berlaku untuk transaksi, bahkan atau kondisi lain, manajemen

harus kita pertimbangan dalam mengembangkan sebuah menerapkan akuntansi yang


menghasilkan informasi yang:
- Relevansi dengan keputusan ekonomi membuat kebutuhan pengguna
- Handal, dalam laporan keuangan:
a. setia merupakan posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas
b. mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, acara lainnya dan kondisi, dan bukan
hanya bentuk hukum
c. adalah netral, yaitu. bebas dari bias
d. adalah tepat
e. secara lengkap dalam semua hal yang material
IAS 8 (ayat 11) menyediakan hirarki pernyataan akuntansi. Hal ini membutuhkan bahwa
dalam membuat penilaian yang diperlukan dalam ayat 10. Manajemen akan merujuk kepada,
dan mempertimbangkan penerapan, sumber-sumber berikut, dalam urutan:
persyaratan dan bimbingan dalam Standar dan interpretasi berurusan dengan masalah
yang sama dan terkait dan
definisi, kriteria pengakuan dan pengukuran konsep untuk aset, kewajiban,penghasilan
dan beban pada framework tersebut.
Pengembangan Rerangka Konseptual
Pengaturan standar berdasarkan aturan dan prinsip. Pengaturan standar ada yang dipengaruhi
prinsip dan ada yang dipengaruhi aturan dari lingkungan pengambilan keputusan.
PERBEDAAN
* PRINSIP
1.Standar berdasar prinsip prinsip akuntansi
2.Baku dan berlaku umum
3.Prinsip adalah keyakinan yang kuat dan tidak dapat diubah
4.Dampaknya harus membuat estimasi misalnya : Jika terjadi banjir maka rumahnya akan
digenangi sehingga harus pindah rumah ( mengungsi )
* RULES
1.Standar berdasar aturan/ persyaratan rinci
2.Lingkupnya hanya untuk kelompok tertentu dimana akuntansi dilaksanakan

3.Konsisten
4.Akurat (siapapun yang mengukur hasilnya sama sehingga informasinya netral )
5.Ada adjusment karena lingkungan para stakeholdernya berbeda beda
6.Dipengaruhi politik ( pihak yang dominan seperti pada teori Private Interst )
Contoh Principle based : IFRS termasuk principle karena digunakan semua negara
( standarnya berlaku secara internasional )
Contoh Rules Based : seperti PSAK di Indonesia atau USGAAP di Amerika
d. Kritik terhadap Rerangka Konseptual
Standar dapat digunakan untuk mengelompokkan elemen akuntansi dalam laporan
keuangan(neraca dan laba rugi).
Kerangka konseptual dikritik karena masih ada masalah pendefinisian dan pengukuran. Di
dalam pengukuran masih ada hal yang tidak jelas seperti persediaan yang diukur berdasarkan
beberapa metode, atau IFRS yang menyarankan pengukuran berdasarkan current cost bukan
historical cost.
1.Masalah interpretasi : beberapa metode menghasilkan hasil yang berbeda beda.
2.Hanya tergantung pada pengamatan yang terjadi /tidak disusun secara terstruktur sehingga
tidak memenuhi standar.
Deskripsi : dari hasil pengamatan lalu dijelaskan sampai pada kondisi tersebut.
Preskriptive : kebalikan dari deskripsi dijelaskan karena penyebabnya dijelaskan lebih dulu.
3.Kelemahan rule based antara lain :
a. Dipengaruhi krlompok dominan (sesuai dengan llingkungan dimana kelompok itu
berada)sehingga standarnya tidak berlaku umum.
b. Kelemahan dalam pendefinisian yaitu pendefinisian elemen elemen tertentu yang sulit
ditentukan kepastianny.
e. Rerangka Konseptual Untuk Standar Auditing
Salah satu pemakai laporan keuangan adalah auditor. Yang perlu dilakukan auditor adalah
memeriksa laporan keuangan dan memberi pendapat. Tujuannya untuk meyakinkan laporan
keuangan disusun sesuai aturan yang berlaku.

