Anda di halaman 1dari 10

Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Pneumonia pada Anak Balita di

Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang Periode


Juli 2015 sampai dengan Juni 2016
Celina Manna
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Ninamanna02@gmail.com
Abstrak
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan 1.1 juta kematian balita
setiap tahun menurut laporan WHO tahun 2013, yaitu sekitar 18%. Prevalensi pneumonia Indonesia
menurut Riskesdas 2013 (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%). Karakteristik penduduk
dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (25,8%). Menurut laporan WHO dan
UNICEF padatahun 2006, Indonesia menduduki peringkat ke-6 di duniauntuk kasus pneumonia pada
anak Balita dengan jumlah penderita mencapai enam juta jiwa. Salah satu program Pemberantasan
Penyakit Menular yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Kutawaluya yaitu Program Pemberantasan
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Cakupan Penderita Pneumonia Balita masih belum diketahui
keberhasilan program tersebut pada periode Juli 2015 sampai dengan Juni 2016. Materi yang dievaluasi
dalam program ini terdiri dari laporan bulanan dan laporan PKP mengenai program P2ISPA di UPTD
Puskesmas Kutawaluya dengan membandingkan cakupan terhadap target yang telah ditentukan
menggunakan pendekatan sistem. Dari hasil evaluasi program didapatkan beberapa masalah yaitu :
cakupan penemuan penderita pneumonia anak Balita 22,25% dari target 86% dan pelatihan kader
pneumonia 0% dari target 100%. Penyebab dari masalah tersebut adalah kurangnya kerjasama dengan
Badan Pengobatan Swasta (BPS), penemuan kasus pneumonia hanya dilakukan secara pasif, kader
pneumonia tidak aktif dan dana APBD untuk pelatihan kader pneumonia dari Dinas kesehatan Karawang
tidak mencukupi sehingga puskesmas Kutawaluya belum mendapat kesempatan kembali untuk
mendapatkan pelatihan. Masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan upaya seperti membuat
kerjasama dengan BPS, mengadakan pelatihan kepada kader pneumonia, melakukan active case finding
pneumonia, dan mengajukan permohonan ke dinas kesehatan Karawang untuk mendapatkan jadwal
pelatihan kader. Setelah hal tersebut dilakukan, diharapkan pencapaian program ini pada periode
berikutnya dapat mengalami peningkatan.
Kata Kunci : ISPA, Pneumonia, Balita,Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut

Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Pneumonia pada Anak Balita di Wilayah


Kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang Periode Juli 2015 sampai
dengan Juni 2016

A. Latar Belakang
Pneumonia adalah infeksi akut yang

mulai meningkat pada umur 45-54 tahun dan

mengenai jaringan paru-paru (alveoli) dan

terus

merupakan penyebab utama kematian anak

berikutnya. Period prevalence pneumonia

Balita baik di Indonesia maupun di dunia. 3

anak Balita di Indonesia adalah 18,5 per mil.

Oleh karena itu penyakit ini sering disebut

Anak Balita pneumonia yang berobat hanya

sebagai

1,6 per mil. Lima provinsi yang mempunyai

pembunuh

terlupakan

(The

anak

Balita

Forgotten

Killer

yang
of

meninggi

insiden

pada

pneumonia

kelompok

pada

anak

umur

Balita

Children) menurut Unice/WHO 2006, World

tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur

Pneumonia Day 2011. Di dunia setiap tahun

(38,5%), Aceh (35,6%), Bangka Belitung

diperkirakan lebih dari 2 juta anak Balita

(34,8), Sulawesi Barat (34,8), dan

meninggal karena Pneumonia (1 Balita/20

Kalimantan Tengah (32,7%) (tabel 3.4.1).

detik) dari 9 juta total kematian anak Balita.

Insidens tertinggi pneumonia Anak Balita

Diantara 5 kematian anak Balita, satu di

terdapat pada kelompok umur 12-23 bulan

antaranya disebabkan oleh pneumonia.4

(21,7%).

