Anda di halaman 1dari 10

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


I.1.
Maksud
Mengidentifikasi proses heat setting dan weight reduce pada kain
1.2.

poliester
Tujuan
a. Agar praktikan dapat memahami dan mengetahui mekanisme
heat setting dan weight reduce pada kain poliester
b. Agar praktikan dapat mengetahui evaluasi hasil perbandingan
dari beberapa resep heat setting dan weight reduce pada kain

poliester
c. agar praktikan dapat menentukan metode dan cara yang paling
baik dalam proses heat setting dan weight reduce pada kain
poliester
II.

TEORI DASAR
Heat Setting atau Pemantapan Panas bertujuan untuk mendapatkan
kestabilan dimensi benang atau kain, sehingga bahan tidak akan
mengkeretan atau berubah dimensinya saat proses selanjutnya.
Mekanisme pemantapan panas
Serat-serat sintetik bersifat termoplastik, yaitu serat tersebut akan
melunak pada suhu mendekati titik lelehnya yaitu suhu transisi kedua
serat tercapai. Pada suhu ini akan terjadi pergerakkan rantai molekul serat
sehingga rantrai molekul yang semula dalam keadaan tegang menjadi
kendur, karena banyak ikatan hidrogen yang terputus membentuk suatu
struktur rantai baru. Besarnya pengenduran dan perubahan struktur
tersebut tergantung dari suhu dan lamanya waktu pemantapan panas
serat tegangan yang diberikan. Setelah didinginkan, ikatang higrogen
akan terbentuk kembali sehingga bentuk struktur yang baru ini akan stabil
pada proses selanjutnya selama tidak dilakukan proses pemanas yang
melibihi suhu pemantapan panasnya.
Pada serat polyester, nilon, akrilat dan elastomer pemanasan serat sintetik
sedikit diatas suhu transisi gelas orde keduanya menyebabkan serat
melunak, terjadi pergerakan rantai molekul serat, ikatan antar molekul

terputus susunan molekul berubah bagian amorf dan kristalin serat


bergeser kemudian saat pendinginan terbentuk ikatan antara rantai
molekul dan susunan molekul baru
Metode pemantapan panas
Proses pemantapan panas dapat dilakukan pada benang, kain tenun
maupun kain rajut. Pemantapan panas pada benang dilakukan pada rolrol panas, kain tenun dan rajut datar menggunakan menggunakan mesin
stenter sedangkan kain rajut bundar pada mesin beugel.
Proses pemantapan panas dapat dilakukan dengan tiga cara :
1. Pemantapan panas awal (pre-setting), pemantapan pada bahan yang
masih grey/mentah.
2. Pemantapan panas antara (intermediate setting), bahan di mantapan
setelah proses pemasakan .
3. Pemantapan oanas akhir (post/final setting), bahan di mantapkan setelah
proses pewarnaan.

Ada dua metoda pemantapan panas yaitu :


1. Pemantapan panas basah (wet/steam setting)
Pemantapan bahan gegan bantuan uap panas dari mesin steamer.
2. Pemantapan panas kering (dry setting)
Pemantapan panas menggunakan udara kering pada suhu tinggi yang
berasal dari mesin stenter/beugel.

Faktor yang berpengaruh :


1. Suhu
2. Suhu setting sedikit diatas suhu transisi gelas serat (sintetik)
3. Lebih tinggi dari suhu proses selanjutnya atau pemakaian

4. Kestabilan suhu pada chamber stenter


5. Suhu rendah : afak lestabilan kecil
6. Suhu tinggi : bahan kaku, menuning

Penarikan atau tegangan yang diberikan saat setting :


1. Molekul-molekul bergeser satu terhadap lainnya
2. Susunan molekul akan berubah kearah tarikan sehingga molekulmolekulnya searah dengan sumbu serat atau terorientasi
3. Susunan molekul menjadi lebih rapat sehingga memungkinkan lebih
banyak terjadi ikatan antar molekul.
4. Molekulmolekul akan tersusun lebih teratur, sehingga lebih kristalin.
5. Terjadi perubahan sifat-sifat serat akibat kenaikan derajat orientrasi,
sebagai berikut:
o Kekuatan, kilau dan kestabilan serat terhadap zat kimia makin tinggi
o Mulur dan penyerapan lembab makin rendah serta lebih sukar dicelup.
o Pegangan kaku