Karena ada kritikan maka ada masalah yang ditimbulkan yaitu :

Karena standarnya banyak terdapat kelemahan (padahal tugas auditor adalah memberi
pendapat tentang kesesuaian laporan keuangan dengan standar) maka dengan pendapat wajar
pun tidak dapat dijadikan pedoman utama. Pekerja auditor tidak cukup hanya memberi
pendapat kewajaran sehingga akuntan publik harus melakukan hal hal berikut agar laporan
audit masih dapat digunkan :
1.Pengambil keputusansan mendapat informasi yang lengkap
2.Harus mempertimbangkan atau melibatkan resiko bisnis klien
3.Menekankan kegiatan internal auditor yang bertujuan untuk lebih meyakinkan keabsahan

4.3 PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI YANG BERLAKU UMUM (GAAP)


Praktek akuntansi harus dilaksanakan mengacu pada Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum
(PABU). Berlaku Umum mempunyai makna bahwa laporan keuangan suatu perusahaan bisa
dimengerti oleh siapapun dengan latar belakang apapun. Dalam hal ini Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 paragraf 9 dan 10 menyatakan bahwa laporan keuangan
yang dibuat berdasarkan standar akuntansi tetap bisa memenuhi kebutuhan semua pengguna
yang meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman,
pemasok dan kreditor lainnya, pemerintah serta lembaga lembaganya, dan masyarakat.
Bayangkan jika tidak ada PABU maka sebuah entitas akuntansi harus membuat laporan
keuangan dalam banyak format karena banyaknya pihak yang berkepentingan.
Meski demikian, berhubung investor merupakan penanam modal yang secara relatif
mempunyai resiko yang lebih besar, maka laporan keuangan entitas akuntansi, khususnya
perusahaan, berdasarkan standar akuntansi keuangan akan mengandung lebih banyak
informasi untuk kepentingan investor. Demikian juga, aturan - aturan yang dibuat lebih
banyak dimaksudkan agar laporan keuangan memberikan informasi yang memenuhi
kepentingan investor.
Dalam konteks yang lain, PABU membantu para akuntan dalam menerapkan prinsip prinsip
yang konsisten pada organisasi yang berbeda. PABU merupakan standar yang harus diikuti
dimanapum profesi akuntan berada, kecuali jika keadaan membenarkan adanya pengecualian
terhadap standar yang ada. Jika manajemen merasa bahwa keadaan yang dihadapi tidak
memungkinkan adanya ketaatan terhadap standar yang ada, pengecualian dapat dilakukan,
tentu saja disertai dengan pengungkapan yang memadai.
Bentuk dari PABU mencakup konvensi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk
merumuskan praktik akuntansi yang berlaku umum pada saat tertentu. Dengan pengertian
yang hampir sama, Miller (1985) menyatakan prinsip akuntansi berlaku umum (GAAP)
merupakan rajutan dari berbagai aturan dan konsep. Aturan dan konsep ini awalnya
dikembangkan dari praktik tetapi telah ditambah dan dikurang oleh badan yang punya
otoritas. Metode akuntansi harus dapat memenuhi paling sedikit satu dan biasanya beberapa

kondisi-kondisi berikut ini, untuk dapat dikualifikasikan sebagai suatu metode yang berlaku
umum. Kondisi tersebut antara lain:

Metode tersebut akan benar-benar digunakan dalam kasus-kasus yang jumlahnya


cukup signifikan, di mana terdapat kondisi yang memungkinkan untuk menggunakan
metode tersebut.

Metode tersebut mendapat dukungan yang diberikan melalui pernyataan-pernyataan


dari lingkungan akuntansi professional, atau badan-badan yang berwenang lainnya.

Metoda tersebut mendapat dukungan secara tertulis dari sejumlah pengajar dan
pemikir akuntansi terkemuka.