Bahkan

karena

kematian

Pada tahun 2012, penemuan dan

pneumonia ini, ia disebut sebagai pandemi

penanganan kasus pneumonia anak

yang

Balita

terlupakan

besarnya
atau

the

forgotten

di

poliklinik

MTBS

baru

pandemic. Di negara berkembang 60%

mencapai 43.7% di Jawa Barat dan

kasus pneumonia disebabkan oleh bakteri,

82.7%

menurut hasil Riskesdas 2007 proporsi

Sedangkan temuan kasus pneumonia

kematian anak Balita karena pneumonia

anak Balita di wilayah kerja Puskesmas

menempati urutan kedua (13,2%) setelah

Kutawaluya hingga bulan September

diare.

pada tahun 2014 sebanyak 144 kasus


Menurut Riskesdas 2013, period

prevalence pneumonia yang tinggi terjadi


pada kelompok umur 1-4 tahun, kemudian

di

kabupaten

Karawang.

atau sebesar 68,89%, dengan angka


kematian 0 (tidak ada).

Dalam usaha menurunkan angka kesakitan

pencatatan dan laporan, analisis data,

dan kematian balita akibat Pneumonia di

dan pengolahan data sehingga dapat

Indonesia

digunakan

untuk

Kutawaluya saat ini turut melaksanakan

permasalahan

pelaksanaan

Program P2ISPA. Program ini bertujuan

pneumonia

meningkatkan cakupan penemuan dini dan

Puskesmas Kutawaluya periode Juli

tatalaksana

di

2015 sampai dengan Juni 2016 dengan

wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya

cara membandingkan cakupan laporan

sekaligus menurunkan angka morbiditas dan

bulanan

mortalitas balita.

Balita di UPTD Puskesmas Kutawaluya

B. Materi
Materi yang dievaluasi terdiri dari

terhadap

maka,

UPTD

pneumonia

laporan

bulanan

Puskesmas

pada

hasil

mengenai

Puskesmas

Balita

kegiatan
program

anak

Balita

program
tolok

menjawab
program
di

pneumonia
ukur

yang

UPTD

anak
telah

ditetapkan dan menemukan penyebab


masalah

dengan

menggunakan

pendekatan sistem.

pemberantasan pneumonia anak Balita


di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Kutawaluya periode Juli 2015 sampai
dengan Juni 2016. Meliputi:
a. Penemuan penderita pneumonia
anak Balita
b. Penentuan diagnosa pneumonia anak
Balita
c. Pengobatan

penderita

pneumonia

anak Balita
d. Rujukan penderita pneumonia anak

D. Sumber Data
Sumber data dalam evaluasi ini diambil

Balita
e. Penyuluhan pneumonia anak Balita
f. Peran serta masyarakat melalui

dari data sekunder yang berasal dari:


1. Laporan bulanan pneumonia anak

pelatihan dan pendidikan kader


g. Pencatatan dan pelaporan mengenai

2015 sampai dengan Juni 2016.


2. Data demografi dari kecamatan

kasus pneumonia anak Balita


C. Metode
Evaluasi program ini dilaksanakan
dengan pengumpulan data sekunder

Balita UPTD Puskesmas periode Juli

Kutawaluya tahun 2015.


Data Umum
Luas Wilayah

Lokasi : Gedung Puskesmas Kutawaluya

berarti

terletak di Jl. Raya sampalan, kecamatan

Kutawaluya adalah 14 jiwa/Ha.

Kutawaluya, kabupaten karawang.8


Luas wilayah kerja puskesmas : 2.340

Sebagian besar penduduk berpendidikan

Ha, yang terdiri dari 1.638 Ha tanah

SD sebesar 40,34% (13.311 orang).


Sebagian besar penduduk mempunyai

pertanian dan 702 Ha tanah darat, 7 desa,

Sebelah

Utara:

Berbatasan

dengan

kepadatan

penduduk

mata pencaharian sebagai buruh tani

32 RW dan 97 RT, dan 30 dusun.


Batas wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya:

rata-rata

sebesar 29,34 % (9.480 orang).


Sebagian besar penduduk merupakan
penduduk miskin yaitu sebesar 65,20%

wilayah kerja PKM Kertamukti.