Weight Reduce atau Pengurangan Berat pada kain poliester melalui


pengikisan permukaan serat yang terjadi akibat reaksi hidrolisa dari NaOH
dengan serat poliester dapa konsentrasi NaOH dan suhu tertentu. Bertujuan
untuk mendapatkan kain dengan sifat fisik langsai yang baik, lembut atau doft
dan tipis.
Mekanisme Weight Reduce
1. Alkali kuat seperti NaOH akan menghidrolisa bagian permukaan serat
poliester pada tingkat tertentu menjadi natrium tereftalat yang larut dalam air.
2. Serat poliester terdiri dari bagian amorf dan kristalin. Bagian amorf akan lebih
mudah diserang oleh NaOH, karena pada bagian amorf ini alkali akan lebih
mudah berpenetrasi masuk kedalam serat poliester sehingga lebih cepat
menghidrolisa serat.
3. Hidrolisa ini selanjutnya perlahan-lahan menuju ke dalam serat. Dengan
adanya hidrolisa serat ini penampang serat menjadi lebih kecil, berat kain
berkurang sehingga kain menjadi lebih tipis, lemas dan pegangan menjadi
lembut.

4. Proses pengikisan serat poliester akan terhenti, bila NaOH yang ada telah
habis dipakai untuk reaksi hidrolisa serat poliester dan biasanya sisa larutan
akan mempunyai pH 9.
5. Semakin besar pengurangan beratnya, semakin lemas kainnya hingga
pengurangan berat tertentu sekitar 20-30%, lebih dari itu seratnya rusak.

Reaksi polyester terhidrolisa oleh NaOH

C O CH2 CH2 OH

NaO

C ONa

2n NaOH

Natrium hidroksida

Polietilena tereftalat
O

Dinatrium tereftalat

HO CH2 CH2 OH

Etilena glikol

H2O
Air

Faktor yang berpengaruh :


1. Konsentrasi NaOH

Konsentrasi NaOH yang digunakan berbanding lurus dengan pengurangan


berat poliester.

Semakin besar konsentrasi NaOH yang digunakan, maka secara teoritis


semakin banyak NaOH yang menyabunkan (menghidrolisa) serat poliester
sehingga pengurangan berat semakin besar.

Konsentrasi NaOH merupakan kontrol yang penting untuk mendapatkan


persentase pengurangan berat polietser. Maka banyaknya NaOH yang
digunakan

disesuaikan

dengan

persentase

pengurangan

berat

yang

diinginkan.
Bertambahnya konsentrasi soda kostik akan menyebabkan hal-hal berikut:

Terjadi pengikisan atau lubang-lubang pada permukaan serat

Mempercepat pemutusan rantai molekul

Meningkatkan jumlah gugus hidrofilik (-COOH dan

-OH) pada permukaan

serat akibat pemutusan rantai molekul

Mempercepat proses hidrolisa

2. Suhu Proses
Suhu merupakan faktor penting dalam proses pengurangan berat, sebab
kecepatan pengikisan serat akan bertambah cepat apabila suhu dinaikkan.
Semakin tinggi suhu proses pengurangan berat pada waktu dan konsentrasi
NaOH yang sama pengurangan berat serat semakin besar pula. Kenaikkan
suhu akan menyebabkan hal-hal berikut:

Pembukaan struktur serat polyester


Serat menggembung dan mempercepat gerakan rantai molekul dalam

serat
Mempercepat pemutusan rantai molekul
Peningkatan difusi dan penetrasi alkali ke dalam serat
Mempermudah pelepasan oligomer dari serat

3. Waktu Proses
Selain faktor konsentrasi NaOH dan suhu proses, maka waktu proses juga
mempengaruhi terhadap

hasil pengurangan berat. Artinya apabila

konsetrasi dan suhu dinaikkan maka waktu proses menjadi lebih singkat.
Tetapi waktu yang terlalu singkat dikuatirkan menurunkan kualitas hasil

pengurangan berat.
Bertambahnya waktu pada kondisi proses yang sama, akan menambah
pemutusan rantai molekul sepanjang permukaan serat terutama pada
bagian amorf, selama NaOH masih terdapat dalam larutan proses.