Prinsip akuntansi beraku umum mengacu pada berbagai sumber. Sumber acuan prinsip
akuntansi berlaku umum di Indonesia menurut IAI adalah sebagai berikut:
a. Prinsip akuntansi yang ditetapkan dan/atau dinyatakan berlaku oleh badan pengatur
standar dari Ikatan Akuntan Indonesia;
b. Pernyataan dari badan, yang terdiri dari pakar pelaporan keuangan, yang
mempertimbangkan isu akuntansi dalam forum publik dengan tujuan menetapkan
prinsip akuntansi atau menjelaskan praktik akuntansi yang ada dan berlaku umum,
dengan syarat dalam prosesnya penerbitan tersebut terbuka untuk dikomentari oleh
publik dan badan pengatur standar dari Ikatan Akuntan Indonesia tidak menyatakan
keberatan atas penerbitan pernyataan tersebut;
c. Pernyataan dari badan, yang terdiri dari pakar pelaporan keuangan, yang
mempertimbangkan isu akuntansi dalam forum publik dengan tujuan
menginterpretasikan atau menetapkan prinsip akuntansi atau menjelaskan praktik
akuntansi yang ada berlaku umum, atau pernyataan yang tersebut pada butir b yang
penerbitannya tidak pernah dinyatakan keberatan dari badan pengatur standar dari
Ikatan Akuntan Indonesia tetapi belum pernah secara terbuka dikomentari oleh publik;
d. Praktik atau pernyataan resmi yang secara luas diakui sebagai berlaku umum karena
mencerminkan praktik yang lazim dalam industri tertentu, atau penerapan dalam
keadaan khusus dari pernyataan yang diakui sebagai berlaku umum, atau penerapan
standar akuntansi internasional atau standar akuntansi yang berlaku umum di wilayah
lain yang menghasilkan penyajian substansi transaksi secara lebih baik.
Praktek akuntansi yang sangat dinamis seringkali akan menemui kondisi dan atau situasi
yang belum diatur dalam PABU. Dalam situasi baru, sudah pasti tidakada prinsip-prinsip
yang berlaku umum. Jika entitas-entitas yang berbeda menerapkan kebijakan yang berbedabeda, maka tidak terdapatmekanisme untuk menilai prinsip mana yang berlaku umum. (Pada
praktiknya, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin bahwa kesemuanya akan dianggap
sebagai prinsip-prinsip yang berlaku umum). Disisi yang lain, sebuah rekomendasi dari badan
yang menetapkan standar secara otomatis akan dianggap menjadi berlaku umum tanpa

melihat praktik-praktik lainnya, tidak peduli seberapa tidak populernya rekomendasi yang
diberikan tersebut.
Profesi akuntansi telah mengembangkan standar yang berlaku umum dan diterima universal.
Standar ini dinamakan sebagai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Standar ini
diperlukan sebagai patokan atau pedoman dalam penyusunan laporan keuangan yang baku.
Dengan adanya standar ini, pihak manajemen selaku pengelola dana dan aktivitas perusahaan
dapat mencatat, mengikhtisarkan, dan melaporkan seluruh hasil kegiatan operasional maupun
financial perusahaan secara baku dan transparan.
Laporan keungan yang telah disusun manajemen berdasarkan standar atau prinsip akuntansi
yang berlaku umum ini merupakan salah satu bentuk dari pertanggung jawaban manajemen
kepada investor selaku pemilik dana.

Dalam konteks standar akuntansi yang berlaku umum, ada dua konsep yang harus dipenuhi.

1. Konsep entitas usaha,


Membatasi data ekonomi dalam sistem akuntansi terhadap data yang berhubungan langsung
dengan kegiatan usaha. Perusahaan dianggap sebuah entitas yang terpisah dari pemilik,
kreditur, dan pihak yang berkepentingan lainnya. Misalnya, seorang konsultan perorangan
yang sekaligus sebagai seorang kepala keluarga, harus memisahkan antara perusahaannya
sebagai konsultan dan keuangan keluarganya.

2. Konsep biaya.
Bahwa nilai suatu aset dicatat berdasarkan nilai perolehannya. Bukan berdasarkan nilai pasar,
atau nilai penawaran. Konsep biaya ini didukung dengan dua konsep lain, yaitu:
Konsep objektivitas, yang melandaskan pencatatan dan pembukuan laporan akuntansi
pada bukti objektif.
Konsep unit pengukuran yang mensyaratkan data ekonomi dicatat dalam satuan mata
uang. Bila di Indonesia kita menggunakan rupiah (Rp.) tetapi di negara lain tentunya
disesuaikan dengan jenis mata uang yang dipegang negara yang bersangkutan.