Data Demografi
Jumlah penduduk Wilayah Kutawaluya

(21.509 orang).8
E. Data Khusus
Masukan
a. Tenaga
- Dokter: 2 orang
- Perawat: 18 orang
- Petugas P2M: 1 orang
- Petugas administrasi: 1 orang
- Kader: 50 orang
- Posyandu: 39 buah
b. Dana
Dana berasal dari: Anggaran Belanja

tahun sampai bulan Juli 2016 adalah 32.778

dan Pendapatan Daerah (APBD) dan

jiwa, yang terdiri dari:

Bantuan

wilayah kerja PKM Kutamukti


Sebelah

Selatan:

Berbatasan

dengan

wilayah kerja PKM Rawamerta


Sebelah

Barat:

Berbatasan

dengan

wilayah kerja PKM Rengasdengklok


Sebelah Timur: Berbatasan dengan

a Jumlah RT : 97 RT
b Jumlah penduduk laki-laki : 12.930 orang
c Jumlah penduduk perempuan
:
19.850 orang
d Jumlah KK : 16.012 KK
e Jumlah rumah: 8.122 rumah
Jumlah

penduduk

rentan

Kesehatan

(BOK).
c. Sarana
a) Stetoskop : 3 buah

di

Wilayah

Kutawaluya tahun 2016 terdiri dari :


a) Jumlah bayi
b) Jumlah balita

Operasional

c) Timbangan berat badan bayi: 1 buah

: 822 orang
: 3.211 orang

Jumlah desa yang termasuk dalam wilayah


kerja Puskesmas Kutawaluya adalah 7 desa
dengan luas wilayah 2.340 Ha,

b) Termometer : 2 buah

d) Timbangan berat badan dewasa:1 buah


e) Sound timer: 2 buah

maka
f) Senter: 1 buah

g) Antibiotik:

penderita pneumonia yang seharusnya

Kotrimoksazol 480 mg: Tersedia cukup

datang untuk kunjungan ulang 2 hari

Kotrimoksazol 240 mg/5ml: Tersedia


-

cukup
h) Analgetik-antipiretik:
-

Paracetamol 500 mg: Tersedia cukup

Paracetamol sirup 120 mg/5ml :

setelah berobat.
Penemuan penderita pasif dan aktif
melalui proses sebagai berikut:
Menanyakan anak Balita yang batuk

dan atau kesukaran bernapas


Melakukan pemeriksaan dengan

Tersedia cukup

melihat tarikan dinding dada bagian

i) Antitusif- anti sesak

bawah ke dalam (TDDK) dan hitung

Gliseril guaikolat :Tersedia cukup

Salbutamol: Tersedia cukup

napas.
Melakukan penentuan tanda bahaya

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Sarana non medis:

sesuai golongan umur <2 bulan dan 2

Gedung Puskesmas
Ruang pendaftaran: Ada
Ruang tunggu: Ada
Ruang untuk pemeriksaan pasien: Ada
Meubel Puskesmas
Lemari arsip: Ada
Lemari obat: Ada
Meja periksa : Ada
Kursi: Ada
Tempat tidur untuk memeriksa: Ada
Ruang tunggu: Ada
Pedoman tatalaksana pneumonia : Ada
Brosur atau poster pneumonia: Ada
Alat administrasi (buku, alat tulis): Ada

bulan - <5 tahun


Melakukan klasifikasi anak Balita

Dalam hal ini penderita yang datang


ke

Balai
Terpadu

Pengobatan
Balita

Sehat

(MTBS) UPTD Puskesmas Kutawaluya.


-

batuk bukan pneumonia. 1


2. Penentuan Diagnosis Pneumonia.
Penegakan diagnosis pneumonia dan
bukan pneumonia dilaksanakan melalui
anamnesa

(mengajukan

pertanyaan

dengan

cara

melihat

dan

mendengarkan pernapasan (saat Balita

Penemuan Penderita Secara Pasif

Manajemen

pneumonia berat, pneumonia dan

Balita

1. Penemuan penderita pneumonia.

berobat

batuk dan atau kesukaran bernapas;

kepada ibu) dan pemeriksaan fisik anak

Metode
-

Penemuan Penderita Secara Aktif


Petugas kesehatan bersama kader secara
aktif menemukan penderita baru dan

tenang, tidak menangis, tidak meronta)


dengan menghitung frekuensi napas
menggunakan sound timer selama 60
detik. Diagnosis pneumonia pada anak
Balita didasarkan pada adanya batuk
dan atau kesukaran bernafas disertai

peningkatan

frekuensi

nafas

(nafas

cepat) sesuai umur.1


3. Pelayanan Pengobatan Pneumonia
- Pneumonia berat :

minimal setahun sekali dengan tujuan


memberikan pengetahuan kepada para
kader berupa pengenalan mengenai gejala
penyakit pneumonia ringan, sedang dan

Rujuk segera ke rumah sakit.

berat berdasarkan perhitungan frekuensi


napas dengan mengunakan sound timer.
7. Pencatatan dan pelaporan.
Dilaksanakan dengan cara pengisian

Beri 1 dosis kotrimoksazol


Obati demam, jika ada.

formulir Sistem Pencatatan dan Pelaporan


Terpadu

Obati wheezing, jika ada.