4. Perbandingan Larutan (vlot)


Pemakaian

perbandingan

larutan

yang

besar

menyebabkan

hasil

pengurangan berat menurun, dibandingkan dengan pemakaian perbandingan


larutan yan lebih kecil jika kondisi lainnya dianggap sama. Pada
perbandingan larutan yang kecil, larutan alkali yang terdapat disekitar
permukaan serat lebih banyak sehingga derajat hidrolisanya lebih tinggi
dibandingkan perbandingan larutan yang besar.
5. Puntiran (twist)

Jenis kain poliester dengan benang yang di-twist tinggi akan mengalami hasil
pengurangan berat yang berbeda dengan kain yang benangnya tidak di-twist
atau twist rendah. Benang dengan twist tinggi akan mempengaruhi kerja
NaOH sehingga persentase pengurangan berat akan berkurang dari standar
resep yang sama yaitu sekitar 5-6% lebih rendah.
Metode Suhu dan Tekanan Tinggi
Prinsip pengerjaannya hampir sama dengan metode perendaman, hanya
dalam metode ini digunakan tekanan dan suhu yang tinggi (130C) dalam
waktu 10 menit. Dengan demikian mesin-mesin yang digunakan harus mesin
dalam keadaan tertutup seperti haspel, jigger tertutup dan mesin celup jet.
Kelebihan metode ini sama dengan metode perendaman, tetapi waktu proses
lebih singkat dan hemat larutan. Kekurangannya adalah diperlukan energi
(panas dan tekanan) yang lebih tinggi dan tidak kontinyu.
Dalam proses pengurangan berat dapat terjadi oligomer seperti halnya yang
terjadi pada proses polimerisasi kondensasi antara etilena-glikol dengan
asam tereftalat. Oligomer merupakan hasil reaksi sendiri antara kedua gugus
reaktif monomer-monomernya yang membentuk senyawa cincin yang dapat
berbentuk linier atau siklik.

Oligomer pada permukaan serat

COO

HO(CH2)2 OCO

(CH2)2OCO

Oligomer linier
n<8

CO

(CH2)2 OCO

COO(CH2)2

COO(CH2)2OCO
Oligomer siklik

CO

COO n H

Kadar oligomer pada proses pengurangan berat bisa mencapai 1 %,


tergantung metode yang digunakan. Hal ini disebabkan oligomer larut dalam
air panas suasana alkali (mengendap dalam suasana asam) sehingga
penggunaan metode pengurangan berat yang menggunakan medium air dan
suhu tinggi, kelarutan oligomer lebih tinggi daripada yang tidak menggunakan
medium air dan suhu tinggi secara langsung seperti pada metode rendam
peras.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengurangan berat adalah:

Kain poliester dilakukan pemantapan panas lebih dahulu agar diperoleh

kerataan yang baik


Sirkulasi larutan dan atau pergerakan bahan harus berjalan dengan baik

dan konstan.
Perlu diperhatikan penggunaan benang twist tinggi dan suhu pemantapan
panasnya, karena dapat mempengaruhi kamampuan hidrolisa serat
poliester.

III.

PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan
- Mesin stenter
- Mesin HTHP
- Kain poliester
- Beker glass
- Pengaduk
- Pipet volume
- Gelas ukur

III.2.

Diagram Alir

Siapkan kain
poliester

Proses pemantapan
panas

Evaluasi

- Handling
- Mengkeret lusi dan
pakan

Proses pengurangan
berat

Pencucian panas dan


dingin

Keringkan

- % W
Evaluasi

- Handling
- Handling

III.3.

Resep dan Fungsi Zat


-

Heat Setting
Suhu 200OC x 45 menit
Weight Reduce

Resep
NaOH 48oBe (mL/L)
Pembasah (mL/L)
Vlot ( 1 : x )
Suhu (OC)
Waktu ( menit )

III.4.

1
5
1
1:20
100
30

Skema Proses
Skema Proses Perendaman

2
8
1
1:20
100
30

3
01
1
1:20
100
30

4
10
1
1:20
130
30

5
10
1
1:20
130
40

III.5.

Cara Kerja
III.5.1. Heat Setting
- Kain dipasang pada rangka jarum
- Pasang rangka jarum pada mesin
- Atur suhu dan waktu pemantapan panas
- Mesin pemantapan panas dijalankan dan setelah suhu tercapai,
tombol in ditekan, maka pemantapan berlangsung selama waktu
yang telah diatur
III.5.2. Weight Reduce
- Bahan kain diukur dengan ukuran 10x10 cm.
- Kemudian ditimbang semua zat yang diperlukan dihitung

IV.
V.
VI.

kebutuhannya sesuai resep NaOH dan ZAP kationik


Bahan dimasukkan ke dalam tabung HT-Dyeing

dijalankan sesuai skema proses


Setelah selesai bahan diambil, bahan dicuci bersih hingga tidak

terasa licin
Kemudian dinetralkan dengan larutan asam asetat
Bahan dikeringkan dan kemudian dievaluasi

III.6.

Perhitungan Zat

III.7.

Data Percobaan

DISKUSI
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

mesin