4.4 PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN

Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan pemerintah disebut dengan


pengguna laporan keuangan pemerintah. Dalam hal ini, pengguna laporan keuangan
pemerintah dapat juga diidentifikasikan dengan menelusuri siapa pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap pemerintah (stakeholder), yang mana berdasarkan penelitian Drebin
et al. (1981) dalam Jones dan Pendlebury (2000) menjelaskan bahwa stakeholder pemerintah
tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut: pembayar pajak, pemberi dana bantuan
(hibah), investor, pengguna jasa, karyawan, pemasok, dewan legislatif, manajemen
(pemerintah itu sendiri), pemilih dan badan pengawas.
Begitupula dalam Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, dinyatakan bahwa terdapat beberapa kelompok utama pengguna laporan
keuangan pemerintah, namun tidak terbatas pada:
1. Masyarakat;
2. Para wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa;
3. Pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman;
4. Pemerintah.
Pemakai laporan keuangan sektor publik dapat di identifikasikan dengan menelusuri siapa
yang menjadi stakeholder organisasi. Drebin et al. (1981) mengidentifikasikan terdapat
sepuluh kelompok pemakai laporan keuangan. Lebih lanjut Drebin menjelaskan keterkaitan
antar kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dan menjelaskan kebutuhannya.
Kelompok pemakai laporan keuangan tersebut adalah :
a. Pembayar pajak (taxpayers)
b. Pemberi dana bantuan (granlurx)

c. Investor
d. Pengguna jasa (fee-paying service recipients)
e. Karyawan/ pegawai
f. Pemasok (vendor)
g. Dewan legislatif
h. Manajemen
i. Pemilih (voters)
j. Badan pengawas (oversight bodies)
Pengklasifikasian tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa pembayar pajak, pemberi
dana bantuan, investor, dan pembayar jasa pelayanan merupakan sumber penyedia keuangan
organisasi, karyawan dan pemasok merupakan penyedia tenaga kerja dan sumber daya

material, dewan legislative, dan manajemen membuat keputusan alokasi sumber daya, dan
aktivitas mereka semua diawasi oleh pemilih dan badan pengawas, termasuk level
pemerintahan yang lebih tinggi. Anthony mengklasifikasikan pemakai laporan keuangan
sektor publik menjadi lima kelompok, yaitu:
1.

Lembaga pemerintah (governing bodies)

2.

Investor dan kreditor

3.

Pemberi sumber daya (resourceproviders)

4.

Badan pengawas (oversight bodies)

5.

Konstituen

Pengklasfikasian pemakai laporan keuangan yang dilakukan Anthony adalah dengan


mempertimbangkan semut organisasi nonbisnis, bukan untuk organisasi pemerintahan saja,
sedangkan Drebin et al mengklasifikasikan pemakai laporan keuangan untuk sektor
pemerintahan saja. Jika dibandingkan dengan analisis Drebin et al., Anthony memasukkan
pembayar pajak, pemilih, dan karyawan dalam satu kelompok yang ia sebut konstituen. Ia
mengelompokkan pemberi dana bantuan dan pembayar jasa sebagai pemberi sumber daya,
investor dan kreditor dikelompokkan menjadi satu.
HAK & KEBUTUHAN PEMAKAI LAPORAN KEUANGAN

Hak pemakai laporan keuangan:


1. Hak untuk mengetahui

Mengetahui kebijakan pemerintah

Mengetahui keputusan yg diambil pemerintah

Mengetahui alasan dilakukannya suatu kebijakan & Keputusan tertentu.


2. Hak utk diberi informasi, meliputi hak utk diberi penjelasan secara terbuka atas
permasalahan tertentu yg menjadi perdebatan publik.
3. Hak utk didengar aspirasinya

Hak ini muncul sbg akibat konsekuensi pertanggungjawaban & pengelolaan publik
(accountability & stewardship).
Kebutuhan Pemakai Laporan Keuangan:
1. Masyarakat pengguna pelayanan publik.
Biaya, harga, & kualitas pelayanan.

2. Masyarakat pembayar pajak & pemberi bantuan


Penggunaan dana
3. Kerditur & Investor
Menghitung tingkat risiko, likuiditas, & solvabilitas
4. Parlemen & Kelompok Politik
Pengawasan, mencegah bias LK & penyelewengan
5. Manajer Publik
SIM, perencanaan, pengendalian, & pengukuran kinerja
6. Pegawai
Informasi gaji & manajemen kompensasi