Puskesmas

(SP2TP)

dan

dilakukan harian, bulanan, dan tahunan.


Anjurkan kepada ibu untuk tetap
memberikan ASI.
-

Batuk bukan pneumonia :

Nasihati ibu untuk tindakan

Proses
1.
2.
3.
4.

Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengawasan

perawatan di rumah /menjaga bayi

Keluaran

tetap hangat.

1. Cakupan penderita pneumonia

Memberi ASI lebih sering.

Membersihkan lubang hidung

anak

Balita adalah sebesar 22,25 %.


2. Cakupan penentuan diagnosis penderita

jika menggangu pemberian ASI.


Anjurkan

ibu

kembali

kontrol

pneumonia anak Balita adalah sebesar


100%.

jika

3. Cakupan

pelaksanaan

pengobatan

pernapasan menjadi cepat atau sukar,

penderita pneumonia anak Balita adalah

kesulitan minum ASI, atau sakitnya

sebesar 100%

bertambah parah.
4. Rujukan Penderita Pneumonia
Setiap anak Balita dengan pneumonia
berat dengan tanda bahaya umum harus
segera dirujuk ke Rumah Sakit.
5. Penyuluhan perorangan dan kelompok
6. Pelatihan Kader.
Pelatihan kader pneumonia dilaksanakan

4. Jumlah rujukan kasus pneumonia anak


Balita tidak ada.
5. Cakupan penyuluhan perorangan dan
kelompok adalah sebesar 100%

6. Cakupan pelatihan kader untuk deteksi

a. Cakupan penderita pneumonia balita

dini penderita pneumonia anak Balita

sebesar 22,25% dari target 86%.


b. Cakupan pelatihan bagi kader

adalah 0%.

mengenai pneumonia anak Balita


untuk mengetahui tanda dan gejala

7. Pencatatan dan pelaporan penderita

pneumonia

pneumonia anak Balita dilakukan 100%

Fasilitas

kesehatan
Tidak ada kerja sama fasilitas kesehatan

program

Kader Pneumonia sebanyak 50 orang

dari jumlah seharusnya 70 orang.


Kader yang ada tidak aktif.
Hanya ada 2 buah sound timer dari

Puskesmas

P2ISPA

(tidak

dalam
teratur

tolak ukur 3 buah sound timer.

memberikan laporan temuan anak Balita

b. Dari Proses (Pelaksanaan)

yang menderita pneumonia).


Umpan Balik
Adanya rapat kerja bulanan bersama Kepala
Puskesmas

dan

dika

0% dari target 100%.


2. Masalah menurut unsur lain :
a. Dari Masukan

lain seperti Balai Pengobatan Swasta


dengan

merujuk

ditemukan kasus pneumonia sebesar

sesuai tolok ukur.


Lingkungan
-

(BPS)

dan

lintas

program

Pelatihan

bagi

kader

tidak

dilaksanakan.

untuk
c. Dari lingkungan

mengevaluasi program yang telah dijalankan

serta Rapat kerja dengan Dinas Kesehatan 1


bulan sekali.

Sarana transportasi umum terbatas


Fasilitas kesehatan lain : Fasilitas
kesehatan yang lain seperti Balai

Dampak
a Langsung: Menurunnya angka morbiditas

Pengobatan Swasta (BPS) tidak


memberikan laporan penemuan

dan mortalitas Pneumonia: belum dapat

penderita pneumonia Balita ke

dinilai.
b Tidak langsung :
-

Pneumonia tidak lagi menjadi masalah

kesehatan masyarakat.
Meningkatnya
derajat

Puskesmas.
G. Penyelesaian Masalah
Masalah 1: Cakupan penderita pneumonia

kesehatan

anak Balita sebesar 22,25 %dari target 86%.

masyarakat sesuai Paradigma Sehat:

Penyebab Masalah:

belum dapat dinilai.

Tidak dilakukannya perencanaan dan

F. Permasalahan

pelaksanaan

pencatatan

kasus

1. Masalah menurut keluaran

pneumonia anak Balita di fasilitas

kesehatan lain seperti Balai Pengobatan


Swasta
2

(BPS)

di

wilayah

Perencanaan anggaran BOK di tahun

kerja

Puskesmas
Tidak aktifnya penemuan dan perujukan
penderita pneumonia anak Balita oleh

kader.
Penemuan penderita pneumonia anak

2016
2

untuk

melaksanakan

pelatihan

kader.
Pelaksanaan kader secara terpadu.
H. Kesimpulan

Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan


pada

program

pemberantasan

penyakit

Balita dilakukan secara passive case

pneumonia pada anak Balita di UPTD

finding.

Puskesmas Kutawaluya periode Juli 2015

Penyelesaian Masalah:

sampai dengan Juni 2016, didapatkan:

Cakupan penderita pneumonia

Balita adalah sebesar 22,25 %.


Cakupan penentuan diagnosis penderita

Petugas Puskesmas melakukan kerja


sama dengan fasilitas kesehatan lain
untuk ikut melakukan pencatatan dan

melaporkannya ke Puskesmas.
Memberikan
pedoman
penentuan
diagnosis pneumonia anak Balita dan
teknik

pencatatan

kasus

anak

pneumonia anak Balita adalah sebesar

100%.
Cakupan

pelaksanaan

pengobatan

yang

penderita pneumonia anak Balita adalah

ditemukan.
Melakukan pelatihan kader mengenai

sebesar 100%
Jumlah rujukan kasus pneumonia anak

Balita tidak ada.


Cakupan penyuluhan perorangan dan

kelompok adalah sebesar 100%.


Cakupan pelatihan kader untuk deteksi

penemuan kasus dan merujuk penderita


pneumonia anak Balita ke Puskesmas
yang terangkum dalam pelatihan kader
terpadu.

dini penderita pneumonia anak Balita

Masalah 2: Cakupan pelatihan bagi kader


mengenai pneumonia anak Balita) sebesar
0% dari target 100%.

pneumonia anak Balita dilakukan 100%

Penyebab Masalah:
1

Dana BOK pada tahun 2015 - 2016

terbatas untuk pelatihan Kader Posyandu.


Pelatihan kader masih sendiri-sendiri
(belum terpadu).

Penyelesaian Masalah:

adalah 0%.
Pencatatan dan pelaporan penderita

sesuai tolok ukur.


Masih belum berhasilnya pelaksanaan
program pneumonia anak Balita di
UPTD Puskesmas Kutawaluya karena
masih ada masalah-masalah di program
ini.

I. Saran
Disarankan kepada Kepala Puskesmas
sebagai penanggung jawab program
untuk :
1. Meningkatkan

koordinasi

lintas

program dengan promosi kesehatan,


bidan

desa

dan

sebagainya.

Mengoptimalkan

kerjasama

lintas

sektoral

mengikuti

rapat

seperti

mingguan desa dan kecamatan.

2. Memotivasi kader pneumonia yang ada


agar lebih aktif dalam penjaringan dan
pelaporan kasus pneumonia balita.
3. Melakukan

pelatihan

mengenai

pneumonia secara umum kepada kader


oleh

dokter

dengan

memanfaatkan

sumber daya dari masyarakat.


4. Melaksanakan pelatihan kader secara
terpadu dengan menggunakan anggaran
BOK yang sudah direncanakan dengan
baik.

Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Ditjen PPM-PLP.
Jakarta, 2011.
2. Ministry of Health Republic Indonesia. Demography and health survey. 2012. hal. 99.
3. World Health Organization (WHO). Pengenalan Dini, Pelaporan, dan Manajemen
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ISPA yang Berpotensi Menimbulkan Kekhawatiran.
Diunduh dari: http://www.who.int/pdf pada tanggal 21 Agustus 2014.
4. World Health Organisation(WHO). Millenium development goals, Tujuan: Menurunkan

Angka Kematian Anak.


5. Depkes RI. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional. Statistik
Penyakit Menular Ditularkan Melalui Udara. Jakarta: 2013.
6. Data Pencatatan dan Pelaporan Bulanan Periode Juli 2015 sampai dengan Juni 2016
Program P2ISPA (Pneumonia) Puskesmas Kutawaluya.
7. Azwar A. Pengantar administrasi kesehatan. Tanggerang: Binarupa Akarsa; 2013.h. 28-32.
8.

Data Demografi dan geografis UPTD Puskesmas Kutawaluya tahun 2015.